Bedinde…oh Bedinde

Kebiasaan ye kalo abis lebaran Ibu2 pada cemas gara2 para bedinde belum balik dari kampungnya. Hampir semua berkeluh kesah, terutama karena terpaksa harus ‘menggantikan’ peran bedinde mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Untuk Ibu2 yang bekerja apalagi, mereka pasti lebih panik karena selain pekerjaan rumah, anak2 mereka juga semestinya sudah diambil alih ke pangkuan para baby-sitter. Kalau baby-sitter gak datang juga, bisa gaswat deh. Cuti lebarannya kan gak bisa diperpanjang.

I’ve been there, done that. Semasa masih di Jakarta akupun seperti itu. Saat masih bekerja dan punya anak balita biasanya saya mengambil para asisten dari para agen. Berhubung rumah ortu dan rumah mertua jauh dr rumahku, maka aku biasanya mempekerjakan dua orang asisten, yg satu utk urusan rmh tangga sedangkan yg lainnya utk urusan anak.

Alasan kami mengambil ke agen, bukan mencari secara tradisional dr mulut ke mulut atau lwt saudara adalah demi menghemat waktu dan tenaga. Meskipun memang pastinya lebih mahal karena standar gajinya juga lebih tinggi, juga ada uang garansi, tapi kami tak punya cara lain karena cara2 tradisional yg ada terbukti hanya bikin kita menunggu lama sekali tanpa kepastian. Memang sih kesannya kayak buang2 duit karena kami juga tak luput dari metode gonta-ganti asisten, apalagi aku termasuk yang suka pakai naluri dalam menilai asisten dan sangat kuatir kalau anakku diapa-apain sama asisten. Namun secara garis besar, kami cukup puas dengan hasil pekerjaan mereka.

Dengan adanya dua asisten di rumah, akhirnya kami memang dimanjakan dalam artian kalau memang tidak perlu2 banget untuk turun tangan sendiri ya gak usah lah. Alhasil, aku pun jarang masak sendirij. Biasanya hanya saat asisten baru butuh di-training, baru aku turun tangan ke dapur. Selanjutnya, saat si Mbak sudah mahir maka aku menarik diri dari dapur. Begitupula utk urusan2 lain. Kamipun jadi punya lebih banyak waktu utk diri sendiri, aku dengan pekerjaan terjemahan di rumah saat tak sedang mengajar, suamiku dengan kesibukannya di kantor.

Demi kenyamanan itu, kamipun tutup mata pada hal2 yang bisa membuat kesal. Namanya juga asisten, rasa memiliki mereka pada anak dan rumah kita pasti jauh dari yg ada pd kita. Barang2 rusak, pecah, bahkan saluran air sampai mampet gara-gara ada asisten yang ‘membuang’ pakaian anak ke dalamnya pun tidak membuat kami kapok punya asisten. Sampai2 perlakuan mereka pada anak kami sendiri pun, seperti misalnya ‘nyuekin’ saat anak mengajak ngobrol, atau kurang sabar dalam menghadapinya, akhirnya berusaha kami tolerir. Selama masih dalam batas2 wajar ya sudahlah. Yang penting kenikmatan punya asisten tidak hilang.

Singkat cerita, kami diberi kesempatan merantau ke luar negri. Mestinya sih, buat kami yang terbiasa punya asisten, bayangan hidup di luar negri pasti mengerikan. Tidak ada si Mbak yang mengambil alih tugas2 di rumah, tidak ada saudara atau orang tua yang bisa dititipi anak. Apalagi saat pertama tiba aku langsung ‘dihajar’ dng kesibukan kuliah yang sangat menyita waktu. Kalang kabut dong ya?

Tentu saja. Namun Tuhan Maha Adil. Di negri dimana kata ‘bedinde’ itu sudah nyaris tak terdengar dan hanya bisa dimiliki oleh orang2 sangat makmur saja, aku belajar bahwa hidup bisa berjalan baik2 saja. Ada hal-hal yang tidak ada di Indonesia namun menjadi kewajaran di sini. Tenaga manusia tergantikan dengan mesin dan teknologi.

Untuk mencuci baju misalnya, dengan adanya washer and dryer yang segede gaban, kami bisa tinggal taruh pakaian dan sabun cuci (biasanya bentuk cair), masukkan koin, pencet2, lalu ditinggal, biarkan mesin yg bekerja. Bahkan kalau mau meninggalkan cucian itu di Laundromat dan pergi jalan2 dulu juga bisa. Aman, gak ada maling jemuran di sini. Mahal? Pastinya. Sekali cuci bisa habis $12-15 utk pakaian sekeluarga (4 org). Tapi mencucinya cuma seminggu sekali…weleh….kok bisa? Soalnya yang mencuci selalu suamiku yang bisanya cuma pas dia libur…hi..hi..hi. Mensetrika baju? Jangan kuatir, baju2 yang baru keluar dr dryer biasanya masih panas dan jika kita gosok sekali dengan tangan, hilanglah segala kerutan (kecuali bahan2 tertentu ya). Jadi cucian yg baru keluar kalau langsung dilipat atau digantung terlihat sama spt baju yg habis disetrika.

Untuk memasak, di sini justru lebih mudah. Kalau mau ngikutin masakan org sini sih gampang banget…wong segala bumbu dalam bentuk bubuk dan tinggal ditabur saja ke dalam masakan. Bumbu dalam bentuk saus juga banyak sekali, mau bikin Chinese food, spt gurame asam manis, tinggal tuang sausnya. Segala macam sayur sudah dipotong2 baik dlm keadaan beku atau kalengan. Mau sayur segar juga ada, dan tetap lbh mudah dr mengolah sayuran di Indonesia, karena sayur bayam misalnya, daunnya sudah dipetiki dan dikemas bersih dlm plastik. Daging2an? Halah…sama spt di supermarket di Jakarta, semua sudah dipotong2 dan dikemas rapih. Daging ayam yang sudah masak dan dipotong kecil2, jadi kalau utk tambahan tumis2 sayuran ya tinggal tuang saja. Bahkan kalau kita mau memasak masakan tradisional Indonesia yang terkenal sangat merepotkan, di sini juga lebih mudah. Kalau mau gampang banget tinggal pakai bumbu instan. Kalau mau agak usaha dikit, bisa pakai bumbu2 bubuk utk kunyit, jahe, ketumbar, dll. Aku biasanya sedia bawang merah yang diblender atau dihaluskan dng food processor dan disimpan dalam toples di kulkasku. Jadi kalau mau masakan Indonesia yang penuh bumbu, tinggal sendok2 bumbu, campur2…gak ada tuh acara ngulek2 segala.

Semasa masih kuliah, aku juga menerapkan strategi yang lumayan ampuh. Tiap akhir minggu aku akan masak lauk daging2an dlm jumlah banyak dan distok di freezer dalam kantung2 plastik yg sudah ditandai (ditulis nama lauknya apa). Selain bawang giling, aku juga sedia bawang merah dan bawang putih iris untuk membuat lauk sayur. Semuanya disimpan tertutup di kulkas. Khusus utk makanan anakku yg saat itu masih bayi, setiap pagi aku membuat makanan dan menggilingnya di blender serta menyimpannya di kulkas dalam cetakan es batu. Saat anakku hendak makan, aku tinggal ambil beberapa potong makanan bekunya dan menghangatkannya di microwave. Dengan cara ini, keluargaku masih bisa makan buatanku dan aku masih punya waktu utk belajar.

Aku ingat pernah ngobrol di bis dengan Ibu2 dr Saudi Arabia yang punya anak usia 2 tahun. Ia mengeluh kanak-kiri tentang kerepotannya membagi waktu. Ia juga bercerita kalau tiap hari keluarganya selalu mengorder pizza utk makan. Wah…wah…kalau aku sih secara finansial gak akan kuat beli pizza tiap hari. Lagipula, apa gak bosen ya?

Urusan apa lagi? Beberes rumah? Di sini debu nyaris gak keliatan kalau gak diperhatiin banget, seluruh ruangan biasanya pakai karpet jadi susah terlihat kan. Sekali lagi, kami terbantu dengan alat, yaitu vacuum cleaner ditambah lagi dengan tak adanya kewajiban utk mengepel lantai seperti halnya yg dilakukan pada lantai keramik. Bersih2 kamar mandi mungkin yang agak menyita waktu dan tenaga, tapi masih terbantukan dng bahan2 kimia yg membuat kita gak usah menyikat dindingnya lama2. Wilayah yang harus digosok juga sedikit krn lantai kamar mandi biasanya bukan keramik kmr mandi dan tdk tersiram air.

Anak2 bagaimana? Anak2 di sini terbiasa sekolah dengan waktu yg panjang dari jam 8 pagi sampai 3 sore. Sepulang dari sekolah, mereka bisa datang ke After School Program yang tersedia baik di sekolah atau di Day care Center sampai dengan jam 5 atau 6 sore. Beberapa program After School ini bisa didapatkan secara gratis krn menjadi program pemerintah daerah. Jadi saat orang tua pulang kerja/kuliah, anak2nya sudah tiba di rumah lagi. Antar jemput anak? Sudah ada bisa sekolah yang lagi2 gratis. Untuk yang punya uang, tersedia pula Day Care Center yang menampung anak2 bahkan dari usia 6 bulan (bayi banget kan) dari pagi hingga sore.

Demikianlah, meskipun tanpa bedinde atau asisten, kami bisa survive, seperti halnya kebanyakan orang Amerika lainnya. Kalau mereka saja bisa survive, kenapa kita enggak?
Dengan makin s
ulitnya mencari asisten di Jakarta, aku rasa tak lama lagi Jakarta pun akan berubah seperti di sini, dimana tenaga manusia semakin mahal (dan dihargai), dan kita2 ini akan ‘dipaksa’ untuk bisa survive meski tanpa asisten. Jika saat itu tiba, jangan takut ya…pasti akan ada pengganti mereka dan kita pun pasti dibekali kemampuan utk bisa bertahan.

Hal-hal positif yang aku dapati dengan hidup tanpa asisten adalah kedekatan yang makin terasa antara kami dengan anak2. Tanpa adanya baby sitter, anak2 jadi sangat dekat dengan ortu-nya. Aku juga mendapati bahwa menanamkan rasa tanggung jawab mereka untuk ikut serta dalam mengerjakan pekerjaan2 di rumah jadi lebih mudah karena mereka lihat sendiri ortunya turun tangan memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dsb. Anakku yg tertua (7 tahun) disiplin dirinya sangat bagus. Tiap pagi dia akan bangun sendiri dan bersiap2 sekolah tanpa dibantu (mandi, memilih baju, menyiapkan tas), bahkan menyiapkan sarapan sendiri (cereal dan susu). Aku tinggal menyiapkan sack lunch atau bekal makan siangnya. Dia juga terbiasa memandikan dan mengasuh adiknya, apalagi kalau dia lihat aku sedang repot di dapur misalnya. Membereskan mainan masih jadi tantangan tersendiri karena si Adek yg baru hampir 4 tahun masih suka mengacak2 mainan, tapi si Kakak masih lebih sering mau membereskan drpd menolak.

Suamiku yang dulunya hampir tidak pernah lift his fingers (kecuali saat kami tak ada asisten), sekarang malah dengan sendirinya melakukan tugas mencuci pakaian dan juga sering mencuci piring dan terkadang malah masak nasi atau lauk sendiri. Dalam pengasuhan anak, ia juga lebih banyak terlibat. Jauh sekali bedanya dibandingkan saat masih di Jakarta. Sering sekali suamiku berujar: “Rasanya saya kehilangan saat2 berharga perkembangan anak2 kita saat masih di sana dulu,” karena dia membandingkan dengan saat sekarang dimana dia melihat dan merasakan sendiri betapa ajaibnya pertumbuhan dan perkembangan anak2 kami.

Untuk kami berdua, tanpa adanya asisten hidup terasa lebih private. Tak ada mata dan telinga org lain yang akan mengusik kalau kami mau mesra2an di rumah misalnya. Mau ngapain aja, gak akan tersebar luas di kalangan PBB. Tingkat stress juga lebih rendah karena gak harus memikirkan tingkah asisten yang suka aneh2 atau tidak memuaskan.

Jadi, hidup tanpa bedinde? Siapa takut?

Lucunya Omonganmu Nak.

Duh maaf ya pemirsa kalau akhir-akhir ini ceritaku berkisar tentang anak-anakku. Maklum deh emak2. Soalnya aku menyadari betapa pelupanya diriku, jadi catatan di MP ini bisa jadi diary yang mengingatkanku tentang betapa lucu dan menggemaskannya celoteh anak2ku.

Berhubung sekarang2 ini Darrel (3, 10)yang sedang banyak bicara, maka ini dia beberapa ucapannya yg bisa aku ingat:

Suatu hari sepulang dari sekolah, aku mendengar Darrel dan Ayahnya sedang ngobrol.
Ayah: “Darrel sudah punya banyak teman di sekolah?”
Darrel: “Yes.”
Ayah: “Siapa aja? Adek ingat gak nama mereka?”
Darrel: “Yap.”
Ayah: “Coba, what are their names?”
Darrel: “Sam, like in Transformers movie.” (Ini nama pertama
yang dia ingat dan sudah pernah dia sebutkan di hari
kedua sekolah)
Ayah: “Siapa lagi?”
Darrel: “Clara, Antonia, Shania, Chloe, Sterling…(kok lbh.
banyak nama cewek ya?)
Ayah: “Siapa lagi?”
Darrel: (kebingungan mengingat-ingat) “Hmmm…Mbah Sulip
(Surip maksudnya…)

Hah? Kok Mbah Surip sih? Langsung Ayahnya dan aku yg ikutan nguping tertawa ngakak.


Aku dan Terjemahan (Part 2)

Setelah kejadian tak mengenakkan itu, aku berhenti sama sekali dari menerima order terjemahan dari Big Boss. Selama aku masih belum bisa membagi waktu dengan baik, tampaknya aku tidak bisa serakah dan mau ambil semuanya. Lumayan lama aku libur dari dunia terjemahan.

Oya, sampai kelupaan. Di awal aku bekerja sebagai dosen, aku sempat juga menjajal kesempatan bekerja part-time sebagai penerjemah film di salah satu stasiun televisi swasta. Saat itu aku belum menikah, sehingga merasa masih banyak punya waktu luang. Setelah lolos tesnya, aku ditawari pekerjaan sebagai full-timer. Tapi aku merasa sayang melepas pekerjaanku sebagai dosen, sehingga aku hanya bisa bekerja paruh waktu di stasiun TV itu. Sayangnya, pekerjaan ini aku tinggalkan di tengah jalan. Bukan apa-apa, karena keterbatasan teknis dimana aku tidak punya video player VHS yang dibutuhkan, aku harus bolak-balik ke daerah Kebun Jeruk untuk mengerjakannya di kantor mereka di malam hari karena jam kantorku di kampus selesai sore hari. Kantor mereka terletak di jalur jalan yang sepi dan cuma ada sedikit angkot yang lewat. Alhasil aku harus naik taksi dan akibatnya upah terjemahannya jadi tidak seberapa. Setelah hitung-hitungan, aku memutuskan untuk menghentikan pekerjaanku sebagai penerjemah film.

Kembali lagi ke saat setelah ada kejadian tak enak dengan Ketua Jurusanku. Di pertengahan tahun 2003, aku terpaksa berhenti bekerja karena mengalami kecelakaan yang menyebabkan aku tinggal di rumah saja selama berbulan-bulan. Selama masa pemulihan itu, aku tak berpenghasilan. Krisis keuangan keluarga pun melanda. Putra kami baru satu tahun dan kami baru saja mulai mencicil rumah. Uang tabungan habis untuk bayar DP, sedangkan cicilan dan biaya hidup harus terus dibayar. Suamiku waktunya sudah tersita untuk bekerja di kantornya sehingga tak punya waktu atau tenaga lagi untuk mencari tambahan.

Alhamdulillah, Tuhan Maha Baik, seorang sahabat baikku menawarkan pekerjaan yang sebetulnya ditawarkan kepadanya. Tahukah apa pekerjaan itu? Yak…terjemahan. Kali ini terjemahannya secara berkala dan berhubungan dengan salah satu institusi resmi negara. Dari order-order kecil, meningkat makin besar sampai akhirnya aku dipercaya menerjemahkan buku laporan tahunan mereka. Setelah itu, salah satu sahabat baikku lagi juga menawarkan aku untuk mengajar privat seorang mahasiswi S2 yang mengalami kesulitan karena perkuliahannya dilakukan dalam bahasa Inggris. Dalam mengajar privat ini, akhirnya aku juga mendapat order terjemahan karena si Ibu ini sudah terlalu sibuk bekerja, kuliah dan merawat tiga anaknya sampai-sampai untk membaca teks kuliahnya dia ingin yang berbahasa Indonesia saja. Aku juga sempat bersama-sama dengan dua sahabatku membuka usaha kecil kursus dan terjemahan yang akhirnya malah lebih banyak memperoleh order terjemahan langsung (interpreter) yang disub-tenderkan ke teman-teman kami yang lain. Bahkan di saat-saat terakhir menjelang keberangkatanku, aku masih harus menyelesaikan terjemahan buku laporan dari lembaga yang sama dengan divisi yang berbeda. Mereka mendapatkan namaku berdasarkan rekomendasi rekan kantor mereka. Nantinya, tabungan hasil terjemahan ini yang akan membayarkan sebagian besar tiket pesawat untuk suami dan anak-anakku menyusul ke negri Paman Sam.

Sampai di AS, aku masih belum memutuskan kontrak dengan lembaga itu. Namun karena beban kuliah dan beban psikologis karena berpisah dengan anak membuat aku ketetarn dalam perkuliahan, aku memutuskan untuk berhenti.

Setelah aku selesi kuliah, aku sempat kebingungan mencari pekerjaan. Krisis ekonomi yang tak luput melanda Amerika membuat lapangan pekerjaan bertambah sedikit. Di tengah kebingungan dan sudah hampir putus asa, justru ide dari sahabatku yang membuka jalan menuju…terjemahan lagi. Hi…hi…hi…ibaratnya dua remaja, aku sibuk menghindar tapi jodohnya ternyata terjemahan juga. Alhamdulillah, setelah melalui proses melamar kemana-mana aku akhirnya dipanggil, lolos, tes dan mulai menjadi penerjemah film. Bukan untuk stasiun TV, tapi untuk perusahaan distribusi DVD film-film produksi Amerika yang berskala cukup besar (aku tahunya setelah browsing di Internet).

Begitulah kisah kasihku dengan terjemahan. Rasanya tak bisa lagi menghindar untuk bersama dengannya. Aku akhirnya menyadari bahwa tiap rejeki yang diberikan olehNya harus disyukuri dan dipelihara sebaik-baiknya. Selera dan idealisme boleh saja ada, namun jangan pernah sia-siakan tiap kesempatan yang datang. Selama itu halal dan worth it, mengapa tidak?

Rencanaku ke depan setelah pulang ke Indonesia, malahan mungkin akan berkonsentrasi ke terjemahan dan mengambil sertifikasi penerjemah tersumpah sedangkan menjadi dosen tetap akan kujalani karena sudah panggilan hati, meskipun cuma sebagai part-timer misalnya. Tanggung jawab moral untuk meneliti dan menulis tentang bidangku tentu saja harus juga kujalani. Meskipun pasti akan cukup berat mengingat sumber-sumber bacaan di sana untuk bidangku amat sangat tidak memadai. Cita-citaku yang lain adalah ingin mendirikan kursus atau sekolah formal bahasa Inggris berkualitas selain juga memiliki toko kue dan restoran. Yang terakhir ini karena hobi. Terlalu banyak ya? Pengalaman mengajarkanku untuk tidak lagi takut bermimpi atau membatasi diri. Asal kita mau berusaha dan dengan memohon pada Nya, pasti akan ada jalan.

(The End)



Aku dan Terjemahan (Kisah Percintaan Yang Panjang) – Part 1

Jalan rejeki orang itu memang macam-macam ya. Kalau dalam kasusku, jalan rejekiku cukup unik. Oya, rejeki yang dimaksud di sini dalam artian sempit yaitu pekerjaan yang menghasilkan uang. Ketika kuliah aku belum kepikiran untuk cari uang sendiri. Alhamdulillah masih bisa ditanggung orang tua dan akunya sendiri pada saat itu mengira bahwa tak akan mampu untuk bekerja sambil kuliah. Berhubung kuliah di kampus yang jauh dan hanya 1 tahun 1 bulan saja sempat kost, aku pun sudah kehabisan tenaga untuk bolak-balik Pamulang-Depok hampir setiap hari. Aku putuskan untuk konsentrasi kuliah plus ikut organisasi kemahasiswaan saja, daripada badan hancur.

Lagipula, dari awal kuliah aku memang sudah niat ingin mempertahankan IP minimal 3.0 yang memenuhi syarat untuk bisa menjadi dosen (IP 2.75 jaman itu) atau untuk mencari beasiswa ke luar negri (IP 3.0). Lucu juga ya, aku barus sadar bahwa sebenarnya aku dari dulu sudah memetakan arah hidup dan karirku. Padahal selama ini aku menilai diriku kurang ambisius dan asal mengalir saja. Aku ingat di salah satu semester pernah mendapat IP kurang dari 3.00, duh sedihnya minta ampun sampai-sampai semester berikutnya sibuk menggenjot nilai supaya IPK-nya tetap di atas target. Karena target inilah aku memutuskan untuk konsentrasi ke kuliah saja.

Kembali ke jalan rejeki. Di tahun keempat aku mulai merasakan kebutuhan untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Maka mulailah aku menerima order terjemahan, yang memang potensial sekali untuk jurusanku. Terjemahan yang aku terima belum banyak, dan rata-rata adalah buku teks mahasiswa jurusan lain. Order aku dapatkan dari sesama teman kuliah yang sudah lebih lama mengerjakan terjemahan. Aku juga mulai mengajar di salah satu bimbingan belajar privat. Proses mendapatkannya dengan melamar langsung ke kantornya.

Dari mencoba-coba dua jenis pekerjaan ini, aku menyimpulkan bahwa aku lebih menyukai mengajar daripada menerjemahkan teks. Alasannya sederhana saja: mengajar lebih menantang dan menyenangkan sedangkan menerjemahkan itu membosankan. Berhadapan dengan teks dan menulis terjemahannya sangat membosankan buatku. Oya, saat itu komputer belum umum dipakai. Jaman kuliah aku lebih banyak bikin makalah pakai mesin ketik daripada komputer. Meskipun di rumah tersedia, namun karena itu milik Papaku yang dipakai untuk keperluan pekerjaanya, maka aku mengerjakan terjemahan secara tulis tangan. Bayangkan betapa pegalnya.

Alhasil, setelah lulus kuliah, aku langsung bekerja sebagai pengajar di sebuah kursus bahasa Inggris di bilangan Ciputat. Selama bekerja sebagai guru kursus, aku tidak pernah menerima order terjemahan. Namun ketika akhirnya aku bekerja sebagai dosen yang merupakan salah satu cita-citaku di sebuah sekolah tinggi bahasa, aku ‘dipaksa’ bersentuhan lagi dengan dunia terjemahan.

Jadi begini ceritanya, ketua sekolah tinggi ini rupanya adalah penerjemah tersumpah (yang mendapat sertifikat dari UI dan Gubernur DKI Jakarta) yang sudah mapan. Karena mapannya, dia masih banyak menerima order terjemahan di kantornya. Karena kerjaannya berlimpah, dia merekrut dosen-dosen yang ada di kampus ini untuk membantunya menyelesaikan order, istilah Inggrisnya sub-tender. Dari beberapa yang direkrut, aku termasuk yang paling belakangan bergabung. Sekali lagi, itu karena aku merasa tidak begitu menikmati pekerjaan yang satu itu. Namun karena saat itu aku baru saja menikah dan sedang mengandung anakku yang pertama, maka aku pikir tak ada salahnya menambah penghasilan demi si adek bayi.

Terus terang sebenarnya penghasilan yang didapatkan dari terjemahan itu amat sangat lumayan. Jika sedang dapat order besar, jumlahnya bisa sama dengan gaji mengajar selama sebulan, bahkan lebih. Padahal mengerjakannya tidak sampai seminggu. Namun tetap saja, aku mengerjakannya jadi semata-mata hanya untuk uangnya karena tetap buat aku pekerjaan itu amat membosankan. Meskipun sudah ada komputer dan kadang juga dibantu suamiku, namun aku tetap tidak menemukan letak nikmatnya pekerjaan sebagai penerjemah.

Ditambah lagi terjadi peristiwa yang tak mengenakkan berkaitan dengan konflik antara pekerjaan terjemahan dan mengajar. Suatu kali si Boss besar menerima order terjemahan skala sangat besar sehingga yang mengerjakannya lebih dari satu orang. Pada sata yang sama, sekolahku sedang bersiap mengahadapi tahun perkuliahan baru yang membutuhkan banyak perhatian dari dosen-dosennya. Namun, karena perhatian sebagian dosen-dosennya ditujukan pada mengejar target dead-line terjemahan, maka tugas administratif kedosenannya jadi terabaikan. Sad to say, aku termasuk dosen yang ndableg itu. Maka, ketua jurusan yang tadinya merupakan sahabat baik sekaligus mentorku, menjadi marah padaku, nama baik dan profesionalitas yang selama ini sudah kubina hancur berantakan. Yang lebih menyedihkan, persahabatanku dengan beliau pun sempat jadi dingin, meski akhirnya bisa pulih kembali.

Traumakah aku? Tentu saja. Tapi jalan hidupku selanjutnya membuktikan bahwa apa yang aku tidak sukai belum tentu tidak baik untukku. (To be continued)

Puasa Pertama Imo

Anakku yang pertama berperawakan kurus dengan pembawaan kalem tapi ceriwis. Loh, kontradiktif ya? Maksudnya begini, dia tenang dan tidak emosian, tapi termasuk anak yang banyak bicara. Cool-nya dia itu mirip banget sama Ayahnya yang kulkas bin kulang-kaling banget deh. Dalam keadaan sepanik apapun, suaranya tetap kalem, tenang terkendali. Tidak seperti Mamanya yang Miss Panic Attack dan rada-rada Drama Queen (duh kok ngaku yaaaa). Lucunya, bukan hanya pembawaan tapi perawakan anakku yang pertama juga mirip dengan Ayahnya. Mereka berdua awet langsing sekali, biar makan sebanyak apapun teteuppp tidak akan menggemuk. Bikin sirik kan?

Alkisah, Imo yang merupakan kependekan dari Massimo (tidak ada hubungannya dengan merk baju ya), sudah menginjak 7 tahun lebih saat Ramadhan tahun ini tiba. Akupun mengajaknya untuk ikut berpuasa. Latihan dulu deh, dimulai setengah hari. Kalau kuat, baru coba puasa penuh. Aku tahu pasti berat untuknya berpuasa di tengah-tengah teman-temannya yang tidak berpuasa, apalagi tahun ini puasa jatuh di akhir musim panas dimana bisa nyaris 15 jam kita harus berpuasa. Karena itu, aku dan Ayahnya sepakat untuk memberi insentif untuk tiap hari ia berpuasa dalam bentuk uang saku. Memang sih kesannya kok menyuap anak untuk berpuasa. Namun aku pikir tak ada salahnya karena anak kecil pasti suka diberi hadiah dan beribadah untuk anak kecil yang belum mampu menangkap maknanya secara mendalam harus dibuat semenyenangkan mungkin agar ia suka menjalaninya. Nanti kalau sudah terbiasa, barulah ia dapat diberi pengertian tentang apa arti puasa.

Mendengar adanya insentif yang lumayan untuk anak seusianya, Imopun menyatakan akan berpuasa. Kebetulan hari pertama puasa jatuh di hari Sabtu dimana ia tidak bersekolah. Saat sahur, aku sudah bersiap-siap akan menghadapi anak kecil yang segan bangun dan mungkin saja akan bersungut-sungut atau marah karena dibangunkan sepagi itu. Ada lo yang sudah dewasa tapi masih susah dibangunkan sahur. Tapi ajaib, Imo bangun tanpa kesulitan. Dia cuma ucek-ucek mata dan langsung bangun menuju meja makan. Aku tawarkan dia makanan yang dia mau makan dan suka: pizza dan segelas susu kedelai rasa coklat. Dia makan dengan lancar, tak ada keluhan sama sekali. Alhamdulillah. Ternyata dalam mencoba berpuasapun dia tetap cool, seperti pembawaannya selama ini.

Sampai tengah hari Imo masih kelihatan biasa saja. Memang sih setiap kali ia dengar adiknya mau makan sesuatu dia bilang, “Please don’t say that, it makes me hungry.” Akupun pengertian dan berusaha menyembunyikan aksi makan atau minum adiknya dari pandangan Imo. Jam 4 sore Imo mulai gelisah, dia berbaring di tempat tidur, lemas. Aku lalu bilang padanya untuk buka saja kalau memang tidak kuat. Dia hampir menangis, lalu tanya: “Will you still give me the money if I break the fast now?” Halah…namanya anak kecil, yang dipikirkan adalah insentifnya itu ternyata! Aku tentu saja mengiyakannya. Hari pertama Imo puasa dan ia tahan sampai sesore ini tanpa mengeluh sama sekali! Hebat sekali dia! Bahkan untuk berbukapun ia harus kami paksa dan baru buka setelah yakin akan tetap mendapatkan insentifnya. What a strong-willed kid!

Esok harinya Imo mencoba lagi puasa. Alhamdulillah, kali ini bisa sampai maghrib! Aku sungguh tak habis kagum padanya. Sampai malu sendiri kalau suka mengeluh dalam hati bila harus banyak kerja fisik saat berpuasa. Cuma aku cemas saat ia mulai sekolah di hari Senin dalam keadaan berpuasa. Kuatkah ia? Padahal ia masih harus beraktifitas seperti biasanya, tidak ada dispensasi. Aku wanti-wanti ke Imo bahwa anytime dia merasa tidak kuat, ia boleh berbuka. Di dalam tas ranselnya aku tetap bekali sack-lunch seperti biasanya. Aku lalu menelpon sekolahnya untuk meminta agar Imo tidak usah masuk ke ruang makan saat lunch nanti karena ia berpuasa. Operator telponnya langsung paham dan bertanya: “Is it because of Ramadan?” Karena kotaku memang cukup banyak pendatang dan pelajar dari negara-negara Timur Tengah dan Asia, maka kabar tentang tibanya bulan ramadhan juga sudah tersebar, salah satunya melalui koran kampus. Aku berharap Imo bisa ditempatkan di perpustakaan saja saat lunch.

Begitu pulang sekolah, aku langsung bertanya apakah Imo masih puasa. Ternyata dia masih puasa! Aku tanya dengan detil: apa kepalanya pusing, apa tenggorokannya perih, apa perutnya mulas. Dia jawab tidak dan bilang bahwa dia merasa baik-baik saja. Bahkan dengan tak bisa menyembunyikan rasa bangga ia cerita begini: “Mrs. Rhodes (guru kelasnya) was surprised when I told her that I am fasting. She said, ‘I cannot believe, a boy as small as you are can fast from sun dawn until sunset!'” Imo juga bilang bahwa dia salah satu dari dua anak muslim di sekolahnya yang berpuasa, anak muslim lainnya tidak. Ada teman sekelasnya yang muslimah namun tak kuat berpuasa lagi setelah mencoba puasa setengah hari di hari pertama. “And she is bigger than me.” Begitu kata Imo.

Yang membuat aku lebih bangga lagi padanya. Saat ditanya guru kelasnya kenapa ia berpuasa, ia menjawab begini: “So that we can feel what the poor people feel.” Alhamdulillah, padahal salah satu hikmah puasa ini cuma aku sebutkan padanya secara sambil lalu karena aku mengindari terlalu menceramahi ia terlalu banyak, namanya juga masih anak-anak. Namun rupanya tertanam juga di benaknya.

Besok harinya dan hari-hari selanjutnya Imo tetap berpuasa penuh dan tetap tanpa mengeluh. Teman-teman sekolahnya (yang muslim) juga satu persatu makin banyak yang mencoba berpuasa meski dengan gaya masing-masing. Ada yang cuma puasa makan tapi masih boleh minum, ada juga yang puasa selang-seling. Sampai dengan menjelang hari raya ini, Imo cuma tiga kali kebobolan. Yang pertama yaitu di hari pertama puasa, yang kedua saat sekolahnya mengadakan Pool Party (pesta main air) dan ia tak tahan untuk tak minum air. Yang ketiga saat hari Jumat ada acara bagi-bagi es serut di sekolahnya dan Imo lupa kalau ia puasa. Tapi untuk yang kedua dan ketiga, Imo tetap lanjutkan puasanya walau telah kebobolan.

Bagaimana dengan berat tubuhnya? Meski tak menimbangnya, namun aku tahu bahwa ia pasti turun beratnya karena dari sosoknya saja terlihat lebih mengurus. Aku sampai-sampai tak sampai hati melihat kurusnya lengan anakku itu. Setiap sahur dia cuma mau makan cereal dan susu, tak mau makan nasi. Aku selalu mendorong dia untuk lebih banyak makan saat sahur dan berbuka. Kubikinkan ia makanan yang ia suka agar ia tambah nafsu makan. Namun karena dasarnya lambungnya juga mungkin sangat kecil, ia tak bisa makan banyak2. Mudah-mudahan ia tak apa-apa ya. Sampai sejauh ini ia masih bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya dengan baik dengan nilai yang bagus dan beraktifitas fisik seperti biasanya. Mungkin satu perubahannya adalah sekarng ia gampang sekali diminta tidur siang…he…he..maklumlah pasti dia merasa agak lemas juga.

Puasa tahun ini sangat bersejarah buatku karena di tahun ini putra pertamaku mulai berpuasa dan alhamdulillah bisa melakukannya dengan lancar. Semoga puasamu diridhoi Allah ya anakku, dan insya Allah bisa mengantarkanmu menjadi hambaNya yang bertakwa.

Tentang Darrel: Masuk sekolah

Perasaan baru kemarin lahir kau Nak, eh sekarang sudah masuk sekolah. Anakku yg kedua terasa masih bayi saja di mataku. Padahal pipinya yang tadinya bulat seperti bakpao, sampai-sampai pernah aku juluki Pao-Pao, Pilat (Pipi Bulat) atau Pimbem (Pipi Tembem) sudah mulai menirus, begitu pula postur tubuhnya yang tadinya lemu ginuk-ginuk sudah makin meramping dan meninggi. Sampai dengan hari ini, hari kesepuluh dia masuk sekolah, aku masih belum (mau) percaya bahwa ia sudah makin besar dan beranjak dari fase bayi menjadi anak kecil.

Sebenarnya ia belum ‘wajib’ masuk sekolah karena usianya belum lagi 4 tahun. Meskipun usia Pre-school di sini berkisar antara 3-5 tahun, namun menurut pihak sekolahnya, mereka mengutamakan anak-anak usia 4 tahun ke atas dalam proses penerimaan murid baru karena merekalah yang nantinya akan masuk Kindergarten di usia 5 tahun sehingga butuh pengenalan bersekolah. Karena itu, ketika Darrel mengikuti proses screening sekitar dua minggu yang lalu, kami tidak terlalu ngotot dan ‘ngoyo’ menuntut dia harus lolos seleksi. Kalau memang dia dinilai belum siap untuk masuk Pre-K, ya sudah tak mengapa. Aku malahan senang karena di rumah tetap ada sosoknya yang selalu lucu menggemaskan untuk menemaniku. Ketika tes berlangsung dan kami para orang tua tidak dibolehkan ikut masuk, aku sempat cemas karena Darrel masih sering mengalami separation anxiety alias tidak bisa lepas dari orang tuanya. Benar saja, ketika satu persatu anak-anak kecil itu dituntun masuk oleh guru, Darrel satu-satunya yang datang dengan air mata bercucuran. Waduh, sepertinya sih dia belum siap nih, begitu pikirku saat itu. Selama ini dia memang jarang besosialisasi karena di daerah tempat tinggalku kebetulan tidak banyak anak kecil.

Namun pihak guru dan pemberi tes berpendapat lain, dari tes secara motoris, kognitif, dan tes-tes standard lainnya (berhitung, mengenal huruf dan angka, menyusun balok), bayi kecilku itu dinyatakan siap memulai proses pendidikannya di Pre-K meski dia butuh penyesuaian. Aneh mungkin kalau aku malah merasa agak sedih mendengar kabar ini. Namun kuhibur diri dengan mengingat bahwa ia bersekolah hanya 3 jam saja dari Senin-Jumat.

Bagaimana dengan Darrel sendiri? Perasaannya berubah-ubah. Kadang kalau melihat kakaknya berangkat sekolah, dia menyatakan ingin sekolah juga. Namun di kali lain, ia akan bilang mau di rumah saja. Saat aku bilang: “Kalau di sekolah banyak teman. Di rumah kan gak ada teman Dek.” Jawabnya: “But you are my friend.” Langsung saja kupeluk dia sambil terharu biru. Sering juga dia menyatakan ingin bersekolah di sekolah kakaknya. Kebetulan kakaknya sudah kelas dua dan harus pindah ke sekolah baru. Jadi sistem sekolah di kota ini tidak terpusat melainkan menyebar. Tingkat Pre-K sampai First Grade ada di satu lokasi, sedangkan kelas dua sampai tiga ada di lokasi lain, begitulah seterusnya. Dia baru bisa menerima kenyataan bahwa sekolahnya harus terpisah dari kakaknya setelah dijelaskan bahwa di sekolah kakaknya tidak ada Pre-K.

Hari pertama sekolah pun tiba. Darrel cukup bersemangat saat masih di rumah. Namun begitu sampai sekolahnya, dia langsung kelihatan malu-malu, tak berani menatap orang lain dan tak menyahut saat disapa. Tangannya erat menggenggam tanganku. Karena berat melihatnya begitu, aku temani dia sampai kelasnya. Aku minta ijin gurunya untuk tetap di kelas menemani Darrel meskipun aku jadi satu-satunya orangtua murid yang tetap tinggal di kelas. Perlahan-lahan Darrel mulai mengikuti kegiatan di kelas. Tapi ketika saatnya bermain bebas, dia malah menempel erat tak mau lepas dari sisiku. Gurunya lalu mengingatkan bahwa dia begitu karena aku ada di situ. “Should I just leave then?” tanyaku. Dia menjawab terserah aku.

Dengan berat, akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan bayi kecilku. Lalu berlangsunglah beberapa menit proses berpamitan yang penuh air mata dan penolakan darinya. Aku sendiri sudah berkaca-kaca, namun demi kebaikannya juga aku tinggalkan dia. Dari jendela kecil di pintu kelasnya aku lihat dia digendong gurunya, diberikan tissue untuk mengelap air matanya dan menghibur dirinya. Duh, berat rasanya meninggalkannya. Tapi kalau aku terus di situ aneh juga karena di lorong gedung sekolahnya kosong, orangtua memang tak dibolehkan menunggu di dalam.

Akhirnya ada seorang guru yang kebetulan lewat. Dia maklum sekali akan perasaanku yang berat meninggalkan PaoPao-ku di kelas. Lalu dia bilang, “Saya juga kemarin melepas anak lelaki saya ke bangku kuliah. Sama, saya juga menangis.” Terus dia bilang begini: “Kalau anak itu sekarang Ibu lepas, justru tidak apa-apa. Mungkin dia akan menangis sebentar, tapi he’ll be OK nantinya. Kalau Ibu terus di sini, dia akan lengket dan malah tambah susah berpisahnya.” Persis seperti yang disarankan guru kelasnya, aku musti pamit padanya dan janji akan balik lagi. Nanti ketika aku menjemputnya, aku musti bilang “Tuh kan Mama datang lagi.” Jadi anak itu tahu dan percaya bahwa Mamanya pasti akan kembali menjemputnya sehingga besok-besok ia tidak akan cemas.

Maka, aku pun pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda kumbang lengkap dengan boncengan. Di rumah aku kepikiran terus akan dia. Duh gimana Darrel ya? Kalau nanti dia mau pipis gimana? Kalau dia cari Mamanya lagi gimana?

Pukul 10.30 aku sudah siap dengan sepedaku melaju ke sekolahnya. Kulihat dia keluar dari pintu dengan diantar asisten gurunya. Dia tidak menangis namun tampangnya sendu. “I told you I’d be back.” Aku bilang begitu padanya. Dia senyum-senyum tertahan lalu bilang: “But I miss you!” Jagoan kecilku ternyata kelakuan Rambo, hati Rinto ya. Kalau di rumah lasak sekali dan sedikit galak, suka protes kalau terlalu banyak dipeluk-peluk dan dicium-cium, tapi begitu pisah dari Mamanya kelihatan deh lengket dan manjanya.

Lalu aku perhatikan, loh kok celananya beda. Rupanya terjadi ‘accident’ dimana Darrel tidak keburu menurunkan celananya ketika mau pipis di kamar mandi. Jadilah celananya basah dan harus diganti dengan celana cadangan. Tapi tak apa, yang penting ia sudah mulai belajar bersekolah. Semoga bisa bermanfaat terutama untuk perkembangan kecerdasan sosialnya.