Pamer Kemesraan

Kemarin sore, saat aku sedang berjibaku di dapur menyiapkan makan malam, tiba-tiba Imo menawarkan bantuan. Bukan hal yang aneh sih, tapi biasanya Imo kebagian tugas menjaga Ghaazi saat aku sedang masak di dapur. Tapi kali ini, Ghaazi sedang lelap tertidur, sehingga Imo tidak harus ngendon di kamar.

Mulanya dia cuma memperhatikanku yang baru mulai menggoreng pangsit sebagai pendamping mie ayam yang sedang kubuat. Lalu dia menawarkan diri, “Can I do that? It looks cool.” Set dah, goreng pangsit aja dianggap keren…ha…ha. Maksudnya mungkin, ih asyik banget cuma gampang gitu, tinggal celup ke minyak, balik, angkat, udah jadi makanan. Tentu saja aku sambut tawarannya dengan gembira karena dengan itu aku bisa konsentrasi ke membuat campuran ayam.

Lalu kami berdiri bersebelahan di depan kompor. Aku masak ayam, Imo goreng pangsit. “So mama, what was your favorite subject at school?” Imo langsung membuka percakapan.

Aku sempat terpana. Kenapa ini anak jadi nanya2 beginian? Tapi tetap aku jawab kok pertanyaannya. Imo langsung menyambung dengan pertanyaan selanjutnya, dan obrolan kami pun berkembang sana-sini. Sambil ngobrol aku baru menyadari bahwa rasanya sudah lamaaaaaaaaa sekali aku gak chit-chat berdua saja dengan Imo seperti saat ini. Biasanya kalau ngobrol selalu ditimpali oleh Darrel yang selalu gak mau ketinggalan, atau berempat dengan ayahnya.

Ih jadi terharu sekaligus sedih. Kok Imo, sebagai anak pertama seperti rindu banget ya ngobrol sama emaknya. Selama ini aku kemana aja? Saking sibuknya, kayaknya aku lebih banyak kasih komando atau ngomel ke Imo dibanding ngobrol heart to heart kayak gini. Kalaupun sempat ngobrol, hanya pendek-pendek saja, sesempatnya.

Padahal Imo usianya sudah 11 tahun. Hanya dalam waktu 6 tahun saja, dia sudah harus aku lepas ke bangku kuliah. Kemungkinan besar, sebelum itu, dia sudah akan lebih memilih teman-temannya dibanding ibunya. Aku sadar banget bahwa akan ada masanya dimana anak-anak itu akan berusaha melepaskan diri dari bayang2 ortunya, karena itu pun terjadi padaku. Jadi, hanya pendek saja waktuku yang tersisa untuk bisa dekat dengan Imo, untuk bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam dirinya sebelum gelombang arus pengaruh dunia luar menerpanya dengan sangat kencang.

Huaaaa….huaaaa….pengen nangis rasanya. Secara gak sadar, kita sebagai ortu sering mengalihkan perhatian dari anak yang leih tua ke yang lebih muda. Selain karena kebutuhan, yang lebih muda lebih banyak butuh waktu dan perhatian karena masih bayi, masih lebih kecil, dsb., juga karena kita sering berasumsi bahwa anak yang lebih tua itu sudah bisa mengurus diri mereka sendiri, sudah mandiri. Padahal, meskipun kelihatan mandiri, secara psikologis, mereka tetap butuh perhatian kita.

Makanya Imo, paling seneng kalau diajak bersepeda bareng aku. Bahkan kemarin waktu bulan puasa, dia tetap semangat untuk ikut aku bersepeda, Aku gak puasa karena masih memberi ASI eksklusif, sedangkan Imo berpuasa. Padahal bersepedanya cuma keliling dan melewati rute yang itu-itu saja. Tapi dia antusias sekali. Hal yang sama ditunjukkan oleh Darrel yang selalu antusias mengajakku main board game, baik itu catur, monopoli, atau game lainnya. Padahal dia kan bisa main dengan kakaknya. Tapi tak bosan-bosan Darrel mengajak aku main board game, apalagi kalau dia tahu akus edang tidak ada orderan. “They still need you, mama,” kata suamiku mengingatkan.

Semoga aku selalu diberi tenaga, waktu, dan semangat untuk tetap mesra-mesraan dengan Imo dan Darrel, meski pun sekarang sudah ada Ghaazi. Aaaaamin.

 

 

Advertisements

Rejeki

Yang namanya rejeki tuh misterius banget sih. Gak pernah bisa diduga kapan dan darimana datangnya. Paling tidak itu yang aku alami sendiri. Sebagai pekerja lepas, gelombang pekerjaan yang fluktuatif memang sering kali kualami. Kadang tawaran kerjaan begitu banyak, sampe bingung mau nolaknya. Tapi tak jarang pula tawaran begitu seret, bahkan bisa gak ada sama sekali. Byar pet deh, kayak aliran listrik PLN.

Seperti kemarin misalnya, sejak bulan Juni hingga awal September, order mengalir deras sekali, alhamdulillah. Saking derasnya, sampai harus melayani dua atau tiga klien kelas kakap dalam seminggu. Tapi pertengahan September, setelah semua order selesai, gak ada lagi order yang mateng. Paling-paling cuma sampai tahap tawar-menawar, tapi kemudian gak jadi. Asli kosong, gak ada kerjaan sama sekali. Bener-bener sepi nyet-nyet…krik…krrik (cuma ada suara jangkrik maksudnya).

Tapi dodolnya, bukannya¬† kemudian giat mencari klien atau order baru, aku malahan santai2 aja. Malah pengennya agak lama “nganggur” begini…ha…ha…ha. Bukan apa-apa. Kemarin itu, saking banyaknya kerjaan, aku jadi sering menelantarkan keluarga. Bayangin aja, ada dua anak kecil plus bayi masih piyik gitu. Gak ada asisten sama sekali. Paling2 dibantu suami (makacih ya ayah….kau baiiik sekali!). Gak ada orderan aja sebenarnya udah banyak banget kerjaan RT yang menanti. Pas banyak orderan, bisa dibayangkan gimana nasib Imo, Darrel, Ghaazi dan ayah mereka. Darrel sampai pernah berucap, “I wish you didn’t have any job,” saking tiap dia ajak main, aku selalu gak bisa. Kondisi di lapangan parah sekali deh, Bare minimum, alias aku cuma bisa mengerjakan hal-hal wajib saja sesuai skala prioritas. Waktu selebihnya adalah untuk kerjaan. Aku sampai curhat ke teman2 segank kelinci, “Duh, buat apa gue jadi stay at home mom kalau gak bisa ngurus anak-anak?”

Jadi, begitu kemudian tiba-tiba arus kerjaan berhenti mengalir, aku malahan leyeh-leyeh. Kagak cari-cari klien baru, kagak cari orderan baru, kagak ngelamar-ngelamar atau kirim proposal kemana-mana. Kalau bisa malah gak nengokin akun email kerjaan sama sekali.

Eh tapi setelah semingguan aku nyantai gitu, tetap aja yak akhirnya mikir juga… gak bisa kelamaan “nganggur” gini. Gimana bisa beli pulau pribadi (hayahhh) kalau bawaannya nyantai. Maka aku kembali lagi deh mulai berjuang mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Mulai dengan santai sih, gak neko-neko. Takutnya nanti ketiban kerjaan gede dan kewalahan lagi kayak kemaren. Kalo bisa malah kerjaannya dikit tapi fulusnya gede yak…he…he…he. Ada gak tuh?

Yang jelas, setelah mengalami kedua musim, baik paceklik maupun panen berlimpah, aku menyadari bahwa rejeki itu memang misteri. Baik dia datang bertubi-tubi atau hilang lenyap seketika, tetap harus disyukuri. Selalu ada sisi positif dari setiap kejadian. Tul gak? Pokoknya banyak-banyak bersyukur aja.

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan Menyambut Mereka

Perjalanan pertama adalah dengan naik taksi. Datang jam 2 pagi. Masih bisa tertawa, ngobrol dengan supirnya meski sedikit cemas karena ketuban telah pecah. Bersyukur ada yang bersedia mengantar, karena jarak rumah ke rumah sakit cuma sepelemparan batu. Perjalanan pendek di jalan lengang di ruas jalan yang biasanya macet pada jam kerja. Masih ada beberapa mikrolet, metro mini, kopaja yang melintas. Sementara lampu jalan dan gedung menerangi gelapnya malam di tengah kota Jakarta. Benar saja, argo tidak beranjak jauh ketika kami tiba di rumah sakit. Kami beri lebih untuk menghargai si supir yang tampaknya ikut bahagia karena penumpangnya hendak menyambut sesuatu yang luar biasa. Sampai rumah sakit pukul 2 lebih lima menit. Imo hadir pukul 8.30 pagi.

Perjalanan kedua lebih menegangkan karena disertai kontraksi bertubi-tubi dan ketakutan akan terlambat sampai di klinik. Kali ini naik mobil papaku, disupiri adik laki-lakiku. Melewati jalan sempit pinggiran kota yang lumayan sepi. Mungkin karena masih hari raya dan sudah banyak orang pulang kampung. Kami berangkat menjelang pukul 11 malam dan saat itu turun hujan. Tambah lagi satu ketakutan, kalau ngebut saat hujan malam hari, apa tidak berisiko? Akhirnya bukan menyuruh adik memacu kecepatan, malah berulang bilang hati-hati, jangan ngebut. Padahal sakitnya sudah tak tertahankan. 10 menit kemudian sampai klinik dan pukul 11 malam, Darrel lahir.

Perjalanan ketiga adalah yang paling tenang. Dengan mobil sendiri, disupiri suamiku. Berangkat jam 4.30. Masih bisa memfilmkan perjalanan sambil menghitung jarak kontraksi. Terasa berbeda ketika kami menyadari bahwa untuk kelahiran kali ini, kami berada di negeri orang. Kota kecil ini masih sangat sepi, hampir tak ada kendaraan lain yang lewat. Yang ada malahan seorang pengendara sepeda yang melintas dan membuat kami keheranan. Melintasi rel yang tak sedang dilewati kereta. Tiba di rumah sakit 10 menit kemudian, disambut satpam yang mengambilkan kursi roda. Pukul 7.10 pagi, Ghaazi menyapa dunia.

Ketiganya perjalanan yang tak kan terlupakan. Ketiganya menghadirkan tiga harta tak ternilai yang selalu membahagiakan hati.