D-3 Dag-Dig-Dug

“Ma, tinggal 3 hari lagi. Ayo kita packing,” ajak Imo yang sudah diberi tahu soal rencana liburan kali ini. Padahal aku masih terpaku di depan komputer untuk mencari informasi tempat mana saja yang akan dikunjungi sambil menyusun segala macam daftar dari tempat sampai anggarannya.

Benar-benar perencanaan liburan kali ini waktunya sangat sedikit dan bikin panik. Sampai hari ini saja kami masih belum pastikan mau ke tempat mana saja. Buku Travel’s Guide tentang daerah di selatan yang kupinjam dari perpustakaan menyodorkan banyak sekali pilihan yang semuanya sepertinya bagus-bagus.

Tadinya aku nekad mau mengajak keluargaku ke tempat wisata paling terkenal yang sebenarnya cocok banget untuk anak2ku. Tapi sayang tiketnya mahal sekali, sungguh di luar jangkauan kami. Dasar kapitalis! Aku kok jadi sebal dengan komersialisme yang dilancarkan pemilik dan pengelola Dufan Raksasa itu. Tapi kalau nanti tiba2 aku jadi ke situ juga, entah kapan, berarti aku juga sudah terjerat komersialisme kemaruk dan segala misuh2ku ini jadi percuma saja toh. Padahal tempat wisata ini murni cuma senang2 belaka dan gak ada unsur edukasinya. Seperti escapism dari dunia nyata saja. Tapi jerat magnetnya memang kuat sekali karena promosinya dilancarkan lewat film, channel TV tersendiri, dan banyak media lain.

Akhirnya, rencana utama yang kususun berfokus pada mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah dan wisata alam, tepatnya wisata oceanography. Dari buku primbon, aku temukan bahwa di daerah itu banyak fasilitas penelitian binatang laut yang dibuka untuk umum dengan harga tiket yang masuk akal, gak gila-gilaan kayak Dufan Raksasa itu. Selain itu, aku akan memanfaatkan kartu sakti ASTC untuk mengunjungi museum2 dan science center setempat.

Satu hal lagi yang juga kumasukkan dalam rencana perjalanan adalah mengunjungi tempat makan halal yang ternyata banyak terdapat di daerah itu. Tentu saja tetap berazaskan murah meriah karena mungkin kami akan lebih banyak bawa makanan yang dimasak sendiri berhubung kami akan menyewa tempat yang dilengkapi dapur kecil.

Yang aku agak lega, Imo tidak merengek2 untuk pergi ke Dufan Raksasa karena aku sudah wanti2 bahwa tiket masuknya muahal sekali. Mudah-mudahan, meskipun tidak ke situ, kami masih bisa menikmati liburan kali ini.

OK, balik lagi ke ketik2 perencanaan dulu ya! Mhuaaaahhh! I love you all! (Karena nulis di MP yg bikin mataku melek lagi dan tetap semangat utk bikin persiapan)

Advertisements

Maju Mundur, Apaan Tuh?

Sudah pernah kejeblos baca salah satu curhatanku tentang sangat kepengennya aku menjelajah ke arah selatan benua ini? Kalau belum, silakan baca dulu biar afdhol, karena tulisan berikut ini adalah curhat lanjutannya. Yah, kejeblos lagi deh! Hi..hi..hi.

Sejak bulan November, aku sudah ancang2 pengen liburan ke satu wilayah di selatan yang di saat musim dingin masih hangat bermandikan sinar matahari dan gak bakal turun salju. Wilayah ini selain iklimnya lebih nyaman, juga memiliki banyak tempat wisata, baik wisata alam maupun amusement park (gampangnya: seperti dufan).

Karena terlalu bersemangat, maka ketika di salah satu situs ada penawaran sebuah kartu diskon yang bisa dipakai untuk memasuki berbagai tempat wisata dengan potongan sampai 50%, langsung saja aku beli. Tentu saja setelah diskusi dulu dengan suamiku dan meneliti lebih lanjut tentang kartu diskon ini. Maka dibelilah kartu itu dan seminggu kemudian sudah nyampe di rumah.

Beberapa minggu sesudahnya, di kota kami turun salju yang cukup tebal disusul dengan lapisan es yang licin. Mood kami langsung berubah jadi cemas membayangkan perjalanan yang bakal lebih berisiko karena jalanan mungkin akan bersalju atau licin karena lapisan es. Kalau di awal Desember saja sudah bersalju, bagaimana nanti di akhir bulan? Gaswatun nih.

Belum lagi ketika hitang-hitung total biaya menuju selatan, ternyata kami dihadapkan dengan angka2 fantastis yang bikin kecut. Mana bayaran kerjaanku banyak yang belum masuk gara2 klien yang mangkir dan juga ada beberapa yang memang belum jatuh tempo. Mosok aku harus beraksi bak tukang kredit panci yang ngejar2 orang yg mangkir bayar? Sebel!

Pikir punya pikir, akhirnya kami mengarahkan tujuan liburan akhir tahun ke kota besar yang ada di negara bagian kami. Loh, kok arahnya jadi menuju utara? Bukannya malah lebih dingin dan makin bersalju? Selain karena pertimbangan biaya, kami juga masih penasaran dengan sejumlah museum yang belum habis-habisan kami jelajahi selama liburan musim panas di kota tersebut. Kami masih bisa memakai kartu ASTC yang seperti mantra “sim salabim” bisa membuat kami masuk ke museum2 tersebut dengan gretong. Seorang teman kami yang pernah ke kota ini di musim dingin juga mengatakan bahwa kalau di perkotaan, udara tak terasa terlalu dingin karena hawa hangat dari dalam toko2 terkepung kumpulan gedung tinggi. Suasananya juga lebih indah karena banyak lampu2 hias menjelang natal.

Selama satu bulan lebih, kalau masih tersisa pikiran dan tenaga yang sudah terkuras oleh kerjaan, aku sibuk survei hotel dan tempat2 yang akan dikunjungi. Rancangan awal ke wilayah selatan masih ada, tapi gak diteruskan karena beralih ke rancangan ke the Windy City. Kartu diskonan untuk jalan-jalan ke arah selatan jga sudah dikembalikan dan tinggal menunggu refund alias uang kembali.

Rencananya, kami ingin menginap di tengah kota untuk liburan kali ini. Sekali-kali mencoba gimana sih tinggal di hotel yang mau kemana2 dekat dan tak usah menyetir minimal setengah jam dulu. Tapi hotel di tengah kota sama dengan tarif yang lebih mahal. Meskipun banyak yang menawarkan paket akhir tahun, tetap saja muahal. Apalagi ditambah biaya parkir di hotel yang bisa mencapai $24-48 per hari. Pingsaaaan!

Alhasil kami masih ketar-ketir sampai pilihan gak pergi sama sekali dan menunda hingga tahun depan juga sempat diwacanakan. Aku juga sudah pasrah deh, karena yang punya kata akhir adalah suamiku yang akan jadi pengendara mobil untuk perjalanan ini, seperti halnya perjalanan2 sebelumnya. Harap diketahui bahwa untuk perjalanan jauh, naik mobil alias road trip masih lebih murah dibanding naik kendaraan lainnya. jadi, meski pengen juga bisa naik pesawat yang gak menghabiskan banyak waktu atau naik kereta api yang gak bikin capek suamiku, pilihan buat kami ya cuma naik mobil. Jalan kaki juga bisa sih. Tapi gak jamin sampainya ke mana.

Baru dua hari yang lalu, suamiku tiba-tiba bilang gini, “Kita perginya ke selatan aja yuk!”

Hah? Hah? Hah? Gubraxxxxxxxx!!!!!

Paniiiik! Langsung deh aku cancel booking2 yang sudah dilakukan, mengubah jadual sewa mobil untuk yang kesekian kali, dan membuka lagi file lama untuk persiapan perjalanan ke selatan. Tak lupa ketika mampir ke perpustakaan, langsung pinjam buku travel’s guide untuk derah selatan itu. Aku juga sibuk mengontak lagi sejumlah pemilik condo yang akan kami sewa tempatnya dan kemarin sudah dibatalkan.

Wadoh! Wadoh! Untuk persiapan jalan2 3 hari saja aku butuh berminggu2, lah ini untuk ke selatan yg lebih jauh dan akan makan waktu lebih lama, kok cuma dikasih waktu 5 hari? Pingsaaaannnn!!!! Mana masih ada hutang kerjaan yang meski sedikit tapi kan komitmen juga.

Pagi ini akhirnya aku selesaikan semua tugas terjemahan dan akan bersiap beres2 rumah sisa kehebohan kerjaan kemarin. Lebih enak kalau pulang, rumah udah rapih kan. Baru kemudian aku akan menyusun jadwal perjalanan, budget rinci, dan persiapan packing. Mudah-mudahan kali ini suamiku dan aku gak berubah pikiran lagi.

Penyanyi Yang Gagal

Aku dulu sempat bercita-cita jadi penyanyi. Ih… serius ini, gak becanda. Sejak masih kecil, aku sudah suka bernyanyi dan mendengar lagu. Inget banget waktu masih SD aku memutar kaset milik Ayahku berulang-ulang dan menuliskan syairnya. Tentu dengan ejaan bahasa Inggris yang salah total. Misalnya lagu “Ebony and Ivory”-nya Paul McCartney dan Stevie Wonder yang kalau ditulis kira-kira seperti ini:

Ebeni en aiveri, lif tugeder in e perfik harmeni,
Said bai said on mai piano kibod oh lord wai don wi

(Silahkan ditebak sendiri, syair benerannya kayak apa..he…he.)

Kesukaanku akan seni musik dan menyanyi mungkin akibat mantra dari keluarga besar Ibuku yang sangat musikal. Beberapa sanak keluarga kebetulan berprofesi sebagai pencipta lagu. Tambahan lagi, Ibuku dulu juga pernah menjadi pemain bass dan backing vocal di band cewek yang menurut beliau pernah jadi band pembuka untuk konser The Rollies (bandnya Gito Rollies alm.). Padahal ibuku tuh kalem banget dan gak ada potongan orang band. Tapi kok bisa ya? He…he.

Selain di masa lalu, saat sekarang keluarga besar ibuku juga sangat musikal. Setiap kali ada kumpul keluarga (yg lebih besar lagi), maka bisa dipastikan Pakdhe, budhe, om dan tanteku pasti akan tampil dengan kemahirannya masing-masing. Ada beberapa yang pintar bermain piano dan keyboard, ada juga yang pintar bermain flute dan saxophone, gitar, dan tentu saja banyak yang bisa bernyanyi dengan baik.

Apakah aku ikutan? Tentu saja! Untungnya sampai sekarang belum ada yang nimpukin pakai tomat atau telur busuk. Yang kurasakan tiap kali menyanyi adalah rasa senang dan merinding… kok bisa ya nada2 yang dipadu menghasilkan lagu yang begitu enak didengar.

Menyanyi di depan umum ini adalah salah satu hal yang aku rindukan saat sudah bermukim di sini. Makanya, aku sempat juga merekam suara sendiri dan dipasang di MP. Hasrat narsis-kah? Maybe. Tapi daripada dipendem jadi bisul, kan enggak banget. Biasanya hasrat menyanyiku muncul sehabis melihat orang yg nyanyi bagus baik di TV ataupun di Youtube. Seperti kemarin aku baru tahu kalau ada acara TV namanya The Sing-Off yang merupakan lomba antar grup acapella. Bagus2 banget kontestannya, apalagi grup Committed yang asalnya adalah kelompok paduan suara gereja, dan The Street Corner Symphony yang mengingatkanku pada grup dari Italia Neri Per Caso. Wuihh… bagusssss banget!

Jadi, kalau tiba2 muncul postingan rekaman suaraku (yang kesekian kali) di sini, jangan kaget yak! Anggaplah ini sebagai bentuk peringatan alias warning. Ingat ya, jangan tawari aku rekaman atau minta tanda tangan sehabis dengar suaraku. Aku tuh males banget jadi selebriti, beneran! Takut dikejar paparazzi. Bahaya tuh, bisa sampai kecelakaan mobil kayak Lady Diana. Biarlah cita2 jadi penyanyi cuma keinginan masa kecil yang gak kesampaian. Aku cukup jadi emaknya Imo dan Darrel saja.

Darrel dan Jogja

Saat mengerjakan order, biasanya aku suka dengar stasiun radio di Jogja lewat Jogja Streamers yang infonya diberikan oleh cucuku. Akhir-akhir ini ada satu lagu yang jika terdengar, langsung deh si Darrel joget-joget dengan serunya, sampai muter2 di lantai ala break dance gitu. Lagu itu judulnya Jogja Istimewa (klik untuk ke rumahnya Mas Agam yang sudah pasang lagu ini). Memang iramanya sangat catchy dan modern, meski lirik lagunya sebagian besar berbahasa Jawa dan ada gamelannya. Jadi benar2 lagu east meets west lah.

Pernah suatu hari Darrel mengalami tantrum, ngambek berkepanjangan akibat keinginannya gak dituruti. Setelah tantrum dia mogok bicara dan manyun sampai maju dua senti bibirnya. Aku yang tengah sibuk ketak-ketik tak menghiraukannya. Kata tips parenting sih, kalau anak ngambek malah kita pura2 gak peduli biar dia gak jadikan itu senjata untuk mendapat apa yang dia mau.

Tiba-tiba terdengar lagu Jogja Istimewa dari speaker. Aku lirik Darrel. Eh dia kelihatan senyum ditahan dan badannya goyang2 sedikit. Ha…ha…ha! Mana tahaaaaan! Lupa kalo lagi ngambek ya?

Baru Bebas

Bukan bermaksud sok sibuk atau tiba-tiba kesambet bertapa di gua kelelawar, kalau aku gak buka MP mulai akhir November. Bukan juga karena pergi berlibur ke selatan yang kuimpi2kan itu, karena pasti ada sambungan Internet di hotel. Ketiadaanku dari jagad MP yang belum tentu dirindukan banyak orang ini sebenarnya gara-gara dapat klien yang jadwalnya kacau-balau.

Jadi, di akhir November aku ditawari kerjaan menerjemahkan beberapa film dari klien yang sudah pernah bekerja sama denganku sebelumnya. Alhamdulillah.

Pada awalnya mereka minta aku menyelesaikan pekerjaan ini dalam 3 minggu secara bertahap dengan skala prioritas film A, kemudian, B, C dan D. Baru dua hari proyek pengerjan berjalan, ndalalah… kok jadwalnya dipercepat jadi 2 minggu dengan prioritas D, A, C, B, alias yg tadinya musti selesai belakangan jadi harus selesai duluan.

Maka, pontang-pantinglah aku menyelesaikan si D yang belum tersentuh sama sekali. Padahal film A juga belum tuntas sempurna karena banyaknya istilah2 yang berkaitan dengan perang, angkatan laut, dan kapal selam. Alhasil aku harus sering2 buka kamus dan tanya2 Mbah Gugel.

Setiap hari aku habiskan dengan nongkrong di depan komputer sampai bokong panasssss dan begadang sampai tidur cuma 2 jam saja dalam sehari. Sementara masih pontang-panting mencuri waktu untuk masak, nyiapin anak berangkat sekolah, dan tetek-bengek urusan rumah lainnya. Alhasil, piring cucian menumpuk, pakaian sudah dicuci (oleh suamiku) berkantung2 masih tergeletak belum dilipat, karpet kotor sekali krn gak divacuum… rumahku udah kayak kapal pecah. Oh my!

Bukannya suamiku gak membantu, tapi karena dia juga bekerja jadi tenaga dan waktunya juga terbatas. Bahkan dia mencoba bantu aku mengedit beberapa kerjaan terjemahan dan itu sangat aku hargai.

Yang lebih sedih adalah melihat anak2ku jadi ‘terlantar’, cuma diasuh sama mainan, kertas gambar, dan TV. Dan yang terakhir ini sebenarnya aku sebel banget, tapi mau gimana lagi. kalau mereka menggambar dan main LEGO malah aku lebih senang. Tapi mereka juga gak bisa terus2an karena udah kena racun TV. Untungnya (masih juga ya), TV di sini acaranya cukup age appropriate, selama tetap menonton PBS kids yg isinya film sebangsa Sesame Street, Little Einstein, dan Martha Speaks, ya gak apa2 deh.

Yah, setelah beberapa minggu terjerat kerjaan yang deadlinenya berubah-ubah. Akhirnya kemarin, hari Sabtu, semuanya selesai dan aku bisa bernafas lagi. Alhamdulillah, badan tua ini juga gak sampai sakit, cuma sakit kepala saja selama masa pengerjaan, yang sekarang sudah lenyap tentunya.

Tapi begitu liat karung pakaian (laundry) yang menunggu dilipat, langsung deh lemes… heehhhhhh. Jadi jadwal hari ini ngapain? Beberes!!!! Hiayaaatttttt! Ciaaatttttt! Gubraxxx!

So temans, aku ngider2nya nanti dulu yaaa….