Yipiiiiiii!!! I’m Back!

Sebenarnya sok banget gak sih kalau dibilang kayak ikan menggelepar-gelepar tanpa air begitu gak ada Internet? Tapi lebih kurang memang seperti itulah yang kurasakan. Apalagi koneksi Internet ini terputus pas menjelang malam lebaran Kamis minggu lalu. Rencananya mau YM-an sama keluarga di sana yang seprti biasa pasti ngumpul semua di rumah ortuku dan ortu suamiku. Ndalalah, kok jam 5 sore malah mati. Pretttt!

Kehilangan Internet ini berbarengan dengan hilangnya TV Kabel yang satu paket dengan Internet. Kehilangan channel TV sih gak masalah banget, karena anak2 bisa dialihkan ke hal-hal lain dan memang aku jatah jam nonton TVnya. Tapi Internet ini yang gaswat karena kami menggunakannya untuk bekerja dan berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.

Berhubung ini kejadian luar biasa karena selama bertahun2 langganan Internet (plus TV kabel) tidak pernah ada masalah sebelumnya, maka kami percaya diri bahwa jika memang ada kerusakan maka akan segera diperbaiki. Ditunggu sehari, eh gak bener juga. Telepon dong. Eh, malah diping-pong dari CS satu ke CS lainnya dengan dua penjelasan berbeda. Yang pertama bilang bahwa gak ada kerusakan atau masalah apapun di wilayah kami, eh yang kedua bilang memang sedang ada masalah dan akan segera diperbaiki (entah kapan). Reaksiku dan suamiku tentu saja bingung. Apa sih maksudnya?

Hari yang sama (Jumat), suamiku telpon lagi karena merasa gak puas. Akhirnya setelah berhadapan dengan “robot” (rekaman suara otomatis yang amat sangat mengesalkan), berhasil juga bicara dengan salah satu Customer Service. Aku cuma nguping dari kamar…kayaknya pembicaraannya lancar. Setelah selesai bertelepon, suamiku bilang bahwa mereka akan kirim teknisi besok, hari Sabtu. Tadinya baru akan dikirim hari Rabu, tapi karena suamiku bilang Internet penting dan dipakai utk urusan bisnis, maka dia mau mempercepat.

Hari Sabtunya kamipun menunggu dengan manis. Rencana pergi bersama anak2pun ditunda gara2 menunggu teknisi. Sampai malam, gak dateng juga. Siualen!

Untuk menghibur hati yang gundah gulana, kamipun pergi jalan-jalan ke St. Louis. Loh? Ha..ha..ha. Ini sih memang rencana kami utk memberi kejutan lebaran buat Imo yang sudah berhasil puasa dengan sukses. Cuma satu hari jebol, itu juga karena kami ajak jalan2 ke Du Quoin State Fair (semacam taman ria musiman). Sejenak terlupakan deh tuh kegeraman akibat layanan provider Internet yang dodol surodol. Sebelum berangkat ke St. Louis, aku sempatkan mampir di toko yang ada hot spot untuk mengunduh pekerjaanku yang aku selesaikan selama perjalanan. Pas pulang, di malam harinya, aku mampir lagi untuk mengunggah hasil pekerjaanku. Untungnya (apa enggak untung sebenarnya ya?), arus pekerjaanku agak mereda justru saat Internetku sedang koma begini. Total jenderal, aku “cuma” harus menolak 3 pekerjaan kecil dari klien yang sudah jadi langganan dan mudah2an cukup pengertian. Komunikasi dengan klien aku jalani lewat HP, termasuk berMP ria.

Kami putuskan untuk menunggu sampai hari Rabu tanggal 15. Malam harinya (Selasa tgl 14), suamiku telpon lagi untuk meyakinkan bahwa memang akan ada teknisi yang datang besok. CSnya meyakinkan kami bahwa memang sudah ada jadwal utk teknisi datang ke apartemenku besok paginya.

Maka….akupun menunggu lagi sementara suamiku pergi bekerja. Eng ing eng…sampai sore ditunggu ternyata gak datang juga! Pas aku telpon, tahu gak jawabannya apa? Jadwalnya untuk Rabu tanggal 22 alias minggu depan! APA?!!!! Kalo ada di depan orangnya mungkin sudah terjadi peristiwa berdarah-darah. Golokpun sudah mulai diasah dan siap2 dihunus.

“What do you mean on the 22?! We were promised that a technician would come last Saturday, and he didn’t come. Then we have waited until today and he still didn’t come. This is not right!” Nada suaraku mulai naik satu oktaf.

Panjang cerita, Mbak Tracy yang ada di ujung telepon sana menjanjikan akan mengirim email ke kantor pusatnya untuk mengadukan masalah ini dan agar segera bisa ditangani. Dia juga mengatakan bahwa kami akan mendapat potongan utk pembayaran bulan ini sebesar lamanya hari tanpa sambungan Internet dan TV kabel. Aku sahut dengan dingin, “Uang segitu gak cukup menutupi kerugian yang kami derita.”

Lalu aku bilang ke dia begini:
“So, let me get this straight. All you can do is writing an email to your head quarter and I still have to wait until they decide to finally send a repair man? Is that it?”

Suaranya si Tracy yang sudah berubah tegang, makin tegang dan cuma bilang, “Yes, Mam.”

Pada saat itu mendadak aku jatuh kasihan. Ah lembeknya daku. Aku pikir dia cuma kelimpahan kesalahan2 yang dibuat oleh rekan2nya dan paling tidak dia sudah berusaha membantu. Aku bilang ke dia, “You have done what you could do and I appreciate that. Thank you and I will just have to wait again, then.” Tapi dalam hatiku, aku sudah niat besok akan pergi mencari USB yang bisa buat Internetan yang kata suamiku dijual di Wal-Mart sekaligus memutuskan hubungan dengan penyedia jasa Internet yang prettt banget ini.

Hari ini, Kamis pagi suamiku ditelepon oleh Tracy, CS yang kemarin sudah kena omelan Ibu2 cerewet. Dia bilang bahwa kantor pusatnya sudah kasih jawaban dan akan mengirim tekhnisi hari Jumat siang. Jumat besok, bukan minggu depan..he..he. Yeee….gimana dong? Orang udah mau putus, kok dia malah ngejar2 lagi? Bingung gak sih?

Ya udah deh, dasarnya kami penyabar banget kali ye (terlalu), maka kamipun bersedia menunggu. Menghitung hari….detik demi detikkk…..

Jam tiga sore tadi, suamiku dapat telpon dari nomor gak dikenal. Biasanya sih dia cuekin karena cuma telemarketing yg nawarkan jasa atau barang. Tapi kali ini aku suruh dia angkat HPnya sambil berseloroh, “Siapa tahu dari Mediacom.”

Loh ternyata bener! Teknisi yang telepon tanya suamiku ada di rumah apa enggak dan dia akan datang saat itu juga (beda 15 menit lah). Wah…sakti juga nih si Tracy!

Dan memang benar, gak sampai 15 menit kemudian datanglah si teknisi. Dia belum masuk rumah, cuma ngutak-ngutik bagian luar ketika untuk pertama kalinya…setelah tujuh hari koma…Internetkupun menyala lagi sodara2! Horeeee!!

Pas aku tanyain masalahnya apa, coba tebak deh dia bilang apa?
“The provider disconnected your Internet connection.” Busyet dah! Apa?! Kok bisa? Wong aku bayar telat aja gak pernah. Dia cuma bisa angkat bahu dan bilang gak tahu.

Bisa jadi sih memang keliru karena tetangga atasku kan baru minggu kemarin pindah (dan sudah masuk yg baru lagi). Mungkin saja mereka keliru mencabut sambungan Internetnya. Tapi tetap gak termaafkan…wong setelah seminggu baru dikirim teknisi! Si teknisi bilang kalau sudah ada beberapa kejadian serupa dan dia juga sudah sering komplen ke orang2 kantornya.

Oalahhh….jo..jo…di Amerika kek di mana kek, yang namanya orang yang kerjanya ngaco pasti ada aja kan ya. Kesalahan konyol kayak gini aja bisa terjadi di negeri yang katanya udah maju begini.

Advertisements

Nyanyi Keroncong yuks!

Melihat Gamaliel dan Audrey Tapiheru, dua bersaudara yang berangkat dari Youtube kemudian jadi bisa manggung di acara Harmoni SCTV yang musiknya bagus banget itu, membuat aku terkenang masa lalu.

Alkisah, berpuluh tahun yang lampau, aku masih kelas 5 SD dan menikmati masa kanak2 yang penuh warna. Aku memang suka menyanyi sejak kecil, dan gak malu-malu untuk teriak-teriak di segala kesempatan. Tapi tentunya cuma sebatas di rumah saja. Pada masa itu aku juga aktif ikut kegiatan Pramuka di kompleks tempat tinggalku, kompleks Pertamina Medan Satria, JakTim.

Entah karena gak tahan mendengar anak tetangga yang tiap di kamar mandi pasti nyanyi, atau karena memang punya niat baik pengen ngorbitin, tetangga sebelah rumahku laporan sama kakak2 Pramuka yang di mataku saat itu sudah kelihatan dewasaaaa banget. Padahal sih, mereka masih anak SMA dan kuliahan.

Dua orang kakak ini datang ke rumah dan meminang…duile..ceritanya minta ijin deh sama ortuku supaya aku bisa ikutan lomba. Lomba apakah? Tentunya bukan lomba makan kerupuk. Ternyata lomba…nyanyi keroncong! Lah? Padahal jaman itu aku justru sukanya nyanyi lagu pop, dan sudah mulai suka lagu2 dewasa (bukan lagu anak2) seperti “Ebony and Ivory”-nya Paul Mc Cartney dan Stevie Wonder. Tahu sih keroncong itu musik dan lagunya kayak apa, kan ada siarannya di TVRI dulu.

Namanya juga anak kecil yang suka tantangan, jadi ayuk lah ikutan. Lomba nyanyi keroncong ini diadakan untuk Pramuka se-Jakarta khusus untuk keluarga karyawan Pertamina mulai dari tingkat Siaga sampai Penegak dan diatur berdasarkan kategori tingkatan Pramuka tersebut. Aku ikutan yang Siaga, karena masih kelas 5 SD.

Tahun pertama ikut lomba, lagu wajibnya berjudul “Syukur” ciptaan H. Mutahar. Nada lagunya yang agak2 agak gothic itu lo…bagus buat soundtrack film horor. Pas latihan sih aku diiringi musik pop biasa, tapi pas lombanya pakai musik keroncong lengkap dengan kenceng kendor…kenceng kendornya. Tapi tentu saja nyanyinya belum ada cengkok keroncongnya. Syusaah looo…jauh lebih gampang nyanyi dengan gaya pop.

Ini pertama kalinya aku naik panggung. Deg2kan pastinya, tapi lebih banyak senangnya karena aku punya banyak kakak2 yang ngemong banget berhubung termasuk yg paling kecil saat ikutan lomba ini. Aku ingat sekali Ibuku yang mengantarku, padahal saat itu adikku yang paling kecil masih 7 dan 5 tahun. Lupa deh dititipkan sama siapa ya tuh kedua adikku.

Begitu naik panggung, ambil suara dulu deh. Terus mulai deh nyanyi. Tapi…astaga…ternyata nada dasarnya kerendahan. Jadilah lagunya terdengar lebih horor lagi. Suaraku juga jadi ngebass gede begitu. Gak banget deh pokoknya. Waaa…begitu turun panggung aku langsung nangis keras di pangkuan Ibuku yang tentu saja berusaha menghiburku. Rasanya sedih banget dan marah sama pemusiknya. Duile..masih kecil aja udah gitu. Gimana kalau jadi Diva yaks? Ha…ha…ha.

Tapi memang dasar gak kapok. Tahun berikutnya aku diajak lagi dan ikutan lagi. Kali ini nadanya gak kerendahan, dan lagunya sama..he..he. Menang deh juara satu. Tahun berikutnya pun ikutan dan menang lagi juara 1. Seneng deh, pialanya masih ada di rumah ortuku sampai sekarang.

Efek dari ikutan lomba keroncong, aku jadi aware sama lagu-lagu yang biasa dibawakan dalam langgam keroncong seperti “Kr. Sampul Surat” yang waktu kecil dulu aku pikir lucu sekali syairnya…dapat surat kok kosong gak ada isinya..he..he, lalu juga lagu favoritku yang memaksa lidah untuk menyanyi dengan cengkok keroncong karena memang nadanya meliuk2 banget: “Kr. Tanah Airku, ” sampai dengan lagu2 perjuangan seperti “Melati di Tapal Batas Bekasi,” “Sapu Tangan Sutra Putih,” “Sepasang Mata Bola,” dll. Sampai sekarang, di telingaku lagu2 ini nadanya tetap terdengar indah dan syairnya puitis.

Makanya pas dengar dua bersaudara Tapiheru itu menyanyikan lagu2 yang beberapa diaransemen menjadi musik keroncong langsung deh kenanganku terbang ke masa lalu sambil bertanya-tanya; anak jaman sekarang ada gak ya yang suka lagu keroncong? Di TV masih ada gak sih tayangan lagu2 keroncong dan masih ada gak sih lomba nyanyi lagu keroncong.

Hmmm…tunggu dilirik negeri tetangga dan orang2 jadi heboh dulu mungkin ya, baru keroncong bisa populer lagi..he…he.