2017

Tahun ini,  pengharapanku cuma satu: semoga bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Selama ini bukannya tidak bermanfaat, tapi kalau mau jujur, masih banyak waktu dan energi yang bisa disalurkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri atau pun orang lain.

Salah satu hal yang (nyaris) absen aku lakukan selama beberapa tahun terakhir adalah menulis. Banyak alasan kenapa begitu malas menulis, sampai seperti truk mogok di tengah jalan. Tapi salah satu yang menonjol adalah: memangnya ada yang mau baca? Iya, siapa sih yang mau meluangkan 3-5 menit waktunya untuk membaca racauan orang gak penting kayak gue? Seleb bukan, balsem bukan, minyak tawon juga bukan. Bikin nambah ilmu enggak, bikin ketawa enggak, bikin terharu enggak. Ha…ha…ha…putus asa banget ya gue?

Lagipula, di zaman makin serba instan begini, kayaknya orang lebih doyan nonton video bayi/kucing/anjing/lumba-lumba bertingkah lucu menggemaskan daripada membaca. Budaya baca makin ke sini makin terkikis kayaknya. Buktinya diriku sendiri. Dulu biasa banget baca buku setebel-tebel bagong, gak merasa berat sama sekali melakukannya, malah menikmati. Tapi kini…semua tinggal cerita…ow..ow..ow. Jangankan selesai, baru membaca beberapa halaman saja mataku langsung seperti digelantungi raksasa. Ngantuk langsung bow. Dan gini nih ngakunya lulusan sastra…bwa..hua..ha…haaaaaaa. Lulusan sastra yang durhaka kayaknya yaaaa.

Tapi tau gak, memang ini yang sedang terjadi saat ini, di belahan dunia mana pun. Sebagian besar orang  mendapatkan informasi berita dari mana coba? Dari Facebook. Iya, dari Facebook! Jadi tautan-tautan yang kalian pasang di status kalian, meme yang kalian pajang, video dan sebagainya itu adalah sumber utama bacaan masyarakat modern saat ini. Ironisnya, Facebook sendiri mengakui bahwa banyak link yang dipasang di lamannya merupakan berita palsu alias hoax. Begitu besar pengaruh berita palsu ini, sampai-sampai disinyalir bahwa hal ini telah memengaruhi hasil pemilu AS kemarin. Facebook dan Google sampai mengumumkan bahwa akan memperketat dan membasmi situs-situs berita palsu yang banyak beredar ini.

Kenapa orang begitu mudah dikibulin berita palsu? Nah ini aku punya teori sendiri yang mungkin juga gak orisinil-orisinil banget.Teori ini juga banyak bolongnya pasti. Ya iyalah karena cuma teori asal-asalan dari seorang emak-emak kurang kerjaan…wkwkwk. Gak usah berusaha dibantah ya, gak akan gue pertahankan juga..hi..hi..hi.

Karena budaya baca makin terkikis. Dengan bertambah majunya teknologi, alur kehidupan makin cepat, manusia makin sibuk, gak ada waktu untuk baca yang panjang-panjang. Apalagi persaingan ekonomi makin ke sini makin berat bow. Mendingan kerja nyari duit daripada membaca sesuatu yg menyita perhatian lebih dari 10-15 menit. Time is money, kan ya? Mendingan menghibur diri liat video klip kucing lucu (kucing lagiiii…) daripada baca yg panjang-panjang.

Akibatnya, otak kita jadi terbiasa dengan yang pendek-pendek, yang singkat, to the point, gamblang, yang gak ribet, yang gak nyusahin. Artinya: yang gak ngajak otak kita untuk berpikir, untuk menganalisa saat membaca. Mendingan baca cuitan atau rangkuman cuitan daripada baca artikel koran resmi yang panjang dan menyeluruh, mendingan baca status ini-itu yang mengkritisi ini-itu, daripada mencari tahu dari sumber aslinya. Terbiasa disuapi, dicecoki, dan akhirnya disetir oleh opini orang lain. Akhirnya tak terbiasa lagi berpikir mandiri, tak terbiasa lagi berproses.

Serem…kalau buatku ya.

Jadi gimana solusinya? Maksain diri. Iya, maksain. Maksain diri untuk membaca, belajar membaca dengan lebih baik, mencari sumber berita yang tidak palsu, melatih otak untuk menghindari jalan pintas yang menjebak.

Ah…jadi kangen sama Margaret Atwood, Toni Morrison, Alice Walker.

Dan mungkin…mungkin saja, meski cuma satu dua, ada yang membaca tulisan ini dan kemudian tergerak untuk memungut buku bacaan yang sudah berdebu di rak buku mereka dan beralih fungsi jadi pajangan. Dan semoga saja…itu salah satu caraku untuk bisa lebih bermanfaat. Aaaamin.

 

1 Januari 2017, C’dale, IL

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “2017

  1. huwaaaaa… udah balik nih mbak irma… Terakhir baca novel dan sehari selesai pas liburan kemarin setelah sekiaaaan lama tak sempat baca buku novel menghibur diri. Biasanya selama satu semester ini bacanya buku pelajaran :p
    jadi curhat deh sayaaa… hahaha

    enakan curcol di lapak orang dibanding posting di lapak sendiri, emang.

    anyway, welcome…

    • Thank you! Semoga bisa balik dan konsisten nulis lagi yaaa..hi..hi..ragu sama diri sendiri. Eh baca buku pelajaran juga gak papa kok, kan malah jelas nambah ilmu. Buku pelajaran muridnya ya? Ih bebaaaas…mau curhat di sini boleeeeh..ha..ha..ha. Gak ada larangan kok. Alu lagi pengen baca yg klasik-klasik, yang enak tapi berisi, combro dong..wkwkwk.

  2. Hellow maaak… toss dulu doong buat resolusi 2017 kita. Saya juga mau membudayakan giat “membaca”. Karena pepatah yang saya yakini sampai saat ini adalah membaca merupakan jendela dunia. Kalau mau lihat dunia, ya membaca! *ciiieeehwise* 😀

    • Halo Rayaaa! Ketjup Ucup dulu dari jauh ah. Yap, bener banget. Membaca fiksi, non fiksi, artikel majalah/koran, blog, semuanya bisa memperkaya kita. Dan itu udah lama gak aku rutinkan lagi. Musti maksaaaa bangets. Semoga kita bisa ya melakoni niat baik ini.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s