[Lomba: Narsisku Bahagiamu] Perpanjangan Waktu

Di suatu hari 4 orang cewek jagoan mengobrol lewat jalur PM… dan saya akan menyebarluaskannya di sini…hua…ha…haaaaa! *ketawa genderuwo* Kenapa? Ada yg gak suka? Gak boleh nyebarluaskan PM ya? Biarin ah. Jadi begini isi pembicaraannya:

A: “Lomba udah hampir habis waktunya, tapi pesertanya masih dikit gimana tuh?
B: Biarin aje… makin dikit malah kerjaan kita gak banyak…hi…hi…hi.
C: Heee… enak ajah. Malu2in aje ngadain lomba pesertanya cuma seuprit. Kehormatan kita dipertaruhkan nih!
D: Benar! Jangan sampai kalah dengan lomba2 lainnya yg pesertanya membludag!
B: Lah? Emangnya ada lomba diantara perlombaan? Kagak lah. Emangnya kita saingan dagang?
A: Iyaaa… kita mah sekedar mau ngeramein MP aja. Kalau ternyata enggak berhasil rame juga? Gimana?
C: Lu dari tadi nanya melulu. Kasih solusi dong!
A: Ya simple aja atuh. Diperpanjang aje waktunya.
D: Yah. Itu mah basi banget tahu. Lomba pake dipanjang2in waktunya.
C: Eh, tapi bener lagi kata si A. Siapa tahu kemaren itu banyak yang dapet halangan, terus ada liburan panjang juga kan pas Desember ini.
A: Iya, ada juga yang terhambat karena kecepatan ngempinya menyiput… lamban kayak siput gitchu.
B: Ya udah, dipanjangin aja deh…. Mau berapa meter?
C: Kalo situ murahin, ane ambil 10 meter deh. Kontan.
A: Kalo kiloan aja gimana, Bang?
D: Nah kan… OOT lageeee! Kebiasaan! Bubaaaarrr!
A, B, C *bisik-bisik*: Galak amat yak dia… lagi stress kali…hi…hi…hi. *cekikikan kuntilanak*
D: Jadi mau sampai kapan perpanjangannya. Jangan kelamaan nanti keburu ada yg lahiran… pasti udah refot tuh kagak bisa ngurusin yg lain2.
A: Gimana kalau sampai Februari? Ada yang ultah tuh pas Februari.
B, C, D: Setujuuuu! Akur aja deh.

Kesimpulan:


LOMBA NARSISKU BAHAGIAMU DIPERPANJANG HINGGA TANGGAL 12 FEBRUARI 2012.

PENGUMUMAN PEMENANG AKAN DIADAKAN TANGGAL 29 FEBRUARI
2012.

KEPUTUSAN JURI TAK DAPAT DIGANGGU GUGAT.
PROTES SIH BOLEH, NANTI KITA OOTIN DEH.

SEKIAN

Link Lomba

Link Setoran

Link Update Peserta

Advertisements

[Lomba: Narsisku Bahagiamu] Di Balik Kelambu / Update Peserta

Aku suka banget jajan. Dari mulai jajanan abang2 lewat sampai amigos. Yang murah meriah biasanya aku suka.

Kenapa bisa suka jajan ya? Karena aku dibesarkan di keluarga penikmat kuliner yang suka berburu jajanan enak di setiap tempat yg kami kunjungi, dari mulai di restoran sampai di warung tenda. Gambaran yang agak ekstrimnya adalah, kami pernah bermacet ria menuju daerah Puncak pada saat masa liburan demi menikmati nasi tim yang enaaaak banget di sebuah resto yang ada di sana.

Lalu, pas pacaran, kebetulan dulu si bakal Ayah belum bekerja, masih mahasiswa karena aku lulus duluan sementara dia berlama-lama di kampusnya. Dengan kondisi kantung sama2 tipis, maka kami juga akhirnya memilih kencan makan sederhana, ya di warung tenda atau abang2 bergerobak.

Setelah menikah, ternyata kebiasaan jajan pinggir jalan enggak berubah. Kebetulan kami mengontrak rumah petak di daerah Pancoran. Begitu suatu hari keluar malam berdua, langsung senang banget karena sepanjang jalannya penuh warung tenda dan bisa dicapai dalam beberapa menit saja. Hore!

Sadar banget kalau banyak gak sehatnya sih. Udah gak higienis, kena asap dan debu jalanan, biasanya mengandung banyak vetsin, risikonya juga besar… bisa diare atau mendarat di rumah sakit.

Ada teman asal Jepang dulu yang dengan gagah beraninya mencicipi makanan pinggir jalan. Langsung masuk rumah sakit. Perutnya gak tahan. Kapokkah dia dengan jajanan pinggir jalan? Enggak! Tetap aja dia makan di pinggir jalan, tapi selalu harus menengok tempat cuci piringnya dulu. Kalau nyucinya cuma pake air dalam ember, dia langsung cabut. Kalau pakai keran, baru deh dia mau.

Mungkin karena sudah imun, aku dan suami jarang atau malah gak pernah ya sakit gara2 makanan pinggir jalan. Atau bisa saja gak terdeteksi karena yang namanya diare kalau gak parah2 amat sih dianggap biasa aja.

Tahu gak, sekali2nya aku diare parah sampai masuk rumah sakit justru karena makan di hotel di Jakarta saat ada orientasi sebelum berangkat ke sini. Dasar lambung ‘ndeso.

Setelah punya dua anak, kebiasaan jajan pinggir jalan juga masih kujalani. Salah satu memori tentang Jakarta yang masih tersimpan di benak Imo adalah: makan sate enaaaak banget di pinggir jalan samping universitas Al-Azhar.

Bisa dibayangkan betapa kehilangannya aku akan keberadaan jajanan pinggir jalan murmer selama tinggal di sini. Makanya saat kami sempat main2 ke NYC, langsung histeris begitu lihat ada tukang jajanan bergerobak di trotoarnya. Begitu nemu yang rasanya enak, bahkan sampai beli dua kali berturut2 (di hari yg berbeda)… meski pakai antre panjang dan lama banget.

Dan rasa kangen akan jajanan ini juga yang membuat aku ingin mengadakan lomba yg berhubungan dengan itu, selain juga karena simpati mendalam akan perjuangan para small businessmen/women yang menjadi penjaja makanan pinggir jalan. Kemudian profesi pedagang ini diperluas menjadi bukan hanya pedagang makanan, tapi juga semua jenis pedagang kecil yang menjual barang atau jasa.

Bukan muluk-muluk, misalnya ingin meningkatkan usaha mereka dengan seketika… bukaaan. Tapi keinginanku sederhana saja: Ingin menunjukkan penghargaan pada mereka-mereka yang dengan gigih masih mau berusaha di jalan yang baik, meskipun cuma bermodal kecil serta berketerampilan spesifik dan (mungkin) minim.

Dan jangan salah, sementara mungkin kita melihat bahwa mengangkat mereka dalam tulisan atau berniat membagi hadiah dengan mereka sebagai bentuk “bantuan” buat mereka, sebenarnya pada saat yang sama kita justru banyak belajar dari mereka. Dan pelajaran hidup berdasarkan pengalaman nyata itu tak ternilai harganya, bukan?

Kalau gak percaya, coba deh baca beberapa entries dari peserta lomba berikut ini:

Supir Bemor by Dieend
Bakso Bang Joni by Nahwi
Cilok Rebonding by Mahasiswidudul
Pedagang Kacang Hijau Tanpa Nama by Nanabiroe
Tukang Bubur Banyak Sebutan by Nanabiroe
Tolonglah Aku Belilah Daganganku by Rembulanku
Jamu Jun Mbah Suripah by Bambangpriantono
Odong-Odong Pembawa Keceriaan by Itsmearni
Jualan Makanan Sehat by Mmamir38
Tukang Jahit Keliling by Itsmearni
Nasi Uduk Po Edeh by Jampang
Mau Berjualan Sampai Tua? by Myshant
Tukang Sapu yang Gak Boleh Jauh-Jauh by Myshant
Pedagang “Kecil” dari Pasar Kota by Pianochenk
Andik Bukan Loper Koran Biasa by Emokidonlastevening
Lekker yang Memang Super Lekker by Afemaleguest
Hokian di Malam Tahun Baru by Myelectricaldiary
Penjual Jagung by Myelectricaldiary
Mbak Yati Penjual Jamu dari Wonogiri by Lembarkertas
Mas Gondrong by Jampang
Begitu Berartinya Seorang Pedagang Sayuran by Deikka
Seruling Malam yang Kutunggu by Ibuseno
Nasi Kuning Mamanya Selfi by Pianochenk
Tradisi yang Sudah Turun Temurun by Deikka
Mbak Sayur, Sahabat Keluarga Kami by Nurusyainie
Harapan Dalam Sepotong Tahu by Debapirez
Tak Takut Pada Genderuwo Atau Bencong by Sarahutami
Mie Ayam Penuh Senyuman by Debapirez
Teeee…… Sateeeeee…. by Mahasiswadudul
Tissue….Tissue… by Aghnellia
Nasi Lemak by Anazkia

Bagus-bagus banget kan? Meski belum terlalu banyak pesertanya, tapi aku udah seneng banget karena tulisannya bagus-bagus dan bikin bangga karena MPers mau dan rela meluangkan waktu untuk mengincar pedagang, ngajak ngobrol, dan menuliskan hasil reportasenya. Yang lebih diacungi jempol lagi adalah keberanian para peserta dalam bergaya di depan kamera ala pedagang tersebut. Saluuutttt banget sama kalian!

Dan siapa saja yang berminat ikutan… buruan dehhh… waktunya udah mau habis loooo. Tinggal 1 hari lagi! Tautan lombanya adalah berikut ini:

Tentang Lombanya: Narsisku Bahagiamu
Lapak Setoran Lomba

Black Friday (3)

Kisah nyata ini lanjutan dari yang INI dan ITU.

Saat jam menunjukkan pukul 10.30 malam, si Ayah yang sempat tidur sebentar mulai bersiap-siap.

“Loh? Jadi nih berburu?” tanyaku.

“Iya. Aku mau tahu seperti apa,” jawabnya.

Langsung kusodorkan daftar barang yang sudah kubuat sebelumnya. Lah, mosok pergi begitu tanpa persiapan? Bisa bingung dong menghadapi barang2 diskonan segitu banyak. Bisa kalap juga. Makanya aku sudah buat daftar2 barang idaman yang diskonannya gede2 dan barangnya memang dibutuhkan.

Rencananya suamiku akan ke dua tempat saja: Best Buy dan Walmart. Di Best Buy kami mengincar sebuah TV layar datar yang harganya dibanting dengan amat sadis, dan di Walmart aku minta suamiku memburu piyama dan dua buah mainan buat anak-anak. Kenapa TV, karena TV kami yg sekarang selain masih layar cembung, juga sudah mulai aneh, suka ada warna kehijauan yang mengganggu di layarnya. Input kabelnya (yg di bagian belakang) juga rusak sehingga perlu diganjel pake pensil…he…he.

Suamiku pesan supaya aku siap dengan ponsel di dekatku kalau2 dia butuh tanya2. Jadilah malam itu aku cuma bisa tidur2 ayam sambil menunggu suamiku. Gak apa-apa deh, pikirku. Paling cuma sebentar, kan barang yg dicari juga cuma sedikit.

Tak lama kemudian, telepon berdering. Suamiku ternyata sedang mengantre di Best Buy. Loh? Kupikir dia mau ke Walmart duluan untuk membeli mainan anak2 yang Black Fridaynya dimulai jam 10. Ternyata saat menuju Walmart, suamiku melihat antrean panjang di Best Buy yang sudah mengular sampai ke lapangan rumput di belakang gedungnya. Suamiku langsung ikut ngantre, takut makin gak kebagian kalau harus ke Walmart dulu.

Sistem BF di Best Buy adalah sistem tiket. Jadi jam 11 kurang, petugas Best Buy mulai membagikan tiket untuk masing-masing barang yang diskonnya paling gede. Jadi cuma barang tertentu saja yg harus pakai tiket, dan tiketnya jumlahnya terbatas. Tentu saja yang mengantre paling depan itulah yang bakal kebagian tiket duluan. Tiket juga dibagikan secara bertahap. Jadi misalnya, 10 tiket buat TV bla bala bla dibagikan lalu beberapa menit kemudian 20 tiket untuk XBox 360 dibagikan, dan seterusnya. Nanti di dalam toko, hanya orang2 yang pegang tiket itu yg bisa membeli barang sesuai tiket yg dimilikinya. Hal ini dimaksudkan agar suasana di dalam toko tidak terlalu heboh.

Ketika aku telepon si Ayah lagi, menjelang jam 12, yaitu menjelang dibukanya pintu masuk ke Best Buy, ternyata suamiku gak kebagian tiket untuk TV idaman itu. Jadi akhirnya dapat tiket apaan? Beberapa barang yang sebenarnya kami tak rencanakan untuk dibeli. Hah?

“Bisa dijual lagi,” begitu kata si Ayah. Iya juga sih. Oh ya, aku belum pernah cerita ya kalau kami sebenarnya On Line Seller musiman…he…he…he. Kami punya akun di eBay dan Amazon (nulis gini dihapus gak yaaa sama admin? wink…wink) dan mencoba berjualan barang2 yang kami dapatkan dengan harga diskonan. Kenapa musiman? Soalnya baru jualan atau ngisi barang kalau lagi mood dan memang ada waktunya.

Ya sudahlah, aku pun membiarkan niat si Ayah membeli barang2 yang tak ada di dalam daftar sambil berharap agar saat di dalam Best Buy dia tidak kalap. Si Ayah juga berujar bahwa ini dianggapnya pengalaman, kan sebelumnya sama sekali belum pernah ikut ngantre saat BF seperti ini.

Lewat dari jam 12, aku sudah gak telepon2 lagi karena pastinya si Ayah sedang berada di dalam toko, berdesakan dengan pemburu diskonan lainnya. Ealah, jam 1 pagi malah dia telepon. Ternyata di dalampun masih ngantre! Dari mulai ngantre ngambil barangnya sampai ngantre bayarnya. Dan suamiku mengeluh karena antrean panjang sebagian besar diisi orang yang cuma mengambil satu game XBox, misalnya. Jadi cuma barang2 printilan. Dan demi itu mereka rela ngantre2 sampe nginep? Mungkin juga bisa sampai segitunya karena sebagian besar pengantre di Best Buy adalah anak muda, bahkan anak2 SMA. Ya, buat mereka mainan kayak gitu mungkin susuwatu banget ya.

Karena gak tahan, mata udah ngantuk banget, akhirnya akupun tertidur. Tahu gak suamiku pulangnya jam berapa? Jam 4 pagi! Huaaaaa… selama itu!
Kebayang gak orang yg pake nginep2 segala dan di dalam toko masih harus ngantre berjam2? Gile bener!

Hasil Black Friday kami adalah beberapa alat elektronik, piyama untuk anak2 dan satu buah mainan.

Hasil lainnya: perasaan kapok dan tak ingin mengulang lagi mengantre gila saat Black Friday…

… tapi gak janji deh…. ha…ha…ha. Loh, sapa tahu tahun depan ada diskon yg lebih gila lagi. Never say never dehhh…..ha….ha…ha.

(Akhirnya Tamat Juga)

Black Friday (2)

Lanjutan dari jurnal yang INI.

Sore hari di hari Thanksgiving, kami menyempatkan diri jalan-jalan ke pertokoan. Pengen tahu aja suasananya seperti apa dan juga melihat suasana antrean di depan Best Buy, toko elektronik yang termasuk salah satu toko yg diminati oleh para pemburu diskonan.

Benar saja, di depan Best Buy sudah tampak tenda berdiri menandakan sudah ada yg kemping dan juga ada deretan kursi lipat beserta para pemburu diskon yang terbungkus baju tebal. Kebetulan saat itu juga kami melihat seorang kenalan sedang aplusan. Dia menuju mobilnya sementara beberapa teman mereka (mahasiswa malaysia) baru datang untuk memulai giliran jaga mereka. Oh… gitu ya caranya supaya gak kecapekan dan membeku kedinginan di depan Best Buy. Lagipula nahan pipisnya gimana coba? Soalnya Best Buy sendiri mulai dari pagi harinya tutup, begitu pula toko2 di sampingnya. Kalau mau pipis, tempat terdekat adalah Walmart yang buka 24 jam. Pantesan harus gantian.

Karena banyak pertokoan tutup, termasuk University Mall, satu2nya mal di kampung kami, maka kami menuju Walmart. Eh, kok sepi? Pengunjung bisa dhitung pake jari dan sepertinya mereka ke situ bukan untuk berbelanja, tapi cuma melihat-lihat saja… sama seperti kami. Survei buat memburu diskonan? Bisa jadi. Hyper mart ini sepi juga karena waktu kami datang sudah menjelang jam 5 malam, hanya satu jam sebelum jam makan malamnya orang sini yang artinya jam jamuan Thanksgiving. Saat itu orang2 berkumpul dengan keluarga dan sahabat. Sedangkan kami malah keluyuran di sini? Ha…ha…ha.

Tapi entah kenapa, kok kami enjoy2 aja, meskipun orang lain melihatnya mungkin, kasihan amat deh lu. Serasa yg punya toko karena kami termasuk yg segelintir berkeliaran di situ. kami juga melihat barang2 yang bakal diserbu para pemburu diskon sudah dan sedang ditata oleh para petugas Walmart. Rupanya barang2 itu ditata di lorong2 toko dan masih dibungkus atau dalam kardus besar dengan bertuliskan: Barang2 ini baru bisa dibeli setelah jam 10 PM… atau jam 12 AM… tergantung jenis barangnya. Jadi Walmart mengadakan BF yang bertahap. Untuk mainan anak2 dimulai jam 10 malam, sedangkan barang elektronik jam 12 tengah malam.

Anak-anak, langsung mengincar mainan ini-itu. Heleh… emangnya siapa yang mau berburu? Kami sempat foto2 di dekat barang2 yang disiapkan untuk diserbu. Little did we know, kalau dalam beberapa jam saja maka toko ini akan heboh, seheboh-hebohnya dan barang2 ini akan dengan secepat kilat ludes diperebutkan para pemburu diskonan.

Puas lihat-lihat, kami pun pulang dan aku memasak kalkun yang sudah seharian direndam bumbu. Telat sih, wong sudah hampir jam 6 malam baru mulai masak…ha…ha…ha. Alhasil kalkun baru matang menjelang jam 8. Untung masih ada camilan2 lain yg cukup buat ganjel dikit2. Taraaaa… kalkunnya ternyata cukup enak, gak keasinan, gak kurang bumbu. Pas deh. Anak2 sih cukup doyan, tapi si Ayah teteup gak doyan. Dasarnya udah antipati duluan sih sama kalkun… he…he.

Selesai makan, masih bingung tuh antara berburu diskonan apa enggak. Aku bilang ke si Ayah, “Kalau capek atau ngantuk, sudahlah gak usah aja. Kita juga gak mengincar barang apapun kan?”

Dijawab si Ayah, “Lihat aja nanti deh.”

(Bersambung)