Punya Anak Cowok Lebih Aman?

Tadi kami mampir ke mall untuk makan siang di sebuah restoran untuk makan gyros dan cheese burger. Pemilik restoran yang juga masih turun ke lapangan dengan jadi penjaga kedai food court-nya adalah orang Timur Tengah (lupa dari negara mana persisnya), tapi sudah lama tinggal di sini. Sambil menunggu makanan siap, dia ngajak ngobrol.

“Anakmu cowok semua ya?” tanyanya.

“Iya.”

“Wah bagus itu. Kalau punya anak cewek di sini gak aman. Anak cowok juga gak aman sih, tapi jauh lebih gak aman buat anak cewek,” katanya.

Aku langsung menduga bahwa gak aman karena di sini pergaulannya bebas sekali dan juga bahaya2 lain seperti narkoba (nge-ganja sudah jadi biasa).

“Iya, waktu kecil mereka biasanya baik2 aja. Tapi begitu 15 tahun ke atas…wah susah. Anak saya yang perempuan, begitu usia 18 tahun langsung saya kirim pulang. Kalau di sini, saya gak yakin deh,” jelasnya.

“Berubahnya karena pergaulan ya?” tanyaku.

“Iya, karena pengaruh lingkungan, teman2.”

Hmmm….jadi teringat lagi percakapan antara aku dan temanku, seorang wanita Amerika yang mengatakan bahwa kebanyakan anak2 perempuan di sini, sejak mendapat menstruasi pertama langsung dibawa ke dokter dan diberi pil anti hamil. Itulah yang terjadi pada dirinya sendiri. Dia bercerita bahwa seorang temannya sudah mau melakukan hal itu terhadap putrinya sendiri yang baru berusia 9 tahun. Alasannya? Ya karena mereka tahu bahwa dorongan seksual di masa puber sulit sekali untuk dibendung dan daripada kebobolan dan mlendung, masa depan jadi hancur, mendingan anak2 mereka diberi pil anti hamil sejak dini.

Dengan memakai pil itu, maka teman perempuanku ini tak pernah lagi merasakan menstruasi. Enak sih, jadi gak merasakan keram perut dan segala kerepotan mestruasi. Tapi…pemakaian pil ini dalam jangka panjang ternyata berakibat pada keroposnya tulangnya (osteoporosis) yang sekarang memang dideritanya.

Aku pribadi merinding mendengar anak umur 9 tahun sudah diberi pil anti hamil. Membayangkan tubuh masih mungil tapi sudah dicoba untuk diubah mekanisme alamiahnya dengan bantuan obat. Secara logika tingkat rendah saja, mustinya memang ada efek negatifnya ya, wong mengkonsumsi obat rutin sampai bertahun-tahun, seperti menumpuk bahan kimia yang bisa jadi racun dalam tubuh.

Jadi serem.

Advertisements

Dari Musim ke Musim

Time flies, kata orang sini. Ye…yang bilang merangkak sape? Kagak ade juga kan? Tanpa terasa tahu-tahu udah masuk musim gugur aje. Tandanya ape? Banyak sih selain yang ketoro nyoto kayak daun2 berguguran. Sebelum pada gugur, daun2 entu berubah warna dulu sesuai jenis pohonnya. Ada yang berubah jadi kuning, coklat, merah darah dan oranye. Sapa nyang ngecetin tuh atu2 daun di pu’un? Bukan ane sih, sumpe deh. Biarpun ane setengah pengangguran, tapi gak seiseng itu.

Jadi, seiring dengan berakhirnya musim panas, sinar matahari mulai berkurang. Siangpun makin pendek dan malam cepat datang. Pohon2 pun ngerti deh kalo udah ganti musim dan mereka menutup “dapur” mereka yang letaknya di dedaunan dan siap2 istirahat panjang dengan berbekal persedian makan yang mereka kumpulkan saat musim panas. Krn gak masak2 lagi, si klorofil yg tugasnya membantu proses fotosintesis pun menghilang. Berhubung si klorofil ini juga yg bikin daun2 jadi hejo pas musim panas, dengan menghilangnya doi, maka daun2 pun berubah warna. Sisa2 makanan yg ada di daun dengan adanya sinar matahari dan udara dingin di malam hari pun mengubah daun jadi merah, kuning, coklat, bahkan ungu.

Gitu deh penjelasan sederhananya. Makanya, musim gugur termasuk musim favoritku untuk berburu foto2 daun di pepohonan. Heran juga kenapa aku gak bosan menemui musim yang satu ini. Padahal sih kalau mau dibawa bersendu2, musim gugur itu kan pertanda akan tiba musim dingin yang artinya kegiatan outdoor jadi lebih terbatas, harus pakai baju lapis2 sampai jadi kaku kayak robot, mau pergi2 susah kalau ada salju, jadi sering bangkis dan batuk2 karena udara jadi kering yg juga bikin kulit jadi keriput dan pecah2. Tapi…seiring dengan berjalannya waktu, aku makin ‘menerima’ pergantian musim yang terjadi dan kualami selama ada di sini. Caranya? Pikirkan saja hal-hal yang menyenangkan dari musim tersebut.

Buat aku, musim gugur itu artinya;

* Saat tepat buat piknik, karena matahari masih terang, langit masih cerah, tapi gak panas sama sekali…malah suejuuk..suejuuukk.

* Banyak obyek foto di alam; dari mulai daun yang berubah warna, tumpukan daun berguguran, dan juga perayaan festival2.

* Banyak festival yang berhubungan dengan perubahan musim dan masa panen. Di sekolah Imo dan Darrel diadakan Pumpkin Fest dan Harvest Fest yang bentuknya kayak karnival kecil2an di mana ruang2 kelas diubah jadi arena permainan sederhana dan kalau menang dapat hadiah. Seperti tahun2 sebelumnya, aku berencana menyumbang cake dan dessert untuk sekolah anak2ku yang nantinya akan mereka manfaatkan sebagai hadiah untuk permainan Cake Walk.

*Ada Halloween dan Thanksgiving. Meskipun kami gak lagi ikutan trick or treating, tapi suka aja liat dekorasi di rumah2 penduduk sini yang seru dengan balon2 berbentuk tokoh kartun, hantu2, dan juga nisan2 bo’ongan. Kalau mau iseng sih,bisa juga datang ke mall pas Halloween dan liat kostum2 lucu yg dikenakan anak2. Selain itu, ada banyak juga alternatif acara untuk anak2 yang bisa kami datangi dengan gratis! Salah satunya adalah arena inflatables atau balon lompat2an yang digelar di depan sebuah pertokoan tiap tahun menjelang halloween. Ada juga acara mendayung perahu di danau di taman Evergreen yang sempat juga kami ikuti.

Untuk Thanksgiving, biasanya kami ikutan dinner di rumah bosnya suamiku dan karena pestanya termasuk jenis pot-luck, maka aku suka aja krn ada kesempatan menguji nyali mereka ala Fear Factor dng membawa makanan2 tradisional Indonesia..ha..ha. Gak ding…gak bawa yang aneh2 kok. Tercatat yg pernahkubawa adl susis solo, mpek2 Palembang, dan makaroni panggang. Yang terakhir malah bukan makanan Indonesia.

*Ada Black Friday; arena banting harga diskon besar2an yang terjadi pada pagi setelah Thanksgiving night, dimana toko2 pada buka jam 4 atau 5 pagi dan diserbu pembeli yang udah ngantri dari siang hari sebelumnya. Sejujurnya, aku belum pernah ikutan Black Friday sampe nginep2 segala. Paling juga suamiku datang jam 7-an (udah telaaaatt) dan liat2 barang yang tersisa. Bukan apa2, dinginnya itu yg gak nahan. Biasanya akhir November sih suhu sudah mendekati atau di bawah nol.

Jadi, musim gugur? Siapa takuuutttt.

Repotnya Kalau Hidung Berbeda

Hari Rabu sore Imo laporan: “Ma, tadi pas makan siang Imo disuruh duduk terpisah dari teman-teman.” Loh, kenapa ya? Biasanya anak yang disuruh duduk terpisah dari yang lainnya adalah anak nakal yang sedang menerima hukuman “time out”. Mosok Imo yang anak manis banget ini duduknya kayak orang di pengasingan gitu?

“Soalnya yang lain gak suka bau sushi. Mereka langsung bilang ‘Euwwwww… (sama dengan ihhh…jijik).’ pas Imo buka tempat bekalnya.” Pagi itu aku memang menyiapkan sushi untuk bekal Imo karena sedang kehabisan roti tawar dan hanya nasi yang tersedia. Biasanya sih aku buatkan dia turkey sandwich dengan saus tomat dan keju, yang merupakan salah satu bekal makan siang kesukaannya.

“Loh, memangnya bau banget Mo? Kayaknya enggak deh,” tanyaku padanya.

“Memang enggak bau, tapi mereka Americans dan gak tahan sama baunya. Dan mereka pikir itu ikan, padahal Imo udah bilang isinya sosis dan keju. Bahkan Mrs. Ross (guru kelasnya) juga bilang ‘euwwww’. Tapi ada juga guru lain bilang ‘It’s not that bad.'”

Sumpah deh, di hidungku tuh…paduan nasi, sosis, keju, dan nori (lembaran rumput laut buat ‘bungkusnya’ sushi) tuh sama sekali gak mengeluarkan bau yang mengganggu. Cuma bau air laut sedikit…sedikiiiit banget. Tapi mungkin di hidung mereka udah bau amis banget ya?

Yang aku gak bisa terima sih perlakuan gurunya yang kurang bijaksana. Mosok seorang dewasa, guru pula, di depan rekan guru lain dan murid2 lain pula, bilang “Euwwwww” terhadap makanan yang dibawa muridnya sendiri? Mentang2 makanan yang asing, apa boleh menunjukkan sikap kayak gitu? Gak sopan deh! Coba kalo dibalik, kita yang bilang “Euwww” saat mencium bau keju di mac and cheese atau bau daging panggang saat mereka bikin barbecue. Mau gak digituin?

Aku sih sadar banget bahwa hidung mereka berbeda dari hidung kami2 yang Asia. Pernah aku ngobrol tentang makanan Asia dengan teman2 kuliahku dulu. Dia bilang ada satu buah yang stinky (berbau gak enak) yang pernah dia temui di toko asia. Aku langsung nebak bahwa itu durian; yang sudah terkenal sebagai buah yang baunya gak disukai hidung bangsa selain Asia. Tahu gak dia bilang bau duren tuh kayak apa? Kayak “rotten puke”. Udah bau muntah, busuk pula! Di lain sisi, keju merupakan makanan sehari-hari orang sini; apa aja dikejuin dari roti, pizza, pasta, sampai sayuran juga dikejuin. Tapi ada juga orang2 Indonesia yang aku kenal yang gak tahan dengan bau keju dan menganggap baunya tengik.

Tapi apa yang dilakukan gurunya Imo sih, aku bilang keterlaluan. Mosok sampai disuruh duduk misah kayak orang sakit lepra gitu sih? Padahal bukan sekali ini Imo bawa sushi sebagai bekal makan siangnya. Jaman dia masih kelas 1 dan 2, berkali2 aku bawakan dia sushi dan gak ada masalah apapun tuh. Gurunya gak reseh macam begini. Sebel banget deh.

Aku dan suamiku sepakat mau komplain ke gurunya dan kalau gak ditanggapi akan ngomong ke kepala sekolahnya. Tapi kami gak mau langsung protes, takutnya masih emosional dan malah bikin masalah baru. Tunggu dulu deh beberapa hari, lalu baru tulis surat.

Curhat Emak2: Imo Disayang Gurunya

Hari Jumat dan Senin kemarin Imo sempat gak masuk sekolah karena kena sakit flu musiman yang dipelopori oleh adiknya. Kemarin dia mulai masuk lagi dan pas pulang cerita gini ke aku; “Ma, teman2 bilang mereka dengar Mrs. Ross (gurunya dia) telpon ke sekretaris sekolah dengan suara keras bilang gini: ‘Pokoknya, saya mau Imo kembali lagi ke sekolah.'”

Oh rupanya kamu gak masuk kemarin itu sampai dicariin ya sama gurumu ya Nak? Wajar sih, cuma kok sampai dicari-cari dan seperti dikangenin banget gitu ya? Dari sejak mulai bersekolah, Imo memang selalu disayang sama gurunya. Pas kelas satu, gurunya Mrs Lindsey bilang gini: “Semua guru lain di sini ingin Imo ada di kelasnya,” atau pernah juga guru yang sama bilang gini ke aku pas acara terima report card; “Saya senang jika semua murid saya seperti Imo.” Kali lain, aku datang ke sekolahnya saat Open House, mantan guru kelas duanya juga bilang,”Oh, I miss your child!” dan pas ketemu lagi sama Imo mereka berpelukan mesra banget kayak teletubbies.

Teman2nya pun juga keliatan suka banget sama Imo. Saat Open House, begitu kami masuk ke dalam kelas, teman2nya langsung menyapa, “Hi Imo’s perents!” Dan begitu melihat Darrel mereka langsung takjub dan komentar bersahut2an, “Wah dia mirip banget sama Imo!”

Karena penasaran, aku tanyakan ke dia, “Imo ngapain si kalo di kelas, sampai guru2 Imo suka sama Imo?” Imo malah menatapku heran, mungkin dipikirnya…aneh banget ni emak2 kok kayak gak tahu anaknya kayak gimana. Eh…beneran lo…aku menganggap Imo biasa aja, masih suka nakal juga seperti kebanyakan anak2 8 tahun lainnya. Tapi kenapa dia bisa begitu disayang guru2nya dan termasuk populer di sekolahnya? (semua guru dan staf sekolah tahu dia). Gak ngerti. Apa karena dia secara fisik beda sendiri? Ah enggak juga, di kelasnya yg sekarang ada anak Malaysia yg perawakannya ya sama deh kayak orang kita. Anak2 berdarah Amerika Selatan juga banyak yang secara fisik mirip sama org Indonesia. Jadi kenapa dong?

(mungkin bersambung…)

Kisah Satu Jam – Kate Chopin

Kisah Satu Jam

Mengingat Ny. Mallard menderita kelainan jantung, berita tentang kematian suaminya diberitahukan padanya dengan sangat hati-hati.

Saudara perempuannya, Josephine yang memberitahunya dalam kalimat yang terbata-bata; dengan petunjuk terselubung yang hanya mengungkapkan sebagian berita. Sahabat suaminya, Richard juga ada di sana, di dekatnya. Dialah yang berada di kantor surat kabar saat berita mengenai kecelakaan kereta itu diterima, dengan nama Brently Mallard sebagai nama pertama dalam daftar korban yang tewas. Dia berusaha meyakinkan dirinya akan kebenaran berita itu dengan memberi sedikit waktu untuk telegram yang kedua, dan segera menyampaikannya untuk mencegah kabar sedih itu disampaikan oleh orang dengan cara kurang hati-hati atau kurang lemah lembut.

Ia tidak menerima berita ini sebagaimana wanita kebanyakan, dengan ketidakmampuan untuk menerima kebenarannya hingga tak sadarkan diri. Ia langsung menangis, dengan luapan emosi yang begitu meledak dan tiba-tiba, di pelukan adiknya. Ketika badai duka telah menipis, ia lalu pergi ke kamar tidurnya sendirian. Ia tak mau seorang pun mengikutinya.

Di situ, di depan jendela yang terbuka, terdapat sebuah kursi sofa yang nyaman. Di situ ia terduduk, didorong oleh kelelahan fisik yang menghantui tubuhnya dan tampaknya telah mempengaruhi jiwanya pula.

Ia dapat melihat di lapangan terbuka di depan rumahnya, pucuk pepohonan yang dipenuhi kehidupan musim semi. Aroma hujan yang menyegarkan tercium di udara. Di jalan yang ada di bawah, penjaja keliling terdengar menawarkan dagangannya. Nada lagu yang dinyanyikan seseorang di kejauhan samar-samar terdengar di telinganya, dan sekumpulan burung pipit bersahutan di ujung atap.

Langit biru mengintip di sana-sini melalui awan yang saling bertemu dan bertumpukan satu sama lain di bagian barat jendela kamarnya.

Ia duduk dengan kepala yang bersandar di sandaran kursi, tanpa bergerak, kecuali saat sesenggukan sesekali mencapai mulutnya dan menggetarkannya, seperti seorang anak kecil yang menangis sampai tertidur dan terus sesenggukan di dalam mimpinya.

Ia masih muda, dengan wajah yang ayu dan lembut, yang guratannya menyiratkan rasa yang terpendam dan bahkan suatu bentuk kekuatan. Namun sekarang tatapan matanya kosong, dan terpaku pada salah satu bentuk awan di langit biru. Tatapannya tak menyiratkan sebuah pemikiran, namun lebih menandakan adanya kecerdasan yang tersembunyi.

Ada sesuatu yang menghampirinya dan ia menantikannya dengan penuh ketakutan. Apakah itu? Ia tak tahu; karena itu sesuatu yang terlalu samar dan misterius untuk diungkapkan. Tapi ia merasakannya, perlahan merebak dari angkasa, meraihnya melalui suara, aroma, dan warna yang memenuhi udara.

Sekarang dadanya bergerak turun naik dengan cepat. Ia mulai mengenali apa itu yang mendekati dan merasukinya, dan ia berusaha keras untuk menolaknya dengan segala daya—selemah jika kedua tangannya yang putih dan mungil menangkisnya. Saat ia akhirnya menyerah, bisikan yang lemah terdengar dari sepasang bibirnya yang setengah terbuka. Ia mengucapkannya berulang kali dalam tiap desah nafasnya: “bebas, bebas, bebas!” Tatapan kosong dan penuh ketakutan yang mengikutinya lenyap dari matanya. Kini mereka terlihat tajam dan cerah. Jantungnya berdebar cepat, dan darah yang mengalir menghangatkan dan membuat setiap senti tubuhnya terasa amat nyaman.

Ia tidak berhenti untuk mempertanyakan apakah kegembiraan ini sebuah hal yang mengerikan atau bukan. Pemahaman yang jelas dan nyata telah membuat dirinya menganggap itu sebagai hal sepele. Ia tahu bahwa dirinya akan menangis lagi saat melihat lengan yang lembut dan baik hati itu terlipat dalam kematian. Namun ia melihat di balik saat-saat kelam itu terbentang tahun-tahun di masa depan yang dimiliki hanya oleh dirinya sendiri. Dan dengan tangan terbuka, ia menyambutnya.

Tak ada pengabdian pada siapa pun juga di masa mendatang; ia akan hidup untuk dirinya sendiri. Tak akan ada kekuatan yang membelenggunya dengan kepercayaan buta yang diyakini pria dan wanita bahwa keinginan pribadi seseorang dapat dipaksakan kepada sesamanya. Baik itu keinginan baik atau buruk tidak mengurangi kejahatannya, begitulah yang ia pikirkan dalam masa pencerahan yang singkat itu.

Namun demikian, ia pernah mencintainya—sesekali. Lebih seringnya tidak. Apa perlunya? Apa artinya cinta, misteri tak terpecahkan itu, dibandingkan rasa percaya diri yang tiba-tiba dirasakannya sebagai dorongan terkuat dalam hidupnya!

“Bebas! Bebas jiwa dan raga!” ia terus berbisik.

Josephine duduk di depan pintu tertutup itu dengan bibirnya di depan lubang kunci, meminta untuk bisa masuk. “Louise, buka pintunya! Kumohon; buka pintunya—kau bisa sakit. Apa yang kau lakukan, Louise? Demi Tuhan, buka pintunya.”

“Pergilah kau. Aku tidak sakit.” Tentu tidak; dia malah sedang mer
eguk sari pati kehidupan melalui jendela yang terbuka.

Khayalannya dipenuhi oleh bayangan akan hari-hari nanti. Hari-hari musim semi, musim panas, dan semua jenis hari akan menjadi miliknya sendiri. Dia mengucapkan doa singkat agar hidupnya panjang umur. Padahal baru kemarin dia merasa ketakutan jika umurnya panjang.

Dia bangkit dari kursi dan membuka pintu seperti yang sedari tadi diminta oleh adiknya. Ada sorot penuh kemenangan di matanya, dan dia melangkah pasti layaknya Dewi Kemenangan. Dia memeluk pinggang adiknya, dan mereka berdua menuruni tangga. Richard berdiri menunggu mereka di bawah.

Seseorang membuka kunci pintu depan. Brently Mallard muncul, dengan wajah lelah akibat perjalanan, dan membawa sebuah tas dan payung. Dia berada jauh dari lokasi kecelakaan, bahkan tidak mengerti kalau telah terjadi kecelakaan. Dia menatap dengan terkejut saat Josephine menjerit kencang; dan Richard bergegas menutup pandangannya dari istrinya.

Ketika dokter kemudian datang, mereka mengatakan bahwa dia meninggal karena penyakit jantung—karena terlalu bahagia.

Dari: The Story of An Hour by Kate Chopin (1894)

http://www.vcu.edu/engweb/webtexts/hour/

Film Horor

Aku tak ingat kapan persisnya pertama kali menonton film bergenre horor atau film horor pertama apa yang aku tonton. Yang aku ingat adalah tetangga teman sebaya yang rumahnya persis di sebelahku sering mengajak aku ke rumahnya di saat keluarganya sedang menonton film. Kok ya kebetulan sekali keluarga ini suka sekali menonton film horor Indonesia yang saat itu masih semarak diproduksi. Meski saat itu aku baru sekitar kelas 1 SD, tapi karena nontonnya rame2 dan di siang hari bolong, maka aku bisa nonton dari awal sampai akhir. Tentu saja ada saat-saat dimana aku menutup wajahku dengan dua telapak tangan sambil tetap mengintip dari sela-sela jari. Maka, mulai dari adegan manusia dikerubungi lintah (“Dukun Lintah”), orang digigit kepalanya oleh janda cantik sampai sekujur badannya bisul bernanah (“Guna-Guna Istri Muda”), adegan rambut satu kepala dicabut dan otak manusia dibedah paksa (“Perkawinan Nyi Blorong”) sampai dengan hantu yang membalas dendam setelah diperlakukan buruk oleh mertua (“Bernafas Dalam Kubur”) sampai adegan-adegan lain yang menjijikkan, penuh darah, atau yang seram-seram lainnya sudah pernah kutonton sebelum usiaku 12 tahun.

Akibatnya, hampir tiap malam aku tak berani tidur tanpa ditemani ibuku. Meskipun saat itu aku tidur bertiga dengan dua adikku, jadi tidak tidur sendirian, tapi tetap saja aku tak merasa tenang kalau belum didampingi tidur oleh ibu. Jika tengah malam aku terbangun dan melihat ibuku tidak ada di sampingku, maka aku akan berlari menuju kamar orang tuaku (yang tak seberapa jauh karena kecilnya rumah kami), dan mengetuk pintu sambil memanggil-manggil ibuku. Aku bisa mendengar dari balik pintu kayu tipis itu bahwa ibuku sebenarnya terbangun tapi papaku melarangnya untuk membuka pintu. Selanjutnya aku pasti bertahan di depan pintu bahkan rela tidur di situ sampai ibu membukakan pintu karena tak tega. Menangis sambil terus mengetuk pintu juga bisa jadi cara ampuh untuk memaksa ibu membuka pintu kamarnya.

Tapi dasar badung, aku tetap tidak kapok menonton film horor di rumah tetanggaku itu. Bahkan saat tak boleh main ke luar, aku akan memanjat dinding tembok pagar belakang yang memisahkan rumahku dengan rumah temanku dan menonton film horor dengan melongok pintu belakang rumahnya yang hampir selalu terbuka.

Saat remaja, aku tetap suka menonton film horor, dan akupun mulai berkenalan dengan film-film horor dari “barat”, seperti “The Exorcist” yang sebelum nonton sudah mendengar kehebohannya dari orang tuaku dan tahu kalau bintang filmnya namanya Linda Blair. Aku juga masih ingat jalan cerita dan adegan-adegan seram di film “Poltergeist” yang kisahnya tentang satu keluarga yang tinggal di rumah yang dibangun di bekas kuburan orang Indian dan dihantui hantu yang muncul di TV dan kemudian menculik anak perempuan mereka ke dalam TV.

Tak bisa kupungkiri, ada kepuasan tersendiri saat menonton film-film horor. Selain adrenalin meningkat dan detak jantung jadi bertambah cepat, “hikmah” yang bisa aku ambil dari menonton film jenis ini adalah rasa bersyukur yang luar biasa sehabis menontonnya. Ibarat kata, setiap habis nonton ada perasaan: “Untung aje cuma film…untung aje gak beneran!”

Apa sekarang aku masih suka nonton film horor? Tentu saja! Makanya aku senang sekali saat film-film horor Jepang dan Korea merambah hingga ke Indonesia dan bahkan diadaptasi oleh produser film Amerika. Film-film Amerika berjenis horor sadis (slasher) kebetulan juga sedang mewabah saat aku baru tiba di negeri ini. Meski liatnya sambil ngilu-ngilu, aku tetap penasaran nonton film “Hostel” dan “Saw”(dalam beberapa serinya). Dan meskipun malu mengakuinya, dua hal yang tak berubah juga adalah: Aku tetap nonton sambil memasang tangan di depan muka setiap kali akan ada adegan mengagetkan. Bukan menakutkan yaaa..kalau cuma menakutkan biasanya aku tak apa-apa, tapi ngagetinnya itu lo yang bikin sebal. Hal kedua adalah, aku tetap tak bisa tidur sendirian sehabis menonton film horor. Untungnya untuk hal kedua ini aku tak perlu kuatir, karena sudah ada lelaki ganteng nan baik hati yang sudi menemani tanpa aku harus ketok-ketok pintu sambil nangis-nangis.

Gambar diambil tanpa ijin dari sini: http://www.impawards.com/2002/ring_ver2.html dan sengaja dicari yang paling tidak mengerikan supaya tidak membuat pembaca jadi bermimpi buruk.

Buka Foto

Aku termasuk yang orang yang tertutup alias introvert. Gak percaya? Buktinya di awal2 aku ngempi, foto2 yang ada orangnya alias ada penampakan yang punya blog atau keluarganya tidak pernah dibuka untuk semua kontak, apalagi semua orang. Karuan saja ada teman yang penasaran dengan wujudku yang gak jelas. Apalagi HSnya cuma model sarung bantal begitu, kotak-kotak pink dengan bunga mawar di pojokan yang aku ambil entah dari mana (tanpa ijin pula…hehhhh).

Makin kenal dengan teman-teman di sini, maka aku sedikit2 mulai terbuka. Beberapa foto dengan penampakan orangnya mulai dibagi, tapi cuma untuk beberapa orang yang aku nilai memang rajin kasih komentar dan hanya jika aku merasa cocok dengan mereka.

Dan, di hari ini, setelah genap empat tahun aku beredar di MP, maka aku putuskan untuk membuka2 album foto lama untuk dibagi dengan semua kontak. Teteuppp…gak buat semua orang…he…he..he. Sorry dori mori, aku masih belum bisa kalo buat semua orang. Belum sreg aja. Jadi, silahkan buat yang masih penasaran mengecek album foto saya mulai halaman satu. Kirimkan pujian sebanyak2nya dan pengirim pujian paling aduhai akan mendapatkan satu payung cantik dan mangkok kembang2 (loh)…ha..ha…ha… Eh kalo beneran ada lomba kayak gini, gimana ya? Bakal ditimpukin kali ye?

Mulai dari sini ya liatnya krn baru di sini aku tampilkan foto2 anak2ku, dan fotoku sendiri baru keliatan belakangan setelah makin banyaknya permintaan penggemar.