Ternyata Korbannya Perempuan

Tadi pagi, sehabis pulang bersepeda aku ketemu sama tetangga atas yang baru ke luar apartemennya. Aku tanya dia sudah dapat kabar baru belum tentang kejadian di apartemen seberang. Dia bilang temannya kebetulan seorang wartawan yang menulis tentang kasus itu di surat kabar lokal.

Dari temannya dia dapat info kalau yang meninggal itu seorang perempuan! Dan perempuan itu tewas dengan dua luka tembakan.

“Loh, yang cowoknya kemana?” tanyaku pada si tetangga karena si tetangga juga yang waktu itu kasih tahu aku kalau yang tinggal di situ pasangan
cowok-cewek.

“Gak ada di situ dan sampai sekarang polisi masih mencarinya,” gitu jawab si tetangga. Hmmm… mencurigakan deh. Kok cowoknya menghilang?

Begitu masuk rumah, langsung aku nyalakan lapie dan cari berita di Internet. Sejak hari minggu kemarin aku sudah berkali-kali tanya mbah Gugel, tapi gak ketemu juga beritanya. Ternyata oh ternyata, aku salah masukkan keywordnya karena kukira yang jadi korban penembakan adalah laki-laki.

Dan bingo! Ketemu beritanya!

Korban ternyata bernama Molly Marie Young yang baru berusia 21. Ada fotonya juga di berita online itu. Aduh, cantik dan muda tapi kematiannya tragis begitu. Tak urung sedih juga membaca beritanya.

Dalam pemberitaan itu terdapat keterangan bahwa Molly tidak tinggal di apartemen seberang, tapi dia sedang ada di Carbondale dalam rangka mengunjungi mantan pacarnya. Mantan pacarnya bekerja sebagai operator panggilan darurat (dispatcher) di kantor polisi.

Nah, sampai sini, aku masih belum jelas apakah cowok yang tinggal di apartemen seberang itu adalah mantan cowoknya almarhumah Molly yang kerja di kantor polisi, seperti yang dimaksud di dalam berita.

Tapi terjawab satu pertanyaan kenapa sampai kepolisian negara bagian dengan CSI-nya dilibatkan, yaitu karena ada kemungkinan si eks-pacar ini terlibat. Kepolisian Carbondale beralasan bahwa mereka tak mau ada konflik kepentingan, makanya meminta bantuan polisi negara bagian.

Sampai sekarang kasusnya masih dalam penyelidikan dan belum ada tertuduh yang ditahan. Polisi pun masih belum mengeluarkan pernyataan apakah ini kasus pembunuhan atau bukan.

Polisi memberikan keterangannya dengan sangat terbatas. Lucunya, dari komentar di situs pemberitaan itu disebutkan bahwa sebuah berita online mengindikasikan keterlibatan orang dalam kepolisian dalam pembunuhan dan besoknya berita itu langsung dihapus! Tapi berita online pagi ini, 5 hari setelah kejadian mengungkapkan tentan mantan pacarnya Molly yang anggota kepolisian meskipun tidak ada kalimat yang menunjukkan bahwa si eks-pacar ini dicurigai sebagai pelaku.

Mudah-mudahan kasusnya bisa cepat terpecahkan ya. Biar si Molly dan keluarganya tenang.

Berita tentang tewasnya Molly bisa dilihat di sini dan situ.

Tadi Malam Dengar Bunyi Tembakan?

Sabtu pagi kemarin jam 10, pintu apartemen mungil kami diketuk. Suamiku mengintip dari jendela dan membuka pintu. Anak-anak ikutan ngintip. “Ma, polisi, Ma!”

Heh! Polisi? Waduh, ada apa ini? Ada sekitar 3 menit suamiku berada di luar dan menjawab pertanyaan si polisi. Sementara Imo laporan lagi dari hasil mengintip di jendela bahwa ada banyak mobil polisi yang diparkir di area parkir depan rumah.

Begitu masuk, suamiku langsung menjelaskan bahwa polisi tersebut menanyakan apakah suamiku mendengar suara tembakan tadi malam. “Tidak, saya pulang sudah larut dan tak mendengar apa-apa,” demikian jawab suamiku. Suamiku lalu bertanya apakah ada yang meninggal. Polisi itu mengiyakan.

Rupanya tadi malam telah terjadi penembakan dan korbannya adalah tetangga apartemen yang letaknya tepat di seberang apartemenku. Waduh!

Padahal daerah tempat tinggalku ini termasuk aman dan tenang (selain tetangga yang suka gedubrakan di atas). Tidak banyak yang pesta-pesata atau mabuk-mabukan. Malahan ini termasuk daerah tempat tinggal para manula, dan ada panti jompo yang besar sekali di dekat sini. Makanya heran juga kalau bisa terjadi peristiwa kejahatan sebesar ini.

Oya, selain mobil polisi, juga ada mobil polisi negara bagian yang bertuliskan CSI. Aku jadi teringat akan serial CSI yang ngetop itu. Aku juga melihat seorang petugas yang memakai jaket bertuliskan coroner. Para petugas yang datang juga bukan hanya yang berseragam, malahan lebih banyak yang memakai jas dan dasi lengkap, resmi banget. Kayaknya sih mereka detektif, atau malah FBI? Entahlah.

Tapi di sini tak seperti di Jakarta, yang kalau ada kejadian, pasti warga langsung ngumpul, media langsung datang. Kameraman TV setempat baru muncul pada sore hari, menjelang tubuh korban diangkut ke ambulans. Penghuni apartemen lainnya, gak semuanya, ke luar saat ambulans datang dan cuma berdiri di kejauhan. Cuma satu dua yang berusaha menghampiri polisi dan menanyakan ada kejadian apa. Dan tak ada satu pun yang mencoba melongok ke dalam apartemen itu, meski tak ada police line yang dipasang di sekitar situ.

Imo dan Darrel malah excited melihat banyak mobil polisi dan ambulans. Mereka tanpa takut malah main ke luar, Diizinin lagi oleh emaknya. Dasar deh. Tapi menjelang jenazah akan diangkut ke luar apartemen, seorang tetangga mengetuk pintuku mengingatkan bahwa anak-anak di luar sendirian. Mungkin takut kalau ada hal-hal menyeramkan yang akan dilihat anak-anak, meski aku yakin mayatnya gak bakalan diumbar oleh petugas. Pasti akan ditutup atau dimasukkan ke kantung mayat. Dan memang benar, mayatnya dibungkus kain putih.

Yang juga mengherankan, polisi mulai datang jam 10 pagi, tapi korban baru diangkut pukul 6 malam (tapi langit masih terang benderang lo). Jadi ngapain aja ya para polisi dan detektif itu selama 8 jam di situ? Mengumpulkan bukti-bukti pastinya. Berarti ini benar pembunuhan?

Dari hasil obrolan dengan tetangga-tetangga lain yang kebetulan sempat berkumpul persis di depan apartemenku dan membincangkan tentang peristiwa aktual itu, korban yang meninggal itu adalah seorang pria berkulit putih yang masih muda. Tapi gak ada seorang pun yang kenal siapa namanya, kerjanya dimana, orang asli sini apa bukan. Ya gimana mau saling kenal, ini aja ada peristiwa dulu baru mau saling bertegur sapa dan ngobrol.

Begitulah laporan peristiwa sedikit menegangkan yang baru-baru ini terjadi di sekitarku.

Juri Oh Juri

Sejujurnya, menjadi juri lomba Narsisku Bahagiamu kemarin itu cukup bikin aku ngos-ngosan. Bukan saja harus mantengin lapak sendiri dengan beberapa postingan khusus lomba, tapi juga harus keliling dari lapak ke lapak para peserta. Belum lagi bikin rencananya, bikin aturannya, cari donat…ur, serta detail lainnya. Untungnya kemarin aku gak sendirian. Ada tiga juri cantik lain yang benar-benar membantu sehingga aku gak pusing sendirian.

Tercatat sejak tanggal 28 Oktober 2011, kami berempat yaitu aku, mbak Arie, mbak Niez, dan mbak Evia sudah mulai kasak-kusuk di belakang layar. Tapi ya gitu deh, namanya juga para penganut ootisme yang taat dan fanatik, maka jalur diskusi lomba pun tak urun dari pembicaraan yang melenceng ke kanan dan ke kiri. Dari mulai bicarain lagu, makanan, postingan MPers lain, sampai becandaan yang bikin perut mules, hingga topik-topik lain di luar lomba membanjiri diskusi. Tapi gak ada yang protes, wong sama-sama saling menikmati. Makanya kalau jumlah komen sampai mencapai hampir 3.500 ya gak heran… wong banyak haha-hihi-nya.

Tapi asli seru banget. Dan kalau dipikir sebenarnya ajaib lo, kami yang lokasinya beda-beda dengan zona waktu yang kebolak-balik bisa tetap ganyeng dan tabah sampai akhir menjalani peran jadi juri. Bayangin aja, saat dua juri di Ngamrikih udah mau bobo, eh 2 juri di Indonesia baru mulai melek. Begitu pun sebaliknya. Tapi untungnya juri2nya kampiun kalongwati semua, bahkan sampai yang bumil juga hobi begadang (untung gak diseblaki sama Bang Roma). Sehingga, kendala waktu itu juga tak menjadi masalah yang berarti.

Belum lagi kalau dilihat di atas kertas, para juri ini seperti layaknya ulet keket yang gak mau diem, alias di kehidupan nyatanya mereka juga banyak kesibukan. Ada yang nguli di radio, nguli di kampus, nguli di sumur, nguli di dapur, lagi mlendung, dsb. Herannya mereka masih betah aja nongkrongin lapie atau HP demi diskusi soal lomba (dan ber-OOT ria). Bahkan ada yang meski sudah dipenjara sama polisi ganteng, masih juga nekad bikin rencana membobol penjara! Niat banget kan tuh!

Selain karena memang sudah berkomitmen untuk ngurusin lomba, ya mungkin bisa jadi kompak begitu karena kami menyatukan business with pleasure, sesuatu yang katanya sih pantangan buat orang yang berbisnis. Tapi, memang auranya Multiply kan memang bukan strictly business dimana orang-orang kaku menyampaikan opini dalam bentuk blog dan komentarnya juga serba formil dan jaim tralala. Iya kan? Iya kan? Jadinya gak salah juga kalau empat juri ini, meski seriyes mengelola lombanya tapi juga gak melupakan unsur happy-happy dalam melaksanakannya.

Dan tahu gak? Mosok lomba udah berakhir sejak beberapa minggu yang lalu, tapi forum diskusinya masih lanjut aje! Ha…ha…ha. Dilanjutkan dengan apa kalau udah gak ada lombanya? Ya dengan OOT lah. Hidup OOT!

Makasih dari lubuk hati yang paling dalam untuk rekan-rekan juri yang udah banyak banget perannya dalam lomba Narsisku Bahagiamu. Semoga persahabatan kita berlanjut terus ya sampe jadi nenek-nenek pake iPad 50, dan dengan adanya mesin teleportasi, bisa saling mengunjungi beneran, makan Black Forest dan Duren bareng sambil cekikikan dan bernostalgia tentang waktu kita dulu ngadain lomba di MP. Hi..hi…hi.

Inilah Narsis dan Bahagia Mereka!

Setelah perjalanan panjang lomba Narsisku Bahagiamu yang kemudian disusul dengan lomba Pedagang Paling Menginspirasi yang hasilnya telah diumumkan di sini dan situ, maka tibalah pada saat-saat menyenangkan yaitu saat para pemenang berbagi dengan para pedagang yang sekelumit perjuangannya telah diangkat dalam bentuk tulisan dan gambar. Dan terus terang, ini juga termasuk hal yang kami tunggu-tunggu. Terbayang sudah kegembiraan di wajah para pedagang saat menerima kejutan hasil kerja keras para peserta lomba, yaitu teman-teman MPers yang hebat-hebat.

Sejak awal meluncurkan lomba Narsisku, Bahagiamu, kami sadar sepenuhnya bahwa tantangan dalam lomba ini bukan main-main. Tidak sekedar hanya menulis yang kami yakin sudah sangat jago dilakoni oleh para MPers, namun peserta juga harus memberanikan diri untuk berpose ala pedagang sekaligus berani mewawancarai mereka. Tapi kami yakin MPers pasti bisa, apalagi motivasinya bukan sekedar narsis atau ajang unjuk gigi, tapi ada sesuatu yang lebih di balik itu.

Sempat kecewa dan cemas juga saat jumlah peserta merambat dengan perlahan. Sampai kemudian kami melakukan perpanjangan waktu. Dan alhamdulillah, akhirnya terkumpul 31 setoran yang kualitasnya bagus-bagus baik dari segi narsisnya maupun tulisannya. Sebagian mengumpulkan menjelang deadline, alias penganut mepetisme…hi….hi. *seblak-seblak pelakunya*

Proses penjurian berlangsung lancar dan kami tanpa kesulitan menemukan pemenang pertama, kedua, dan ketiga. Pengalaman juri yang tiga perempatnya berkecimpung di dunia jurnalistik dan fotografi membuat penjurian berlangsung aman tentram, argumentatif tapi tidak sampai gebrak-gebrak meja.

Oh ya, menjelang penjurian, tiba-tiba para juri dikejutkan dengan tawaran donasi dari berbagai sumber yang tidak mau disebut namanya. Rupanya donatur ini terharu membaca perjuangan para pedagang dan ingin berbagi rejeki dengan mereka. Tentu saja tawaran ini disambut hangat karena kami juga merasakan keharuan yang sama dan sering membatin, ‘Aduh gimana dengan pedagang yang ini ya seandainya peserta ini ternyata gak menang?’
Sesuai dengan permintaan donatur, maka dana tersebut diputuskan akan dibagikan secara merata ke semua pedagang yang diikutsertakan dalam lomba.

Tapi kemudian keajaiban lain berturut-turut datang setelah pemenang diumumkan dan kejutan kedua yaitu bahwa semua pedagang akan menerima hadiah juga diumumkan. Jumlah donatur makin bertambah dan dana hadiah yang ada juga membengkak! Jumlah dana yang tadinya berjumlah 150 ribu untuk tiap pedagang akhirnya dapat dibulatkan menjadi 200 ribu. Belum lagi hadiah buku satu kontener dan paket hadiah lain yang disumbangkan oleh sesama MPers. Benar-benar bikin terharu…hiks. Alhamdulillah!

Akhirnya secara spontan, kami memutuskan untuk mengadakan lomba susulan yaitu lomba Pedagang Paling Menginspirasi yang melibatkan bukan hanya peserta tapi juga pembaca yang akan menentukan pemenang dengan cara memberikan suara mereka. Dan kami salut pada para peserta yang sudah meluangkan waktunya untuk berkampanye terutama melalui tulisan. Padahal tidak sedikit yang lumayan sibuk, tapi masih bersemangat untuk meramaikan lomba ini tak lain tak bukan demi lebih membahagiakan pedagang yang dijagokan mereka. Animo dari para pembaca juga lumayan dan akhirnya memang terbukti, mereka yang rajin berkampanye itulah yang pedagangnya paling banyak dipilih.

Kini, tibalah saatnya para peserta membagikan hadiah kepada para pedagang dan sesuai dengan permintaan kami, mereka harus merekam kejadian ini dalam bentuk tulisan dan foto. Berikut ini tulisan tentang penyerahan hadiah yang telah diposting oleh para peserta:

“Senyum Abdullah Bahagia Saya” karya Itsmearni
“Jembatan Kebahagiaan” karya Ibuseno

Jurnal ini akan diperbarui setiap kali ada peserta yang memosting laporan penyerahan hadiah.

Salam manis dari panitia yang belum bubar juga…ha…ha…ha.

PS: Terima kasih buat Anaz yang sudah mengingatkan untuk menulis postingan ini. *cubit Anaz*

[Lomba Pedagang Paling Menginspirasi] Jika Mas Warno Kejar-Kejaran dengan Abdullah

Yak, begitulah proses penghitungan suara pemilihan Pedagang Paling Menginspirasi yang ditutup hari Kamis minggu lalu 8/2/2012. Nama Mas Warno dan Abdullah berulang kali terbaca dan angka perolehan suaranya hampir berimbang.

Setelah dilakukan penghitungan secara menyeluruh maka berikut ini lima besar dari hasil pemungutan suara:



Tiap peserta pedagang berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 135.000,00 dan peserta penulisnya akan mendapat masing-masing dua buah buku.






Sedangkan untuk pemilih, tak ketinggalan mendapat hadiah juga. Tiga orang pemilih yang namanya muncul dalam pengocokan ala arisan adalah:

Mbak Mia (miapiyik)

Mbak Dyah (bundafayyaz)
Mas Roel (roelworks)

Ketiga peserta yang beruntung ini masing-masing akan mendapatkan hadiah berupa satu buah buku dan abon pedas. Bagi ketiga pemenang ini, harap segera menghubungi mbak Niez (rengganiez) untuk memberikan alamat masing-masing untuk kepentingan pengiriman hadiah. Bagi yang berdomisili di luar negeri, harap memberikan alamat lokal (Indonesia).

Oh ya, untuk para peserta dan pemenang yang menerima uang tunai, silakan memeriksa rekening bank Anda masing-masing karena tadi mbak Niez sebagai bendahara dadakan telah mengirim semua hadiah, kecuali bagi mereka yang memang meminta agar hadiahnya tidak dikirim sekarang. Semoga bermanfaat ya untuk para pedagang dan peserta.

Dan jangan lupa, semua peserta diwajibkan menulis laporan pemberian hadiah bagi para pedagang lengkap dengan foto-fotonya. Ini demi membagi kebahagiaan ke seluruh penjuru MP, sesuai judul lomba yaitu Narsisku, Bahagiamu.

Selamat bagi semua peserta pedagang, penulis, dan pemilih! Terima kasih atas partisipasi semua pihak yang terlibat dalam lomba Narsisku, Bahagiamu dan lomba Pedagang Paling Menginspirasi. Kalian semua hebaaaaaat!


Salam manis dari panitia.

Filosofi dalam Memasak by Suminten Teguh

* Jangan masukkan irisan bawang atau bumbu yang sudah diulek ke dalam minyak yang terlalu panas, karena selain meletus-letus, juga bumbu bisa langsung gosong.

Artinya:
Jangan biarkan persoalan terlalu memanas, sehingga apapun solusi yang ditawarkan tidak akan mempan, malah berbalik ke diri kita sendiri. Sebaiknya tangani konflik sebelum mencapai klimaks, atau tunggu hingga panasnya reda, baru memberikan saran.

* Dengan takaran yang tepat, penanganan yang sesuai resep, serta suhu oven yang akurat, maka sebuah cake akan mengembang sempurna.

Artinya:
Sebuah hubungan, baik percintaan maupun bisnis, harus ditata dengan hati-hati, langkah demi langkah, dan sesuai takarannya agar bisa berkembang menjadi hubungan yang memuaskan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya.

* Taburan garam dan gula pada sebuah masakan dapat menggantikan vetsin yang berbahaya bagi kesehatan.

Artinya:
Setiap kenikmatan hidup yang merusak tubuh dan jiwa sebenarnya memiliki bahan penggantinya yang lebih aman dan sehat. Kita hanya harus disiplin mengalihkan diri dari yang merusak ke yang tidak merusak.

Sejauh ini baru tiga filosofi hidup yang bisa Sum gali dari proses masak-memasak. Silakan jika ada pembaca yang ingin menambahkan dengan penafsiran dari proses memasak lainnya.

Salam hangat dan penuh cinta dari Suminten…

*note: Maaf, Suminten belum bisa menerima undangan seminar atau mengisi pelatihan karena masih sangat sibuk mengosek sumur. Silakan menghubungi pembicara lain yang mungkin jadwalnya masih lowong. Terima kasih.

[Celoteh Darrel] Khayalan Tingkat Tinggi

Kalau Mbokde Beyonce bisa berkhayal dalam lagu “If I were a Boy,” maka Darrel bisa berkhayal jadi presiden Amerika dalam sebuah tulisan dan gambar.

Jumat kemarin, seperti biasa anak-anak membawa folder khusus sekolah yang isinya segabruk kertas. Kebanyakan sih hasil tugas mereka di sekolah serta beberapa pengumuman, tapi ada satu tugas sekolah Darrel yang menarik perhatianku.

Jadi, murid-murid TK di kelasnya Darrel disuruh berandai-andai jadi presiden dan apa yang akan mereka lakukan. Dalam kotak yang disediakan untuk ilustrasinya, Darrel menggambar sebuah bangunan biru yang tinggi, sebuah mobil warna merah, dan pesawat tanpa warna. Lalu, di bagian tulisan, dia menulis:

(If I Were President)

I would make a new invisible plane.

I would make the highest skyscraper.

I would make a car that can go to the speed of light. *

Jiaaaahhh… gaya banget kau Nak. Emak Kece dan si Ayah cuma bisa ketawa-ketawa sambil terheran-heran; darimana sih idenya?

Tapi kalau dianalisa lagi, ketiga khayalan Darrel itu masuk ranah teknologi dan pencapaian fisik yang khas anak cowok banget ya, secara dia sering main Lego dan balapan PS3, suka mobil-mobilan, dan pernah diajak jalan-jalan mengunjungi gedung tertinggi di AS yang kebetulan ada di Chicago, gak gitu jauh deh dari tempatku. Terus, serba ter- (cepat, tinggi, cangih sampai bisa invisible) itu artinya apa ya? Apa itu artinya dia sangat kompetitif? Atau terpengaruh ultra nasionalismenya Amerika? (ini sih emaknya aja sok kejauhan mikir…ha…ha)

Besok-besok kasih tahu Darrel tentang perang kali ya, biar dia tulis juga “World Peace” sebagai salah satu khayalannya. He…he…he.



*Note: Ejaan telah diperbaiki, secara dia nulis sendiri tanpa buka kamus atau dibantu guru dan emaknya sehingga di tulisan aslinya ada kesalahan ejaan.