Erotic Translations?

Barusan aku mampir ke website tempat aku biasa cari kerjaan terjemahan. Eh ada satu lowongan kerja yang isinya mengagetkanku. Benar2 kaget, sampai-sampai langsung nulis di sini. Padahal gak biasa2nya aku posting sampai dua kali berturut2 begini.

Jadi ada agen terjemahan yang mencari penerjemah semua bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan salah satu syaratnya adalah:

“Translator must be familiar with adult content.”

Adult content? Loh? Loh? Maksudnya apaan ya? Kayaknya hubungannya sama yang seks nih. Eh, beneran, pas aku klik ke tautan agennya, ternyata nama agen tersebut adalah: EROTIC TRANSLATIONS! Jreng… jreng…jreng.

Setelah kasus judika kemarin itu, ternyata ada juga ya bagian pekerjaan terjemahan yang menyerempet-nyerempet wilayah yang “panasssss”. Ah, aku memang masih penerjemah amatir yang baru saja nyebur ke dunia internasional. Selain itu, mungkin aku kaget karena aku masih lugu nan polos…. cuihhhh. Ha…ha…ha!

Psssttt… kalo mau lihat situs web-nya, silahkan google sendiri yak! Dari tampilan awalnya aja udah menantang!





Si Jago Kandang

Darrel di usianya yang kelima tahun masih merupakan misteri buatku, padahal aku ibunya sendiri. Banyak hal-hal tentang dia yang mengherankanku.

Heran pertama adalah karakternya yang sangat berbeda dari kakaknya. Jika kakaknya adalah anak penurut yang sangat mudah diatur dan kebandelannya cuma sedikit saja, maka Darrel adalah anak yang sangat gemar melawan. Kemauannya sangat keras dan spesifik. Contohnya, selazimnya anak kedua, dia mendapat baju lungsuran dari kakaknya, yaitu baju2 yang masih bagus dan tidak muat lagi dipakai Imo. Tapi dengan tegas dia menolak. Katanya, “I don’t want to wear that because I will look like Imo.” Dan dia paham benar mana baju dia dan mana baju kakaknya.

Belum genap usia lima tahun, dia sudah bisa memilih bajunya sendiri setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Jika kupilihkan baju, dia biasanya menolak. Dasar pemilihan baju olehku biasanya adalah faktor cuaca. Jika cuaca dingin banget, ya pakai lengan panjang. Tapi Darrel suka ngotot memakai kaus yang dia inginkan meskipun gak sesuai dengan cuaca. Akhirnya aku singkirkan semua baju2 musim panas/gugur ke koper dan isi lemarinya dengan baju2 musim dingin. Jadi baju apapun yang dia pilih, tetap layak dipakai sesuai cuacanya.

Keras kepalanya Darrel juga terjadi saat aku mengajarkan berhitung waktu dia masih 4 tahun. Aku bilang ke dia bahwa satu tambah satu sama dengan dua. Eh, dia bilang bukan. Di sekolahnya dia melihat poster yang bertuliskan 1+1=3! Halah! Pasti dia salah lihat. Mana mungkin ada tulisan kayak gitu di sekolahnya. Tapi dia ngotot meski sudah aku simulasikan. Hanya baru-baru ini saja, mungkin setelah gurunya juga mengajarkan, dia percaya bahwa 1+1=2.

Heran nomor dua adalah perbedaan karakter yang ditampilkan Darrel di dalam dan di luar rumah. Di akhir Oktober kemarin, guru kelas Darrel, Mrs. Nicolaides mengundangku untuk Parent Teacher Conference, semacam terima rapor. Tapi karena dia masih level Pre-K, maka tak ada laporan tertulis, hanya lisan.

Begitu ketemu, Mrs. Nico langsung tanya, “Darrel kalau di rumah suka ngomong gak sih?”

“Oh sangat suka. Dia suka ngobrol, bercanda, nyanyi.”

“Really?” Gurunya keheranan.

Dia lalu menjelaskan bahwa Darrel kalau di sekolah jarang sekali bicara. Tapi tahun ini dia sudah ada kemajuannya, sudah mau angkat tangan dan menjawab pertanyaan meskipun dengan suara yang lembuuuut sekali, nyaris tak terdengar.

Jadi seperti pernah kupaparkan di sini, Darrel seperti punya dua kepribadian. Kalau di rumah dia lincah, asertif, berani, banyak bicara, dan suka sekali bercanda, tapi kalau di sekolah dia pendiam, duduk sendirian di pojokan, pemalu, dan sering manyun. Tiap kali difoto oleh gurunya untuk dokumentasi sekolah sekaligus ada yang dibawa pulang, selalu posenya cemberut. Giliran dia mencoba senyum, malah jadi meringis aneh.

Makanya aku dan ayahnya menyebut Darrel si Jago Kandang, karena cuma berani beraksi kalau di rumah saja. Tapi anehnya, kalau dia di luar rumah bersama kakaknya, maka dia jadi lincah dan gak malu2. Seolah kakaknya booster kepedeannya.

Meskipun aku sering keheranan dan kadang kewalahan menghadapi anakku yang satu ini, tapi dia sangat lengket denganku. Aku akui, mungkin aku agak memanjakan dirinya, dalam artian, sudah sebesar itu dia masih sering kugendong, kucium2, dan kupeluk2. Dia juga sahabatku yang menemaniku di rumah saat suamiku dan Imo sedang di luar seharian, yang sering membuatku tersenyum dan tertawa dengan kelucuan tingkah dan kata2nya. Darrel, dengan kepribadiannya yang unik, tetap jadi satu dari dua permata hatiku, selamanya.

Ini hutangku buat Darrel. Seharusnya diterbitkan, ceile, pas dia ulang tahun 3 November kemarin tapi selalu tertunda-tunda.

Cerita Jorok (Jangan Baca Kalau Lagi Makan)

Kejadiannya sudah lama sekali, saat aku masih imut dan menggemaskan. Saat itu aku masih SMP kelas 1. Masa yang indah sekali karena aku merasa punya banyak sekali teman. Gimana gak banyak, kalau aku saat itu suka SKSD Palapa (istilah jadul banget nih). Tiap kali orang diajak ngomong, biar gak kenal sekali pun…he…he…he. Diantara teman-temanku itu ada dua orang teman yang setiap hari berangkat dan pulang sekolah bersamaku karena mereka tinggal satu kompleks denganku. Yang satu D dan satunya lagi R. Dari kedua orang itu, si D yang lebih dekat denganku karena orangnya kocak banget dengan penampilan yang unik; kurus, rambut kriting kriwil dan pake kacamata dan gaya ngomong cepaaaat banget.

Hari itu, seperti biasa kami naik mikrolet M21 dari sekolah kami di Rawamangun yang menuju Pulogadung. Mikrolet cukup kosong dan kami duduk berseberangan, aku dan R duduk di sisi kiri, dan D duduk sendirian di sisi kanan. Sepanjang jalan kami mengobrol dengan asyiknya diselingi tawa. Candaan kami sempat terganggu oleh bau tak sedap yang tiba-tiba merebak. Tapi kemudian malah jadi bahan cela2an dengan saling tuduh siapa yg kentut. Saat hendak mencapai terminal, kami pun bersiap turun di depan terminal karena kalau ikut mikrolet masuk ke dalam terminal akan lebih lama.

D berdiri duluan untuk bersiap turun. Eh, berdirinya gak tegak lo, karena langit2 mikrolet rendah. Saat itulah aku dan R menjerit, “D! Rok lo! Rok lo!” D keheranan tapi gak sempat memeriksa roknya karena kami harus segera turun sebelum mikroletnya melaju lagi.

Aku dan R turun juga. Kami langsung memepet D, lalu berkata: “D, rok lo ada tokainya!” D langsung berusaha melihat bagian belakang roknya yang berlumuran kotoran manusia, banyak banget! Aku dan R langsung bingung gimana caranya D bisa pulang dengan rok belepotan begitu padahal kami masih harus naik metro mini satu kali lagi sebelum sampai di rumah.

Aku juga bingung. Gimana bisa tokai segitu banyak ada di bangku mikrolet? Pasti ada anak kecil yang gak bisa menahan sakit perutnya dan bertelor di situ, dan ortunya geblek atau gak peduli kemudian pergi begitu saja meninggalkan jebakan batman nan menjijikkan buat penumpang berikutnya. Atau ada orang dewasa geblek kuadrat yang gak bisa bedain mana WC umum mana mikrolet?

Mencurigai D yang kebelet dan mpup di celana? Ah…gak mungkin. Pasti belepotannya bukan di bagian luar roknya! Lagian selama kami mengobrol, wajahnya gak menunjukkan tanda2 kebelet mpup.

Akhirnya kami bertiga bergegas mencari WC umum. Begitu ketemu, D langsung masuk sendirian. Begitu ke luar, rok bagian belakangnya basah kuyup, tapi bekas pupnya hampir tak terlihat lagi. Sepanjang kejadian itu, D sama sekali gak panik atau nangis. Salut juga sama mentalnya dia.

Sejak kejadian itu, tiap kali mau duduk, dimanapun itu, aku pasti ngecek dulu. Kita gak pernah tahu kan, siapa tahu ada jebakan batman di situ. Peduli amat penumpang lain mengantri agak lama di belakang. Emangnya kalo gue dudukin mpup mereka mau tanggung jawab?

Begitulah cerita jorokku. Semoga berkenan.

Warga Amrik Menanggapi Kunjungan dan Pidato Obama di Indonesia

Sementara orang Indonesia antusias menanggapi kunjungan Obama ke Indonesia, warga Amrik malah bilang begini:
You love them. They love you. Sounds like a match made in heaven. You really should stay there.”
“Lo (Obama maksudnya) suka mereka. Mereka suka elo. Berjodoh nih kayaknya. Lo tinggal di situ aje deh.”
Silahkan baca tautan ini dan itu, dan yang paling seru, baca komentar-komentarnya. Tentu saja harus diingat bahwa ini tidak mewakili rakyat Amerika keseluruhan… hm…mungkin mayoritas karena hampir semua sudah punya akses ke Internet… he..he.

Pssttt… Mau Nggosip! Kisah Si Bibir

Di MP aku rasanya jarang ya menulis tentang orang lain selain tentang diriku sendiri dan anak2ku. Biasanya keluh kesah tentang kelakuan orang sudah tersalurkan pada pendengar setia, si Ayah tercintah. Tapi kali ini, gara-gara ada yang menulis soal gemuk, jadi kepancing deh untuk nggosip tentang seorang “teman” yang entah kenapa tiap kali ketemu aku kok omongannya selalu terkenang di hati. Bukan karena omongannya itu bijak bestari, tapi justru sebaliknya.

Sebutlah namanya si Bibir. Dia ini mahasiswi di almamaterku yang usianya cuma 3 tahun lebih muda dari diriku. Dia sudah menikah tapi belum punya anak dan suaminya masih tinggal di Indonesia. Biasa kan, kalau baru datang ya kenalan deh sama yang sudah agak lebih lama di sini. Begitu ketemu denganku, setelah sedikit basa-basi ngobrol sana-sini, eh tiba-tiba dia bertanya, “Mbak, lagi hamil ya?” Suasana langsung sunyi. Semua menatap ke arah perutku yang membuncit penuh dengan lemak.

“Iya, hamil yang gak bakal lahir2,” kataku sambil melirik ke suamiku yang cuma senyum-senyum aneh. Mukaku rasanya panas, tapi berusaha kelihatan cuek. Yang lain berusaha mengalihkan pembicaraan.

Selanjutnya, saat kami bertemu lagi sambil membawa anak2. Si Bibir berkomentar lagi, “Wah, si Imo kulitnya kayak mamanya, tapi postur tubuhnya kayak ayahnya. Darrel kulitnya kayak ayahnya tapi posturnya kayak mamanya.” Maksudnya apa ya? Imo memang posturnya langsing dan warna kulitnya gelap, sedangkan Darrel warna kulitnya lebih terang dan (pas masih umur 3 tahun) bertubuh gempal. Tapi apa penilaian kayak gitu perlu diomongin ya? Padahal kenal dekat aja enggak dan aku juga gak menilai dia macam-macam kok. Tapi komentar ini gak kubalas sama sekali.

Peristiwa ketiga. Saat acara ulang tahun Darrel di apartemen dan mengundang teman2 Indonesia yang ada di sini, si Bibir bertanya tentang umurku. Aku kasih tahu dengan jujur. Eh dia bilang begini, “Oh…aku kira Mbak seumuran dengan Mbak Putri (nama samaran seorang mahasiswa lain yang usianya sudah 40 lebih). Ternyata malah lebih dekat dengan umurku.”
Ha…ha…ha… berarti sama aja bilang gue tampangnya boros ya? Sampai sini aku juga masih belum komentar apa2. Tapi perasaanku tambah males aja untuk ketemu si Bibir lagi.

Peristiwa keempat. Aku mengundang teman2 Indonesia makan2 lebaran di apartemenku. Aku masak rendang, mpek-mpek dan makanan Indonesia lainnya. Aku seharian masak dan bikin bumbu rendang sendiri from scratch, bukan bumbu instan. Si Bibir datang, makan dan komentar begini, “Kok rendangnya warnanya gak merah sih? Kalau buat aku, kalo rendang gak merah bukan rendang namanya.” Krompyang! Mbok ya tinggal makan aja kok protes yak?

Habis makan sate dengan lontong jadi2an yang aku bikin dari nasi hangat yang kugulung dengan plastik, si Bibir komentar lagi, “Kok lontongnya kayak gini sih? Kenapa gak bikin lontong beneran sekalian?” Hua…ha…ha…. pengen lempar pake panci gak sih?

Tamu yang hadir di acara lebaran ini cukup banyak, termasuk seorang mahasiswa dan istrinya. Si mahasiswa ini bertubuh subur, dan seperti kuduga, si Bibir pun mengomentarinya. Kedengarannya sih seperti perhatian dengan kalimat-kalimat: gak bagus buat kesehatan, kenapa gak olah raga dan sebagainya. Yeile…ngurusin banget yak? Wong istrinya si mahasiswa ini, yang cantik banget dan ramah sekali, juga fine2 aja dengan postur suaminya yang begitu. Ini kok ceriwis amat.

Si Bibir meneruskan pembicaraan dengan mengeluh bahwa dia merasa perutnya kegendutan dan musti diet dan olah raga lebih ketat. Padahal, sumprit deh, si Bibir ini badannya kurus langsing. Aneh banget kan kalo dia merasa gemuk.

Mungkin karena kekesalanku terhadapnya sudah menumpuk dari sejak lama, sambil membereskan piring di depannya aku bilang gini dengan kalem, “Belum punya anak aja udah begitu, gimana nanti kalau udah punya anak? Bisa melar banget loooo!” Abis itu aku balik badan dan ngerjain hal lainnya.

Tahu gak reaksinya gimana? Dia langsung panik dan tanya ke temanku yang satunya, “Emangnya beneran gitu ya? Wah, gimana dong? Aduh perlu diet lebih ketat lagi nih.” Dan berbagai keluhan lainnya.

Hi…hi…hi… loh kok panik gitu ya? Baru dikasih satu kalimat gak enak saja sudah begitu reaksinya. Kok dia gak kepikiran gimana perasaan orang2 yang dia komentarin dengan seenak jidatnya ya? Dasar aneh.

Setelah peristiwa ini, tiap kali aku undang untuk acara kumpul-kumpul, si Bibir gak datang dengan berbagai alasan. Dan ketika kemarin dia pulang ke Indonesia, dia gak pamitan baik langsung, lewat telepon, atau sekedar SMS. Pergi begitu aja. Sopan banget kan.

Begitulah kisah si Bibir. Manusia unik yang gak aku harapkan untuk bertemu lagi. Coba dinilai, akunya yang terlalu sensitif, apa si Bibir yang memang minta digaplok?

Darrel 5 Tahun

Duh nak, kok waktu cepat sekali berlalu? Tahu2 kau sudah 5 tahun. Celotehmu sudah banyak sekali, gerakanmu lincah bahkan cenderung lasak, dan kenakalanmu pun juga makin menjadi-jadi. Ahhh…. padahal rasanya baru kemarin kau terbaring pasrah di tempat tidur. Menetek, ngompol, mpup dan tidur saja kerjamu.

Kalau mau menuruti hasrat yang ndableg, ingin rasanya kau jadi bonsai saja, tetap jadi balita imut2 yang bisa digemesin setiap saat. Tapi jangan sampai kayak gitu malahan. Harapan semua orang tua yang waras kan agar anaknya tumbuh besar dengan sempurna.

Kalau mengingat masa lalu, mulai dari detik-detik kelahiranmu, kemudian momen2 mengharukan saat kusadari bahwa kau sudah mulai pintar bicara, sampai dengan kelucuan tingkahmu saat menginap di hotel untuk pertama kalinya, rasanya tak habis-habis bibir ini mengukir senyuman.

Darrel, I may not be able to give you the world, but I know one thing for sure: I love you now and I will love you forever ’til the end of the universe. Happy birthday, my sweet baby. May Allah always love and protect you.

PS: mau nulis lebih banyak tentang Darrel, tapi masih harus nerusin mendekor kue buat dibawa ke sekolahnya besok. Besok aja yaaaaa.