Ramadhan – Day Two

Di hari kedua Ramadhan, kami dengan nekadnya langsung memberanikan diri untuk pergi ke luar. Soalnya seharian mendung, udara juga tidak terlalu panas. Lagipula memang gak mungkin deh kami terus mengurung diri di rumah yang selalu ber-AC saat musim panas sementara bahan pangan sudah menipis. Oh ya, musim panas di sini buatku terasa lebih panas dan terik daripada di Jakarta. Kelembapannya juga jauh lebih tinggi. Saat suhu memuncak atau ada heatwave, biasanya juga ada peringatan bagi warga untuk tidak ke luar rumah kalau tidak perlu dan selalu minum air agar tidak dehidrasi. Kalau pernah baca berita, mungkin pernah tahu bahwa serangan gelombang hawa panas bisa menyebabkan kematian, terutama di kalangan lansia dan anak2. Panasnya memang bukan main2. Makanya kami selalu menghidupkan AC saat musim panas, dan juga menyalakan AC di mobil. Apalagi dengan adanya anak batita bersama kami, yang tentu kesehatan dan keselamatannya menjadi prioritas kami.

Kembali ke cerita, pergi pertama kali pada Ramadhan kali ini adalah menuju IG alias Toin, sebuah toko yang menyediakan bahan pangan dari negara-negara lain. Toko ini cukup lengkap buat kami karena menjual bahan pangan seperti Indomie, tahu, sayuran “eksotis” seperti toge, pare, bok-choy, dll. Harga barangnya juga lumayan, gak mahal2 amat, asal jangan dibandingkan dengan harga di negeri asalnya lo yaaa. Harga sekantung kerupuk udang mentah misalnya, mencapai hampir tiga dolar. Kalau di Indonesia kan udah dapet satu ember ya? Tapi, namanya di rantau,  meski mahal dan sebenarnya tidak esensial (gak makan pakai keru[uk udang juga gak akan mati kaaaan?), tetap saja aku masih suka kalap sendiri kalau ke ToIn.

Menjelang Ramadhan padahal aku sudah membatin…kenapa ya orang berlomba-lomba membuat atau membeli makanan-makanan istimewa dan justru menjadi bertambah konsumtif saat bulan puasa? Bulannya itu ironis ya? Puasa intinya menahan hawa nafsu. Tapi kenapa justru nafsu akan makanan jadi memuncak sampai kayak balas dendam gitu? Toh nantinya pas buka puasa juga gak akan bisa masuk semua makanan itu ke dalam perut, biasanya malah banyak bersisa dan akhirnya jadi penghuni kulkas dan lama-kelamaan jadi UFO deh…objek misterius dalam kulkas…ha..ha.

Tapi kemudian di dalam ToIn, aku melihat apa coba? Rambutan dan kelengkeng kalengan! Lah…ini kan seger banget buat buka puasa! Aku dengan semangat menunjukkan pada anak-anakku gambar rambutan dan kelengkeng. Mereka baru sekali pernah makan rambutan 1/2 segar (karena tampilan luarnya sudah lusuh dan rambutnya lemas semua akibat perjalanan jauh dr negara tropis ke sini). Akhirnya masuklah 4 kaleng buah tropis ke dalam keranjang. Belum berapa langkah dalam toko, sudah ketemu lagi bahan ini dan itu. Aku langsung mikir, mau masak ini, itu…ah..ini enak ni…wah..mau dong yang itu. Maka, daftar belanja pun dilempar ke luar jendela…ha..ha..ha. Niat mulia untuk menahan diri dari menyetok bahan makanan entah sudah pergi ke mana. Hehhhh….*menunduk lemas*

Oh ya, di hari kedua ini anak-anak sudah menunjukkan kemajuan dengan tidak melihat-lihat buku resep sepanjang hari…ha…ha…ha. Tapi teteuppp ya…ada yg pengumuman, “Laperrr…laperrr.” Bahkan si Darrel tadinya gak mau diajak ke Toin. “Banyak makanan enak di situ. Nanti aku tergoda.” Ceileeee…ha..ha..ha. Akhirnya setelah dibujuk dan diiming-imingi boleh beli es krim mochi buat buka puasa nanti, dia mau juga turun dari mobil.

Sepulang dari ToIn, suamiku dan anak-anak pergi sholat Jum’at sedangkan aku dan Ghaazi tetap di rumah karena Ghaazi harus makan dan istirahat bobo siang. Hari masih sangat mendung dan menjelang malam, hujan badai datang. Hujannya deras sekali disertai angin kencang. Rupanya ini imbas dari badai Bill yang menerjang dari arah selatan. Peringatan banjir disiarkan di TV. Aku meminta Imo untuk mengawasi naiknya permukaan genangan air di sekitar rumah. Alhamdulillah, untung tidak terjadi banjir di sekitar rumah, meski ada ruas jalan tak jauh dari tempatku yang ditutup karena kebanjiran.

Begitulah, Ramadhan hari kedua berjalan dengan baik. Anak-anak cukup puas berbuka dengan hidangan sederhana (tumis toge tahu, nugget ikan goreng) dan camilan yang dibeli dari ToIn…he…he.

Advertisements

3 thoughts on “Ramadhan – Day Two

  1. Hehehe… soal pergi ke toko Asia apalagi yang menjual bahan pangan Ind, kalap itu normal. Karen aitu kalau ke toko Asia, aku sebaiknya belanja sendiri. Soalnya kalau sama suami atau anak, jumlah belanjaan jadi membludak. Suami minta dimasakin apa, anak minta apa. Belum lagi soal buah2an dalam kaleng yg sekaleng nggak cukup buat sekeluarga. Semoga puasa kalian lancar, Irma.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s