Ngeyel

Suatu hari di sebuah taman di tepi danau. Beberapa anak terlihat asyik bermain. Ada yang berkulit hitam legam dengan rambut kriting kriwil, ada yang berkulit terang namun rambutnya hitam, ada yang berkulit putih dan berambut pirang, dan ada yang berkulit kecoklatan dengan rambut hitam lurus. Mereka semua asyik bermain di panjat-panjatan dan perosotan yang dicat aneka warna.

Seorang gadis kecil berkulit hitam menghampiri bocah lelaki kecil berkulit kuning kecoklatan yang sedang asyik memanjat palang besi warna-warni. “Are you Chinese?” tanyanya pada sang bocah itu.

“No, I’m not Chinese. I’m Indonesian!” sahut si bocah itu dengan lantang seolah tak rela dianggap bangsa lain.

“You look like a Chinese, ” kata si anak perempuan kulit hitam itu lagi, seolah tak menganggap jawaban si bocah kecil itu.

“No! I’m telling you, I’m not Chinese! I’m Indonesian! Indonesian!” bocah kecil itu jadi marah sekali. Dasarnya anaknya galak, eh ditanya-tanya melulu dan salah pula tebakannya.

Si gadis kecil ini diam saja dan kemudian dia lari ke orang tuanya yang sedang asyik mengobrol dengan teman-teman mereka di meja piknik. Tak lama kemudian dia balik lagi dan menghampiri si bocah lelaki kecil itu.

“Are you Indian?” tanyanya masih dengan nada polos yang sama.

Kali ini si bocah lelaki itu tak tahan lagi. Dengan sekuat tenaga dia berteriak, “I’m NOT Indian! I’m Indonesian! INDONESIAN!!!!!!”

Si gadis kulit hitam terdiam. Lalu berucap lagi, “You’re Chinese.”

Gubraxxxx……

*kisah nyata dikisahkan oleh seorang emak kece yang bingung melihat anaknya teriak2 di taman*

Kisah BaM dan BuM

Hari Senin ini tanggal merah di sini dalam rangka Memorial Day. Hari Minggunya, kami bertemu seorang bapak dari Malaysia saat sedang sama-sama memancing di danau. Entah gimana, tiba-tiba antara suamiku dan si bapak itu bersepakat untuk mengadakan piknik di hari pahlawannya bangsa ngamrikah ini. Mereka akan bakar-bakar alias barbekyuan dan makan bersama.

Bapak dari Malaysia, sebutlah namanya BaM (BApak dr Malaysia), sedang mendampingi istrinya BuM (iBU dari Malaysia) yang sedang ambil phd di kampus yang ada di kotaku dan dia menjadi bapak rumah tangga dan mengasuh keempat putri mereka. Kebetulan kami beberapa kali bertemu si BaM baik di supermarket maupun saat mancing. Orangnya memang ramah sekali, begitu juga anak-anaknya. Aku ingat pertama kali bertemu dengan BaM adalah saat kami belanja di Aldi dan si BaM sedang bersama seorang wanita berjilbab yang langsung kami tafsirkan sebagai BuM. Kami sempat ngobrol sebentar dengan mereka, biasa lah tanya dari mana, lagi kuliah apa enggak, kuliahnya ambil apa, tinggalnya dimana, dst. Setelah itu kami hampir tidak pernah melihat BaM berdampingan dengan istrinya karena si BuM seringkali sibuk kuliah atau belajar di Student’s Center.

Saat tadi kami bertemu di taman pinggir danau, si BaM sudah nongol duluan dan mempersiapkan alat pemanggang. Tak berapa lama datanglah serombongan perempuan dewasa dan anak-anak. Salah satunya adalah seorang perempuan setengah baya berbusana muslim yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Kupikir dia adalah salah satu mahasiswi Malaysia. Warga Malaysia di sini memang erat kekeluargaannya. Mereka sering mengajak warga Malaysia lain untuk datang ke acara kumpul-kumpul macam ini.

Setelah membantu siap-siap, aku duduk di sambing wanita setengah baya ini dan mengobrollah kami.

Aku keceh (AK): “Kuliah di SIU?”
Wanita Malaysia (WM): “Iya.”
AK: “Belajar apa?”
WM: “Economy, sedang ambil PhD.”
AK: “Oh, sama dengan Mbak L (org Indonesia) dan istrinya BaM.”
WM: “Oh, saya istrinya BaM.”
AK: “Hahhhhhh??? Loh? Terus waktu itu BaM jalan sama siapa ya?”

Sesaat terdiam dan berpikir tentang betapa penuh implikasinya pertanyaan ini. Lalu mulai putar otak untuk menghapus kesalahan pertanyaan tadi.

AK: “Waktu itu ketemu orang mirip BaM lagi belanja. Istrinya tinggi dan pakai jilbab juga. Apa ada keluarga Malaysia lain yang suaminya mirip dengan BaM?
WM: “Oh mungkin keluarganya Kak Prikitiw (bukan nama asli), agak mirip suaminya dengan suami saya.”
AK: “Ya, mungkin itu dia ya. Aku juga lupa-lupa ingat. Makanya tadi aku tak menyangka kalau mbak ternyata adalah BuM. Maaf yaaaaa.”
WM: *ketawa mesem*

Setelah acara piknik selesai, di mobil aku ceritakan obrolan tadi pada suamiku. Reaksi pertamanya adalah ngetawain aku. Reaksi kedua adalah dia menjadi sama bingungnya dengan aku.

“Loh, bapak2 yang kita temui di Aldi waktu itu bilang anaknya ada empat, perempuan semua dan yang besar sudah SMA bukan?” tanya suamiku.

“Iya! Aku ingat itu. Makanya kita sempat heran ya Yah… itu istrinya sudah punya anak empat dan ada yang sudah gadis segala, kok penampilannya masih termasuk muda ya? Gak kelihatan sudah punya anak remaja,” sambungku.

Berarti memang yang kami temui itu si BaM dong ya! Lalu, lalu? Jadi siapa dong perempuan yang bersama BaM saat belanja di Aldi itu? Temannya sesama orang Malaysia mungkin ya, yg kebetulan belanja bersama saat istrinya sedang kuliah? Hmmm. Husss.. gak baek curiga. Pasti temennya deh, sudah anggap saja demikian. Jangan jadi pitnatun jaenatun yaaakkk…

Yang jelas lucu aja aku keceplosan tanya: “Loh… jadi perempuan yang lain itu siapaaaahhhh?” Dalam hati aku berdoa, semoga obrolan tadi itu tak bikin masalah di rumah tangga BaM dan BuM.

Untung Datang

Hari Jumat kemarin, seharusnya aku bersiap menuju sekolah Darrel, padahal Darrel sudah tidak sekolah lagi alias sudah liburan. Lalu kenapa ke sekolahnya? Di sekolahnya diadakan ceramah umum oleh seorang pakar pendidikan Dr. Siu Runyan yang merupakan ketua National Council of Teachers of English. Entah kenapa, aku yang sebenarnya termasuk orang tua tidak aktif dan jarang menghadiri acara2 di sekolah anak2 yang tidak wajib seperti ini, merasa tertarik. Mungkin faktor pembicaranya yang pakar pengajaran bahasa Inggris, atau mungkin juga karena ceramah ini gratis tis tis tis (dasar emak-emak), atau karena aku memang lagi “waras” saja. Bisa jadi karena acaranya berlangsung di sekolahnya Darrel yang cuma 15 menit berjalan kaki dari apartemenku dan acaranya berlangsung di musim semi, saat udara tak lagi terlalu dingin.

Acaranya jam 1 sampai 2 siang dan paginya aku harus beres-beres dulu. Dasar penganut mepetism, menjelang jam 11.45 aku masih memandikan kamar mandi. Sambil menggosok tembok keramik yang sudah disemprot cairan pembersih, aku sempat merasa ragu dan ingin urung datang ke acara itu. Waktunya terlalu mepet dan akupun sebenarnya tak apa-apa bukan kalau tak datang? Tapi aku sudah pesan tempat dan bilang akan datang. Kalau ternyata peminat acara ini banyak dan ada yang tidak kebagian tempat karena aku dan kemudian ternyata aku gak datang, duh kasihan banget ya.

Ya sudah datang saja lah. Toh tempatnya dekat, sekalian olah raga deh meski tengah hari. Akhirnya tepat jam 12.45, aku dan Darrel berangkat. Aku berjalan kaki dan Darrel naik sepeda.

Sampai di sana pas banget jam 1 dan ternyata hanya beberapa peserta yang datang, tak sampai sepuluh orang! Mendatangkan pembicara kelas nasional seperti Dr. Siu-Runyan ini kan gak gampang, kok disia-siakan sih? Saaahh belagu… padahal tadipun aku berpikiran untuk batal datang. Dari beberapa orang itu, tiga orang diantaranya ternyata warga internasional, termasuk aku.


Begitu aku duduk, acaranya langsung mulai. Topik tentang membacakan cerita untuk anak mengalir dari pembicara yang meski audiensnya sedikit tapi tetap sangat bersemangat. Lucunya, di tengah-tengah presentasinya, dia sempat punya agenda politik sendiri, yaitu menentang kebijakan testing atau ujian di sekolah-sekolah. Dia bilang testing tidak valid dan dibikin sebagai proyek cari uang. Loh, ternyata sama ya dengan apa yang dicemaskan oleh para pendidik yang “melek” di Indonesia? Selain masalah tes, dia juga memprotes kebijakan-kebijakan lain seperti anggaran pendidikan yang disunat (ding… sama lagi deh), dan intinya sih menggugat sistem pendidikan “No Child Left Behind” yang mulai digalakkan di masa George W. Bush (2001).

Program No Child Left Behind (NCLB) adalah “reformasi” yang menetapkan standar bagi pendidikan dasar di Amerika yang disesuaikan di masing-masing negara bagian. Negara bagian yang tidak menyelenggarakan tes untuk menilai kemampuan siswa tidak akan menerima dana pendidikan dari pemerintah federal. Sekolah yang hasil tes muridnya mengalami penurunan akan dikenakan berbagai sangsi. Jadi ini semacam pemaksaan yang efeknya membuat guru jadi mengajar semata untuk perisiapan tes. Banyak sudah para pendidik dan ahli pendidikan yang memprotes NCLB dan menyangkal keefektifannya, dan kabarnya Obama sudah berujar akan mengganti sistem ini.


Mengenai Reading Aloud to Children sendiri yang merupakan topik utama yang dibawakan Dr. Siu-Runyan, lebih membahas manfaat dan tips-tips membacakan buku untuk anak. Mungkin nanti aku akan bikin postingan tersendiri yang khusus membahas hal ini.

All in all, aku merasa beruntung bisa datang ke acara ini. Topiknya menarik dan pas untuk emak2 seperti aku, serta bermanfaat. Keuntungan lainnya, yang kuanggap sebagai bonus adalah diberikannya sejumlah buku bacaan anak kepada setiap peserta. Jadi, Dr. Siu-Runyan, bukan sekolahnya Darrel ya, membawakan segambreng buku bacaan yang akan dia bagiakan ke semua peserta. Berhubung pesertanya cuma delapan orang, maka tiap orang bisa membawa lebih dari satu buku.


Pucuk dicinta ulam tiba! Dasar emak2 penggemar gratisan, begitu acara selesai, saat peserta lain masih malu-malu dan menatapi buku-buku yang dipajang di beberapa meja, aku langsung baca judulnya sebentar saja dan tanpa berpikir lama-lama langsung meraup sejumlah buku. Dan tanpa malu-malu pulak, aku minta kantong plastik pada panitia agar bisa membawa tumpukan buku hasil jarahanku. Ha…ha…ha. Salah sendiri sih, orang mata bukuan ditawarin buku gratisan… ya terima deh risikonya… ha…ha…ha! Jangan kuatir, peserta lain kulihat ambil bukunya juga segambreng kok.

Eh, Doyan Dia!

Masih ingat Mrs. Ross gurunya Imo yang pernah meminta Imo pindah tempat duduk saat makan siang gara-gara dia bawa bekal sushi? Yang kemudian saat aku protes dia malah menantangku untuk membuat makanan untuk murid-murid di kelasnya?

Setelah bulan demi bulan berlalu sejak peristwa itu, aku berpikir Mrs. Ross lupa dan tidak akan memintaku untuk membuat panganan. Aku juga diam-diam saja tak menanyakan. Tapi saat semua anak kelas 3 akan mengikuti tes ISAT, tiba-tiba Imo menyampaikan pesan bahwa Mrs. Ross minta kesediaanku untuk membuat egg-rolls alias lumpia2an untuk seluruh anak di kelas itu plus dianya sendiri. Karena dulu sudah bilang kalau diminta aku akan buatkan, ya sudah lah aku jabanin.

Jumlah total murid di kelas Imo ada 27 anak dan ini katanya jumlah murid yang paling banyak di sekolahnya. Ditambah Mrs. Ross berarti ada 28. Masing-masing akan kubuatkan dua lumpia dan satu bonus untuk Mrs. Ross. Jadi total lumpia yang harus aku buat adalah 57… bulatkan saja jadi 60. Kulit lumpia yang siap pakai sudah aku beli dari International Grocery, sedangkan isinya aku ramu dari kol, wortel dan daging sapi cincang dengan bumbu standar. Saat menaburi bumbu, aku sengaja menahan diri supaya tak terlalu bernafsu. Bukan apa-apa, tahu sendiri kalau lidah kebanyakan orang sini tak biasa dengan makanan yang terlalu pekat rasa bumbunya.


Setelah bergulat pontang-panting selama berjam-jam, jadilah 100 buah lumpia. Loh kok seratus? Sengaja aku lebihkan beberapa untuk yang dibawa ke sekolah dan sisanya buat di rumah. Lumpia yang belum digoreng itu aku simpan di kulkas dan besok paginya baru menggoreng dan menyiapkannya di wadah aluminium foil serta mengantarkannya ke sekolah Imo.

Karena saat aku tiba di sekolahnya, para murid masih sibuk mengerjakan tes, maka aku cuma titipkan seserahan itu pada sekretaris sekolah yang biasa mangkal di tempat penyambutan tamu. Jadi sama sekali aku tak tahu bagaimana reaksi anak-anak itu dan gurunya saat memakan lumpia yang menurutku agak kurang berasa bumbunya. Mudah-mudahan mereka suka, dan yang lebih penting lagi semoga tak ada yang sakit perut setelah memakannya. Bisa dituntut gue..he..he.

Saat Imo pulang dari sekolah, aku tanya dia bagaimana egg-rollsnya, sukakah mereka? Menurut Imo mereka suka dan semua egg-rolls yang aku kirimkan laris manis. Imo juga membawakan sebuah kartu dari Mrs. Ross yang ternyata ucapan terima kasih disertai tulisan dan tanda tangan semua murid-murid. Ini memang kebiasaan lazim di sini. Oh, ya syukur alhamdulillah kalau mereka menikmatinya.

Saat terima rapor Imo dan kami datang ke sekolah untuk menemui Mrs. Ross, kembali Mrs. Ross mengucapkan terima kasih dan katanya seperti makan lumpia di restoran. Saaah… lebay ah dikau Mrs. Ross.


Sudah ya, masalah egg-rolls aku anggap selesai. Ibaratnya hutang, sudah kulunasi. Tapi, kemarin sore Imo pulang sekolah dan mengatakan, “Ma, Mrs. Ross minta dibuatkan egg-rolls lagi untuk teman-teman sekelas, tapi dia akan bayar.” Hah? Pegimane ini, kok die minta lagi? Doyan yaaaa?

Aku masih pikir-pikir. Habis mau dihargai berapa coba. Mosok aku tega minta bayaran dari gurunya Imo? Paling-paling aku akan bikinkan tanpa minta bayaran. Sambil kepikiran juga akan buatkan satu camilan lagi yang khas Indonesia. Kalau egg-rolls kan Asia ya… gak murni khas Indonesia wong isinya juga bukan rebung dan ebi seperti lumpia Semarang itu. Ada usulan, kira-kira camilan apa yang gampang diterima lidah orang bukan Indonesia? Boleh yang asin atau manis, tapi jangan yang susah ya.

Makacih sebelumnya. Plakkkk… tabokin atu2. Ha…ha…ha. Kalo ciumin atu2 udah dipake sama Mbak Arie soalnya.

Pre-K Forever!

Manusia biasanya suka akan kemajuan atau perbaikan. Kenaikan tingkat atau pangkat biasanya disambut dengan riang gembira. Tapi tidak begitu halnya dengan seorang bocah bernama Darrel.

Kemarin-kemarin saat aku mulai memberitahukan padanya bahwa setelah seolah berakhir bulan Mei, dia nanti akan meneruskan ke tingkat Kindergarten alias TK. Maksudku biar dia nanti tak kaget. Bukannya senang, dia malahan menolak dan bilang, “No! I want to be in Pre-K (play group) forever!”

Kebayang gak sih, Darrel udah usia belasan, jadi cowok ganteng nan tampan bertubuh besar atau bahkan kumisan tapi masih duduk di bangku Pre-K? Duh, nak… apa kata dunia kalau kau di Pre-K selamanya? Tapi dia kekeuh surekeuh, tetap saja ingin tetap di Pre-K dan diajar oleh gurunya yang manis Mrs. Nicolaides.

Lalu, hari ini, Darrel menemukan kenyataan yang tak diimpikannya. Dia bilang bahwa hari Kamis ini hari terakhir bersekolah dan di bulan Agustus nanti dia akan mulai masuk Kindergarten. Informasi ini didapatkannya dari gurunya, dan sepertinya dia baru percaya “ramalan” mamanya yang kemarin itu.

Dia bilang itu adalah “bad news” dan sekali lagi dia tegaskan: “I’m gonna miss Pre-K. I want to be in Pre-K forever.”

Nak, nak… baru sadar ya kalau di dunia ini, nothing lasts forever.


Emak Yang Kurang Bijak

Tadi malam Imo susah sekali diminta untuk pergi tidur. Meski sudah minum susu dan sikat gigi, dia masih ngedeprok di ruang tengah dengan buku Harry Potter di pangkuannya. Sampai jam 10 malam, dia masih juga tak berhenti membaca buku setebal 759 halaman itu.

Setelah kutanya-tanya, ternyata dia lagi kejar setoran, berusaha menyelesaikan buku itu malam ini juga karena ingin mengikuti tes AR (Accelerated Reading) keesokan harinya. Sebagai keterangan, biar gak bingung, AR adalah program pelajaran membaca yang diikuti setiap murid di sini sejak kelas satu SD. Tiap anak boleh memilih buku sesuai dengan level mereka dan setelah selesai membaca, mereka akan mengikuti tes di komputer. Tesnya sendiri semacam reading comprehension. Hasilnya akan menentukan poin yang akan kemudian menaikkan level mereka.

Kenapa harus ikut tes besok? Karena hari Selasa minggu depan mereka sudah mengadakan AR party alias pesta makan-makan merayakan pencapaian target AR semua anak2 di sekolah itu. Artinya, kesempatan untuk ikut tes memang tinggal hari Jumat ini.

Aku kecewa sekali sama Imo. Bukan karena itu artinya dia tak bisa mencapai target AR yang dia tentukan sendiri (kalau target dari gurunya sudah lewat dari kemarin-kemarin), tapi karena ketidak disiplinannya. Kalau memang punya target ikut tes Jumat ini, mustinya dari kemarin fokus dong ke bacaan Harry Potternya itu.

Yang bikin tambah kesal, selama minggu-minggu terakhir Imo berturut-turut mendapatkan nilai 77 untuk spelling testnya (biasanya 95 ke atas) dan juga dia tidak lolos dalam kompetisi Spelling Bee di sekolahnya. Please don’t get me wrong, aku bukan tipe emak2 yang ambisius, ingin anaknya selalu berprestasi, siap dengan pecut di tangan untuk memacu anak belajar beberapa jam dalam sehari. Nooo… aku jauh banget dari yang seperti itu.

Tapi aku kecewa karena kulihat sejak hawa liburan sekolah mulai berhembus sejak bulan Mei ini, Imo tampak lebih banyak bermain dan menonton TV daripada fokus ke membaca buku atau belajar spelling. Nilai yang turun, gagal ikutan spelling bee, hanya merupakan indikator dari kegagalanku dalam mendidiknya untuk lebih disiplin dan pintar mengatur waktunya sendiri.

Dasar emak yang kurang bijaksana, saat kulihat dia masih sibuk membaca, berusaha mengebut dalam rangka kejar setoran, aku malah menyuruhnya untuk berhenti sambil berkata, “Gak mungkin bisa selesai. Masih ada lebih dari 100 halaman bukan? Sudah tidur saja. Terima akibat dari terlalu banyak bermain!”

Muka Imo langsung lesu dan dengan gontai dia akhirnya masuk kamar. Aduh. Salah ya?

Aku langsung berpikir ulang. Imo anaknya peka sekali tapi semuanya dipendam. Aku gak mau dia malah jadi stress dan sedih berkepanjangan karena impiannya mengejar target dipadamkan seketika oleh si emak satu ini.

Aku hampiri dia di tempat tidurnya. “Imo, sedih ya? Maaf ya. Imo bisa gak minta tesnya hari Senin atau Selasa pagi sekali, first thing in the morning? Coba ngomong lagi sama Mrs. Ross.”

Imo mengangguk, “Iya, Ma. I will ask her if I can finish the book over the weekend.”

“Lain kali jangan terlalu banyak main ya Mo. Nanti musim panas juga kita banyak latihan spelling ya, biar Imo bisa ikutan kompetisinya tahun depan.” Imo mengiyakan lagi.

Kalau Imo jadi banyak main, pastinya juga karena emaknya kurang bisa mencontohkan yang baik buat dia. Gak mungkin minta dia disiplin waktu sementara akunya juga seenaknya aja. Dimulai dari mana? Dari disiplin waktu ngempi kali yeeee…he…he… glek.

Gambar nyomot dari sini

Nomor Karangan?

Celoteh Darrel Lagi (yang bosan silakan balik badan, majuuu jalaaan…ha..ha..ha)

Darrel Cakep (DC): “Today, at school, Mrs. Nicolaides asked about our favorite number.”
Mama Kece (MK): “Oh ya, terus adek jawab apa?”
DC: “I said that my favorite number is googlex.”
MK: “Hah? Beneran adek jawab begitu?”
DC: “Yes. And Mrs. Kelly (asisten gurunya) doesn’t know what a googlex is.”
DC: “But Mrs. Nicolaides knows it. She says it’s something to do with infinite number.”
MK: “Jadi googlex apaan, nak?” (ceritanya ngetes)
DC: “Googol has one hundred zeros, and googlex has googol zeros.”
MK: (garuk2 kepala kayak nyomet) “Oooohhh….. Terus kenapa Darrel pilihnya googlex?”
DC: “I just want the biggest number.”
MK: “Teman2 yang lain pilih nomor berapa?”
DC: “Clara chose one hundred.”

Belakangan si Emak Kece buka Internet dan menemukan bahwa yang dimaksud Darrel sebenarnya adalah Googleplex, bukan googlex. Tapi besaran angkanya benar. Googleplex memang punya angka nol sebanyak googol buah.

Ini kata Om Wiki tentang googolplex:

“In 1938, Edward Kasner‘s nine-year-old nephew, Milton Sirotta, coined the term googol, then proposed the further term googolplex to be “one, followed by writing zeroes until you get tired”. Kasner decided to adopt a more formal definition “because different people get tired at different times and it would never do to have Carnera be a better mathematician than Dr. Einstein, simply because he had more endurance and could write for longer”.[1] It thus became standardized to 10googol.

Pada tahun 1938, Milton Sirotta, keponakan Edward Kasner yang berusia sembilan tahun, mengusulkan istilah googol, dan kemudian berlanjut dengan istilah googolplex sebagai “angka satu yang diikuti dengan angka nol yang kau tulis sampai kau merasa lelah”. Kasner kemudian memutuskan untuk menggunakan definisi yang lebih formal “karena tiap orang merasa kelelahan pada saat yang berbeda dan rasanya tak adil jika Carnera (petinju) dianggap sebagai ahli matematika yang lebih baik dari Einstein hanya karena dia bisa bertahan menulis lebih lama.” Sejak saat itu, googleplex distandarkan menjadi 10 pangkat googol.

Terus apa hubungannya sama Om Google? Google ternyata kesalahan ejaan dari nomor yang ditemukan anak kecil seumuran Imo itu, seperti kata si Om Wiki:

“The Internet search engine “Google” originated from a misspelling of “googol...”

Tapi kalau di situs resminya Google, disebutkan bahwa penemu Google yaitu Larry Page dan Sergey Brin bukannya salah mengeja tapi memang memelesetkan googol menjadi google.

Yang mana yang bener, sekedar salah eja atau sengaja, hanya rumput yang bergoyang yang tahu…hi..hi.