Kok Gemes Ya Baca Ini.

Gemes deh baca BBMan antara Milana (istrinya Gayus) dan Denny Indrayana (Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum). Bukan sama Denny-nya, yg sekarang sudah diadukan ke polisi oleh Hotma Sitompul, kuasa hukum Milana dengan tuduhan mengancam/menekan, tapi sama Milananya. Silakan baca sendiri ya biar tahu kenapa aku gemes… ih… pengen cubit2 pake tang.

6 September 2010 Milana
PING!!!
Assalamu’alaikum…

Mas Denny apa kabar? Semoga Mas Denny sekeluarga senantiasa dalam keadaan sehat dan slalu diselimuti Berkah Allah SWT terutama di Bulan Ramadhan yg penuh berkah ini…

Mas… Mohon bantuan Mas Denny sesuai kapasitas dan kemapuan Mas Denny, karena abang telah jujur dan kooperatif selama ini… Dia telah mengungkap semua yg dia ketahui, mohon ini dihargai, karena dengan dia ungkap semua malah semakin banyak pasal yg menjeratnya, sementara saya merasakan sulitnya hidup tanpa dia dengan mengurus anak2 kami yg masih kecil2
Sidang perdana tgl 8 September Rabu ini..
Atas perhatian Mas Denny saya ucapkan banyak2 terimakasih…. wassalam….

6 September 2010
Denny Indrayana
Semoga apapun hasilnya yg terbaik. Selamat hari raya

6 September 2010
Milana
Iya Mas Trimakasih banyak
Met Idul Fitri juga
Mohon maaf Lahir Batin… Salam buat Bunda Os… Trims…

sebelum ramadhan pergi
sebelum idul fitri datang
sebelum berangkat mudik
sebelum sms pending mulu
sebelum nge-hang
sebelum jaringan error
dari hati yg paling dalam mau ngucapin
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN
BATHIN………..Rani n Kel

26 Oktober 2010
Milana
Assalamu’alaikum Warahmatullohi wabarokatuh…bismillahirobilalamin alhamdulillahirobilalamin semoga Mas Denni dan Bunda Os jadi haji yang mabrur dan selamat hingga sampai di tanah air kembali

Ralat: bismilahirohmanirohim…. Hehehe…:)

8 November 2010
Denny Indrayana
Mbak saya di Madinah. Maaf bagaimana ceritanya soal Gayus ke luar rutan
bisa sharing info?

8 November 2010
Milana
Saya juga ga ngerti

8 November 2010
Denny Indrayana
Kan sempat ke kelapa gading … 🙂

8 November 2010
Milana
Maaf mas itu fitnah

8 November 2010
Denny Indrayana
Ok mbak
salam dari madinah

8 November 2010
Milana
Iya mas semoga jadi haji mabrur salam buat Bunda Os:)

10 November 2010
Denny Indrayana
Wah fitnah? Gayus ngaku pulang ke rumah mbak… 🙂

Bagaimana ini…?

10 November 2010
Milana
Jika mas ada di posisi saya harus bagaimana
saya mohon dengan segala hormat mas
saya ini cuma seorang istri dan seorang ibu 3 anak yg masih kecil dan jauh dari suami dan orang tua… Hanya karena Allah saya masih bisa bangkit dan berdiri..

10 November 2010 Denny Indrayana
Bilang saja apa adanya mbak. Insyaallah jujur membantu.

Kemarin saya tanya apakh gayus ke kelapa gading. Mbak bilang fitnah.

Ternyata gayus bilang memang pulang ke kelapa gading.

Mbak ingin di mengerti? mari mulai dengan sama2 jujur dan menolak rezeki hasil korupsi.

Membesarkan anak2 dan keluarga dari uang haram sama saja membesarkan mereka dengan memakan daging haram…

Mbak rani ingin terus membesarkan dua buah hati yg tak berdosa itu dengan makanan2 haram? Pasti tidak… Saya yakin tidak…

10 November 2010
Milana
Tiga buah hati

10 November 2010
Denny Indrayana
Maka bantu saya
saling bantu dengan mengungkapkan apa adanya

Yap maksud saya tiga… 🙂

10 November 2010
Milana
mereka makan dari gaji saya
enak saja mas nuduh anak saya makan makanan haram

10 November 2010
Denny Indrayana
Mbak gayus korupso

Itu yg saya maksud

Tidak perlu kita perdebatkan

10 November 2010
Milana
Semua belum terbukti
tetap ada azas praduga tak bersalah
saya memang tidak perlu berdebat dengan mas

10 November 2010
Denny Indrayana
Dan mbak serta anak2 pernah merasakannya. Itu yg saya maksud
Tidak mengakuinya
membantahnya
tidak membantu apa2…

10 November 2010
Milana
Mas juga tidak membantu apa2

10 November 2010
Denny Indrayana
Gayus jelas2 korupsi! Jangan pernah membantah fakta itu!
mbak saya membujuk dia pulang
meminta dia menyanpaikan apa adanya
hadir di persidangan gayus menyampaikan dia tidak dikorbankan. Itu telah saya lakukan
Kalau mbak minta dia bebas itu tidak mungkin. Gayus: koruptor. Harus dihukum

10 November 2010
Milana
Tidak perlu menekan saya seperti ini
saya sdh cukup tertekan

10 November 2010
Denny Indrayana
Menolak hukuman
minta dipahami
berbohong tidak membantu apa2…

10 November 2010
Milana
Trimakasih banyak atas jasa2 mas
Allah Al Bashiir..

10 November 2010
Denny Indrayana
Saya tidak menekan. Saya hanya meminta mbak berkata apa adanya. Berkata jujur. Mengakui fakta. Tidak membantahnya…
Mengakui ada korupsi dan jujur adalah perbuatan baik yg seharusnya. Kenapa saya tidak boleh menganjurkannya?
Tidak ada gunanya say dari Madinah berbagi waktu ibadah ini kalau justru bukan karena keinginan membantu mbak dan keluarga
Saya justru ingin tulus membantu mbak dan gayus yang saya tahu punya dasar insan2 yang baik…
Buktinya gayus mau pulang
mau sampaikan info
mau dibela buyung…
Karenanya saya terus sampaikan ke media jangan gayus dikorbankan. Usut tuntas…
Tapi itu artinya mbak dan gayus harus terus jujur … Pasti berat…
Saya pun ditekan kiri-kanan… Menghadapi mafia
ancaman macam2 …
Tidak sberat gayus dan mbak di penjara tapi saya juga hadapi banyak mafia
Insyaallah saya hadapi terus. Maju terus…
Bismillah allah beserta saya
Jadi yg saya minta dari mbak… Ayo maju terus. Akui ada korupsi. Jujur. Allah pasti membantu…
Apa yg saya sampaikan mungkin tidak enak dibaca tapi itulah yg harus saya sampaikan
Saya tidak bisa memberikan janji2 atau puja-puji yg bohong…
Saya akan sampaikan apa adanya… Karena saya ingin membantu mbak
gayus dan anak2…
Terserah mbak mau dibantu atau tidak… Karena cara saya membantu memang berat
tidak ringan
berat: berkata jujur dan bongkar semuanya….
Mulai dengan jujur…jujur…jujur… Gayus memang pulang
dan itu bukan fitnah. Jujur… 🙂
Ke Bali? Mbak mestinya tahu
wallahu’alam bisshowab

10 November 2010
Milana
🙂

10 November 2010
Denny Indrayana
Mbak tahu kenapa gayus mau pulang?
Dari singapur…

10 November 2010
Milana
Ya

10 November 2010
Denny Indrayana
Saya bilang: tutup lembaran hidup lama. Buka yg baru.
Kamu akan dikenang sebagi orang yg tobat dan menyesal. Ayo sama2 bongkar… Tuntas…
Keluargamu
anak2mu akan mengingat ayahnya sebagai pemberani
bukan sebagai koruptor
Dia sayang betul anak2nya. Itu kelihatannya yg menyebabkan gayus memantapkan hati untuk pulang
Klau sekarang kita mundur lagi… Tidak jujur lagi … Sia2 semua yg kemrin kita upayakan…
Anak2 yg tak berdosa itu akan kehilangan ayah mereka yg baik dan pemberani..
Please mbak…
Belum terlambat
sampaikan saja apa adanya…
Saya doakan dari sini. Di tempat yg ijabah ini… Dengan kejujuran yg mbak sampaikan … Keluarga mbak akan mendapatkan hidayah dan perlindungannya…
Caranya mudah… Sampaikan saja apa adanya… Semuanya… Allah akan menolong… Pasti… Allah tak mungkin menolong kebohongan… Allah pasti menolong kejujuran….
Tolong mbak… Pleaseee ceritakan apa yg terjadi? Gayus ke Bali? Bertemu siapa? Betulkah dengan Ical?

10 November 2010
Milana
Di mata anak2 Gayus adalah Bapak yg baik
dan dia suami yang baik
sangat baik
dan akan tetap begitu imagenya… Karena memang itu dia apa adanya
dia sdh jujur sejujurnya walau kadang kejujurannya dimanfaatkan banyak pihak dan membuatnya terjerat setumpuk pasal dan ancaman hukuman 20th pjr
kami yang menghadapi semuanya

10 November 2010
Denny Indrayana
Ancaman itu konsekuen
si perbuatannya Mbak… Tidak bis dihindari…
Nanti penjara itu menjadi sia2 kalau kejahatan sebenarnya tidak terbongkar
Mbak bisa bilang gayus jujur di mata keluarga dan anak2
tapi mbak tidak bisa membantah gayus tetap tidak jujur sebagai koruptor. Dan mbak tidak akan bisa menutup fakta itu dari anak2… Pada saatnya mereka akan paham dan tahu
Pintu tobatnya hanya satu
mengatakan apa adanya… Terus berjuang membongkar kejahatan. Jujur mengungkap semuanya…
Tidak lagi berbohong…
Rasul berkata: satu kebohongan akan melahirkan kebohongan2 lain untuk menutupinya….

10 November 2010
Milana
Iya mas udah tenang aja nanti juga ada waktunya

10 November 2010
Denny Indrayana
Saya heran
mbak bisa tenang dalam kebohongan… Dan berkata ada waktunya…
Berkata jujur itu perlu disegerakan… Menutup kebohongan itu maksiat
Allah akan menolong kejujuran dan melaknat kebohonhan!
Maaf mbak…
Tapi korupsi itu bermula dari kebohongan…

10 November 2010
Milana
Karena saya
kami bukan siapa2 hanya kami yg dituntut untuk selalu jujur..jujur..jujur… Berapa koruptor di negara ini
apa semua mendapat tekanan seperti ini?

10 November 2010
Denny Indrayana
Kalau mbak tetap bertahan dalam kebohongan
berarti mbak menutup jalan pertolongan allah

10 November 2010
Milana
Saya tidak ada hubungannya dengan korupsi…

10 November 2010
Denny Indrayana
Mbak aneh
saya minta berkata jujur dianggap salah
mbak tidak melakukan korupsi. Tapi mbak menikmati hasil korupsi. Maaf
itu fakta… Dan saya sampaikan walaupun sakit… Karena saya tidak mau bohong…

10 November 2010
Milana
Sekali lagi soal gayus korupsi itu juga belum terbukti
tetap berpegang pada azas praduga tak bersalah
itu hak setiap warga negara bukan?

10 November 2010
Denny Indrayana
Jangan bicara koruptor yg lain… Berbuat baiklah untuk diri sendiri
Mbak stop bicara teori hukum di hadpan saya!
Azas praduga bersalah iya.

10 November 2010
Milana
Tak ada manusia yg luput dari dosa
bukan tugas kita untuk menghakiminya

10 November 2010
Denny Indrayana
Gayus jelas2 koruptor!
Dia sudah mengakuinya
Jangan dibantah lagi dengan teori2 hukum
Semua terserah kepada mbak
Saya hanya ingin membantu
Jika memang uluran saya untuk membantu
Untuk meminta jujur dianggap salah…
Baik saya pamit…
Mbak silahkan terus berbohong…

10 November 2010
Milana
Saya tidak pernah menyalahkan mas..

10 November 2010
Denny Indrayana
Silahkan…
Silahkan….
Saya tidak akan perduli lagi
Tidak ada gunanya saya mengajak kepada kebaikan
pada kejujuran

10 November 2010
Milana
Saya capek pusing

10 November 2010
Denny Indrayana
Tidak ada gunanya say kasihan pada mbak dan anak2…
mbak sendiri tidak mau dibantu

10 November 2010
Milana
Saya hargai
saya akan mengatakan yg sebenarnya

10 November 2010
Denny Indrayana
Allah hanya membantu kejujuran…
Tapi sudahlah…
Lupakan…
Anggap saja saya tidak pernah memintanya
Silahkan terus hindari kejujuran…
Itu pilihan mbak sendiri…

10 November 2010
Milana
Saya akan mengatakan yg sebenarnya… Kebenaran hanya saya dan Allah yg tahu… Saya akan mengatakan yg sebenarnya pada waktunya..:)

10 November 2010
Denny Indrayana
Semoga saat itu laknat allah tidak datang…
Anda sedang bermain-main dengan kesabaran sang pencipta…

10 November 2010
Milana
Selamat berjuang:)

10 November 2010
Denny Indrayana
Baik mbak… saya pamit. Mbak tidak akan saya ganggu2 lagi… Silahkan jalan sendiri…
Silahkan ambil keputusan sendiri
Anda sendirian… Saya yakin
allah pun enggan dengan berdekat dengan orang yg masih menunda-nunda menyampaikan kejujuran
Tapi sudahlah… Itu sudah pilihan anda… Menjauhkan diri dengan sadar dari ridho-Nya… Masya allah…

10 November 2010
Milana
Trimakasih sdh bnyk diingatkan
soal kedekatan saya dengan Allah bukan hak mas untuk menjudgenya…. Saya mungkin seperti yg dikatakan mas menikmati rizki haram dsb… Dan mas sgt benci dengan seorang seperti saya ini
tapi hanya Allah Yang Maha Tahu tentang kedekatan saya dengan Dia..

10 November 2010
Denny Indrayana
Baguslah kalau mbak merasa dekat
meski tetap dengan juga menutupi kejujuran!
Hebat betul Tuhan mbak
yg mau tetap dekat dengan orang yg enggan jujur… Allah memang maha penyayang…

10 November 2010
Milana
Tidak perlu menekan saya seperti ini
saya sdh cukup tertekan

10 November 2010
Denny Indrayana
Maaf Mbak
maafkan saya…
Saya justru ingin membantu mengurangi beban mbak…
Yakinlah
dengan berkata jujur sgera
apa adanya
rasa tertekan mbak akan berkurang jauh…
Denny Indrayana
Mbak merasa tertekan
Berat
karena menutupi kebohongan …
Saya berharap Mbak cept ringan
cepat mendapat hidayahnya… Segera berkata sebenarnya … Amin

10 November 2010
Milana
Sama2 Mas… Maafkan saya… Trimakasih doanya… Semoga sukses selalu Mas Denny:) Barakoulloh
Jazakumulloh…

10 November 2010
Denny Indrayana
Saya tetap tunggu kejujuran mbak
karena hanya itu obatnya sekarang

Dari: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/11/01/14/158731-benarkah-denny-mengancam-milana-ini-bukti-percakapannya

Advertisements

[PK 29]: Dunia Binatang: Ayam Kate Arisan

Iseng…he…he. Mau belajar bikin kerajinan kertas ah dari Mbak Tintin. Ini adalah rangkaian kegiatan prakarya kertas yang diselenggarakan oleh Mbak Dian. Berhubung temanya binatang, yang sesuai dengan jiwa binatang jalang dari kumpulan yang terbuang, maka aku bikin prakarya dalam bentuk: ayam. Hi…hi…hi.

Dulu aku pernah punya ayam kate yang dipelihara di halaman belakang rumah ortuku. Dua ayam pertama adalah pasangan jantan-betina yang kami kawin paksa, maksudnya karena gak ada pilihan lain gitu… cuma beduaan sih. Nama kedua ayam ini adalah Jali dan Leha yg merupakan kependekan dari Rojali dan Juleha. Bagus kaaaan? Seperti sudah bisa diduga, merekapun berkasih-masyuk dan beranak pinak.

Sayangnya, si Jali berwatak buruk dan cemburuan. Tiap kali Leha didekati anak jantannya, dia langsung marah dan menyerang si anak dengan jalan mematuki kepalanya sampai berdarah-darah. Alhasil si Jali sering aku kejar-kejar pake sapu supaya gak menyerang anak2-anaknya. Incest-pun sering terjadi di kalangan ayam. Hingga muncul anak sekaligus istri kedua Jali yang kami beri nama Deborah (a tribute to bus jurusan Lebak Bulus-Depok yang rutin aku tumpangi tiap hari kalo ngampus). Persaingan akibat cemburu antara istri tua dan madunya juga sering terjadi, sampai cakar-cakaran looo. Akhirnya, bukan hanya si Jali yg sering kukejar2 pake sapu, tapi juga Leha yang sering menyiksa Deborah. Kalo dibikin singnengtrong, bagus juga kali ye kisah para ayam ini.

Ritual mating alias kawin antar ayam juga termasuk unik, melibatkan Jali yang menari2 mengelilingi Leha/istri2 yg lain lalu mematuk kepalanya. Heran deh ni ayam, kok kecenderungan sadomasokisnya besar sekali. Dasar ayam!

Aku juga sering buka praktek jadi dokter anak ayam tiap kali ada anak ayam yang lemes. Biasanya aku kasih air minum pakai pipet dan elus2 biar cepat sembuh. Dasar dokter gadungan, biasanya kalau udah lemes, anak ayam itu pasti tak tertolong. Mati deh. Sedih.

Kenapa kami memelihara ayam kate? Bukan buat telurnya (bonus aja ini sih) apalagi dagingnya, tapi karena ayam kate memang indah… bagus banget kombinasi warna dan bentuk ekornya. Terus jalannya juga lucu, megal-megol kayak penyanyi dangdut keliling kampung…ha..ha…ha. Jadi ayam-ayam kate itu kami pelihara sebagai pet (hewan peliharaan) yang sederajat dengan kucing atau anjing rumahan.

Begitulah sedikit kisah yang mengilhami prakarya pertamaku kali ini. Ini origami yang aku temukan kiat2 membuatnya di sini. Cekidot sendiri deh tautannya… bagus2 dan lucu2 banget origaminya! Aku aja yg gak hobi bikin kerajinan jadi pengen nyobain semuanya! Yang seru, petunjuknya bukan hanya berupa gambar step by step tapi juga ada videonya. Aku yang terhitung awam origami aja bisa kok mengikutinya.

Untuk karya perdanaku ini (ceile), aku menyambar brosur kartu telepon yang kupotong2 bentuk bujur sangkar. Dengan mengikuti petunjuk di situs yg kusebut di atas tadi, maka walaaaah… jadi deh empat ayam kate merah-putih.

Aku ambil salah satu buku anakku yang cukup bagus untuk dijadikan latar dan menggunting kertas pengumuman sekolah anakku (gak kepake lagi) buat dijadikan awan. Biar lebih cantik, aku sebar deh butiran pebbles plastik pengisi hiasan wadah gelas dari meja ruang tengah. Lumayan kan, buat karya pertama? Makasih ya Mbak Tintin yang menginspirasi utk memanfaatkan barang2 bekas di sekitar kita. Reduce, reuse, recycle!






Cara bikin origami ayam diambil dari sini: http://en.origami-club.com/animal/chicken2/chinken2/index.html atau klik di tautan yg aku kasih di atas.

Sejenak Merenung

Membaca kabar duka dari Kang Inyong membuat aku terhenyak. Aku buka MP-nya Kang Inyong. Tanggal satu Januari 2011, beliau masih menulis tentang tahun baru dan bersapa canda dengan teman2 MP yang lain. Hanya selang tujuh hari, istri beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Ini membuatku merenungkan arti kehadiran pasangan hidupku.

Sungguh aku tak bisa membayangkan rasanya ditinggal pasangan hidup. Hancur, sudah jelas. Bagaimana rasanya bangun tidur, melihat ke samping, dan dia tak ada lagi di situ. Bagaimana bila sebelum kepergiannya, kita tak sempat menunjukkan rasa cinta kita padanya atau bahkan lebih buruk, bagaimana jika sebelumnya kita baru saja bertengkar dengannya yang biasanya karena alasan2 sepele. Betapa menyesalnya.

Ya Rabbi, hidup manusia rapuh sekali. Dalam tiap detik ke depan kita,pasangan kita, anak2 kita, orang2 terdekat dan teman kita bisa saja dipanggil pulang untuk selamanya. Lalu rasanya pertikaian atau kemarahan jadi tak ada artinya selain menyisakan penyesalan dan hanya membuang waktu yang mustinya bisa dimanfaatkan untuk saling berkasih sayang.

Semoga aku bisa memenuhi janji pada diri sendiri untuk selalu berusaha menjadi lebih baik, sabar, dan menyayangi terutama bagi orang2 yang aku kasihi. Maafkan segala kesalahanku ya temans.

Dampak Berlibur Kemarin

Sejak kembali dari Florida, ada satu perubahan besar di rutinitas pagiku. Darrel yang biasanya butuh waktu lama untuk dibangunkan, sekarang jadi bisa bangun sendiri dan lebih pagi dari biasanya. Ini perubahan yang bagus karena aku gak harus menghabiskan 10-15 menit untuk menyiumi pipinya agar dia bangun.

Jadi, saat kami menghabiskan waktu seminggu di Florida, kami sekeluarga bangun satu jam lebih pagi dari biasanya. Kenaa bisa begitu? Waktu di Florida adalah Eastern Time atau waktu Amrik bagian timur yang lebih cepat satu jam dari waktu kami yang termasuk Amrik bagian Tengah-Barat (Mid-West). Alhasil, yang tadinya kami biasa bangun jam 6 pagi (masih gelap lo… jangan salah), jadi harus bangun jam 5 pagi. Meskipun jam di kamar hotel ya sudah jam 6. Jam biologis kami jadi menyesuaikan, begitu pula dengan si kecil Darrel.

Sudah empat hari belakangan, dia bangun bersamaan dengan yang lain dan langsung ikut kakaknya bersiap-siap masuk sekolah tanpa tangisan atau rengek-rengek. Bisa jadi sih, semangat bangun paginya juga akibat sudah kangen sama sekolah yang ditinggal selama dua minggu. Apapun itu, aku anggap ini perubahan yang sangat positif dan tak disangka-sangka.

Florida Trip Day 3-1: Hari Yang Terbuang (Or Not)

Hanya sekitar 10 menit saja kami tahan berada di pantai. Karena dingin dan berangin, kami langsung menuju mobil dan melaju mencari supermarket. Sebenarnya aku tak suka jika sudah jauh-jauh ke sini ternyata masih harus menghabiskan waktu di supermarket yang notabene tak ada bedanya dengan yang ada di kota asal kami. Tapi ketiadaan bahan makanan, camilan (ini yang penting!), dan juga air minum yang menipis memaksa kami untuk mengunjungi Wal-Mart.



Di sini, aku sempat tergoda hendak membeli pancingan besar untuk memancing di laut. Tapi sayang suamiku menolak dengan pertimbangan nanti akan menambah penuh bagasi mobil saja, padahal saat pulang nanti bisa dipastikan bawaan kami akan memenuhi bagasi seperti saat kami berangkat. Ya sudahlah, aku tak mau memaksa. Lagipula apa enaknya memancing kalau cuma sendirian sementara suami dan anak-anakku pasti inginnya melakukan kegiatan yang lain.

Ternyata belanja buat kebutuhan seminggu makan waktu lama dan jam 1 lebih kami baru kembali ke hotel. Setelah selesai makan siang, kami berniat mengunjungi wahana kereta gantung dan ferris wheel (bianglala) yang ada di Daytona Beach boardwalk alias dermaga panjang yang dipenuhi toko dan permainan seperti pasar malam meskipun permainannya tak banyak.

Kami sengaja memilih menyusuri pantai untuk menuju Boardwalk. Sore itu, bukan hanya mobil kami yang berjalan pelan di atas pantai Daytona, tapi juga beberapa mobil-mobil lain. Roda ban tak terhambat sama sekali karena tekstur pasir pantai yang padat. Oya, tak semua bagian pantai ini bisa dilalui mobil. Di bagian ujung utara dan timur, mobil tidak boleh melaju di pantai karena merupakan daerah konservasi alam. Di musim semi, kura2 akan datang ke pantai dan bertelur, sehingga di segala musim, daerah pantai tempat mereka bertelur tertutup dari
mobil-mobil. Bahkan hotel-hotel di daerah tersebut akan mematikan lampu bagian luar agar kura-kura mau datang dan nyaman bertelur.


Sampai di Daytona Boardwalk, ternyata ferris wheelnya dan kereta gantungnya tutup dan hanya ada sling shot alias kabel elastis yang diikat di badan dan memantulkan kita ke atas dan ke bawah berulang kali. Ah, mana berani aku mencoba yang seperti itu, apalagi saat cuaca tak enak seperti ini.


Aku tengok kursi belakang. Kedua bocah lincahku sudah tertidur pulas. Rupanya dampak perjalanan sehari semalam masih membekas pada mereka. Ya sudahlah, kami akhirnya memutar balik ke arah hotel sambil melihat-lihat pemandangan yang ada.







Cukup unik karena berkali-kali saat melintasi jalan-jalan di daytona, aku dan suamiku selalu teringat suasana di Indonesia. Saat semalam kami mencari toko yang buka, kami melintasi sebuah jalan yang di satu sisinya
terdapat kali yang sejajar
dengan jalan, di sisi seberangnya terdapat rumah-rumah yang bentuknya tak beraturan. Kami berdua sepakat kalau suasanannya mirip seperti di Rawa Bambu, Pasar Minggu. Rumah-rumah yang tak seragam bentuknya, berhalaman tak terlalu luas, lalu toko-toko berukuran kecil di sepanjang jalan, mengingatkanku pada kota-kota di pinggiran Jakarta.



Di sepanjang jalan North Atlantic terlihat pemandangan yang kontras. Sisi yang menyusuri pantai penuh dengan hotel-hotel yang menjulang tinggi berselang-seling dengan penginapan ala losmen yang rendah. Dari tampilan depannya, kita bisa melihat mana gedung yang baru dan mana yang tua. Sedangkan di sesi seberang pantai, terlihat banyak juga penginapan losmen (tak ada gedung tinggi sama sekali), pertokoan yang beragam bentuk dan warnanya, serta rumah. Ya, rumah! Jadi, masih banyak penduduk Daytona Beach yang tak merelakan rumahnya diubah menjadi industri pariwisata sehingga rumah-rumah mereka tetap berdiri dan bahkan beberapa berada di tengah himpitan gedung-gedung hotel. Sudah terbayang betapa tingginya nilai tanah dan rumah mereka.


Sesampai di hotel, kami hanya makan dan beristirahat sambil merancang hendak kemana besok. Seperti sudah pernah kuceritakan, perjalanan ke Florida adalah perjalanan yang hampir dibatalkan yang artinya perencanaan yang sebelumnya kususun belum rampung. Artinya, kami belum punya itinerary yang jelas selama di sini. Niatku sih baru akan merancangnya saat sudah sampai di Daytona. Nah, untuk besok, kami masih belum pasti untuk memilih perjalanan ke masa depan atau ke masa lalu.
(to be continued)

Florida Trip Day 2-3: Nasi Goreng Ala Kadarnya dan Kesan Pertama

Malam pertama kami menginap di Hawaiian Inn, suhu udara yang tadinya hangat sekali sampai 75 F, tiba-tiba ngedrop jadi 35 F. Karena memang sampai sudah menjelang malam dan kondisi tubuh kami juga sangat lelah, maka malam itu yang bisa kami lakukan hanya mencari bahan makanan karena kulkas milik Marge kosong melompong. Yang tersedia malah sebotol white wine yang diberikan sebagai hadiah oleh Marge. Untung sudah bawa beras, jadi bisa segera dimasak di rice cooker yang sengaja kami boyong dari rumah.


Kami pun bergegas mencari toko terdekat yang alamak ternyata susah sekali. Karena kami tiba pas hari Natal, maka hampir semua toko tutup. Dengan dipandu GPS kami berkali-kali menemui toko yang tutup dan akhirnya malah mampir ke sebuah warung (toko kecil) yang tak terlacak di GPS yang kebetulan kami lewati. Karena berniat belanja lagi yang lebih lengkap esok hari, kami hanya membeli sedikit bahan makanan seperti telur dan kecap asin. Setelah itu kami langsung kembali ke hotel dan aku pun menyiapkan makanan. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika kami menyantap nasi goreng seadanya dengan lahap. Ternyata meski cuma berbumbu seadanya dan diisi telur saja, nasi goreng pertama ini terasa nikmaaat banget saat kami menyantapnya bersama.

Saat bangun pagi keesokan harinya kami baru melihat jelas pemandangan luar biasa yang menyambut kami. Tepat di bawah balkon kamar kami yang terletak di lantai 5 terhampar Daytona beach yang berwarna putih dan laut hanya beberapa meter saja. Aku coba mencerna semuanya, dari aroma laut, angin dingin musim dingin yang berhembus, dan juga suara burung camar yang bersahut-sahutan. Rasanya seperti mimpi. Sungguhkah aku sekarang di Daytona, Florida?


Darrel melihat ke luar dan berkata, “This is the first time I see the sea.” Oh iya, ini memang kali pertama dia melihat laut secara langsung, kalau Imo sudah berkali-kali diajak main ke pantai ketika kami masih di Jakarta. Tadinya aku khawatir jika dia akan takut melihat laut yang sedekat ini dengan hotel karena dulu sekali aku pernah menginap di sebuah hotel di pinggir pantai selatan dan agak ngeri karena deburan ombaknya terdengar nyaring dari kamar hotel. Tapi ternyata Darrel tak apa-apa dan nantinya aku akan menyaksikan sendiri betapa dia justru menyukainya.


Sayangnya, cuaca masih belum bersahabat dengan kami. Di luar udara terasa dingin dan angin berhembus kencang. Kami melihat kolam renang besar berbentuk kepala Mickey Mouse yang terletak di luar tak ada pengunjung sama sekali. Begitu pula arena golf mini yang tersedia di bawah balkon kami. Kami yang tadinya telah melepas jaket saat memasuki Florida kemarin siang, pagi ini harus kembali memakai jaket saat berniat ke luar untuk berjalan-jalan di pantai.


Sebelum turun, aku sempat melihat dan memotret pemandangan dari balkon dan juga sayap hotel lain yang tertangkap dari balkon kami. Ternyata hampir semua balkon dan jendela sayap tengah telah dilucuti karena mereka memang dalam masa renovasi. Hotel-hotel di daerah yang tak mengenal salju seperti Florida memang biasanya melakukan renovasi di musim dingin, hal ini kami lihat sendiri dari banyaknya hotel2 di sepanjang pantai Daytona yang melakukan perombakan. Awal peak season mereka berlangsung di saat Spring Break alias liburan musim semi untuk mahasiswa/i kampus yang jatuh sekitar pertengahan Maret. Jadi mereka berusaha mengejar waktu agar saat Spring Break hotel mereka sudah siap untuk menyambut banyak tamu.


Sebelum ke luar, kami melintasi lobi hotel yang luas yang ditata ala Hawaii dengan perabotan rotan dan kipas besar berbentuk daun di langit-langitnya. Sarana hiburan yang tersedia adalah empat permainan seperti balap mobil dan pinball serta satu meja ping-pong.

Jalan menuju kolam renang dan pantai menjadi tidak indah karena tertutup tripleks dan rangka besi. Kami melihat kolam renang di luarpun tampak kotor. Ah… aku mulai merasa sedikit menyesal telah memilih hotel ini. Tapi melihat suami dan kedua anakku masih bersemangat untuk menyusuri pantai, maka aku cerah kembali.


Pantai sepi sekali, hanya ada kami berempat. Tapi kami melihat beberapa mobil diparkir di ujung sana. Pantai Daytona memang terkenal sebagai pantai yang bisa dilintasi mobil karena pasirnya yang padat dan lebar pantainya. Mobil-mobil hanya boleh melintas sejak matahari terbit sampai matahari terbenam. Sepanjang hari, mobil patroli pantai bolak-balik melintasi jalur sepanjang lebih dari 2,5 mil. Dahulu, pantai ini kerap dijadikan ajang balap mobil/motor dan arena percobaan mobil2 baru. Tapi kini, kecepatan maksimum yang dibolehkan di pantai itu hanya 10 mil/jam (16 km/jam).


Setelah berfoto-foto di tengah hembusan angin yang makin kencang, kami pun kembali ke kamar hotel untuk memutuskan tujuan pertama hari ini. Mudah-mudahan masih bisa menikmati meski cuacanya sangat dingin.





(to be continued)

Florida Trip Day 2-2: Akhirnya Sampai Juga

Setelah mengisi bensin sampai penuh, maka kami melaju lagi menuju Daytona beach. Daytona adalah kota kecil yang terletak di pesisir pantai timur Florida bagian tengah. Pantai ini memagari laut Atlantik. Yang suka balap mobil mungkin pernah mendengar balapan Daytona 500. Nah, kota ini memiliki landmark Daytona Speedway yang merupakan arena balap Nascar. Pengunjung bisa masuk ke arena balap dan mengikuti tur dengan mengeluarkan beberapa puluh dollar.

Jadi begini, seperti sudah aku ceritakan sebelumnya, saat pertama kali berniat liburan ke Florida, aku memang sudah mencoba menyiapkan segalanya termasuk tempat menginap selama seminggu di Daytona beach. Aku mencari tempat di situs tempat para pemilik kondominium menyewakan tempatnya. Biasanya harganya bersaing dengan harga hotel dan lebih personal sifatnya karena kita berhubungan dengan orang/pemilik langsung bukan dengan pegawai hotel. Tapi resikonya juga ada karena pembatalan pemesanan atau cancellation untuk tempat-tempat seperti ini biasanya batas waktunya jauh sekali dari masa menginap, bisa bahkan sebulan sebelumnya. Padahal hotel biasanya menetapkan pembatalan boleh di hari pertama menginap pada jam 6 sore. Uang depositnya juga lebih besar daripada hotel yang kebanyakan malah tak pakai deposit (untuk reservasi online biasa, bukan paket diskon).

Dari sekian banyak pemilik condo yang aku kontak melalui email, salah satunya adalah Marge yang kondonya terletak di resort bernama Hawaiian Inn. Resort ini cuma bintang tiga, tapi fasilitasnya cukup bagus meski sudah tergolong tua (55 tahun usia bangunannya). Kondo (gak pake ‘m’ lo, jangan keliru!) milik Marge baru saja direnovasi tahun 2009 dan dari foto-foto di situs otu terlihat cukup bagus. Yang paling memikatku adalah posisinya yang tepat di depan pantai, alias oceanfront.

Setelah bolak-balik berkirim email dengan Marge sampai sempat aku batalkan terus kemudian menghubungi dia lagi dengan malu2, gimana enggak, wong sudah bilang gak jadi eh tiba-tiba bilang jadi, akhirnya aku dan suami sepakat menyewa kondonya si Marge ini. Hitung punya hitung, tarif semalamnya jauh di bawah tarif hotel yang letaknya juga pas di pinggir pantai. Biarlah kamarnya mungil dan tidak terlalu mewah, yang penting fasilitas lengkap dan bahkan ada dapur kecil biar kami bisa makan makanan rumahan (baca: nasi plus lauk). Kemungkinan besar tarifnya jadi turun karena sebagian bangunan Hawaiian Inn sedang direnovasi balkonnya. Tapi menurut Marge, bagian kondonya sudah lebih dulu direnovasi dan tak akan terkena dampak proses renovasi sayap bangunan yang lain.

Setelah lega karena tragedi bensin isep sudah terlewati, kami menelepon Marge yang ternyata tengah berada di condonya untuk menunggu kami. Dia kaget karena disangkanya kami tak jadi pergi akibat badai salju di Illinois. Padahal aku sudah mengirim email yang menyatakan kami akan berangkat tanggal 24 pagi. Tak enak juga rasanya kami menyebabkan Marge dan anak perempuannya harus menunggu di situ padahal mereka sedang merayakan natal dan malamnya akan bersiap makan malam natal. Tapi mau bagaimana lagi, suamiku baru mulai dapat cuti tanggal 24 dan kami hanya bisa sampai ke Florida dengan bermobil keesokan harinya.

Saat kami tiba, hari sudah gelap, tapi Marge, seorang nenek2 yang masih berdandan dengan bergaya, dengan sabarnya menerangkan fasilitas yang ada di kondonya sebelum akhirnya pergi bersama anaknya untuk makan malam. Kami tak bisa melihat laut karena gelap sekali dan hanya bisa mendengar deburan ombaknya. Besoknya baru kami melihat indahnya pemandangan yang menyambut pagi kami dan itulah yang akan kami nikmati selama tujuh hari ke depan.

(to be continued)