[NYC series part 4] Akhirnya Sampai Juga

Setelah beristirahat cukup, bahkan terlalu berlebihkan karena si Bungsu sulit sekali dibangunkan, kamipun bersiap menuju si Apel Besar. Setelah mandi, kami sarapan di ruang makan hotel yang letaknya dekat dengan meja resepsionis. Sarapan yang tersedia terdiri dari bagel (donat keras), muffin, toast, serta sereal. Gak ada yang sreg di lidah saya, tapi tetap saya santap bagel dengan olesan cream cheese. Untungnya anak-anak sudah terbiasa makan sereal. Yang paling tersiksa tentu saja suami saya yang lidahnya terasa belum makan kalau tak ketemu nasi. Tapi dia paksakan diri untuk memakan muffin demi tenaga buat nyupir selama kira-kira 7,5 jam ke depan.

Perjalanan masih menempuh wilayah pegunungan, tapi belokannya sudah tidak seseksi saat sebelum bermalam. Kami sempat mampir ke sebuah resto bernama Crown Kitchen yang menyediakan makanan ayam goreng dan gyros. Anehnya, kami tak bisa makan di dalam resto karena tidak ada bangku atau meja sama sekali. Jadi, cuma tersedia ruang kosong dan meja kasir sekaligus pemesanan makanan yang dilapisi kaca tebal. Agak was-was juga melihatnya, mengingat adanya kaca pelapis itu bisa berarti bahwa daerah itu rawan perampokan. Saat menunggu makanan kami siap, sempat ada seorang lelaki kulit hitam yang mengucap salam pada kami. Kami sempat ngobrol sebentar yang diawali dengan pertanyaan: “Are you Suni?” (Suni atau Sufi… gitu kali maksudnya). He…he…he.. lucu juga ya pakai ngecek dulu. Kalau aku jawabnya aliran kebatinan atau sungai Musi, bakal terus diajak ngobrol gak ya?

Selesai makan siang di dalam mobil, yang lumayan enak, kami langsung berangkat lagi. Perjalanan nyaris tanpa hambatan berarti kecuali satu kali saat GPS alias Mbak Lori tiba-tiba jadi kumat ngaconya dan membawa kami tersasar ke jalan yang sedang ditutup untuk diperbaiki. Bukan hanya kami yang menjadi korban petunjuk sesat GPS dan ketiadaan petunjuk jalanyang memadai, beberapa mobil lain juga terlihat mendadak berhenti dan memutar balik begitu melihat tanda jalan sedang ditutup untuk diperbaiki. Tumben-tumbenan nih orang sini ngaco begini. Biasanya kalau ada perbaikan jalan, seminggu sebelum jalan ditutup sudah ada tuh papan jalan sementara/portabel dengan lampu kedap-kedip yang menyatakan bahwa jalan akan ditutup.

Sesudah makan siang, kami langsung melaju menuju Nyuyok. Sempat mampir di beberapa kota untuk isi bensin. Yang unik waktu mampir di Hoboken New Jersey yang pompa bensinnya lengkap dengan petugasnya yang menerima uang dan menjalankan prosedur isi bensin. Lah, ini persis kayak di Indonesia. Kok beda sendiri ya? Dimana-mana kalau isi bensin di Ngamriki sih biasanya pengemudi mobilnya mengisi sendiri setelah sebelumnya membayar di kasir. Rupanya di New Jersey hukumnya memang berbeda. Namanya juga negara Federal yak, hukum di tiap negara bagian memang bisa berbeda-beda.

Karena jam berangkat yang kesiangan dan pake nyasar-nyasar pulak, perkiraan akan sampai sekitar jam 4 sore langsung molor dan saya menelepon Aunty Joan untuk mengabarkan keterlambatan ini. Sebelumnya Joan memberitahukan pada saya bahwa dia dan suaminya akan pergi bakar-bakar alias barbequing yang merupakan tradisi di sini bukan hanya saat 4th of July tapi juga sepanjang musim panas. Untungnya Joan membatalkan rencana perginya sehingga saya juga lega, gak merasa bersalah sudah membuat orang menunggu-nunggu gara-gara keterlambatan kami.

Kami memasuki New York City melalui Holland Tunnel yang langsung membawa kami menuju Canal street yang ternyata bagian dari China Town. Oh ya, kami harus membayar tol untuk bisa melewati Holland Tunnel. Ada dua terowongan panjang yang menghubungkan New Jersey dengan NYC: Holland Tunnel dan Lincoln Tunnel dan untuk melewati keduanya kita harus bayar tol.

Alih-alih berharap melihat gedung-gedung tinggi nan megah, justru daerah agak kumuh yang ramai orang dengan sampah bertebaran yang kami lihat untuk pertama kalinya saat menjejakkan roda di NYC. Di sepanjang trotoar banyak orang berjualan, dari makanan, buah-buahan, sampai tas-tas bermerek palsuan. Anehnya, melihat pemandangan semrawut seperti itu, kami malah feel right at home. “Kayak Jakarta ya!” seru suami saya dengan senang. Ha…ha…ha. Beneran, berasa di Glodok karena hampir semua gedung bertuliskan aksara Cina yang berdampingan dengan tulisan latin.

Sayangnya tak banyak foto yang bisa saya ambil karena mobil harus melaju dengan cepat dan lincah karena suami saya harus menyesuaikan diri dengan kegalakan pengemudi kota NYC. Yap, seperti bisa diduga, tabiat pengemudi di NYC ternyata jauuuh sekali dari pengemudi di desa kecil kami. Di NYC pengendara mobil lebih meliuk-liuk, salip sana-sini dan gak sabaran.

Perasaan lelah hilang seketika saat menyadari bahwa kami sudah tiba di NYC. Oh leganya! Meskipun pandangan pertamanya belum sampai menyentuh Manhattan dan ikon-ikon lainnya karena kami harus segera membelok ke kanan menuju Brooklyn. Kami berharap GPS akan membawa kami melintasi Brooklyn Bridge yang terkenal itu, tapi sayangnya justru dibawa menuju Manhattan Bridge. Dan ternyata jembatan Brooklyn sedang diperbaiki sehingga beberapa bagiannya diplester yang mengurangi keindahannya.

Kesan pertama saat melihat Brooklyn hampir sama seperti saat sampai di China Town, kok mirip dengan di Indonesia ya? Bangunan di Brooklyn kebanyakan kecil-kecil, bukan gedung2 tinggi pencakar langit. Dan di sepanjang jalan-jalan utamanya penuh toko yang bertebaran dan tampak tak beraturan. Jalan-jalannya juga tidak terlalu mulus, ada bagian-bagian jalan yang bukannya bolong sih, tapi jegluk-jegluk tak rata. Saya perhatikan ada banyak sekali toko buah, toko-toko etnik dan resto Cina di Brooklyn.

Lingkungan tempat rumah Joan berada ternyata tidak begitu jauh dari keramaian, hanya beda satu blok sudah banyak toko-toko kecil. Tapi di sekitar rumah Joan sendiri hanya ada rumah-rumah yang hampir seragam bentuknya. Rumah Joan yang bertingkat tampak seperti rumah Barbie karena warna pastel dan bentuknya.

Pasangan Joan dan Carl menyambut kami dengan ramah. Mereka berkulit hitam dan usianya mungkin 45-an. Carl beraksen Jamaica yang sangat kental, saya langsung teringat lagu-lagunya Bob Marley. Ternyata studio yang akan kami tempati itu ada di ruang bawah tanah alias basement! Oalahhh… pantes murah. Pakemnya memang ruangan di basement sewanya lebih murah karena lokasinya dan biasanya kurang penerangan dan ventilasi. Untungnya studio ini didesain sangat apik oleh Joan dan Carl sehingga tidak terasa seperti gudang yang dipaksakan jadi kamar. Mereka memberi penjelasan yang sangat mendetail mengenai studio mereka, sampai cara menyalakan lampu aja dijelaskan…ha…ha…ha.

Setelah Joan dan Carl meninggalkan kami, baru kami bersiap beres-beres pakaian dan pernik2 lainnya. Sayangnya semua ruang penyimpanan, baik closet maupun lemari dikunci atau digembol rapat oleh yang punya rumah. Akhirnya semua pakaian kami biarkan ada di dalam kopor dan barang2 berserakan di ruang tamunya. Jadi berantakan deh.

Rencananya kami mau melihat kembang api dalam rangka perayaan 4th of July di Sungai Hudson. Tapi karena “orientasi” yang diberikan Joan memakan waktu lama, dan dengan pertimbangan bahwa jalanan pasti akan macet total, kami terpaksa membatalkan niat tersebut. Kami malahan pergi mengunjungi sebuah resto Cina halal untuk membeli makan malam.

Pengunjung resto ini lebih banyak yang memesan lewat telepon dan menjemput makanan yang telah siap. Untuk makan di tempat tidak terlalu nyaman karena tempatnya sangat sempit dan banyak… tukang minta-minta. Inilah fenomena kota besar, ada yang bisa menjadi kaya sekali sampai punya gedung sendiri seperti Rockefeller dan Donald Trump, dan ada juga yang tersuruk dan menemukan nasib kurang baik.

Setelah makan malam di rumah Joan, kamipun bersiap tidur sambil membayangkan tempat-tempat yang akan kami kunjungi dalam 7 hari ke depan. “Akhirnya sampai juga ke New York ya Ma,” ucap suami saya sambil tersenyum lebar sebelum kami tertidur. Alhamdulillah.

(bersambung)

PS: Foto-foto ada di sini dan situ.

Advertisements

[NYC series part 3] Perjalanan Penuh Tantangan

Seperti biasa, sebelum berangkat saya selalu bercita-cita bahwa semua barang sudah dipak rapi dan sudah masuk bagasi, semua berkas-berkas perencanaan sudah dicetak, disimpan di map, dan siap dibawa, dan malam sebelum berangkat kami semua bisa cukup tidur. Tapi apa daya, tiap kali hendak bepergian jauh, justru saya dan suami selalu telat tidur, biasanya di atas jam 12 malam. Ini karena kami pasti masih sibuk mengepak dan beres-beres.

Seperti malam sebelum keberangkatan ke NYC, saat jam menunjukkan jam 1 malam, saya masih beres-beres bersama suami. Padahal besok ingin berangkat pagi-pagi sekali. Kalau bisa sih sehabis sholat subuh langsung berangkat. Tapi ya… begitulah. Kami akhirnya berangkat jam 8.30 pagi. Kesiangan sebenarnya untuk sebuah perjalanan jauh. Tapi sudahlah, daripada menyesali, mendingan menikmati perjalanan.

Si Hejo, mobil Hyundai keluaran 2000 (bilangin juga udah jompo2) yang jadi andalan keluarga kami akhirnya melaju menuju NYC. Rute yang akan kami tempuh akan melewati negara-negara bagian berikut ini: Indiana (IN), Kentucky (KY), West Virginia (WV), Pennsylvania (PA), Maryland (MD), New Jersey (NJ), dan akhirnya New York (NY).

Di kota Lexingtin, KY kami berhenti sejenak untuk makan siang yang sangat telat karena sampai di sana sudah jam 3-an. Untungnya selama di jalan kami sudah sarapan cukup berat dengan bekal arem dan tahu isi, jadinya tak terlalu kelaparan. Karena didera sakit perut selama perjalanan, saya tak memesan makanan. Resto bernama Taste of Chicago #5 ini menyediakan makanan khas Ngamrikah seperti sub, burger, hot dog, dan sayap ayam goreng. Menurut suami, makanannya cukup enak. Tapi untuk icip-icip saja, saya tak berminat karena perut mules bukan main.

Sakit perut saya baru mereda setelah minum obat. Belakangan, saya tahu bahwa sakit perut itu disebabkan tamu bulanan. Saking sibuknya persiapan kok sampai gak ngeh sama jadwal sendiri ya? He…he.

Dan karena minum obat pula, saya teler sepanjang jalan setelah Lexington. Di tengah perjalanan, saya terbangun dengan tiba-tiba dan sangat kaget karena di depan mata terlihat bahwa moncong depan si Hejo sudah akan menabrak sebuah kapal bermotor yang sedang diangkut di atas trailer yang ditarik sebuah truk bak terbuka. Jaraknya sudah dekaaaat sekali, tinggal beberapa inci saja. Saya langsung refleks menepuk lengan suami sambil berkata kalem, “Yah, hampir nabrak tuh!”

Suami saya langsung terbangun. Hah, terbangun? Yap, dia ternyata tertidur sambil tetap mengemudi! Bahaya banget, kan?

Kalau saja saya tidak tiba-tiba terbangun lebih dulu dan membangunkannya, mungkin kami tak akan pernah tiba di NYC. Saat itu kami cuma bisa mengucap syukur berulang-ulang karena kejadiannya sulit dipercaya. Seolah memang ada yang membangunkan di detik-detik terakhir.

Karena peristiwa hampir menabrak itu, suami saya malah setelah itu hilang ngantuknya dan kami melaju terus sampai mulai memasuki wilayah West Virginia. Kami kemudian berniat mampir ke masjid untuk beribadah. Dari situs Zabihah, saya sudah menemukan sebuah masjid di kota Charleston WV. Ternyata masjid itu sepi sekali, tak ada orang selain kami. Karena sepinya, seekor rusa betina sampai tak malu-malu menunjukkan sosoknya di balik pepohonan. Bukannya buru-buru sholat, kami malah potret-potret rusa dan diri sendiri dulu deh.

Lucunya, ternyata pintu utama masjid itu dikunci. Dan hanya satu pintu yang bisa dibuka, yaitu pintu samping menuju ruang pertemuannya. Masih dengan tertawa-tawa karena senang baru melihat rusa, kami masuki ruangan dan mencari tempat berwudhu. Saat itu saya mendengar suara “nguing-nguing” aneh yang makin lama makin keras. Ternyata suara itu adalah suara alarm! Wah gawat! Rupanya pintu yang bisa dibuka itu dipasangi alarm. Berarti kami bisa dianggap breaking and entering neh! Kriminal tuh!

Saya langsung deg-degkan dan suami langsung mengomando kami untuk… kaboooor. Ha…ha…ha. Lucunya, saat melihat bahwa di tempat parkir ada kamera, suami langsung ngomong ke kamera itu, “We just wanted to pray.” Daripada jadi masalah. Kalau sampai ditangkap polisi cuma gara-gara salah paham kan berabe. Lagian kenapa sih masjid dikasih alarm begitu? Heran deh.

Akhirnya kami sholat di salah satu rest area yang selalu tersedia setiap berpuluh mil. Wudhu hanya dengan air minum botolan dan sholat dengan duduk di mobil. Ya mau gimana lagi.

Setelah beristirahat sejenak di Rest Area, kami melanjutkan perjalanan. Dan mulai terasa bahwa jalan yang tadinya lurus-lurus saja, mulai lebih banyak kelokannya. Alamak, ternyata yang akan kami lewati adalah wilayah pegunungan. Jalannya penuh tikungan dan dibatasi tebing-tebing batu yang dipapas. Indah sekali pemandangannya, apalagi kami menempuhnya saat menjelang matahari terbenam.

Selain indah, jalan bernama I-79 ini juga berisiko tinggi karena tikungannya banyak yang tajam dan panjang. Kami pun berniat akan segera mencari penginapan sebelum hari bertambah gelap, karena tampaknya jalan di pegunungan ini lumayan jauh jarak tempuhnya. Gak habis-habis gitu lo kelokannya.

Seperti sudah bisa diduga, tidak banyak pemukiman di tepian jalan I-79 ini. Yang namanya wilayah pegunungan atau hutan di sini pasti cuma menyediakan sedikit jalan keluar dari Insterstate (jalan antar kota). Jalan keluar dari Interstate biasanya akan menuju sebuah kota kecil yang menawarkan beberapa fasilitas seperti pom bensin, restoran, dan penginapan. Namun, karena hanya ada sedikit kota persinggahan di sepanjang rute jalan ini, maka pencarian hotelpun menjadi sulit.

Loh, bukannya sudah dirancang akan transit di kota mana saja? Ya… begitu deh. Karena keterlambatan waktu keberangkatan, rencana kota transit pun buyar. Meskipun saya sudah membuat ancang-ancang akan sampai di kota mana, tapi kenyataannya sudah jam 9 malam dan kami masih jauuuh dari kota transit tujuan. Akhirnya kami terpaksa berburu penginapan dengan cara tradisional: mengandalkan GPS dan Internet di HP.

Hotel pertama yang kami datangi terletak di atas bukit. Padahal cuma hotel kelas 2, tapi mereka menetapkan tarif 95 dollar, belum termasuk pajak. Sialan! Segitu sih bisa dapat hotel tengah kota Chicago. Saya langsung minta suami untuk cabut dan menuju kota pemberhentian selanjutnya dan berburu penginapan di sana saja.

Langit sudah sangat gelap, ditambah lagi dengan penerangan di jalan raya yang sangat minimal. Kamipun menerapkan strategi konvoi, berusaha sedekat mungkin mengikuti mobil di depan supaya ada temannya. Ternyata pengemudi mobil-mobil lainpun memiliki pikiran yang sama. Maka berderetlah mobil-mobil melaju dengan kecepatan sedang di jalan yang berbahaya ini. Lucu, seperti main ular naga panjangnya.

Tanpa sadar, bensin di tangki semakin menipis. Tahu-tahu, sudah hampir mendekati garis merah batas bawah. Panik, suami saya langsung membelok menuju jalan keluar berikutnya tanpa melihat tanda di pinggir jalan apakah tersedia bensin atau tidak. Ternyata tidak ada pom bensin! Dan sialnya saat hendak kembali ke Interstate, suami saya salah ambil jalan dan kami akhirnya menuju arah sebaliknya! Waks! Alhasil, kami harus cari jalan keluar berikutnya, yang jauuuh sekali, dan memutar balik. Tetap, tanpa menemukan bensin. Perkiraan saya, daerah yang sedang kami lewati pasti daerah udik banget yang sampai pom bensinpun tak ada.

Rasanya deg-degkan banget saat itu. Bayangan bahwa kami akan terdampar dalam mobil tanpa bensin di daerah pegunungan yang tak berpenghuni mulai menghantui. Eh mungkin juga ada penghuninya di hutan-hutan, soalnya beberapa kali kami melihat tanda “Awas ada kijang dan beruang” yang mengingatkan pengemudi untuk berhati-hati, takutnya ada hewan liar yang menyeberang jalan.

Padahal waktu ke Florida kan sudah pernah ya kejadian nyaris habis bensin? Lalu kenapa sekarang berulang sih? Meski kesal, tapi saya gak ngomong apa-apa. Selain bakal nambah masalah karena pasti bakal berantem, saya juga gak mau menambah kepanikan suami. Berdoa saja deh agar bisa segera menemukan pom bensin dan penginapan.

Hari semakin gelap dan seramnya, kilat mulai terlihat. Dan terjadilah hal yang paling tidak ideal. Dengan bermobil yang nyaris habis bensin, di tengah kegelapan malam, dalam keadaan hujan lebat, kami berusaha melintasi jalanan penuh kelokan di wilayah pegunungan. Sempat menyesal juga sih, kenapa tadi tak menginap di hotel tadi ya. Kalau sudah risiko tinggi begini, selisih berapa puluh dollar tak ada artinya, bukan?

Sekarang tak ada yang bisa dilakukan selain tetap berjalan dan berharap ada kota terdekat yang muncul di depan sana. Setiap rambu penanda jalan saya baca lekat-lekat di balik kaca mobil yang terguyur hujan.

Syukurlah tak berapa lama, saat hujan sudah mulai mereda, tampaklah sebuah kota yang cukup besar. Dari rambu-rambu sebelum memasukinya, kami tahu bahwa ada beberapa hotel dan pompa bensin di situ.

Urusan bensin aman. Namun untuk hotel, kami tetap berusaha mencari yang lebih murah dan menemukannya di kota Bridgeport, WV. Dengan tarif di bawah yang dianggarkan dan fasilitas sarapan pagi, kami merasa motel Super 8 ini cukup layak untuk diinapi.

Anak-anak yang sedari tadi terlelap kami gendong menuju kamar motel. Barang yang dibawa hanya tas kecil berisi pakaian ganti untuk semalam dan sikat gigi, serta makanan yang akan kami simpan di kulkas. Sesampainya di kamar, anak-anak malahan bangun dan jadi lincah sekali. Menginap di tempat baru biasanya memang membuat anak2 jadi excited. Si Bungsu menjelajah kamar, melakukan inspeksi sampai ke kamar mandi. Meski sudah pukul 11 malam, tapi mereka masih mau diminta untuk mandi dengan air hangat dan setelah sikat gigi mereka baru tidur kembali.

Lega rasanya berhasil tiba di satu titik pemberhentian setelah melalui banyak sekali kejadian di sepanjang perjalanan tadi. Semoga besok perjalanannya lebih lancar dan bisa selamat tiba di NYC.




Foto-foto perjalanan bisa ditengok di sini. Cekidot Gan!

(bersambung)

[NYC series part 2] Emak Kece Pusing

Bayangkan situasi seperti ini: Anda harus menyiapkan sebuah rencana perjalanan selama dua minggu bagi sebuah keluarga yang terdiri dari dua orang dewasa dan dua anak kecil ke dua kota tujuan yang letaknya lebih dari 1300 mil dari kota Anda dan harus dapat melakukan segala persiapannya dalam tempo 3 minggu saja.

Bagi mereka yang sering bepergian jauh bersama keluarga dan melakukan persiapannya, pasti mengerti sekali betapa banyaknya hal-hal yang harus dipersiapkan. Mulai dari merancang anggaran, menentukan rute perjalanan, kota transit dan kota tujuan serta tempat-tempat yang akan dikunjungi selama di kota-kota tersebut, merancang transportasi, akomodasi, membuat daftar barang yang harus disertakan saat berkemas-kemas sampai dengan persiapan aktualnya merupakan daftar panjang pekerjaan yang musti saya lakukan. Sebagian besar membutuhkan riset mendalam yang walau tak ilmiah tapi cukup memakan waktu. Untungnya sekarang sudah ada fasilitas Internet, sehingga dengan meramban sana-sini, dalam waktu singkat kita dapat mengumpulkan banyak data.

Begitupun usaha persiapan saya kali ini. Dengan modal Internet tak terbatas berkecepatan unggah dan unduh 54 Mbps, saya berhasil mengumpulkan beberapa informasi berharga sekaligus melakukan beberapa pemesanan akomodasi dan tiket. Sebagai tambahan, saya juga menyewa beberapa buku perpustakaan (5 buku tepatnya) seputar perjalanan ke NYC dan DC yang akan saya baca cepat-cepat untuk menambah referensi.

New York City, seperti sudah diceritakan sebelumnya, merupakan kota pilihan pertama. Berhubung cuti yang didapat Sayang Cintaku adalah untuk dua minggu, maka rasanya kok sayang kalau dua minggu hanya dihabiskan di satu kota. Lalu, kalau memang ingin ke dua kota, kota mana lagi yang akan kami jelajahi? Entah kenapa, pikiran saya langsung teringat pada film Night at the Museum 2-nya Ben Stiller. Di film itu diperlihatkan kejar-kejaran seru antara bala tentara tokoh penjahat (mumi saudaranya raja Mesir bernama siapaaaa gitu yang bangkit kembali) dengan tokoh utama yang diperankan Ben Stiller yang didampingi Amy Adams (pernah main di Enchanted). Dan kejar-kejaran tersebut berlangsung di museum Smithsonian yang berada di Washington DC.

Aha! Bagaimana jika kandidat kota kedua yang dicari-cari ini adalah Washington DC? Tapi tunggu dulu… kira-kira berapa ya biaya masuk museum-mueum yang ada di situ? Jangan-jangan mahal. Let’s just see. Maka saya klik situs museum Smithsonian. Langsung kaget bukan main karena ternyata harga tiketnya…. jreng jreng jreng (drum rolls) GRATIS!

Oh Mama oh Papa, sungguh si Emak yang sangat gemar barang-barang gratisan ini menjadi sangat bersuka cita! Jadi total ada 19 museum di kompleks Smithsonian, dan semuanya… semuanya… gratisssss! Dan begonya, saya baru saja tahu tentang hal ini saat merancang liburan musim panas kemarin itu. Oalah Mak, kemane aje lu?

Akhirnya, mantap jaya sudah hati ini untuk menjadikan DC sebagai kota kedua yang akan kami kunjungi. Tapi berhubung kami memang lebih fokus ke NYC, maka porsi waktu untuk DC masih lebih pendek dibandingkan dengan porsi untuk NYC. Kami berencana menginap di NYC dari tanggal 4 sampai 11 Juli, sedangkan di DC dari 11 sampai 15 Juli.

Selanjutnya, persiapan transportasi. Ini sih gampang. Karena sudah pasti akan lebih mahal jika kami naik transport umum seperti kereta api, apalagi pesawat terbang. Maka pilihan jatuh pada bermobil. Meskipun mobil kami sudah termasuk jompo-jompo, tapi mudah-mudahan masih lancar dan bisa mengantar kami pergi dan pulang dengan selamat seperti halnya saat kami melakukan perjalanan ke pantai Daytona, Florida, tahun lalu.

Beres dengan transportasi, maka saya lanjutkan dengan persiapan akomodasi. Untuk yang satu ini, persiapannya cukup lama karena dua kota besar ini termasuk dua kota paling mahal di AS, apalagi untuk pelancong. Sialnya lagi, karena cuma berjarak tiga minggu dari hari-H, maka berkurang sudah kesempatan untuk bisa mendapatkan tarif kamar yang murah. Lupakan saja keinginan untuk bisa menginap dekat dengan pusat kota, karena harga kamar semalamnya bisa lebih dari 100 dollar. Dengan anggaran sangat terbatas dan kadar pengeretan yang tinggi, maka targetku adalah kamar senilai paling tinggi 75 dollar semalam dan kalau bisa tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Beberapa hotel di bagian New Jersey yang berbatasan dengan NYC tadinya menjadi sasaran tembakku karena kedekatan jaraknya dengan Manhattan. Tapi sayangnya, transportasi umum di situ tidak termasuk jaringan NYC. Padahal rencananya selama di NYC dan DC, kami akan menikmati jaringan transport umum dengan cara membeli kartu pass-all you can ride. Kalau masih harus bayar transport atau membeli kartu lain lagi untuk di New Jersey, bisa tekor dong. Selain itu, beberapa ulasan tentang hotel-hotel yang ada di daerah situ juga kurang meyakinkan.

Selain harga dan lokasi, aku juga mengincar hotel yang paling tidak menyediakan kulkas dan microwave di kamarnya, syukur-syukur kalau bisa dapur yang lengkap sekalian. Berdasarkan pengalaman di Florida, anggaran berhasil kami tekan berkat adanya dapur di penginapan yang berarti kami tidak harus makan di restoran. Masak sendiri dan membawa bekal yang disiapkan sendiri, meskipun cuma masakan sederhana, juga disarankan di salah satu buku referensi yang aku baca.

Tapi dari calon-calon hotel di NJ, tidak satupun yang menyediakan fasilitas kulkas dan microwave. Kalaupun ada, letaknya di daerah berbahaya yang meja resepsionisnya dilapisi kaca anti peluru (menurut ulasan/review). Bisa dibayangkan lokasinya ada di wilayah seperti apa.

Di saat sudah sangat pusing dan hampir putus asa mencari tempat menginap, saya teringat alternatif lain yang mustinya sudah saya pikirkan sebelumnya: menyewa apartemen orang seperti saat di Daytona. Loh? Tapi bukannya sewa apartemen di NYC pasti mahal? Ya usaha cari tahu saja dulu. Ya kan?

Sekali lagi saya kecewa, karena kebanyakan apartemen atau kamar di NYC sudah penuh atau dipesan. Maklumlah, bulan Juni-Agustus adalah masa liburan sekolah di negeri ini, jadi tak heran kalau para turis berbondong-bondong mendatangi kota-kota tujuan wisata.

Titik terang mulai terlihat saat saya membuka situs Airbnb yang sebelumnya sudah pernah saya tengok. Airbnb merupakan salah satu situs yang menghubungkan orang yang menyewakan apartemennya, baik seluruhnya atau sebagian saja (bisa satu kamar dari beberapa kamar yang ada di tempatnya) dengan para calon penyewa. Bagusnya, transaksi di Airbnb dilakukan melalui situs ini, jadi terasa lebih aman. Uang yang kami bayarkan baru bisa diambil oleh pemilik apartemen sehari setelah kami menginap di sana. Ini artinya memperkecil kemungknan penipuan.

Setelah meramban berhari-hari, akhirnya aku menemukan beberapa kandidat. Saya cukup pasrah melihat bahwa beberapa kandidat ini berlokasi jauh dari pusat kota. Tak apalah, yang penting masih terhubung dengan transportasi umum.

Upaya pendekatan dengan menyurati beberapa pemilik saya lakukan. Akhirnya pilihan jatuh ke
rumah seorang ibu bernama Joan. Lokasinya di Brooklyn NYC. Terus terang saya tak ada gambaran sama sekali seperti apa Brooklyn itu. Tapi dengan Google Maps, saya bisa lihat kira-kira jalan dan lingkungan di sekitar rumah si Joan seperti apa, dan menemukan dengan senang bahwa halte bus kota hanya satu blok dari tempatnya.

Dalam iklannya di Airbnb, Joan menawarkan sebuah studio yang baru direnovasi, lengkap dengan tempat tidur, kamar mandi sendiri (tak harus berbagi dengan pemilik), dapur dan ruang tamu. Dari foto-foto yang dipajangnya, saya melihat bahwa ruang apartemen tanpa sekat pembatas yang disebut studio ini sangat rapi dan tertata dengan baik.

Dari Google Maps, saya juga mengetahui bahwa jarak tempuh dari rumah Joan ke Manhattan memakan waktu 1 jam 20 menit. Lama ya. Bisa habis waktu di jalan dong. Tapi, berhubung Joan menawarkan harga yang cukup menawan, maka kami putuskan untuk mengorbankan lokasi demi kenyamanan lain dan harga. Dua minggu sebelum berangkat, urusan pemesanan akomodasi di NYC telah berhasil dilakukan. Lega rasanya.

Selanjutnya, saya merancang harus kemana saja selama di NYC. Berhubung waktunya makin dekat, maka saya mengandalkan pembelian paket tiket ke beberapa museum dan situs bersejarah di NYC. Memang tujuan utama ke NYC adalah untuk mengunjungi ikon-ikon NYC yang sudah terkenal ke seluruh dunia. Dan sudah sejak dahulu saya mengincar sebuah paket tiket yang menarik dan ditawarkan dengan biaya yang memikat. Paket ini bernama City Pass yang menawarkan tiket ke berbagai tempat di beberapa kota besar seperti NYC, Chicago, San Fransisco dan lain-lain. Dengan paket ini, kita bukan saja akan mendapat tiket dengan harga di bawah harga biasa, namun juga mendapat keistimewaan masuk tanpa mengantre. Dalam bayanganku, di musim liburan seperti ini, bisa dipastikan semua tempat wisata akan dipenuhi oleh para turis. Jika bisa memotong antrean dan langsung masuk dengan City Pass, pasti akan menghemat waktu dan juga lebih nyaman.

Serunya lagi, daftar tempat yang ada di City Pass NYC sesuai dengan tempat-tempat yang memang ingin kami kunjungi, seperti Statue of Liberty, Empire State Building, dan beberapa museum seni rupa. Akhirnya saya membeli City Pass secara daring (online). Beres? Belum sih, karena selanjutnya saya harus merancang tempat-tempat lain selain 6 tempat utama yang akan kami kunjungi dengan menggunakan City Pass. Di sinilah buku-buku yang saya pinjam dari perpustakaan menjadi sangat bermanfaat. Selain lokasi-lokasi terkenal, di buku juga dipaparkan latar belakang sejarah dari beberapa tempat yang membuat tempat-tempat itu semakin memikat hati.

Dari buku, aku jadi tahu sejarah singkat kota New York. Pada awalnya pulau Manhattan “dibeli” (ah mosok? dirampas kaliii) dari suku Indian oleh penjajah Belanda pada tahun 1626 dan dinamakan New Amsterdam. Dan kemudian mereka memagari wilayah itu dengan tembok kayu, sehingga wilayah bekas tempat tembok itu berdiri disebut sebagai Wall Street. Data kecil yang menarik seperti saat pendudukan Belanda, ada Walikota New York yang sering berpakaian dan berdandan seperti wanita juga disebutkan di buku panduan wisata itu. Lalu, kota ini beralih kepemilikannya dari Belanda ke Inggris pada tahun 1667. Yang tidak disebutkan di buku itu adalah bahwa sebenarnya NYC adalah hasil tukar guling antara Belanda dengan Inggris. Belanda menyerahkan NYC, sedangkan Inggris menyerahkan Suriname kepada Belanda.

Sejarah di balik Statue of Liberty hingga kisah tragis tentang arsitek jembatan Brooklyn yang meninggal karena kakinya terjepit kapal yang sedang berlabuh, saya lalap sembari tetap membuat rancangan perjalanan. Di program Excell aku buat rancangan anggaran, dan dengan dibantu Google Maps aku membuat rute perjalanan dan lokasi transit yang tepat (baca: yang tarif hotelnya murah meriah).

Persiapan tambahan lainnya adalah rancangan tempat makan atau restoran yang mungkin akan kami kunjungi selama di perjalanan atau selama menginap di NYC dan DC. Untuk hal ini, saya mengandalkan situs Zabihah yang menyediakan informasi resto halal di seluruh penjuru dunia. Dari situ saya jadi tahu bahwa ada beberapa restoran Padang di NYC, tepatnya di daerah Queens. Benar juga ya anekdot jaman dulu, bahwa yang namanya Resto Padang, di bulan juga ada! Selain restoran, saya juga mendata masjid-masjid yang tersedia sepanjang rute perjalanan dan di NYC serta DC.

Lalu, setelah rancangan untuk NYC 80% rampung, saya beralih ke DC. Tak beda dengan NYC, kota ini juga terkenal dengan tarif hotelnya yang tinggi. Untungnya, wilayah DC jauh lebih kecil daripada NYC. Sehingga, kalau kami menginap di luar DC sekalipun, jaraknya masih jauh lebih dekat daripada dari Brooklyn ke Manhattan. Syukurlah, tanpa memakan waktu lama saya menemukan sebuah hotel bintang 2,5 yang lokasinya hanya setengah jam dari pusat kota. Hotel bernama Howard Johnson ini menyediakan fasilitas yang sesuai dengan harapan kami, yaitu ada kulkas dan microwave. Sebagai bonus, hotel ini juga menyediakan sarapan pagi dan memiliki fasilitas kolam renang dan fasilitas mini bus yang bisa mengantar jemput ke dan dari stasiun kereta api, sistem transport yang kami pilih lagi sebagai sarana berkeliling kota. .

Untuk plesiran kali ini, saya dan suami tak merahasiakannya dari anak-anak dalam rangka membuat kejutan seperti pada acara jalan-jalan sebelumnya. Karena meminta pengertian dari anak-anak untuk membiarkan saya bercokol di depan lapie demi membuat perencanaan, maka saya sudah beritahukan pada mereka tentang rencana ke NYC dan DC. Lucunya, sampai menjelang berangkat, si bungsu masih saja belum percaya kalau kami benar-benar akan ke NYC. Dia pikir Mamanya cuma bercanda. Padahal sudah saya tunjukkan gambar-gambar kota dan juga bakal penginapan kami selama di dua kota tersebut. Tapi dia tetap saja tak percaya. Apa ini akibat sering “ditipu” ya oleh kami? He…he…he.

Sayangnya perencanaan untuk ke DC tidak sedetail seperti ke NYC. Saya cuma merancang urutan museum yang kira-kira akan kami datangi tapi dengan sangat fleksibel. Gratis ini, mau keluar masuk kapan saja boleh kan? Mau menclak-menclok dari satu museum ke museum lain juga bisa kan? Begitu pikir saya. Rute pulangpun tak terlalu saya pikirkan karena merasa masih bisa merancangnya nanti saat sudah sampai di NYC atau DC.

Seminggu sebelum berangkat, saya sudah mulai proses mengepak pakaian meskipun kopor baru diturunkan pada H-2. Yang penting proses seleksi pakaian dan pernik-perniknya telah dilakukan, jadi nanti tinggal masukkan baju ke dalam kopor. Dua hari dan sehari sebelum berangkat saya juga memasak perbekalan untuk di perjalanan berupa tahu isi dan arem-arem. I
nspirasi membuat arem-arem datang karena terkenang bekal yang dibuatkan Ibu saat dulu kami piknik ke pantai. Meski cuma memakai bumbu instan dan modal daun pisang yang sudah tersimpan di
freezer lama sekali, maka jadilah juga arem-arem ala Emak Kece yang cukup memuaskan rasa kangen pada masakan Ibu.





(bersambung)

Awards Ultah MPID – Akrabnya MPers Seakrab-akrabnya

Mau ikutan lomba yang seru dan hadiahnya penuh kejutan?

Mau ikutan lomba yang memang berdasarkan tulisan kita selama ini di MP tanpa dibebani oleh kentut eh ketentuan SEO?

Mau ikutan lomba yang benar-benar dari kita, oleh kita, dan untuk kita?

Yuk temans, ikutan lomba berikut ini! Silakan langsung ceklik tautan berikut INI.

Hai hai haiiiiiiiiiiii rekan MPers tercintaaaa
Katanya nihhhh…

Tak Cinta itu karena Tak Sayang
Tak sayang itu karena Tak Kenal
Tak kenal….. Ya kenalan duooooongggg




Baiklah rekans…
Untuk mempererat tali persahabatan kita yang sebelumnya memang sudah erat, supaya tambah erat lagi seerat-eratnya tapi ‘gak pake ‘ngerat dan ‘ngaret… maka dalam rangka HUT MPID 2011, kita mengadakan acara: Pilih memilih sesama MPers yuks!!!

***************

Kategorinya adalah :

Buat Mpers Blogger:
penilaian berdasarkan: isi MP-nya (yang berkaitan dengan kriteria) & kesan saat kopdar

  1. Mper terdudul
  2. Mper tergalak
  3. Mper pemalu/misterius
  4. Mper ternarsis
  5. Mper terngalong
  6. Mper tercerewet
  7. Mper tersaru
  8. Mper paling gaul
  9. Mper paling garing
  10. Mper paling rajin kopdar


Buat Mpers OS :

  1. OS paling sukses berkat MP
  2. OS paling gaul sama blogger
  3. OS paling rajin kasih diskon
  4. OS paling sopan dalam beriklan


Buat kategori Konten MP/Postingan :

  1. Konten Foto Terbaik
  2. Konten Jurnal Paling Konsisten (temanya)
  3. Konten Jurnal Curhat Terbaik
  4. Konten Resep Masakan Terbaik
  5. Konten Lomba Terseru/Terbaik (baik kuantitas dan kualitas)
  6. Konten Review Terbaik
  7. Konten Sastra Terbaik
  8. Konten Catatan Perjalanan Terbaik
  9. Konten Lika-Liku Keluarga Terbaik
  10. Konten Tips/How To Terbaik


**********

Yang mo ikutan, ini aturan umumnya:

  1. Setiap MPers Blogger/OS berhak mengajukan nama sesuai dengan semua kategori diatas, masing2 kategori satu nama.
  2. ID MPers Blogger/OS/ yang diajukan telah berumur minimal 1 tahun.
  3. Usulan nama dibuka sejak hari ini, 02 s/d 07 Juli 2011, langsung diusulkan dalam reply di Jurnal INI, dengan format URL (alamat mp kandidat yang diusulkan).
  4. Untuk masing-masing kategori akan dipilih 5 nama berdasarkan suara terbanyak dari usulan.
  5. Dilakukan pemungutan suara (voting) secara terbuka untuk menentukan pemenang berdasarkan masing-masing kategori, periode 10 s/d 20 Juli 2011.
  6. Para finalis yang terpilih, dipersilahkan untuk melakukan kampanye selama masa pemungutan suara.
  7. Khusus saat pemungutan suara : (a) Satu ID hanya boleh memilih satu nama untuk masing-masing kategori, (b) ID yang mengikuti polling adalah ID yang telah
    dibuat sebelum tanggal 01 Juli 2011.
  8. Pengumuman pemenang tanggal 21 Juli 2011.
  9. Penyerahan hadiah di KOPDAR MPID tgl 23 Juli 2011, bagi yang berada di luar negeri hadiah dikirim ke alamat Indonesia.
  10. Peraturan terpenting : SEO (Search Engine Opojare) tidak mempengaruhi penilaian.

Nah, yang ini aturan khusus buat kategori Konten MP:

  1. Berdasarkan nama yang diajukan MPers, Juri memilih nominator yang dianggap layak dan boleh menambahkan kalau memang dianggap ada yang layak tapi tidak diusulkan oleh Mpers lain. Masing-masing kategori ada 5 nama nominator.
  2. Dilakukan pemungutan suara terbuka sebagaimana dalam aturan umum.
  3. Pemenang ditetapkan berdasarkan penilaian juri dan pemungutan suara dengan porsi masing – masing : (a) Penilaian Juri 60%, (b) pemungutan suara 40%.
  4. Pengumuman pemenang tanggal 21 Juli dan penyerahan hadiah tanggal 23 Juli 2011.


*********

Hadiah menarik menanti berupa kejutan manis, semanis lomba ini dan tidak menganut falsafah isuk dele sore tempe. Dan yang pasti akan semakin mengakrabkan MPers!!! eaaaaaa…

***********

Baiklah, berikut ini adalah para Tukang Ngitung-itung alias THE JURORS:

Juragan Wungkal
Jagonya FF
Tukang Ngebolang
Penikmat Cabe
Penikmat Cinta
Penikmat Hitam
Emak Narsis
Bintang Iklan Tanpa Diet

Warning !!!
Tukang Ngitung-itung , gak boleh diajuin sebagai Nominator yaaaaaaa!

************

Selamat memilih rekans!
Salurkan suara: Satu Untuk Akrabnya MPERS


TETAP CEMANGAT!!!

Burnt Out, Information Overload!

Sebenarnya gak mau cerita-cerita dulu, nanti saja kalau sudah sampai dan kalau gak tepar mau menyampaikan laporan langsung ala mbak Arie. Tapi dasar aku emak2 cerewet, gak tahan memendam rasa (cieeee).

Jadi begini temans, ceritanya suami tercintah memberi kejutan besar di awal bulan Juni bahwa dia berhasil membujuk boss-nya untuk memberikan dia cuti selama dua minggu di bulan Juli. Kami, yang tadinya gak berencana untuk pergi kemana-mana selama liburan musim panasnya anak-anak yang 2,5 bulan lamanya, akhirnya sepakat untuk mewujudkan “mimpi besar” mengunjungi salah satu kota besar di ngamrikah.

Seperti sudah pernah aku ceritakan sebelumnya, untuk bisa pergi ke kota-kota besar di pesisir timur atau barat ngamrikah buat kami yang berada di tengah2 ini tak semudah membalik telapak tangan. Selain faktor jarak yang ratusan bahkan lebih dari seribu mil jauhnya, faktor dana dan juga kesempatan cuti panjang merupakan tantangan2 yang harus kami lewati sebelum bisa memutuskan untuk berangkat.

Behubung suamiku susah sekali dapat cuti, maka aku gak berharap banyak akan bisa melakukan perjalanan jauh di musim panas ini. Maka, aku tenang-tenang saja, tak melakukan persiapan apa2. Paling-paling saat weekend, kami melancong ke kota terdekat, St. Louis yang lumayan menghibur dengan taman kotanya, Gateway Arch-nya, museum, dan restoran halalnya.

Sempat terlintas ingin memanfaatkan liburan Independence Day yang jatuh di hari Senin, tanggal 4 Juli. Target terdekat adalah kota Chicago yang sudah beberapa kali kami kunjungi. Maka aku mulai melancarkan jurus rayuan maut (saaah) agar suamiku mau diajak nginep satu dua malam di the Windy City itu. Untuk bisa menginap dua malam, suamiku harus minta ijin cuti satu hari karena hari Sabtu dia masih masuk kerja.

Aku kirim beberapa SMS ke HPnya untuk mengingatkannya agar minta cuti ke bossnya. Dasar iseng, aku tulis begini di SMS:

Yah, jangan lupa minta cuti ke si Boss satu hari atau 2 minggu sekalian. Siapa tahu kita bisa jalan2 lebih jauh ke ———.

Saat itu aku pede banget suamiku gak akan minta cuti dua minggu. Wong, untuk minta satu haru saja dia suka gak enak mintanya.

Pas dia pulang kerja, suamiku cuma bilang, “Dikasih Ma.”

“Berapa hari?” tanyaku.

“Dua minggu, ” katanya kalem. “Ayo siap-siap kita ke ———.”

Waks! Seriyes lu Yah? Aku kaget karena gak nyangka dia bakal minta cuti 2 minggu dan dikasih pulak! Padahal jarak antara positif dapat cuti dan waktu cuti yang diberikan cuma sekitar 3 minggu. Ini sih sama aja kelahiran eh perjalanan spontan. Kan banyak banget yang harus disiapin, dari pesan tempat untuk diinepin, bikin rute jalan terbaik, bikin itinerary, bikin daftar packing, de el el. Namanya perjalanan dengan keluarga, biasanya memang lebih ribet daripada kalau cuma jalan sorangan.

Maka mulailah aku melakukan riset dan mengumpulkan literatur pendukung (duileee.. kesannya kayak mau bikin jurnal ilmiah aje lu, Mak!) Aku jadikan Internet sebagai pedomanku dan juga meminjam beberapa buku perpustakaan untuk menunjang penelitianku.

Dasar Emak kece yang ndableg, sudah tahu waktu persiapannya mefet, eh malah dengan sok2an merancang berkunjung ke DUA kota besar sekaligus! Aji mumpung ceritanya, pan dua kota itu gak terlalu jauh, sayang banget kalo dilewatin. Double the destinations, double the fun! Gitu pikir si Emak.

Tapi kan bacaannya jadi lebih banyak jugaaa!!!! Terhitung sudah ada 6 buku perjalanan yang harus aku baca untuk bisa merancang mau pergi kemana saja selama di dua kota tersebut. Untung ada metode baca skipping dan skimming yang menyingkat waktu bacaku. Meskipun tetap saja pusing karena informasi yang buanyaaak banget harus disesakkan di dalam otakku dalam waktu singkat (beberapa buku perpus baru bisa dipinjam seminggu sebelum berangkat).

Baik dari buku maupun Internet, informasi tentang obyek-obyek menarik di dua kota tersebut memang luar biasa banyaknya. Dari obyek khas turis (tourist traps istilahnya) sampai dengan tempat-tempat yang sering terlewatkan tapi layak untuk dikunjungi. Menjadi lebih ribet karena aku harus juga mengakomodasi keinginan anak-anak dengan tingkat usia berbeda dan juga suamiku yang meskipun dasarnya gak rewel tapi tetap harus diakomodasi dong ya.

Dan hari ini, hanya dua hari menjelang hari H-nya, aku dalam keadaan exhausted. Bukan saja mengumpulkan dan menyarikan informasi yang akan menjadi sebuah rencana perjalanan yang detail, tapi juga proses memesan akomodasi dan mulai packing yang bikin aku benar2 lelah lahir batin. Belum lagi masih harus menyelesaikan order dan pekerjaan rutin lainnya. Belum berangkat kok udah kecapekan yak. Inilah yang terjadi kalau waktu persiapannya mefet. Tapi gak apa-apalah bingung2 dan begadang2 di sini, daripada di sana pas udah di lokasi.