Tentang Imo (Renungan Kala Ultah)

Hari ini, 13 Mei 2015, anak pertamaku ulang tahun ke-13. Hal pertama yang diucapkannya: “Yay, sekarang bisa buka akun Facebook!” Loh? Ha..ha..ha. Rupanya dari kemaren-kemaren dia udah ngidam pengen buka akun Facebook karena teman-temannya juga sudah banyak yang punya. Padahal emaknya aja paling males update status di Facebook. Paling cuma baca-baca status orang sambil sesekali komen.

Imo, memasuki usia yang sudah masuk kategori remaja. Banyaaaak sekali doa dan harapan yang aku pintakan untuknya, tidak saja di hari ultahnya, tapi di banyak kesempatan. Entah kenapa tiap kali ingat Imo, aku selalu ingin menangis…ada rasa penyesalan begitu dalam karena sering merasa tidak maksimal dalam banyak hal. Masih sangat kurang sabar menghadapi anak yang sedang puber, masih kurang sering menunjukkan rasa sayang, masih sering marah dan menuntut terlalu banyak terhadap dia yang masih remaja dan jelas belum sepenuhnya dewasa pemikirannya. Halagh…aku yang sudah setua ini saja masih sering childish kok.

Padahal banyak sekali hal positif dari seorang Imo. Dia dari kecil sangat tabah. Bertahun-tahun duduk di atas motor di antara ayah mamanya tiap kali bepergian dalam kondisi kepanasan atau kehujanan, tidak pernah dia mengeluh. Berpisah berbulan-bulan dari mamanya saat berusia 4 tahun, hanya pernah kepergok menangis dua kali saat dia begitu merindu. Menempuh perjalanan naik pesawat lebih dari 24 jam demi bisa bertemu mamanya, dia tak mengeluh dan tak terlihat lelah meski sempat tak nafsu makan selama perjalanan. Mengasuh adiknya dia juga sangat telaten, sangat sabar menghadapi adek-adeknya, malah lebih sabar dari mamanya. Di sekolah dia tak pernah bermasalah, malah sering dipuji gurunya. Prestasi akademiknya luar biasa, sampai mewakili sekolahnya dalam scholar bowl (semacam cerdas cermat). Teman-temannya juga banyak dan rata-rata mereka baik. Beberapa kali ortu murid lain meminta agar anaknya bisa playdate dengan Imo, yang artinya dia dianggap “anak baik” oleh para ortu tersebut. “I wouldn’t mind having a class full of Imos,” (saya gak keberatan kalau semua anak di kelas saya seperti Imo) begitu kata guru kelas 1 SDnya dulu, yang sempat sukses bikin aku mewek di depan gurunya itu,

Imo anak baik, Imo anak baik…mungkin ini “mantra” yang harus berulang kali aku ucapkan saat dia berlama-lama menunda melakukan tugas di rumah (chores) atau saat dia lupa membuang bungkus makanan di tempat sampah, atau lalai menjaga adik batitanya karena terlalu asyik membaca. Tuh lihat…ternyata sangatlah pendek daftar “minus”nya Imo dibanding “plus”nya.

Imo yang 13 tahun, makin tinggi badannya, sudah melebihi mamanya (yang memang bantet pake banget), dan sering bikin mamanya tak percaya bahwa dia ini bayi merah yang pernah bergerak-gerak dalam perut, yang bisa diajak menendang kotak tissue yang ditaruh di atas perut. Selamat ulang tahun ya, nak. Semoga Allah selalu melindungi dan mencintaimu.

Advertisements

8 thoughts on “Tentang Imo (Renungan Kala Ultah)

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s