Abaikan Orang Gila

Beberapa hari yang lalu, aku dan si Ayah berbincang dengan Imo soal street smart, alias gimana caranya bisa bertahan di dunia luar, di jalanan dengan cara yang cerdas. Yang termasuk street smart adalah gimana caranya menggunakan alat trasportasi umum, bisa menghindar dari kejahatan copet, jambret, preman tukang palak, dan penjahat-penjahat jalanan lainnya, serta hal-hal lainnya yangberhubungan dengan survival di dunia luar. Intinya sih kalau orang punya “kecerdasan jalanan” (bukan terjemahan yg tepat, tapi dipakai dulu deh), maka dia bisa keluar rumah, sampai tujuan dan pulang kembali ke rumah dengan selamat tanpa harus ditemani ortunya, atau diantar pakai mobil pribadi.

Sebenarnya anak-anak kami termasuk kurang terasah kecerdasan jalanannya karena kemana-mana selalu kami dampingi. Kalaupun pernah memakai jasa bus umum, selalu bersama ayah atau mamanya. Mereka juga tidak kami perbolehkan untuk jalan sendiri ke Walgreen’s, sebuah mini market dan toko obat yang letaknya cuma sepelemparan batu dari rumah kami. Alasannya karena daerah tempat tinggal kami bukan termasuk daerah aman, terlalu dekat dengan jalan raya pula. Kami takut kalau mereka kenapa-kenapa. Tapi ya akibatnya mereka jadi tidak pernah merasakan nikmatnya bisa meluncur kemana-mana sendirian.

Padahal dulu, jaman emaknya masih SD sudah biasa naik sepeda sampai ke jalan raya dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Seringnya beramai-ramai dengan teman-teman sih. Ealah, dari TK juga sudah bisa berangkat sekolah barengan teman-teman ding. Jagoan banget sekarang kesannya. Apalagi pas jaman SD itu, jalan kakinya tidak menyusuri jalan raya yang tiada bertrotoar (biasa deh jalanan di pinggiran Jakarta), tapi menempuh jalan tembus, melintasi hutan dan menerobos halaman rumah orang. Selain supaya lebih cepat dan pendek jarak tempuhnya, juga supaya adem. Di perjalanan, suka dapet bonus buah kecapi yang berjatuhan, hmmm..manis-manis asyem rasanya. Petualangan banget deh rasanya.

Suka kepikiran juga, kenapa ortuku jaman dulu itu begitu “berani” melepas anaknya ini untuk pulang berjalan kaki, padahal cukup jauh juga lo. Lagipula, apa gak takut kalau aku diculik atau kenapa-kenapa? Mungkin karena kondisi jaman dulu berbeda ya dengan sekarang, kejahatan belum sebegitu parahnya. Atau mungkin ortuku percaya bahwa aku cukup bisa menjaga diri dengan bekal diwanti-wanti selalu untuk tidak bicara pada orang asing, jangan mau kalau diajak pergi orang asing, dan wejangan-wejangan lain yang sebenarnya sama saja dengan pembekalan “street smart.”

“Alhamdulillah, selama itu mama gak pernah ketemu yang macem-macem, nak. Mungkin juga karena kakek-nenekmu selalu mendoakan supaya Allah selalu melindungi anak-anak mereka,” begitu tuturku pada Imo.

“Jadi mama gak pernah ketemu penjahat?” tanya Imo.

“Gak pernah, tapi pernah ketemu orang gila,” jawabku.

Biasanya di setiap daerah ada saja “urban legend” atau legenda orang-orang unik yang menarik dan ceritanya bertahan selama bertahun-tahun. Salah satu jenis orang-orang unik ini adalah penderita sakit jiwa yang berkeliaran di tempat umum. Kalau jaman SD dulu, ada perempuan sakit jiwa bernama Ijah yang katanya gemar mengejar dan menimpuki kaum pria dengan batu. Konon dia menjadi gila karena diperkosa sekelompok bedebah. Karena itu Ijah hanya mengincar kaum adam sebagai sasaran timpukannya. Ada lagi legenda seorang bapak setengah baya (lupa namanya) yang gemar naik vespa dan mencoleki bagian privat anak-anak perempuan yang ditemuinya. Meski masih SD, cerita-cerita semacam ini sampai juga ke telingaku dan teman-teman sebayaku. Kami kemudian jadi waspada dan saling menjaga saat pulang sekolah bersama-sama.

Dan saat di SMP, aku kebetulan bersekolah di daerah Melawai, Blok M dan legenda orgil di wilayah Blok M adalah seorang perempuan bernama Maryam. Kabarnya meskipun gila, tapi dia doyan malakin orang. Gila kok tahu uang ya? Entahlah. Dan dengan Maryam lah aku sempat bertemu muka.

Jadi kisahnya, saat aku berjalan kaki sendirian dari sekolah ke terminal Blok M (di samping Blok M Plaza), untuk naik Patas 21 jurusan Blok M-Ciputat, aku tiba-tba dihadang oleh seorang perempuan berkostum acak-acakan. Lokasinya di trotoar persis samping Burger King, aku ingat sekali.

Tadinya aku masih belum nyadar kalau itulah si Maryam yang legendaris. Lalu dia berkata, “Mana duitlo, sini kasih gue atau gue ludahin lo!”

Glek. Ini rampok kok ngancemnya ngeludahin sih?

Aku sempat terpana, bengong. Musti gimana ya?

Lalu aku lihat di belakang si perempuan itu ada seorang pedagang asongan yang memberi kode-kode ke aku bahwa itu perempuan gila dengan menyilangkan jarinya ke jidat. Baru paham deh…ternyata ini yang namanya Maryam.

Rupanya si Maryam cukup sensi juga, dia tahu kalau ada orang di belakangnya. Dia lalu balik badan untuk mengetahui siapa orang yang berdiri di belakangnya. Saat itulah, otakku langsung klik bekerja otomatis dalam survival mode dan.. lariiiiiii sekencang-kencangnya meninggalkan Maryam yang tampaknya sedang marah-marah pada si abang asongan. Dalam hati aku berterima kasih pada si abang asongan yang kelihatannya memang berniat menolongku. Mudah-mudahan dia tak diapa-apakan oleh si Maryam atau setidaknya mampulah melawan.

Begitulah my first and hopefully last encounter with the crazy kind. Kenapa aku menghindar? Ya karena orgil gitu lo, mau diapain juga gak ngefek. Mau diajak ngomong baik-baik, semisal: “Mbak Maryam, sorry ya, duit gue cuma tinggal buat naik bus Patas biar bisa pulang ke rumah. Lagian gak bole tuh minta-minta uang yang bukan haknya. Mbak paham kan?” ya gak bakalan masuk juga. Namanya orang gila kan punya alam pemikiran sendiri yang biasanya berbeda dengan pemikiran kebanyakan orang normal. Mau ngelawan dengan cara bales ngeludahin dia seandainya dia melakukan ancamannya, ya gak level ah…emangnya gue llama, binatang mirip onta yang demen ngeludah.

Jadi memang jurus paling masuk akal dalam menghadapi orgil adalah dengan cara menghindarinya. Pameo lama “yang waras ngalah” tampaknya pantas dilakukan dalam menghadapi si Maryam ini. Dan akhirnya aku selamat pulang ke rumah, tanpa bekas ludah si Maryam atau kehilangan duit yang cuma segitu-gitunya. Sedangkan Maryam cuma bisa melemparkan kemarahannya ke siapa saja yang bisa dijadikan sasaran (si abang asongan) dan berakhir dengan tangan kosong, gak dapet hasil palakan.

Kecuali…kecuali jika skenarionya berubah, si Maryam balik badan dan terus berlari mengejar aku. Nah, kalau itu terjadi (dalam kenyataannya enggak sih), maka yang akan aku lakukan adalah…ciaaatttt…menghajarnya dengan tanpa ampun dengan jurus-jurus mautku…ha…ha…ha. Baru kemudian telpun RS Jiwa biar dia diikat dengan straight jacket dan dikurung agar tak mengganggu ketentraman. Syukur-syukur kalau bisa diobati.

Ya begitulah kisah “perjumpaanku” dengan orang gila bernama Maryam. Buat yang pengen tahu lebih banyak tips street smart bisa buka tautan berikut ini.

Apakah Anda pernah juga bertemu orang gila? Punya pengalaman bertahan di jalan dengan kecerdasan jalanan yang Anda miliki? Silakan share yak, gak usah malu-malu apalagi pake nutup muka pake tutup panci segala gitu…he…he…he.

Advertisements

Arti Reuni

Sejak ada FB, orang-orang jadi sering reunian ya? Bener gak? Ya wajar sih, setelah sekian lama gak tahu kabar dan gak ketemu, lalu kemudian ada ‘tali penyambung’ bernama Facebook, pasti ada keinginan untuk bertemu lagi.Biasanya karena penasaran, “Eh si Anu sekarang udah kayak apa yaaa? Dulunya kan dia bla bla bla.” Gitchu kira-kira. Bahkan FB pun bisa dikatakan sebagai ajang reunian besar-besaran di dunia maya yang berpotensi untuk berkembang jadi ajang reunian di dunia nyata.

Percaya gak kalau aku baru pernah sekali saja datang ke acara reunian? Eh sumpe deh, cuma sekali. Terjadinya saat aku SMA (kelas 2 atau 3) dan reuniannya antara teman-teman SMP. Heh? Kok baru pisah sebentar udah reunian? Dan memang terbukti, itu adalah reuni yang gak seru dan kaku.

Saat acara berlangsung, peserta tidak membaur dan mereka cenderung berkelompok-kelompok di zona aman mereka sendiri. Aku sendiri hanya ngobrol dengan satu dua teman yang memang akrab banget dulunya, termasuk mantan teman sebangku yang rumahnya aku inapi demi bisa datang ke reuni itu. Menurutku, ada banyak sebab kenapa reuni kali itu kurang seru. Pertama mungkin karena masih malu-malu dan jaim pulak mengingat usia yang masih abege, masih SMA. Kedua, karena lulusan SMP-ku itu cuma masuk ke dua SMA saja, kalau gak SMA A, ya B, akibat sistem rayonisasi. Akibatnya yang ditemui di reuni itu ya kebanyakan teman SMA yang sama juga. Lah, gimana mau kangen? Ketiga, karena pisahnya belum terlalu lama, maka cerita yang bisa dibagi belum banyak juga. Gak ada banyak bahan cerita, berujung garing deh obrolannya.

Meskipun demikian, aku gak 100% nyesel datang ke reunian itu karena aku bisa semalaman ngobrol sama mantan teman sebangkuku itu. Asli, malamnya aku tidur cuma 2 jam karena asyik ngobrol sama dia. Dan di bus Patas AC yang membawaku pulang, aku ketiduran deh sampai harus dibangunkan oleh penumpang lain saat bus tiba di terminal…he..he.

Setelah acara reuni gak seru itu, aku gak pernah lagi datang ke acara reunian besar. Ada sih acara reuni akbar SMAku yang tiap tahun rutin diadakan. Tapi kok rasanya males deh datang ke acara reunian yang pesertanya terlalu buanyaaak dari segala angkatan pulak. Terlalu rame. Aku kan pemaluuuuu, tak suka dengan keramaian. *menunduk, cari recehan*

Yang aku ingat, aku hanya pernah reunian kecil dengan beberapa teman kantor lama. Bukan acara resmi dan cuma berupa jalan-jalan bersama ke Kebun Binatang Ragunan, tapi rasanya seneng banget. Mungkin karena pesertanya memang kami-kami yang bener-bener kangen dan pengen ketemuan. Gak pake jaim karena udah sama-sama tahu kadar kegilaan masing-masing…ha…ha.

Hari ini, aku kembali reunian kecil, eh kecil banget ding karena pesertanya cuma dua orang…ha…ha. Dan itupun gak direncanakan karena kebetulan temanku ini sedang ada perjalanan dinas ke desaku. Dia lupa kalau aku tinggal di desa Ndale, jadi sama sekali gak kasih kabar. Dan gara-gara FB juga tuh aku baru tahu kalau dia lagi ke sini. Kaget betul pas baca statusnya. Hah? Dia becanda kali yaaa? Eh ternyata beneran! Langsung deh kontak-kontakan lewat FB dan bertemulah kami tadi siang.

Seru sih, banyak nostalgia. Gimana nggak banyak cerita, setelah 25 tahun terpisah baru tadi siang kami ketemu lagi. Gile lama banget yak, dan huaaa…mamaaa…aku ternyata udah tua…ha…ha…ha.

Tapi reuni, meskipun sering terpeleset jadi ajang ‘pamer kesuksesan’ menurutku tetap ada sisi positifnya. Reuni membuat kita sadar bahwa kita punya masa lalu, manis ataupun pahit. Masa lalu yang manis bisa membuat kita merasa: Wah, dulu gue bisa kayak gitu ya, berarti sekarang dan ke depannya gue bisa juga dong lebih baik lagi. Masa lalu pahit bisa bikin kita belajar dari kesalahan dan lebih bijak melangkah di masa depan. Dan di sela kesibukan sebagai emak-emak dan penjaja asongan terjemahan, perasaan ‘punya masa lalu’ itu sudah cukup untuk bisa membuatku tersenyum senang.

 

 

 

Persalinan Gak Pake Lama

Bersambung dari sini yaaaa.

Disclaimer: Karena aku ingin mengingatnya dengan lekat, proses kelahiran kali ini aku ceritakan dengan mendetail. Ada bagian-bagian yang mungkin agak “horor” buat yang membaca. Jadi harap bersiap-siap. Lalu ceritanya juga akan panjaaaang dan lamaaaa sekali. Jadi harap bersabar membacanya.

Tidak berapa lama setelah itu, kira-kira pukul 6.30 pagi, dan di tengah gelombang kontraksi yang bertubi-tubi datangnya, aku merasakan ada sesuatu yang “pecah” di bagian dalam. Rasanya seperti ada bunyi “PLOP” di perut bagian bawah yang disusul dengan keluarnya air hangat. Wah, sepertinya ketubanku pecah. Aku memberitahu suster Sarah yang kemudian memeriksa air dengan selembar kertas (deteksi asam/basa?) untuk memastikan bahwa itu benar-benar air ketuban bukan sekedar ngompol…he…he. Ternyata benar! “Congratulations, ” kata suster Sarah, “You definitely will be going home with a baby.” Ya karena jika air ketuban sudah pecah, maka mau gak mau bayi harus segera dilahirkan karena perlindungan terhadap kuman dari luar sudah tak ada lagi. Berarti, kalau kontraksiku tidak progresif atau efektif (bukaannya tidak bertambah), alamat aku akan diinduksi. Aku masih berharap mudah-mudahan tidak demikian.

Aku agak kaget juga, meski sudah bisa menduga bahwa memang sekarang lah saatnya. Jadi ini dia, saatnya aku bisa bertemu dengan adek bayi yang selama ini ngulet-ngulet, jungkir balik di dalam perut sampai gerakannya terlihat dengan jelas di permukaan perut. Tapi tidak ada lagi kesempatan untuk mengharu biru, karena deraan kontraksi semakin dekat jaraknya. Suster Sarah pun menyiapkan kursi roda untuk mengantar aku ke ruang persalinan.

Oh ya, ruang bersalin di sini bukan satu ruang yang bisa dipake rame2 oleh beberapa pasien, tapi kamar-kamar individual yang desainnya sama seperti kamar untuk menginap pasien. Jadi ketika masuk ke ruangan itu, secara psikologis gak ada rasa takut, karena kayak masuk kamar tidur saja.

Satu hal yang kurang aku sukai adalah bahwa ternyata dokter kandunganku tidak bisa datang dan mengoper kerjaannya pada rekan dokternya yaitu dokter Bishop. Niatku untuk melahirkan dibantu dokter wanita pupus sudah. Ya sudah, pasrah saja. Mosok mau kabur cari tempat lain yg dokternya cewek? Ya gak mongken. Yang bikin deg-degkan justru adalah bahwa sampai dengan aku disiapkan di kamar besalin, si dokter Bishop ini belum juga nongol. Katanya masih dalam perjalanan. Sekali lagi, aku hanya bisa berserah diri sama skenario Sang Maha Kuasa deh. Aku konsentrasi saja ke ngatur nafas dan menahan rasa sakit.

Di ruang bersalin aku ditanya apakah mau jalan2. Bukan jalan2 tamasya lho ya (hi..hi), tapi jalan bolak-balik sekitar ruangan untuk membantu mempercepat persalinan. Sebenarnya hal ini sudah jadi niatanku dan tertera di Birth Plan yang aku berikan ke suster Sarah karena ketika melahirkan Darrel, jalan-jalan keliling ruangan memang terbukti bisa mempercepat turunnya bayi ke jalan lahir. Bahkan dalam kasus Darrel, sampai kecepetan dan nyaris lahir di mobil yang mengantarku ke rumah sakit. Tapi entah kenapa, aku gak mood untuk jalan, maunya baringan saja sambil atur nafas dan mengajak ngobrol si jabang bayi agar dia lancar lahir ke dunia. “Jangan nyasar ya Dek Bayi…cari pintu bertanda “Exit”, nah meluncur deh ke situ dengan cepat.” Kira-kira begitu percakapan batinku dengan bayiku.

Suasana masih santai. Suster Sarah sedang berusaha memasukkan klep IV ke tangan kiriku. Kontraksinya? Tentu saja tambah asoy geboy…ha…ha. Durasi tiap kontraksi bertambah panjang, dan setelah satu durasi kontraksi yang rasanya berabad-abad (hiperbola), aku tiba-tiba merasa harus ngeden. Kejadiannya sangat cepat karena aku sudah langsung berpegangan ke pinggir tempat tidur, badanku melenting dan bicaraku sambil menggeram. Rasanya suakiiittttt banget dan badanku seperti secara otomatis ingin mengejan. “I think I need to push,” begitu kataku pada suster Sarah.

Suster Sarah terlihat kaget tapi berusaha tenang. Dia langsung memeriksa bukaanku. “You are fully dilated,” katanya dan dia segera angkat telepon untuk menghubungi rekan-rekannya yang lain. Rupanya bukaanku sudah sempurna dan bayi siap dilahirkan. Ruangan yang tadinya cuma terisi aku, suamiku dan suster Sarah langsung dimasuki oleh banyak orang. Ada dua suster yang siap di dekat tempat tidur bayi (tempat membersihkan bayi), ada yang datang mendorong meja kecil berisi perlengkapan (ditutupi kain jadi aku gak tahu apa aja isinya). Bahkan ada serombongan anak kedokteran yang ingin masuk untuk menonton. Tapi oleh suamiku dilarang karena ruangan sudah penuh. Kalau dutambah lagi, berasa ada konser dong!

Suster Sarah meminta bantuan suster lain untuk memasang infus di tanganku karena aku sudah bergerak-gerak kelojotan gak bisa diem. Ya iyalah…sakit banget gitu looo. masih untung aku gak jejeritan, cuma menggeram2 kayak srigala..ha…ha. Lalu suster Sarah juga mengenalkanku pada seorang dokter kandungan lain (bukan dokter Bishop) yang kebetulan sedang datang ke rumah sakit. Dokter cabutan jadinya yaaa. Dan dokter ini laki-laki. Dokter ini diberitahu bahwa aku memilih untuk melahirkan tanpa dikomando oleh dokter.

Alhasil, si dokter ini cuma berdiri di sampingku sambil berusaha mengajak aku berbincang-bincang di sela-sela ngeden. Jadi kalau dibayangkan lucu deh. Ada perempuan hamil yang sedang ngeden-ngeden kesakitan, sementara si dokter senyum-senyum sambil ngajak ngobrol, yang kira-kira begini isinya:

Dokter: “Wah, cuacanya cerah ya. Hari yang bagus untuk melahirkan.”

Aku: (lihat keluar jendela, memang cerah sih, langitnya biru) “Grhhhhhhh…..grhhhhhhhhh (ngeden).”

Dokter: “You’re doing great. Where are you from?”(pas ngeden udah selesai)

Aku:”Indonesia.  Ngrhhhhh….ghrrrrrrr.

Dokter: “I can speak a little Indonesian! Aku cinta padamu. That’s all I know.”

Aku: “Nghrrrrr….ghrrrrrrr.” (sambil mikir, kocak juga ni dokter)

Dokter: “It won’t be long now. ”

Tapi rasa sakit yang semakin tinggi intensitasnya membuat aku sempat merasa kepayahan dan susah mengambil nafas. Saat itulah yang kulihat adalah wajahnya suster Sarah yang masih dengan suara lembutnya berkata, “Don’t give up now. You’ve been doing great. Stay focus, keep breathing.” Aku langsung memaksa diri untuk ambil nafas di sela-sela proses mengejan.

Pas lagi seru-serunya ngeden, datang seorang pria setengah baya dengan nafas terengah-engah. Rambutnya gondrong dan dikuncir, pakai baju ruang operasi. yang warna hijau tosca itu. Ternyata itulah dokter Bishop. Semua orang di ruangan itu langsung lega menyambutnya. Dia langsung mengenakan sarung tangan dan memeriksa kondisiku. Dan pas dia lihat, ternyata bayiku sudah crowning, alias ujung kepalanya sudah nongol di pintu lahir.

Hal selanjutnya terjadi sangat cepat. Aku ngeden dengan sekuat tenaga, hingga terasa ada sesuatu yang keluar dari pintu lahir, dokter Bishop berseru senang, “Here we go. It’s a boy.” Tapi tidak terdengar suara tangisan sampai dengan beberapa saat kemudian. Dan bayi itu diletakkan di atas perutku sambil diusap-usap dengan handuk oleh para suster.

Yang kuingat matanya terbuka lebar dan menatap sekeliling seperti keheranan. Suamiku lalu membisikkan adzan dan iqamat ke telinga mungilnya. Alhamdulillah, kami berdua selamat. Bayi lelaki itu lahir pada pukul 7.05 pagi dengan berat 6 pon 11 ons, dan panjang 20 inci.

Proses persalinan belum berakhir karena kemudian plasentaku keluar. Dokter Bishop memeriksa dan memutuskan bahwa aku tidak perlu dijahit. Wah, ternyata benar dong ya bahwa melahirkan dengan ngeden yang berdasarkan komando sang ibu, bukan dokter, memang memperkecil kemungkinan episiotomi dan robek. Baru kali ini aku melahirkan tanpa episiotomi dan dijahit.

Setelah itu, aku masih harus terbaring lemas di tempat tidur sambil seorang suster (bukan suster Sarah) membantu membersihkan area bawah dan memeriksa kondisi rahim dengan meraba bagian perut. Aku sempat mengalami kedinginan sampai badan gemetar selama beberapa waktu setelah melahirkan. Selanjutnya, proses pemulihan dimulai yang aku jalani tanpa meminum obat penahan rasa sakit apapun.

Suamiku pulang ke rumah untuk menjemput anak-anak kira-kira pukul 9 pagi. Dia baru balik ke rumah sakit pukul 4 sore bersama dengan 2 anakku yang ingin melihat adik barunya.Tapi mereka hanya menengok sebentar saja dan selanjutnya aku hanya sendirian di rumah sakit. Gak ada yang nungguin…huaaa…mamaaa. Gak sampe nangis-nangis ding…hi…hi.

Meskipun sedih, tapi jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan mental untuk menjalani proses pasca melahirkan tanpa didampingi suamiku. Lebih baik dia menjaga dan mengurus anak-anak. Padahal bandanku rasanya masih ancorr byanget, pengennya makan juga disuapin aja deh. Tapi ya situasi memaksa kami untuk tetap tegar dan perkasa. Alhasil, aku pun bolak-balik “mengganggu” suster karena tiap kali ke kamar mandi harus minta bantuan mereka. Jangankan berjalan, untuk bergerak turun dari tempat tidur saja susaaaah banget karena seluruh badanku kaku dan sakit. Baru nyadar deh bahwa dua kali melahirkan sebelumnya aku pasti dikasih obat penahan sakit yang kuat banget (morfin mungkin?) karena dulu aku tak merasa sesulit ini untuk bergerak dan berjalan ke kamar mandi. Saking akunya risih sendiri harus bolak-balik manggil suster, akhirnya aku paksakan diri untuk bisa ke kamar mandi sendiri. Sebenarnya bahaya karena aku bisa jatuh karena memang masih kliyengan dan jalan masih kayak robot. Tapi alhamdulillah bisa dan gak kenapa-kenapa.

Aku menghabiskan satu malam menginap sendirian saja di rumah sakit. Sengaja aku tak meminta bayiku untuk room-in karena kondisiku yang masih belum pulih. Hanya jika dia harus minum susu (tiap 3 jam, atau jika dia haus minta minum) saja dia akan dibawa suster kekamarku dan akan diambil lagi untuk ditidurkan di ruang bayi jika aku sudah selesai menyusui.

Esok harinya, sekitar pukul 5 sore, aku sudah dibolehkan pulang ke rumah. Berdasarkan hasil observasi dokter kandungan dan dokter anak, baik kondisiku maupun bayi sudah siap untuk pulang. Dokter Bishop sempat berkomentar, “Jadi Anda cuma datang, langsung melahirkan, dan langsung pulang ya.” He…he..memang gak perlu pake lama-lama kali, dok. Oh ya, suster rumah sakit kan gantian ya bertugasnya, sistem shift gitu. Tiap kali ganti shift, pasti susternya bilang, “Oh, ibu ini yang melahirkannya cepet banget itu ya?” Ha…ha…ha…ternyata beritanya sudah menyebar di kalangan mereka.

Begitulah kisah tentang peristiwa persalinanku. Maaf panjang banget kayak kereta api..hi..hi. Ini nulisnya juga nyicil dan nyuri-nyuri waktu. Yang mau berbagi kisah persalinan juga, monggo, aku gak anti sama komen panjang kok. Semoga bermanfaat ya sharing kita di sini.