Sudah Bisa Apa?

Ini pertanyaan klasik yg ditanyakan pada ibu-ibu yg punya bayi. Jangan salah, aku gak keberatan ditanya gitu dan gak akan bosan ditanya hal yang sama. Selain itu tanda adanya perhatian, aku juga yakin bisa jawab dengan lancar karena memang anak bayi itu yg ditunggu-tunggu adalah milestones-nya. Jadi mustinya sih aku sadar dan tahu sekarang bayiku sudah bisa apa saja. Coba kalau pertanyaannya kayak gini: Eh bayilo udah bisa salto, kayang, dan koprol belum?  Atau: Bayimu judul thesisnya apa? Kan aku bakal melongo aja kalau ditanya gitu.

Jadi, Ghaazi sudah bisa apa? Sudah jadi little cruiser yang gemar menjelajah rumah mungil kami. Belum bisa berdiri sempurna tanpa bertumpu atau dipegangi, apalagi berjalan. Dan aku santai saja karena rentang waktu utk kemahiran ini cukup lebar. Dia sudah bisa panggil “mama” dengan jelas dan memanggil ayahnya kadang dengan jelas atau dengan kata “awah.” Dia bisa panggil nama kakak Darrelnya dengan “Daye” tapi masih belum jelas menyebut “Imo.

Banyak lagi pencapaian yang telah dilakuannya. Tapi lain waktu aku sambung deh.

Untuk yang kangen sama Ghaazi, ini sedikit obat penawarnya.

Foto diambil hari ini.

image

Advertisements

Main Aman

Pernah nonton film judulnya Ice Castles gak? Itu film juaduuulll banget tapi berkesan di memoriku. Ceritanya tentang seorang gadis yang berbakat ice skating atau seluncur es yang kemudian mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatannya. Di film itu diperlhatkan bahwa si gadis ini berlatih dengan sangat rajin, bahkan di halaman belakang rumahnya yang memiliki danau kecil yang membeku saat musim dingin. Karena nonton film ini, aku dengan sotoynya mengambil kesimpulan bahwa jika musim dingin, dan danau membeku maka kita bisa berseluncur atau jalan-jalan di atas es.

skating-on-frozen-lake-hdr-hd-wallpaper-68201

Singkat cerita, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki ke negeri empat musim. Dan suatu saat, pada musim dingin pertama yang aku alami, aku sempat berbincang dengan seorang teman satu kampus yang sudah lebih lama tinggal di sini. Dia pernah lama tinggal di Chicago yang letaknya di pinggir danau besaaaar bernama Lake Michigan. Spontan aku berseloroh, “Wah, enak dong ya kalau musim dingin bisa berseluncur di atas es di danau itu.”

Temanku ini langsung menatapku dengan aneh dan berkata, “Are you mad? Bahaya tauuukkk. Es di danau itu kan belum tentu tebal dan bisa menahan  berat manusia yang jalan-jalan atau berseluncur di atasnya.”

Lalu dia menjelaskan bahwa es yang tipis bisa retak, jebol, dan jatuh lah kita ke dalam danau yang pasti suhunya duingggiiin sekali.Akibatnya bisa fatal karena suhu tubuh ngedrop dan akhirnya menederita hypothermia. Ooohhh… baru tahu. Kalau dipikir-pikir ya benar juga. Danau itu kan biasanya dalam sekali dengan jumlah air yang buanyak sekali, dan sedingin-dinginnya suhu, nun jauh di bawah sana masih ada bagian yang cair, tidak membeku. Pertanyaannya adalah, kita yang awam ini apa tahu seberapa tebal es yang melapisi permukaan danau? Lalu apa tebalnya merata? Gimana kalau ada yang tebal dan ada yg tipis?

bigpreview_Frozen Lake

Aku gak akan pernah lupa ‘petuah’ si temanku ini soal es di danau. Kuingat dan kupatuhi. Apalagi setelah kemudian nonton film-film lain (ketahuan banget sumber ilmunya ecek2 kayak gini…ha…ha…ha) yang menggambarkan orang kejebur danau yang dilapisi es tipis. Makanya, meski dulu kami sempat tinggal di kompleks yang dekat banget dengan danau, tidak pernah ada niat sedikit pun untuk jalan-jalan di atas danaunya saat sempat membeku di musim dingin.

Dua tahun kemudian, datanglah satu keluarga dari Indonesia yang kebetulan bertempat tinggal di kompleks dekat danau yang pernah kami tempati (saat itu kami sudah pindah ke lokasi lain). Kebetulan kami bertemu mereka (sebutlah pasangan P dan O) saat sedang ngubek-ngubek barang bekas di Goodwill. Pembicaraan dimulai dengan bahasan tentang cuaca musim dingin dan salju tebal yang menghampiri kota kami. Lalu P menceritakan tentang pengalaman berjalan di atas danau (yg dekat rumahnya itu) yang membeku bersama dengan ketiga anaknya. Suamiku spontan berkata, “Loh, bahaya kan itu. Esnya bisa retak dan bisa nyemplung ke dalam danau.”

Jawaban si P, “Ahhh…gak apa2 kok. Saya sudah cek esnya, cukup tebal untuk ditapaki.”

Aku dan suamiku langsung berpandang-pandangan. Yeileee…dibilangin kok malah ngeyel. Belum kena batunya aja kali yaaaa. Ya sudah deh kalau gak percaya akan bahayanya berjalan di atas danau beku.

Lakes_wallpapers_364

OK, sampai di sini cerita berakhir? Tentu saja tidak. Ada sebabnya kenapa aku teringat lagi akan pembicaraan dengan teman dari Chicago itu dan dengan si P dan O. Kemarin Imo memberitahukanku bahwa salah satu temannya meninggal karena terjatuh ke dalam danau yang membeku. Namanya Justin, dan usianya baru 12 tahun. Dia dulu sempat satu kelas dengan Imo (kelas 4), dan Imo ingat pernah mengajari anak itu menggambar. Tahun lalu, anak itu pindah rumah dan sekolah.

Aku baru baca beritanya saat menulis postingan ini. Rupanya anak ini berjalan di atas danau beku yang ketebalannya cuma 2 inci bersama satu orang temannya. Keduanya jatuh ke dalam danau, tapi Justin tidak terselamatkan meski banyak sukarelawan dan petugas yang berusaha menyelamatkannya. Dia baru bisa diangkat dari danau 30 menit setelah terjatuh, yang mana sudah terlambat.

Tragis.

Tapi ya itu buktinya bahwa jalan di atas danau beku memang tidak aman. Mungkin aku dan suamiku termasuk tipe orang yang terlalu hati-hati, kurang punya semangat berpetualang mungkiiinnn di mata orang-orang seperti P dan O, tapi aku gak nyesel jadi orang “rada penakut” kayak gini. Ada banyak cara lain untuk menikmati hidup tanpa harus nyerempet-nyerempet hal berbahaya atau konyol seperti yang dilakukan si P. Dan sungguh, yang dia lakukan itu gak membuat aku jadi kagum dan melongo sambil berkata, “Wow, berani banget ya Andaa! Hebaaaattt!” Malah jadi kasihan, terutama sama anak-anaknya yang jadi terseret ke dalam situasi berbahaya gara-gara ortu mereka sendiri.

Oh ya, satu hal lagi. Meski bahaya, berseluncur di atas danau beku bukan hal mustahil. Tapi harus dilakukan dengan hati-hati, ilmu, dan persiapan muateeenggg banget. Ada langkah-langkahnya di sini, kalo memang berminat. Tapi kalau cuma mau berseluncur es….di ice skating ring yang memang dirancang untuk berseluncur aja kali yaaaaa. Gak repot-repot dan relatively lebih aman. Mau ice-fishing? No, thank you. Mancing bisa di musim lain yang lebih nyaman dan aman, ngapain repot2 ngebor es dan berdingin-dingin cuma buat mancing ikan? Tapi itu aku lo ya…he…he…kalau yg lainnya ada yang suka dan menemukan kenikmatan di sana, ya monggo. Asal hati-hati saja dan pake perhitungan, jangan asal spontan agar tidak bernasib seperti Justin.

Foto-foto diambil dari:

http://good-wallpapers.com/nature/18122

http://wakpaper.com/id86102/frozen-lake-1152×864-pixel.html

http://www.funwallz.com/skating-on-frozen-lake-hdr-68201.html

Kabar Kabur

Halo semua WPers yang mampir di sini! Apa kabar?

Kabarku baik-baik saja, alhamdulillah. Masih sehat, waras, lemu ginuk2. Jangan tanya berapa beratku sekarang ya karena timbangan di rumah lagi rusak…ha…ha.

Ghaazi baru saja menginjak usia 11 bulan. hah? Udah gede ajaaaa… Ya iya lah, selama waktu masih bergulir pasti dia tambah gede. Udah bisa apa aja? Belum bisa main internet yang jelas, baru bisa merangkak, rambatan, dan sesekali manjat tebing eh…lemari atau apapun yang bisa dia panjat.

Imo juga makin besar, menginjak masa remaja, bikin emaknya merasa makin tuwir saja. Masih aktif di band dengan klarinetnya, dan mulai repot dengan bertambahnya jumlah dan tingkat kesulitan pelajaran sekolah serta PRnya. Untung saja si Ayah banyak membantunya dalam mengerjakan PR terutama PR matematika. Alasannya, mamanya mungkin akan kesulitan memberi bantuan karena lulusan sastra. Et dah…kagak tahu apa kalo dulu emaknya ini jurusan S1? Jadi masih paham lah matematika tingkat SMP. Gampil lah ituuu. Tapi berhubung emaknya justru senang kalau si ayah ikut terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak, maka si emak diem-diem aje tanpa protes…ha…ha…ha. Iya deh yang tehnik…pasti lebih pinter mitimitiknya…hi…hi.

Sedangkan Darrel sekarang sudah berusia 8 tahun dan sudah kelas 2 SD. Pertanyaan terakhirnya yang mengguncang dunia…ceile…yang cukup bikin emaknya terpana adalah: Apakah nabi Adam dan Hawa punya puser? Hah? Iseng banget nanyain pusernya nabi Adam? Apa maksudnya coba? Pas aku bengong dan jawab: Meneketehe….mama gak pernah ketemu nabi Adam, apalagi iseng nanya…”Wahai nabi, kau punya puser gak?”, Darrel berkata. “Ya kan mereka berdua gak punya ibu. Jadi gak punya puser kan?” Gubraxxxx….eh ada benernya sih…hi…hi.

Yak, segitu dulu kabar kaburnya. Aku musti balik lagi kejar setoran. Nasebbb cuma bisa kerja pas semua orang rumah udah tidur. Eits, jangan mengeluh karena yg suka mengeluh itu namanya sapiiii…ha…ha…ha.