Film Horor

Aku tak ingat kapan persisnya pertama kali menonton film bergenre horor atau film horor pertama apa yang aku tonton. Yang aku ingat adalah tetangga teman sebaya yang rumahnya persis di sebelahku sering mengajak aku ke rumahnya di saat keluarganya sedang menonton film. Kok ya kebetulan sekali keluarga ini suka sekali menonton film horor Indonesia yang saat itu masih semarak diproduksi. Meski saat itu aku baru sekitar kelas 1 SD, tapi karena nontonnya rame2 dan di siang hari bolong, maka aku bisa nonton dari awal sampai akhir. Tentu saja ada saat-saat dimana aku menutup wajahku dengan dua telapak tangan sambil tetap mengintip dari sela-sela jari. Maka, mulai dari adegan manusia dikerubungi lintah (“Dukun Lintah”), orang digigit kepalanya oleh janda cantik sampai sekujur badannya bisul bernanah (“Guna-Guna Istri Muda”), adegan rambut satu kepala dicabut dan otak manusia dibedah paksa (“Perkawinan Nyi Blorong”) sampai dengan hantu yang membalas dendam setelah diperlakukan buruk oleh mertua (“Bernafas Dalam Kubur”) sampai adegan-adegan lain yang menjijikkan, penuh darah, atau yang seram-seram lainnya sudah pernah kutonton sebelum usiaku 12 tahun.

Akibatnya, hampir tiap malam aku tak berani tidur tanpa ditemani ibuku. Meskipun saat itu aku tidur bertiga dengan dua adikku, jadi tidak tidur sendirian, tapi tetap saja aku tak merasa tenang kalau belum didampingi tidur oleh ibu. Jika tengah malam aku terbangun dan melihat ibuku tidak ada di sampingku, maka aku akan berlari menuju kamar orang tuaku (yang tak seberapa jauh karena kecilnya rumah kami), dan mengetuk pintu sambil memanggil-manggil ibuku. Aku bisa mendengar dari balik pintu kayu tipis itu bahwa ibuku sebenarnya terbangun tapi papaku melarangnya untuk membuka pintu. Selanjutnya aku pasti bertahan di depan pintu bahkan rela tidur di situ sampai ibu membukakan pintu karena tak tega. Menangis sambil terus mengetuk pintu juga bisa jadi cara ampuh untuk memaksa ibu membuka pintu kamarnya.

Tapi dasar badung, aku tetap tidak kapok menonton film horor di rumah tetanggaku itu. Bahkan saat tak boleh main ke luar, aku akan memanjat dinding tembok pagar belakang yang memisahkan rumahku dengan rumah temanku dan menonton film horor dengan melongok pintu belakang rumahnya yang hampir selalu terbuka.

Saat remaja, aku tetap suka menonton film horor, dan akupun mulai berkenalan dengan film-film horor dari “barat”, seperti “The Exorcist” yang sebelum nonton sudah mendengar kehebohannya dari orang tuaku dan tahu kalau bintang filmnya namanya Linda Blair. Aku juga masih ingat jalan cerita dan adegan-adegan seram di film “Poltergeist” yang kisahnya tentang satu keluarga yang tinggal di rumah yang dibangun di bekas kuburan orang Indian dan dihantui hantu yang muncul di TV dan kemudian menculik anak perempuan mereka ke dalam TV.

Tak bisa kupungkiri, ada kepuasan tersendiri saat menonton film-film horor. Selain adrenalin meningkat dan detak jantung jadi bertambah cepat, “hikmah” yang bisa aku ambil dari menonton film jenis ini adalah rasa bersyukur yang luar biasa sehabis menontonnya. Ibarat kata, setiap habis nonton ada perasaan: “Untung aje cuma film…untung aje gak beneran!”

Apa sekarang aku masih suka nonton film horor? Tentu saja! Makanya aku senang sekali saat film-film horor Jepang dan Korea merambah hingga ke Indonesia dan bahkan diadaptasi oleh produser film Amerika. Film-film Amerika berjenis horor sadis (slasher) kebetulan juga sedang mewabah saat aku baru tiba di negeri ini. Meski liatnya sambil ngilu-ngilu, aku tetap penasaran nonton film “Hostel” dan “Saw”(dalam beberapa serinya). Dan meskipun malu mengakuinya, dua hal yang tak berubah juga adalah: Aku tetap nonton sambil memasang tangan di depan muka setiap kali akan ada adegan mengagetkan. Bukan menakutkan yaaa..kalau cuma menakutkan biasanya aku tak apa-apa, tapi ngagetinnya itu lo yang bikin sebal. Hal kedua adalah, aku tetap tak bisa tidur sendirian sehabis menonton film horor. Untungnya untuk hal kedua ini aku tak perlu kuatir, karena sudah ada lelaki ganteng nan baik hati yang sudi menemani tanpa aku harus ketok-ketok pintu sambil nangis-nangis.

Gambar diambil tanpa ijin dari sini: http://www.impawards.com/2002/ring_ver2.html dan sengaja dicari yang paling tidak mengerikan supaya tidak membuat pembaca jadi bermimpi buruk.

Advertisements

56 thoughts on “Film Horor

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s