Liburan 2010-Chicago Part 4-Museum of Science and Industry Part 2

Sebentar ya, nenek bedakan dulu. Pan mau cerita sama cucu2. Cuihhh…sirihnya dibuang juga deh. Sampai mana yaaa? Ha…ha…ha…nenek lupa…namanya juga nenek2. Kalo gak salah sampe Farm Industry ya?

Otrelah…setelah agak lama menikmati traktor, aku akhirnya berhasil menyeret dua anak kecil itu untuk ke luar menuju The Idea Factory. Wahana berikutnya ini memang didesain khusus utk anak2, bahkan ada tempat khusus utk anak2 yang belum atau baru bisa jalan alias buat bayi. Seperti judulnya, di tempat ini anak2 dibebaskan untuk bermain balok, main miniatur alat berat, main semprot2an air bak petugas pemadam kebakaran, dan juga mainan2 lain yang sebenarnya ada ilmu fisika di baliknya. Anak2ku cukup menikmati, tapi terus terang aku sudah mulai capek. Buat orang dewasa di bagian ini juga agak membosankan karena kegiatannya gak ada yg buat kita2. Setelah agak lama menunggui mereka, akhirnya kami ke luar juga dari The Idea Factory.

Seperti sudah diceritakan di bagian awal, kami menelusuri museum ini tanpa arah dan tujuan, jd impulsif saja ke mana kaki melangkah dan saat melihat ada petunjuk menuju bagian tertentu, maka kami akan ke situ. Pucuk dicinta ulam tiba, kami sampai ke bagian yang namanya The Earth Revealed yang bentuknya seperti halte bis yang melingkar dan di tengah2nya ada bola besar menggantung di atap dengan gambar bumi yang diproyeksikan. Ada tempat duduknya! Hore! Iseng2 kami duduk saja sambil liat Mbak2 di tengah dengan pakaian ala petugas laboraturium.

“Welcome to Earth Revealed, you came just in time for our session,” begitu sambut si Mbak yang kelihatan masih muda banget, mungkin mahasiswi. Loh…ternyata ini sesi khusus ya? Kirain cuma tempat duduk2 sambil liat bola dunia..ha..ha..ha. Ya udah, kami yang sebenarnya agak terbatas waktunya duduk dengan manis dan mendengarkan si Mbak presentasi. Beberapa pengunjung lain juga sudah duduk dengan rapih.

Ternyata wahana satu ini merupakan presentasi tentang tata surya, mulai dari bumi sampai planet2 di galaksi kita. Mbak ini pakai lap top kecil banget dan dengan pencet2, maka bulatan besar di depan kami langsung berubah jadi planet yang dimaksud. Bagusss banget.

Coba deh aku bisa ngasih kuliah kayak gitu, pasti mahasiswa gak akan bosan. Jadi kalau kasih pelajaran tentang Shakespeare misalnya, bisa muncul gambar rumah gaya Tudornya Shakespeare, terus teaternya Shakespeare jaman dulu, serta kostum2 drama yang dipakai aktor2 (belum ada aktris lo…jd peranan cewek dimainkan oleh cowok) jaman drama Elizabethan. Mungkin bentuknya bukan bola ya, layar datar yang kualitas proyeksinya bagus, cukuplah. Lohh…kok ngelanturr…balik ke lap top Nekkkk.

Si Mbak presenter ini rupanya ingin pengunjung ikut berpartisipasi, sehingga dia sering tanya2 dan siapa yang bisa jawab akan diberi stiker. Dulu pernah juga lo, aku ngajar dng cara begitu dan hadiahnya permen..he..he. Di awal2 sesi, ada pengunjung yg tepat duduk sebelah kami yg selalu menjawab dan benar melulu. Dia laki2 dan sudah dewasa.

Selain si orang ini ada dua tangan lagi yang selalu menunjuk saat si Mbak itu bertanya. Tangan2 siapa coba? Yapppp…tangannya Imo dan Darrel! Astaga dua anak ini rupanya kepedeannya sudah seperti anak di sini saja. Eh…bahkan anak bule yang ada beberapa di sesi ini juga gak segitu2nya kok. Mereka cuma tunjuk tangan sesekali. Kalau Imo…tiap kaliii..ha..ha..ha.

Yang bikin aku terharu…duh maaf ini bukan maksud pamer…tapi berbagi kebanggaan..loh..sama aja ya? Tapi beneran, aku tu gak menduga bahwa anak2ku tahu banyak sekali hal, yang bahkan aku gak tahu. Dari sekian banyak pertanyaan, Imo menjawab hampir kira2 6 pertanyaan dengan benar. Mbaknya gak punya pilihan lain utk lagi2 memilih Imo karena di beberapa pertanyaan cuma dia yg tunjuk tangan. Beberapa yang aku masih ingat adalah pertanyaan tentang pertanyaan kenapa gak bisa ditemukan air di planet Jupiter (karena planet itu terbuat dari gas). Dan juga juga nama 2 bulan dari sekitar 16 bulan yg mengitari Jupiter yang bisa ditebak Imo cuma dari melihat gambar proyeksinya (Europa dan Io). Aku dan suamiku cuma bisa cengengesan ketika si Mbak2nya itu tampak senang karena anak kecil kulit coklat ini bisa jawab banyak pertanyaan dengan benar. Kami benar2 gak nyangka dan juga jd salah tingkah krn otomatis perhatian pengunjung jadi ke arah kami.

Bagaimana dengan Darrel? Dia juga selalu angkat tangan ketika ada pertanyaan. Aku pikir cuma karena ikut2an kakaknya. Eh, pas si Mbak tanya siapa yang pertama kali mendarat di bulan dan dia memilih Darrel utk menjawab, tahu gak jawabannya apa? “Astronout!” gitu katanya. Hua..ha..ha…lucu banget kan. Si Mbaknya membenarkan sambil menambahkan nama si astronot (Neil Amstrong) sambil memberinya stiker sebagai penghargaan. Darrel bangga sekali. Aku lebih heran lagi melihat dia berani tunjuk tangan dan jawab karena sehari2nya kalau di sekolah dia termasuk anak yang pemalu dan gak mau ngomong. Kalau kakaknya sih memang lebih pede.

Aku jadi bertanya2, apa sebenarnya si Imo kalau di sekolahnya juga seperti itu, selalu bersemangat menjawab pertanyaan guru. Pas ditanya sesudah acara di Earth Revealed selesai, jawabnya iya. Oh…pantes semua guru kelasnya selalu suka padanya. Sebagai pengajar, aku juga suka kalau muridku aktif di kelas, gak diem aja apalagi kalau sampai ketiduran di kelas…ehhh…gak banget deh.

Sesi yang berlangsung sekitar 20 menit itu berakhir dengan menyenangkan. Imo dan Darrel dihampiri oleh si Mbak2 presenter dan dia bersedia menjawab beberapa pertanyaan dari anak2 seputar planet2. Aku dan suamiku masih nyengir2, lebaaaar banget. Gak nyangka, itulah perasaanku. Alhamdulillah, aku bersyukur banget. Kalo anak2ku pintar, itu pasti bukan karena aku..itu semata2 karunia Tuhan. Soalnya aku masih merasa kurang maksimal. Aku bukan tipe Ibu yang menggenjot anaknya utk belajar di rumah, paling2 cuma memfasilitasi dan mendampingi. Jadi kalau dia ternyata termasuk ‘istimewa’, aku juga sungguh heran sekaligus sangat bersyukur.

Dari wahana Earth Revealed yang sangat mengesankan bagi kami berempat, kami menuju bagian bawah museum dimana disimpan bangkai kapal selam (masih utuh) milik Jerman yang disita Amerika saat PD II. Kapal selamnya gede banget dan pengunjung bisa masuk ke dalamnya dan melihat2 dengan ikut tur khusus. Tapi, karena harus bayar lagi, kita gak ikutan..he..he. Toh di bagian luar kapal selam juga ada model dari ruang2 di dalamnya, termasuk peluru misilnya. Aku yang gak begitu minat memanfaatkan waktu utk duduk istirahat sementara anak2 dan Ayahnya melihat2 dan bereksperimen dengan beberapa alat peraga dan model yang tersedia.

Dari lihat2 kapal selam, kami menuju Fairy Castle yang ternyata tidak seru. Aku pikir ada banyak miniatur puri2 jaman dulu, ternyata gak banyak dan membosankan sekali. Karena badan juga sudah capek, kami akhirnya memutuskan pulang saja dan jika besok2 ada waktu akan mampir lagi untuk melihat wahana2 yang belum kami kunjungi.

Di depan museum, kami sempat foto2 sebentar dan balik lagi ke mobil sambil berharap semoga gak ada tiket alias karcis tilang. Ternyata gak ada! Selameeetttt. Yipi…hemat biaya parkir 14 dollar! Kamipun segera menuju hotel yang ternyata jauh buanget…sekitar 45 menit perjalanan! Gile deh. Sempat nyesel juga milih hotel jauh banget. Semoga hotelnya gak mengecewakan deh, jadi agak terobati nih penyesalannya.

Lanjut besok lagi ya. Mangap banget, aku mau bobo cepet nih rencananya biar besok bisa bangun pagi banget dan jalan pagi…soalnya sekarang jam 7 pagi aja udah silau banget.

Lagi Males

Lagi kumat males nulisnya….maaf…maaf. Duh ge-er, berasa ada yg nunggu tulisanku. Wong cuma tulisan remeh-temeh. Makasih ya temans, selama ini sudah membaca dan merespons curhatanku di MP dengan sangat menyenangkan. Ini salah satu sebab kenapa aku betah di MP.


Lagu Lawas? Waksss!!!

Barusan, aku dengar lagu “Inikah Cinta”-nya ME di radio Ardia dng bantuan Jogja Streamers hasil bocoran rekan Gotrek. Sambil nyanyi2 juga sedikit goyang2 badan (lumayan…senam), aku sangat menikmati lagu2 di radio ini. Kok baru hari ini nyoba ke radio ini ya, tadinya di Swaragama melulu.

Mbak penyiarnya menyela di antara lagu dan bilang,”…radio para senior…lagu lawas…” Waks!!!! Kurang asem! Lagu yang aku bilang enak di kuping dan lirik2nya masih bisa aku nyanyikan ternyata sudah digolongkan tembang lawas. Ohhhh…daku berasa tuaaaaa.

Liburan 2010-Chicago Part 3-Museum of Science and Industry Part 1 (Ha..ha…ha..kok jd banyak Part2an seeh?)

Ciluk Baaaa!!! Nenek muncul lagi Cu. Masih mau diceritain kagak? Mau enggak mau, pokoknya nenek maksa mau cerita..ha..ha. Langsung aje ya Cu. Siap2 ya…agak panjang nehhh. Yang mau pipis dulu silahkan, yg mau minum atau ambil camilan, silahkan. Siappp???

Dari C’dale kami langsung menuju ke Museum of Science and Industry. Perjalanan 5 jam lebih kami lampaui dengan lancar, alhamdulillah. Begitu melihat hamparan Lake Michigan di pinggir jalan sebelah kiri, kami langsung tahu bahwa tujuan kami sudah dekat.

Tadinya kami mau parkir di tempat parkir museum yg ada di bawah tanah. Tapi kok di seberang museum ada taman dan di sekitar taman itu kok ada banyak mobil diparkir ya? Kami langsung cari tempat kosong sambil liat2 adakah tanda dilarang parkir atau adakah meteran parkir (biasanya utk parkir per-setengah jam dan tinggal diisi koin). Ternyata keduanya gak ada. Dengan nekad kami parkir saja karena melihat mobil2 lain juga begitu dan mereka gak ada stiker khusus atau tanda lain yg menunjukkan bahwa mereka boleh parkir di situ. Lagipula gak ada larangan parkirnya kok, kecuali pas hari kerja. Di sini memang tanda P coret itu biasanya berlaku cuma di hari kerja, kalo akhir pekan gak berlaku dan pasti ada tulisannya di bawah plang P coret tersebut.

Parkir beres, kami berjalan menyusuri taman menuju museum. Gak jauh kok, tapi harus deg2kan nyebrang jalan raya dimana Chicago sudah terkenal pengemudinya ngaco tralala. Rupanya insting gahar penjelajah jalan2 Jakarta sudah mulai pupus. Gawat nih. Padahal selama putar2 di Chicago, kami berkesimpulan bahwa mayoritas pengemudi di Jakarta teteuppp lebih brengsek daripada di sini..hi..hi..hi.

Pintu masuk ke museumnya cukup aneh, karena letaknya tidak menonjol dan sepertinya memang dibangun belakangan karena desainnya beda dengan bangunan utamanya. Begitu masuk, kami malah harus turun ke lantai bawah (underground) untuk ke loket. Inilah dia saat-saat dimana kesaktian ASTC Passport akan diuji. Jreng…jreng…jreng!!!! Beruntung kami datang saat tidak banyak pengantri, jd langsung deh ke depan Mbak2 penjaga loket. Langsung keluarin kartu sakti yang penampakannya sama sekali gak sakti karena cuma kertas yang dilaminating. Mbaknya ngecek2 panduannya dia, liat layar komputer, dan langsung kasih lagi kartunya ke kita sambil bilang: “Yap you got the free admission for the basic tickets.” (basic=gak pake bonus lihat film atau pameran istimewa lainnya). Yipiiiii!!! Berhasil gratisan booo!

Setelah ke rest room, kami putuskan untuk makan siang dulu, menghabiskan bekal makaroni dan nugget goreng yang kami bawa dari rumah. Begitu selesai, langsung kami menuju lantai atas dengan naik eskalator yang tinggi sekali. Kesalahan fatal yang kami lakukan adalah tidak mempelajari dulu denah museum ini yang akhirnya nanti akan menghabiskan waktu karena bolak-balik tak sistematis. Jadi kami menjelajah dengan langkah impulsif saja.

Begitu melihat ada pesawat terbang dan kereta api terpajang, kami langsung ke situ. Ternyata di belakangnya ada model kereta api dan juga maket gedung2 di Chicago yang cukup luas. Anak-anakku pernah tergila2 sama model train alias mainan kereta api kecil yang bisa jalan di rel, jadi mereka langsung nyangkut di situ lumayan lama juga. Di bagian yang namanya Transportation Gallery ini tergantung pesawat2 kuno dan baru di langit-langit gedung. Selain itu juga ada model ruang masinis dan juga lokomotif yang bisa dinaiki sementara ada rekaman suara yang memaparkan serba-serbinya.

Dari sini, kami berniat mengunjungi ToyMaker 3000 yang merupakan contoh dari pabrik mainan dimana pengunjung bisa melihat bagaimana mainan dibuat dengan tangan2 robotik. Payah sekali deh, ternyata tempatnya lagi direnovasi dan kami gak bisa liat apa2. Akhirnya cuma foto2 deh di depan logonya. Ogah rugiii.

Sebelumnya, pas masih di Transportation Gallery, kami sudah melihat bagian pameran yang tampaknya cukup heboh karena ada tornado buatan! Kami langsung ke situ deh utk mengobati duka sangat dalam akibat ToyMaker 3000 yang gagal dikunjungi…ihiksss. (dramatisasi khas sinetron).

Pameran ini berjudul Science Storm. Tahu gak isi pamerannya apa? Keren banget! Di situ tersedia modul2 dengan layar sentuh (touch screen) dimana pengunjung bisa ‘membuat’ tornado, tanah longsor, tsunami, dan fenomena2 alam lainnya dalam bentuk mini. Anak2ku begitu menikmati karena seakan sebuah permainan. Aku yang gak begitu tertarik saja sampai bisa terkagum2. Niat banget sih ya orang sini kalo bikin museum. Hal lain di luar pameran yang aku perhatikan adalah banyaknya orang tua yang menegur anaknya sendiri untuk tidak berlama2 menikmati tiap alat dan memberikan giliran pada anak2 yang mengantri di belakangnya. Akibatnya, biar rame dan ngantri2, tetap terasa nyaman dan tertib.

Berikutnya kami mencoba ke lantai bawah dan nyasar ke bagian Farm Tech, yg sebenarnya aku gak rencanakan. Jadi, sebelum berangkat aku sudah lihat2 map museum ini dan mengira2 bagian mana saja yg mau kami kunjungi. Bagian Farm Tech termasuk yang aku akan skip saja karena kelihatannya gak menarik. Eh, ternyata aku salah. Anak2ku yang memang penggemar mesin2 berat langsung terpana lihat ada traktor dan combined harvester (mesin panen) asli terpajang di situ. Selama ini kami cuma lihat di kejauhan saja. Eh ini malah bisa lihat dari dekat dan bisa naik ke atasnya pula. Anak2 terang saja jadi semangat dan senang betul. Ketika naik combined harvester, di depannya dikasih layar dan diputar video sehingga seolah mereka benar2 sedang mengendarai traktor itu di ladang jagung. Selain itu, di pameran ini juga ada video game yang isinya tentang traktor yang bekerja di ladang. Ada banyak hal lain, dari rekonstruksi memerah susu dari sapi (bukan beneran) dan juga tentang pengolahan mpup binatang ternak menjadi pupuk, kayaknya yg terakhir ini kurang populer..he..he.

Duh Cuu…nenek kok jadi capek yaaaa….gimana kalo berhenti dulu dan lanjut lagi besok2 ya. Sementara menunggu…pstttt…nenek juga ada rekaman gambar dan video yang mau dibocorkan utk cucu2 looo! Silahkan nantikan di sini dan situ. Sementara ini nenek mau praktek pijit dulu yaaaa….soalnya ada yg udah ngantri tuh.

Liburan 2010-Chicago Part 2-Planning and Packing

Duh Maap ya cuuu…berhubung di jagad maya lagi heboh perkara video2 mesum, nenek jadi lama gak nulis2. Soalnya nenek sibuk download and nonton…eh…enggak ding. Mosok nenek2 masih doyan yg begituan sih…malu atuh sama cucu.
Mudah2an masih ada yg mau baca tulisan nenek yang mungkin bisa nyaingin cerita si Oshin.

Setelah mendaftar jadi anggota Science Center, maka terbukalah jalan bagi keluarga kami untuk mengunjungi museum2 yang bagus di Chicago. Aku kembali sibuk utak-atik itinerary. Seperti yang sudah aku ceritakan kemarin itu, yang menjadi permasalahan adalah biaya parkir yang menjelehi alias amit-amit jabang baby. Aku langsung terpikir alternatif menggunakan public transport, dimana di kota2 besar biasanya sudah sangat rapih dan nyaman. Enak juga kalau bisa merasakan L-train alias ‘elevated train’ yang menjadi salah satu trade-marks dari kota Chicago. Kereta di tengah kota ini tidak berada di bawah tanah, seperti halnya yg ada di New York City, melainkan di jalur kereta layang. Kalau pernah liat film Spiderman dimana dia mencoba menghentikan L-train yang melaju menuju jalur kereta yang putus, nah seperti itu deh si L-train.

Tapi setelah menimbang biaya karcis atau pass-nya (sistem kartu dan lebih hemat) ternyata biayanya gak beda jauh dengan biaya parkir. Hal ini disebabkan karena hotel yang sudah aku booking terlalu jauh dan tak terjangkau sistem transport kota Chicago sehingga kami harus tetap parkir di stasiun kereta terdekat untuk bisa naik kereta ke kota dan parkirnya bayar juga. Selain itu, kami juga masih terlalu takut mencoba sistem transport umum dengan adanya 2 anak kecil yang harus diawasi dan mungkin akan terlalu lelah kalau harus berjalan. Jika naik kendaraan umum, memang kita masih harus berjalan meski cuma sedikit. Tapi nanti di museum kami pasti masih harus berjalan lagi. Pertimbangan biaya dan hemat energi akhirnya membuatku memutuskan untuk tidak naik kendaraan umum selama putar2 kota nanti.



Akhirnya rampung juga itinerary plesiran kali ini. Kira-kira ringkasnya seperti ini:

Day 1: Museum of Science and Industry
Check in
Shoreline sightseeing cruise

Day 2: Field Museum
Shedd Aquarium
Adler Planetarium
Chicago Botanic Garden
Buckingham Fountain

Day 3: The beach
Chicago Children’s Museum
The Art Institute of Chicago
Pulang

Bisa dilihat kalo hari kedua rencananya sangat ambisius sedangkan hari pertama dan ketiga malah sedikit. Sengaja aku buat begitu karena hari pertama suamiku harus menyupir 5-6 jam mulai jam 6 pagi dan sampai di Chicago kami sudah kehilangan setengah hari, jadi tak mungkin bisa ke banyak tempat di hari itu. Hari ketigapun begitu karena sore harinya kami harus sudah pulang kalau tak mau kemalaman tiba di rumah.

Dua hari sebelumnya aku sudah mulai memilih baju dan mulai proses packing. Seperti biasa, sebelumnya aku buat daftar barang2 apa yang akan dibawa. Sehari sebelum hari H aku memasak makaroni panggang sebagai bekal makan pagi di hari pertama. Kemungkinan kami akan makan di mobil sehingga butuh makanan yang gak ribet dimakannya. Beberapa hari menjelang berangkat aku juga mulai beres-beres rumah sehingga kalau pulang nanti gak ada sisa kerjaan yang menumpuk. Suamiku juga memajukan jadual mencuci pakaian agar nanti gak kebanjiran cucian. Sore harinya suamiku mengambil mobil dari tempat penyewaan.



Setiap kali mau plesiran, aku selalu berniat agar malamnya bisa tidur cepat dan cukup istirahat. Tapi kenyataannya, selalu di malam terakhir aku malah paling sibuk dan tidurnya pasti di atas jam 12. Sialnya, seringnya malah gak bisa tidur saking deg2kan takut bangunnya kesiangan. Begitupun malam menjelang keberangkatan kali ini. Selain sibuk siap-siap, akupun harus mendapat kejutan emosional dari tanah air yang bikin aku harus mengontak kerabat di sana. Detilnya gak usah diceritain ya…pokoknya menguras emosi. Akhirnya aku tidur jam 2.30 pagi dengan sangat tidak lelap. Pagi harinya, dengan mata bengkak aku bangun dan bersiap-siap, untungnya gak terlalu kesiangan. Chicago, here we come! Tepat jam 7.00 pagi kamipun melaju menuju arah utara.

Cu, nenek mau baringan dulu ya. Nanti bangunin nenek kalo cucu udah siap dengerin cerita nenek lagi. Banguninnya pelan-pelan ya, jangan ngagetin apalagi pake siram2 air. Oke?
Zzzzzzzzzz (langsung tidur).

Liburan 2010-Chicago Part 1 – Persiapan

Prologue:
Dengan berat hati aku tulis juga deh jurnal perjalanan kali ini. Entah kenapa kota yang satu ini selalu menyisakan kenangan yang bitter-sweet alias asem manis tiap kali kami datangi. Gak jodoh aje kali ye. Kali inipun begitu, beberapa pengalaman yang nggak enak bikin perjalanan kali ini jadi gimanaaaa gitu. Mau nulisnya sebenarnya gak enak, tapi kalo gak ditulis takut lupa. Ya udah deh. Namanya juga hidup, gak ada yg manis terus…pasti ada asem2nya dikit. Katanya sih biar manisnya jadi berasa banget, supaya ada pembanding. Nah, sekarang duduk yang manis ya Cuuu…nenek mau cerita dulu.

Rencana perjalanan ke Chicago sudah kubuat sejak tiga minggu sebelumnya. Asli memang cuma aku yang buat karena suamiku menyerahkan segala perencanaan plesiran padaku. Jadi dari mulai booking hotel, booking mobil, survey tempat yang mau didatangi melalui Internet, hingga perkiraan budget-nya aku yg buat.

Kami berencana berangkat dengan mobil sewaan karena kondisi mobilnya biasanya lebih meyakinkan daripada mobil kami sendiri yang buat ukuran di sini bisa digolongkan ‘mobil tua’. Mobil sewaan biasanya mobil baru (1 atau 2 tahun) dan kondisinya terawat. Aku booking dari jauh-jauh hari karena takut kehabisan karena tanggal perjalanan kami tepat dengan Memorial Day (hari pahlawan-nya org sini) dimana bisanya banyak juga yang akan plesiran.

Untuk hotel, aku memesan satu kamar di hotel yang agak berbeda dari biasanya. Kami biasa menginap di motel yang bangunannya terdiri dari dua tingkat dan pintunya menghadap ke luar. Selain motel biasanya lebih murah, juga kami suka kedekatannya dengan tempat parkir dan mobil sehingga gak jauh bawa2 kopornya. Tapi anakku Imo pernah berujar ingin sekali2 menginap di hotel yang gedungnya bertingkat lebih dari dua supaya pemandangannya bagus dan bisa naik-turun elevator katanya. Duh Nak…kasihan ya kamu besarnya di desa yg gak banyak gedung dng elevator..he..he. Akhirnya aku pesan hotel bernama Hilton Garden Inn, yang memenuhi syarat yg diminta Imo. Hotel ini bagian dari grup Hilton yang harga sewanya gak gila aja tapi di kamarnya disediakan microwave dan kulkas, dua hal yang belum tentu ada bahkan di hotel bintang 4 atau 5. Aku butuh ada microwave untuk menghemat budget makan di luar. Niatnya kami ingin beli makanan beku yang bisa dipanaskan dengan microwave jadi paling tidak untuk sarapan gak usah beli lagi di luar. Karena kami berniat hendak pergi ke satu tempat yang namanya Legoland yg letaknya agak jauh dari pusat kota Chicago, maka aku memesan Hilton yang ada di kota itu. Nama kotanya Schaumburg dan masih di negara bagian Illinois.

Mau kemana saja di Chicago? That’s the big question. Pengennya sih pergi ke tempat-tempat wisata yang sangat populer di Chicago…tapi apa daya, tiket masuknya gila2an dan sangat mencekik leher. Akhirnya aku atur supaya kita pergi ke luar kota Chicago untuk mengunjungi tempat2 yang mirip dng tempat2 yang ingin kita datangi di Chicago. Contohnya nih, anakku yang kedua, Darrel, ingin sekali melihat kerangka T-Rex beneran yang ada di Field Museum of Natural History. Tapi tiketnya mahal. Satu setengah jam dari pusat kota Chicago, ada kota namanya Rockford dan di sana ada Burpee Museum of Natural History dimana terdapat kerangka anak T-Rex. Ukurannya lebih kecil dari yang di Field Museum…tapi kan sama2 T-Rex..he..he. Untuk menggantikan Chicago Children’s Museum, aku akan ajak mereka ke Discovery Center di Rockford yang isinya mirip2 dan letaknya gak jauh dengan Burpee. Museum2 di Rockford ini harga tiketnya hanya seperempat dari yang di Chicago.

Untuk tujuan2 yang benar2 ada di kota Chicago, aku akan pilih hanya beberapa saja yang pake bayar. Yang lainnya akan cari yang gratisan seperti Millenium Park, taman tengah kota yang bagus banget buat obyek foto2, dan juga Buckingham Fountain, air mancur spektakuler yang ada pertunjukkan dengan lagu dan lampu di malam hari. Aku juga berniat mengajak anak-anak ke pantai. Loh…pantai? Memangnya Chicago dekat laut? Chicago letaknya dekat dengan Lake Michigan, danau besaaar sekali. Dinas Pertamanan (Park District) kota Chicago mengangkut pasir pantai dan membuat pantai buatan di pinggiran danau plus jalur jalan dan bersepeda yang sangat lebar mengelilingi danau agar warganya punya tempat untuk berwisata dan berolahraga. Total ada 27 pantai yang tersebar dari utara ke selatan. Kalau tertarik baca detilnya bisa liat di sini. Maka, aku siapkan perlengkapan ke pantai, seperti tikar gulung, sendal anti air, dan juga kursi lipat untuk dibawa ke Chicago. Duh…kebayang deh heboh banget perabotan lenong yang bakal kami bawa.

Kira-kira 10 hari menjelang keberangkatan, kami jalan-jalan ke mall di kota kami. Kebetulan lewat Science Center yang sebelumnya sudah pernah kami datangi. Iseng-iseng aku liat penawaran keanggotaan alias membership yang ada di papan. Loh…kok ada tulisan bahwa dengan jadi anggota, maka bisa mengunjungi museum2 di kota lain dengan GRATIS!! Mata langsung melotot membaca kata FREE ADMISSION. Selain itu, untuk masuk ke Science Center yang ada di sini juga bisa gratis dan bisa semaunya…artinya gak ada batasan bisa berapa kali…layaknya all you can eat baby! Yeah!! Pas tanya berapa bayar jadi member…yipiiiiiiiiii….ternyata harganya sama dengan 4 tiket (kami sekeluarga) sekali masuk ke SATU museum di Chicago! Padahal dengan bayar keanggotaan itu…kami bisa bolak balik ke museum di kota kami dan juga museum2 di kota2 lain seluruh Amerika sebanyak2nya dengan gratis..gratis..gratis! Tentu saja gak semua museum bisa, hanya museum yang ikut program yang namanya ASTC Passport. Museum di negara lain juga ada yg ikut program ini, antara lain di UK dan Korea, tapi jumlahnya sedikit dibandingkan yang di Amerika.

Benar2 deh aku berasa seperti menemukan harta karun. Bahagianya lebih karena merasa akan bisa menyenangkan anak2ku untuk mengunjungi museum2 di Chicago yang katanya sih memang spektakuler. Begitu sampai rumah, langsung deh rencana perjalanannya (itinerary) aku utak-atik lagi. Museum-museum di Rockford sementara aku coret dulu dan ganti dengan museum2 di Chicago. Tapi kemudian satu masalah lagi yang mengganjal. Bagaimana dengan parkirnya? Seperti yang pernah aku tulis sebelumya, ongkos parkir di Chicago tuh cakeppp banget deh. Sekali parkir bisa kena getok minimal 14 dolar, paling parah bisa 24 dolar. Kebayang kan kalo kita parkir di beberapa tempat. Akhirnya, aku lagi deh yang musti mikir gimana nih caranya meminimalisir pengeluaran buat parkir. Bapaknya anak2 sih tinggal tanya: “Gimana Ma? Beres rencananya?” Heeehhhh.

Lanjutinnya besok aje ye Cu. Udah panjang banget nih kayak kereta api. Nenek mau nyari sirih dulu..uhukk..uhukk.