Kehamilan dan Tulisan

Banyak sekali yang bisa diceritakan dari kehamilan ketigaku ini. Banyak sekali bahan tulisan yang bisa dibagi. Tapi kebetulan waktunya bersamaan dengan bubar jalannya fitur blog MP. Mood jadi berubah, tak seperti dulu semangatnya dalam berbagi cerita. Meskipun pelan-pelan sudah mencoba bangkit lagi, tapi langkahku masih perlahan dan menjajak dengan hati-hati lahan baru yang masih sangat asing ini.

Di sisi lain, ada juga keinginan untuk menikmati ini semua hanya bersama suami dan kedua anakku. Momen-momen indah atau penuh tantangan yang dinikmati dalam privasi, kembali seperti jaman dulu sebelum ada hingar bingar media sosial. Rasanya seperti menempuh perjalanan dalam kesunyian dan diam. Lebih menyentuh sebenarnya karena yang berusaha aku gapai adalah ke dalam diri sendiri, bukan ke luar, ke keramaian. Karena belajar dari yang sudah-sudah, di keramaian belum tentu ada kedamaian. Dan mengandalkan keramaian untuk mengisi jiwa, sebenarnya metode yg sangat rapuh dan menandakan ketiadaan inner peace and strength.

Bukan berarti sama sekali aku tak bercerita soal kehamilan saat ini, di WP sini juga ada kok meski hanya sedikit saja. Tapi ya itu tadi, saat ini aku memilih untuk membaginya hanya dengan lingkaran terdekat; keluarga dan teman-teman terdekat.

Apakah besok-besok akan tetap seperti ini? Ah, belum tentu juga. Siapa tahu nanti ada sesuatu yang memicu untuk kemudian aku semangat lagi untuk berbagi lebih luas, lebih heboh, dan lebih bombastis (hiperbola deh). Mungkin besok, lusa, atau berbulan ke
depan malah akan ada banjir postingan soal kehamilan, kelahiran, dan parade foto bayi. We’ll see…we’ll see.

Angin atau Matahari?

Sebenarnya kejadiannya sudah agak lama, tapi namanya emak2 yang bangga banget sama anaknya, teteup diceritain dong ah…he…he. Jadi, bulan November kemarin, semua anak kelas 5 di sekolahnya Imo mendapat tugas untuk bikin science project alias proyek ilmiah. Terserah deh mau bikin apaan, yg penting memenuhi prinsip percobaan ilmiah, ada problem, hipotesa, pembuktian, dan kesimpulan, intinya gitu deh. Nanti hasil percobaannya dilaporkan dan dipajang pada saat Science Fair alias Pameran Ilmiah yang diadakan di sekolahnya.

Nah si Imo dengan ambisiusnya pengen membuktikan mana yg menghasilkan energi listrik lebih banyak, pembangkit listrik tenaga angin atau tenaga matahari. Dia bekerja sama dengan sahabatnya bernama, sebut aja Jack, untuk menyelesaikan tugas itu. Imo bagian bikin wind turbine sementara temannya bikin solar cell. Mulai deh mereka riset, cari-cari di Internet cara bikin dua barang itu. Emang sih, di sini sudah dijual science kit yang udah jadi, tinggal merakit aja. Tapi harganya muahalll…lagian juga gak seru amat, science project kok beli di toko?

Akhirnya si Imo berhasil diyakinkan bahwa kalau bikin sendiri lebih seru, apalagi kalau pakai bahan2 bekas, kan sekalian proyek daur ulang. Tapi oh tapi, gak gampang saudara-saudara untuk bikin kincir angin pembangkit listrik sendiri, apalagi kincirnya mini. Si Ayah sampai turun tangan mencoba menjelaskan prinsip listrik lah, magnet lah, segala macem yg ada hubungannya sama turbin angin kepada Imo. Tapi tetap yang bikin desain dan merakit ya si Imo sendiri. Si Emak juga ikut2an rempong dengan menyarankan bikin kincir dari botol bekas aqua. Walah…jadilah si Imo bikin desain kincir yang unik, meski kurang efektif karena pasaknya keberatan magnet…hi…hi. Tapi lumayan deh, pas diputar pake tangan, si kincir memang bisa menghasilkan listrik meski dalam jumlah volt yang rendah.

Imo juga janjian ketemuan sama temannya si Jack di akhir pekan utk membantu Jack menyelesaikan solar cell-nya. Kasihan juga si Jack, karena ortunya keliatan gak terlalu mendukung proyeknya. Mosok pas dateng ke rumah mereka belum siap dengan bahan2 buat merakit solar cell-nya. Jadi habislah waktu utk menunggu emaknya si Jack muter2 nyari bahannya dulu. Alhasil, sampai Jack pulang, tuh anak dua belum berhasil memfungsikan solar cell dengan baik. Imo kemudian menyerahkan tanggung jawab pada si Jack, sesuai kesepakatan awal. Kami pun menasihati Imo supaya konsentrasi aja sama wind turbine-nya. Toh dia udah berusaha membantu si Jack, bukannya lepas tangan gitu aja.

Si Emak sempat nyap-nyap karena Imo ngerjain proyeknya dengan prinsip mefetisme, sampai-sampai bikin bahan presentasi tertulisnya baru malam sebelum diadakannya Science Fair, tapi akhirnya semua selesai juga. Meskipun Imo akhirnya harus menyelesaikan papan presentasinya di sekolah.

Malam harinya, Emak Kece dan dua bocah lanangnya berangkat menuju sekolah untuk melihat pameran. Selain papan presentasi, Imo dan Jack juga memamerkan pembangkit tenaga listrik mereka masing-masing. Bentuk kincir angin buatan Imo yang unik membuat pengunjung yang terdiri dari para ortu murid banyak yang mengunjungi bilik pamerannya. Bahkan ada seorang bapak yang merekam dengan kamera HP-nya saat Imo menjelaskan soal cara kerja wind turbine. Emaknya sendiri aja enggak sampe segitunya…ha…ha..ha.

Saat pameran juga dilakukan penjurian oleh salah satu guru sekolahnya Imo. Pemenangnya akan diumumkan keesokan harinya. Tadinya kupikir akan ada pemenang 1, 2, 3, tapi ternyata akan dipilih 10 proyek terbaik. Bukannya sok kepedean ya, tapi aku punya perasaan bahwa Imo mungkin bisa memang. Bukan apa2, proyek2 yang lain banyak yang terlalu sederhana, menurutku lo yaaa. Tapi harus tetap dihargai effort atau usahanya tuh anak-anak untuk mulai menerapkan prinsip ilmiah dan melakukan percobaan. Bagusnya guru-guru di sini, kebanyakan gak suka ngece. Mereka lebih banyak memberi semangat, ya baguslah untuk menebalkan kepercayaan diri anak2 di usia 10 tahunan itu. Meskipun ngarep.com, aku tetap wanti-wanti sama Imo untuk pasrah aja, gak usah terlalu kecewa kalau misalnya gak menang. Yang penting usahanya sudah sangat baik dan buat emak bapaknya, karya dia tetap yang terbaik dan terhebat di antara karya2 yang lain.

Esok harinya, Imo pulang dari sekolah dengan membawa kabar gembira. Dia termasuk 10 besar pemenang Science Fair, bersama dengan temannya si Jack. Dan mereka akan termasuk 10 tim yang akan maju ke lomba percobaan ilmiah berikutnya yang diadakan di kampus John A. Logan, bersaing dengan anak2 kelas lima dari sekolah2 lain. Horeeee!!! Alhamdulillah! Imo dan Jack juga diberi kesempatan untuk menyempurnakan karya mereka, dan waktu persiapannya juga lebih lama karena lombanya akan diadakan di akhir tahun ajaran, atau sekitar bulan Mei.

Semangat ya Imo! Si Emak siap untuk membantu dan mudah2an bisa tanpa nyap2 atau terlalu ceriwis yaaa…hi…hi.

Image

Daily Prompt: Oasis

To think about it, I never have just one single oasis or sanctuary. It keeps changing according to circumstances. I used to find peace in my mother’s arms. Her finger stroking my hair while I share with her my woes and cheers. Other times, my best friends would be where I can find solace. Laughing with them while embarking on an excursion can really set my mood into a better tune. After I got married, my husband and kids become my center of peace (and hurdles at the same time :)). Looking at my two boys’ faces while they are asleep can just thwart any of my worries and pains. As cliche as it might sound, I do find peace in the people that surround me and love me for who I am. They are my sanctuary, my true oasis.

Pake Bantal? Gak Boleh!

Pas lagi cari-cari barang kebutuhan Dek Bayi, baru nyadar bahwa susah juga mencari bantal khusus buat bayi di sini. Ternyata oh ternyata memang bayi TIDAK direkomendasikan untuk memakai bantal sebelum usia 1 tahun. Alasannya adalah untuk mencegah terjadinya SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) alias kematian bayi yang mendadak akibat saluran pernafasannya tersumbat. Baik si bayi mau tidur bareng ortunya (co-sleeping) atau tidur di crib atau tempat tidur bayi, penggunaan bantal tidak dianjurkan dan cenderung dilarang. Oh ya, co-sleeping dianggap lebih berisiko bagi bayi, terutama karena faktor bisa tertindih ortu yang tidurnya nyenyak dan gak sadar guling2 badan sampai menimpa si bayi atau bisa juga bayi tertimpa bantal atau selimut ortu sehingga saluran nafasnya tertutup.

Selain bantal, ranjang bayi juga harus bersih dari selimut atau mainan anak demi keselamatan itu tadi. Bare is Better, alias polos lebih baik itulah prinsip tidur buat bayi yang dianjurkan di sini. Gimana kalau takut bayinya kedinginan? Ya pakaian si bayi harus menghangatkan, tapi jangan pernah dikasih selimut tebal.

Beuhh… ribet banget. Banyak gak bolehnya yak? Padahal yang namanya bantal kepala dan guling mungil sepertinya sudah menjadi aksesoris wajib buat bayi2 di Indonesia. Dulu Imo dan Darrel juga pakai bantal kepala. Dan mereka juga co-sleeping bareng kami. Untungnya gak apa-apa.

Jadi gimana dong? Berjuang untuk tetap mendapatkan bantal kecil, atau gak usah pake sekalian? Timbang-timbang dulu aja kali ye. Kan masih ada waktu sekitar 2 bulan lebih untuk pikir-pikir.