Pencitraan

Sudah setahun belakangan ini hasrat menulisku terjun bebas hingga ke titik nadir. Padahal dulu aku produktif sekali. Memang faktor pindahan dari Multiply (MP) ke WordPress jadi salah satu penyebabnya. Tapi ada satu hal lebih besar lagi yang membuatku jadi segan menulis, yaitu masalah pencitraan.

Sebenarnya sadar atau gak sadar hampir setiap orang pernah melakukan pencitraan, yaitu membuat gambaran atau persepsi tentang dirinya yg kemudian ditangkap oleh orang lain. Saat kita menulis tentang hobi beberes kita dan mengomel panjang lebar tentang orang yg jorok berantakan, misalnya, orang akan mengira kita adalah si pembersih yang rapih dan apik. Jika kita konsisten memproyeksikan image yang sama maka itulah pencitraan atau gambaran yg akan ditangkap pembaca atau dalam hal media sosial oleh kontak/teman/pengikut kita.

Entah kebetulan atau aku memang naif (baca: geblek), beberapa kali aku termakan pencitraan. Bukan sekedar pencitraan kelas kecebong, tapi kelas kakap karena sudah menjurus ke manipulasi. Manipulasi dalam artian pencitraan yang dilakukan utk mengeruk keuntungan, baik secara materi atau non-materi, seperti misalnya pencitraan demi meraih dukungan atau posisi terhormat di antara peers atau teman-temannya.

Dan memang media sosial adalah lahan yang sangat subur untuk para manipulator karena teman dunia maya tidak secara langsung/face to face dan real time dalam berinteraksi. Tidak ada pre-conceived notion atau gambaran awal tentang siapa yang ada di ujung sana kecuali dari tulisan yang sudah diramu, foto yang sudah diseleksi, dan komentar yang sudah dimoderasi. Mengikuti sifat dasar yang serba instan, pertemanan dapat begitu cepat terjalin meskipun kita tidak benar-benar tahu siapa dan bagaimana teman maya kita itu. Ada hal-hal yg hilang dari bahasa tulis yang sialnya sering membuat radar kewaspadaan kita jadi tumpul seperti ketiadaan ekspresi wajah, gerak tubuh, nada bicara. Pembuktian akan sebuah klaim juga sulit dilakukan di dunia maya, karena keterbatasan kita dalam berinteraksi langsung di waktu sesungguhnya dengan teman maya kita.

Misalnya ada yang mengklaim dirinya sebagai seorang gentleman yang selalu memberikan tempat duduknya pada ibu hamil/orang tua/orang berkebutuhan khusus jika sedang di atas kendaraan umum yang penuh melalui postingan tentang pengalamannya terkait dengan tindakan mulia itu, lengkap dengan foto jepretan kamera yang menunjukkan wajah penuh senyum dari si penulis yang lagi berdiri gelantungan di kereta api/bus dengan keterangan “Tetap cerah ceria meski gelantungan dan berdesakan.” Gak cuma sekali tapi berulang kali yang tentu saja disambut dengan banyak komen penuh pujian dan kekaguman. Sebagai yang bukan teman, keluarga atau siapa-siapanya di dunia nyata, kita gak bisa membuktikan klaim kepahlawanannya tersebut karena tidak selalu berada di dekat dia, nempel kayak perangko, saat sedang berkendaraan umum. Bahkan yang sudah pernah kopdar dengannya, misalnya, juga belum tentu bisa membuktikan, karena bisa jadi pas kopdar saja si penulis melakukan praktik mulianya itu.

Satu hal lagi tentang dunia maya serba instan ini, para komentator juga biasanya membuat pencitraan sebagai komentator manis nan baik hati. Tapi catet…ini berlaku untuk blog yang isinya seputar kehidupan dan pengalaman si penulis, bukan yang berisi opini apalagi opini politik. Tidak ada yang mau disebut sebagai komentator nyinyir yang suka nyindir. Basa-basi berkepanjangan, ewuh-pakewuh berlebihan, biasanya berlaku. Dan ini sering kali aku temui terutama di medsos yang dulu aku geluti. Meski misalnya komentator kurang sreg dengan celoteh yang punya blog, tapi tidak bakal disampaikan begitu saja di komennya. Biasanya cuma dipendam atau digosipin di balik layar…he…he. Akibatnya si pemilik blog pun gak akan menyadari bahwa ada yang salah dengan kelakuan/pandangannya. Malah makin jumawa karena komen yang mengalir adalah yang mengipasi egonya.

Hal-hal seperti ini yang membuatku sempat apatis akan pertemanan di dunia maya. Nothing is real, all is just pretense.

Yang lebih bikin mual adalah pertanyaan yang aku ajukan ke diri sendiri: Apakah aku secara sadar atau tidak sadar juga melakukan pencitraan atau bahkan manipulasi? Tidak kah ada orang di ujung sana yang diam-diam juga memperhatikan tulisanku dengan sinis sambil berkata, ‘Ah, lo cuma pencitraan!” Apakah yang aku proyeksikan di tulisan-tulisanku memang aku atau personaku? And then, do I gain something out of this projected image/s, baik itu materi atau non-materi?

Mules mikirin ini karena akan mulai dengan pertanyaan, siapa aku sesungguhnya? Bahasan yang masuk ke ranah filosofis, psikologis, dst. Dan akhirnya juga harus kembali mengevaluasi motivasi kenapa ngeblog, apa yang memicu aku untuk akhirnya mulai menulis.

Bakalan panjang nih. Lanjut besok aja deh.

(to be continued)

Advertisements

13 thoughts on “Pencitraan

  1. Mba Irma…udah lama ga bersapa di dunia maya πŸ˜€
    Pertama kali komunikasi di MP dulu sama Mba Irma tentang dekonstruksi Derrida πŸ˜€

    hehe digarisbawahi yang digosipin di balik layar. Pernah beberapa kali ikut kopdar. Aku ga ngeh sama objek obrolan beberapa teman kopdar. Pas aku tanya “siapa ya yg diobrolin?” mereka jawab “anu”. Trus aku blank karena ga tahu dan ga kenal. Tapi suatu hari aku dapati si anu yg digosipin komen di postingan temen yg gosipin itu, dan si teman menjawab dengan manis…

    hehehe itu lah manusia…sereeem πŸ˜€

  2. One face to show the whole world, one face to show your friends and family, one face to show your closest loved ones, one face for yourself only, kept hidden in the darkest pit of your heart.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s