Lebaran: Hari Paling Menyedihkan

Bagaimana tidak menyedihkan, tiap lebaran terasa pedih karena jauhnya jarak yang memisahkan kami dan keluarga serta teman-teman di sana. Rasanya selalu mau terbang dengan baling-baling bambu, melesat ke arah Jakarta.

Lebaran di sini alamat perayaan dalam kesepian, karena tak ada tetangga yang dikunjungi atau kerabat yang mengunjungi. Tak ada keriaan takbiran dengan suara anak2 yang fals dari masjid belakang rumah ortuku atau sambitan petasan sialan yang bersahut-sahutan dari kampung belakang. Hal-hal yang dulu sering aku rutuki malah sekarang jadi ngangenin. Aneh ya.

Iya, pasti ada sholat Ied di masjid di kota kami yang ukurannya lumayan, cukup deh menampung warga muslim di sini. Setelah sholat Ied biasanya ada sarapan bareng dengan makanan yang disediakan oleh para sponsor, dokter2 muslim yang bermukim di sini. Biasanya juga ada inflatables… apa ya… itu loh balon2 besar yang ditiup terus bisa buat lompat2-an dan perosotan oleh anak2.

Setelah acara di masjid, biasanya masing2 komunitas punya acara sendiri baik itu makan siang bersama atau makan malam. Tergantung lebarannya jatuh hari apa sih. Kalau di hari kerja kayak tahun ini sih alamat gak bakal banyak acara kumpul2 karena kebanyakan orang dewasanya masih bekerja atau kuliah. Kalau anak sekolah seperti Imo dan Darrel biasanya mendapat izin untuk bolos satu hari karena guru2 di sini juga sudah mengerti tentang adanya hari raya Ied (Eid).

Tapi terus terang ni ye, buat aku sih mendingan anak2 tetap masuk sekolah! Lah, wong setelah sholat Ied gak ada kegiatan apa2 lagi. Paling2 aku membelikan hadiah buat mereka yang kemudian kita jadikan acara Treasure Hunt, biar seru aja. Mendingan mereka tetap sekolah, jadinya gak ketinggalan pelajaran. Ngumpul sekeluarga bisa dilanjutkan malam harinya, pas Ayahnya anak2 juga sudah pulang kerja. Tapi, berhubung hampir semua murid yang muslim minta izin untuk libur sehari aja, ya sudahlah aku solider. Daripada gurunya bingung, “Si itu bisa kok tetap sekolah, lalu kenapa si Anu minta izin gak masuk?”

Jadi, begitulah. Lebaran di sini bisa dibilang hampir tak terasa. Tak ada hiasan ala lebaran di pertokoan ataupun kumandang lagu2 Bimbo. Tak ada orang jualan bungkus ketupat di farmer’s market. Sepiiii… sediiihhh.

Tapi kemudian aku bertanya lagi pada diriku sendiri: seperti halnya happiness is a state of mind, kenapa tidak berpikiran hal yang sama tentang lebaran? Kenapa juga harus terpuruk dalam kesedihan, meratapi “yang tak ada”? Padahal kalau mau dihitung-hitung, lebih banyak lagi nikmat yang aku dan keluargaku telah, sedang dan insya Allah akan rasakan.

Mendengar pertanyaan Imo yang penuh semangat: “Ma, besok Eid ya? One more day, Ma!”, aku jadi malu hati. Dia yang berpuasa nyaris penuh (cuma satu kali batal karena gak sahur dan lagi batuk) di tengah-tengah teman-temannya yang mayoritas tak berpuasa, bisa bersemangat begitu. Padahal tahu lebarannya bakal sunyi sepi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kenapa aku emaknya jadi mellow jello begini ya?

Akhirnya, sejak Sabtu minggu kemarin aku mulai berpikiran untuk melakukan hal-hal yang sudah lama tidak aku lakukan: persiapan lebaran. Aku mulai cari-cari resep kue dan masakan, serta mulai beres-beres rumah. Alhasil, setelah maraton bikin kue, kemarin tersedialah empat jenis kue di meja. Hari ini aku mau bikin macaroni schotel dan gulai ayam. Besok pagi bikin roti jala. Rumah sudah agak beres…he…he… gak didekor gimana2 sih, cuma akan dibikin beres, gak kayak kapal pecah seperti biasanya. Nanti sore mau ajak2 anak2 dekor jendela rumah dengan crayon khusus buat jendela yg nanti bisa dibersihkan dengan air. Siapin juga hadiah ah, buat treasure hunt Imo dan Darrel, jadi sepulang sholat Ied ada hal yang akan mereka tunggu2.

Rencananya nanti malam dan besok pagi, kami juga akan tele-conference dengan keluarga di Indonesia. Sudah ada teknologi, ya dimanfaatkan dong. Mereka selalu kangen pada Imo dan Darrel. Moga-moga saja Darrel mood-nya bagus dan mau diajak ngomong di Skype. Biasanya gak mau soalnya…ha…ha…ha.

Tak masalah, akan ada tamu yang datang atau tidak, yang penting Ied sudah akan dihadirkan di rumah dan di hati kami.

Selamat Iedul Fitri
untuk teman2 MP semua!

Mohon maaf lahir dan batin yaaa…
Semoga Ied kali ini juga hadir di hati kalian.

Advertisements

Jejak Kita

Kemarin, saat hampir tengah malam, tiba-tiba seseorang menyapaku di FB chat yang kebetulan saat itu sedang aku buka. “Masih ingat aku, nggak?” Begitu tanyanya. Karena foto profilnya cuma secuil dari wajahnya, tepatnya cuma mata sebelah dan namanya juga kecowok-cowokan, aku berterus terang bahwa aku gak ingat siapa dia. Aku langsung buka FBnya, dan ndalalah, ternyata teman SD yang beberapa waktu sempat aku jadikan teman FB namun belum sempat bertegur sapa lebih lanjut. Sebut saja namanya W, dan dia dulu termasuk salah satu sahabat masa kecilku. Waktu kecil aku memang termasuk suka sekali berteman, sering bertandang ke rumah teman-teman, dan bersepeda sendirian sambil berpetualang.

W ini dulu termasuk “sainganku” saat mengikuti lomba nyanyi keroncong. Suaranya bagus sekali dan dia lebih pe-de untuk menyanyi di depan orang banyak dibandingkan aku. Dia juga teman yang pernah berkolaborasi denganku untuk menari bersama di acara perpisahan sekolah, saat kami kelas 5 SD.

Dari pembicaraan penuh nostalgia kemarin malam itu, ada satu hal yang membuat aku sempat terhenyak. Dia bilang begini: “Dari dulu kau sudah suka banget membaca. Tiap habis membaca sesuatu, pasti langsung kau ceritakan pada teman-temanmu. Aku ingat banget dulu kau bilang bahwa mayat yang dikubur pada hari keempat akan meledak badannya.”

Yang bikin aku terhenyak:
1. Buset deh… waktu kecil kok aku sudah suka hal2 yang gory alias seram seperti itu sih? Dan kenapa juga bagi-bagi informasi horor kayak gitu ke teman-teman? Apa gak bikin mereka mimpi buruk?

2. Kebiasaan menceritakan apa yang sudah aku baca ini mirip sekali dengan kebiasaannya… Imo! Yap, dia sampai kami juluki ensiklopedia berjalan karena suka suka sekali menuturkan fakta/trivia mengenai berbagai hal yang didapatinya dari buku yang dibacanya.

Dan yang terakhir, yang bikin aku benar-benar termenung adalah kenyataan bahwa aku sendiri sudah LUPA bahwa aku pernah cerita tentang mayat meledak itu pada teman SD-ku ini.

Ternyata tanpa kita sadari, kita bisa meninggalkan “jejak” yang tak terlupakan pada diri orang-orang yang pernah kita temui, pada teman-teman kita. Apa yang kita anggap gak ada artinya atau hanya hal sepele, bisa berarti sangat besar dan bisa menempel sangat erat pada ingatan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan kita.

Jadi cemas, jangan-jangan jejak yang aku tinggalkan lebih banyak yang “memedihkan” daripada “membahagiakan.” Jadi bertanya-tanya, jangan-jangan pernah atau bahkan sering nyenggol perasaan orang tanpa sadar dan berlalu melenggang begitu saja dengan tanpa merasa bersalah. Lebih susah lagi kalau kemudian tali silaturahmi terhenti dan tak sempat mengetahui jejak apa saja yang pernah kita tinggalkan di kehidupan orang lain.

Hmm… susah ya jadi manusia? Makanya dulu waktu kecil aku pernah pengen jadi sendal jepit. Ha…ha…ha.

[NYC series part 5] Tak Berjodoh dengan Lady Liberty

Catatan ini merupakan lanjutan dari catper yang ini.

Hari pertama kami akan menjelajah kota diwarnai dengan sedikit kekhawatiran karena kami belum mengenal medan tempur padahal kami sudah berniat hanya akan menggunakan sarana transportasi umum berupa bus dan kereta bawah tanah (subway). Karena kesalahan persiapan, aku tak memiliki peta Brooklyn dan hanya berbekal peta Manhattan dan sekitarnya. Jadi kami cuma berniat akan naik bus menuju terminal subway terdekat dan kemudian membeli tiket di situ serta mengambil peta subway dan bus yang meliputi seluruh wilayah NYC, termasuk Brooklyn.

Halte bus ternyata tak terlalu jauh dari rumah Joan, hanya sekitar satu blok saja (5 menit berjalan kaki) dan tempatnya juga enak, banyak tempat duduk dan teduh karena dinaungi pepohonan. Letak halte ini berbatasan dengan sebuah lapangan basket dan tenis yang memang disediakan untuk warga di sekitar situ. Tiap hari juga ada patroli petugas penyeberang jalan karena lapangan bermain tadi tepat bersebelahan dengan sebuah sekolah.


Untungnya lagi, MTA (Metropolitan Transportation Authority) juga memiliki situs web yang sangat bagus, sehingga setiap rute sudah bisa kita rencanakan sebelum bepergian. Cukup dengan menuliskan lokasi asal dan lokasi berangkat, maka kita akan disodori pilihan rute bus dan kereta yang menghubungkan dua lokasi tersebut beserta jam kedatangan dan waktu tempuhnya. Situs ini bisa diakses dengan HP pulak. Cuma karena HPku murmer jadi bisa ditebak deh kecepatan unduh informasinya seberapa…he…he…lelet bak keong racun.

Saat naik bus, suamiku sempat diomeli oleh supir bus, seorang wanita berkulit hitam. Pasalnya suamiku hendak membayar ongkos bus dengan uang lembar lima dolaran. Supir itu ngomel bukan karena kami minta kembalian karena kami ngerti banget kalau di sini bayar harus pakai uang pas. Tapi ternyata bus di sini tidak menerima uang lembaran. Jadi pembayaran hanya bisa dilakukan dengan menggunakan uang receh 25 sen alias quarters. Walah! Dan kami gak bawa uang recehan yang semuanya ditinggal begitu saja di tempatnya Joan.


Suamiku yang bingung harus bayar pakai apa, bertanya pada si supir, “So, what should we do, then?”

Supir itu, tetap menjalankan bus dan berkata: “Meneketehe!” (hi…hi…hi…pake bhs Inggris la yaw).

Untung saja si supir tidak menendang kami turun dari bus. Dia tanya apakah kami akan naik subway dan kami iyakan. Lalu dia memperbolehkan kami naik busnya karena memang setiap orang yang naik subway boleh naik bus dengan gratis!

Sudah dipermalukan di depan seisi bus sedemikian rupa, kami masih ketawa2 aja. “Biarin aja ya orang2 jadi tahu kalau kita turis. Emang turis sih,” ujarku pada suamiku. Ya, namanya juga bukan penduduk sini, wajar dong ya kalau banyak gak tahunya.

Karena baru sekali itu naik bus, kami cuma bisa menebak-nebak akan turun dimana. Petunjuknya adalah kalau sebagian besar penumpang turun maka kami harus turun juga. Dan ternyata memang benar, saat hendak mengikuti arus penumpang yang turun, aku bisa melihat pagar hijau bertuliskan Flatbush Ave. beserta tulisan nomor2 di dalam lingkaran beraneka warna yang menuju ke bawah tanah.

Setelah menuruni tangga, kami menemukan loket tiket dan beberapa mesin otomat. Kami memilih beli tiket di loket, biar bisa sekalian tanya2. Agar praktis dan hemat, kami membeli tiket pass untuk 7 hari yang bisa dipakai sebanyak mungkin, all you can ride gitu deh. Tiketnya berbentuk kartu tipis terbuat dari plastik berwarna kuning bertuliskan logo MTA.

Yang pernah lihat film dengan adegan di subway pasti tahu kalau tiket ini bukan tiket yang harus ditunjukkan ke kondektur karena memang tak ada kondektur sama sekali di dalam keretanya. Tiket ini fungsinya adalah untuk membuka gerbang berpalang putar menuju platform atau peron dengan cara digesekkan ke bagian khusus di gerbang tersebut yang kemudian akan terbuka kuncinya. Selain gerbang dengan palang putar, juga ada gerbang berupa pintu besi khusus untuk penumpang berkursi roda atau emak2 yang bawa stroller.

Kesan pertama tentang stasiun subway: PA
NAS! Yap, panasnya luar biasa dan baunya juga aduhai, apalagi di dalam elevatornya. Di beberapa elevator subway baunya begitu pesing membuat kami yakin bahwa ada manusia2 tak beradab yang pernah pipis di situ. Tapi begitu masuk ke dalam keretanya, maka udaranya langsung adem karena pendingin ruang yang kencang. Baunya juga tak terlalu semriwing karena rajin dibersihkan.


Pertama kami memasuki peron, kami melakukan kesalahan karena menunggu di peron yang salah! Mustinya kami menyeberang ke peron sebelah sana, bukan di bagian yang dekat dengan loket tiket, dan karena ketidaktahuan kami, kami rugi waktu sekitar 15 menit karena harus menunggu kereta berikutnya.


Hari itu kami berniat mengunjungi Patung Liberty yang merupakan ikon tak hanya bagi kota New York namun juga ikon Amerika Serikat. Dari situs webnya, aku sudah tahu bahwa tempat ini termasuk tempat favorit bagi para turis dan antreannya bisa dipastikan sangat puanjaaaang. Antrean menjadi panjang selain karena memang banyak peminatnya, juga karena prosedur pemeriksaan keamanan yang mirip dengan yang di bandara. Meskipun kami sudah memegang tiket City Pass, bukan berarti kami tak harus mengantre. Untuk wahana satu ini, kami tidak diberikan keistimewaan untuk bisa memotong antrean, seperti halnya di beberapa tempat wisata lainnya.


Untuk bisa menuju Liberty Island, kami harus naik kapal feri dari Battery Park, sebuah taman kota yang dalam sejarahnya pernah menjadi benteng dari serangan suku-suku Indian. Di dekat taman ini juga ada sebuah terminal kapal yang cukup terkenal yaitu Staten Island Terminal yang menyediakan sarana feri gratis untuk mereka yang akan menuju pulau Staten. Tapi feri yang akan mengantar kami menuju Liberty Island tidaklah gratis. Yang gratis adalah memasuki pulau itu sendiri serta memasuki Ellis Island yang merupakan pulau yang pernah menjadi tempat penampungan dan pendaftaran imigran-imigran yang baru saja datang di AS dalam periode tahun 1892 hingga 1954. Bundel tiket City Pass yang telah kami beli sebelum berangkat ke sini berisikan tiket feri menuju Liberty Island dan Ellis Island.

Kami tiba di Battery Park pukul 11 pagi dan ternyata antreannya sudah mengular naga panjangnya bahkan sampai meliuk-liuk. Hayah! Langsung ciut niat kami untuk menengok Lady Liberty. Dengan lesu kami terduduk di bangku taman. Anak-anak malah sibuk mengejar-ngejar burung dara yang banyak sekali di taman-taman kota ini. O ya kegiatan mengejar burung dara ini menjadi salah satu kegiatan favorit anak bungsu kami yang baru lima tahun selama di kota New York.


Setelah omong-omong sebentar, akhirnya kami putuskan untuk berpindah lokasi saja dan menunda kencan dengan Lady Liberty menjadi esok pagi. Tentu saja dengan tekad bahwa besok harus berangkat sepagi mungkin agar antreannya tidak keburu panjang banget seperti sekarang.

Untuk hari ini, kami berniat mengunjungi Museum of Natural History yang letaknya berseberangan dengan Central Park. Maka, kami kembali menuju stasiun subway untuk menaiki kereta yang menuju museum tersebut.

(bersambung)

Note: Foto2 lebih banyak akan diposting khusus untuk kontak di album foto.

Serba-Serbi Waktu Nongkrong

Buat yang lagi makan atau lagi kurang enak badan, mendingan jangan baca ini deh. Kalau nekad juga, risiko Anda tanggung sendiri yaaaa.

Aku sedari dulu punya kebiasaan nongkrong di toilet yang agak beda, yaitu melakukan hajat besar sambil membaca. Bukan… bukan karena aku segitu kutu bukunya sampai2 ke WC-pun tetap membaca, tapi karena aku merasa waktu sekitar 10-15 menit di toilet terlalu lama untuk disia-siakan dengan bengong-bengong diiringi bunyi cemplang-cemplung. Mendingan sambil baca deh, pikiran juga seolah2 dijauhkan dari perasaan jijik akibat kebauan pup sendiri. Ini taktik diversion atau pengalihan perhatian. Jadi, senyaman apapun toiletnya dan sebagus apapun bacaan yang aku lahap saat sedang nongkrong, aku tak pernah mau berlama-lama di situ.

Begitu menikah, aku terheran-heran melihat suamiku bisa menghabiskan waktu sampai 30 menit di toilet. Yak ampun, selama itu ngapain aja seh? Memangnya banyak banget keluarnya? Ternyata setelah kuselidiki tanpa ikut masuk ke kamar mandi tentunya, suamiku menghabiskan waktu selama itu hanya untuk menunggu keluarnya pup! Jadi beneran buang hajatnya justru di menit-menit terakhir. Lah? Kenapa nungguinnya harus sambil nongkrong di WC coba?! Kamar mandi yang cuma satu-satunya kan jadi gak bisa dipakai penghuni rumah yang lain. Suamiku bilang karena dia butuh konsentrasi terlebih dahulu, kalau enggak gitu ya gak bisa keluar. Ya sudahlah, sebagai istri yang pengertian, mosok mau memaksa dia untuk mengubah pola nongkrongnya?

Apakah waktu selama itu dia habiskan dengan bengong2 aja? Sebelum nikah sama aku sih iya, cuma bengong aje. Tapi begitu dilihatnya aku selalu bawa buku/majalah/koran ke kamar mandi, dia langsung mengikuti jejakku. Setelah punya tablet, maka tabletnya yang dibawa ke kamar mandi. Maka, di laci bawah westafel kamar mandi selain penuh dengan majalah juga terdapat satu tablet.

Kebiasaan nongkrong lama di toilet ini menurun pada si Sulung., yang butuh minimal setengah jam untuk prosesi buang hajatnya. Untungnya, keseimbangan alam terjaga dengan kebiasaan si Bungsu yang melakukan buang hajat dengan super kilat! Yak, hanya dalam hitungan detik, dia akan selesai dan berteriak, “Sudaaaaahhh!!!” kepada emaknya di luar, tanda minta dicebokin. Kurasa, kalau ada gelar Guinness Book of Record untuk proses boker tercepat, maka anakku pasti jadi juara bertahannya.

Mantan Pasien Grogol

Alkisah, sekitar tahun 1999 aku harus dioperasi di salah satu rumah sakit di daerah Grogol, Jakarta Barat. Aku memilih rumah sakit ini karena biayanya murah dan dokter yang mendiagnosa penyakitku juga praktek di situ. Singkat cerita, operasinya berhasil dan akupun langsung pulang begitu sudah pulih. Tak terpikirkan sama sekali bahwa nama dan lokasi rumah sakit akan menjadi “senjata” untuk menyerangku.

Mulai tahun 2000 hinggga 2003 aku mengajar si sebuah sekolah tinggi di daerah Jakarta Selatan. Salah satu rekan kerjaku yang bernama Parto (bukan nama sungguhan) ternyata memiliki frekuensi sense of humor yang sama denganku. Kamipun sering bercanda dan ketawa sampai air mata berderai-derai dan perut mules.

Kami berdua juga sangat suka menyanyi. Dengan cueknya kami anggap ruang dosen sebagai studio rekaman. Di saat menunggu giliran menghajar, kami akan bernyanyi-nyanyi mengikuti lagu-lagu yang diputar di radio. Parto dengan suaranya yang penuh vibrasi akan menggetarkan jendela dan dinding ruangan. Sementara aku akan mengkritisinya bagaikan Pranajaya, “Taruh vibrasi tuh di belakangnya aje, jangan di semua nada! Lu sih kalo latihan di atas bajaj!”

Saking akrabnya, akupun menceritakan sejarah soal operasi di Grogol itu. Aku juga sebutkan nama rumah sakit tempat aku dirawat. Polos sekali aku waktu itu.

Seperti bisa diduga, Partopun girang bukan kepalang mendapati fakta tentang operasiku. Dia langsung menjadikannya bahan untuk mengejekku antara lain dengan ucapan: “Makanya, kalau belum sembuh jangan kabur dulu dari rumah sakit!” atau “Operasi lu yang waktu itu gagal kali ye! Sana, operasi lagi!”

Dan aku cuma bisa menangis tersedu-sedu menyadari kekeliruanku membocorkan cerita tentang rumah sakit di Grogol itu, yang kebetulan bernama: Sumber Waras.

Ambil tuh si Maaf!

Aneh sekali. Saat tadi ada yang minta maaf, kok aku malah jadi susah, sedih, kepikiran. Rasanya antara terharu, kok akhirnya dia mau minta maaf dan bersyukur, alhamdulillah akhirnya dia sadar, bercampur baur dengan pertanyaan: beneran gak sih dia sudah berubah?

Gara2 permintaan maaf ini orang, mood-ku yang biasanya cerah ceria dan terkadang gila jadi mellow jumellow plus termehe-mehe. Pas suamiku pulang, topik pertama yang aku omongin ya tentang si orang minta maaf itu. Pertanda bahwa masalah ini yang paling menyita pikiranku.

Kemudian, barusan saja, terjadilah percakapan jarak jauh melalui YM antara aku dan si orang yang kita sebut saja sebagai si Abal. Intinya adalah dia minta maaf padaku atas peristiwa lampau (belum setahun sih).

Eh giliran sudah ngobrol lebih lanjut makin terungkap bahwa ternyata kelakuannya masih sami mawon. Ujung-ujungnya kami kembali mendebatkan konflik yang kemarin itu dan masih tidak ada titik temunya. Obrolan YMpun diakhiri sepihak oleh si Abal saat sudah terdesak dan tak mampu mengelak.

Dan di sini letak keanehannya. Kok aku malahan merasa legaaaaa banget ya? Plong rasanya dadaku setelah tahu bahwa si Abal kelakuannya belum berubah.

Buat si Abal, dimanapun elo berada: Iya deh, gue maafin lo (cuma buat peristiwa kemaren dan hari ini). Gampang kok, persediaan maaf gue masih banyak tuh di gudang. Tapi jangan harap lo bisa ngibulin gue lagi! Prettt… tak usblek ya!

Note: Curhatan geje ini gak ada hubungannya dengan surat cinta yang menghebohkan itu yaaaa.

[Catatan Ramadhan 2011] Hari 2 dan 3

Di hari ke-2 Ramadhan, Emak Kece mulai berpuasa dan sukses sahur tanpa kebablasan. Acara beberes rumah dilanjutkan dengan beberes kupon. Seperti sudah diceritakan di sini, Emak Kece yang pengeretan sekarang gemar sekali mengumpulkan dan membeli kupon-kupon belanja kebutuhan sehari-hari demi bisa mendapatkan potongan harga yang cukup substansial. Perkara mengupon ini akan dipaparkan lebih lanjut di jurnal yang lain, itu juga kalau ada waktu, masih mood, dan akun MPnya masih hidup…ha…ha..ha.

Ternyata mengupon sepuluh bundel kupon dari sepuluh koran hari Minggu cukup menyita waktu si Emak Kece. Meskipun dia sudah mencoba seefisien mungkin, menggunting tidak satu-satu aku sayang ibu melainkan beberapa lapis kertas kupon sekaligus. Alhasil tenaga bantuan pun dikerahkan. Yak, si Sulung dan Bungsu pun ikut membantu Emak Kece menggunting-gunting kupon. Sayangnya beberapa kupon tergunting tak beraturan. Siapa suruh meminta anak 5 tahun menggunting-gunting. Suka-suka dia kan kalau mau dibikin bentuk-bentuk lain yang bukan kotak sesuai garis guntingan si kupon?

Saking khusyu-nya mengupon, Emak Kece baru sadar bahwa hari semakin sore dan belum masak buat berbuka. Tapi saat melongok lagi ke kulkas, oh ternyata masih ada sisa makanan kemarin. Inilah masalah klasik tiap bulan puasa, masakan sisa jadi seabrek-abrek karena Emak Kece tidak cukup pintar untuk mengira-ngira seberapa banyak orang yang berpuasa akan makan saat sahur dan berbuka. Mungkin juga karena setiap kali memasak, Emak Kece selalu dengan penuh semangat 45 karena didorong rasa lapar dan tergoda aroma masakan, sehingga memasaknya gak kira2. Akhirnya hari itu, Emak Kece dan keluarga makan dengan masakan daur ulang.

Hari ke-3

Hari ini acara beres-beres berlanjut dengan membersihkan dapur yang olala kotornya. Tapi sayangnya gak bisa kinclong seperti di rumah Joan karena dapurnya memang tidak secantik di sana. Eh, gak bersyukur lo, masih untung punya dapur tauk! Yang jelas puas setelah selesai beberes. Pssts… ini peristiwa langka karena si Emak Kece pada dasarnya paling malas beberes.

Untuk makan, Emak Kece yang ngiler membaca bahwa seorang Emak di Duluth telah duluan membuat risoles, tergiur sampai ngeces dan memutuskan untuk membuatnya juga. Sayangnya tidak ada sayuran yang bisa dijadikan pengisi. Akhirnya Emak Kece nekad membuat risoles isi ragut daging sapi cincang plus brokoli dan keju. Dengan tanpa resep dan hanya mengira-ngira saja, akhirnya tergorenglah berpuluh biji risoles. Emak Kece juga membuat meatloaf alias rolade daging untuk lauk berbuka. Karena persiapan pembuatan risoles yang banyak memakan waktu, maka nyaris menjelang waktu berbuka, Emak Kece baru selesai berjibaku di dapur mungilnya.

Akhirnya waktu bukapun tiba dengan teh dan risoles hangat yang yummy! Yang bikin si Emak senang banget, si Kakak yang biasanya paling anti makan sayur, dengan semangat makan tiga biji risoles meskipun tahu juga kalau di dalamnya ada brokoli. Yang belum bisa ditaklukkan adalah si Bungsu yang begitu melihat ada hijau-hijau di dalam risoles langsung meninggalkannya, padahal dia sudah makan lebih dari setengahnya.

Kenapa jadi ngomongin makanan melulu yak?