Tentang Barang Bermerk Mahal

Sebelumnya aku mau bilang bahwa curhatan kali ini mungkin akan menyinggung peranakan Anda. Jadi buat yang merasa suka sama barang2 bermerk, silahkan hentikan bacaan sampai di sini.

Karena aku memang bukan fashionista, gak fashionable blas deh pokoknya, dari barang yg dipakai sampai yg ditenteng hampir gak pernah ada yg bermerk mahal. Kukatakan hampir karena kalaupun ada yg bandrol harganya di atas rata2, pasti hadiah dan bukan sesuatu yg aku beli dng uang sendiri. Beberapa botol parfum misalnya, aku dapatkan sebagai hadiah.

Bukan apa2, aku sih sayang aja mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli barang dng merk tertentu. Mau dibilang pelit silahkan. Tapi coba deh dipikir, apa sih alasan orang beli barang bermerk? Bukannya biasanya hanya karena gengsi?

Lucunya, aku justru dikelilingi orang2 yang sangat sangat memperhatikan merk. Beberapa anggota keluargaku sangat sadar merk. Ada satu yang sudah tiga kali minta dibelikan dan dikirimin barang2 sbg berikut: sepasang sepatu Nike, jam tangan Guess, dan terakhir dia minta Blackberry Bold. Gak ada satupun yang aku belikan. Biarin dibilang jahat dan pelita harapan. Sebel soalnya. Memang dia ini, katakanlah X, dari dulu sukanya pakai barang2 bermerk…meskipun itu berarti harus menunda bayar kuliah misalnya. Buat dia lebih baik beli HP baru yang sedang ngetrend drpd buru2 bayar kuliah. Kepentingannya apa sih harus pakai BB? Wong utk bayar pulsanya aja aku yakin dia masih ngos2an. Sepatu kenapa harus Nike? Memangnya kalau pakai sepatu mahal ini terus jalannya bisa serasa melayang ya? Jd gak bakalan capek kalo jalan muter2 stadion?

Maksain. Itu yang bikin aku kesal dari orang2 semacam ini. Bahkan kalau misalnya punya uang banyakpun, apa harus dihambur2kan utk beli barang2 yang bermerk?

Sekedar cerita flashback. Jaman dulu aku tuh cuma punya 1 HP, gak ganti2 dr sejak beli di tahun 1998, yaitu HP Nokia sejuta umat yang segede bagong itu. Merk HP bergantian muncul, HPkupun jadi barang antik yang ditertawakan teman kantor (dibilang kayak ulekan) dan keluarga (termasuk si gila merk ini). Aku dengan cuek melenggang. Pernah di angkot aku setengah tertidur setelah menerima telpon dr temanku. Aku mendengar penumpang di sebelahku, yg anak SMA, bisik2 sama temannya menyatakan bahwa telponku tuh antik dan langka. Hi..hi…sampai segitunya.

Di lain pihak, ada juga kenalanku yang meminjam uang dari saudaranya untuk betulkan mobil ceritanya. Ndalalah, 75 persen pinjaman malah dibelikan HP baru yang dulu berasa canggih banget krn bisa nyambung ke Internet. Padahal gak ada kepentingannya. Mending kalau dipakai buat bisnis dan bisa menghasilkan…jd gak sekedar jd aksesoris penambah gengsi.

Cerita teman sekantor lain lagi. Selain terkenal modis juga tasnya selalu bermerk dan asli..bukan yg aspal. Aku tahu karena pernah beberapa kali diajak belanja ke toko tempat dia membeli tas. Ajaib, temanku ini kemudian aku ketahui menangis dan mengemis2 pada atasannya untuk bisa dapat pinjaman untuk membiayai kuliah S2nya di sebuah PTN di sekitar Jakarta. Mau tahu berapa jumlah pinjaman yg dimintanya? 7,5 juta rupiah! Aku ketika mendengar kabar ini dr atasan yg sudah akrab dan suka curhat sama aku langsung bengong. Astaga…cuma segitu aja sampai nangis2 minta pinjaman? Aku aja yg tampilannya butut pisan bisa punya tabungan jauh lebih banyak dari itu. Dan gajiku lebih kecil dari gaji dia. Daripd beli tas mahal kenapa gak buat bayar kuliah aja sih? Gemes banget deh gue!

Mungkin karena aku kebetulan sering menyaksikan sendiri kasus2 dimana orang begitu memaksakan beli dan pakai barang bermerk mahal, sampai2 aku jadi muak banget dan jadi anti barang bermerk. Selama masih bisa pakai yg biasa2 aja, aku gak akan tergoda beli yg bermerk…meski uangnya ada sekalipun. Aku gak mau mengatrolkan harga dan kepercayaan diriku pada Gucci, Guess, Blackberry, atau Manolo Blahnik. Biarlah orang menilai diriku dari isinya…bukan bungkus atau apa yg aku pakai. Kalau ternyata ada yang menilaiku rendah karena tampilan luarku, berarti mereka tak layak untuk mendapatkan persahabatanku. Gitu aja, gampang kan.

Advertisements

Flu Amrik

Seminggu sudah kami sekeluarga terkapar dihajar flu ala Amrik. Ceile…kesannya gaya banget ada Amrik2nya. Pedehel…yg namanya sakit flu kalo di sini tuh jauh lbh parah dari yg beredar di Indo. Inget banget dulu kalo cuma sakit flu sih, sekolah masih masuk, ngantor juga hayuk, apalagi kalo jalan2 sama teman…gak bakalan batal kalo baru pilek dan batuk aja. Beberapa hari aja juga pasti ilang sendiri tuh batuk pilek. Bahkan dulu jaman SD, aku ingat suka sirik gitu kalo ada teman gak masuk gara2 sakit flu. Idih, sakit gitu aja gak masuk…cemen lo.

Tapi begitu di sini baru berasa deh yg namanya flu sejati kayak apa. Oya…di sini istilahnya ada dua lo Say: cold dan flu. Bedanya kalo cold lbh ringan drpd flu. Beda yg lbh detil bisa ente baca sendiri di sini. Tapi krn di bhs. Indonesia dua2nya disamain sbg flu, gue bahasnya di sini pake nama flu aje yeee. Ocre?

Nah, flu di sini tuh bener2 meluluh-lantakkan seluruh jiwa dan raga. Yang gue rasain gejala2nya adl: kepala keliyengan kayak direndem air sumur, hidung mampet, tenggorokan kayak disilet, badan meriang dan tulang2 ngilu. Kalo pake demam bisa lebih sedap lagi tuh. Terus kalo batuk2 bisa sampai muntah2 utk ngeluarin lendirnya (sori…jorok…jangan dibayangin ye). Berapa lama berlangsungnya? Paling cepat ya seminggu. Gak berdaya banget deh. Dalam semingu itu pasti ada beberapa hari yang terkapar…cuma tiduran aja bisanya.

Yang bikin jadi nyebelin adalah, musim flu di sini biasanya barengan sama musim dingin. Soalnya pas musim dingin udaranya kering dan virus2 flu gampang banget berkembang biak di udara yg kering. Udah gitu, kalau dingin kita pasti pasang heater yg bikin udara jd kering juga. Dobel2 deh tuh. Udara kering, virus banyak, kita sakit. Pas flu tenggorokan lagi kayak disilet…eh ditambah kering juga…sedap banget deh tuh.

Saat musim dingin tahun lalu kami gak ada yg kena flu. Dengan ge-ernya mengira tubuh sudah beradaptasi dan gak gampang kena seasonal flu. Tahun ini ternyata terkapar lagi dengan suksesnya. Empat2nya kena pula. Aduhai banget deh.

Jadi mendingan flu Indo ya daripada flu Amrik? Ya dua2nya mendingan enggak deh. Namanya sakit, mana ada yg enak. Teman2 yang sekarang dalam keadaan sehat, rajin2 jaga badan ya. Jangan sampai sakit. Yang sekarang juga lagi terkapar (tapi masih bisa ngempi…he…he) kayak aku…hang in there. Sabar dan tabah selalu serta usaha dan berdoa biar cepat sembuh ya.

Darrel Berkepribadian Ganda?

Jangan bayangkan seperti tokoh yang diperankan Edward Norton di Fight Club, moga2 sih ini cuma fase yang akan segera dilalui anakku Darrel. Untuk lebih jelasnya, mari menengok sejenak kisahnya sebelum dan sesudah bersekolah.

Sebelum sekolah, di bulan September 2009, anak keduaku ini bisa dikatakan sangat kuper. Jika anak2 lain seusianya banyak dititipkan di Day Care, sehingga punya kesempatan untuk bergaul dengan sesamanya, maka Darrel di rumah saja dengan mama dan kakaknya. Dulu saat aku masih kuliah, dia diasuh ayahnya saat aku ada kelas dan kembali ke pelukanku ketika aku di rumah. Karena saat itu sibuk sekali, aku juga gak sempat gaul dan jalan2 bersama Ibu2 yg punya anak sebaya Darrel misalnya. Maka, gak heran kalau Darrel punya sedikit masalah dalam bersosialisasi.

Jika ketemu orang baru dikenal, dia sangat pemalu dan pendiam. Hal ini berlanjut hingga ia bersekolah. Bayangkan saja, sampai dengan hari ini dia ‘setia’ banget sama aksi tutup mulut alias diam di kelas. Setiap kali ditanya dia ngobrol apa sama teman2nya, dia pasti jawab begini: “I don’t talk to them. I’m shy of my friends.” Kalau sama gurunya bagaimana? Cuma bicara satu dua patah kata dan kata favoritnya adalah…….”No!” makanya pernah ada salah satu gurunya bilang dia “A no-no kid” Pernah juga suatu saat Darrel mengucapkan beberapa kata, lalu gurunya bilang begini: “Hey, you can talk!”Itu karena begitu jarangnya dia bicara di kelas.

Bagaimana jika di rumah? Aha….tring…tring…dia langsung berubah jadi ‘radio’. Dia bisa bicara lama dan begitu bersemangat saat di rumah, dengan suara nyaring dan tinggi. Begitu turun dari bisa sekolah, langsung laporan pandangan mata; apa yg terjadi di kelas lengkap dengan nama2 temannya, apa buku yg dibacakan gurunya, ada kegiatan apa, dst. Bangun tidur saja dia sudah langsung bisa laporan apa mimpinya semalam.

Di rumah, Darrel termasuk anak yang agresif dalam taraf agak mengkhawatirkan. Dia tak segan menuntut apa yg dia mau dan menggunakan fisiknya dalam hal rebut merebut mainan misalnya. Hal ini dia terapkan pada kakaknya yang pembawaannya lebih kalem dan lebih suka mengalah. Memukul, menendang, melempar, semua jurus Kung-Fu plus jeritan2 maut yang memecahkan gendang telinga dia keluarkan kalau sedang ‘bertarung’ dengan kakaknya. Mamanya sampai stress deh.

Sedangkan di sekolah? Terakhir kami datang untuk Parent-Teacher Conference alias terima report card-nya Darrel gurunya heran pas aku tanyakan apakah Darrel bersikap agresif selama di kelas. Selain dia tak pernah agresif, Darrel juga termasuk penyendiri, belum mau bermain bersama dengan teman2nya. “He’s an observer,” gitu kata gurunya. Hah? Cuma pengamat?

Saat kami datang di hari ulang tahunnya, kami liat sendiri Darrel duduk di pojokan sendiri sementara teman-temannya mengelilingi gurunya. Aku pikir dia sedang diberi time-out (hukuman), namun ternyata dia sedang merasa malu krn sebelumnya diminta ke depan dan dinyanyikan lagu ulang tahun oleh guru dan teman2nya. Sementara teman-temannya makan cupcakes sambil berceloteh ceria, si Birthday Boy malah diam, makan kue sampai habis, buang kertas pembungkusnya ke tempat sampah, cuci tangan di wastafel yg ada dlm. kelas, lalu balik lagi ke kursinya tanpa sepatah katapun.

Ah…kenapa bisa begitu ya? Ada beberapa teori di benakku tentang mengapa ia bisa begitu berbeda, seperti punya kepribadian ganda saja. Selain karena dia memang kuper, mungkin juga karena dlm tubuhnya mengalir dua gen yang sangat bertolak belakang: mama yg sangat cerewet dan ayah yang sangat pendiam; mama yang gaul (cieee) dan ayahnya yang cenderung tertutup dan susah bergaul. Entahlah, tapi yang jelas gurunya bilang begini: Biasa kok anak2 punya 2 sikap berbeda, karena memang situasinya berbeda antara di rumah dan di sekolah. Hanya saja aku berharap, semoga sikap ‘aloof’-nya di sekolah bisa sedikit2 berubah supaya dia bisa lebih berkembang kecerdasan sosial dan interpersonal-nya. Semoga yaaa.

Minggu Lalu

Masih ingat gak suatu hari 2 minggu yg lalu aku nantangin order kerjaan lagi? Ternyata kejadian. Alhamdulillah…3 order berturut2 menyambangiku dalam waktu yg berdekatan. Seneng dong ya pastinya. Awalnya sih iya…pas udah ngerjain…berasa mau tewas! Ha…ha…ha.

Padahal ‘cuma’ menerjemahkan film aja lo. Itu juga aku cuma Proof Reader jadi yang ngecek ulang kerjaan penerjemahnya. Tapi kok ya sampai begadang jangan begadang segala. Hehhhhh.

Jadi begini temans…perusahaan yg kasih order ini memang standardnya tuingggi buanget. Mereka sudah punya guidelines utk ngerjain terjemahan yang sangat mendetil. Gimana gak detil, jumlah halaman buku panduannya saja ada 100-an. Alhasil, untuk yang anak baru kayak aku ini pastinya bolak-balik liat itu panduan ketika ngerjakan. Waktu mengerjakannya jadi lbh panjang kan. Padahal deadline kerjaan2 ini sangat ketat, cuma 2 hari paling lama.

Alhamdulillah, biarpun aku sampai cuma tidur 3 jam (sambil wanti2 di hati: Winston Churchill cuma 4 jam kok tidurnya)…selesai juga tuh kerjaan. Itu juga masih pakai ngurusin anak, masak, dsb. Kalau home office ya gitu deh. Meski waktunya lbh fleksibel, tapi masih harus ngurus yg lain2 juga. Hikmahnya kerja bertumpuk pake ngebut minggu lalu itu, aku jadi tambah paham prosedurnya dan udah bisa ngerjain tanpa sering2 liat Buku Sakti-nya lagi. Horeee!

Nah, sekarang udah kelar, rombongan lenongnya udah lewat…aku mulai bengong2 lagi dan langsung nantangin lagi: Hayooo mana …gimeee moreee!!! Dasar gak kapok.