(Curhat) Sakit, Ultah, Mata Merah

Bolak-balik sakit flu itu gak enak, jendraaalll! Apalagi dengan peyut yang tambah mlendung. Begitu konser batuk, bisa bikin ngompol karena kandung kemih kadang tertekan oleh beratnya isi perut. Belum kelar sakit flu yang timbul-tenggelam ini, eh sakit gigi ikutan kumat! Komplit deh penderitaan tidur malam, dari idung mampet, batuk2, sampe gigi yang nyut-nyutan. Gimana mau segar pas bangun pagi? Yang ada kepala berat, pusing, dan masih ngantuuukkk.

Kemaren pagi dakoe menatap cermin dengan perasaan kaget karena ada bercak merah di kornea mata! Iya, di bagian putih2nya mata tuh ada bercak merah lebar yang makin lama makin melebar. Sakit matakah? Enggak gatel kok, dan ini warnanya merah darah gitu. Seperti biasa langsung cek ke internet. Ternyata itu kemungkinan adalah jalan darah yang pecah karena batuk2/muntah2 hebat. Alhamdulillah, katanya sih gak apa-apa, bakal sembuh sendiri. Nantinya akan makin melebar terus menciut dan akhirnya menghilang. Semoga benar demikian.

Kenapa sakit melulu ya? Mungkin asupan gizi kurang seimbang? Atau karena cuaca yang mulai berubah dingin sampai sudah masuk ke suhu minus satu celcius? Sebelum hamil juga sih memang aku rentan terhadap flu dan tiap musim dingin pasti kena flu. Kata dokter kandunganku sih, mudah2an gak apa2, selama panas badan belum sampai 101 Farenheit, dan karena imunitas ibu hamil biasanya meningkat, kemungkinan sih gak bakal sampai flu yang paraaaahh banget. Dan memang selama ini cuma sebatas batuk pilek dan demam dikit aje (99F). Tapi batuknya itu lo…teteupppp lamaaa dan panjaaaang kayak choki-choki.

Di sela-sela penderitaan, ada kebahagiaan karena Darrel kemarin, tanggal 3 November, berulang tahun yang ke tujuh. Gak ada pesta-pesta meskipun ultah tahun ini jatuh pada hari Sabtu. Cuma kami berempat makan siang dan ke Pirate Pete’s (semacam Timezone). Keesokan harinya, saat anak2 mengikuti Sunday school di masjid, aku dan suami mencari kado utk Darrel dan Imo dan menyiapkan treasure hunt di dalam rumah. Sederhana saja, tapi mudah-mudahan berkesan buat dia.

 

Sorry ya kalau curhat kali ini banyak ngeluh2nya. Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat, krn itu yang paling penting bow. Segala kenikmatan gak akan ada artinya kalau your body is not delicious…he…he.

 

 

 

 

Jangan Mewek Melulu Ah!

Tadi pagi dari mulai jam 8.15, kami sekeluarga maraton dari sekolahnya Imo ke sekolahnya Darrel dalam rangka terima raport yang di sini istilahnya adalah Parent Teacher Conference (PTC). Sebelumnya, aku sudah mengisi formulir PTC dari kelas mereka masing-masing yang menanyakan kapan ortu bisa datang ke sekolah untuk bertemu dengan para guru. Tentu saja tanggal PTC sudah ditentukan, kami tinggal memilih jamnya. Sengaja aku memilih jam pagi demi menyesuaikan dengan jadwal kerja suamiku.

Dalam satu tahun biasanya dilakukan 3 kali PTC dan di situ kami diberitahu perkembangan belajar anak, bukan
sekedar bagi kertas terus pulang. Berarti sudah berkali-kali aku datang ke PTC, mustinya sudah biasa dan mustinya aku gak nangis2 lagi. Loh, kok nangis? Iyaaa… namanya juga emak2 tipe gampang terharu, jadi kalau gurunya menginformasikan perkembangan anakku, maka aku biasanya langsung mewek. Malu-maluin ya?

Waktu awal-awal PTC, pas Imo masih kelas 1 SD, huaaa… air mata sampai meleleh kemana-mana saking saat itu aku ngebayangin si Imo yang pas baru datang ke sini belum bisa bahasa Inggris sama sekali, dan kemudian bisa survive di sekolah baru, lingkungan baru dengan begitu mulusnya. Terharu banget. Lalu Darrel saat masuk pre-K, dari yang beberapa hari pertama selalu menangis sampai harus digendong gurunya yang mencoba menenangkannya, hingga kemudian dipuji gurunya karena berani tunjuk tangan utk menjawab pertanyaan di kelas. Semua info itu aku dapatkan saat PTC. Makanya, aku suka bekal tissue di tas setiap PTC demi mengantisipasi banjir air mata. Lebay banget deh.

Nah, setelah bertahun-tahun menghadiri sekian banyak PTC, akhirnya aku kebal juga…ha…ha! Gak pake mewek2 lagi, meski mata masih berkaca2 sih kalau gurunya menceritakan anak-anak begini dan begitu. Tapi aku nahaaannnn banget supaya air mata gak sampai meleleh, “Jangan nangis…jangan nangis….jangan nangis.” Gitu deh mantranya dalam hati…he…he.

Nah, hari ini ceritanya agak beda dari biasanya karena saat bertemu guru AT-nya, Imo menerima sejumlah teguran akibat tidak melakukan tugasnya sesuai target atau tidak memenuhi harapan si guru. Oh ya, AT ini semacam kelas khusus untuk anak-anak yang memiliki prestasi akademis. Kelasnya tidak seperti kelas biasa, tapi lebih menekankan pada kemandirian siswa dalam mengerjakan proyek/assignment dari gurunya. Dan biasanya proyek2 ini ada kaitannya dengan pelajaran sekolah plus skills lain yg diharapkan berguna bagi mereka. Contoh proyeknya adalah saat mereka harus membuat barang yang akan dipamerkan di pameran Lincoln, jadi semua barang yang ditampilkan ada hubungannya dengan presiden Abraham Lincoln. Imo saat itu membuat patung kepala dan wajah Abe Lincoln. Lalu ada proyek membuat barang dagangan, mempromosikan, dan menjual barang itu di Farmer’s Market. Imo membuat magnet kulkas dari bahan tanah liat/clay yang dicetak/dibentuk dan dicat.

Entah kenapa, Imo kurang serius dalam mengerjakan sebagian proyek-proyek di awal tahun ajaran ini. Jadi sebagian proyek dianggap kurang optimal pengerjaannya. Bisa ditebak, setelah bertemu guru AT-nya, Imo kena omelan emaknya yang bawel ini. Bukannya karena malu sama gurunya sih, tapi lebih karena aku khawatir kalau kebiasaan dia menunda sampai last minute dan kurang optimal itu terbawa sampai besar. Bahkan aku dan si Ayah sempat mempertimbangkan opsi untuk menarik Imo keluar dari kelas bahasa asing yang diikutinya di sekolah sebagai salah satu ekskul. Mungkin dia kebanyakan kegiatan, makanya jadi keteteran dalam mengerjakan tugas.

Selain karena itu, perlu aku akui bahwa di rumah, Imo lebih banyak santai-santainya dibanding belajar atau membaca buku yang ditugaskan. Soalnya emaknya suka gak tega memaksa dia belajar melulu karena seharian sudah sekolah, pulang udah jam 3 atau jam setengah lima sore. Jadi, meskipun setiap hari aku mengingatkan dia utk mengerjakan PR dan membantunya kalau kesulitan, tapi aku gak pernah maksa sampai melotot di samping mejanya sambil mengayun-ayunkan penggaris kayu sementara dia mengerjakan PR. Nehi lah sampai kayak gitu. Yang ada, dia di kamar ngerjain PR, aku main komputer..ha…ha…ha.

Selesai ketemuan guru AT, kami langsung ke kelas regulernya, kelas 5 SD. Dan lucunya, di sini malah gurunya
melaporkan bahwa Imo tingkat kemampuan dalam segala pelajaran melebihi teman-teman sekelasnya. Hasil tesnya bagus semua, nilai maksimal. Gurunya bahkan bertanya begini: “Kalau di rumah, apa dia masih punya waktu luang untuk bermain?” Gubraxxxx…. loh…loh? Langsung aku jelaskan bahwa di rumah si Imo kuanggap malah kebanyakan waktu luang, kebanyakan main2nya, dst. dst. Dan gurunya terpana….ha…ha…ha. Dipikirnya mungkin Imo di rumah seharian membaca buku dan belajar. Padahal sih…hi…hi..hi.

Yang mengesankan, si guru bilang begini: “I wish I could make a special program for him.” Maksudnya program yang bisa mengakomodasi Imo dengan minatnya akan science dan bakat kreatif yang dimilikinya. Si guru ini nebak bahwa Imo akan jadi seorang inventor. Aaaamiin… nemu sesuatu, patenkan, dan kaya raya ya naaak…biar mamamu bisa kecipratan. Hua…ha…ha…dasar emak mata duitan!

Alhasil, di PTC dengan guru-gurunya Imo, gak ada air mata menetes karena di pertemuan pertama aku rada kesal sama Imo, sedangkan di pertemuan kedua, aku malah jadi pengen ketawa karena menyadari kontrasnya kedua pertemuan dan juga anggapan si gurunya Imo bahwa di rumah Imo belajar melulu.

Setelah beres urusan di sekolah Imo, kami langsung ngacir ke sekolahnya Darrel. Karena ayahnya sudah harus
berangkat kerja, cuma aku yg bertemu gurunya. Alhamdulillah, Darrel juga prestasinya bagus dan banyak menuai pujian dari gurunya. Yang bikin senang, Darrel sudah makin terbuka, percaya diri, dan makin sering menjawab pertanyaan. Kata gurunya, bahkan dia sering memberi informasi tambahan yang gurunya sendiri belum tahu. Sampai-sampai ada guru kelas lain yang mampir ke kelasnya Darrel dan bertanya, “Saya dengar di kelas ini ada murid yang suka mengajar gurunya ya?” Sampai sini, aku gak bisa nahan. Mataku langsung berkaca-kaca. Yah…ternyata masih cengeng juga emak satu ini. Abisan gak nyangka sih kalau Darrel ternyata malah jadi “guru kecil” bagi gurunya. Untungnya gak sampai meleber kemana-mana karena aku langsung konsen ke dialog dengan gurunya tentang Darrel.

Yak begitulah. Aku bersyukur banget karena anak-anak gak henti-hentinya membuat aku amazed. Tapi aku juga gak akan take credit bahwa ini krn kami ortunya. Beneran deh aku tuh masih suka heran anak-anak bisa gitu. Dalam segi mendisiplinkan mereka secara tegas, aku masih banyak kekurangan krn aku sendiri pun masih banyak belang-belontengnya. Dalam segi mengelola kemarahan dan ngomel2 juga aku masih belum bijak dan efisien. Jadi rasanya jauuuh banget dari penerapan ilmu2 parenting yang selama ini kubaca. Makanya selalu aku anggap anugrah dan rezeki Yang Maha Kuasa aja kalau Imo dan Darrel dianggap baik oleh guru-guru mereka.

 

Pertanyaan Itu

Tadi malam suamiku bertanya, “Memangnya kenapa mama pengen punya anak lagi?” Dan aku terdiam sejenak. Kok jadi bingung jawabnya ya? Dan keterlaluan banget gak sih, dengan perut yang sudah nyata melendungnya ini kok baru sekarang dipertanyakan kenapanya dan masih bingung pula aku menjawabnya? Bukannya ini suatu hal yang seharusnya telah dibahas dengan seksama dan penuh pertimbangan sebelum test-pack menyatakan hasil positif?

Setelah itu, langsung berseliweran di benakku sejumlah “alasan umum” kenapa seseorang ingin punya anak (lagi),
antara lain:
a. Menjaga garis keturunan atau lineage, seolah seperti ada nama keluarga yang harus diteruskan hingga akhir zaman. Tapi kemudian aku bantah sendiri. Lah memangnya warisan nilai apa yang bisa kami teruskan hingga akhir zaman? Unless kita ini keluarga yang extraordinary dengan warisan genetik, tradisi, kebijakan, yang bisa memperbaiki kualitas manusia secara keseluruhan, kok kayaknya terlalu percaya diri ya kalau menganggap meneruskan keturunan kami adalah sesuatu yang begitu penting dan harus diwujudkan?
b. Melestarikan manusia. Ibarat film futuristik dimana manusia semakin susah berkembang biak, sehingga setiap
kelahiran dianggap sebagai sebuah miracle yang dapat mempertahankan ras manusia di bumi. Ada tuh filmnya, tapi aku lupa judulnya..he…he. Tapi sekali lagi aku membantahnya. Ah, bukannya laju kelahiran manusia masih kencang? Kecuali di beberapa negara sih, yang penduduknya memang secara sadar menekan angka kelahiran. Lagipula, kenapa jadi beban kami gitu loh? Masih banyak pasangan lain yang bisa menjalankan tugas mulia itu, gak harus kami. Ya kan?
c. Karena sudah saatnya punya anak setelah bertahun-tahun jeda melahirkan. Meskipun ada benarnya sedikit jika dilihat dari sudut kesiapan mental dan finansial, dimana memberi jarak kelahiran merupakan hal yang bijak, tapi sebenarnya dalam kasusku, dengan dua anak saja malah lebih logis terutama kalau dasar pemikirannya pertimbangan finansial. Ya itung2an di atas kertas, biaya dua anak lebih rendah daripada tiga, gitu loh. Lalu kenapa masih mau nambah anak lagi?

Makin dipikirin, makin bingung…ha…ha…ha. Jadi kenapa oh kenapa ya, dakoe pengen punya anak lagi? Apakah ini cuma keinginan spontan yang impulsif? Apakah cuma untuk memuaskan egoku untuk bisa memiliki seorang “bundle of joy” yang bisa digemesin dan diciumin sepuas hati, berhubung si Darrel udah mulai ogah dicium2? Padahal aku sadar juga lo kalau punya bayi lagi itu bukan cuma soal bayi lucu menggemaskan dan seratus persen saat penuh kebahagiaan. Ada tanggung jawab besar di situ, ada pengorbanan, ada emosi lain seperti sedih dan marah dsb. dalam perjalanannya.

Lalu pagi ini, Imo dan Darrel menyiapkan pakaian, tas, serta sarapan mereka sendiri (sereal dan susu) sebelum
berangkat ke sekolah. Aku masih sempat bercengkrama memeluk Darrel dan bercakap dengan Imo tentang kegiatan sekolahnya sembari menyiapkan bekal makan siang mereka. Sambil menatap wajah dan mencermati kedua anakku, aku melihat ada jejak suamiku dan aku di situ. Aku berkata pada suamiku: “Yah, mama gak tahu persisnya kenapa pengen punya anak lagi. Tapi tiap kali melihat mereka, mama pengen punya lebih banyak anak-anak yang baik, pintar dan luar biasa seperti mereka. Insya Allah, yang ketiga ini, akan baik juga seperti kakak-kakaknya ya.”

Ya begitulah, aku gak bisa memformulasikan jawaban gamblang dengan kata-kata cerdas yang didukung alasan yang valid. Aku hanya bisa merasakannya.