Pencitraan 2

Maafkan jika aku terlalu lama terlena dalam jeda menulis lanjutan tulisan yang kemarin itu. Setelah mengalami sendiri bagaimana rasanya jadi korban pencitraan, ditambah gejolak politik dua kubu yang sangat runcing waktu pemilu Indonesia kemarin itu, rasanya aku lelaaaah sekali kalau harus membahas masalah pencitraan.

Tapi ada satu komentar sangat menarik dari satu teman yang aku anggap selain cerdas juga bijak, bahwa ada topeng-topeng berbeda yang kita tampilkan ke hadapan pihak-pihak yang berbeda dan ada satu topeng yang kita simpan hanya untuk diri kita sendiri. Mas Edwin, I really appreciate your opinion. Dan kalau aku boleh menambahkan, sebenarnya topeng-topeng itu  bukan saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Mereka semua membentuk satu jati diri yang utuh. Kadang satu topeng dan topeng lainnya tumpang tindih karena ada unsur dari topeng yang satu bercampur dengan unsur topeng yang lain. Dan semua topeng itu adalah bagian dari kita, bukan kepura-puraan atau topeng orang lain yang kita paksakan untuk bisa kita pakai. Topeng-topeng ini juga sifatnya tidak kaku, cair, dan bisa berganti kapan saja, sesuai dengan situasi dan kondisi.

Kenapa harus ada banyak topeng? Kenapa tidak satu saja dan yang satu itu yang kita tampilkan ke semua orang? Jawabannya sederhana, karena kita mahkluk sosial. Kita manusia yang butuh berinteraksi dengan manusia lain. Dan kita tahu bahwa manusia beragam jenisnya. Kita tak harus memaksa harus diterima oleh semua jenis orang, tapi untuk bisa diterima di beragam jenis orang kita harus menyesuaikan topeng yang kita pakai. Kalau kita ngotot tetap memakai topeng preman saat memasuki wilayah orang-orang yang penuh adat dan sopan santun, tentunya kita yang akan terlempar, terasing, atau tertolak dengan sendirinya.

Oh berarti munafik dong ya? Munafik kalau topeng yang dia pakai bertentangan dengan hati nuraninya. Artinya itu memang bukan topeng dirinya, tapi topeng kepura-puraan, sama sekali bukan menjadi unsur dari dirinya. Dan aku yakin, tidak ada orang di luar sana yang hanya punya satu topeng, pasti ada minimal topeng kedua. Cara kita bicara pada orang tua dengan cara kita bicara dengan teman sebaya saja. Sama kah? Kalau aku sih udah dikemplang dari kapan-kapan kalau berani bicara dengan gaya selebor, penuh canda, suka nyela (nah yaaa) seperti yang aku pakai dengan teman-temanku. Pasti dianggap tak sopan. Nah, itu saja sudah dua topeng.

Tapiii…ada juga mereka yang sangat piawai menggunakan topeng hingga sudah memasuki tahap manipulatif, bukan sekedar untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Inilah yang aku maksud dengan pencitraan. Mereka yang hanya mengenakan topeng yang mengundang pujian di hadapan publik namun topengnya palsu, atau aspal…asli tapi ditambal sulam dengan kehebatan dan pujian tak langsung pada diri sendiri.

Kembali lagi, masalahnya ke diriku sendiri. Hanya pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan kejujuran pada diri sendiri yang bisa membantuku menemukan cara untuk tetap memelihara paduan topeng yang semuanya mewakili inti diriku, yang bukan mengharap pujian, yang tidak akan lemah atau sedih jika tak ada orang yang memperhatikan topeng-topengku itu, yang tetap dalam kewarasan dan tetap memiliki inner peace meskipun orang di luar sana tak peduli atau tak menjadi kagum karenanya.

“Saya ada bukan karena saya eksis di dunia maya, bukan karena postingan mendapat banyak komen, bukan karena puji-pujian yang mengalir baik di dunia maya atau nyata, bukan karena banyaknya like, share, retweet, copas, atau view dari postingan saya. Bahagia saya tidak ditentukan dari semua hal-hal yang disebut di atas.” Itulah “rapalan” saya kini dan sampai nanti.