Pengalaman Manggung Pertama

Alkisah, ada seorang anak kecil yang suka bernyanyi, terutama di kamar mandi. Berhubung sang anak tinggal di kompleks yang rumahnya saling berdekatan rapat sekali, otomatis tetangga sebelah dan belakang rumah pasti mendengar nyanyiannya yang lantang itu. Untungnya belum ada yang sampai mengadukan ke RT atas dugaan penganiayaan pendengaran.

Suatu hari, pintu rumah sang anak diketuk. Seorang pria muda menawarkan sepatu kaca…halagh…seorang pria muda menanyakan pada sang Ibu apakah sang putri bersedia diikutkan lomba nyanyi. Sang ibu kaget, “Loh, tau dari mana kalau anak saya suka bernyanyi?”

“Dari tetangga ibu yang namanya Ibu Nanik (bukan nama sebenarnya). Dia bilang suara anak ibu bagus.”

Rupanya upaya si anak bernyanyi keras-keras di kamar mandi berbuah manis juga, meski bukan produser rekaman yang menghampiri, tapi hanya pembina vokal grup Pramuka tingkat kompleks saja. Lomba yang akan diikuti juga bukan lomba nyanyi pop, tapi nyanyi lagu keroncong! Ha..ha..ha…padahal si anak ini bukan penggemar keroncong. Tapi ya, medio tahun 1985-an gitu ya, belum ada tuh lomba nyanyi sebangsa Indonesian Idol atau The Voice. Jadi, lomba keroncong juga hayuk saja lah.

Singkat kata, si anak mengikuti beberapa kali latihan sebelum mengikuti lomba. Nyanyi dengan memakai mikrofon dan diiringi musik yang pertama kalinya! Luar biasa rasanya! Sempat disangka ikutan kursus nyanyi di Pranajaya, cuma karena suaranya bervibrasi, yang dugaan si anak mungkin dimilikinya karena dia sering naik bajaj…wkwkwk.

Tahun ’85 itu menjadi kali pertama pulak si anak usia 10 tahun itu menginjakkan kaki di atas panggung, menyanyikan lagu “Syukur” dengan diiringi langgam musik keroncong. Begitu turun panggung, dia langsung memeluk ibunya dan menangis berlinangan air mata. Loh kenapa? Rupanya saat mengambil kunci nada, ia mengambil nada terlalu rendah, sehingga saat bernyanyi bagian rendah, suaranya ngebass. Malu sekali rasanya. Dan memang gagal jadi juara 1, dan cuma meraih juara 2.

Untung saja ia tak patah semangat, tahun depannya, kejuaraan nyanyi antar gugus pramuka kompleks Pertamina se-Jakarta itu berlangsung lagi. Kali ini ia tak mengulangi kesalahan yang sama, dan berhasil meraih juara 1.

Demikian, secuplik kisah nyata masa laluku. Ini baru pembukaan, besok aku mau lanjutkan dengan engalaman manggung berikutnya, saat di SMP, SMA dan kenapa akhirnya kini menemukan “sarang” baru di Smule. Semoga besok sempat menulis ya. Ini orderan ngosek sumur lagi banyak banget..hu…hu.

 

 

Advertisements

Let’s Start Learning – 1

Hi! My name’s Irma. I’m a mother of three with a penchant for singing, daydreaming, and all things that can make me smile.

Gini-gini aku duluuuu banget pernah jadi guru bahasa Inggris, kuliah juga di jurusan sastra Inggris. Gak banyak aku ungkit di tulisan-tulisanku sebelumnya baik di Multiply atau setelah pindahan ke WP. Karena apa? Beban mental bow! Soalnya ekspektasi orang bakal gimana gitu ya terhadap kemampuan bahasa Inggrisku. Padahal sumpah deh…gue tuh biasa aja bahasa Inggrisnya…kalau dibandingkan dengan penutur asli…wkwkwk.

Dari dulu, aku berulang kali berniat bikin situs khusus untuk beajar bahasa Inggris, khusus untuk orang Indonesia. Tapi maluuu..ha..ha..ha. Terus bingung juga format yang efektifnya seperti apa. Nah, malam ini, berhubung aku lagi lebih bersemangat menulis dan dalam rangka ingin menjadi lebih bermanfaat, aku nekad nih bikin semacam serial postingan khusus untuk mengajak kalian (siapa yaaa…yuhuuu?) belajar bahasa Inggris. Gak usah formil banget kalik ya formatnya. Nanti nerangin grammarnya juga pake bahasa Indonesia aja. Yang penting praktik sih kalo aku bilang. Ini kan kekurangannya penutur asing di negeri yang gak berbahasa Inggris. Jangan protes kalau bahasa Indonesiaku gak baku lo ya, biar tetap santai lah kitaaa..berasa di pantai.

Jadi, latihan pertama kali cuma gini, coba deh kenalin diri kalian dalam bahasa Inggris. Boleh cuma nama aja, boleh ditambah yang lain-lain. Cantumkan juga di bagian akhir komentar keliyan mau dikoreksi apa enggak. PCM (Please correct me) untuk yang mau dikorek-korek, dan NC (No correction) untuk yang gak pengen dikorek-korek. Gampang kaaaaan? Gak usah kepanjangan sampe beberapa paragraf yaaa…ha..ha..ha.. 3 kalimat lah maksimal. Oh ya…jangan marah atau sedih kalau dikoreksi yaaaaa. Bagian dari belajar kan? Yang udah jago gak usah ngerjain gue yeee..ha..ha..ha.

Udah, gitu aje. Ayo mulai!

2017

Tahun ini,  pengharapanku cuma satu: semoga bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Selama ini bukannya tidak bermanfaat, tapi kalau mau jujur, masih banyak waktu dan energi yang bisa disalurkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri atau pun orang lain.

Salah satu hal yang (nyaris) absen aku lakukan selama beberapa tahun terakhir adalah menulis. Banyak alasan kenapa begitu malas menulis, sampai seperti truk mogok di tengah jalan. Tapi salah satu yang menonjol adalah: memangnya ada yang mau baca? Iya, siapa sih yang mau meluangkan 3-5 menit waktunya untuk membaca racauan orang gak penting kayak gue? Seleb bukan, balsem bukan, minyak tawon juga bukan. Bikin nambah ilmu enggak, bikin ketawa enggak, bikin terharu enggak. Ha…ha…ha…putus asa banget ya gue?

Lagipula, di zaman makin serba instan begini, kayaknya orang lebih doyan nonton video bayi/kucing/anjing/lumba-lumba bertingkah lucu menggemaskan daripada membaca. Budaya baca makin ke sini makin terkikis kayaknya. Buktinya diriku sendiri. Dulu biasa banget baca buku setebel-tebel bagong, gak merasa berat sama sekali melakukannya, malah menikmati. Tapi kini…semua tinggal cerita…ow..ow..ow. Jangankan selesai, baru membaca beberapa halaman saja mataku langsung seperti digelantungi raksasa. Ngantuk langsung bow. Dan gini nih ngakunya lulusan sastra…bwa..hua..ha…haaaaaaa. Lulusan sastra yang durhaka kayaknya yaaaa.

Tapi tau gak, memang ini yang sedang terjadi saat ini, di belahan dunia mana pun. Sebagian besar orang  mendapatkan informasi berita dari mana coba? Dari Facebook. Iya, dari Facebook! Jadi tautan-tautan yang kalian pasang di status kalian, meme yang kalian pajang, video dan sebagainya itu adalah sumber utama bacaan masyarakat modern saat ini. Ironisnya, Facebook sendiri mengakui bahwa banyak link yang dipasang di lamannya merupakan berita palsu alias hoax. Begitu besar pengaruh berita palsu ini, sampai-sampai disinyalir bahwa hal ini telah memengaruhi hasil pemilu AS kemarin. Facebook dan Google sampai mengumumkan bahwa akan memperketat dan membasmi situs-situs berita palsu yang banyak beredar ini.

Kenapa orang begitu mudah dikibulin berita palsu? Nah ini aku punya teori sendiri yang mungkin juga gak orisinil-orisinil banget.Teori ini juga banyak bolongnya pasti. Ya iyalah karena cuma teori asal-asalan dari seorang emak-emak kurang kerjaan…wkwkwk. Gak usah berusaha dibantah ya, gak akan gue pertahankan juga..hi..hi..hi.

Karena budaya baca makin terkikis. Dengan bertambah majunya teknologi, alur kehidupan makin cepat, manusia makin sibuk, gak ada waktu untuk baca yang panjang-panjang. Apalagi persaingan ekonomi makin ke sini makin berat bow. Mendingan kerja nyari duit daripada membaca sesuatu yg menyita perhatian lebih dari 10-15 menit. Time is money, kan ya? Mendingan menghibur diri liat video klip kucing lucu (kucing lagiiii…) daripada baca yg panjang-panjang.

Akibatnya, otak kita jadi terbiasa dengan yang pendek-pendek, yang singkat, to the point, gamblang, yang gak ribet, yang gak nyusahin. Artinya: yang gak ngajak otak kita untuk berpikir, untuk menganalisa saat membaca. Mendingan baca cuitan atau rangkuman cuitan daripada baca artikel koran resmi yang panjang dan menyeluruh, mendingan baca status ini-itu yang mengkritisi ini-itu, daripada mencari tahu dari sumber aslinya. Terbiasa disuapi, dicecoki, dan akhirnya disetir oleh opini orang lain. Akhirnya tak terbiasa lagi berpikir mandiri, tak terbiasa lagi berproses.

Serem…kalau buatku ya.

Jadi gimana solusinya? Maksain diri. Iya, maksain. Maksain diri untuk membaca, belajar membaca dengan lebih baik, mencari sumber berita yang tidak palsu, melatih otak untuk menghindari jalan pintas yang menjebak.

Ah…jadi kangen sama Margaret Atwood, Toni Morrison, Alice Walker.

Dan mungkin…mungkin saja, meski cuma satu dua, ada yang membaca tulisan ini dan kemudian tergerak untuk memungut buku bacaan yang sudah berdebu di rak buku mereka dan beralih fungsi jadi pajangan. Dan semoga saja…itu salah satu caraku untuk bisa lebih bermanfaat. Aaaamin.

 

1 Januari 2017, C’dale, IL