Duluthnya Mbak Evia Kebanjiran!

Mendengar dan membaca berita kebanjiran di Duluth sungguh mencemaskanku. Bukan apa-apa, selain banjirnya memang parah sekali, disebut sebagai yang terparah selama seratus tahun, kebetulan kawan MP kita juga bermukim di situ, yaitu mbak Evia alias Yu Kusminah van Duluth.


Meskipun Yu Kusminah sekarang sedang berada di Indonesia dalam rangka pulang kampung bersama putri tercintanya Menik, tapi suaminya yaitu Kakang Sting Bajakan (KSB) masih berada di Duluth. Rumahnya juga kemungkinan terancam banjir besar ini.


Tapi syukur alhamdulillah, kabar terakhir dari mbak Evi sendiri menyebutkan bahwa KSB dan rumahnya baik-baik saja, cuma basement-nya saja yang sempat terendam air, tapi sudah surut dan sekarang sedang dikeringkan.


Kenapa Duluth bisa banjir? Hujan deras banget selama tiga hari berturut-turut (17-19 Juni) menyebabkan Sungai St. Louis meluap, begitu juga sungai-sungai kecil lain yang ada di situ. Akibatnya, Lake Superior Zoo kebanjiran, dan binatang2 di situ pada kabur termasuk satu beruang kutub dan satu singa laut. Untungnya semuanya berhasil ditemukan kembali.


Tanah longsor dan jalanan yang rusak menunjukkan betapa dahsyatnya banjir yang menimpa Duluth sehingga kota ini dinyatakan dalam keadaan gawat darurat (state of emergency). Setelah banjir mulai surut, maka mulai dilakukan pembersihan yang menurut Walikota Duluth akan memakan biaya sekitar 50 hingga 80 juta dolar.



Untuk berita dan foto-foto lainnya mengenai banjir di Duluth, Minnesota ini bisa dilihat di SINI.

Sumber foto di postingan ini adalah dari SINI.

Advertisements

Bersepeda Itu Asyik!

Bersepeda adalah kegiatan anget-anget tai ayam yang sering aku lakukan. Biasanya semangat bersepeda cuma beberapa minggu, terus ada aja halangannya dari mulai sakit perut saat haid, kerjaan numpuk, dsb. yang bikin aku berhenti bersepeda pagi. Lalu keterusan, dari absen satu hari jadi satu minggu, dan seterusnya. Payahhh! Payahh!

Padahal yang namanya bersepeda di sini nyaman sekali bow. Selain bisa jalan di atas trotoar, di sebagian besar badan jalan tersedia jalur khusus sepeda. Bagusnya juga di sini, para pengemudi mobil tuh “takut” banget sama yang namanya sepeda. Kalau ada sepeda melaju di jalan, pasti mereka tuh ngejauhin sepeda itu, sampai jauuuuh sekali, berusaha menjaga supaya jangan menyenggol si sepeda. Masalahnya kan kalau di nyerempet bisa dituntut, musti ke pengadilan, muahaaaal bayar pengacara dst. Jadi, daripada ribet nantinya, mendingan menghindar jauh-jauh deh.

Sejak anak-anak liburan sekolah, tanggal 25 Mei yang lalu, kebiasaan sepedaku mulai digalakkan kembali. Biasa deh, anak-anak pengennya main di luar dan bersepeda keliling kota adalah salah satu hiburan mengasyikkan buat mereka. Buat aku juga lebih seru rasanya bersepeda dengan anak-anak. Bisa sambil ngobrol, bisa sambil lihat-lihat pemandangan dan foto-foto, sesuatu banget buatku.

Ada dua track yang kami biasa lalui saat bersepeda. Ada jalur rumah sakit yang melewati hutan cemara, bagian belakang sebuah
rumah sakit, gereja besar, dan wilayah perumahan. Jalur ini cukup menantang karena lebih banyak jalan menanjak dibandingkan turunan. Lalu, jalur ini lebih banyak dilewati mobil dan ada beberapa badan jalan yang tidak ada jalur khusus bersepeda atau trotoar. Jadi kami harus ekstra hati-hati kalau lewat jalur ini.

Jalur kedua adalah jalur menuju pertokoan yang bernama Murdale Shopping Center. Jangan bayangkan kayak mall di sana yak. Karena meskipun di sini bisa juga disebut mall, tapi bentuknya cuma sederetan pertokoan kecil-kecil. Jalur ini lebih aman karena sebagian besar jalannya ada jalur khusus sepeda dan/atau trotoar. Kontur jalannya lebih banyak yang landai dibandingkan tanjakan. Jalur ini juga terbilang lebih adem karena banyak pepohonan. Keuntungan dari lewat jalur ini adalah kami bisa sekalian belanja ke toko sayur yang bernama Fresh Food atau ke International Grocery, yang menjual banyak bahan makanan dan bumbu Asia.

Sebenarnya ada beberapa jalur lain yang bisa dan pernah kami lewati, tapi berhubung tingkat kesulitannya lebih tinggi, lebih panjang, dan lebih panas, kami jarang lewat di jalur-jalur lain itu. Kadang, kalau lagi semangat, jalur ke Murdale kami tempuh dan teruskan hingga ke sebuah taman kota bernama Turley Park yang dilengkapi arena bermain anak dan gazebo.

Ketika bersepeda, biasanya aku beriringan bersama Imo dan Darrel. Posisinya berurutan, Imo di depan, Darrel di tengah, dan Emak Kece di belakang. Sengaja begitu supaya gak ada anak yang ketinggalan kalo Emak Kece yang di depan atau tengah. Imo memimpin dengan bimbingan Emak Kece yang gak malu-malu teriak-teriak untuk ngasih komando dari belakang…he…he. Posisi ini sering diprotes oleh Darrel yang pengen juga memimpin konvoi. Kalau jalurnya aman, dikasih kesempatan juga tapi gak sering-sering.

Mengenai pemandangan, biasanya hanya rumah. Tapi karena di sini rumahnya rata-rata rapi-rapi dan bagus, jadi adem juga ngeliatnya. Halaman rumah orang2 di sini juga biasanya asri, pake bunga-bungaan segala serta rumput hijau yang dicukur rapi. Kalau lagi hoki, kayak hari kamis kemaren, bisa ngeliat pemandangan cowok topless yang lagi cukur rumput…hi…hi…hi. *rame2 ngelus dada yaaaa sambil geleng-geleng kepala* Untung Emak Kece kemarin gak kerasukan Suminten, jadinya tetap cool dan biasa aja meski ngeliat pemandangan indah. *buang muka dengan sombong*

Sepedaan hari Sabtu lebih seru lagi karena kami bisa ke Farmer’s Market (Pasar Kaget ala Amrik) atau ke Yard Sale alias jualan barang2 bekas di halaman/garasi rumah. Rasanya seru karena perginya ada tujuannya dan pulang2 bisa bawa belanjaan, baik itu sayur-sayuran atau barang printilan bekas.

Kalau ditanya capek gak genjot sepeda jauh, ya capek tapi puas karena tahu bahwa setiap genjotan bikin badan lebih sehat. Hiburan buat jiwa juga, karena dengan bersepeda, aku merasa jadi bagian dari dunia luar, gak melulu terkungkung di dalam rumah. Terus pas turunan tuh…huaaaa….rasanya kayak terbang…yipiiiii!!

Hayo, siapa yang doyan juga bersepeda?

PS: Foto-foto menyusul ya di album foto yang INI yaaa.

Menyusun Langkah Baru

Yang namanya melangkah di bumi, pasti bakalan sering tersandung-sandung. Tapi bukan berarti terus akan pasrah jatuh terlentang dan terdiam di tengah jalan. Bangkit dan menulis lagi, itu yang harus dilakukan.

Menulis bukan untuk mencari popularitas atau membentuk pencitraan, tapi menulis untuk jiwa sendiri. Menulis untuk menumpahkan ide-ide yang bertaburan di kepala, untuk mencatat pencapaian dan kegagalan, semua nada dalam perjalanan hidup yang singkat ini. Menulis untuk menabur jejak dan merajut persahabatan.

Menulis juga untuk menohok kelicikan dan kebobrokan penguasa atau mengkritisi diri sendiri. Menulis untuk mencegah diri jadi apatis dan pesimis. Menulis dalam kejujuran, dengan menjadi diri sendiri, bukan bertopeng kata-kata manis bersalut gula namun sebenarnya busuk berulat.

Kebebasan untuk melangkah, ke mana saja, tanpa terkekang media atau situs, itu yang akan kugenggam. Karena kebebasan bukan berarti “cuma masih bisa menulis” tapi juga pengakuan dan penghargaan akan keberadaan kita sebagai penulis blog.

Harkat kemanusiaan bukan semata hidup, tapi hidup bermartabat tanpa rasa takut akan ancaman pembredelan/akun dihapus (suspend), tanpa takut akan ancaman pengintipan/penyadapan oleh penguasa, tanpa takut diteror/dilecehkan oleh ID klonengan yang direkayasa penguasa. Hidup yang sesungguhnya bukan sekedar bernafas, tapi didengar, dianggap ada, dan dihargai keberadaannya.

Dan jika hal-hal itu ternyata sudah tidak bisa aku dapatkan lagi dari lapak bernama Multiply, maka pilihannya hanya satu: tetap kepalkan tangan dan berjuang sampai titik darah penghabisan. Tak peduli akan dilecehkan atau dianggap negatif oleh sebagian orang, yang mungkin merasa cukup hanya dengan “sekedar bernafas.”

Dan aku akan tetap berseru lantang bahwa: “Ada banyak masalah di Multiply!” sampai dengan penguasa baru menunjukkan langkah dan tindakan nyata bukan sekedar janji bak pil penenang yang efeknya menghilangkan rasa sakit tapi sama sekali tidak menyembuhkan.

Dan aku akan tetap melangkah melebarkan sayap, tidak ingin terkungkung oleh lahan yang menjadi tidak nyaman akibat ulah penguasa. Tidak peduli anggapan keliru bahwa itu ekspresi putus asa. Karena nyatanya aku sudah, tetap dan akan berjuang baik di dalam maupun di luar Multiply. Karena kuyakin masih ada beberapa orang, meskipun jumlahnya sedikit, yang masih percaya akan nilai hidup yang bukan sekedar bernafas, yang masih percaya akan nilai persahabatan sejati dan persatuan dalam berjuang yang keeratannya menembus batas ruang, waktu, dan situs.

Terima kasih atas persahabatan yang telah terjalin selama ini.