Perjalanan Menyambut Mereka

Perjalanan pertama adalah dengan naik taksi. Datang jam 2 pagi. Masih bisa tertawa, ngobrol dengan supirnya meski sedikit cemas karena ketuban telah pecah. Bersyukur ada yang bersedia mengantar, karena jarak rumah ke rumah sakit cuma sepelemparan batu. Perjalanan pendek di jalan lengang di ruas jalan yang biasanya macet pada jam kerja. Masih ada beberapa mikrolet, metro mini, kopaja yang melintas. Sementara lampu jalan dan gedung menerangi gelapnya malam di tengah kota Jakarta. Benar saja, argo tidak beranjak jauh ketika kami tiba di rumah sakit. Kami beri lebih untuk menghargai si supir yang tampaknya ikut bahagia karena penumpangnya hendak menyambut sesuatu yang luar biasa. Sampai rumah sakit pukul 2 lebih lima menit. Imo hadir pukul 8.30 pagi.

Perjalanan kedua lebih menegangkan karena disertai kontraksi bertubi-tubi dan ketakutan akan terlambat sampai di klinik. Kali ini naik mobil papaku, disupiri adik laki-lakiku. Melewati jalan sempit pinggiran kota yang lumayan sepi. Mungkin karena masih hari raya dan sudah banyak orang pulang kampung. Kami berangkat menjelang pukul 11 malam dan saat itu turun hujan. Tambah lagi satu ketakutan, kalau ngebut saat hujan malam hari, apa tidak berisiko? Akhirnya bukan menyuruh adik memacu kecepatan, malah berulang bilang hati-hati, jangan ngebut. Padahal sakitnya sudah tak tertahankan. 10 menit kemudian sampai klinik dan pukul 11 malam, Darrel lahir.

Perjalanan ketiga adalah yang paling tenang. Dengan mobil sendiri, disupiri suamiku. Berangkat jam 4.30. Masih bisa memfilmkan perjalanan sambil menghitung jarak kontraksi. Terasa berbeda ketika kami menyadari bahwa untuk kelahiran kali ini, kami berada di negeri orang. Kota kecil ini masih sangat sepi, hampir tak ada kendaraan lain yang lewat. Yang ada malahan seorang pengendara sepeda yang melintas dan membuat kami keheranan. Melintasi rel yang tak sedang dilewati kereta. Tiba di rumah sakit 10 menit kemudian, disambut satpam yang mengambilkan kursi roda. Pukul 7.10 pagi, Ghaazi menyapa dunia.

Ketiganya perjalanan yang tak kan terlupakan. Ketiganya menghadirkan tiga harta tak ternilai yang selalu membahagiakan hati.

Advertisements

13 thoughts on “Perjalanan Menyambut Mereka

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s