Musim Tornado dan Hujan badai

Dulu, waktu aku belum “nyasar” di mari, pas lihat berita kebanjiran di Ngamrikah suka gak percaya dan pasti berkomentar, “Lah, Amrik bisa banjir juga yak?” seolah banjir itu cuma jatah negara2 dunia ketiga seperti Bangladesh atau negara kita sendiri yang ibukotanya rutin disambangi banjir.

Begitu sampai dan merasakan hidup di sini kemudian aku paham bahwa kondisi geografis dan cuaca di sini sesungguhnya sangat rawan bahaya. Di pesisir barat misalnya, dimana terdapat California dkk., sudah terkenal rawan gempa bumi. Sedangkan bagian bawah tepatnya di bagian tenggara, rawan dengan topan badai dan yang paling terkenal adalah Katrina yang efek kehancurannya masih belum bisa dipulihkan sampai sekarang (daerah yg terkena belum sepenuhnya direhabilitasi). bagaimana dengan yang di tengah-tengah? Daerah mid-west sering kali dilanda hujan badai, banjir, dan tornado. Dan kejadian tornado terakhir, tgl 27 April lalu, membawa korban sampai dengan lebih dari 300 org meninggal. Obama sampai melayat ke Alabama krn ini termasuk bencana alam yg memakan jumlah korban terbanyak nomor dua di ngamrikah.

Musim semi yang seharusnya menjanjikan keceriaan justru sebenarnya adalah the deadliest season karena pada musim semi sering terjadi tornado dan hujan badai, dan itu terjadi setiap tahun, meski frekuensinya berbeda2. Petbedaan suhu udara dan kontur daratan Amrik yang sangat beragam (dr gunung sampai gurun ada semua), merupakan sebab sederhana kenapa bisa banyak tornado di musim semi. Tapi ada yg bilang sebabnya lebih rumit dari sekedar hal2 itu. Apapun sebabnya, yg jelas tornado adalah gejala alam yang paling horor buatku.

Hari Kamis kemarin itu kota kami dilanda hujan badai atau thunderstorm yang menyeramkan. Hujan disertai angin kencang serta petir yang menggelegar berlangsung cukup lama. Yang menegangkan, selama dua hari berturut2 yaitu Rabu dan Kamis, sirene tornado meraung2 memperingatkan penduduk bahwa ada kemungkinan tornado akan melewati C’dale.

Kalau masih hujan badai, aku masih belum begitu takut. paling2 takut kalau mati lampu. Tapi kalau sampai tanda peringatan tornado dinyalakan, itu bisa bikin aku takut banget. Gimana gak takut, tornado susah diperkirakan pergerakannya, suka2 dia aje deh mau lari ke mana dan saat bergerak2 itu sebuah tornado bisa cepat sekali, yg kemarin aja 60 mil per hour alias sekitar 120 km/jam. Yang mau lihat kayak apa tornado, bisa lihat di marih.

Jadi ada dua jenis peringatan tornado, yang pertama adalah tornado alert dan kedua adalah tornado warning. yang alert artinya kita harus waspada sedangkan yg warning artinya kita harus cepat2 lari ke tempat aman. Kedua tanda peringatan ini bisa kita dapatkan dari televisi. Bukan dr acara ramalan cuaca atau Weather Channel (iya… ada satu stasiun yg isinya cuma tentang cuaca!), tapi stasiun TV lokal yang biasanya akan memberi tanda peringatan dengan bunyi, “Tuuuut…tuuuut…tuuut” dan memberitahukan daerah2 mana saja yang akan terkena tornado, thunderstorm atau banjir. Tapi untuk tornado warning, biasanya bukan hanya TV yg memberi peringatan tapi juga sirene tornado yang dipasang di tempat2 strategis dan akan meraung dengan sangaaaat nyaring. Udah mirip jaman perang aja.

Yang harus dilakukan saat sirene berbunyi adalah berlari menyelamatkan diri menuju tempat aman. Basement atau ruang bawah tanah adalah tempat ideal untuk mengamankan diri. Tapi kalau gak punya basement, maka disarankan berlindung di kamar mandi, tepatnya di dalam bath tub (bak mandi) yang strukturnya dianggap paling mantap, gak akan diterbangkan angin tornado. Tapi posisi kita harus menelungkup dan di atasnya harus ditutupi kasur/matras/bantal/ untuk melindungi dari benda2 yg terlempar. Disarankan juga untuk menjauhi jendela kaca dan mencari ruang yg strukturnya paling kuat dan terututup (gak ada jendelanya) kalau tak bisa ke basement atau bath tub. Kalau lagi di dalam mobil, disarankan segera ke luar dan mencari parit untuk berlindung.

Selain tempat berlindung, penduduk di daerah rawan bencana juga disarankan untuk selalu siap dengan kotak emergency/darurat yang isinya: radio (untuk memantau keadaan), senter, air minum dan makanan (kalengan) utk beberapa hari, perlengkapan P3K dan obat2an yg diperlukan, selimut. Jadi kalau terpaksa terjebak di tempat berlindung, masih bisa mengandalkan kotak emergency tersebut.

Pengetahuan tentang tornado ini cepat tersebar luas karena posternya ada dimana2. Dulu aku pertama kali “berkenalan” dengan tornado adalah dari sebuah poster di ruang cuci pakaian. Di ruang dokter juga ada dan disediakan contoh kotak darurat.

Selain tornado, banjir juga kerap menimpa wilayah mid-west karena banyaknya suangai yang pasti meluap jika hujan berlangsung lama dan deras. Bulan April tahun ini, hujan begitu hebohnya sampai2 curahnya 4 kali lipat dari curah hujan rata2 di wilayah ini. Gak heran, banyak kota2 tetangga yang kebanjiran dan siap2 kebanjiran. Kota2 yg udah kebanjiran, penghuninya banyak yg mengungsi ke kota kami. Sedangkan kota2 yang kabarnya akan kebanjiran sudah siap2 dengan membuat tanggul darurat dari karung2 yg diisi tanah.

Bagaimana dengan kami? Mudah2an baik2 saja ya, gak terkena bencana apapun.

Gambar diambil tanpa izin (dasar deh) dari : http://thelede.blogs.nytimes.com/2008/06/13/a-remarkable-photo-from-tornado-country/

Advertisements

Selamat Tinggal Daytona

Pssstt… ini masih cerita tentang Florida lho. Mudah2an pada gak bosen ya, kok cerita bersambungnya lama buanget gak abis2 kayak singnengtrong aje. Terus terang, gue aje udah capek nyeritainnya dan sebel kenapa gak selesai-selesai yak…ha…ha…ha. Mohon maklum, selain yang nulisnya memang moody moodpecker sejati, juga banyak kendala teknis seperti komputer yang ngadat juga hal-hal lain yg klasik seperti tumpukan piring kotor yang menyentuh langit2 dan gelendotan manja bocah lima tahun yg suka pengen lihat gambar binatang2 aneh (tadi aja dia pengen lihat one-eyed-squid… emangnya cumi2 bajak laut?).

Otre, sampe mane ye? Oh… ini udah hari terakhir pan? Iya, ini tentang hari terakhir kami di Hawaiian Inn. Setelah menghabiskan 7 malam di studio (apartemen tanpa kamar tp ada dapur dan kamar mandi dalam) milik Marge, kami akhirnya harus pulang juga. Darrel yang di malam2 pertama ribut pengen balik ke C’dale di hari itu malah ogah pulang dan bilang mau tinggal di situ forever. Dan dia serius lo. Aku dan ayahnya lagi repot beres2 dan dengan santainya bilang, “Ya udah, adek tinggal aja di sini. Tapi nanti kalau gak bisa bayar, bisa diusir sama Aunty Marge dan disuruh tidur di pantai. Mau?” Dibilangin begitu, dia akhirnya mau juga berhenti ngambek.

Setelah beres-beres, supaya gak kena denda kebersihan dan kerusakan, kami foto2 terakhir kalinya di kamar itu dan tentu di balkonnya juga. Di pantai kami lihat banyak orang berdatangan dan mulai jemuran bahkan berenang. Tukang es krim dan hot dog juga sliweran dengan mobil dagangan mereka. Memang bukan rejekinya, justru di saat kami harus pulang, cuaca Daytona berubah drastis jadi cerah ceria. Bukan rejekinya suamiku juga, karena cewek2 berbikini justru mulai banyak keluar hari ini. Ha…ha…ha… kasihan deh lo.




Kami berangkat sudah kesiangan dan masih harus balik lagi ke Hawaiian Inn setelah sekitar setengah jam berjalan menuju arah utara. Loh kok balik lagi? Jadi, di tengah jalan Marge menelepon HPku. Dia sedang beres2 kamar yg baru kami tempati bersama dengan pacar anaknya (calon mantu… ini ujian apa gimana yak… calon mantu disuruh beberes kamar). Menurut Marge, kami lupa meninggalkan satu set kunci kamar yang dia pinjamkan pada kami di hari pertama kami tiba. Mustinya kami mengembalikan dua set kunci, tapi kok yg ada di tempat kunci cuma satu? Nah lo!


Suamiku memutuskan untuk balik lagi karena kami gak bisa menemukan satu set kunci itu di tas ransel ataupun tasku. Mulai panik, takut kena denda, dan sebagainya mulai mendominasi perasaan kami sampai akhirnya malah salah2an. Biasa lah, suami istri salah2an…ha…ha..ha. Akhirnya kami membuang waktu satu jam untuk bolak-balik. Saat tiba di Hawaiian Inn, Marge malah menenangkan dan bilang kalau kuncinya dicari aja pas udah di rumah karena memang bakalan sulit membongkar bawaan kami yang segambreng banyaknya (bagasi mobil penuuuuh). Nanti kalau ketemu, tinggal dikirim ke alamat rumahnya si Marge. Kalo gak ketemu juga kabarin aja, biar Marge bisa bikin duplikatnya. Fiuuuh… legaaaa. Saking terharunya, aku sampe meluk2 si Marge dan berterima kasih atas pengertiannya.

Tanpa ada ganjalan lagi, kami pun berangkat meninggalkan pantai Daytona dengan segala kenangannya. Perjalanan 15 jam sudah menunggu di depan mata dan kami berencana transit dan menginap di tengah jalan tanpa memesan dulu hotelnya. Kenapa demikian? Ya karena suamiku belum bisa memastikan sampai sejauh mana akan sanggup menyetir mobil. Jadi, secapeknya aja, kalo memang sudah gak bisa menahan kantuk ya berhenti dan mencari hotel/motel terdekat. Jadi di sepanjang jalan antar state di sini biasanya ada kota2 transit yang bangunan utamanya terdiri dari: beberapa pom bensin, restoran, dan penginapan. Bangunan-bangunan ini saling berdekatan dan menjadi bangunan2 pertama yang akan kita temui setiap kali ke luar dari jalan bebas hambatannya. Di mana-mana polanya sama, selalu begitu, bahkan di desa paling kecil sekalipun pasti ada tiga jenis bangunan tadi.

Di siang hari, kami cuma berhenti untuk makan siang. Rute menuju utara ini akan melintasi kota2 yang sama dengan yg kami lewati saat berangkat. Gak kreatif yak? Cuma masalah kepraktisan aja krn jalur itu termasuk jalur paling cepat karena sambung menyambung dari satu highway ke highway lainnya.

Tadinya kami ingin singgah menginap setelah melewati Atlanta, salah satu kota besar yg cukup terkenal di negara bagian Georgia. Tapi, karena insiden kunci yang hilang itu, kami jadi banyak kehilangan waktu dan terpaksa harus menginap tak jauh sebelum mencapai Atlanta. Hotel yang kami pilih adalah bagian dr grup Super 8 yang merupakan motel yang gak terlalu elite tapi cukup bersih dan dilengkapi microwave dan kulkas yang penting buat pelancong hemat seperti kami. Makan malam yang masih bersisa bisa dibawa ke hotel dan dimakan buat sarapan…he…he. Hanya saja kenikmatan tidur berkurang karena mengetahui bahwa tempat tidurnya (entah seprai atau selimutnya) bau asemmmm dan internet gratisnya te
rnyata susah dan gak bisa tersambung. Mau protes, males deh wong cuma semalem aja dan kami udah teler. Besok pagi musti bangun pagi2 supaya bisa keliling2 Atlanta dulu.


Potong bebek angsa, masak di kuali….
Hi…hi.. mangap, dipotong lagi yak… takut bosen bacanya. Kasih yel2 apa atau sorak sorai gitu biar aku semangat ngelanjutin sampe selesai dong.

Buat yang setia ngikutin dari jurnal pertama tentang ke Florida ini, makasih banget yak! Makasih udah mau capek2 ngebacain jurnal ngaco ala emak2 kece dan menghabiskan 5-10 menit Anda membaca rangkaian kalimat yang melanggar semua aturan tata bahasa…ha…ha…ha, udah gitu sok lucu lagi… pretttt!

Buat yang baru pertama kali baca jurnal perjalananku, silakeun bingung ha…ha…ha. Kalo mau sesuai urutan silakan klik tautan2 berikut ini: (Buset, mampus… banyak banget yak! Kayak serial Kho Ping Ho aje)

1. Dikejar Salju dan Nashville
2. Kami Tak Kunjung ke Nashville dan Wanita-Wanita Bercadar
3. Makan di Atlanta dan Menginap di Macon
4. Tragedi Sedot Bensin
5. Akhirnya Sampai Juga
6. Nasi Goreng Ala Kadarnya dan Kesan Pertama
7. Hari Yang Terbuang (or Not)
8. Terbangkan Aku ke Bulan
9. Terbangkan Aku ke Bulan Lagi!
10. Scenic Byway Menuju St. Augustine
11. Museum Aneh
12. Menikmati Apa Adanya
13. Loh, KSC Lagi? Doyan ya?
14. Kembali ke Kota Tua
15. Hari Yang Santai


Florida Trip Day 9

Matahari terbit di pantai Daytona (masih ada bulan secuil)

Menipu Anak

Orang tua yang baik seharusnya tidak berbohong pada anak, bukan begitu? Tapi kalau berbohong demi menyiapkan suatu kejutan buat anak tersebut, boleh gak ya?

Saat hendak pergi ke Chicago kemarin hari itu yang tujuan utamanya untuk mengurus surat2, aku sengaja tidak memberitahukannya pada anak-anak. Anak-anakku terutama Imo, biasanya peka sekali jika terlihat aku sibuk membuka halaman situs pemesanan hotel atau mulai asyik browsing sana-sini tentang satu kota tertentu. Dia biasanya sudah bisa menebak bahwa dengan gelagat yang demikian, berarti kami semua hemdak menempuh perjalanan panjang alias liburan.

Aku sengaja hanya buka-buka situs yang berhubungan dengan persiapan ke Chicago saat Imo dan Barrel masih di sekolah. Berkas-berkas hasil cetakan seperti pesanan hotel dan lain-lain juga aku sembunyikan di tempat khusus. Selain itu, pakaian dan perkakas lainnya tidak aku siapkan sampai dengan malam hari menjelang keberangkatan, saat mereka sudah lelap tertidur. Beresss… rahasia tertutup rapat sampai malam itu. Kami hanya bilang pada Imo bahwa hari Minggu itu kami akan pergi memancing.

Tadinya aku ingin semua barang sudah masuk bagasi mobil malam itu. Tapi karena baru bisa beres packing jam 2 dini hari, maka rasanya tak aman dan nyaman bila harus berdingin-dingin ke tempat parkir mobil selarut itu. Maka kami sepakat melakukan hal itu besok paginya saat anak-anak belum bangun.

Keesokan pagi, saat langit masih gelap, suamiku mulai memasukkan kopor ke dalam bagasi. Tiba-tiba Ino keluar dari kamarnya sambil mengucek-ngucek mata. Padahal masih ada dua kopor yang belum dimasukkan dam masih berada di ruang tengah. Aku langsung kecewa karena merasa kejutan akan gagal. Untungnya, karena dia ngantuk, dia tidak merasa ada yang aneh. Dia pikir ayahnya sedang menyiapkan barang-barang untuk pergi mancing. Padahal kan ada kopor ya…ha…ha… kok gak curiga? Saking percayanya sama emaknya ini kayaknya,

Saat kami akhirnya berangkat, anak-anak masih juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berulang kali mereka bertanya kami hendak memancing dimana, karena memang ada banyak alternatif tempat memancing di sekitar tempat tinggal kami. Kami katakan saja hendak memancing agak jauh, di danau yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Tapi makin lama, mereka makin keheranan. Saat perjalanan sudah lebih dari sejam, Darrel mulai melakukan teror dengan jampi-jampi bernama: Are we there yet? Berulang kali, sampai pegel jawabnya…he..he.

Setelah lebih dari setengah perjalanan, Imo akhirnya bertanya: “Kita mau mancingnya di Lake Michigan, ya? Hah! Terbongkar deh rahasia kami. Lake Michigan artinya Chicago. Tapi dasar keukuh, aku cuma bilang padanya untuk bersabar dan pasti akan tahu sendiri dimana mancingnya.

Tapi petunjuk demi petunjuk makin terbaca Imo. Dia membaca plang di pinggir jalan yang menunjukkan berapa lama lagi ke kota Chicago dan makin yakin bahwa kami sedang menuju ke Chicago. Ya sudahlah, kami buka saja rahasianya. Surprise! Kita mau ke Chicago!

Darrel masih bingung dan bertanya, kenapa mancingnya jauh banget…ha…ha..ha. Dan Imo tidak menyangka bahwa ada satu kejutan lagi buat dia. Apakah itu? Tunggu lanjutannya, soalnya aku nguantuuuk pollll…ha…ha…ha. Besok aja ya.

Kembali ke Kota Tua


Ini perjalanan model apa sih sebenarnya? Kok bolak-balik kayak setrikaan. He…he…he… perjalanan gaya bebas, sebebas-bebasnya. Semoga gak membingungkan para pembaca ya. Wong aku aja yang nulis bingung.

Masih ingat perjalanan kami ke St. Augustine? Nah, saat itu kami membeli tiket tur dengan trolley mengelilingi kota tua ini yang berlaku untuk 3 hari. Demi memanfaatkan tiket, sekaligus karena ingin menjelajahi kota ini, kami pun pergi lagi dalam perjalanan selama satu jam dari pantai Daytona menuju St. Augustine. Lagi-lagi kami berangkat agak terlambat karena paginya bermain-main dulu di pinggir pantai.

Tur dimulai dari gedung Ripley’s Believe It or Not, dan kami sempat terpana melihat keran tanpa pipa yang terpajang di depannya, yang rupanya luput kami lihat di kunjungan pertama. Imo kemudian menemukan rahasia triknya dan memberitahukannya pada Darrel. Lucunya, setiap kali ada pengunjung lain yang melihat keran itu dengan penuh keheranan, maka tanpa diminta, Imo dan Darrel menerangkan trik di balik keran yang tampak “ajaib” itu.

Kemudian kami menaiki kereta berwarna merah, sama seperti yang kami naiki saat tur malam hari. Kereta membawa kami berkeliling dari satu tujuan wisata populer di St. Augustine ke tujuan lainnya. Sang supir menyetir sambil menerangkan bangunan2 apa yang kami lewati. Yang masih aku ingat antara lain adalah bangunan yang didirikan sebagai gereka pertama di tanah Amerika dan namanya Mission of Nombre de Dios (psst… ini nyontek, krn aslinya gue gak apal…ha…ha). Penumpang trolley bisa turun di sini dan berkunjung ke dalamnya dengan gratis.

Lalu kami melintasi pohon Oak sangat tua berusia lebih dari 600 tahun yang masih tumbuh dan dijaga di situ yang disebut sebagai The Old Senator. Lucunya, pohon ini tumbuh di pekarangan sebuah hotel/motel. Gak kebayang berisiknya menginap di hotel ini karena kendaraan tur semacam trolley ini seharian bolak-balik di halamannya.

Setelah itu kami menuju sebuah jalanan bernama Magnolia Avenue yang di sepanjang sisinya ditumbuhi pohon oak besar2 yang dahan dan rantingnya memayungi jalan di bawahnya. Adem banget lewat jalan ini. Coba ditumbuhi pohon magnolia beneran, pasti cantik banget saat musim semi.

Di Magnolia Avenue terdapat satu tujuan wisata terkenal, yaitu Fountain of Youth alias mata air awet muda. Waaa…. mau donk! Kabarnya, kalau mminum air dari mata air itu bisa awet muda lo! Tapi aku kan gak perlu ya minum air ajaib ini, wong gak minum juga udah terlihat imut2 dan awet muda kaaaan (hueekk). Jadi, kami cuma lewatkan saja fountain of youth ini dan berniat melihat-lihat tempat lain dulu. Toh naik trolley ini bisa berkali-kali turun-naik.

Dari situ kami melewati the Old Jail yang selain merupakan bangunan penjara tua (didirikan tahun 1891) yang berisi sel dan artefak penjara juga menyajikan aktor dan aktris berpakaian bak Sheriff dan napi2nya. Sayangnya, karena wahana ini harus bayar lagi dan juga untuk menghemat waktu, kami lewatkan begitu saja. Padahal pas udah sampai di rumah ya nyesel juga. Hehhh.

Kami pun melewati St. Augustine Historical Museum, Villa Zorayda (replika istana Alhambra di Spanyol), Oldest School (ya sekolah tertua di Ngamrikah), Huguenot Graveyard (pemakaman khusus untuk org kapir di masa itu alias non-Catholics) serta banyak tempat bersejarah lainnya tanpa sempat turun! Hari semakin senja, dan saat kami tiba di depan Castillo de San Marcos barulah kami turun karena memang ingin sekali melihat bangunan benteng ini.



Sebelum ke benteng, kami sempatkan melihat-lihat sedikit bagian dari mal bersejarah di St. George St. yang sebenarnya adalah sederetan toko yang kebanyakan menjual makanan atau souvenir. Kami sempat mampir ke salah satu toko coklat untuk membeli kopi dan coklat panas. Coklat panasnya yummy sekali, sedangkan kopinya pahit sampai aku harus balik lagi untuk minta lebih banyak gula dalam sachet. Saat kembali utk ambil gula ini, aku sempat melihat dan memotret peragaan membuat fudge di dekat jendela etalase toko. Sepertinya posisinya sengaja dekat jendela supaya para pejalan kaki yang lewat dan melihat tertarik untuk masuk ke toko coklat ini. Belakangan baru tahu kalau St. Augustine terkenal dengan kelezatan fudgenya, sayang deh kami tak mencobanya. Rasa coklat panasnya saja sudah lezat sekali, apalagi fudge-nya ya (sambil ngetik, ngiler… pengen fudge dr St. Augustine!). Setelah puas duduk-duduk sebentar di samping toko coklat, kami jalan lagi ke benteng yang sudah tak jauh lagi dari situ.



Castillo de San Marcos merupakan benteng perlawanan Spanyol melawan tentara Inggris. Bahan bakunya terbuat dari batu khusus bernama coquina yang sebenarnya adalah pecahan kulit kerang yang menyatu dan membatu. Bahan coquina ini ternyata sangat kuat sehingga tak mempan ditembak oleh meriam. Saat kami makan siang sambil gelar tikar di pantai dekat St. Augustine, kami sempat melihat batu-batu karang yang ketika didekati terlihat tekstur kumpulan kulit kerangnya.

Saat kami datang, ternyata sedang akan dimulai peledakan meriam yang selama sehari dilakukan 2 atau 3 kali di waktu-waktu tertentu. Kami langsung pasang posisi untuk bisa memotret kejadian ini. Peledakan meriam tidak tanggung-tanggung, dilakukan oleh sepasukan tentara (bo’ongan) yang berseragam tentara kuno. Mereka melakukan manuver baris berbaris dan komandannya melakukan sedikit pidato dalam bahasa Spanyol. Sialnya, saat diledakkan, aku malah kaget banget dan kamera tentu saja goyang. Padahal sudah mengantisipasi, tapi kok ya bunyinya nyariiing sekali. Lah, namanya juga meriam untuk menghalau lawan yak. Kalau bunyinya psssss…itu sih kentut namanya.

Setelah meriam diledakkan, kami menghampiri para tentara itu dan minta foto2 bareng. Lumayaaan… gratis. Sehabis itu, kami berkeliling lagi dan menuju pintu gerbang keluar yang berbentuk jembatan. Sempat juga duduk-duduk sambil melihat jembatan Lion yang membuka saat ada kapal kecil yang hendak lewat di Mantanzas Bay.


Karena trolley yang berkeliling itu sudah habis waktunya, maka kami
berjalan kaki menuju Ripley, untung saja jaraknya tak jauh. Sebelum benar-benar pulang, kami memasuki rumah batang kayu (log house) tertua yang dipajang di halaman Ripley. Kami juga sempat berfoto2 bersama replika patung David yang terkenal itu. Karena sepi, tak ada pengunjung lain, maka kumat lagi deh kebiasaan foto2 aneh di sekitar patung ini sambil ketawa-tawa gila. Imo sampai geleng2 kepala melihat kelakuan emak babenya.

Hari makin gelap. Kami lalu memutuskan untuk memanfaatkan tiket golf mini yang diberikan sebagai bagian dari tur trolley tadi. Maka, kami tutup malam itu dengan main golf di pinggir sungai. Arenanya tidak terlalu seru atau seheboh arena golf mini yang kami lihat di Daytona, tapi lumayanlah untuk coba-coba. Anak-anakku belum pernah soalnya.

Kami lega karena anak-anak akhirnya menikmati juga perjal
anan ke St. Augustine meski tidak lengkap karena terlalu banyak tempat yang kami cuma lewati saja. Kapan-kapan deh, kalau ada rejeki dan waktu lagi, aku mau lebih lama mengelilingi kota yang menurutku sangat romantis ini (ternyata memang banyak pesta pernikahan diadakan di sini saat musim semi).

Besok hari terakhir kami di Florida… oh… rasanya gak mau pulaaaang! Seminggu rasanya tak cukup untuk mengubek-ubek satu negara bagian saja. Itulah gambaran betapa luasnya wilayah Ngamrikah ini.

Loh, KSC Lagi? Doyan ya?


Di Hari keenam ini, kami memutuskan untuk kembali mengunjungi Kennedy Space Center. Alasannya bukan karena doyan, tapi karena gah-gi… ogah rugi. Tiket masuk KSC memang dirancang untuk dua kali masuk dalam jangka waktu maksimal tujuh hari. Artinya, jeda lebih dari tujuh hari hari setelah kunjungan pertama, tiket masuknya akan hangus.


Kemungkinan akan antri yang ular naga panjangnya sempat membuat ciut hati kami. Bayangkan saja, di hari pertama waktu kami banyak dihabiskan untuk mengantri! Benar-benar rugi waktu. Tapi gile bener, saat kami tiba di pintu gerbang KSC, ternyata sepi bukan ampunan! Antrian tiket nyaris tidak ada. Padahal kami tiba di situ sekitar jam 12 siang, tak jauh beda dengan waktu kami datang ke sini pertama kali. Lalu apa yang bikin beda? Dugaanku sih karena kemarin itu sehari setelah Natal, sehingga pengunjungnya membludak. Mirip deh dengan di Jakarta yang kalau lebaran, tempat wisata seperti Ancol pasti penuh.


K
ondisi di dalamnya sih tidak sesepi saat di loket tiket, cukup ramai juga. Tapi jelas jauh berbeda dengan kemarin itu. Nyaris tak ada antrian menuju terminal shuttle bus yang mengantar menempuh tur ke lokasi-lokasi yang sudah kami kunjungi dua hari yang lalu. Tapi kami tak tergoda untuk mengulang kembali tur tersebut, karena masih lumayan banyak wahana yang belum kami jelajahi di sini.


Pertama-tama kami mencoba menonton pertunjukkan Star Trek yang merupakan pertunjukan panggung yang ceritanya berdasarkan tokoh2 dalam film Star Trek. Dengan panggung yang sangat kecil dan properti panggung yang minim, ternyata mereka cukup menghibur. Apalagi pemerannya juga cukup menyegarkan mata penonton. Supaya tambah ramai, para pemeran mengajak penonton ikut berpartisipasi, dari mulai meneriakkan yel-yel, kata siap, sampai dengan menarik beberapa penonton untuk naik ke atas panggung.

Karuan saja Imo dan Darrel juga ingin ditarik ke panggung, apalagi Imo yang semangat tampilnya tinggi sekali. Tapi sayang, karena datang saat pertunjukan telah hampir dimulai, kami cuma dapat tempat duduk di deretan paling belakang sehingga sulit untuk dilihat oleh para pemain yang sedang mengincar anak yang hendak diajak ke panggung. Alhasil, Imo dan Darrel terpaksa harus cukup puas dengan jadi penonton saja.


Demi menghemat waktu dan berdasarkan pengalaman sebelumnya dimana waktu kami juga habis untuk sekedar mengantri makan siang, maka kami sudah membeli makanan di jalan sebagai bekal makan siang kami. Sambil menimbang-nimbang hendak kemana selanjutnya, kami makan siang di dekat arena bermain anak. Anak-anak tentu saja tak sabar untuk bermain seluncuran dan panjat tebing tapi kami tak memperbolehkan mereka main sebelum mereka menghabiskan makanan mereka.

Selanjutnya, kami menuju tempat terdekat yaitu Rocket Garden yang berisi roket-roket bekas yang dipajang secara vertikal. Di bawah masing-masing roket terdapat keterangan tentang jenis dan kapan diluncurkannya. Di beberapa tempat disediakan bangku, meja di bawah naungan payung-payung besar. Asyik juga mungkin ya kalau bisa ngopi atau ngeteh sambil dengan pemandangan roket2 ini.


Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto, kami lalu menuju wahana Early Space Exploration yang isinya alat peraga dan poster tentang bagaimana penjelajahan luar angkasa dimulai. Tentu saja mereka tak bisa mengingkari bahwa Rusia adalah yang pertama kali memulainya, karena itu ada juga beberapa poster dan keterangan mengenai hal ini. Di sini kami sempat menggila dengan berfoto di depan beberapa poster raksasa yang ada di luar dan dalam gedung. Saking menggilanya, sampai sempat ditonton oleh rombongan pengunjung lain yang kebetulan lewat. Ah, biar saja, gak ada larangan untuk berfoto2 heboh kaaaan? Mumpung ada di sini, daripada menyesal pas sudah pulang nanti.

Wahana selanjutnya adalah Exploration Space: Explorers Wanted, yang isinya adalah inovasi terbaru (?) NASA dan juga mengungkap manfaat apa saja yang didapat dari penjelajahan ke luar angkasa. Seperti halnya di tempat sebelumnya, di sini terdapat
banyak alat peraga. Yang

membedakan adalah adanya presentasi oleh petugas kompleks KSC. Cukup menarik, tapi lagi-lagi anak2 lebih tertarik mencoba alat peraga yang interaktif seperti simulasi robot yang menjelajahi bulan. Mungkin kalau aku boleh kasih saran ke KSC, justru alat-alat peraga seperti ini yang diperbanyak karena tidak membosankan.



Wahana terakhir yang kami kunjungi adalah Shuttle Lauch Experience yang merupakan simulator peluncuran pesawat luar angkasa yang pakai getar2 (bukan asmara) dan suara keras sehingga kita merasa seperti astronot di dalam pesawat yang diluncurkan. Untuk wahana satu ini, aku terpaksa cuma duduk menunggu di luar bersama Darrel karena untuk naik wahana ini ada persyaratan tinggi minimal. Darrel kurang tinggi, sehingga hanya Imo dan Ayahnya yang mencoba simulator ini. Ya sudahlah, selama setengah jam-an aku dan Darrel duduk-duduk sambil menikmati langit yang berubah jadi gelap.

Sebelum memutuskan untuk pulang, kami sempatkan untuk mampir ke toko souvenirnya sekali lagi. Siapa tahu ada barang mur-mer yang bisa dibawa pulang. Pucuk dicinta ulam tiba, tanpa kami rencanakan sebelumnya, ternyata saat itu ada mantan astronot (beneran) yang sedang bagi-bagi tanda tangan. Tentu saja kesempatan ini tak kami sia-siakan. Selain meminta tanda tangan di atas fotonya si astronot yang sudah disediakan di situ, kami juga berfoto bersama sang astronot yang sudah gaek ini. Imo sangat senang bisa mendapatkan tanda tangan sang astronot. Ini kali kedua kami mendapat tanda tangan “selebriti” selama bepergian di sini. Sebelumnya kami pernah mendapatkan tanda tangan penemu fosil T-Rex terbesar saat berkunjung ke Field Museum di Chicago.


Langit telah sangat gelap saat kami meninggalkan Kennedy Space Center. Kesan kedua ternyata lebih menyenangkan dari yang pertama. Sampai di Daytona, aku masih sempat masak makan malam dan dengan diiringi debur ombak laut Atlantik kami pun makan malam. Besok hari ketujuh kami di sini, pertanda liburan kami sudah hampir berakhir. Petualangan yang lain pun sudah menunggu. Semoga sama atau lebih menyenangkan dari hari ini.

Florida Trip Day 6-2