GPS Tralala

Alkisah, setelah bertahan ndak mau beli GPS karena harganya yang lumayan, dan berusaha ngeprint2 Map Quest setiap kali kami berburu Yard Sale, maka bulan lalu kami menyerah juga. Saat hendak jalan2 ke St. Louis, si Ayah mampir ke Wal-Mart dan beli deh GPS merk TomTom. BTW, merk2 GPS di sini aneh2 lo…yg TomTom lah (jd inget grup lawak kan), Garmin lah (emang kurang asin ya?), Magellan (nama penjelajah kan, tp kok malah ngingetin aku sama kata ‘dagelan’).

Alasan kenapa beli adalah si Ayah kapok dengan pengalaman putar2 tak tentu arah di kota St. Louis di perjalanan tahun lalu. Sebenarnya tahun lalu itu gak niat murni jalan2 sih, cuma nganter si Mama yg mau tes GRE. Karena tesnya di dekat St. Louis, ya sekalian mampir deh. Karena memang tak tahu arah dan gak punya tujuan jelas, maka kami turun-naik mobil tiap kali ada obyek foto yg menarik. Lumayan juga sih, malah banyak dapat foto bangunan yg cantik2. Tapi namanya si Ayah, yg pembawaannya terstruktur gak kayak si Mama yg memang santai banget dan impulsif, jadinya dia merasa tersiksa krn putar2 gak tentu arah begitu. Hi..hi..hi..padahal aku dan anak2 serta satu org teman yg kami ajak ikut jalan2 enjoying the moments aja tuh.

Nah, perjalanan ke St. Louis kali ini berbekal GPS dan berasa lebih mantafff deh. Secara kami memang norak, yang ada ketawa2 ketika pertama kali nyoba GPS. Utk mode suaranya kami bisa milih beberapa nama, dan kami milih mode dng nama Lori yg selama perjalanan kami panggil dng nama Mbak Lori. Sepanjang perjalanan bergantian kami menirukan nada bicaranya si Mbak Lori yang bak Maria Oentoe. Si Ayah kesenengan karena memang enak banget dengan ada GPS tinggal pencet2 alamat yg dituju di layarnya, lalu muncul deh peta berikut petunjuknya yg disuarakan oleh Mbak Lori.

Dua tujuan pertama kami lalui dengan mudah. Begitu mau ke hotel utk check-in dan istirahat sejenak baru deh kami menemui kesulitan. Karena letak hotel di pinggiran kota (cari yg murah meriah..he..he), maka kami harus leway highway. Ndalalah…highway-nya ditutup krn ada perbaikan jalan. Asal tahu aje, summer merupakan saatnya jalan2 di sini pada dibetulin, soalnya cuma saat musim panas mereka bisa ngaspal jalan tho? Eh si Mbak Lori ngotot banget muter2 kita menuju jalan masuk ke highway itu…pdhal jalannya ditutup. Tiap kali kami terus aja jalan, sama dia diputar lagi arahnya menuju titik yg sama. Astaga!!! Mbok ya cari alternatif jalan gitu kek! Dasar mesin, gak bisa kreatif kayak manusia.

Akhirnya, setelah parkir bentar dan utak-atik si GPS, si Ayah memprogram Mbak Lori utk cari jalan alternatif. Bah…malah kita dituntun ke jalan tikus dalam arti sesungguhnya karena jalan2 di jalur itu sempit dan melewati area perumahan dengan banyak mobil yg diparkir di pinggir jalan. Jalur perumahan berarti juga banyak stop signs yang melengkapi ‘penderitaan’ kami dengan sering berhentinya mobil dan makin lamanya perjalanan.

Namun akhirnya kami sampai juga ke hotel yg dituju dan bersyukur krn hotelnya lumayan meski cuma bintang kejora. Meski sempat bikin bingung, kami terima kasih sama Mbak Lori. Benar2 terbantu deh pake GPS, pengalaman nyasar atau salah jalan bisa diminimalisir.

Next story: Pertama kali nginep di hotel buat anakku.

Si Banyak Tanya Menyewa Mobil dan Menginap di Hotel

Anakku yang nomor dua rupanya juga banyak ingin tahu, sama seperti kakaknya. Waktu kami pergi ke St. Louis kemarin dia bingung kenapa mobil kami tiba2 berganti dari Toyota setengah uzur menjadi Mazda 3 keluaran 2009.
“Where is our car?”
“Did we buy a new car?”
“Why did you take our car to the airport?”
“Why do we have to rent a car?”

Begitu rentetan pertanyaannya. Tiap kali dijawab dan dijelaskan, muncul lagi pertanyaan berikutnya. Dasar anak2. Jadi ceritanya kami harus menyewa mobil berhubung mobil yang sehari2 kami pakai sudah cukup umur dan beresiko utk dibawa perjalanan jauh. Karena kantor penyewaan mobilnya terletak di airport, kami harus membawa Toyota tercinta kami ke sana utk kemudian ditukar dengan si Mazda 3.

Namanya anak cowok, begitu selesai terkagum2 sama eksterior dan interior Mazda 3, tiap kali di jalan melihat mobil Mazda pasti mereka cari tahu seri berapakah Mazda tersebut. Enaknya menyewa mobil di sini pasti mobilnya mobil baru, nyaman, dan aman. Karena segala sesuatu bisa dipesan online, maka kami selalu berusaha utk bisa membooking mobil dr jauh2 hari karena semakin dekat waktu booking maka harga sewanya semakin mahal. Jika sewa dari 2 minggu sebelumnya misalnya, maka harganya bisa setengah dari harga biasa.

Saat perjalanan pertama ke St. Louis kami tidak booking hotel secara online karena merasa pede bahwa gak akan kehabisan kamar wong di St. Louis sedang tdk ada event istimewa, jd gak bakal banyak saingan. Tetapi aku sudah research (ceile…gaya bener) sebelumnya mana saja hotel yang murah meriah dan reviewnya juga lumayan bagus. Daris ekian banyak pilihan, maka aku pilih Red Roof Inn di pinggiran kota St. Louis yang menurut reviewnya baru saja direnovasi.

Setelah peristiwa diputar2 oleh Mbak Lori, maka sampai juga kami ke hotel itu. Not bad…interiornya bagus juga dan bersih (cuma karpetnya ada noda sedikit). Begitu masuk kamar hotel, dua anakku langsung deh jumpalitan di atas kasur. Halah…dasar anak2…semua kasur pasti diperlakukan kayak trampolin. Terus mereka liat2 tiap sudut kamar yg sebenarnya gak seberapa besar, liat kamar mandinya yg mungil tapi gaya. Setelah itu mulai deh rentetan pertanyaan dari si kecil:
“Mama, why do we stay here?”
“Is this our new home?”
“What is this place?”



Sampai dia latihan mengucap kata ‘hotel’ yg baru pertama kali dia dengar dan diakhiri dengan kalimatnya: “I want to go home, to our old home.” Halah…nak…nak…baru sampai kok udah home-sick. Sejenak dia lupakan rasa itu krn asyik lompat2an dan lari2an bersama kakaknya. Dia juga coba cuci tangan sendiri di sink yang ada cermin segede gaban di depannya. Pas mandi sore dia juga asyik ‘berenang’ di bath tub. Lucu deh, kayak liat bayi lumba2..ha..ha.

Malamnya si kecil ndak bisa tidur. Saat yg lain sudah terlelap dan si Mamanya udah ngantuuuk banget, si kecil tetap terjaga. Meski dia gak bilang, aku tahu dia kangen sama kamar dan tempat tidurnya sendiri. Aku usap2 kepalanya dan peluk dia erat2 sampai dia akhirnya terlelap jam 12.30 malam.

Saat kami selesai jalan2 dan akhirnya harus meninggalkan hotel di keesokan harinya, aku iseng bertanya pada si kecil: “Mau gak Dek tinggal di sini terus?”

Dia jawab: “No. I want to go to our home.” Biar gimana lebih enak rumah sendiri ya Nak. Dan seenak apapun perjalanan, kita pasti tetap kangen dan pingin pulang.

Jalan2 alias Plesiran Summer 2009

Selama tinggal di sini, notabene jarang sekali kami jalan2. Secara geografis, kami ada di tengah2 negri ini, dan kawasan wisata banyak berada di pesisir timur (New York City dkk.) atau pesisir pantai barat amrik (California dkk.). Alhasil, jarak menuju kota2 tempat wisata tersebut menjadi sangat jauh dari lokasi tempat tinggal kami. Nasib ya nasib…kota terbesar dan lumayan jadi kawasan wisata adalah Chicago yg jaraknya 5 jam naik kereta api. Enaknya sih kalau ke Chicago minimal 3 hari deh, supaya gak capek banget. Tapi yg namanya Bapaknya anak2 kan jarang bisa cuti sampai 3 hari. Belum lagi masalah biayanya. Semakin jauh, semakin mahal kan pastinya.

Baru setelah di sini aku merasa beruntung sekali tinggal di Jakarta. Selain kota besar yang fasilitasnya lumayan lengkap dan banyak tujuan wisata dalam kotanya, tujuan wisata alamnya juga lengkap. Kalau mau ke gunung, tinggal pergi ke Puncak, kalau mau ke pantai tinggal ke Ancol atau Anyer yang semuanya gak terlalu jauh dari Jakarta.

Akhirnya, setelah survey dan tanya sana-sini, kami ‘menemukan’ tujuan wisata yg lumayan meriah dan gak terlalu bikin bangkrut. Kota itu bernama St. Louis yang terkenal dengan Gateway Arch-nya. Sebenarnya ketika baru pertama mendarat di sini, aku sempat transit di St. Louis, bahkan pakai nginep segala di motel dekat airport karena ketinggalan pesawat terakhir malam itu. Namun tentu saja gak sempat kemana2 dan pagi2 sekali sudah balik ke airport lagi utk terbang ke Marion.

St. Louis termasuk kota berukuran mungil dengan banyak kota satelit. Tujuan wisata utamanya adalah The Gateway Arch yang merupakan monumen berbentuk busur melengkung berwarna perak yang dibangun tahun 60an sebagai monumen perluasan ke daerah barat (westward movement). Jadi gini ceritanya, jaman dulu nenek moyangnya org Amrik yg asalnya mayoritas dari Inggris mendarat di pesisir timur. Seiring dengan waktu, mereka memperluas wilayah (dengan merebut dari suku2 Indian tentunya) menuju bagian tengah dan barat. Nah…kota St. Louis ini tepat berada di pertengahan dan dianggap menjadi gerbang perluasan wilayah ke pesisir barat. Cerita lumayan lengkap tentang The Gateway Arch bisa dibaca di sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Gateway_Arch.

Alhamdulillah, setelah bertahun2 (hiperbola nih), kami akhirnya bisa juga berwisata ke kota St. Louis. Saking doyannya…sampai2 kami 2 kali pergi ke sana. Yang pertama di awal bulan Juni seiring dengan dimulainya liburan sekolah anakku. Yang kedua, beberapa hari yang lalu berbarengan dengan peringatan kemerdekaannya Amrik alias independence day. Beberapa tempat yg kami datangi di perjalanan yang pertama adalah:

1. Missouri Botanical Garden
2. Science Center
3. The Zoo
4. City Museum
5. The Gateway Arch

Sedangkan di perjalanan kedua kami mendatangi:

1. Parade di sepanjang Market St.
2. Kembang api di The Gateway Arch.
3. Missouri Botanical Garden (lagi…saking doyannya).

Liputan selanjutnya dilanjutkan nanti2 aja yaaa….lebih enak kalau pakai foto kali ye.

Maaf, stagnan, kangen.

Lama gak ngempi, akhirnya kangen juga. Maaf ya teman2, aku lama tak menyambangimu. Hidup serasa stagnan, jalan di tempat, jadinya gak semangat. Beuhhh….masih bernafas saja mestinya bersyukur tho. Coba kalau tiba2 mokat/isdet/titik kayak MJ tuh…nyesel banget kan waktunya tersia2. Liburan musim panas yang kelamaan memang bikin jenuh. Sudah 2 kali jalan2 ke luar kota juga masih jenuh saja. Manusia memang susah puasnya dan gemar berkeluh-kesah ya. Asyik…berarti saya masih manusia he…he…he. Jadi intinya apa ya postingan kali ini? Hmmm…cuma sekedar ingin menyapa teman2 MP yang lama tak kujumpa. Terima kasih ya atas persahabatannya selama ini. Dikau mengisi hari2 sepiku.