Museum Aneh!

Florida Trip Day 5-2: St. Augustine

Sampai mana sih ceritanya? Dasar cerita disambung2 kayak sinengtron, jadinya malah lupa tuh. Oh… sampai mau ke St. Augustine yak? OK, siap2 didongengin ya. Jangan ketiduran looo… kalo ketiduran aku akan pasang petasan!


Kota St. Augustine menyambut kami dengan jembatan panjang dan lamaaa bernama The Bridge of Lion. Jembatan yang juga bisa dibuka-tutup jika ada kapal yang lewat ini modelnya juga dibuat senada dengan gaya bangunan di St. Augustine, jadi kesannya kuno.


Atap bangunan2 kuno mulai terlihat dan begitu sampai di seberang, suasana langsung berubah. Atmofsir yang lebih santai plus bangunan2 yang cantik membuat seolah tak berada di Amerika. Padahal sebenarnya salahku saja kalau menafsirkan Amerika dengan
satu tampilan saja.

Agak bingung juga ketika baru sampai. Mau kemana dulu ya? Mau ikutan tur keliling naik mobil kereta apa mau menyusuri jalan-jalan kota dengan berjalan kaki ya. Yang mana dulu yang mau dikunjungi? Banyak sekali
bangunan kuno di sini, dari
benteng Castillo de San Marcos, bangunan sekolah pertama yg di amrik, sampai dengan museum bajak laut.

Tapi tentu saja yg pertama harus dicari adalah… tempat parkir…he..he. Kami menemukan tempatnya di sebuah bangunan mirip puri yang dijadikan museum “Aneh Tapi Nyata” alias Ripleys’s Believe It or Not Museum” yang memamerkan benda2 aneh dari berbagai penjuru dunia.


Dari info di Internet, aku mengetahui bahwa loket museum ini juga menjual tiket untuk tur dengan trem keliling kota St. Augustine. Saat membeli tiket trem, kami ditawari juga untuk membeli tiket masuk museum. Dasarnya kami juga keluarga aneh, maka begitu ditawari, kami langsung tertarik. Tapi ada sebab lainnya sih… berhubung aku juga lagi kebelet pipis sejak dari makan siang di pinggir pantai, dan di Florida entah kenapa yang namanya gas station gak terlalu berlimpah, jadi sejak masuk gedung ini udah niat mau ke toilet.



Penjaga loket tiket berbaik hati mengingatkan bahwa turnya tinggal setengah jam lagi, jadi amat rugi kalau kami pakai tiketnya sekarang. Kebetulan mereka menyediakan tiket untuk 3 hari berturut2 jadi kami bisa balik lagi besok. Ya sudah, kami langsung ganti rencana. Yang tadinya mau jalan2 baru ke museum berubah menjadi kebalikannya.


Begitu masuk, langsung deh aku menuju toilet di lantai dua. Alamak, dasar museum aneh tapi nyata, mosok di dalam bilik toilet ada gambar orang2 lagi ngintipin kita! Sayangnya aku sedang gak bawa kamera ke dalam toilet, jadi gak ada fotonya.

Museum ini tidak saja memamerkan benda2 dan fenomena aneh, tapi juga gambar2 mengenai pencapaian2 tingkat dunia yang terhitung unik, seperti menarik truk berat dengan gigi, tidur di atas paku paling lama, tulisan di atas beras, dsb. Ada juga kursi pengukur gairah cinta, ceileee. Asli aku tadinya mau nyobain, tapi maluuuu! Sekarang malah nyesel, kenapa gak nyoba aja. Kenapa harus malu? Kan pake baju.

Surprisingly, anak2ku cukup menikmati museum ini, meskipun mereka (Imo tepatnya) harus banyak membaca keterangan di bawah setiap benda yg dipamerkan. Mereka sempat bikin souvenir sendiri di mesin pembuat souvenir yang bisa mengolah uang logam jadi souvenir. Jadi uang logam jumlah tertentu dimasukkan, lalu logamnya akan dipanaskan dan dicetak sesuai gambar2 yang ditawarkan yang biasanya ada hubungannya dengan tempat wisatanya. Kalau logamnya kinclong, souvenirnya akan
jadi kinclong, tapi kalo logamnya buluk, maka buluklah souvenirnya.


Ada satu bagian dari museum ini yang penuh gambar dan barang peraga yang serem2. Aku udah bisa menduga sih. Dulu waktu nonton acara Believe It or Not di TV juga banyak kan yang medheni, bikin kita ngilu atau bergidik seram. Makanya, begitu masuk ke bagian dimana penerangannya dibikin redup dan di dalam kaca ada kepala2 kecil yang katanya kepala manusia yang dikecilkan oleh suku Indian tertentu, aku langsung melakukan sensor mandiri…he…he. Anak2 masih bisa ngeliat alat penyiksaan yang begitu dibuka ada holograph hantu wanita. Begitu juga alat peraga yang mengingatkanku akan S&M. Tapi ketika ruangan selanjutnya memperlihatkan samurai nancep di jidat dan yang sebangsanya, langsung aku minta Imo dan Darrel untuk menutup mata mereka dengan jaket. Lalu aku pandu mereka untuk berjalan cepat, langsung melewati ruangan itu menuju ruangan selanjutnya yang lebih “aman”. Aku lalu gantian dengan suamiku untuk menjaga anak2 dan kembali melihat ruangan penuh gambar2 seram itu.

Selanjutnya kami melihat replika domba berkepala dua, ayam yang merokok (heleh….), dan sebangsanya. Ada juga patung manusia tertinggi, tergemuk, dan manusia dengan ciri tubuh yang unik lainnya. Untung gak ada kategori manusia tercantik. Kalo ada, repot banget kan kalo tiba2 ada yg mau foto2 di sampingku. (kantong kresek moment!)

Terdapat juga bagian yang menyajikan keunikan2 yang scientific dan lebih mirip alat peraga interaktif di science museum. Bagian ini sekaligus bagian yang terakhir dan uniknya, kami harus melewati sebuah jembatan di dalam terowongan gelap yang seolah berputar2 dengan banyak lampu kecil di dalamnya. Efeknya? Seolah2 jembatan itu yang berputar-putar 360 derajat! Serem gile! Banyak pengunjung yang terpaku di ujung jembatan, ragu untuk melewatinya karena belum apa2 sudah pusing tujuh keliling. Untungnya, di samping jembatan ada sebuah pintu yang bertuliskan “Kalau takut, lewat sini” (gitu deh terjemahan pendeknya). Apakah aku akan melewati jembatan itu? Beranikah aku?

(bersambung)

Dor! Ha…ha…ha… enggak ding! Ngapain bikin bersambung, wong udah mau keluar dari museum kok!

Jembatan putar2 itu sebenarnya amat menakutkan, tapi aku gak mau dibilang kalah nyali dari suami dan dua anakku yang ngelewatin jembatan sambil ketawa2. Bahkan Darrel berlari-lari bolak-balik sambil ketawa girang dan justru menikmati sensasi putar2 yang cuma trik itu! Mosok emaknya kalah? Aku akhirnya nekat melewati jembatan sambil… terus menatap ke depan dan tak menghiraukan lampu2 kecil yang berputar di sekelilingnya. Berhasil! Ha…ha…ha. Gak ngerasain sensai berputarnya sih jadinya, tapi biar ajaaa… daripada di tengah jembatan aku jejeritan dan ampun2 kayak kebanyakan pengunjung yg aku lihat sebelumnya.

Kami ke luar lewat lewat toko souvenir. Yap, ini kebiasaan setiap tempat wisata di sini, yaitu keluarnya pasti lewat toko souvenir. Sengaja, biar beli kaaan. Keluar dari museum, kami langsung naik kereta tur keliling spesial natal. Sebenarnya ini benar2 spontan, tadinya gak niat karena udah malem dan pasti dingin. Keretanya kan gak pake jendela, terbuka gitu. Tapi karena tertarik iming2 ada light fantastic alias bangunan2 yang dihiasi lampu2 warna-warni, akhirnya kami tergoda juga. Sebelum naik, kami diberi kacamata 3D supaya lampu2nya bisa keliatan lebih seru.

Ternyata gak seseru yang kami bayangkan karena kami kedinginan dan gak semua bangunan dihiasi lampu2. Agak merasa tertipu deh. Kok gini aja ya? Yang lebih nyebelin, karena kemampuan kamera saku sangat terbatas, foto2 yang kami ambil kebanyakan blur karena diambil
dari kereta yang bergerak cepat.
Kereta gak bisa bergerak perlahan karena lalu lintas kota kecil ini di sebagian tempat sangat ramai, kalau lambat bisa2 bikin macet. Di sebagian tempat, memang suasananya agak eerie… serem gituh karena banyak bangunan tua, sepi dan gelap. Pantesan aja ada Ghost Adventure Tour-nya segala. Tapi aku gak berani ikutan tur yang ini… kan barengan anak2.

Setelah setengah jam putar2 kota sambil kedinginan, kamipun kembali ke mobil dan menempuh perjalanan pulang selama satu jam menuju pantai Daytona. Tadinya mau main golf mini dulu yang jadi bonus gratis dari tiket ke museum, tapi udah kemaleman banget ah. Mendingan pulang dan istirahat. Besok pagi kami berniat berangkat ke Kennedy Space Center lagi demi memanfaatkan tiket masuk yang berlaku untuk dua kali masuk dan juga karena penasaran akan sebagian wilayah yang belum kami rambah akibat meledaknya jumlah pengunjung saat kami ke sana untuk pertama kalinya dua hari yang lalu.

Foto2: koleksi pribadi.

Advertisements

Chi Town, Here We Come

Kisah perjalanan kali ini berawal dari tersadarnya sebuah keluarga, yang kita sebut saja sbg keluarga bajing krn personilnya yg imut2 dan menggemaskan, bahwa paspor mereka udah hampir abis dan kudu diperpanjang. Tempat terdekat utk memperpanjang yang pendek2 adalah ke Mak Erot. Eh… salah.. maksudnya ke KonJen yang ada di Chi Town yang “hanya” lima jam dari desa kecil tempat keluarga bajing berdomisili.

Seperti biasa si Emak Kece mulai menyiapkan akomodasi dan rencana perjalanan. Dasarnya si Emak ini seekor bajing betina yang pembosan, pengennya mencoba sesuatu yang baru dengan memesan hotel misteri. Hah? Apaan tuh? Hotel berhantu maksudnyakah? Tentu saja bukan.

Jadi ada situs bernama Hotwire dimana hotel2 yg ada gak disebutin namanya, cuma disebutkan kelasnya (bintang kejora atau bintang kecil gituhh), lokasinya (di pusat kota, pinggiran, dekat empang, dsb.), serta fasilitasnya (ada kolam renang apa enggak, ada internet kagak, disediain sarapan gak, dsb). Si Emak yang sebelumnya sudah pengen nyoba2 pesan hotel dr situ, akhirnya dapat lampu ijo dari si Ayah Ganteng. Maka dengan bersemangat, si Emak mencoba dan… berhasil! Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, keluarga bajing bisa mendapatkan kamar di sebuah hotel di TENGAH KOTA! (whistle blowing, audience clapping, heboh deh pokoknya) Tarifnya juga sangat rendah dibanding tarif biasanya, gak beda jauh dengan hotel di pinggiran kota. Ini benar2 sebuah prestasi. Oh si Emak Kece benar2 terharu, layaknya mendapatkan piala Oscar. Terima kasih Hotwire! Mhuaaach! Kau memang benar2 HOT!

Dasar si Emak, sepertinya jadi kecanduan untuk mencoba hal yang baru lainnya. Setelah 2 kali mengunjungi Chi-Town dan selalu terpana pada tarif parkirnya yang gila-gilaan, si Emak mengusulkan lagi agar mencoba transportasi umum yaitu bus kota dan kereta listrik yang disebut sebagai si L alias elevated train. Jadi yg disebut sebagi “subway” di sini bukan kereta bawah tanah, melainkan kereta di jembatan layang.

Kenapa pengen nyoba naik angkutan umum? Karena selama ini si Emak merasa belum sepenuhnya merasakan bagaimana hidup di Chi-town, membaur dengan warganya, bersama2 naik bus, kereta, menunggu di halte. Romantika yang wajar bukan? Kebanyakan org di situ memang memanfaatkan sistem kendaraan umum terpadu di bawah naungan CTA (Chicago Transit Authority) yang sangat komprehensif sampai2 rute bisnya saja ada lebih dari 150. Turis juga banyak yg ke situ tanpa mobil dan kemana2 naik kendaraan umum. Wong parkirnya muahaal sekali. Apalagi parkir di hotel tengah kota yang bisa 40-55 dollar sehari semalam. Bikin pengsan aje deh.

Sayangnya si Ayah Ganteng sama sekali gak tertarik pada ide berpetualang naik bus ala si Emak Kece. Yang bakal capek banget lah, bakal banyak waktu kebuang krn nunggu2 bus lah, yang repot lah, yang kalo anak ngantuk siapa yg mau gendong lah… begitulah sejuta alasan yang diberikannya. Si Emak gak kehilangan akal, dengan jurus rayuan maut 212, maka akhirnya, hanya dua hari menjelang keberangkatan, si Ayah Ganteng menyetujui proposal si Emak. Si Emak pun meloncat2 dengan girang tanpa tahu apa yang sedang menghadangnya.

(bersambung)

Topeng Horor Imo

“Mama, tadi Imo buat ini di sekolah,” kata Imo sambil meletakkan hasil prakaryanya di kelas kesenian tadi pagi.

“Buset dah Tong, apaan nih?” tanyaku sambil menatap tak percaya. Kertas yang diletakkan Imo di atas meja berbentuk sebuah topeng seperti ini:


Ayo, ini topeng apa? Imo cuma nyengir ketika ditanya. Padahal aku merasa syerem melihat topeng yang lebih pantas dipakai kalau lagi Halloween itu.

“Teman Imo bilang apa?” tanyaku.

“Mereka bilang bagus, ‘How did you do that?’ dan mereka mencoba bikin yang sama tapi gak bisa.”

“Guru Imo bilang apa?” aku penasaran.

“Bagus. Dia bilang di bagian hidungnya dibikin berapi-api biar lebih bagus.” Gubraxxx. Gurunya metal juga nih.

“Bagus sih Nak, cuma kok kayak the devil ya?”

“I know,” dan dia senyum-senyum lagi.

“Tapi… gak ada yang tahu sih sebenarnya setan itu kayak apa Nak. Bisa aja malah cakep, gak serem. Justru di situ bahayanya.” Dan pembicaraan pun berlanjut menjadi petatah-petitih seorang emak mengenai kehidupan.

Tapi si Emak tetap bertanya-tanya, kenapa harus si entu sih yg dijadiin topeng? Ah… cuma ekspresi kreatifitasnya dia saja, mudah2an begitu. Terus kenapa jadi mengingatkan akan seseorang di MP ya?

Note: Ini tadi sudah aku posting di QN tapi gak ada satupun org berkunjung. Jangan2 memang QN-nya gak nongol di Inbox teman2 ya? Huh, entahlah.

Jika Si Kecil Cemburu

Aku ingin tahu, ada tidak ya ibu2 lain yang sudah pernah mengalami hal yang sama, atau teman-teman MP yang mungkin pernah mengamati prilaku yang serupa. Soalnya tadi pas aku sejenak tanya Mbah Gugel, yang banyak terjadi justru sebaliknya.

Anakku yang kedua, yang sekarang baru berusia lima tahun, sangat cemburu pada ayahnya. Jika melihat aku dan ayahnya berpelukan, eh dia langsung nyelip di tengah-tengah dengan sangat memaksa. Dia juga terlihat anti sekali pada ayahnya, gak mau dipeluk, dan gak mau bilang “I love you” pada ayahnya. Padahal kalau sama aku, duh mesranya.

Padahal ayahnya ini bukan tipe bapak2 galak, sama sekali bukan. Dibandingkan aku apalagi, dia jauh lebih sabar dalam menghadapi anak-anak. Kakaknya Darrel, Imo, juga dekat dengan ayahnya dan seingatku tidak mengalami fase cemburu berlebihan seperti ini.

Kalau ada yang bisa sharing dan lebih baik lagi kalau tahu cara mengatasinya, please bagi2 ya. Makacih!