[NYC Series] Part 6: Tulang-Belulang dan Taman Sak Hohah

Ringkasan bagian sebelumnya: Kami ingin ke Liberty Island, untuk melihat patung Liberty, tapi gagal karena berangkat kesiangan dan antreannya keburu panjang banget. Akhirnya kami memutuskan untuk ke American Museum of National History. Cerita selengkapnya bisa dibaca di SINI.

Siapa yang pernah menonton film Night at the Museum 1 yang dibintangi Ben Stiller tentu masih ingat lokasi utama film itu yaitu di American Museum of Natural History. Di film itu, benda-benda museum menjadi hidup di malam hari karena adanya sabak (tablet
kalau jaman sekarang sih) Mesir Kuno yang ajaib, yang juga disimpan di museum itu.



Kenapa kami ke museum ini? Sebelumnya perlu aku jelaskan bahwa museum memang tujuan wisata favorit keluarga kami.

Mumpung anak-anak masih kecil, masih bisa diarahkan, sebisa mungkin kami ingin mereka menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat. Nah, setiap momen jalan-jalan, sebisa mungkin kami mencoba untuk menyambangi museum-museumnya, dari museum yang serius sampai yang aneh bin ajaib seperti Museum Ripley’s Believe It or Not.

Judulnya museum di NYC ini kan American Museum of Natural History yak, jadi udah kebayang kan isinya apa aja. Apalagi kalau bukan fosil-fosil binatang, dari hewan-hewan pra-sejarah sampai hewan-hewan “biasa” yang masih ada hingga sekarang.

American Museum of National History (AMNH) termasuk museum terbesar dan paling populer di AS. Mereka memiliki lebih dari 32 juta spesimen yang karena banyaknya itu tidak bisa semua spesimen dipamerkan pada khalayak umum. Menurut majalah Travel + Leisure, Museum ini menempati peringkat ketujuh dari museum yang paling banyak dikunjungi di dunia dan peringkat keempat dari museum yang paling banyak dikunjungi di AS.

Dari Battery Park yang di ujung Manhattan, kami naik subway menuju museum yang ada di tengah-tengah Manhattan, berseberangan dengan Central Park yang ngetop sungetop itu. Setelah menanjaki tangga, ke luar dari perut bumi menuju level jalan raya, kami sebenarnya bingung museumnya di bagian mana. Dengen berbekal peta danmengikuti rombbongan keluarga India yang kayaknya juga mau ke situ, kami pun masuk ke gerbang belakang sebuah gedung.

Loh? Mana tulang belulangnya? Kami terpana karena begitu masuk malah ketemu sama batu meteor dan alat-alat peraga yang berhubungan dengan antariksa. Oalah, ternyata kami masuk dari pintu belakang yang merupakan sayap Arthur Rose Hall of Meteorites, yang memamerkan bongkahan meteor terbesar di dunia.

Di sini aku sempat gondok sama penjaga pintu masuk yang gak ramah blas. Wanita keturunan India berseragam satpam gedung itu cemberut dan menegur saat aku masuk tidak beriringan dengan suami dan anak-anak dengan cara yang gak enak banget. Padahal rombongan pengunjung selanjutnya (yang berkulit putih) juga gak bareng-bareng tapi gak dimarahin. Nyebelin banget deh.

Sutralah, lupakan saja si penjaga jutek itu. Lanjut lagi, kami pun bergegas ke lantai atas demi menemukan tulang belulang dinosaurus. Museum ini layout-nya sedikit membingungkan karena tiap kategori zaman purbakala dan jenis hewannya dibagi-bagi ke dalam ruangan yang berbeda. Kalau gak berpedoman ke peta museumnya, dijamin bisa nyasar deh, saking banyaknya ruangan.


Kupikir si Darrel akan menjerit girang dan antusias melihat kerangka T-Rex dan Brachiosaurus, tapi ternyata kedua bocahku tenang dan adem anyem saja. Cuma sesekali cetusan ‘wow’ terucap saat melihat besarnya kerangka dan membandingkan dengan ukuran
manusia saat ini. Pantes aja yak dinosaurus “dipunahkan” lebih dahulu sebelum manusia muncul, soalnya bisa habis deh manusia jadi camilannya (kalau makanan pokok kekecilan soalnya) dinosaurus karnivor, seperti gambaran di film Jurrasic Park yang terkenal itu.

Dan bener kaaan… anak-anak malah lebih tertarik mengutak-utik mesin interaktif yang menjelaskan jenis dan masa dinosaurus. Padahal di depan mereka terpampang tulang belulang dinosaurus beneran yang susah dan lama banget pencariannya. Darrel dan Imo malah sibuk berlari ke sana-kemari, main-main layaknya anak-anak. Bukannya memperhatikan dinosaurus dan membaca keterangan di masing-masing peraga. Telat mungkin ya aku bawa mereka ke sini. Masa demen dinosaurusnya Darrel mungkin sudah berlalu. Atau malah kecepetan karena mereka belum tertarik untuk menekuni keterangan di museum?

Kami makan siang dengan bekal yang dibawa dari rumah berupa nasi dan lauk Chinese Food yang sebenarnya sisa lauk tadi malam. Memang sebagian dari taktik berhemat kami selama melakukan perjalanan di NYC adalah dengan meminimalisir jajan makan siang. Sebisa mungkin kami bawa bekal dari rumah (rumahnya Joan maksudnya), dan makan di taman yang banyak bertebaran di seluruh penjuru kota. Banyak juga lo, pegawai kantoran yang melakukan hal yang sama. Mereka bawa bekal dan makan di bangku taman atau tangga museum. Berhubung kami sedang ada di dalam museum, maka kami nekad makan di kantin museum. Jadi cuma numpang duduk saja, gak pesen makanan yang harganya mahal di kanton itu..he…he. Diusir gak? Untungnya enggak…hi…hi.

Setelah berkeliling dari ruangan ke ruangan lain, kami pun beranjak ke luar dari museum melalui pintu depannya. Ternyata bagian depannya sebagian sedang direnovasi, jadi kurang cantik deh. Begitu ke luar langsung berhadapan dengan kehijauan taman kota.

Central Park dibuka pada tahun 1857 dengan luas 3.4 kilometer persegi. Pada tahun 1858 diadakan lomba merancang taman kota ini yang dimenangkan oleh duo arsitek lanskap Frederick Law Olmsted dan Calvert Vaux. Central Park kemudian diperluas dan direnovasi serta dibuka kembali tahun 1873.

Kenapa bisa ya di zaman itu mereka kepikiran bikin taman kota segede gaban begitu? Apakah karena zaman dulu banyak tanah kosong, jadi gampang bikin taman? Ternyata justru di masa itu New York City sedang padat-padatnya, dan karena kepadatan penduduk itu maka rakyat yang peduli kemudian menyuarakan kebutuhan akan adanya taman kota, tempat mereka bisa melepas penatnya kehidupan di kota. Yang pertama-tama menyuarakan kebutuhan akan taman adalah seorang penyair William Cullen Byrant yang sekaligus berprofesi sebagai editor koran Evening Post (sekarang bernama New York Post) dan seorang arsitek lanskap bernama Andrew Jackson Downing. “Kampanye” untuk pembuatan taman dimulai tahun 1844 dan akhirnya membuahkan hasil 13 tahun kemudian dengan didukung oleh para penduduk NYC kelas atas dan berpengaruh.

Setelah menyebrang jalan, kami langsung masuk ke area taman yang ternyata oh ternyata luaaaas sekali. Di
dalamnya ada area jalan kaki dan ada juga area bersepeda yang lebih luas. Mobil tentu saja tidak boleh masuk, kecuali kendaraan penjaga dan pengelola
taman. Meskipun kami berada di sana di tengah hari bolong, tapi ternyata pengendara sepeda tetap banyak dan kami harus selalu berhati-hati saat menyebrangi jalan khusus untuk sepeda.


Selain pepohonan dan jalur jalan dan sepeda, Central Park juga memiliki
banyak danau yang dilengkapi fasilitas berperahu. Fasilitas lain di taman sak hohah itu adalah: karusel alias komidi puter, taman bermain anak-anak (ada 21 biji, tinggal pilih mau yang manah), ice skating ring (ada 2 dan satunya diubah jadi kolam renang pas musim panas), lapangan olah raga, dan kebun binatang, serta sebuah panggung konser di lokasi yang dinamakan The Great Lawn yang setiap musim panas selalu dipenuhi jadwal konser bintang terkenal dan New York Philharmonic Orchestra. Terakhir, di musim panas 2011, tampil Andrea Bocelli dan Celine Dion.

Oh ya, Central Park Zoo juga diangkat di film kartun lucu banget Madagascar, sebagai tempat bernaungnya si Alex, Marty, dkk. Selain di film kartun, tentu saja Central Park sudah tak terhitung lagi “penampilannya” di film-film Hollywood dan film serial TV produksi Ngamrikih, seperti misalnya Home Alone 2.

Jangan dilupakan juga adalah sederetan patung dan karya seni yang mempercantik taman ini, seperti patung “Angel of the Waters” di Bethesda Terrace, yaitu patung malaikat di pancuran kolam indah yang pernah muncul di Film Enchanted (2007), saat si putri menyanyikan lagu “That’s How You Know.” Atau patung “Alice in Wonderland” yang menjadi lokasi pembacaan cerita anak setiap musim panas. Dan ada juga obelisk yang dinamakan “Cleopatra’s Needle.”

Asalnya obelisk ini berdiri di Temple of Ra, Heliopolis, Mesir kuno, lalu dicuri dan diangkut ke NYC dengan sponsor William H. Vanderbilt, pengusaha kaya yang keturunannya tetap kaya dan terhormat sampai sekarang. Salah satu keturunannya adalah Andersen Cooper yang ngetop sebagai penyiar CNN. “Cleopatra’s Needle” ini juga merupakan satu dari tiga obelisk yang dua lainnya dicuri juga dan sekarang berdiri di kota Paris, Perancis dan London, Inggris.

Yang kami rasakan selain menyadari luasnya taman tengah kota itu, adalah betapa anehnya suasana di tengah taman. Begitu kita jalan agak jauh ke tengah, langsung suara hingar bingar kota lenyap, berganti dengan suara gemerisik dedaunan. Tenang dan sunyi banget, seolah-olah kita bukan berada di tengah kota New York!

Tapi kami tetap merasa berada di peradaban begitu melihat di antara rimbun dedaunan dan bentang danau, muncul puncak-puncak pencakar langit di kejauhan. Pemandangan pepohonan dan gedung ini sampai sekarang selalu memukauku. Rasanya sureal. Hal
yang sama juga bisa kurasakan saat berada di taman kota lainnya seperti di Millenium Park, Chicago.

O ya, mungkin perlu aku ceritakan kalau sebelum tiba di NYC, aku berambisi pengen mengunjungi semua titik yang menarik di Central park, dari patung “Alice in Wonderland”, pancuran Bethesda, mendayung perahu di salah satu danaunya, foto-foto di
gerbang Central Park Zoo, sampai ke bagian taman yang dinamakan “Strawberry Fields,” sesuai lagunya The Beatles dan memang didedikasikan buat John Lennon. Tapi apa daya, begitu sampai di taman itu, kami lebih banyak nyasar dan kecapekan jalan menyusuri taman. Padahal sudah berbekal peta khusus Central Park, tapi tetap nyasar booow, dan sempat ke bagian taman yang sepiii deh, gak ada orang lain selain kita. Serem gak sih.

Ya sudahlah, akhirnya kami nikmati saja tempat-tempat yang kami lewati sembari berjuang menuju jalan raya…ha…ha…ha. Kami sempat lihat danau yang ada perahu-perahunya, tapi ternyata boat house alias dermaga perahunya ada di ujung sebelah sana.

Walah, gak deh tahan jalannya. Bisa sih naik bus, tapi boro-boro bisa nyegat bus, untuk bisa sampai ke jalan besarnya saja kami kebingungan…ha…ha…ha. Kayaknya sih, kalau mau tur keliling Central Park harus beberapa hari khusus deh, gak bisa mau sehari terus dapat semuanya.

Sambil muter-muter, tak sengaja kami melintasi ujung the Lake tempat orang berperahu. Lalu kami sempat juga menemukan titik terang saat melihat sebuah kastil yang ternyata adalah Visitor Center yang bernama Belvedere Castle. Isi di dalamnya sih cuma petugas dan brosur, tapi pengunjung bisa naik ke atas kastil dan melihat ke sekeliling. Dari puncak kastil, kita dapat melihat The Turtle Pond dan juga panggung konser di The Great Lawn.

Tur tersesat di Central Park kami akhiri dengan membawa anak-anak ke sebuah taman bermain, yang belakangan kami tahu dinamakan: Taman Bermain Diana Ross. Ketemu taman ini juga gak sengaja, setelah muter-muter tanpa tahu arah. Tapi saat duduk di taman ini, kami mendengar suara yang tak pernah kami duga akan membawa rasa lega amat sangat: suara sirene mobil polisi dan suara deru kendaraan bermotor! Yayyy! Kami berhasil kembali ke peradaban!

Sambil mencoba membaca peta untuk menentukan akan naik subway dari stasiun mana dan naik kereta yang mana, kami memutuskan akan langsung pulang kembali ke tempat Joan dan malamnya keluar cari makan di sekitar Brooklyn. Besok pagi, kami bertekad akan mencoba menyambangi lagi Lady Liberty. Apakah kami akan berjodoh dengannya? Tunggu aja sambungan cat-per ini.


Sumber trivia (yang berhuruf miring):
http://en.wikipedia.org/wiki/Central_Park
http://www.centralparknyc.org/
http://en.wikipedia.org/wiki/American_Museum_of_Natural_History

Note:
Foto-foto lebih banyak dapat dilihat di SINI. Maaf cuma buat kontak ya.

Advertisements