Badai Salju + Es = Sekolah Libur

Setelah badai es dan salju yg melodinya ‘krutuk-krutuk-krutuk’ melanda C’dale, maka terbentuklah tumpukan salju
yg sangat tebal (antara 6-10 inchi) di seluruh permukaan. Alhasil, sejak Selasa kemarin hingga hari sekolah anakku diliburkan. Baru saja cek lagi di Internet ternyata besok pun libur. Mungkin sekalian saja sampai Jumat ya…jadinya libur nyaris seminggu penuh gara2 salju.

Advertisements

Celoteh Darrel: A List of My favorite Things

Tadi malam sebelum dia tidur, aku berkesempatan mewawancarai dia:

Q: What’s your favorite food Darrel?
A: Hmmm (sambil mikir)…My favorite food is noodle (note: pasta juga masuk kategori noodle kalau buat dia)

Q: What’s your favourite color?
A : I like red and blue (kalo yg ini jawabnya gak pake mikir dulu)

Q : What’s your favorite movie?
A : My favorite movie is Cars.

Q : What’s your favorite song?
A : Twinkle-Twinkle Little Star (terus..nyanyi deh dia…)

Mama: Yuk sekarang bobo ya.
Darrel: OK. Mama, that was fun!

Ha..ha…ternyata ditanya2 begitu bikin dia bahagia. Yang aku catat dari secuil bentuk interaksi kami adalah betapa tegasnya ia dalam menjawab pertanyaan2 tsb. Gak nyangka deh…anak umur tiga tahun yg sempat telat mulai bicaranya (dan jalan) ternyata bisa sepesat itu perkembangannya. Alhamdulillah…manusia memang ciptaan Tuhan paling istimewa.

Berita tentang Palestina Gak Imbang? Benar Sekali.

Kemarin2 saya menulis tentang Gaza dlm bahasa Inggris, maksudnya agar org2 di belahan dunia ‘barat’ bisa mengerti. Saya pikir, mayoritas bangsa Indonesia sudah cukup mengerti apa yg sebenarnya terjadi di sana, karena relay berita tidak semata2 dari media barat.

Namun setelah menjelajah ke beberapa halaman MPers Indonesia, ternyata masih ada orang2 yang berpendapat bahwa yang terjadi di sana adalah kesalahan Hamas dan seolah Israel punya hak utk ‘membela diri’. Di salah satu blog yg pro Israel (namun berlagak netral), malah menghimbau org2 Indonesia utk ‘membuka mata’ dan mengklaim bahwa pemberitaan tentang Gaza berat sebelah dan sebagai nara sumber, ia mengkutip Wikipedia dan CNN.

Di blog lain yg lebih edan, malah pemujaan terhadap Israel begitu berlebihan. Tergambar sekali kebencian yg punya blog pada bangsa Arab dan muslim (karena tidak semua bangsa Arab itu muslim). Karena bencinya, dia bersorak2 akan kematian lkurang lebih 1000 warga Gaza, termasuk 270 lebih anak2.

Saya tinggal di belahan bumi barat dan saya lihat sendiri bagaimana bukan saja tidak berimbang tapi liciknya media barat. Seperti yang sudah saya tulis, gambaran pembantaian yg terjadi di Gaza seperti rumah dan gedung yg jadi puing, rakyat sipil, anak2 dan wanita yang tewas mengenaskan atau tubuhnya termutilasi bom hampir sama sekali tidak ada di berita2 yg ada di sini. Mau itu CNN, MSNBC atau FOX, sama sekali tidak ada tampilan gambar seperti itu. Jumlah yang meninggal memang dituliskan, namun gambar2 yang ditampilkan hanya tank2 dan tentara Israel.

Gambaran demostrasi di seluruh penjuru Amerika dan dunia juga sangat tidak adil. Secara jelas2 mereka menyebutkan bahwa demostran hanya dari kalangan Arab dan muslim. CNN menampilkan gambar2 demonstrasi di NYC akibat walikota NYC berkunjung dan mendukung Israel. Namun wakil dari demonstran diambil lelaki keturunan Arab dan seorang warga kulit hitam. Pesan yg disampaikan: Yg protes cuma Arab, muslim dan warga minoritas kok, yg lainnya kok harus repot? Padahal gelombang demonstrasi dan protes yg berlangsung melibatkan semua pihak, dari berbagai ras dan agama….bahkan yg atheis pun ada yg ikut demonstrasi. Bisa dilihat bukan seberapa jauh kebohongan publik yang dilakukan media barat. Jadi, kalau ada yang membela Israel dan mengambil sumber dari media Amerika berarti mereka sudah (dan dengan rela pula) dibohongi mentah2.

Saya juga punya beberapa rekan satu program beasiswa yang berasal dari Palestina. Perlu dicatat, mereka2 ini sama sekali bukan pendukung Hamas. Kalau mereka terlibat dengan Hamas, mereka tidak akan mungkin mendapatkan beasiswa yg sponsornya adalah Amerika. Namun suara mereka satu dan itu berdasarkan pengalaman dan kenyataan yang mereka (dan kerabat mereka) lihat di lapangan, bahwa: Yang terjadi di Gaza itu bencana kemanusiaan. Yang terjadi di Gaza bukan perang, tapi pembantaian. Yang terjadi di Gaza juga bukan perang antar agama, namun bukti kekejaman rezim Israel dan sekutu2nya. Dan teman2 saya ini menjerit sakit ketika tahu bahwa ada orang2 yg bukan saja terkelabui oleh media amerika dan barat, namun juga dengan terbukanya mendukung pembantaian yg terjadi di Gaza.

Jadi please…saudara2ku di Indonesia…tak peduli apa suku dan keyakinanmu…kalian harus bukan saja membuka mata, namun juga menjernihkan akal dan nurani. Jangan karena merasa mengerti bahasa Inggris dan mengerti isi berita2 dr media Amerika terus merasa bahwa berita2 itu adalah benar. Justru merekalah yang memutarbalikkan fakta. Kalau kita masih merasa bagian dari satu bangsa yang besar, bangsa yang pernah tahu bagaimana rasanya dijajah, bangsa yg ‘katanya’ berbudi luhur, kita seharusnya satu suara dalam melihat kasus Gaza dan lantang berseru: HENTIKAN PEMBANTAIAN DI GAZA!!!

Saya juga ingin menghimbau agar pembantaian di Gaza tidak dilarikan ke konflik agama. Saya melihat ada pihak2 yang ingin memanfaatkan masalah Gaza dan menggesernya menjadi konflik antar agama di Indonesia. Sungguh konyol jika hal ini terjadi. Bangsa kita yang sedang terseok2 ekonominya masih mau ditambahi dengan konflik antar kita sendiri? Apa bangsa kita yang sudah sejak dulu mampu hidup berdampingan dengan segala perbedaan mau dipecah belah begitu saja oleh orang2 yg jelas tak punya hati nurani dan tertipu mentah2 propaganda media Amerika? Jangan sampai terjadi. Justru saatnya kita tunjukkan, bahwa semua umat beragama di Indonesia bisa melihat bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Film Jepang Bisa Masuk juga?

Baru2 ini sepertinya terjadi perkembangan baru di perbioskopan amrik. Setelah Slumdog Millionaire (http://www.apple.com/trailers/fox_searchlight/slumdogmillionaire/) yg asli setting dan pemainnya di India dan mendapat pujian dari kritisi film, barusan saja aku liat film Jepang berjudul Tokyo Sonata (http://www.apple.com/trailers/independent/tokyosonata/) juga akan diputar di bioskop sini. It’s about time. Selama ini mereka begitu fanatiknya dng film2 buatan sendiri alias film Holywood (meski sempat mati ide, dan mengkopi film2 horor Korea dan Jepang), nyaris film2 asing jarang sekali diputar di bioskop2 sini. Akibatnya, mind-set mereka pun terpaku pada nilai2 Amerika dengan segala ke-ultra-nasionalisme-nya. Selain itu, mereka jadi terjebak dalam stereotyping saat menilai bangsa2 lain. Melalui jalur film, mudah2an pikiran mereka bisa lebih terbuka, gak seperti katak dalam tempurung lagi. Jadi berharap, semoga film Indonesia suatu saat bisa diputar di sini juga.

Monkey Diet .uuu..aaaa.

Hari ini aku mulai diet monkey alias diet pisang. Sebenarnya kemarin2 udah pernah nyoba, tapi gak tahan godaan…jadinya gagal deh. Jadi diet monkey ini menuntut kita cuma makan pisang dan minum segelas air putih pas sarapan. Gak boleh nyamil2 kecuali sore hari (sekali aje). Makan siang dan malam seperti biasa (yesssss!), tapi logikanya teteup gak boleh berlebihan dong.

Iming2nya sih…diet pisang ini bisa menurunkan 10 pounds (sekitar 5 kilo) dlm waktu 10 hari! Diet pisang juga lagi ngetop di kalangan selebritis. Hal menarik lain tentang diet ini adl bahwa diet ini ditemukan oleh org Jepang dan jadi trend juga di kalangan wanita Jepang. Saking mewabahnya, persediaan pisang di Jepang sampai habis!

OK lah…let’s just try aja. Tapi why oh why…kalau lg niat diet, bau makanan jadi terasa sedap dan menggoda ya? Barusan aku siapkan makan utk suamiku, aroma ayam panggang yg aku bikin semalam menggoda banget! Bertahanlah! Bertahanlah! Monkey Diet rules!

Kue Sus alias Cream Puffs

Memang dari kemarin sudah rencana bikin ini. Tp krn sempat tepar, jdnya baru kemarin deh bikin. Meski isi vlanya gak pake susu dan rhum, tetap enyak kok. Yg bilang sapa? Biasa…anak2.

Damn it! A Demonstration in Carbondale.

My husband told me that as he was driving pass the main street of Carbondale, he saw a group of young people standing at the side of the street carrying banners and posters in support of……….the Isreaelis! What?!!! Are they out of their mind?

Then I opened the mailing list that only includes exchange students from around the world under one of the well-known scholarship and read a couple of letters that either: defending Israel, are oblivious to the atrocities that the Israelis have done in Gaza, or blaming both parties (Israelis and Hamas). And we’re talking here about intellectuals who have studied in the US and made contact with students from around the world, including Palestinians. The fact that exposure to different culture does not make them be more active in searching for more accurate information on the massacre in Gaza really upsets me.

Those people on the street of Carbondale might be the product of American media that are clearly not only inaccurate but also very misleading and in favor to the Israelis. But to think that those so called intellectuals also have the same ignorant stance toward the crisis in Gaza brought me to this conclusion: it is a matter of choice. We choose what we want to hear and see, what we want to believe or ignore. It will all come down to our conscience, whether we still have the ability to differ between evil and righteous. If deaths of innocent people reaching almost 500 in number, and around 2750 wounded people, lost of places to live, destruction of places of worship and a university, and scarcity of foods and medical supplies in Gaza did not stir your emotion, then you might as well ask yourself if you are still human.