Office Politics

Mestinya sih udah gak ngefek lagi ya…wong orang2 ini adl cerita lama yg sudah lama berlalu. Tapi namanya manusia, punya perasaan…pas aku denger hal ini ada rasa “duh…kok tega banget ya orang2 ini.”

Jadi begini, beberapa hari yg lalu aku sempat chat dng mantan teman kantor yg sampai skrng masih bekerja di tempat yg sama. Lalu tercetuslah omongan beberapa org yg memang sudah terkenal sbg para ratu tega, yg suka injek sana injek sini utk bisa mendapatkan keinginannya alias egomaniac. Saat aku mengalami kecelakaan motor dan harus absen dr kantor selama berbulan2 seperti yg pernah kuceritakan di sini rupanya ada 3 org ibu2 yg ngomong begini: “Wah enak banget ya…gak kerja tp tetap dapat gaji…lama banget lagi.” Wakssss… pdhal peraturan kepegawaian membolehkan seorang karyawan cuti sakit (dibayar) sampai dng 6 bulan. Sampai bulan kedua aku gak enak hati sendiri dan setelah mendengar prediksi dokter bhw gak akan bisa jalan normal bahkan sampai 10 tahun (gile deh) maka aku memutuskan untuk resign saja. Pada saat itu aku sama sekali gak tahu bahwa ada omongan2 gak enak seputar cuti sakitku.

Aku sih sebenarnya gak terlalu kaget kalau mereka2 ini sampai bisa ngomong gitu. Sepak terjang mereka sudah diketahui semua org di kantor dan sebelum aku resign, sudah ada 2 orang yang keluar juga gara2 berkonflik dengan mereka. Jadi…di kantorku itu kok bisa2nya ada 3 org menjadi sumber konflik krn mereka sangat ambisius dan licik padahal kerjanya gak pernah beres. Maksudku…kantor kecil aja dan gak banyak pegawainya kok bisa2nya ‘dianugerahi’ lebih dr satu org bermasalah ya? He…he..he..lucu juga.

Lebih lucu lagi, 2 org diantara mereka berkolaborasi sehingga orang2 di sekitarnya gak berdaya dan gak ada yg berani melawan mereka secara frontal. Kebetulan, aku termasuk yg berani melawan sehingga termasuk ‘musuh’ utama mereka. Tentu saja aku pakai jalur rapat kantor dan strict to masalah kerjaan aja, meskipun mereka2 pakai jalan hasut-menghasut behind closed doors dan take everything personally. As a result, mereka2 ini selalu mencari kesempatan utk merusak kredibilitasku (yg di tempat kerja dikenal termasuk bagus, alhamdulillah). Saat aku tertimpa musibahpun dijadikan moment utk menjatuhkan. Luar biasa!

Office politics, pasti ada dimana2, namun di tempat yg satu itu amat sangat kencang hawanya dan berpotensi bikin stress berkepanjangan. Aku pernah kerja di beberapa tempat, dan tempat ini satu2nya yg konfliknya benar2 ‘mengesankan’.

Kabar terakhir aku dengar orang2 ini sudah menempati posisi2 penting di tempat itu dan, seperti bisa ditebak, memanfaatkan segala fasilitas dan kedudukannya untuk meraup keuntungan pribadi sebesar2nya tanpa perduli org lain. Mereka bisa dapat posisi karena orang2 yg berseberangan dengan mereka sudah keluar semua, yg tersisa adl orang2 yang meskipun tersiksa namun tak ada pilihan lain (utk resign saja) dan tidak mampu melawan. Di lain sisi, org2 yg posisinya lbh di atas membutakan mata dan memang lemah dari dulunya. Karena itu org2 yg sebenarnya tak layak naik ini justru dpt posisi.

Semoga bisa menjadi bahan pelajaran buat semua. Jika melihat kebathilan/kecurangan, jangan diam saja…karena akibat ke depannya akan bring a lot more damage. Office politics di kantorku bisa jadi cuma microscopic scale dr kondisi di Indonesia secara keseluruhan. Sikap apatis tidak akan membawa kebaikan jika dihadapkan dengan segerombolan orang jahat yg bersatu. Indonesia niscaya akan tetap jadi jajahan Belanda kalau saja tak ada org2 berani mati yg menyulut dan memimpin rakyat utk melawan penjajah. Alm. Soeharto tak akan lengser kalau tak ada demonstrasi mahasiswa yg menduduki kantor DPR. Apa mungkin sudah karakter bangsaku ya…harus menunggu berpuluh tahun atau bahkan beratus tahun baru mau bangkit dan berani melawan (setelah babak-belur diinjak2)? *Sambil menghela nafas juga menggeleng2kan kepala berusaha menolak asumsi yg baru saja tercetus*

Mau Tanya: Egomaniac, kok bisa?

Saya tuh dari dulu penasaran…apa sih yg membuat beberapa orang bisa bersifat keji. Bukan keji dlm artian seorang serial killer lo ya…tapi sifat yg menghalalkan segala cara utk memenangkan kepentingannya sendiri, ini terutama dalam setting dunia kerja. Singkat kata, orang2 jenis ini ‘pintar’ (licik tepatnya) bermain office politics demi memenangkan kepentingan mereka sendiri. Berdasarkan pengalaman, saya pernah menemui orang2 spt ini, yang kadar egoisnya begitu ketara dan sudah tidak malu2 lagi. Perempuan pula…yang stereotypical-nya mustinya punya hati dan gak tegaan.

Kisah panjang lebar tentang my ‘encounter with the third kind’ nanti2 aja ya. Sekarang saya mau bertanya dulu: Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman teman2…sebenarnya apa sih yang membentuk seseorang menjadi egomaniac? What have their parents done/or not done to them? Orangtua merupakan pembentuk karakter pertama, jd pasti ada unsur ‘salah asuhan’ dalam perkembangan mereka2 ini. Lalu…hal2 apa lagi yg kira2 berperan membentuk pribadi yang seperti tak punya empati setetespun jua ini?

Sebelumnya saya ucapkan thank you so much buat yang mau mencoba jawab. Sementara, saya juga akan keliling, tanya2 mbah Google kira2 apa faktor pembentuk org egois (tahap akut) sambil berharap semoga saya tidak pernah dan tidak akan jadi org yg egomaniac (aaaamiiin).

Nostalgia SMA – Paramitha Rusady

Kau bercanda lucunya
Yang lain pun tertawa
Seakan saja cerita dan canda kita
Tiada habisnya

Ada yang saling cinta
Bermesra di sekolah
Saling berdua berjalan di sela-sela
Rumput sekolah kita
Oh indahnya

Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah

Nostalgia SMA kita
Takkan hilang begitu saja
Walau kini kita berdua
Menyusuri cinta

Asyik

Asyik…MP mulai ramai lagi…ayo dong…ayo dong…banyak2 posting ya biar aku bisa keliling2…he…he.

Iseng-iseng gak berhadiah – Personality Test

Baru aja iseng ikut Personality Test di sini:
http://www.quizbox.com/personality/test82.aspx

Hasilnya? Yg dalam kurung komentarku sendiri lo.

Your view on yourself:

You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. (so true…but sometimes straightforwardness is not accepted and it can turn you into a public enemy #1) You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties. (hmmm….really? I usually find myself taking side of the opressed ones.)

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:

You are a true romantic. (ehem..ehem…ask my husband aja deh) When you are in love, you will do anything and everything to keep your love true. (Anything and everything? Not necessarily…it has to be a joint effort, doesn’t it?)

Your readiness to commit to a relationship:

You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person. ( ha..ha…ha..ini sih judulnya ‘ngebet banget.com’…tp ada benernya juga sih

The seriousness of your love:

Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates. (Halah..tactics? Lu pikir main catur? But I totally support the last line…who would refuse plenty of dates huh?)

Your views on education

Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can. (Sipppp lah even though I can also be a procastinator when it comes to finishing an assignment.)

The right job for you:

You’re a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you’ll be set for life. (I found some truth in this because I jumped to the first job I got as soon as I graduated from college. But I have always had a dream of having that ideal job which allows me to have some adventures…like the one that Indiana Jones has )

How do you view success:

You are afraid of failure and scared to have a go at the career you would like to have in case you don’t succeed. Don’t give up when you haven’t yet even started! Be courageous. (Hah…bener juga nih…)

What are you most afraid of:

You are concerned about your image and the way others see you. This means that you try very hard to be accepted by other people. It’s time for you to believe in who you are, not what you wear. (Hmm….maybe…but definitely not visual image because I’m not fashion-conscious…maybe it’s how I present myself as a whole that I’m concerned about)

Who is your true self:

You are mature, reasonable, honest and give good advice. People ask for your comments on all sorts of different issues. Sometimes you might find yourself in a dilemma when trapped with a problem, which your heart rather than your head needs to solve. (Ah….jadi malu. Rasanya aku belum mature kok…masih banyak ngaconya. Give good advice? Hopefully so…kalau ‘bijaksana-bijaksini’ mode-nya lg jalan aja yaaaa.)

Yang mau ikutan nyoba…silahkan…tesnya sebentar banget kok…gak sampai 5 menit.

Life in the US: WIC

Saat baru sampai di sini, aku sendirian. Suami dan kedua anakku masih di Indonesia. Aku sempat kost di apartemen khusus utk mahasiswa yg kebanyakan single selama 2 bulan. Di bulan ketiga aku pindah ke apartemen khusus mahasiswa yg sudah berkeluarga dng lingkungan yg tentu saja lbh family-friendly. Sambil kuliah, aku juga semangat nambah2 teman baru, selain memang menyenangkandan menghilangkan rasa kesepian akibat jauh dr keluarga, aku juga bisa banyak tanya2 dan dapat informasi utk bisa survive hidup di sini. Maklumlah…aku memang belum pernah ke luar negri jadi segalanya terasa asing dan baru.

Setelah pindah ke apartemen keluarga, aku dapat banyak informasi berharga dari teman2 baruku, ibu2 yg suaminya kuliah di sini. Salah satu info itu adl mengenai WIC, singkatan dr Women, Infants and Children. Singkatnya WIC ini semacam Posyandu di Indonesia. Mereka menyediakan kupon tambahan asupan nustrisi utk Ibu hamil dan anak2 di bawah usia 5 tahun secara gratis. Cara apply-nya mudah dan gak neko2. Kita cuma isi form, bisa on-line atau di pusat kesehatan regionalnya, lalu menyertakan bukti penghasilan kita (krn program ini tujuannya membantu mereka yg kurang mampu). Lalu ibu hamil atau anak akan menjalani pemeriksaan kesehatan serta konsultasi dng ahli gizi. Semua layanan ini tidak memungut bayaran. Wah….padahal dulu nih, aku sempat disuruh dokter anakku utk periksakan anak pertamaku ke ahli gizi. Berapa tebak bayarannya? Hampir 100 rb sekali kunjungan! Utk standard Indonesia itu mahal sekali kan.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, maka Ibu hamil dan anak2 berhak mendapatkan kupon yg bisa ditukarkan dng makanan dan minuman yg termasuk 4 sehat 5 sempurna di supermarket2 lokal. Kupon2 ini antara lain adl utk: susu, telur, keju, cereal, jus buah. Mereka punya batas harga maksimum dan juga merk2 tertentu yg bisa dipilih, sehingga kita tdk bisa terlalu leluasa memilih produk. But it’s perfectly fine, krn merk2 yg masuk kategori WIC juga bagus2 dan enak2. Mereka juga menetapkan batas waktu utk penukaran kupon shg kupon bulan Januari misalnya tak bisa dipakai di bulan Februari.

Satu2nya larangan adl utk memperjualbelikan kupon atau bahan makanan yg telah dibeli dng kupon. Satu2nya syarat utk tetap bisa dapat kupon adl anak kita harus rutin check-up kesehatan dan konsultasi gizi (tiap 3 or 6 bulan). Oya…ada lg syarat lain yg menurut aku bagus banget: orunya harus ikut kelas atau seminar tentang gizi yg bisa diikuti baik scr on-line maupun langsung. Jadi bukan hanya anaknya yg dipantau kesehatannya dan dibantu asupan gizinya, namun ortu-nya juga dididik. Berapa nilai kupon secara keseluruhan? Kira2 sebulannya satu anak bisa mendapat kupon sebesar 35-50 USD (kalau bayi bisa lbh besar nilainya krn diberi jatah susu formula). Lumayan banget kan.

Hmmm…aku jd mimpi suatu saat di Indonesia bisa ada program spt. ini.

Menulis Serius

Ketika pertama ngempi, th 2007 tujuan utamaku memang utk menulis santai. Utk berbagi cerita dan curhat kiri-kanan. Soalnya saat itu aku masih sibuk kuliah, sudah didera banyak tugas yg cukup bikin pusing kepala. Jadi buat apa lagi cari masalah dng menulis ‘berat’ di MP? Sengaja juga memilih bhs. Indonesia krn alasan yg sama, wong di luar sudah pegal2 pakai bhs. Inggris, ngapain juga di ajang santai2 ini pake bhs. Inggris lagi. Lagipula, aku memang ingin lebih meraih banyak teman di tanah air, tempat aku pasti kembali nanti. Bhs. Indonesiaku juga santai abis, gak resmi sama sekali karena jika saya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti ini, maka saya akan merasa bukan saya. Percaya gak, kalo pas ngajar di depan kelas dan harus pake bhs Indonesia resmi, aku malah kagok dan pasti tetap terselip kosa kata gak resmi…he..he..he.

Tapi belakangan, mulai muncul pertanyaan2 pd diri sendiri.
Mungkin aku bukan intelektual sejati ya? Bukan orang yg tiap saat pikirannya penuh ide2 cemerlang sehingga harus menyalurkannya dlm bentuk tulisan. Sekarang ini, saat aku hendak mulai menulis lagi, kok ide2 yang ada malahan tidak berbau keilmuan sama sekali. Duh…kok spt. percuma saja tuh aku kuliah capek2 kemarin itu. Aku sekarang malah lbh suka menulis puisi yg aku bilang sih masih taraf coba2 dan belum ‘nyastra’ spt yg kuimpikan. Mau menulis prosa pun, yg muncul cerita2 pendek ringan yg menurut aku kurang berbobot dan kekurangan satu bagian penting…yaitu endingnya…krn aku selalu tdk bisa menyelesaikan tulisanku sendiri..ha..ha…ha. Ingin sekali menulis pengalaman hidupku, tapi siapa gue…kok sampai mau bikin biografi sendiri.

Ah sudahlah….all I can do is trying. Mungkin mind-setnya harus aku switch menjadi bhw aku menulis buat diri sendiri, bukan utk dijudge oleh org lain/readers. Sehingga nanti tidak terbebani dan malah mandeg lagi.

Sorry ya…kalo jd curhat gak jelas…he..he.