Gancit Love Story

Sebenarnya ini hal cukup rumit untuk diungkapkan namun setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk manfaatnya untuk MPers yang lain, maka saya putuskan untuk membuka kisah yang sempat menjadi tanda tanya besar dan menimbulkan bisik-bisik tetangga.

Kisah ini berawal dari sebuah keingin tahuan, ya keingin tahuan wajar yang kemudian diungkapkan dalam bentuk pertanyaan. Teman-teman masih ingat maraknya ID klonengan yang muncul terutama di lomba-lomba yang diadakan oleh Mulpid? Nah, di suatu lapak yang sebutlah bernama PR diadakan sebuah lomba yang penuh dengan promosi barang dan berlangsung sampai dengan akhir Agustus kemarin. Peserta lombanya biasanya tak banyak, dan kebanyakan adalah ber-ID yang masih seumur jagung, yang isinya masih satu dua, tapi anehnya fasih sekali menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan Multiply Marketplace, layaknya seseorang yang sudah sering browsing atau mungkin berbelanja di situ.

Beberapa rekan MP yang sudah saya kenal kemudian mencoba menanyakan kejanggalan ini kepada si pemilik lapak. Sejumlah pertanyaan pun diajukan. Namun apa yang terjadi? Pemilik lapak sama sekali tidak memberi jawaban, malahan kemudian menghapus beberapa komentar yang mempertanyakan keanehan ID2 peserta dan pemenang lomba. Hal ini justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya. Maka semakin banyak rekan MP yang datang dan mempertanyakan penghapusan komen yang biasanya hanya kita lakukan jika ada komentar yang kasar atau menyinggung SARA, atau kalau terjadi kesalahan teknis seperti mengutip keseluruhan postingan (biasanya kalau MP lagi lemot).

Salah satu komentar yang mempertanyakan penghapusan adalah dari rekan TH yang mengungkap bahwa di lapaknya pun pernah terjadi penghapusan sepihak oleh admin Mulpid. Hah? Apa maksudnya? Ternyata TH pernah menuliskan sebagian isi PM seorang admin Mulpid yang kita sebutlah sebagai ADM saat membalas komentar di lapaknya sendiri. Lalu komentar yang berisikan kutipan PM itu DIHAPUS OLEH ADM, sekali lagi, oleh ADM ya bukan oleh TH. Dengan kata lain, si ADM ini menggunakan semacam Master Key (sebutlah begitu meski saya tidak tahu persis apa istilah resminya) untuk memasuki akun TH dan menghapus komentarnya TH. Hal yang sangat mengejutkan!

Mari kita mundur sejenak (flash back) dan berfokus kepada masalah yang disinyalir oleh TH. Jadi para OS di MP diberikan wadah grup berupa SellersID. Rupanya di situ juga tidak adem anyem tentram raharja, karena suatu ketika terjadi pembahasan mengenai penipuan dan juga tentang status trusted seller yang bisa didapat OS dengan cara membayar beberapa kepeng kepada Mulpid. Di tengah pembahasan, ada beberapa OS yang kritis, di antaranya adalah TH. Karena tidak puas dengan jawaban Mulpid di SellersID, dia lalu mengirimkan PM kepada admin, yang lalu dijawab oleh Kakang ADM dengan sebuah peringatan agar tidak menyebut-nyebut perihal DB ke publik karena dianggap akan membingungkan bisnis online, penjual dan pembeli karena mereka (katanya) menerima banyak keluhan mengenai DB.
Suminten berkomentar: Hayah…. karena saingan dagang jadi gak boleh disebut? Gitu kan simplenya ya Om? Terus pake ngancem2 gak boleh nyebut2 DB lagi… cara apapula itu? Emangnya si DB Voldermort? Ha…ha…ha.


Dalam salah satu Quick Note yang ditulis oleh TH, komentar TH mengutip PM dari DS yang berisi peringatan untuk tidak menyebut perihal DB ke publik. Ramailah para OS membincangkan kutipan PM tersebut. Lalu tiba-tiba, sim salabim abrakadabra… komen TH yang berisi kutipan PM itu lalu menghilang… cring! Tak berapa lama ADM mengirim PM yang berisi permintaan maaf karena telah menghapus komentar tersebut dengan alasan bahwa PM bersifat personal, cuma antara mereka dan tidak boleh dibagikan ke orang lain. Loh? Padahal itu masalah kebijakan Mulpid bukan terhadap DB? Kenapa harus dirahasiakan ya?
Suminten menjawab: Karena mereka kan gak mau ketahuan telah mendiskreditkan DB di belakang layar dan memberi ancaman halus kepada TH untuk tidak mengangkat DB ke publik! Gitu aja kok bingung! Huh! *lempar kemben*


OK, sampai sini sudah mulai kebingungan belum? Ha…ha…ha.. memang agak ribet sih kronologisnya, tapi sabar dan coba ikuti dengan seksama, maka teman2 mudah2an bisa memahminya. Saya juga akan sertakan sebuah kronologis singkat yang mungkin bisa lebih memberi penjelasan. Kata Sum: Suminten juga pusing! Hih, kok panjang banget sih urutan kejadiannya! Kok urusan dengan Mulpid selalu panjaaaaang dan lamaaaa…. kayak ular nagaaaaaa!

Lanjut gak Gan? Lanjuuut!!!! Suminten teriak dari dalam sumur.

Nah, setelah ada sinyalemen penghapusan komentar oleh admin Mulpid (TH tidak menyebut nama ADM), maka hebohlah kami di lapaknya PR. Tapi seperti di kuburan, pemilik lapak juga tetap diam saja tak memberikan komentar apapun, baik tentang penghapusan komentar yang dilakukan PR sendiri di lapaknya, apalagi tentang sinyalemen penghapusan yang dilakukan ADM.

Pada tanggal 3 Agustus, saya menemukan sebuah PM dari akun pribadi ADM berisi Surat Peringatan dari Multiply Indonesia. Isinya adalah peringatan bahwa admin MP telah menerima keluhan dari seorang user yang merasa terganggu dengan komentar2 saya di lapaknya karena dianggap tidak relevan dengan isi postingan. Jika saya tidak mengindahkan SP, maka admin mengancam akan membekukan atau suspend akun MP saya.

Bisa tebak siapa pelapornya? Yap! Dia adalah PR.

Maka dimulailah saga berbalas PM antara saya dan ADM. Dan sebagai warga MP yang gaul, tentunya saya juga berhubungan dengan sesama penerima SP yang juga berbalas pantun dengan ADM. Kami mempertanyakan hal-hal yang janggal mengenai SP itu sendiri seperti:

1. Meminta bukti spesifik tentang komentar yang mana yang dianggap mengganggu dan tidak relevan seperti yang diadukan oleh PR. –> sampai akhir saga, tidak juga kunjung diberikan oleh ADM. Katanya kami diminta tidak mengulangi lagi, tapi bagaimana bisa melakukan itu kalau kalimat persis yang dianggap mengganggu itu tidak diberitahukan oleh mereka? Suminten berkata: Ibarat ortu bilang gini: “Nak, jangan ngomong gitu lagi ya, bisa bikin orang lain marah tahu? “Si Anak bertanya: “Ngomong apaan Mak?” Ortu berkata, “Ya yang itu, ada dehhhh…. pokoknya jangan diulang lagi!” Anak: “Hah?”

2. Karena ADM menggunakan akun MP pribadi, maka kami meragukan keabsahan kedudukannya sebagai petinggi Mulpid. Lah, kalau peringatan sebesar ini cuma dikirim melalui PM dengan ID pribadi, apa tidka mencurigakan? Bisa jadi hanya sebuah prank atau keisengan, bukan? Kami meminta agar sang ADM menunjukkan bukti bahwa PM itu resmi –> ditanggapi dengan kata “Percayalah bahwa saya memang bla…bla…bla… dan DT selaku Country Manager mengetahui dan memberi kepercayaan penuh pada saya untuk bla bla bla.”

3. Meminta rindian SOP atau prosedur resmi dari mulai pengaduan sampai dengan turunnya SP. ADM menyebutkan bahwa ada proses cross-check. Lucunya, proses cross-check yang dimaksud ADM adalah dia cuma melihat bukti2 yang ada di lapaknya PR dan menganggap tuduhan PR benar adanya, tanpa menanyakan apapun pada kami, yang tertuduh. Padahal, dari makna kata dan juga pengertian cross-check sebagaimana dimengerti oleh kebanyakan orang di belahan dunia manapun, adalah: pemeriksaan silang, atau pemeriksaan kedua pihak yang berlawanan/bersiteru, jadi bukan hanya data dan argumen satu pihak saja yang diperiksa.
Suminten berkata: Hayahhh… satu orang dengan pengertian salah akan sebuah kata yang simpel begini kok diberi kekuasaan seluas mengobok-obok dan menurunkan SP? Ck…ck…ck.

4. Mempertanyakan hubungan antara “tidak relevan” dengan “mengganggu”. Kalau komentar kami dianggap tidak relevan dengan postingan, kenapa si PR harus terganggu ya? Toh kami tidak memaki-maki dia, tidak menghina dia, tidak mendiskreditkan dia? Lalu kenapa bisa terganggu ya? Keenam orang yang dapat SP, semua komentarnya adalah tentang satu hal: penghapusan semena2 di lapaknya TH dan itu berkaitan dengan si ADM. Lalu setelah itu ADM juga yang mengirimkan SP buat kami dengan alasan adanya pengaduan dari PR. Can you connect the dots? 6 orang membicarakan polah ADM. Lalu ADM juga yang menurunkan SP. Hmmmm….hmmm…. I smell something fishy, here!

Tanggapan ADM: memberikan ilustrasi bahwa pemilik rumah melihat serombongan orang tidak dikenal bergerombol di muka rumahnya dan mengeluarkan pernyataan2 yang tak berhubungan dengannya. Pasti si pemilik rumah akan merasa terganggu, bukan? Jawaban kami: analogi yang kurang tepat karena PR saat itu sedang mengadakan lomba yang sifat postingannya juga untuk semua orang (everyone). Kalau tak mau ada “orang tak dikenal” datang ke lapaknya, ya tidak usah diset untuk everyone. Ya kan? Lalu si pemilik rumah dalam kasus ini bukan rumah dengan pagar terkunci, tapi sedang mengadakan hajatan (lomba/kuis), yang undangannya untuk siapa saja yg bisa datang. Giliran ada orang datang dan menyapa serta bertanya, eh si tuan rumah malah diam saja. Wajar dong kalau kemudian para tamu, sebagaimana orang yang saling mengenal, saling berbincang. Nah, salah satu topiknya adalah penghapusan di lapak TH.

5. Mempertanyakan kenapa hanya 6 orang yang mendapat SP, padahal ada lebih dari enam orang yang mampir ke lapak PR dan meninggalkan komentar. Sebagian yang mempertanyakan ID klonengan dan telah dihapus oleh PR, sebagian lain ada juga yang mempertanyakan tindakan ADM di lapak TH. Prilaku tebang pilih ini kami terus pertanyakan, namun tidak mendapat kejelasan dan nanti saat pertemuan di Gancit akan ada dua versi berbeda dari penjelasan kenapa hanya kami berenam yang menjadi orang2 yang terpilih.

Secara garis besar, hal2 di atas adalah hal-hal yang kami eprtanyakan pada ADM, namun dia tidak pernah memberikan jawaban memuaskan. Di PM yang berikutnya, ADM mengundang saya untuk datang ke Gandaria City, kantor tempat pengurus Mulpid berada. Hwarakadah! Kalau ADM mau belikan tiket pesawat PP ke Jakarta sih gak apa-apa ya…he…he. Undangan yang sama juga diperoleh oleh 2 rekan penerima SP lainnya. Kami lalu bersama-sama berunding dan sepakat untuk memenuhi undangan tersebut (khusus untuk yang berdomisili di Jakarta) dan juga meminta bantuan dua rekan MP yang bersedia mewakili kami yang tidak berada di Jakarta untuk menemui ADM di Gancit.

Maka, saga berikutnya pun dimulai. Kisah lengkapnya nanti akan dituturkan oleh teman-teman kami yang datang ke Gancit dan menjadi saksi hidup dari polah seorang ADM.


Bagi yang bingung akan alur kisah yang nyata terjadi pada kami berenam, berikut ini kronologi singkatnya:

1. Terjadi perbincangan mengenai berbagai masalah berkaitan dengan kebijakan MP Marketplace dan hubungannya dengan para OS.

2. TH mengirimkan PM ke ADM mengenai kebijakan MP yang di bahas di sellersid.

3. ADM mereply PM nya dengan memberikan peringatan untuk tidak menyinggung perihal DB ke publik

4. TH mengutip PM dari ADM di salah satu komen di postingan QN-nya sendiri.

5. Komen TH dihapus oleh ADM dengan menggunakan Master Key

6. ADM mengirimkan PM kepada TH berisi permintaan maaf telah menghapus komen TH.

7. Serombongan MPers, termasuk saya, mempertanyakan ID klonengan dan kejanggalan di lomba yang diadakan PR

8. TH menyebutkan kasus penghapusan sepihak oleh ADM

9. MPers yang sedang nongkrong di lapaknya PR memberi tanggapan dengan mengecam tindakan ADM tersebut.

10. ADM mengirimkan Surat Peringatan kepada 6 orang MPers termasuk kepada TH, dan saya dengan alasan PR merasa terganggu dan komen kami dianggap tidak relevan dengan isi postingan. ADM mengirimkan SP ini dengan ID MP pribadi tapi mengatasnamakan dirinya sebagai perwakilan Mulpid/MIRO.

11. Kami berenam berbalas PM dengan ADM yang di salah satu balasannya mengundang kami untuk datang ke Gancit.

12. 3 orang penerima SP ditambah 2 orang MPer yang mewakili 3 orang penerima SP lain yang ada di luar kota/negeri menemui ADM di Gancit.


Inti dari pertemuan di Gancit adalah sebenarnya simple saja; meminta jawaban atas pertanyaan2 yang selama ini belum ditanggapi oleh si ADM di dalam PM2nya. Lalu ada satu hal lagi. Di salah satu PM terakhirnya dengan salah satu penerima SP, kita sebut saja sebagai RN, ADM menawarkan untuk MENGHAPUS PM YANG BERISIKAN SURAT PERINGATAN. Jreng…jreng! Aneh sekali, bukan? Oleh karena itu, kami berniat menuntut ADM untuk mencabut SP tersebut. Kalau dia sendiri sudah menawarkan menghapus PM berisi SP, berarti dia sadar dong kalau ada yang salah dengan SP tersebut. Tapi kalau dihapus tanpa mencabut SP, buat apa coba? Maka, kami sepakat akan menuntut pencabutan SP ini sebagai salah satu agenda dari pertemuan di Gancit nanti.

Pertemuan di Gancit ternyata justru semakin meyakinkan kami bahwa ADM ini telah melakukan tindakan yang tidak benar, namun berlindung di balik aturan TOS yang sebenarnya masih belum jelas. Dia juga berulang kali menyebut posisinya sebagai Admin yang memberikan kewenangan untuk melakukan apa yang telah dia lakukan. Sum teriak: Dipletor…eh…
diktatorrrr…diktatorrrrr…..huuuuu. Untuk lebih detailnya, teman-teman bisa membaca postingan rekan lain yang khusus membahas pertemuan di Gancit.


Jadi, buat teman-teman sekalian yang sejak sebulan lebih lalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan benarkah telah diturunkan SP untuk sebagian rekan MP? Maka jawabannya adalah penuturan saya di atas.

Mohon maaf jika terlalu panjang dan hal-hal yang mungkin kurang jelas. Harap mengerti bahwa tulisan ini dimaksudkan sebagai pembuka mata atau eye opener bagi kita, para pengguna MP bahwa telah terjadi fasisme di wadah yang kita cintai ini dan kita semua tahu siapa biang keroknya. Jika tulisan ini dianggap provokatif, maka saya akan menasbihkan ini sebagai provokasih, sebuah peringatan penuh kasih sayang terutama bagi sesama pengguna MPers yang setia, baik itu bloggers maupun sellers.

Jikapun ada rekan MPers yang menganggap hal yang saya tuliskan tidak penting atau tidak mau tahu karena inginnya MP damai-damai saja tanpa konflik, maka saya cuma bisa bilang, menjadi tak peduli memang paling gampang tapi tunggu saja saat jerat fasisme tiba2 mengenaimu tanpa kau sadari, karena yang namanya fasisme penguasa, semakin dibiarkan akan semakin menjadi dan berbuah menjadi tirani. Lihat saja Eyang Harto yang 32 tahun mengangkangi Indonesia. Dan ingat bahwa kita bangsa Indonesia pernah punya satu semboyan yang bagus sekali saat melawan penjajah Belanda: Kami cinta perdamaian, tapi kami lebih cinta kemerdekaan.

Sekian dari saya dan Suminten.


Glosarium:
MP: Multiply
Mulpid/MIRO: Multiply Indonesia Representative Office
SP: Surat Peringatan
TOS: Terms of Service
TH: Nama samaran (salah satu sellers di MP yang menerima SP)
DB: Nama samaran (salah satu sellers/portal sellers di MP)
ADM: Karyawan MIRO
RN: Nama samaran (salah satu bloggers di MP yang menerima SP)
Suminten: orang gila yang suka keleleran di MP kalau lagi gak sibuk ngosek sumur yang ditempatinya bergantian dengan Sadako

Anak Yang Sibuk

Imo yang baru sebulan mulai sekolah di kelas 4 sekarang memiliki segudang kesibukan yang berkaitan dengan kegiatan akademik, ekstra kurikuler (ekskul), dan olah raga.

Kegiatan pertama bernama AT atau Academic Talent yang sebenarnya sudah dia ikuti sejak kelas 3 kemarin. AT ini adalah kelas khusus berisikan anak2 berprestasi akademik yang sudah melalui tahap seleksi berupa tes tertulis dan observasi. Di kelas Imo yang sekarang ada 5 anak yang terpilih untuk mengikuti AT. Jumlah anak di kelas regulernya ada 25 orang. Di dalam kelas AT yang berlangsung tiap hari selama 45 menit, Imo belajar lebih banyak lagi dari di kelas regulernya tapi melalui media yang menarik dan kreatif. Mereka bermain drama dengan naskah adaptasi sederhana dari karya sastra klasik, belajar mendesain produk sekaligus membuat iklannya, berlatih menulis aksara Cina dan hieroglif Mesir dan mempelajari budaya Cina, Mesir, Yunani dan Romawi kuno, serta membuat dan mempresentasikan robot yang terbuat dari barang-barang bekas. Itulah sebagian dari kegiatan di kelas AT tahun lalu. Mudah-mudahan tahun ini kegiatan-kegiatannya juga menarik dan bermanfaat.

Kegiatan kedua adalah band yang baru pertama kali diikutinya. Untuk kegiatan ini dia harus memilih salah satu alat musik tiup dan dia memilih klarinet. Sebenarnya dia bisa juga memilih ikut orkestra dan alat musik biola, tapi berdasarkan pengalaman tahun lalu dimana dia sempat mempelajari biola di kelas musik, Imo ternyata tidak terlalu menikmatinya. Menurutnya, tangan dan lehernya pegal kalau main biola. Ya sudahlah, kalau dia maunya main klarinet, ya dicoba saja dulu. Untungnya pihak sekolah bekerja sama dengan toko musik setempat untuk menyewakan alat musik selama tiga bulan pertama dengan harga tak murah tapi cukup terjangkau. Jadi, kalau kira-kira anaknya tak berminat lagi atau tak mampu bermain dengan baik, masih bisa dikembalikan dan mundur dari band atau beralih ke instrumen yang lain.


Latihan band ini dijalaninya selama 30 menit, 3 kali seminggu, tiap hari Senin, Selasa, dan Kamis. Seperti halnya untuk AT, Imo “ditarik” dari kelas regulernya pada 3 hari tersebut untuk latihan band. Artinya, saat teman2 di kelas reguler (kelas 4nya Mr. Patrick sedang belajar seperti biasa, Imo dan kawan2 yg ikutan band harus ke luar dari kelas, ke ruang musik dan latihan selama 30 menit. Setelah itu mereka balik lagi ke kelas reguler.

Dia juga dituntut latihan di rumah minimal 20 menit sehari. Setelah seminggu mengikuti ekskul band, lumayan lah dia sudah bisa memainkan dua nada. Oh ya, meniup klarinet sampai mengeluarkan bunyi ternyata bukan perkara mudah. Aku telah mencobanya dan selalu gagal! Sedangkan Imo bahkan Darrel sudah bisa meniup si klarinet sampai berbunyi. Imo juga menyatakan senang belajar main klarinet bahkan dengan pede jaya rayanya berkata, “Ma, gimana kalau Imo ternyata berbakat musik juga ya? Bingung deh nanti mau jadi apa.”

Kegiatan terakhir yang berhubungan dengan sekolah adalah kelas bahasa asing. Kelas ini ditawarkan sebagai kegiatan setelah usai sekolah dan berlangsung selama satu jam dari jam 3-4 sore di hari Senin, Rabu dan Jumat. Ada dua bahasa asing yang ditawarkan, Perancis dan Spanyol dan anak2 harus memilih salah satu saja, tak bisa keduanya. Imo memilih bahasa Perancis. Ketika ditanya alasannya kenapa, katanya biar kalau jalan2 ke Paris (aaamiiin), dia bisa bantu ayah-mama berkomunikasi selama di sana. Gaya banget deh lo, Nak…ha…ha…ha.

Gara-gara ada kelas bahasa, jam pulang Imo menjadi 1,5 jam lebih lama dibanding biasanya dan sampai sekarang aku masih belum terbiasa. Kalau adeknya sudah pulang, biasanya kakaknya juga datang, dan pasti aku nanti-nanti. Heh, padahal cuma beda 1,5 jam, tapi kok jadi kangen ya? Dasar emak2 emosional, perkara Darrel yang sekolah seharian penuh saja aku masih belum terbiasa. Biasanya kalau pas mereka sekolah, aku pasang TV tapi gak ditonton, sekedar supaya ada suara orang ngomong. Atau cari2 “mangsa” yang bisa diajak chatting di YM sampai berjam-jam. Kasihan banget yak? Ha…ha…ha.

Kembali ke kesibukan Imo. Ada satu lagi kegiatan tambahan Imo yang sebenarnya sih sudah agak sedikit terlambat untuk diikutinya, yaitu kelas renang. Meskipun Imo sangat suka main air dan sudah bisa mengambang di air, tapi dia belum menguasai teknik berenang dengan baik. Karena ini termasuk life-skills, aku dan suamiku memutuskan bahwa mulai bulan ini dia Imo dan Darrel harus belajar berenang. Kebetulan ada sebuah kolam renang di Life Center alias pusat kegiatan di komunitas desa C’dale yang menawarkan berbagai kelas dari mulai renang, sepak bola, tenis, sampai memanah juga ada. Kelas dan jam berenang khusus wanita juga ada lo!

Maka sejak dua minggu lalu, mereka berdua sudah ikutan kelas renang dan tampak menikmatinya. Sehabis belajar, mereka boleh ngendon di kolam dan bermain air. Sementara saat mereka berlatih, suamiku yang mencoba untuk berolah raga rutin lagi, juga berenang beberapa putaran.

Oya, untuk kegiatan ekskul yang ditawarkan sekolah, seperti band dan bahasa asing serta kegiatan akademik tambahan seperti AT, semuanya gratis alias tidak dipungut biaya sama sekali. Tapi kalau kelas renang, kami harus membayar.

Kadang-kadang aku suka geleng2 kepala sendiri melihat Imo yang baru kelas 4 tapi kegiatannya sudah seabrek2. Tapi sama aja sih kayak kita2 dulu kok ya. Dan yang aku ingat, jaman dulu sih memang gak berasa capek tuh ikut berbagai kegiatan, malah seneng banyak teman! Eh, masih ingat gak dulu jaman SD ikutan les/kegiatan ekskul apa saja? Gimana dengan jaman SMP dan SMA?

Kok Sama Seperti Kakaknya?

Beberapa hari belakangan, setiap kali pulang sekolah Darrel membawa sebuah buku di tas ranselnya. Katanya dia boleh pilih buku di perpustakaan sekolahnya untuk dibaca di rumah. Wah, bagus juga ya anak TK udah boleh minjem buku, begitu pikirku saat itu.

Tapi lama-kelamaan mulai mikir nih begitu lihat judul-judul buku yang dibawanya. Pertama-tama dia bawa buku tentang laba-laba, yang judulnya Spider dengan gambar tarantula di sampulnya. Besoknya dia pinjam buku berjudul Piranha yang gambar sampulnya close-up moncong dan gigi piranha yang tajam-tajam itu. Pagi ini dia bilang berniat ke perpus sekolah dan meminjam buku tentang ular.

OK lah, tandanya dia suka bacaan tentang dunia fauna. Tapi kenapa harus jenis hewan yang serem-serem begitu sih? Langsung aku teringat episode Imo yang suka menggambar dan membaca tentang hewan-hewan menyeramkan serta episode ketemu gurunya di perpus yang menyatakan keheranannya kenapa Imo suka ‘creepy animals’. Bah, ternyata adiknya juga suka!

Tinggal emaknya yang ketiban pulung merinding dangdut tiap kali membacakan atau membahas buku-buku tersebut bersama dua jagoannya.

Provokasih

Semua yang pernah jadi emak-emak ataupun yang sering mengamati tingkah laku anak kecil pasti tahu kalau mereka adalah makhluk yang sangat haus perhatian. Buat mereka, perhatian equals dengan kasih sayang. Untuk kasus-kasus tertentu bahkan perhatian “negatif” juga mereka terima dengan “senang hati” saking minimnya perhatian jenis sebaliknya yang bisa mereka dapatkan. Makanya anak-anak yang kurang perhatian biasanya nakal-nakal karena kemarahan dan omelan orang tuanya dianggap mereka sebagai bentuk perhatian, meskipun sebenarnya perhatian yang negatif.

Nah, bagaimana dengan kedua anak saya yang sering saya bangga-banggakan itu? (Iyalah dibanggain, kan anak sendiri!) Mereka berdua, masing-masing 9 dan 5 tahun, juga termasuk anak-anak yang haus kasih sayang, sama seperti anak-anak lainnya. Ada saja tingkah mereka kalau sudah mencari perhatian emaknya.

Jika emaknya sedang asyik bekerja di depan komputer, maka mereka bergantian atau bersama-sama mengajak ngobrol tentang hal apa saja, atau memamerkan hasil kreasi LEGO mereka sambil menerangkan fungsi2 bagian kendaraan yang mereka buat misalnya. Hal itu dilakukan sangat sering, sampai-sampai si Emak harus berulang-ulang menekankan bahwa sedang bekerja dalam rangka cari uang untuk mereka juga. Biasanya sih kalau sudah dibilangin dengan tegas, mereka akan mengerti dan cari kesibukan lain tanpa mengajak ngobrol emaknya, tapi teteupppp… lokasinya ya di ruangan yang sama, tepat di samping emaknya…ha…ha…ha. Maka, tak heran kalau kamar si Emak juga tiap hari dipenuhi segala mainan dan buku bacaan, karena mereka ternyata tetap ingin secara fisik berdekatan dengan si Emak.

Lain waktu saat si Emak memasak, maka bergantian pula mereka memasuki wilayah dapur yang terlarang buat mereka. Terlarang karena bahaya, ada kompor panas dan sejenisnya dan dapurnya sempit. Mereka juga tak segan menawarkan bantuan, apalagi si Kakak yang sudah pernah diajari dan mencoba menceplok telor sendiri. Hal itu mereka lakukan demi bisa menghabiskan waktu dengan si Eamk, meski di dapur yang panas sekalipun. Kadang si Emak gak tega dan terharu melihat mereka menawarkan bantuan lalu membolehkan mereka untuk membantu, sekedar kupas-kupas telur rebus atau mengocok adonan kue.

Tapi, kadang mereka juga bisa melakukan hal-hal yang memancing kemarahan si Emak demi mendapatkan perhatiannya. Seperti misalnya saat si Emak sedang mengejar deadline terjemahan, lalu si Kakak memainkan keyboardnya keras-keras. Mending kalau bisa memainkan lagu merdu, ini sih cuma nada satu-satu yang mencoba menirukan irama simfoni Beethoven atau Mozart yang didengarnya di CD, alias pasti ada nada2 salah atau fals. Ya namanya juga cuma main-main bukan karena sedang belajar main keyboard secara serius. Bayangkan kalau sedang konsentrasi tiba-tiba ada suara… neeeetttt…notttt…notttt dengan kerasnya. Atau tiba-tiba ada suara gedombrangan dari arah ruang tengah yang ternyata adalah suara jam dinding yang jatuh dan rusak dengan sukses akibat terkena lemparan bola yang mereka mainkan di dalam rumah.

Kali lain mereka berdua berantem sampai si Adik memukul kakaknya. Lalu terjadilah delik aduan bertubi-tubi dari kedua pihak lengkap dengan jejeritan dan bantah-bantahan yang bikin pusiiiiing kepala, padahal si Emak lagi sibuk di cuci piring di dapur dan sama sekali tidak menikmati kesibukan itu.

Mereka akan lebih “hot” memancing perhatian si Emak kalau tahu bahwa si Emak cuma melakukan hal-hal yang sifatnya rekreasional, seperti ngempi atau browsing di Internet (selain buat terjemahan), atau menonton TV. Untuk yang terakhir ini, cara memancingnya sangat mudah. Cukup duduk di dekat emaknya dan ikut menonton karena mereka tahu si Emak gak mau anak2nya keseringan nonton TV apalagi acara-acara orang dewasa seperti yang ditonton emaknya. Alhasil, si Emak akan mematikan TV dan batal menonton lalu memberikan perhatian yang mereka dambakan itu pada mereka.

Meskipun saya sering kali menyikapi provokasi mereka dengan kemarahan, tapi sebenarnya saya sadar betul bahwa apa yang mereka lakukan itu semata-mata hanya karena mereka memang butuh perhatian dan kasih sayang ortunya. Sebenarnya itu sebuah sanjungan, bukan? Itu artinya saya sebagai emaknya masih diinginkan dan dibutuhkan. Karena itu, saya cenderung menganggap apa yang mereka lakukan itu sebagai provokasih; provasi dari yang terkasih untuk yang terkasih yang dilakukan dengan penuh kasih sayang.

Provokasi sendiri artinya adalah tindakan yang bisa memancing emosi, dan itu bukan saja emosi negatif seperti kemarahan namun juga bisa kebahagiaan, makanya kalau dalam bahasa Inggris “provoke” bisa juga disandingkan dengan kata “laughter” (tawa). Dan saya sebagai seorang ortu yang masih banyak belajar dan ingin selalu mencoba menjadi lebih baik, sebenarnya bisa memilih bagaimana harus bersikap saat diprovokasih oleh kedua darah daging saya sendiri; mau terprovokasih jadi marah atau malah jadi sadar dan meninggalkan apapun itu yang saya lakukan demi menghabiskan detik yang tak dapat datang kembali dengan bercengkrama bersama mereka. Apalagi jika saya cuma melakukan kegiatan lain yang tidak terlalu penting dan tidak ada kaitannya dengan mereka. Mustinya saya malah jadi tersentil dan merasa bersalah, bukannya malah marah-marah dan cuek saja tetap menjalankan aktivitas lain-lain itu tanpa mempedulikan provokasih mereka.

Sebenarnya kalau mau memotivasi diri saya sendiri untuk menghargai provokasih mereka, saya biasanya mengingatkan diri saya sendiri bahwa dicuekin itu sakittttt jendral! Mereka pasti sedih kalau tidak saya acuhkan apalagi di masa2 haus kasih sayang seperti sekarang ini. Dan saya tahu banget kalau masa-masa seperti ini gak akan lama kok karena begitu kenal dengan pertemanan, kekasih, keluarga sendiri dst… mereka pasti gak selengket dan sebegitu haus perhatiannya seperti saat ini.

Sebaliknya kalau sekarang saja mereka sudah nyuekin saya, berarti mereka gak butuh perhatian saya dan gak merasakan pentingnya diperhatikan oleh saya. Artinya, saya ada atau tiada, tak ada bedanya buat mereka. Huaaaa! Sedih banget kalau begitu.

Jadi, biar bagaimanapun, provokasih tetap lebih baik karena tandanya mereka menghargai keberadaan saya sebagai emak tercinta mereka. I will never stop hoping to be provoked by them and hopefully, can be wiser in the way I respond to their “provokasih.”