Ramadhan – Day One

Kemarin kami sekeluarga, kecuali si dua tahun, mulai berpuasan Ramadhan. Seperti dua atau tiga tahun terakhir, kami sudah siap mental dengan kenyataan bahwa harus berpuasa lebih dari 16 jam karena bulan suci ini hadirnya pas di musim panas yang siangnya jauh lebih panjang drpd siang di equator. Kami juga dipaksa siap mental akan kondisi iklim musim panas yang biasanya bersuhu tinggi hingga menembus 100 derajat Farenheit (sekitar 38C). Itu berdiri di luar lima menit aja…keringat langsung grombyosss…basah baju semua.

Dua hari sebelum puasa aku ke halaman belakang untuk berkebun dari jam 9 hingga 10.30 pagi. Pakai baju panjang, bagian kulit yg terbuka aku semprot sunscreens. Begitu masuk rumah, itu yaaa…bagian yg gak ketutup baju keliatan menghitam legam. Jadi kakiku ada motif sandal jepit berwarna coklat terang (bagian yg terlindung dr sinar matahari), bagian lainnya hitam. Aku sampai takjub sendiri.

Hal yang mungkin meringankan adalah bahwa puasa tahun ini jatuh saat anak2 sedang liburan sekolah (summer break). Artinya mereka gak harus berpuasa dlm kondisi spesial pake telor gitu sambil bersekolah. Kebayang dong pas fisik lg lemes masih harus berpikir keras disekolah dan tetap wajib ikut mata pelajaran olahraga sementara mungkin hanya mereka sendiri yg berpuasa sedangkan teman2nya tidak. Honestly, aku suka terharu kalau keinget mereka pernah mengalami hal semacam itu dan tetap kuat berpuasa penuh. Alhamdulillah…sebagai emak…saya terharuuuu…huaaaa (mulai over dramatic..ha..ha.)

Tapi teteupppp ya…yg namanya anak kecil apalagi seusia Darrel…masih ada sifat alami kanak2nya dalam menyikapi puasa. Siang kemarin dia berulang kali bilang…aku lapaaar..aku lapaaar…dengan nada memelas. Sore hari, sekitar jam 4, dia mulai mempertanyakan kewajiban anak seumur dia utk berpuasa. Aku bilang belum wajib, boleh kok setengah hari, tapi bonus pointnya (kata lain utk pahala..hi..hi) juga cuma setengah. Udah dibebasin gitu…dia masih nekad meneruskan puasanya. Mungkin juga krn dia merasa senasib sepenanggungan dengan kakaknya…solider gitu..ha..ha.

Yang konyol, dua anak itu malah seharian sibuk membuka buka buku resep masakan. “Ngapain sih malah liat2 foto makanan?” tanyaku. “Biar gak laper, Ma.” Hah? Bukannya malah sebaliknya ya? Ha..ha..ha..gitu deh tingkah anak2.

Alhamdulillah, meski disertai keluhan dan tingkah lucu2 gitu, mereka berdua puasanya sampai maghrib juga, jam 8.22 malam. Sambil menyantap hidangan berbuka (nasi, telur dan udang balado, baked brocolli and potatoes), Darrel berulang kali bilang hmm….enaaak…besok sahur mau makan ini lagi yg banyak. Ah…jadi terharu lagi deh. Semoga kuat puasanya sampai akhir Ramadhan ya naaak…dan bisa mengisi waktu dng kegiatan bermanfaat. Aaamin.

Advertisements

Tentang Imo (Renungan Kala Ultah)

Hari ini, 13 Mei 2015, anak pertamaku ulang tahun ke-13. Hal pertama yang diucapkannya: “Yay, sekarang bisa buka akun Facebook!” Loh? Ha..ha..ha. Rupanya dari kemaren-kemaren dia udah ngidam pengen buka akun Facebook karena teman-temannya juga sudah banyak yang punya. Padahal emaknya aja paling males update status di Facebook. Paling cuma baca-baca status orang sambil sesekali komen.

Imo, memasuki usia yang sudah masuk kategori remaja. Banyaaaak sekali doa dan harapan yang aku pintakan untuknya, tidak saja di hari ultahnya, tapi di banyak kesempatan. Entah kenapa tiap kali ingat Imo, aku selalu ingin menangis…ada rasa penyesalan begitu dalam karena sering merasa tidak maksimal dalam banyak hal. Masih sangat kurang sabar menghadapi anak yang sedang puber, masih kurang sering menunjukkan rasa sayang, masih sering marah dan menuntut terlalu banyak terhadap dia yang masih remaja dan jelas belum sepenuhnya dewasa pemikirannya. Halagh…aku yang sudah setua ini saja masih sering childish kok.

Padahal banyak sekali hal positif dari seorang Imo. Dia dari kecil sangat tabah. Bertahun-tahun duduk di atas motor di antara ayah mamanya tiap kali bepergian dalam kondisi kepanasan atau kehujanan, tidak pernah dia mengeluh. Berpisah berbulan-bulan dari mamanya saat berusia 4 tahun, hanya pernah kepergok menangis dua kali saat dia begitu merindu. Menempuh perjalanan naik pesawat lebih dari 24 jam demi bisa bertemu mamanya, dia tak mengeluh dan tak terlihat lelah meski sempat tak nafsu makan selama perjalanan. Mengasuh adiknya dia juga sangat telaten, sangat sabar menghadapi adek-adeknya, malah lebih sabar dari mamanya. Di sekolah dia tak pernah bermasalah, malah sering dipuji gurunya. Prestasi akademiknya luar biasa, sampai mewakili sekolahnya dalam scholar bowl (semacam cerdas cermat). Teman-temannya juga banyak dan rata-rata mereka baik. Beberapa kali ortu murid lain meminta agar anaknya bisa playdate dengan Imo, yang artinya dia dianggap “anak baik” oleh para ortu tersebut. “I wouldn’t mind having a class full of Imos,” (saya gak keberatan kalau semua anak di kelas saya seperti Imo) begitu kata guru kelas 1 SDnya dulu, yang sempat sukses bikin aku mewek di depan gurunya itu,

Imo anak baik, Imo anak baik…mungkin ini “mantra” yang harus berulang kali aku ucapkan saat dia berlama-lama menunda melakukan tugas di rumah (chores) atau saat dia lupa membuang bungkus makanan di tempat sampah, atau lalai menjaga adik batitanya karena terlalu asyik membaca. Tuh lihat…ternyata sangatlah pendek daftar “minus”nya Imo dibanding “plus”nya.

Imo yang 13 tahun, makin tinggi badannya, sudah melebihi mamanya (yang memang bantet pake banget), dan sering bikin mamanya tak percaya bahwa dia ini bayi merah yang pernah bergerak-gerak dalam perut, yang bisa diajak menendang kotak tissue yang ditaruh di atas perut. Selamat ulang tahun ya, nak. Semoga Allah selalu melindungi dan mencintaimu.

Kepada Seorang Teman

Seorang teman berkata, “Agama membuatku membenci. Benci pada yang tidak seagama, benci pada yang tidak sepaham.” Dan kejadian kemarin membuktikan, bahwa kebencian itu bisa bersarang di hati siapa saja. Bisa di hati seorang atheis seperti si pembunuh tiga anak muda di North Carolina. Bisa di hati muslim yang menyerbu kantor kartunis di Perancis. Bisa di hati seorang Kristen yang mengebom dan menembaki orang di Norwegia. Lalu masih bisakah kau menuding agama sebagai penyebab kebencian di hatimu?

“Agama membuatku menyalahkan pemeluk agama lain, membuatku merasa akan masuk surga dan mereka pasti terjeblos ke neraka, merasa benar sendiri sedangkan yang lain pasti salah” begitu katamu. Lalu apakah atheisme, theisme dan agnostisme tidak menegasikan orang lain, tidak merasa benar sendiri? Apakah mereka tidak mentertawakan “kebodohan” para pemeluk agama? Apakah mereka tidak menganggap agama sebagai warisan jaman batu yang usang dan pantas dcampakkan? Mungkin tidak ada klaim surga atau neraka di situ, tapi ada negasi juga bukan di situ? Sebagaimana satu agama menyangkal agama lain, maka theisme pun menyangkal semua agama, maka atheisme pun menyangkal agama dan Tuhan, sedangkan agnostime akan terus berada dalam kebimbangan antara mengakui atau tidak adanya Tuhan dan jelas menyangkal semua agama juga. Lalu, masih bisakah kau menuding bahwa agama yang menyalakan benci di hatimu?

Atau kah benci itu seperti udara berpolusi yang dapat menyelusup ke relung hati siapa pun? Tak peduli apa agamanya, siapa orangnya. Dia akan bertahta jika kau memeliharanya, namun akan lenyap atau tereduksi jika kau menghalaunya dengan kasih sayang. Iyaa…kasih sayang yang ada hampir di setiap agama. Kasih sayang yang bisa kau temukan di hati pemeluk agama yang taat, jika kau mau melihatnya. Coba saja arahkan pandangan ke mereka yang beragama tapi tidak membenci. Aku yakin masih lebih banyak jumlah mereka dibanding mereka yang mengaku beragama tapi masih membenci.

Ah, teman…ingin rasanya aku memeluk erat dirimu dan berbisik…kembalilah…kembali ke jalan lurus itu. Pungut kembali peta kehidupan yang telah dirancang sempurna oleh yang Maha Pencipta untuk memudahkan jalan kita. Tekuni, rasakan getaran cinta mengalir di dalamnya untuk kita semua dan menghapus jejak-jejak kebencian di relung hati. Doaku selalu untukmu, teman…semoga kita bertemu kembali di ujung jalan itu. Aaamin.

Mari Menulis!

Sudah lama gak buka WP… eh bosen gak sih baca kalimat begini? Ha..ha..ha. Ini penyakit klasik blogger amatiran nan tak berdedikasi seperti saya. Padahal jutaan peristiwa datang silih berganti, menunggu untuk diabadikan dalam bentuk tulisan. Kalau mau cari kambing pink (bosen sama yg item..ha..ha), saya bisa nunjuk idung situs lama yang dikubur hidup-hidup sama si empunya, atau hidung mancung, mungil, menawan bocah hampir dua tahun yang saat ini pun sedang berusaha memanjat kaki saya untuk minta dipangku. Untung baby sitter one and two (alias kakak pertama dan keduanya) siap mengajak si bungsu bermain. Tapi, saya cukup waras untuk mengakui bahwa kalau saya lama gak nulis atau gak nengokin blog ini karena saya terlalu malas dan karena keasyikan ngobrol di wadah lain bernama WhatsApp.

Di satu sisi saya bersyukur karena punya teman2 yang suportif dan mau dengerin ocehan dan curhat gak jelas dari saya. Tapi di sisi lain, ternyata WA itu melenakan. Saking udah bisa ngobrol, curhat, menye2 di WA, jadinya gak merasa perlu untuk menuliskannya lagi dalam format paragraf dan essai seperti ini. Loh, jadi selama ini isi blog ini cuma penyaluran curhat gak jelas? Lah…kok baru tahu? Ha..ha..ha.

Nah, di pagi yang mendung dan dingin ini, saya senang sekali menemukan bahwa beberapa teman eks MPers saya ternyata banyak yang nongol dengan tulisan-tulisan baru. Antara lain ada Pak Margono, sang dokter yang gemar memasak, lalu ada Muse, PNS anggota Carok yang ternyata sudah mendarat di UK, ada Wulan yang tulisannya selalu puitis, ada Arni yang kemahiran masaknya semakin canggih, ada Teguh, dokter muda yang suka curhat tentang pengalamannya sebagai koas (dulu). Yang belum disebut…ngacung yaaa! Awas jangan tinggi-tinggi, biar gak kemana-mana bulu keteknya.

Semoga ya kita semua bisa meneruskan kebiasaan baik menulis blog dan tetap berbagi dan bersilaturahmi melalui blog. Menulis itu bukan saja mengabadikan kejadian, buah pikiran, kenangan, tapi juga dapat mengasah pikiran dan kemahiran. Belum lagi kalau isinya bisa berguna untuk orang lain, dengan informasi bermanfaat atau sekedar menghibur hati yang lukaaa…uwooo..uwoo..uwoooo…pulangkan sajaaaaa…. (plakkk…ditampar biar diem..ha..ha..ha).

Saya akhiri postingan pertama di tahun 2015 ini dengan gambar waffle yang saya bikin pagi ini. Apa hubungannya dengan tulisan? Gak adaaaa! Ha..ha..ha..pengen pengumuman aja kalo saya abis bikin waffle…enaaak sekali!

20150201_084211

Pencitraan 2

Maafkan jika aku terlalu lama terlena dalam jeda menulis lanjutan tulisan yang kemarin itu. Setelah mengalami sendiri bagaimana rasanya jadi korban pencitraan, ditambah gejolak politik dua kubu yang sangat runcing waktu pemilu Indonesia kemarin itu, rasanya aku lelaaaah sekali kalau harus membahas masalah pencitraan.

Tapi ada satu komentar sangat menarik dari satu teman yang aku anggap selain cerdas juga bijak, bahwa ada topeng-topeng berbeda yang kita tampilkan ke hadapan pihak-pihak yang berbeda dan ada satu topeng yang kita simpan hanya untuk diri kita sendiri. Mas Edwin, I really appreciate your opinion. Dan kalau aku boleh menambahkan, sebenarnya topeng-topeng itu  bukan saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Mereka semua membentuk satu jati diri yang utuh. Kadang satu topeng dan topeng lainnya tumpang tindih karena ada unsur dari topeng yang satu bercampur dengan unsur topeng yang lain. Dan semua topeng itu adalah bagian dari kita, bukan kepura-puraan atau topeng orang lain yang kita paksakan untuk bisa kita pakai. Topeng-topeng ini juga sifatnya tidak kaku, cair, dan bisa berganti kapan saja, sesuai dengan situasi dan kondisi.

Kenapa harus ada banyak topeng? Kenapa tidak satu saja dan yang satu itu yang kita tampilkan ke semua orang? Jawabannya sederhana, karena kita mahkluk sosial. Kita manusia yang butuh berinteraksi dengan manusia lain. Dan kita tahu bahwa manusia beragam jenisnya. Kita tak harus memaksa harus diterima oleh semua jenis orang, tapi untuk bisa diterima di beragam jenis orang kita harus menyesuaikan topeng yang kita pakai. Kalau kita ngotot tetap memakai topeng preman saat memasuki wilayah orang-orang yang penuh adat dan sopan santun, tentunya kita yang akan terlempar, terasing, atau tertolak dengan sendirinya.

Oh berarti munafik dong ya? Munafik kalau topeng yang dia pakai bertentangan dengan hati nuraninya. Artinya itu memang bukan topeng dirinya, tapi topeng kepura-puraan, sama sekali bukan menjadi unsur dari dirinya. Dan aku yakin, tidak ada orang di luar sana yang hanya punya satu topeng, pasti ada minimal topeng kedua. Cara kita bicara pada orang tua dengan cara kita bicara dengan teman sebaya saja. Sama kah? Kalau aku sih udah dikemplang dari kapan-kapan kalau berani bicara dengan gaya selebor, penuh canda, suka nyela (nah yaaa) seperti yang aku pakai dengan teman-temanku. Pasti dianggap tak sopan. Nah, itu saja sudah dua topeng.

Tapiii…ada juga mereka yang sangat piawai menggunakan topeng hingga sudah memasuki tahap manipulatif, bukan sekedar untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Inilah yang aku maksud dengan pencitraan. Mereka yang hanya mengenakan topeng yang mengundang pujian di hadapan publik namun topengnya palsu, atau aspal…asli tapi ditambal sulam dengan kehebatan dan pujian tak langsung pada diri sendiri.

Kembali lagi, masalahnya ke diriku sendiri. Hanya pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan kejujuran pada diri sendiri yang bisa membantuku menemukan cara untuk tetap memelihara paduan topeng yang semuanya mewakili inti diriku, yang bukan mengharap pujian, yang tidak akan lemah atau sedih jika tak ada orang yang memperhatikan topeng-topengku itu, yang tetap dalam kewarasan dan tetap memiliki inner peace meskipun orang di luar sana tak peduli atau tak menjadi kagum karenanya.

“Saya ada bukan karena saya eksis di dunia maya, bukan karena postingan mendapat banyak komen, bukan karena puji-pujian yang mengalir baik di dunia maya atau nyata, bukan karena banyaknya like, share, retweet, copas, atau view dari postingan saya. Bahagia saya tidak ditentukan dari semua hal-hal yang disebut di atas.” Itulah “rapalan” saya kini dan sampai nanti.

Pencitraan

Sudah setahun belakangan ini hasrat menulisku terjun bebas hingga ke titik nadir. Padahal dulu aku produktif sekali. Memang faktor pindahan dari Multiply (MP) ke WordPress jadi salah satu penyebabnya. Tapi ada satu hal lebih besar lagi yang membuatku jadi segan menulis, yaitu masalah pencitraan.

Sebenarnya sadar atau gak sadar hampir setiap orang pernah melakukan pencitraan, yaitu membuat gambaran atau persepsi tentang dirinya yg kemudian ditangkap oleh orang lain. Saat kita menulis tentang hobi beberes kita dan mengomel panjang lebar tentang orang yg jorok berantakan, misalnya, orang akan mengira kita adalah si pembersih yang rapih dan apik. Jika kita konsisten memproyeksikan image yang sama maka itulah pencitraan atau gambaran yg akan ditangkap pembaca atau dalam hal media sosial oleh kontak/teman/pengikut kita.

Entah kebetulan atau aku memang naif (baca: geblek), beberapa kali aku termakan pencitraan. Bukan sekedar pencitraan kelas kecebong, tapi kelas kakap karena sudah menjurus ke manipulasi. Manipulasi dalam artian pencitraan yang dilakukan utk mengeruk keuntungan, baik secara materi atau non-materi, seperti misalnya pencitraan demi meraih dukungan atau posisi terhormat di antara peers atau teman-temannya.

Dan memang media sosial adalah lahan yang sangat subur untuk para manipulator karena teman dunia maya tidak secara langsung/face to face dan real time dalam berinteraksi. Tidak ada pre-conceived notion atau gambaran awal tentang siapa yang ada di ujung sana kecuali dari tulisan yang sudah diramu, foto yang sudah diseleksi, dan komentar yang sudah dimoderasi. Mengikuti sifat dasar yang serba instan, pertemanan dapat begitu cepat terjalin meskipun kita tidak benar-benar tahu siapa dan bagaimana teman maya kita itu. Ada hal-hal yg hilang dari bahasa tulis yang sialnya sering membuat radar kewaspadaan kita jadi tumpul seperti ketiadaan ekspresi wajah, gerak tubuh, nada bicara. Pembuktian akan sebuah klaim juga sulit dilakukan di dunia maya, karena keterbatasan kita dalam berinteraksi langsung di waktu sesungguhnya dengan teman maya kita.

Misalnya ada yang mengklaim dirinya sebagai seorang gentleman yang selalu memberikan tempat duduknya pada ibu hamil/orang tua/orang berkebutuhan khusus jika sedang di atas kendaraan umum yang penuh melalui postingan tentang pengalamannya terkait dengan tindakan mulia itu, lengkap dengan foto jepretan kamera yang menunjukkan wajah penuh senyum dari si penulis yang lagi berdiri gelantungan di kereta api/bus dengan keterangan “Tetap cerah ceria meski gelantungan dan berdesakan.” Gak cuma sekali tapi berulang kali yang tentu saja disambut dengan banyak komen penuh pujian dan kekaguman. Sebagai yang bukan teman, keluarga atau siapa-siapanya di dunia nyata, kita gak bisa membuktikan klaim kepahlawanannya tersebut karena tidak selalu berada di dekat dia, nempel kayak perangko, saat sedang berkendaraan umum. Bahkan yang sudah pernah kopdar dengannya, misalnya, juga belum tentu bisa membuktikan, karena bisa jadi pas kopdar saja si penulis melakukan praktik mulianya itu.

Satu hal lagi tentang dunia maya serba instan ini, para komentator juga biasanya membuat pencitraan sebagai komentator manis nan baik hati. Tapi catet…ini berlaku untuk blog yang isinya seputar kehidupan dan pengalaman si penulis, bukan yang berisi opini apalagi opini politik. Tidak ada yang mau disebut sebagai komentator nyinyir yang suka nyindir. Basa-basi berkepanjangan, ewuh-pakewuh berlebihan, biasanya berlaku. Dan ini sering kali aku temui terutama di medsos yang dulu aku geluti. Meski misalnya komentator kurang sreg dengan celoteh yang punya blog, tapi tidak bakal disampaikan begitu saja di komennya. Biasanya cuma dipendam atau digosipin di balik layar…he…he. Akibatnya si pemilik blog pun gak akan menyadari bahwa ada yang salah dengan kelakuan/pandangannya. Malah makin jumawa karena komen yang mengalir adalah yang mengipasi egonya.

Hal-hal seperti ini yang membuatku sempat apatis akan pertemanan di dunia maya. Nothing is real, all is just pretense.

Yang lebih bikin mual adalah pertanyaan yang aku ajukan ke diri sendiri: Apakah aku secara sadar atau tidak sadar juga melakukan pencitraan atau bahkan manipulasi? Tidak kah ada orang di ujung sana yang diam-diam juga memperhatikan tulisanku dengan sinis sambil berkata, ‘Ah, lo cuma pencitraan!” Apakah yang aku proyeksikan di tulisan-tulisanku memang aku atau personaku? And then, do I gain something out of this projected image/s, baik itu materi atau non-materi?

Mules mikirin ini karena akan mulai dengan pertanyaan, siapa aku sesungguhnya? Bahasan yang masuk ke ranah filosofis, psikologis, dst. Dan akhirnya juga harus kembali mengevaluasi motivasi kenapa ngeblog, apa yang memicu aku untuk akhirnya mulai menulis.

Bakalan panjang nih. Lanjut besok aja deh.

(to be continued)

Italian Dinner

Ceritanya lagi jenuh masak. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mencoba resep baru atau yang jarang dipraktikkan. Kebetulan punya satu buku masakan Italia yang cakeppp banget tampilannya. Cuma satu dua resep yang pernah aku coba dari buku itu. Salah satunya adalah Chicken with Green Olives yang rasanya unik dan beda dengan masakan Indonesia atau Amerika (yg biasanya bland alias hambar).

Bumbunya gak banyak, cuma bawang bombay, bawang putuh, garam, lada. Simple banget kan? Yang bikin meriah adalah sayur-sayurannya yg terdiri dari jamur, paprika, tomat, dan buah zaitun yang udah dibuang bijinya. Ada juga bahan white wine (anggur putih) yang aku gak pake dan ganti dengan kaldu ayam (kaldu ayam blok dilarutkan di air panas) serta krim kental yang aku ganti dengan half and half (semacam creamer buat minum kopi). Oh ya, zaitun hijau pun aku ganti dengan yang hitam karena adanya yang item euy.

Belum jadi aja, baru tahap numis si ayam, si Darrel sudah berkicau, “Sedap banget baunyaaa…lapeerrrr…” Tapi karena waktu memasak makanan ini cukup lama (kira2 satu jam ples persiapan 15 menit), terpaksa dia harus sabar menanti. Sempat ada kendala dengan pembuka kaleng elektrik yang lepas bagian pisaunya, sehingga aku harus membuka kaleng dengan cara tradisional yaitu dengan pisau..ha…ha. Jadi makin lama deh proses masaknya.

Tapi, waktu masak yang lama itu sebenarnya lebih banyak dihabiskan si ayam di dalam oven. Alhasil, selama dipanggang, aku bisa nati balet dulu, koprol, joget2 keliling lapangan, jadi gak berasa lama sih. Bedakan dengan lamanya proses bikin mpek2 atau risoles misalnya, yang mayoritas dihabiskan dengan bergelut (sumooo kalik) dengan bahak dan proses pembuatannya.

Setelah satu jam lebih menanti, akhirnya si ayam zaitun ini matang juga dan siap disantap. Rasanya? Hmmm…lekker sulekker dehhh. Gurih, creamy, asem2 (pas ketemu tomat), gitu deh. Buat yang gemar makanan Erofahhh, silakan dicoba yaaa.

image

Continue reading