Kepada Seorang Teman

Seorang teman berkata, “Agama membuatku membenci. Benci pada yang tidak seagama, benci pada yang tidak sepaham.” Dan kejadian kemarin membuktikan, bahwa kebencian itu bisa bersarang di hati siapa saja. Bisa di hati seorang atheis seperti si pembunuh tiga anak muda di North Carolina. Bisa di hati muslim yang menyerbu kantor kartunis di Perancis. Bisa di hati seorang Kristen yang mengebom dan menembaki orang di Norwegia. Lalu masih bisakah kau menuding agama sebagai penyebab kebencian di hatimu?

“Agama membuatku menyalahkan pemeluk agama lain, membuatku merasa akan masuk surga dan mereka pasti terjeblos ke neraka, merasa benar sendiri sedangkan yang lain pasti salah” begitu katamu. Lalu apakah atheisme, theisme dan agnostisme tidak menegasikan orang lain, tidak merasa benar sendiri? Apakah mereka tidak mentertawakan “kebodohan” para pemeluk agama? Apakah mereka tidak menganggap agama sebagai warisan jaman batu yang usang dan pantas dcampakkan? Mungkin tidak ada klaim surga atau neraka di situ, tapi ada negasi juga bukan di situ? Sebagaimana satu agama menyangkal agama lain, maka theisme pun menyangkal semua agama, maka atheisme pun menyangkal agama dan Tuhan, sedangkan agnostime akan terus berada dalam kebimbangan antara mengakui atau tidak adanya Tuhan dan jelas menyangkal semua agama juga. Lalu, masih bisakah kau menuding bahwa agama yang menyalakan benci di hatimu?

Atau kah benci itu seperti udara berpolusi yang dapat menyelusup ke relung hati siapa pun? Tak peduli apa agamanya, siapa orangnya. Dia akan bertahta jika kau memeliharanya, namun akan lenyap atau tereduksi jika kau menghalaunya dengan kasih sayang. Iyaa…kasih sayang yang ada hampir di setiap agama. Kasih sayang yang bisa kau temukan di hati pemeluk agama yang taat, jika kau mau melihatnya. Coba saja arahkan pandangan ke mereka yang beragama tapi tidak membenci. Aku yakin masih lebih banyak jumlah mereka dibanding mereka yang mengaku beragama tapi masih membenci.

Ah, teman…ingin rasanya aku memeluk erat dirimu dan berbisik…kembalilah…kembali ke jalan lurus itu. Pungut kembali peta kehidupan yang telah dirancang sempurna oleh yang Maha Pencipta untuk memudahkan jalan kita. Tekuni, rasakan getaran cinta mengalir di dalamnya untuk kita semua dan menghapus jejak-jejak kebencian di relung hati. Doaku selalu untukmu, teman…semoga kita bertemu kembali di ujung jalan itu. Aaamin.

Mari Menulis!

Sudah lama gak buka WP… eh bosen gak sih baca kalimat begini? Ha..ha..ha. Ini penyakit klasik blogger amatiran nan tak berdedikasi seperti saya. Padahal jutaan peristiwa datang silih berganti, menunggu untuk diabadikan dalam bentuk tulisan. Kalau mau cari kambing pink (bosen sama yg item..ha..ha), saya bisa nunjuk idung situs lama yang dikubur hidup-hidup sama si empunya, atau hidung mancung, mungil, menawan bocah hampir dua tahun yang saat ini pun sedang berusaha memanjat kaki saya untuk minta dipangku. Untung baby sitter one and two (alias kakak pertama dan keduanya) siap mengajak si bungsu bermain. Tapi, saya cukup waras untuk mengakui bahwa kalau saya lama gak nulis atau gak nengokin blog ini karena saya terlalu malas dan karena keasyikan ngobrol di wadah lain bernama WhatsApp.

Di satu sisi saya bersyukur karena punya teman2 yang suportif dan mau dengerin ocehan dan curhat gak jelas dari saya. Tapi di sisi lain, ternyata WA itu melenakan. Saking udah bisa ngobrol, curhat, menye2 di WA, jadinya gak merasa perlu untuk menuliskannya lagi dalam format paragraf dan essai seperti ini. Loh, jadi selama ini isi blog ini cuma penyaluran curhat gak jelas? Lah…kok baru tahu? Ha..ha..ha.

Nah, di pagi yang mendung dan dingin ini, saya senang sekali menemukan bahwa beberapa teman eks MPers saya ternyata banyak yang nongol dengan tulisan-tulisan baru. Antara lain ada Pak Margono, sang dokter yang gemar memasak, lalu ada Muse, PNS anggota Carok yang ternyata sudah mendarat di UK, ada Wulan yang tulisannya selalu puitis, ada Arni yang kemahiran masaknya semakin canggih, ada Teguh, dokter muda yang suka curhat tentang pengalamannya sebagai koas (dulu). Yang belum disebut…ngacung yaaa! Awas jangan tinggi-tinggi, biar gak kemana-mana bulu keteknya.

Semoga ya kita semua bisa meneruskan kebiasaan baik menulis blog dan tetap berbagi dan bersilaturahmi melalui blog. Menulis itu bukan saja mengabadikan kejadian, buah pikiran, kenangan, tapi juga dapat mengasah pikiran dan kemahiran. Belum lagi kalau isinya bisa berguna untuk orang lain, dengan informasi bermanfaat atau sekedar menghibur hati yang lukaaa…uwooo..uwoo..uwoooo…pulangkan sajaaaaa…. (plakkk…ditampar biar diem..ha..ha..ha).

Saya akhiri postingan pertama di tahun 2015 ini dengan gambar waffle yang saya bikin pagi ini. Apa hubungannya dengan tulisan? Gak adaaaa! Ha..ha..ha..pengen pengumuman aja kalo saya abis bikin waffle…enaaak sekali!

20150201_084211