Permen, Semangka, dan Ibu-Ibu Tua

Buat yang belum tahu, kota tempat tinggalku terbilang kota kecil. Penduduknya cuma sekitar 25 ribu orang. Segitu aja, sebagian besar adalah mahasiswa, bukan penduduk tetap. Alhasil, tiap kali liburan panjang, kota ini bisa dipastikan akan suepiiii sekali. Selain itu, bentuk hiburan dan tempat menarik yang bisa didatangi di sini juga minim sekali. Makanya sempat bingung juga waktu ada teman dari Indonesia datang ke sini. Mau diajak kemana ya? Wong hampir gak ada yg menarik di sini kecuali mungkin si Suminten yang cantik dan menarik. *huek…huek*

Tapi dari waktu ke waktu aku seperti diingatkan akan karakteristik penduduk kota ini yang lumayan bikin betah. Hari ini misalnya, waktu aku terburu-buru masuk toko bernama Aldi untuk membeli keperluan untuk acara ulang tahun Imo Sabtu nanti. Aldi ini sistem kereta belanjanya pakai koin 25 sen. Jadi kalau mau ambil kereta harus masukkan duit dan nanti pas sudah selesai belanja, kita bisa dapatkan kembali duit 25 sen itu saat mengembalikan kereta.

Karena aku niat awalnya cuma mau ambil beberapa kantong permen, maka aku melenggang masuk ke dalam toko tanpa mengambil kereta belanja.Eh, pas masuk, aku papasan dengan dua orang cowok-cewek yang membawa buah melon. Mereka berbicang soal semangka. Langsung deh aku kepikiran untuk beli semangka. Seger kali ya makan semangka panas-panas gini (siang tadi kebetulan lagi panas). Eh, kenapa gak beli semangka buat hidangan saat ultah Imo ya? Selain enak, kan simple banget tinggal dipotong2. Alhasil, setelah meraup beberapa kantong permen, aku berjalan menuju bagian sayur dan buah. Ketemulah si semangka itu. Gak pake lama milih2, aku lalu berakrobat membawa sebuah semangka berukuran cukup besar dan beberapa kantong permen.

Sampai di kasir, ngantri deh seperti biasa. Gak ada nyelak-nyelak yak, meski belanjaanku cuma dikit. Tahu diri aje. Eh, ibu-ibu tua yang berada di depanku malah nawarin supaya aku nyelak dirinya. “Kamu bawa semangka dan gak pake kereta. Saya ngerti banget kok. It happened to me too. Kirain mau belanja dikit, eh tahunya ada tawaran menarik lagi dan beli lebih banyak,” begitu katanya sambil senyum2 ramah. Ealah..baik lo bu! Aku pun menaruh semangka dan permen di meja kasir sambil mengucap makasih pada si ibu.

Selesai urusan dengan kasir, aku siap-siap mau berakrobat lagi dengan si semangka dan permen. Lah iya, pan gak bawa kereta belanja. Eh, si ibu yang tadi itu malah bilang begini, “Kenapa kamu gak tunggu saya aja? Taruh saja semangkanya di kereta belanja saya, nanti saya antar ke mobilmu.” Beneran baik hati ya ini ibu-ibu. Aku terima tawaran kebaikannya. Setelah menunggu sebentar aja, kami pun berjalan menuju tempat parkir. Tentu saja aku yg dorong keretanya lah yaw, karena aku yg numpang dan lebih muda pulak. Tahu diri aja aje. Sambil jalan, aku jelaskan ke si ibu bahwa aku memang buru-buru tadi pas masuk ke Aldi karena ada bayi dan suami yang nunggu di mobil, bla, bla, bla.

Sampai di dekat mobilku, si ibu membantuku menurunkan belanjaan yg cuma semangka dan permen itu! Sampai segitunya yak. Terharu deh. Yang lebih menakjubkan, begitu mobilku mulai jalan tiba-tiba kami mendengar suara teriakan penuh kepanikan, “Wait! Wait! Wait!” Loh ada apa ya? Ternyata itu si ibu-ibu tua tadi, dia teriak-teriak sambil mengacungkan sekantong permen. “Ini tadi ketinggalan di kereta belanja. Saya tadi bingung, perasaan gak beli permen,” begitu katanya sambil mengembalikan permen itu. Padahal aku sendiri gak nyadar bahwa ada yang ketinggalan di kereta belanja si ibu itu. Huaaa…si ibu itu baik dan jujur banget.

Begitulah, hari ini aku kembali diingatkan bahwa masih banyak orang baik di kota kecilku ini. Alhamdulillah.