Efek Punya Anak Lagi

Ghaazi (6 bulan 10 hari) lahir sepuluh tahun setelah kakak sulungnya (Imo) dan 7 tahun setelah kakak keduanya (Darrel). Ada rentang yang cukup jauh antara Darrel dan Ghaazi dan ini ternyata berdampak cukup signifikan, antara lain:

1. Banyak lupa

Karena jarak yang cukup jauh, aku (dan suamiku) sering kali lupa soal detail perawatan anak di jamannya Imo dan Darrel. Percakapan semacam di bawah ini bukan cuma satu dua kali terjadi:

Emak Kece: “Yah, dulu tuh Imo mulai dikasih susu formula umur berapa bulan sih? Kayaknya udah 4 bulan ya?”

Ayah Ganteng: “Ah enggak ah, kayaknya sebelum 4 bulan juga udah dikasih. Ayah inget dulu si Yanti (baby sitter pertama kami), bikin susu formula buat Imo pas di Pamulang (rumah ortuku, tempat Imo dibesarkan dalam 3 bulan pertamanya/semasa aku masih cuti melahirkan).”

Emak Kece: “Ah mosok? Bla..bla..bla…”

Enggak ada yang inget tepatnya gimana. Wong gak pernah dicatat. Belum mulai nulis di blog juga, jadi milestones juga gak ada yang kecatet lengkap, kecuali cuma coretan singkat di buku kesehatan Imo dan Darrel.

Atau kalimat seperti ini: “Eh kok udah mulai mau berdiri dan lompat-lompat gini ya? Loh dulu Imo dan Darrel mulai lompat2 umur berapa sih?” Lalu mulai lah kami berdua main tebak-tebakan, “Kayaknya bulan segini…” yang ujung-ujungnya tetap gak yakin sebenarnya kapan anak pertama dan kedua itu melakukan apa yang baru saja dilakukan si adik.

Kelupaan-kelupaan ini mengantar kita ke poin kedua, yaitu;

2.Β  Harus banyak belajar dari awal lagi

Yap, meskipun orang lain berasumsi bahwa kami sudah cukup pro dalam hal membesarkan anak, tapi kenyataannya banyak yang harus kami pelajari dari awal lagi. Kadang-kadang aku cuma bisa meringis dan berucap dalam hati: ‘Yeee… belum tahu aje lu’ kala suster di rumah sakit dulu berucap: “Oh, gak jadi ke kelas singkat ‘cara mandikan bayi’? Oh iya, ini bayi ketiga ya? Malah mungkin ibu yang bisa jadi instrukturnya ya?” Senyum aja. Tanda terima kasih karena dibaik sangkakan…he…he. Atau dokter anaknya gak berlama-lama kasih pengarahan soal ngasih makanan pertama ke anak sambil berseloroh, “Ah, Anda pasti sudah tahu, kan sudah ada 2 anak sebelumnya.” Padahal mah, aku ingetnya cuma samar-samar.

Jadi, kemana dong belajar laginya ini? Alhamdulillah ada Internet all you can eat eh browse di rumah, jadi kalau mau cari info soal perawatan anak amatlah mudah. Situs-situ soal ini ngujubile banyaknya, tinggal pilih aja. Yang termasuk paling sering aku kunjungi sih yang ini. Selain lengkap, juga penyampaiannya simpel, mudah dimengerti. Selain itu aku juga berlangganan dua majalah parenting. Yang asli langganan sendiri cuma satu, yang satunya lagi hadiah dari rumah sakit tempat aku bersalin. Masih haus akan ilmu perbayian? Masih ada satu buku primbon tuebelll banget yang aku punya, judulnya: What to Expect: The First Year. Jujur, sumber yang ketiga ini yang paling cepat aku abaikan jika lagi sibuk. Lebih praktis buka Internet soalnya.

Selain unsur sudah banyak lupa, menurutku belajar lagi soal perbayian juga penting karena apa-apa yang dulu kita jalankan belum tentu masih berlaku sekarang ini. Ilmu kesehatan dan psikologi anak berkembang terus, pasti ada hal-hal baru yang ditemukan dan mungkin berharga buat diterapkan ke anak kita. Contoh paling nyatanya adalah soal ASI eksklusif. Kalau dulu, jamannya Imo, ASI eksklusif disarankan hanya 4 bulan saja, tapi sekarang dianjurkan sampai 6 bulan. Dan masih banyak lagi hal-hal semacam itu.

3.Β  Bala bantuan yang lebih siap dan mumpuni

Jarak yang jauh antara anak ketiga ini dengan dua kakaknya mendataangkan bonus manis berupa dua tenaga bantuan yang sigap untuk membantu. Imo dan Darrel sudah cukup besar untuk mengerti bahwa emaknya kerefotan ngurus adik bayi, dan mereka sering menawarkan diri untuk menjaga dan bermain dengan adiknya. Kalau adiknya habis minum susu, mereka dudukkan atau gendong, lalu tepuk-tepung punggungnya supaya sendawa. Ketika adiknya mulai latihan duduk, mereka sigap kasih bantal sekelilingnya supaya bisa mendarat dengan lebih halus.

Selain itu, di kala emaknya kerepotan bergulat antara ngurus bayi dan ngosek sumur, dua anak ini sudah mandiri. Mereka bisa menyiapkan makan sendiri, meski hanya bikin telor ceplok dan masak nasi. Urusan lipat pakaian juga sudah bisa mereka hendel, dan banyak house chores lain yang mereka jadikan rutinitas, demi membantu emaknya.

Sounds too good to be true? He…he…sebenarnya sih ada juga masanya dimana mereka mungkin kembali ke tabiat anak2 yang maunya main atau baca buku melulu hingga lupa bantu emaknya. Dan si emak atau bapak harus ceriwis bahkan mere2 dulu untuk mengingatkan. Tapi all in all, mereka berdua sudah sangat membantu.

Kebayang kalau jaraknya cuma satu atau dua tahun saja. Boro-boro bisa membantu, yang ada mungkin malah jadi sibling rivalry, saingan dengan si adek bayi.

4. Diingatkan untuk lebih sayang dan sabar terhadap kakak-kakaknya

Aku ini emak2 tipe suka mere2. Tipe emak-emak paling kacrut dan gak oke banget. Apalagi Imo dan Darrel sekarang sudah mulai sering berantem. Seringnya sih adu argumentasi. Capek kan kalau jadi wasit melulu, akhirnya emaknya keluar tanduk di kepala dan api dari mulut deh . Padahal paham banget kalau seharusnya gak usah pake mere-mere.

Punya Ghaazi, melihatnya begitu lucu, menggemaskan dan bikin hati berbunga-bunga mengingatkanku kembali bahwa: ‘Hey, Imo dan Darrel dulunya juga kayak gitu loo! Dan inget gak betapa dulu, apapun yang mereka lakukan, kamu masih bisa sabaaaar, gak ada marahnya samsek? Kenapa sekarang gak bisa gitu juga ya? Ya mungkin bukan artinya jadi permisif, tapi caranya kan bisa lebih lembut dan penuh kasih sayang, sama seperti perlakuanmu ke Ghaazi.’

Serba-serbi punya bayi lagi setelah tujuh tahun ‘kosong’ memang cukup unik buatku. Insya Allah, gak ada penyesalan sama sekali. Meski usia sudah hampir kepala empat, meski jarak anak kedua dan ketiga lumayan jauh, masih ada banyak hikmah dan sisi manis lain dibandingkan kerepotan dan tantangannya. Alhamdulillah.

Advertisements

40 thoughts on “Efek Punya Anak Lagi

  1. beuh…. diborong πŸ˜€

    fotonya mana mbak?

    apa lupa juga kalau dulunya narsis?
    xixixixixixi

    pengen lihat foto emak kece…. eh… ade bayi maksudnya…

  2. asik ada bala bantuan dari dua abang buat ghaazi.. lucu baca namanya, sebab daku blom “gaji”an oi, akhir bulan ini.. πŸ˜€

    semoga selalu sehat ya.. lamalama juga inget walupun lupa..

  3. Beda umur 7 tahun masih dekat kok dibandingkan beda umur adikku hampir bungsu dan yang bungsu beneran, 13 tahun. Beda umurku sama adik bungsuku 17 tahun. Kebayang jadinya kan kakak & adik yang lahir di era yg berbeda, yang 3 lahir di era disco tahun 70-an, dan yang bontot lahir di era NSync tahun 90-an. Aturan main berubah sama sekali terutama buat mama. Herannya beliau ingat detail demi detail perkembangan 3 anaknya yg lebih tua. Yang paling kuingat justru betapa beberapa orang beranggapan adik bungsuku itu anakku, hehehe.

    • Wah, 13 tahun? Itu kalau di Indonesia sudah disebut sebagai “kebobolan” ya? Dan yang anggap adik bungsu sebagai anaknya mbak Di sih terlalu deh. Suuzhon mengarah fitnah itu sih.

      Hebat mamanya masih ngat meski jaraknya jauh begitu. Mungkin juga aku gak ingetnya karena dulu kan mengasuh anak dibantu baby sitter dan aku masih bekerja full-time (waktu Imo) dan serabutan tapi sibuk juga (waktu Darrel). Tapi banyak juga hal-hal yang setelah beberapa saat mulai teringat kembali.

      • Pas adikku umur 4 tahun, suatu hari kubawa ke mall. Dia memang agak mirip sama aku dan manja, maklum kan beneran bayi. Di mall, dia aku ajak naik boom-boom car dan seorang bapak yang jaga tempatnya ceritanya merayu bilang,”Ayo mbak, ajak anaknya main!” Langsung aja adikku nyahut dengan ketus (dengan bahasa anak umur 4 tahun), “Ini kakaku, bukan mamaku!” Hahaha…

      • Tapi itu cuma contoh satu kejadian, loh. Beberapa yg lainnya bikin mangkel banget soalnya kayak pas ke pasar diomongin (kedengaran soalnya),”Masih muda sudah punya anak”.

  4. seruuu..jadi belajar banyak lagi yaaa setelah Ghazi lahir, kaku2 gendong dan ganti popok gak Mbak ?
    aku ggantiin popok ponakan aja udah agak kaku hahaha..gimana mau nambah adeknya della nii..udah 10 thn πŸ™‚
    Iya..fotonya mana dong foto teteeep πŸ™‚

  5. halo mbak irma, baca postingan ini saya jadi mikir-mikir juga tentang milestone anak pertama. dan hasilnyaaaa,,,saya juga ga inget detailnya, padahal baru 2,6 tahun yg lalu, hehehe..
    mungkin suatu pertanda kalo kita harus selalu nyatet perkembangan anak ya mbak supaya bisa tetep inget dan buat kenang-kenangan juga πŸ™‚

    • Iyaaaa…manusia banyak lupa yak. Untungnya banyak juga sumber2 yang bisa kita dapat di luar sana.

      Enggak jealous, teh. Mereka keliatan sayaaang banget sama adeknya malahan. Cuma Darrel yang lucu, protes soal ASI. Nanti ya aku ceritain, bisa jadi bahan postingan..hi…hi.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s