Make-Up Class di Rumah Dosen

Paperku yang waktu itu sudah dikembalikan. Aku dapat A…alhamdulillah. Ternyata dosennya baik banget, gak pelit nilai. Asal idenya orisinil dan argumentasinya benar, dikasih nilai bagus deh sama dia.

Tanggal 16 yang lalu kami sekelas (ada 10 orang) rame2 datang ke rumah Profesor ini. Karena kelasnya diliburkan selama 2 sesi ketika dia pergi ke Inggris, dia mengadakan make up class di rumahnya. Karena aku gak punya mobil, aku numpang teman yg namanya Kylie. Orangnya kocak, tapi sayangnya sedang flu berat.

Rumah dosen itu tak jauh dari kompleks apartemenku. Lokasinya di pojokan, meski mungil tapi tampak terawat. Begitu masuk rumah dosen ini, disambut anjing besar warna coklat muda. Wah…meskipun aku gak anti anjing, tapi takut juga. Untungnya anjingnya baik, cuma kelihatan excited aja. Mungkin dipikirnya…siapa sih orang2 ini…menginvasi rumah tuan gue.

Aku datang dalam keadaan berpuasa sedangkan make up class-nya dari jam 6-8.30 PM (malam). Alamat bakal buka di tengah-tengah kuliah ni. Sang dosen dengan ramahnya menawarkan minuman (non-alkohol). Di meja juga terhidang cheese cake dan brownies.
Aku tolak sambil menerangkan kalo aku sedang puasa dan gak bisa makan ato minum sampe sekitar jam 7.15. Dia bilang; “Oh yes…it’s the Ramadhan, isn’t it? Shall we then say Happy Ramadhan for you?” Lalu mereka ramai-ramai mengucapkan happy ramadhan buat aku. He..he..he…lucu ya. Trus dia bilang lg gini: Kalo gitu makan kuenya nanti saja jam 7.15 ya, semua setuju? Loh…kok jadi gitu. Padahal buat aku sih gak apa2 kalo mereka mau makan kue2nya duluan. Tapi mereka juga gak keberatan nunggu sampe aku buka puasa. He..he..he..baik juga yaaaa.

Kelas dimulai dengan presentasi paper masing2. Wah….aku deg2kan. Soalnya ada juga sesi tanya jawab. Padahal aku tu gak pernah yakin sama paper yang aku buat (sampai dengan si profesor kasih nilai A). Yang lain2 topiknya bagus2 dan inovatif. Topikku biasa aja, gak istimewa, dan kayaknya sedikit maksain. Alhamdulillah segalanya lancar..eh kecuali satu insiden kecil.

Saat si Summer (nama anjing itu) datang mendekati kami yang sedang asyik mendengar presentasi si Richmond, aku mencoba bersikap ramah dan menyapa si Summer. Lohhhhh dia langsung loncat ke atas sofa di sampingku..nyaris loncat ke pangkuanku sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Walahhhhhh…aku panik, takut ditomplok dan dijilat. Yang lain langsung buyar konsentrasinya. Dosen itu lalu mengurung si Summer dalam kamar tidurnya. Mungkin karena aku memancarkan aura orang baik ya…jadi si Summer langsung menyambut ramah sapaanku.

Jam 7.15 kami menuju ruang makan. Sambil makan kue dan minum punch kami mengobrol. Ternyata enak juga ya make-up class di rumah. Suasananya lebih santai dan cair. Sehingga untuk berdiskusi juga lebih mengalir, apalagi buat aku yg gampang nervous. beberapa menanyakan tentang puasa dan Ramadhan. Dosennya sendiri bilang bahwa ‘fasting is a healthy habit’. Aku juga tahu jika beberapa dari mereka juga berpuasa di saat2 tertentu tapi cuma sehari saja dan bervariasi tipenya. Sebenarnya sebelumnya juga sudah tahu karena mayoritas keluarga dari Ibu beragama Katolik. Selesai makan, diskusi pun dilanjutkan.

Saking asyiknya, kami baru pulang jam 9 malam. Mungkin karena aku cinta banget sama disiplin ilmuku, sehingga berkumpul dan berdiskusi dengan sesama peminat sastra merupakan keasyikan yang amat sangat. I’m going to miss this. Oya…2 minggu lagi akan ada make-up class lagi di tempat yang sama. Mau bawa kamera ah…tapi tanya dulu mereka akan keberatan gak ya kalo aku foto2. Mudah2an akan asyik juga seperti kemarin itu.


Teringat

Kelebatan adegan dari masa silam tak kunjung henti menyambangi.
Teriakan kondektur yang bergantung di pintu bis yang melaju,
Tangan-tangan kecil tengadah setelah nyanyikan sebait lagu,
Supir tanpa otak larikan bis penuh penumpang oleng kanan kiri.

Deru debu jalanan di keramaian yang tak bertepi,
Manusia lalu lalang dikejar waktu di trotoar pinggir jalan,
Pedagang kali lima penuhi lapak-lapak penuh dagangan
Rangkaian mobil dalam kemacetan sepanjang sore dan pagi

Namun di sana ada senyuman, peluk kangen dan belaian
Tangan Ayah Bunda, sanak saudara, sahabat, rekan sejawat
Obrolan ringan, tawa renyah, humor lokal yang tak asing
Senyum ramah tetangga yang selalu usil dan mau tahu

Hmmm….kapan kembali…kapan kembali…
Moga-moga tak lama lagi sambil berharap dalam hati
Tak ada lagi asap tebal, kemacetan, kesemrawutan
Saat aku kembali nanti membawa seribu cerita dari sini





“How Do I Love Thee?”

How Do I Love Thee

How do I love thee? Let me count the ways.

I love thee to the depth and breadth and height

My soul can reach, when feeling out of sight

For the ends of being and ideal grace.

I love thee to the level of every day's

Most quiet need, by sun and candle-light.

I love thee freely, as men strive for right.

I love thee purely, as they turn from praise.

I love thee with the passion put to use

In my old griefs, and with my childhood's faith.

I love thee with a love I seemed to lose

With my lost saints. I love thee with the breath,

Smiles, tears, of all my life; and, if God choose,

I shall but love thee better after death.

Elizabeth Barrett, an English poet of the Romantic Movement, was born in 1806 at Coxhoe Hall, Durham, England. The oldest of twelve children, Elizabeth was the first in her family born in England in over two hundred years. For centuries, the Barrett family, who were part Creole, had lived in Jamaica, where they owned sugar plantations and relied on slave labor. Elizabeth’s father, Edward Barrett Moulton Barrett, chose to raise his family in England, while his fortune grew in Jamaica. Educated at home, Elizabeth apparently had read passages from Paradise Lost and a number of Shakespearean plays, among other great works, before the age of ten. By her twelfth year she had written her first “epic” poem, which consisted of four books of rhyming couplets. Two years later, Elizabeth developed a lung ailment that plagued her for the rest of her life. Doctors began treating her with morphine, which she would take until her death. While saddling a pony when she was fifteen, Elizabeth also suffered a spinal injury. Despite her ailments, her education continued to flourish. Throughout her teenage years, Elizabeth taught herself Hebrew so that she could read the Old Testament; her interests later turned to Greek studies. Accompanying her appetite for the classics was a passionate enthusiasm for her Christian faith. She became active in the Bible and Missionary Societies of her church.

In 1826 Elizabeth anonymously published her collection An Essay on Mind and Other Poems. Two years later, her mother passed away. The slow abolition of slavery in England and mismanagement of the plantations depleted the Barrett’s income, and in 1832, Elizabeth’s father sold his rural estate at a public auction. He moved his family to a coastal town and rented cottages for the next three years, before settling permanently in London. While living on the sea coast, Elizabeth published her translation of Prometheus Bound (1833), by the Greek dramatist Aeschylus.

Gaining notoriety for her work in the 1830’s, Elizabeth continued to live in her father’s London house under his tyrannical rule. He began sending Elizabeth’s younger siblings to Jamaica to help with the family’s estates. Elizabeth bitterly opposed slavery and did not want her siblings sent away. During this time, she wrote The Seraphim and Other Poems (1838), expressing Christian sentiments in the form of classical Greek tragedy. Due to her weakening disposition she was forced to spend a year at the sea of Torquay accompanied by her brother Edward, whom she referred to as “Bro.” He drowned later that year while sailing at Torquay and Elizabeth returned home emotionally broken, becoming an invalid and a recluse. She spent the next five years in her bedroom at her father’s home. She continued writing, however, and in 1844 produced a collection entitled simply Poems. This volume gained the attention of poet Robert Browning, whose work Elizabeth had praised in one of her poems, and he wrote her a letter.

Elizabeth and Robert, who was six years her junior, exchanged 574 letters over the next twenty months. Immortalized in 1930 in the play The Barretts of Wimpole Street, by Rudolf Besier (1878-1942), their romance was bitterly opposed by her father, who did not want any of his children to marry. In 1846, the couple eloped and settled in Florence, Italy, where Elizabeth’s health improved and she bore a son, Robert Wideman Browning. Her father never spoke to her again. Elizabeth’s Sonnets from the Portuguese, dedicated to her husband and written in secret before her marriage, was published in 1850. Critics generally consider the Sonnets—one of the most widely known collections of love lyrics in English—to be her best work. Admirers have compared her imagery to Shakespeare and her use of the Italian form to Petrarch.

Political and social themes embody Elizabeth’s later work. She expressed her intense sympathy for the struggle for the unification of Italy in Casa Guidi Windows (1848-51) and Poems Before Congress (1860). In 1857 Browning published her verse novel Aurora Leigh, which portrays male domination of a woman. In her poetry she also addressed the oppression of the Italians by the Austrians, the child labor mines and mills of England, and slavery, among other social injustices. Although this decreased her popularity, Elizabeth was heard and recognized around Europe.

Elizabeth Barrett Browning died in Florence on June 29, 1861.


Capek

Sudah cukupppp!!!
Setelah marathon mencoba menyelesaikan 3 paper, akhirnya saya terpaksa berhenti. Gak kuat lagi rasanya. Apalagi tenggat waktu yang saya tetapkan sendiri sudah terlambat.

Jadi ceritanya saya punya 3 paper yang harus diselesaikan paling lambat besok sore. Dosen saya harus mengisi seminar di Inggris, karena itu dia menjadwalkan kelas ganti (make-up class) besok jam 6-8.30 PM di rumahnya.

Sebenarnya paper yang ‘sesungguhnya’ cuma satu, paper kecil cuma 5 halaman saja yang menganalisa sebuah novel jaman Renaissance. Masalahnya saya buntu banget, gak ketemu topik yang tepat sampai saat udah kepepet begini. Biasa deh, yg namanya wangsit baru datang kalo udah kepepet. Alhamdulillah tadi sudah selesai sebanyak 8 halaman. He..he..penyakit saya yg kronis memang suka bikin tugas yang kuantitasnya melebihi yang diminta. Liat aja, nulis di blog aja bisa sepanjang ini dan cuma makan waktu 15 menit-an..hi…hi….once a ceriwis woman…ya tetepppp aja ceriwis.

Trus ada hutang tugas satu paper pendek tentang perbandingan essai yang ditulis para kritikus mengenai novel yang sama. Yang ini salah saya karena salah paham jadi belum ngumpulin tugas ini minggu lalu. Tapi dosennya masih ngasih kesempatan, jadi saya masih bisa ngumpulin meskipun telat.

Trus, paper yang satu lagi adalah tugas presentasi mini saya yang berupa ringkasan dan telaah singkat tentang bagian ketiga dari novel tersebut. Payahnya, baru pagi ini saya selesai baca bagian itu dan baru sekarang bisa mengetik ringkasannya. Jadi tinggal satu tugas ini yang belum kelar. Waduh mak!

Kepala sih belum pusing sampe mau pecah. Cuma badan udah lemas tak berdaya dan mood-nya juga udah gak ada. Tadinya saya mau selesaikan sebelum jam 7 malam ini biar bisa lari ke Lab Komputer di kampus untuk ngeprint dan foto kopi (yg buat presentasi). Namun apa daya…kayaknya saya printnya besok siang aja deh (lab-nya buka siang kalo akhir pekan).

Trus kok jadi buka MP? Ha..ha..ha…biar segar aja. Dan memang setelah lihat buku tamu jadi riang lagi. Makasih ya Ny…hugsnya diterima dengan penuh suka. Yuk makan cake coklatnya bareng buat buka puasaku hari ini.

Maafkan

Selamat menjalankan ibadah puasa yaaaa……dinikmati saja, belum tentu tahun depan bertemu Ramadhan lagi lo.

Aku juga minta maaf atas segala perbuatan, perkataan, dan mungkin prasangka yang buruk yg pernah aku lakukan. Kita gak pernah tahu isi hati orang, siapa tahu ada yang terluka karena kata2 yang pernah kutulis, baik di blog ini maupun di site rekan MP yang lain.

Semoga kita semua bisa menikmati Ramadhan tahun ini dengan kemenangan suci di akhirnya. Amin.

Selamat Datang Ramadhan

Tidak terasa Ramadhan kembali menghampiri saya di negri asing ini. Rasanya lebih mengharu biru karena jauh dari orang tua dan saudara. Meskipun sebelumnya sudah pernah merasakan sahur di kost2an waktu di Jakarta dulu, namun di sini terasa beda. Bedanya karena saya tahu dari sekian banyak manusia di apartemen, mungkin cuma saya yang terbangun saat matahari sama sekali belum terbit, di tengah udara dingin menjelang musim gugur. Kalau dulu, saya tahu kamar-kamar di sebelah saya juga terbangun untuk sahur, bahkan ada yang sahur bersama di ruang TV.

Yang paling menyenangkan saat kami di sini buka puasa bersama. Sesama muslimah bermobil menuju resto atau Islamic Center. Di tempat yang terakhir ini biasanya diadakan buka puasa bersama tiap akhir pekan. Suasananya selalu ramai karena banyak keluarga yang datang membawa anak2 mereka. Muslimah (dan muslim) berbagai bangsa, dari yang warna kulitnya terang benderang sampai gelap pekat saling menyapa dan tersenyum, seolah sudah kenal lama. Saya paling suka ngobrol sama muslim Amerika kulit putih yang masih mimoritas di kalangan muslim yang datang saat itu karena mereka lebih terbuka. Kalau menyapa muslim yang dari Timur Tengah, belum tentu bisa ngobrol karena banyak juga yang belum lancar berbahasa Inggris. Saya yang meang dasarnya SKSD suka sekali pindah2 tempat duduk saat acara buka puasa bersama, semata2 karena saya ingin kenal banyak orang. Lucu juga, karena kok saya jadi kutu loncat sendiri. Sedangkan yang lainnya biasanya berkumpul dengan sesama saudara sebangsanya.

Yang lucu, dari berbagai hidangan tersedia yang biasanya bercita rasa Timur Tengah atau India, di akhir acara akan dihidangkan kue tart dengan hiasan glasur: Happy Ramadhan. O ya,semua hidangan berbuka ini tersedia gratis karena ada beberapa dokter muslim yang menjadi donatur tetap acara ini. Baik banget ya?

Plagiarism

Di kampus saya lagi seru banget kasus plagiarisme. Gak tanggung2, yg kena kasus presiden kampus, alias dedengkot, alias pimpinan puncak kampus saya. Waduh, malu2in gak sih?

Jadi si presiden ini dituduh mencotek beberapa bagian dari disertasinya yg ditulis tahun 1984. Kasus jadul ini diangkat lagi oleh koran kampus saya yang menyodorkan bukti2 berupa bagian2 dari disertasi si bapak ini beserta kopian dari buku2 yang dianggap sudah disadur olehnya.

Sebenarnya mengambil bagian dari tulisan orang lain dalam tulisan ilmiah bisa dibenarkan asal memenuhi ketentuan pengutipan sesuai standard (MLA misalnya) dan sumbernya dicantumkan dalam daftar referensi. Aturan standardnya sih adalah mengenakan tanda petik bila kutipannya 3 baris atau kurang dari itu. Sedangkan kalo lbh dr 3 baris harus dipisah dari paragraf sebelum dan sesudahnya dengan font berbeda dan di-indent-kan (hi..hi..bhs Indonesianya apa ya).

Nah, kalo saya lihat dari contoh2 di koran kampus itu, si Bapak ini memang tidak mengikuti kaidah pengutipan yg seharusnya. Parahnya, bukan hanya satu-dua…tapi banyak. Jadi?

Di Amerika aturannya sama untuk semua kampus. Untuk urusan plagiarisme, mereka gak kenal ampun. Sangsinya cuma dua: tidak diluluskan atau dikeluarkan dr kampus alias di DO. Lucunya, suara2 yg membela si Bapak pimpinan ini lebih gencar dibandingkan suara2 yg meminbta beliau turun jabatan misalnya. Rata2 para akademisi (dosen dan mahasiswa) meminta dia mundur, karena kalau gelar doktornya dibatalkan dia gak mungkin lg menjabat sebagai presiden kampus. Sedangkan para birokrat kampus (yg notabene ada jg yg merangkap sbg dosen) banyak yg membela dia dengan alasan selama ini dia sudah berhasil memimpin kampus saya menembus ‘jaman kegelapan’ (ha..ha). Dia dianggap pimpinan yg terbaik karena pemimpin2 sebelumnya pada loyo dan payah.

Hmmm….jadi sebaiknya diapakan ya si Bapak satu ini? Kalo di Indonesia sih gak bakal diapa2in…terkuak kasusnya aja gak mungkin kaleeee….

Ya kita tunggu saja gimana kelanjutan ceritanya. Kasusnya masih hangat soalnya, baru minggu lalu. Sementara ini, saya akan bergulat dengan bacaan, paper, dan urusan lain2 (bukan partying…trust me deh) yg jg banyak menyita waktu saya.