Mencoba Berselingkuh

Sesungguhnya, aku tipe setia. Kalau udah jatuh cintrong sama sesuatu, susah banget berpindah ke lain hati. Begitu pula dalam ngeblog. Dulu pernah nyobain blogspot tapi gak sreg abisan sepi banget. Gak sempat eksplorasi juga karena cuma dua atau tiga postingan terus mutung tengah jalan.

Pas ketemu Multiply, mata langsung kedip-kedip genit, jantung berdebar kencang, badan panas-dingin, terpesona banget deh. Padahal ke MP juga nyasar, gara-gara di profil FB temanku yang sama-sama belajar di sini, ada tautan menuju halaman MP-nya. Jadi niat awalnya justru karena pengen kontak-kontakan sama teman-teman satu program itu. Dan cerita yang umum terjadi terulang lagi, sementara mereka sudah melupakan MP mereka, aku masih ngendon di sini…ha…ha…betah ni ye.

Tahun 2011, MP mengubah haluan dan fokusnya menjadi e-commerce alias tempat jualan online. Terjadi banyak perubahan dan pergesekan. Kenapa bisa ada gesek-gesekkan? Ya karena tujuan mereka sudah berubah jadi profit oriented, sementara kita-kita yang cuma ngeblog (tanpa berjualan) dianggap gak mendatangkan untung. Salah banget sih pandangan ini, tapi ya mau gimana lagi yak, wong udah dibilangin berkali-kali tapi tetap bebal. Yo wis, karepmu lah. Tapi nanti kalau kemudian MP bangkrut gara-gara ditinggal blogger, jangan nangis dan perkenankan saya berseru keras pake TOA: “I TOLD YOU SO!” sambil megal-megol goyang pantat ala Sin-Chan ke arah muka kalian…ha…ha…ha *ketawa genderuwo*

Eh, kalau ternyata mereka sukses meskipun tanpa blogger? Ya, good for you deh, silakan dinikmati kesuksesan di atas mayat ribuan akun yang terpaksa pindahan gara-gara kalian mata duitan… *tetep sambil goyang pantat ala Sinchan*.

Kesannya gue lagi gondok banget yak sama mereka…hua…ha…ha. Emberaaaaa….. soalnya neh, aku baru iseng ngoprek-ngoprek internet untuk cari selingkuhan, alias rumah baru untuk menampung harta benda yang gak seberapa berupa tulisan ngaco, foto burem, dan video hasil jambretan dari Youtube. Dan ternyata mencari selingkuhan yang cocok gak semudah membalikan telapak tangan, jendral!

Ibarat cari selingkuhan, pengennya yang lebih cakep dan oke dong ya dari pasangan resmi. *ditimpukin orang se-MP* Nah, mulai deh tuh gue ceklik satu-satu link di Wikipedia. Tentunya dengan memilih yang deskripsinya sesuai dengan keinginan hatiku, yaitu sebuah situs buat blogger yang sekaligus merupakan jejaring sosial.

Ternyata oh ternyata, gak banyak ya bow yang bisa dobel fungsi kayak MP gitu. Kayak Facebook aja tuh, kan lebih mengutamakan fungsi jejaring sosialnya dibandingkan ngeblog. Dan ada banyak yang cakupannya spesifik, seperti Yelp yang merupakan kumpulan pengulas tempat liburan, restoran, dsb, atau Flickr yang merupakan komunitas penggemar foto-fiti. Padahal yang gue cari yang bisa gado-gado macam MP, ada ngeblog, ada pajang foto, video.

Kriteria selingkuhan berikutnya adalah gratisan. Aduh mak, kalua harus pake bayar, gak mau deh ane. Selain karena pelit juga karena prinsip: kalau ada yg gratis, ngapain harus bayar dong ah.

Lalu, selingkuhan gue harus menarik, artinya tampilannya jangan boring dan kalau bisa sih bisa ganti-ganti tampilan kayak di MP. Hari ini pakai casingnya Brad Pitt, minggu depan ganti jadi casing Tom Cruise. Asyik kan? Idih ketahuan banget gue lahir jaman apaan yak, demennya sama Tom Cruise gitu loh.

Keempat, selingkuhan gue harus bisa diset buat publik atau privat karena eh karena banyak postinganku yang sifatnya confidential, rahasia negara yang kalau disebar luaskan bisa berbahaya. Contohnya, postingan soal tetangga atas. Kalau ketahuan sama pasangan resmi kan bahaya banget tuh! Hi…hi…hi. Eh, seriously, aku memang agak protektif terhadap postingan bersifat pribadi seperti foto-foto anak misalnya. Takut disotosop atau jadi korban pedofil gitchu.

Nah, dengan kriteria di atas, gue menerobos hutan belantara situs jejaring sosial dan taraaaa…. hasil kasarnya ada di di bawah ini:

Wooxie: gandengan mesra dengan prinsip SEO, bisa dimonetized dan pasang adsense, tapi macro bloggingnya maksimum 1440 karakter? Hah? Gak salah tuh? Postingan gue yang ini aje, belum selesai pulak, udah hampir 6000 karakter! Gak akomodatif terhadap blogger yang ceriwis iki! Coreeettttt!

Netlog: Kok mirip friendster, belum apa-apa udah gak minat deh. Coreeetttt.

Ning: Menyediakan fitur, foto, video, forum, blog, nah mirip nih sama MP. Tapi loh kok harus bayar meski tahun pertama gratisan. Bayarnya minimal 24.95 dolar per bulan? Glek. Coreeetttt!

Vox: blogging sekaligus jejaring sosial, bisa posting video, bisa pake filter mana postingan buat umum dan privat, ada desain blog yang bisa dipilih, bisa nyambung ke Youtube, Flickr, Photobucket. dll. Mirip nih sama MP…tapeee…udah matek! Tertulis di Wiki: Tutup tanggal 30 September 2010. Coreeetttt!

Pinterest: Kebanyakan foto, mana fitur bloggingnya? Corettttt!

Myspace: Terlalu anak muda ah…music oriented juga, padahal kita kan maunya bisa gado-gado dan emak-emak-friendly. Coretttt!

Hi5: Dari namanya aja, bukan buat kita neh, lebih ditujukan ke anak remaja. Mirip Friendster juga kayaknya. Coretttt!

Open Diary: Mirip sama fitur blogging di MP, bisa diset private and public dan ada circles (kontak2an kali ye). Ninggalin komen juga bisa diset ada yang bisa
semua orang dan ada yang musti jadi anggota dulu. Tapi cuma tulisan doang, kagak ada foto2nya, tampilannya juga kurang menarik deh. Kurang cakep nih, mana bisa jadi selingkuhan? Coreeetttt!

Blogster: Mirip MP neh, kombinasi dari blogging dan jejaring sosial. Bisa ngeblog, posting foto, kayaknya gak bisa video. Foto juga bisa dipasang di postingan blog, ada chatnya kayak meebo kali ya, ada desain halaman masing2 dan bisa diatur mau privat, cuma blogster users, teman kita aja, atau publik. Ada blog traffic juga. Kekurangan: tampilan desain situsnya kurang menarik terus halaman depannya kayak friendster. Satu hal lagi: gak bisa pasang video. Lah terus gimana kalau Suminten mau pasang video konsernya yang heboh itu? Coreeettttt!

Eh bentar, ada yang menarik nih. Blogster berdiri pada November 2005, dan peringkat Alexa-nya 11.385. Ada iklannya di halaman utama, tapi di halaman user gak ada samsek. So? Bisa dong ya tetap eksis meskipun dengan iklan minimal? *melotot ke Gancit dan Bota Racon*

Bebo: Kayaknya lebih mirip Facebook yak? Gak sempet ngoprek soalnya tertutup gitu, harus daftar dulu. Corettttt!

Xanga: Nah, mirip MP juga nih. Ada weblog, photoblog, videoblog, audioblog, mini-blog. Ada setingan privat atau publik juga. Ada themes juga dan macem2 pilihannya. Mirip deh sama MP, jd layoutnya gak boring. Menawarkan keanggotaan premium juga. Bisa cross posting ke FB. Bonus (yg gak ada di MP): Ada trackingnya juga utk melacak siapa aja yang udah masuk, kalau bukan anggota, ketahuan negaranya. Ada rating, jadi postingan yang adult content bisa ditandai. Kekurangan: Kok menurut Wikipedia sering jadi ajang bullying antara anak sekolahan? Napa yak? Risiko sebagai jejaring sosial dan blog yang populer mungkin ya? Kekurangan lainnya adalah halaman depan kita biarpun bertema, kok menunya kurang ya rasanya. Loadingnya juga lama juga bow.

Oh ya satu lagi, pas pertama posting blog ngebingungin karena tombol “save changes” (idem dengan submit) gak ada di situ! Ternyata ada triknya, dan itu ketemu setelah ubek-ubek sana-sini. Entah guenya yang bego aja kali ya, atau mereka yang emang bikin bingung.

Oh ya, Xanga diluncurkan tah
un 1998 lo. Gile, jauh lebih tua dari MP! Alexa rank: 3134, weleh lumayan
banget dan mereka hidupnya dari iklan lo. Seperti infonya Om Wiki:

“Xanga is largely supported by advertising, in the form of banner ads that appear on the top of most pages on Xanga. Sam Garland does most of the advertising for Xanga. Xanga ads first appeared on the site on May 30, 2001. On September 21, 2005, the ads were changed to a larger leaderboard format.”

Bukti satu lagi kalau jejaring sosial tuh gak semuanya bangkrut kok, bahkan dengan munculnya si Facebook sekalipun. Jika pengelolanya pinter, bisa berinovasi, dan gak mencla-mencle, pasti bisa lah bertahan Kayak si Xanga ini buktinya.

Nah, setelah meninjau beberapa situs, gak lengkap pastinya, wong cuma sebagian dari daftar yang diberikan Om Wiki, Suminten memutuskan bahwa Xanga ini yang paling mendekati MP. Meskipun dengan berat hati, aku juga mengakui bahwa ternyata pasangan resmi bisa lebih cakep dan oke daripada selingkuhan!

Disclaimer: Postingan ini bukan bermaksud menyebarkan isyu akan ditutupnya fitur blog dari MP. Beritanya masih belum resmi lo, dan kalau pun ada penafsiran tentang bakal ditutup, itu semata penafsiran pribadi gue aje atas postingan INI dan ITU. Jangan diikutin ajaran yang sesat yaaa! Ha…ha…ha. Cuma, aku pengen jaga-jaga aja seandainya terjadi sesuatu. Kalau udah ada jaring pengaman kan enak. Daripada gak waspada, tenang-tenang aja, over-optimis yang gak pada tempatnya, membutakan mata, lalu tiba-tiba kejadian dan cuma bisa mewek kan, mendingan do something about it.

Oh ya, alamat Xanga-nya Suminten: http://penuhcinta.xanga.com/

Kecup kemben acem…mchuaaah!

Advertisements

Tips Pemakaian Ponsel

Sekedar sharing, mungkin bermanfaat. Boleh percaya, boleh juga tidak, silakan disikapi sesuka hati.


Tips pemakaian ponsel yang lebih aman:
1. Anak-anak dan mereka yang berusia di bawah 20 tahun sebaiknya tidak menggunakan ponsel, kecuali untuk keperluan darurat.

2. Matikan ponsel kecuali saat diperlukan/dipakai. Jika ponsel menyala, jangan diletakkan di saku celana/baju. Pastikan bagian belakang telepon (letak antenanya) tidak menghadap tubuh Anda.

3. Gunakan headset atau headphone nirkabel dengan kekuatan rendah, sehingga ponsel tidak menempel langsung di kepala Anda.


4. Gunakan ponsel hanya saat sinyalnya bagus. Di tempat yang sinyalnya tidak bagus, kekuatan ponsel ditingkatkan sehingga Anda terpapar radiasi yang lebih besar.

5. Lebih baik ber-SMS daripada bertelepon dengan ponsel karena kemungkinan terpapar radiasi lebih kecil.

6. Wanita hamil jangan meletakkan ponsel menyala dekat dengan perutnya dan semua orang sebaiknya menjauhkan ponsel dari bayi, anak, anak, dan
remaja (di bawah 20 tahun).

Diterjemahkan bebas dari sumber ini.
Sumber WHO yang menyatakan ponsel dapat memicu kanker juga bisa dibaca di sini.
Sumber foto: ini dan itu.

Dilema Ponsel

Menjelang ulang tahun Imo yang kesepuluh, kami sebagai ortunya berniat membelikan dia sebuah ponsel. Minggu lalu, kami sudah jalan-jalan ke toko
sambil melihat-lihat ponsel apa yang kira-kira cocok untuknya.

Sebenarnya aku kurang sreg dengan pilihan hadiah ultah kali ini. Meskipun Imo pernah meminta dibelikan ponsel dan mengatakan bahwa hampir semua teman di kelasnya punya ponsel, tapi aku kok ya masih ragu-ragu.

Iya sih, kalau punya ponsel, kami akan mudah menghubunginya saat di sekolah atau saat dia sedang bermain di rumah temannya (play date). Kadang, saat ayahnya harus terlambat menjemputnya di sekolah, kami juga berandai-andai, jika dia punya ponsel, pasti gampang menghubunginya sehingga dia tak perlu cemas menunggu.

Tapi kemudian juga ada hal-hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, adalah tanggung-jawab si anak. Imo selama ini sudah beberapa kali kehilangan alat tulis dan termasuk teledor dalam menyimpan barang-barangnya. Apa dia sudah siap untuk memelihara sebuah ponsel? Meskipun ponsel yang murahan sekalipun, kan tetap saja ada nilainya. Bagaimana pula jika ponselnya terjatuh saat bermain, wong anak 10 tahun lagi lincah-lincahnya gitu.

Hal kedua adalah bagaimana kalau dia keasyikan ber-SMS dengan temannya sampai nyuekin sekelilingnya termasuk nyuekin ortunya? Kita aja yang sudah dewasa masih sering sulit mengendalikan kecanduan kita akan media sosial, seperti MP misalnya. Bagaimana dengan anak kecil yang tiba-tiba bisa terhubung seketika dengan teman-teman sekolahnya? Bisa-bisa waktunya habis cuma untuk main ponsel.

Dengan semakin umumnya ponsel yang bisa nyambung ke Internet, kami sebagai ortu justru cemas saat akan membelikan ponsel buat anak. Ponsel berinternet justru makin mengundang anak untuk terjerat dan mencandu ponsel karena dia bisa main game atau nonton film dari ponselnya.


Belum lagi kalau bicara soal internet predator dan cyber bullying. Menurut artikel dari CNN, ponsel anak merupakan lahan subur bagi para pedofil untuk “mendekati” calon korbannya. Predator seks menggunakan teknologi untuk membina kepercayaan calon korban. Dan ponsel memungkinkan predator untuk membina hubungan tidak senonoh dengan seorang anak karena mereka “flying under the radar” alias jauh dari pemantauan ortu.

Baru tadi malam aku baca di sebuah koran online ada seorang guru sekolah berusia 28 tahun yang “memangsa” muridnya yang berusia 16 tahun. Si guru perempuan ini “memperkosa” muridnya di dalam kelas saat jam sekolah sudah berakhir. Sebelumnya, si guru bejat ini mengirim foto-foto dirinya sendiri yang berpose erotis ke ponsel si korban.

Dan di sini yang namanya kasus internet predator sudah sering kali terjadi dengan korbannya kebanyakan anak-anak yang masih di bawah umur.

Cyber bullying juga sangat mungkin terjadi dengan adanya pesan teks berantai/kirim ke semua orang yang isinya menjelek-jelekkan seorang korban, misalnya atau mengirim gambar korban yang sudah diphotoshop untuk jadi bahan tertawaan. Tanpa ponsel bullying memang tetap mungkin terjadi, seperti yang pernah aku ceritakan di postingan tentang guru lemon. Tapi adanya teknologi bisa memperluas dan menambah besar potensinya.



Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor kesehatan. Sumber CNN menyebutkan bahwa penggunaan ponsel berpotensi memicu penyakit kanker, apalagi kalau berlebihan. Teknologi ponsel yang termasuk baru di abad ini belum bisa menunjukkan dampak jangka panjang dari penggunaannya, namun ahli kesehatan mengingatkan bahwa anak-anak otaknya masih dalam masa perkembangan, dan sebaiknya dijaga dari hal-hal yang dapat berakibat negatif, seperti halnya penggunaan ponsel.

Terakhir, yang aku jadikan pertimbangan juga adalah masalah gengsi. Kami sempat terkejut ketika tahu bahwa sepupunya Imo telah memiliki Blackberry sejak setahun lalu. Usianya si sepupu ini sama dengan Imo, cuma beda satu bulan. Dan setahun lalu, kami sama sekali belum kepikiran untuk membelikan Imo sebuah ponsel.

Kami mengerti bahwa anak seusia Imo pasti sering saling pamer. Imo pernah menceritakan kalau temannya dikasih sangu 200 dollar seminggunya, lalu ada yang dibelikan lap top sebagai hadiah ultah ke-9, ada juga yang bawa iPod ke sekolah. Ada juga yang saat liburan jalan-jalan ke Mesir melihat piramida.


Kami justru gak mau kalau Imo sampai menjadikan ponsel sebagai simbol status atau menaikkan gengsinya. Biarlah kami disebut ortu sok idealis, tapi aku gak mau kalau kepercayaan dirinya digantungkan pada materi/barang karena itu ujung-ujungnya hanya akan menghasilkan manusia yang shallow alias cupet. Mendingan dia bangga pada diri sendiri karena nilai-nilai kebaikan universal yang ada pada dirinya, karena kecerdasan dan kemampuannya, bukan karena punya barang ini itu atau karena bisa pergi ke sana-sini.

Jadi, kesimpulannya jadi dibelikan ponsel apa tidak?

Aku cenderung membatalkannya. Tapiii…. karena ini keputusan bersama, antara aku dan ayahnya Imo, jadi masih belum final deh.

Kalau pun akhirnya kami memutuskan untuk membelikannya ponsel, maka akan ada beberapa syarat yang kami ajukan kepada Imo. Demi keamanan, kami akan mencarikan ponsel tanpa internet, meskipun modelnya pasti “gak keren.” Kami juga akan membelikannya go-phone alias ponsel pra bayar yang lebih murah biaya bulanan atau minutes/pulsa-nya dan Imo harus membayar pulsanya dengan uang sakunya sendiri agar dia lebih bertanggung jawab dan rajin mengejar poin untuk menambah uang sakunya. Waktu telepon dan berkirim SMS akan dibatasi dan semua tidak akan ada teks yang rahasia, semua boleh dibaca ortunya. Ponsel terutama digunakan untuk komunikasi antara Imo dan kami sebagai ortunya. Jadi fungsinya kembali ke fungsi dasar, sebagai alat komunikasi, bukan alat hiburan atau permainan.

Biarin deh aku mungkin akan d
icap kolot dan ketinggalan zaman. Dan mudah-mudahan Imo bisa mengerti dan tetap mensyukuri hadiah yang akan diterimanya, apa pun itu.

Sumber Ceu Non-Non ada di sini yaaaa.
Sumber foto ada di situs-situs ini, itu, sana, dan sini.
Kalau mau baca soal tips pemakaian ponsel, boleh dilihat di postingan berikut ini.