Winter Wonderland

Pertama kali mengalami musim dingin rasanya excited banget. Yang namanya salju kami tunggu2 dengan penuh harap. Diantara kami berempat, cuma suamiku yang gak terlalu antusias karena dia gak suka udara dingin. Di bulan Desember kami merasakan perubahan waktu yang cukup signifikan, siang bertambah pendek dan malam bertambah panjang. Jam 7 pagi masih gelap gulita padahal saat summer, jam 6 juga sudah terang sekali. Jam 5 sore juga sudah gelap dan masuk waktru magrib, pdhal saat summer…jam 7 malam pun masih terang benderang. Temperatur mulai turun, namun fluktuatif. Kadang temperatur cuma agak dingin di bawah 10 C, namun malamnya bisa drop ke minus 10 C. Tercatat tahun ini hingga tanggal 28 Desember ini baru 3 kali kami mengalami temperatur dibawah minus 10 C. Bayangkan efeknya untuk kulit tropis kami yang terbiasa dengan hawa hangat dan curahan cahaya matahari khatulistiwa.

Bersamaan dengan turunnya temperatur, maka udarapun menjadi kering dan berkurang kelembapannya. Dinyalakannya mesin penghangat (heater) menambah keringnya udara. Yang terjadi kemudian adalah batuk-batuk akibat keringnya tenggorokan dan juga pilek. Anakku yang kedua selalu mimisan di saat winter. Pertama kali dia mimisan kami panik karena darahnya mengalir deras seperti di film2 horor. Berkali-kali ia terbangun dengan hidung dan bantal yang berdarah2…serem kan. Namun di tahun-tahun berikutnya, frekuensi mimisannya makin berkurang, mungkin karena sudah lebih terbiasa.

Buat kami-kami yang dewasa (baca: tua), efek keringnya udara sangat terasa ke kulit. Kulit jadi kering bahkan seperti burikan dan kalau kena sabun terasa perih. Pertama kali mengalami hal ini, aku pikir itu daki yang menebal karena jarang mandi. Iya, namanya juga dingin…aku jadi jarang mandi deh hi..hi ngaku…malu2in aje deh. Saat mandi, bagian kulit yang berbusik itu aku gosok2 dengan sabun…loh malah perih dan gak hilang juga sih? Ternyata itu akibat kulit yang kering, dan kalau terkena air hangat/panas malah bisa tambah parah karena kulit jd makin kering sesudahnya. Sabun yang gak sesuai juga bisa bikin masalah kulit ini makin parah. Jurus yang ampuh akhirnya adalah mengenakan moisturizer banyak2 segera setelah mandi. Masalah kulit lain saat musim dingin adalah winter itch alias gatal2. Aku sih biasanya cuma mengatasinya dng pelembap, meskipun dijual juga lotion khusus utk masalah ini.

Bagaimana dengan saljunya? Meskipun daerah Chicago dan sekitarnya yang sama2 di state of Illinois sudah terbenam salju, namun kami baru kebagian gerimis salju atau disebut juga flurries. BTW busway, tahu gak kalau orang sini tuh menamakan salju dengan berbagai nama sesuai dengan jenisnya? Yang sering kami alami hingga bulan Desember adalah si flurries ini. Tahun lalu kami sempat mengalami freezing rain dan sleet yang lebih berbahaya dari salju biasa. Jalan2 jadi licin dan kecelakaan sering terjadi.

Pertama kalinya kami mengalami hujan salju cukup lebat adalah di malam hari. Bayangkan 3 kepala menempel di jendela yang besar di sebuah apartemen. Kami terkagum-kagum melihat turunnya salju yang seperti kapas melayang2 dengan ringan di kesunyian malam, juga pada pemandangan di luar dimana setiap permukaan seperti ditaburi gula halus. Indah sekali dan buat kami menakjubkan karena baru pertama kali mengalami.

Besoknya anak2 dengan semangat minta main ke luar. Aku ingat sekali hari itu anakku yg kedua dan baru berusia satu tahun menangis begitu dibawa keluar. Meskipun sudah dilapisi baju dan jaket berlapis2 tetap saja dinginnya membuat anak itu menangis. Dasar emaknya nekat, tetap saja mengajak ia bermain lempar-lemparan bola salju. Maafkan emakmu ini ya nak. Bayangan dinginnya udara luar setelah salju turun adalah yang dinginnya menggigit kulit, membuat kepala pusing dan hidung pasti melelehkan cairannya. Tanpa baju berlapis, jaket tebal, sarung tangan, tutup kepala (kupluk), kaos kaki tebal dan sepatu khusus salju (kalau yg biasa bisa tembus dan basah), mustahil bisa bertahan di atas salju. Salju itu indah tapi kejam juga rupanya.

Kali pertama mengalami winter, tiap kali ada salju agak tebal kami akan main ke luar. Lama-lama si kecil menikmati juga, apalagi setelah tetangga apartemen atas ikut main bersama mereka. Kami membuat snowman, anak-anak main seluncur dengan sepeda roda tiga mereka, dan tentunya foto-foto. Meskipun repot setengah mati utk persiapannya karena harus pakai baju berlapis dan perlengkapan lainnya, meskipun dingin luar biasa, tetap saja kami jabanin.

Di tahun-tahun berikutnya apakah masih begitu? Tentu saja…he…he. Tahun kemarin malah kami berusaha mencari gundukan salju yg agak tinggi karena kami sudah punya sebuah snow sled berbentuk perahu karet segitiga. Sayangnya di wilayah sekitar apartemen tidak ada tempat yang cukup seru untuk snow sledding. Mudah-mudahan tahun ini Ayahnya anak2 mau diajak berburu tempat meluncur yang seru.

Begitulah pengalaman kami tentang salju dan musim dingin. Meskipun efek musim dingin sebenarnya banyak gak enaknya, namun ada kenikmatan tersendiri yang bisa digali.

Rindu

Darahmu yang mengalir di nadiku
Berubah jadi genangan air mata,
Saat jarak membentang berjuta langkah
Menghalangi sentuhan, belaian dan pelukan.

Lewat butiran dingin yang beku
Yang turun menjadi air hujan
Kukirimkan tiap debar jantungku
Yang pernah menjadi satu denganmu.

Sambil berharap cemas dan ragu,
Akankah waktu menyisakan senyumannya,
Ataukah ia akan berlari cepat dan membentang
Jarak dan perih tak terkira di antara kita?

Artefak Dari Masa Kecil

Dari hasil mampir dan mencoba ceriwis di MP teman, aku jadi ingin membuat daftar barang-barang ‘kuno’ yang ada di jaman aku kecil namun mungkin sudah langka ditemui di Jakarta. Sebelumnya aku ingin mengungkapkan bahwa aku kecil pada jaman Majapahit..he…he…akhir 70an dan awal 80an deh. Huss…jangan nebak2 umur ya!

Karena semasa kecil aku suka mengintil Ibuku kemana saja beliau pergi, maka aku cukup kenal beberapa peralatan rumah tangga yang beliau pakai sehari-hari. Diantaranya adalah:

1. Setrikaan arang


Beraaat banget kalau pakai ini, tapi efektif karena pakaian seperti dipress. Setrikaan ini berat karena memang bahannya dari besi tebal dan bahan bakarnya dari arang yang dibakar. Berasa dukun kalau pakai setrikaan ini karena asapnya dan bara yang mengepul kemerahan. Waktu kecil dulu yang ada di benakku adalah seekor naga kalau melihat setrikaan ini sedang dipakai Ibu. Saat tutupnya dibuka untuk mematikan bara atau isi ulang maka bentuknya akan seperti mulut naga yang menganga. Setelah agak besar, aku malah pernah pakai ini untuk bikin roti bakar, iseng banget ya.

2. Kompor minyak tanah


Kompor jenis ini menggunakan sumbu dan bahan bakar minyak tanah (jelas lah). Untuk menyalakannya, kita harus menyulut sumbu yang sudah dinaikkan ke atas dengan cara memutar sebuah tuas. Setelah dinyalakan, kita harus menunggu dulu supaya apinya menyebar dan rata. Kompor mledug merupakan hal yg paling kutakutkan dari barang prasejarah yang satu ini. Cerita kompor yang meledug (meledak) dan membawa korban terpatri di benakku sehingga selalu hati-hati kalau pakai kompor ini. Efek negatifnya jadi agak paranoid dan giliran ada masalah, susah menyalakan sumbu misalnya, langsung lari ke Ibu. Oya, di tahun 2000-an, saat aku sudah menikah, kompor ini masih eksis lo…aku pun pernah membeli dan memakainya saat hendak membuat banyak kue untuk lebaran. Tapi ya itu tadi…masih selalu ketakutan karena momok kompor mledug.

3. Abu gosok

*adanya gambar abu gosok yg diselimutkan ke telur dlm rangka bikin telur asin…he…he.

Abu gosok digunakan untuk mencuci piring. Bentuknya ya seperti pasir warna abu-abu dengan tekstur yang kasar. Yang fenomenal sebenarnya Abang2 penjual abu gosok yang teriakannya khas sekali, sama fenomenalnya seperti tukang minyak tanah yang juga memiliki teriakan yang khas. Waktu kecil, kami suka iseng bertanya: “Bang, mandinya pakai apa?” Tentu saja dengan suara yang tak terdengar si Abang itu…lalu si Abang yang tak sadar ditanya akan teriak “Abuuuu gosok!” Oya, sampai sekarang saya cuma bisa menebak2 bahwa abu gosok ini untuk membuat cucian piring lebih bersih, ternyata memang iya ya…bisa menghilangkan noda teh di poci atau cangkir yang termasuk sulit dihilangkan seperti kata sumber di sini.

4. Papan gilesan


Digunakan untuk mencuci pakaian tanpa mesin cuci. Fungsinya untuk menggilas pakaian dengan tangan kita atau dengan sikat. Jaman dulu bahannya masih pakai kayu, lama kelamaan berganti dengan bahan plastik yang sebenarnya lebih gampang rusak. Papan gilesan dulu juga dipakai sebagai simile atau perbandingan saat kita mau menggoda (ngejek sih sebenarnya…he..he..nakal ya) teman yang kurus banget: “Badan kamu kayak papan gilesan deh.”

5. Panci dengan tambalan


Mungkin supaya hemat ya, Ibu-ibu jaman dulu kalau panci aluminiumnya bolong bukannya beli yang baru tapi malah setia menanti Abang Tukang Patri yang lewat di depan rumah. Panci-panci bolong tersebut lantas ditambal oleh si Abang dan Voila…bisa dipakai lagi deh. Nah, bekas tambalannya berwarna hitam…persis seperti tambalan gigiku, sehingga panci-panci tersebut jadi berpola. Kalau sekarang sih lebih banyak yang pakai panci atau penggorengan teflon yang gak bisa ditambal.

Sejauh ini baru barang-barang di atas yang kepikiran. Mungkin teman-teman punya tambahan lagi? Tapi kalau yang gak sejaman sama aku sih gak bisa ya…karena siapa tahu malah gak pernah ketemu dengan barang2 seperti yang aku sebut di atas.

Daylight Saving Time

Daylight Saving Time atau DST merupakan salah satu hal baru yang aku temui sejak tinggal di AS. Setiap bulan Maret dan November kami harus menyesuaikan semua jam di rumah dan di komputer dengan jam si DST ini. Di hari Minggu pada minggu kedua di bulan Maret, kami memajukan waktu sebanyak satu jam. Jadi kalau tadinya jam 6 pagi, maka berubah jadi jam 7 pagi. Sedangkan di bulan November, tepatnya di hari Minggu yang pertama, kami memundurkan waktu sebanyak satu jam. Jika tadinya jam 6 pagi, maka jam harus diubah menjadi jam 5 pagi. DST sendiri mengacu pada waktu selama bulan Maret sampai awal November tersebut.

Kenapa diberlakukan? Karena bulan Maret itu merupakan awal musim semi, dimana munculnya sinar matahari lebih cepat daripada di musim dingin dan lama kelamaan siang hari menjadi lebih panjang dibandingkan malam hari. Menjelang diberlakukannya DST, kami mengalami jam 5 pagi yang mulai terang dan jam 6 pagi yang terang benderang. Ketika jam dimajukan dari jam 6 menjadi jam 7 pagi, maka semua aktivitas dimulai lebih cepat. Hal ini berpengaruh terhadap produktivitas dan juga bisnis.

Sebaliknya, ketika DST berakhir di awal bulan November, jam 7 pagi masih gelap gulita. Ketika jam itu dimundurkan jadi jam 6 pagi kelihatan lebih pas karena anak-anak misalnya jadi tak perlu bersiap-siap berangkat sekolah saat masih gelap dan tentunya dingin sekali apalagi di saat winter.

Terus terang, kesimpulan ini aku dapat dari hasil pengamatan tanpa referensi apa-apa. Ketika seorang teman MP saat chatting keheranan karena beda waktu antara Jakarta dan tempatku tidak menjadi 13 jam, bukan 12 jam seperti sebelumnya, akupun mencoba mencari referensi umum dengan bertanya pada Mbah Google. Ternyata paparannya panjang juga dan juga ada hal-hal baru yang kutemui seperti bahwa terdapat kontroversi dari penerapan DST dan bahwa beberapa negara dulu pernah menerapkan DST namun sekarang tidak lagi. Untuk lebih detilnya, silahkan dilihat sendiri di Wikipedia atau di sini (salah satu link yg menarik dan direkomendasikan teman MP yang tadi itu looo).

Pengalaman pribadiku berkaitan dengan DST terjadi di bulan November pertama tinggal di sini. Aku kebetulan ada kelas pagi jam 10, seperti biasa aku berangkat dengan terburu-buru setelah berjibaku dengan mengasuh anak dan urusan rumah tangga lainnya. Aku langsung menuju lab komputer untuk mencetak makalahku di printer yang tersedia di situ. Untungnya aku bisa selesai 30 menit sebelum kuliah dimulai. Aku iseng mau chat dulu dengan temanku, sesama pelajar Indonesia yang kuliah di sini. Aku tengok jam di dalam lab untuk meyakinkan bahwa aku masih punya cukup waktu untuk berchatting ria. Loh…kok masih jam 8.30 ya? Jam di komputer kok juga 8.30 padahal jam tanganku sudah menunjukkan jam 9.30? Aku langsung bilang ke teman chatku mengenai keanehan ini. Dia langsung kasih tahu aku tentang DST, mungkin sambil senyum-senyum ya memaklumi ke-‘ndeso-anku. Wah, aku jadi merasa rugi berangkat lebih cepat dari yang semestinya. Untung juga tadi tidak menanyakan tentang jam itu pada petugas lab ya? Bisa lebih malu-maluin.

PS: Abe, this one is for you. Bayar pakai kiriman rendang ya! 🙂

Wordsmith Challenge #14

The Beach

I thought I would be happy once I saw the sea again. One year of living in the mid-west has prevented me from visiting a real beach, one which does not mean piles of sand intentionally dumped by men along the edge of a lake like what the campus beach has, but one with all the waves and the sky edging in the horizon. When the girls in my class proposed to have a girls only picnic to the nearest beach during the break which would last for a week, I joined them without hesitation. I figured that a vacation in the beach would really heal all the headache of late-night studying and also my homesickness that usually creeps up upon me whenever holiday arrives. But I was wrong. As I was walking on the sand, watching the glorious setting sun, I missed my family who was thousand of miles away from here even more.

Almost every weekend we would pack away some food and picnic gears and drove two hours to the west of Java. The long drive was always boring and it was not a scenic drive either. It was not until we were nearing the sea that we would see part of the beach here and there, peeking at the edge of gated lands, among the coconut trees, houses, or even in the middle of a traditional market which was divided by a small river filled with small boats owned by local fishermen. When we were little, we would scream with joy whenever we saw it, just like in Finding Wally game. We knew that it meant we almost reached our destination and soon we would be playing at that beach.

Our parents never chose the beach owned by hotels or rented cottages because they usually charged visitors a very expensive amount of fee. We would rather go to empty lots owned by local villagers who would ask only a few thousand rupiahs for a parking fee. We did not always find the right spot on the first attempt, so we sometimes had to drive in and out from not a very inviting parts of the beach, those that have to many rocks or too many visitors. That was why leaving our house as early as possible was crucial because we did not have to compete with so many other people who had the same objective as we did.

As soon as we found the perfect spot, we would bring the tikar, the cooler filled with drinks and the basket filled with foods. My sister and I would go for a swim while our parents would sit on the tikar, talking and munching the snacks made entirely by my Mom. My father was a worshiper of delicious foods while my Mom was a kitchen goddess. They are a perfect match when it comes to foods and eating. My Mom had also prepared a complete meal for lunch. She would call us, who probably were busy looking for clam shells and hermit crabs to have lunch together under the coconut tree. Funny how foods would be ten times more delicious when we ate them out here even when they were a bit cold or when there were only the simplest meals. After lunch, we would play again under the sun, darkening our already brown skin. When we got tired, we would just lie down and had some nap, feeling safe with our parents guarding us close by.

When I opened my eyes, I would see my parents holding hands like the most romantic couple ever lived on earth. I treasure this memory. Maybe that is why I like the beach so much. I noticed how my Father seemed so relax during these trips to the beach. He did not yell at us even once and he did not get angry with Mom as easily as he used to. It was like he was a different person. Mom also looked happier and more confident. She talked and smiled a lot more. Instead of pushing us away in order to finish the household chores like she did at home, she would take time to just watch us playing, listening to our excitement when we talked about our latest found treasure at the beach, and brushing our long hair while drying it in the breezy wind. We would spent the time until the sun disappeared in the horizon and went back home in another two hour drive that did not seem so long after all.

The darken sky and the chilly wind brought me back to the present. I looked into the horizon for the last time and letting the waves touched my toes. Somewhere out there at the edge of the sea, I know my sister, my Mom and Dad might be looking at the same sea and thinking about me and wishing that I would be happy even without them by my side. I turned around and started walking toward the beach house, and was glad to see the barbecue grill out in the patio and my good friends smiling at me, asking where I have been. For now, this is home, and reaping more wonderful memories and treasures is what I am going to do.

Tikar: a mat made from coconut leaves used like a blanket for picnicking