Daily Prompt: Judgement Day – The Lady in Pink Boots

If you were to judge your favorite book by its cover, would you still read it?

Image

picture taken from: http://www.lspace.org/books/pqf/men-at-arms.html

I bought this book back then when I was still in Indonesia. I found it in a small book store that only sold imported books, which was tucked in, almost like being hidden, in one corner of Pondok Indah, South Jakarta. The name of the book store is Book Worm. I was there actually to meet a friend, someone who would later played an important role in my life.

As I was perusing over the shelves, I landed on a book that caught my attention. The cover was swarmed with people..eh..on a second thought one of them looked more like a giant with stony, bulky face…swarmed with creatures in medieval costumes and carrying weapons of all sorts. Well, the title is Men at Arms, so this must have something to do with the army or wars. Not really my cup of tea, but I was intrigued anyway. There was something comical in the way the illustrator created the cover, but at the same time it sort of felt like a tension build up, like a war was about to happen. At the same time, I also caught a hint of an adventure with a female character at the center of the stage by looking at that lady in an armor, with a gleaming sword in her hand, a fierce expression on her face. And she is wearing PINK boots! I couldn’t help but to reach and grab this book. One read at the synopsis and the writer’s short bio then I was hooked!

Now, I am a fan of Terry Pratchett’s Discworld novels. I have read almost every one of them and they never fail to entertain, amuse, and at the same time make me feel a little bit wiser. So if you ask me whether I would still read my favorite book if I was to judge it by its cover, the answer is a definite YES.

Advertisements

Perjuangan Dimulai

Disclaimer: Karena aku ingin mengingatnya dengan lekat, proses kelahiran kali ini aku ceritakan dengan mendetail. Ada bagian-bagian yang mungkin agak “horor” buat yang membaca. Jadi harap bersiap-siap. Lalu ceritanya juga akan panjaaaang dan lamaaaa sekali. Jadi harap bersabar membacanya.

Sebelum lebih jauh menceritakan peristiwa kelahiran anak ketigaku, perlu kiranya untuk menceritakan secara singkat mengenai kelahiran anakku yang kedua, karena keduanya saling berkaitan. Jadi, saat melahirkan putra keduaku, aku nyaris melahirkan di dalam mobil dan terlambat sampai ke rumah sakit akibat sang bidan di rumah sakit menyatakan bahwa kontraksiku cuma kontraksi KW, padahal sih sebenarnya sudah ori. Untung saja aku tetap melahirkan di rumah sakit, dengan waktu hanya beberapa menit saja karena begitu mau naik ke tempat tidur, air ketuban pecah, dan pas diperiksa bidan ternyata sudah bukaan sempurna dan mulai crowning (kepala bayi muncul).

Karena pengalaman itu, aku menjadi was-was saat menjelang persalinan ketiga ini. Menurut semua sumber yang aku baca, persalinan kedua lebih cepat dari persalinan pertama, ketiga lebih cepat dari yang kedua, begitulah seterusnya. Kalau persalinan kedua cuma beberapa menit saja (persalinan aktif tahap 2), gimana yang ketiga? Hal yang cukup menenangkan adalah jarak rumah sakit dan rumahku sekarang yang relatif dekat, kondisi lalu lintas yang jarang sekali macet, dan bahwa kami sekarang punya kendaraan sendiri, jadi gak harus menunggu pinjaman mobil datang baru bisa lari ke rumah sakit. Jadi tetap optimis lah bahwa bisa punya cukup waktu untuk ke rumah sakit.

Malam itu, hari Minggu tanggal 17 Februari 2013, aku mulai gak bisa tidur lagi akibat serangan kontraksi. Seperti halnya selama beberapa hari terakhir , aku sibuk menebak-nebak apakah kontraksi yang kualami ini KW atau ori? Palsu atau asli? (note: baca ini) Sambil menonton acara TV yang tiada bermutu (Shahs of Sunset), aku mulai jalan bolak balik di ruang tengah dan menghitung jarak antara kontraksi. Kalau kemarin-kemarin jaraknya lumayan lama, kok ini cma sekitar 15 menit ya? Lalu kok makin lama makin dekat jaraknya? Apakah ini kontraksi yang sesungguhnya? Mungkinkah ini memang sudah saatnya?

Rasa bingung berganti menjadi keyakinan saat kontraksi mulai beranjak ke 8 menit sekali dan rasa sakitnya dimulai di bagian punggung bawah. Maka, pukul 4 pagi aku bangunkan suamiku dengan kalem, maksudnya supaya dia gak panik. Sesuai dengan kesepakatan bersama, Imo dan Darrel akan kami tinggal di rumah. Sebenarnya hal ini berbahaya dan sangat tidak dianjurkan. Tapi karena memang kami tidak punya kerabat dekat yang bisa dititipi, dan juga karena hari sebentar lagi akan terang (secara psikologis merasa lebih aman daripada di malam hari), maka kami percaya dan berharap mereka berdua akan baik-baik saja. Kebetulan juga hari itu tanggal merah (President’s Day), jadi mereka berdua tidak harus bersiap-siap untuk sekolah. Nanti, jika bayinya sudah lahir, suamiku akan pulang ke rumah untuk menjemput mereka.

Pukul 4.40 pagi buta, aku dan suamiku serta segembolan barang berisi perlengkapan untuk menginap, berangkat menuju rumah sakit. Kontraksi masih datang silih berganti, tapi aku masih bisa merekam perjalanan dari rumah ke RS dengan kamera video. Sampai di RS, kami langsung menuju pintu ER (Emergency Room). Satpam langsung menghampiri untuk menawarkan kursi roda. Sebenarnya aku masih kuat jalan lo, tapi ya manfaatkan saja fasilitas yang sudah ada. Sebelum didorong masuk ke lantai dua, lantai perawatan persalinan dan bayi, aku mendaftar masuk dulu, Karena aku sudah melakukan pra-registrasi, maka cukup memberitahu namaku saja dan prosesnya tidak bertele-tele.

Nah, pas mau didorong masuk, aku lihat suamiku dengan perkasanya membawa segembolan tas berisi barang2 perlengkapan (bajuku, baju bayi dll.) Aku sempat bilang padanya, “Gak usah bawa semua dulu. Belum tentu lahirannya sekarang.” Tapi suamiku malas bolak-balik dan merasa lebih baik semuanya langsung diangkut. Jadilah selama proses berikut ini, gembolan perlengkapan lenongnya digotong-gotong kemana-mana..he…he.

Aku langsung dibawa ke ruang Triage, ruang pemeriksaan untuk menentukan sudah sejauh mana proses persalinanku, harus tinggal di RS atau diusir (duile) pulang. Suster yang menangani namanya Sarah. Pertama, aku diminta ganti baju, jadi pakai baju RS yang gampang dibuka/pakai. Lucunya bajunya ada bolongan dua biji di bagian dadanya. Sepertinya memang baju khusus utk ibu bersalin, tujuannya agar mudah nanti saat menyusui. Eh bukan bolong kayak sundel bolong yak, tapi cuma slit atau potongan lurus yang gak akan kebuka kecuali kalau sengaja disibakkan.

Pas ganti baju di kamar mandi, aku minta bantuan suamiku krn pas kontraksi datang, aku gak kuat euy kalau gak pegangan. Tapi prosesinya tetap berjalan alon-alon, gak pake panik.

Lalu suster Sarah memasang alat pemantau kontraksi dan detak jantung bayi. Tiap kali terjadi kontraksi, maka akan terpampang di layar dan tercetak di kertas semacam grafik yang memuncak, datar, begitu silih berganti. Tiap kali terjadi kontraksi, detak jantung bayi melemah bahkan spt menghilang dari pantauan, dan menurut suster Sarah itu wajar krn saat itu si bayi sedang berusaha turun ke jalan lahir. Aku dan si Ayah semakin sering berusaha menyemangati dek Bayi yang sedang berusaha keluar dengan menyerukan katakata penambah semangat bak cheerleaders ke arah perutku.

Sambil diperiksa ini itu (tekanan darah, dsb.) suster Sarah juga mengajak ngobrol mengenai sejarah kelahiran anak-anakku yang lain. Setelah itu dia menanyakan hal-hal administratif lain sambil berulang kali minta maaf soalnya kan aku lagi kesakitan, eh malah ditanya ini itu…ha..ha. Tapi dia baik kok. Pas kontraksi datang, dia akan menunggu sampai berlalu dulu, baru kemudian meneruskan pertanyaan. Di antara pertanyaannya ada tentang Birth Plan alias Rencana Persalinan. Nah, aku kebetulan memang sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari dengan menggunakan template yang disediakan oleh salah satu situs tentang kehamilan (silakan diunduh di sini). Aku gak perlu menjelaskan panjang lebar, cukup kasih kopiannya ke suster Sarah.

Dan beruntungnya aku, ternyata suster Sarah mendukung proses kelahiran yang kudambakan yaitu aku bisa mendorong alias ngeden sendiri, tanpa diperintah oleh dokter. Pengedenan (halagh) mandiri ini mengikuti datangnya kontraksi yang hanya bisa dirasakan oleh sang ibu. Dengan demikian nanti akulah yang in control. Kenapa aku pengen ngeden tanpa dipandu dokter? Karena aku gak kepengen kejadian saat persalinan anak pertama, dimana aku udah pengen ngeden tapi dilarang sama bidannya gara-gara dokternya belum datang terulang kembali. Gila aja rasanya bow, udah pengen push tapi disuruh nahan…mana bisaaa? Lagipula, ngeden mandiri ini juga terbukti merupakan salah satu cara mencegah dilakukannya episiotomi alias pengguntingan pintu keluar (sorry ya kalau ada yg ngeri ngebayanginnya, udah aku peringatin lo di atas). Dokter kandunganku juga termasuk dokter yang meminimalisir dilakukannya pengguntingan karena menurut dia itu gak baik dan sudah tidak lagi dianjurkan (kecuali ada faktor risiko tinggi).

Hal-hal lain dalam Birth Planku adalah permintaanku untuk tidak langsung diinfus, karena aku pengen cairan dimasukkan ke tubuhku secara alami, meski pada kenyataannya aku diinfus cairan juga sih nantinya. Aku juga minta agar tidak diinduksi, tidak diberi suntik Pitocin yang fungsinya memperlancar kontraksi tapi sebenarnya gak menjamin kelancaran persalinan dan malah menghalangi dikeluarkannya hormon endorfin dari tubuh kita yang fungsinya sebagai obat penahan sakit alami. Makanya banyak yg bilang kalau kelahiran diinduksi itu lebih sakit, ya karena induksi itu pakai Pitocin. Aku juga minta kelahirannya senatural mungkin, tidak ada obat2an. Hal ini sebenarnya agak langka buat kelahiran di Amriki, karena mayoritas kelahiran di sini pasti pakai bius epidural, alias bius dipasang di syaraf tulang belakang yang mengakibatkan kebal dari perut ke bawah, alias melahirkannya tanpa rasa sakit. Tapi aku gak mau epidural, karena kemungkinan efek sampingnya juga gaswat bow, dan bayinya biasanya juga “lemes” (gak awas) karena terpengaruh obat biusnya. Terserah deh orang lain mau epidural karena pilihannya. Aku memilih tidak.

Berdasarkan pemeriksaan dalam yang dilakukan suster Sarah, yang sialnya agak menyakitkan karena faktor jarinya si suster pendek (dia ngaku sendiri), ternyata sudah bukaan empat. Saat itu kira-kira waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Suster Sarah kemudian meninggalkan aku sebentar untuk menelepon dokter kandunganku dan mengkonsultasikan tindakan apa yang musti dilakukan.

Ketika dia balik lagi, kontraksiku semakin intens. Meskipun aku gak pernah latihan pernafasan untuk persalinan, secara otomatis aku berusaha mengatur nafas agar teratur saat kontraksi datang sambil memejamkan mata, sambil berusaha mensugesti diri bahwa yang kualami ini adalah hal yang wajar dan bahwa ini adalah tanda bahwa aku sebentar lagi akan menimang bayiku. Sugesti diri ini penting banget karena secara psikis membuat aku merasa kuat menjalani tiap gempuran rasa sakit itu. Kudengar suster Sarah membisikkan kalimat, “You’re doing great, yes…breath in, breath out”, seolah dia coach alias pendamping persalinanku. Suamiku juga berusaha menyemangati dan menguatkan.

(bersambung….maaf….sirene bayi sudah memanggil…hi..hi)

Persalinan Cetar Membahana!

Sebenarnya tanda-tanda si baby sudah ingin hadir ke dunia sudah mulai muncul sejak hari Rabu seminggu sebelumnya yaitu sejak aku merasakan kontraksi yang lebih seru (baca: menyakitkan) daripada biasanya di tengah malam. Rasa sakitnya sampai membuatku terbangun dari tidur. Kecurigaan semakin besar karena pas ke kamar mandi, aku menemukan ada flek-flek darah yang artinya kemungkinan besar seal atau perekat di mulut rahim sudah mulai rontok. Ini juga salah satu tanda yang kudapati saat menjelang persalinan Darrel. Yang pertama kulakukan setelah terbangun adalah: packing.

Agak keterlaluan sebenarnya, mosok kehamilan sudah menginjak 38 minggu 4 hari tapi kami masih belum siap-siap packing barang-barang yang mau dibawa ke rumah sakit. Bukannya tak bersiap-siap sama sekali sih, semua barangnya sudah kami kumpulkan, cuma belum masuk ke dalam tas saja (pembelaan diri oy). Akhirnya dengan iringan konser kontraksi yang datang dan pergi, aku memasukkan barang-barang ke dalam tiga buah tas, satu besar, satu sedang, dan satu kecil yg isinya baju dek bayi untuk pulang ke rumah nanti.

Setelah semua siap, loh kok kontraksinya mereda ya? Jiah…ini kontraksi ori apa KW sih? Kan kontraksi itu memang ada dua, sodara-sodari; yang beneran artinya yg memang terjadi menjelang persalinan dan yang palsuan alias Braxton Hicks, yang mirip dengan yang asli tapi ternyata cuma latihan saja. Karena mereda itu tadi, aku pun tidak berusaha membangunkan suamiku. Kebetulan pagi nanti jam 9 aku harus ke dokter kandungan sebagai bagian dari pemeriksaan kandungan rutin seminggu sekali di bulan ke sembilan kandunganku ini. Ya sudah, nanti kan pasti si dokter periksa dalam, alias diobok-obok tuh pintu rahimnya, dan akan ketahuan sudah sejauh mana bukaan dan penipisan dinding rahimnya. Semakin dekat dengan waktu go shownya, semakin besar bukaannya dan semakin tipis dinding rahimnya.

Dan bener aja deh. Pas ke dokter, aku malah gak merasakan kontraksi sama sekali. Dokternya mengatakan bahwa dindingnya masih tebal dan bukaannya paling2 baru bukaan 1. Huh, aku telah tertipu oleh kontraksi KW rupanya! Kata dokterku dan seperti yang aku juga tahu, tandanya kontraksi ori adalah: kontraksi akan semakin menyakitkan, mulainya dari bagian punggung bawah, jarak antara kontraksi makin dekat, dan durasi tiap kontraksi akan semakin lama. Intinya: makin cetar membahana lah.

(bersambung)

MIMPI KALI YEEEE!

Semua orang pada dasarnya punya harapan dan impian. Tapi gak semua orang bisa mewujudkannya. Salah satu contohnya seorang emak-emak beranak tiga yang berniat akan mengabadikan seluruh proses kelahiran secara lengkap serta menuliskan perkembangan bayinya dan lika-liku menjadi emak bagi seorang bayi secara rutin SETIAP HARI, dari mulai day one si bayi mbrojol ke dunia.

Nyatanya? Tettt tooottttt….manalah mongkeeen. Bisa mandi dan makan aja udah bersyukur banget. Lah, segitu lebaykah diriku? Gak juga sih. Karena kenyataannya memang demikian. Menangani bayi masih piyik dan dua bocah lincah ternyata merupakan seni akrobat tersendiri. Bagaimana rasanya kejar-kejaran dengan jadwal menyusui sambil tetap menyediakan makanan di meja buat dua bocah dan satu suami, ples menjaga supaya tangki susu juga tetap terisi penuh merupakan sensasi tersendiri. Dan itupun sudah dibantu banyak banget oleh si Ayah yang dengan suka rela mengambil alih beberapa tugas rumah tangga selain juga ikut membantu menjaga bayi.

Memang beda sekali rasanya dengan saat anak pertama dan kedua baru lahir. Saat Imo lahir, aku ngungsi ke rumah ortuku selama masa cuti melahirkan. Otomatis ada bantuan dari ibunda tercinta, belum lagi asupan makanan lebih terjaga karena ibuku rutin memasak dan masakannya pun memang enak-enak. Lalu lebih terbantu lagi dengan adanya baby sitter yang kami perbantukan sebulan menjelang cuti berakhir. Saat Darrel lahir, kami pun dibantu oleh adanya baby sitter dan ART, meski pun tidak sampai mengungsi ke rumah ortu. Jadi dulu itu kami memang “dimanja” oleh keberadaan kerabat dan asisten sewaan. Begitu sekarang, melakukan segalanya sendiri, baru deh berasa asoynya punya bayi.

Tapi satu hal yang terasa berbeda pula adalah adanya feeling of empowerment dari pengalaman kami ini. Sebenarnya ini berawal sejak masa kehamilan, lalu persalinan, hingga kini dan nanti. Aku sebagai ibu meski tersandung-sandung, merasa mendapat semangat baru dengan kehadiran bayi kami ini. Rasanya puas kalau melihat dua kakaknya sudah keurus baik makannya dan hal-hal non-fisik lain, sementara si baby juga tertangani dengan baik (meski gak sesempurna harapan). Ada juga rasa bahagia melihat kedua kakak bersemangat turun tangan membantu merawat adiknya dengan cara berusaha menghiburnya saat dia menangis dan mama sedang repot di dapur, sampai dengan mengisi suplai popok di changing station. Aku juga belajar untuk lebih nrimo, dalam artian gak terlalu ambisius dalam hal penanganan anak dan rumah. Kalau terlalu berharap semua beres dan sempurna, bakal frustasi soalnya. Yang realistis saja deh.

Begitu juga dengan keberadaanku di dunia maya. Aku akan berusaha realistis. Kapan bisa menulis dan mengunjungi lapak teman2, akan aku jalani. Jika tak mungkin, ya sudah, gak usah bersedih. Toh keberadaan di dunia maya itu bukan segalanya. Mudah-mudahan, meskipun aku byar pet, kedap-kedip lampu disko di WP, teman2 di sini masih tetap mau menjalin pertemanan denganku. Maaf jika susah berkunjung rutin. Tapi tetap aku usahakan kok.

Semoga mimpi yang masih terhutang, yaitu kisah proses persalinanku yang buatku juga berbeda karena baru pertama kalinya dilakukan di negeri orang, juga nanti bisa sama-sama kita baca di sini.