Abaikan Orang Gila

Beberapa hari yang lalu, aku dan si Ayah berbincang dengan Imo soal street smart, alias gimana caranya bisa bertahan di dunia luar, di jalanan dengan cara yang cerdas. Yang termasuk street smart adalah gimana caranya menggunakan alat trasportasi umum, bisa menghindar dari kejahatan copet, jambret, preman tukang palak, dan penjahat-penjahat jalanan lainnya, serta hal-hal lainnya yangberhubungan dengan survival di dunia luar. Intinya sih kalau orang punya “kecerdasan jalanan” (bukan terjemahan yg tepat, tapi dipakai dulu deh), maka dia bisa keluar rumah, sampai tujuan dan pulang kembali ke rumah dengan selamat tanpa harus ditemani ortunya, atau diantar pakai mobil pribadi.

Sebenarnya anak-anak kami termasuk kurang terasah kecerdasan jalanannya karena kemana-mana selalu kami dampingi. Kalaupun pernah memakai jasa bus umum, selalu bersama ayah atau mamanya. Mereka juga tidak kami perbolehkan untuk jalan sendiri ke Walgreen’s, sebuah mini market dan toko obat yang letaknya cuma sepelemparan batu dari rumah kami. Alasannya karena daerah tempat tinggal kami bukan termasuk daerah aman, terlalu dekat dengan jalan raya pula. Kami takut kalau mereka kenapa-kenapa. Tapi ya akibatnya mereka jadi tidak pernah merasakan nikmatnya bisa meluncur kemana-mana sendirian.

Padahal dulu, jaman emaknya masih SD sudah biasa naik sepeda sampai ke jalan raya dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Seringnya beramai-ramai dengan teman-teman sih. Ealah, dari TK juga sudah bisa berangkat sekolah barengan teman-teman ding. Jagoan banget sekarang kesannya. Apalagi pas jaman SD itu, jalan kakinya tidak menyusuri jalan raya yang tiada bertrotoar (biasa deh jalanan di pinggiran Jakarta), tapi menempuh jalan tembus, melintasi hutan dan menerobos halaman rumah orang. Selain supaya lebih cepat dan pendek jarak tempuhnya, juga supaya adem. Di perjalanan, suka dapet bonus buah kecapi yang berjatuhan, hmmm..manis-manis asyem rasanya. Petualangan banget deh rasanya.

Suka kepikiran juga, kenapa ortuku jaman dulu itu begitu “berani” melepas anaknya ini untuk pulang berjalan kaki, padahal cukup jauh juga lo. Lagipula, apa gak takut kalau aku diculik atau kenapa-kenapa? Mungkin karena kondisi jaman dulu berbeda ya dengan sekarang, kejahatan belum sebegitu parahnya. Atau mungkin ortuku percaya bahwa aku cukup bisa menjaga diri dengan bekal diwanti-wanti selalu untuk tidak bicara pada orang asing, jangan mau kalau diajak pergi orang asing, dan wejangan-wejangan lain yang sebenarnya sama saja dengan pembekalan “street smart.”

“Alhamdulillah, selama itu mama gak pernah ketemu yang macem-macem, nak. Mungkin juga karena kakek-nenekmu selalu mendoakan supaya Allah selalu melindungi anak-anak mereka,” begitu tuturku pada Imo.

“Jadi mama gak pernah ketemu penjahat?” tanya Imo.

“Gak pernah, tapi pernah ketemu orang gila,” jawabku.

Biasanya di setiap daerah ada saja “urban legend” atau legenda orang-orang unik yang menarik dan ceritanya bertahan selama bertahun-tahun. Salah satu jenis orang-orang unik ini adalah penderita sakit jiwa yang berkeliaran di tempat umum. Kalau jaman SD dulu, ada perempuan sakit jiwa bernama Ijah yang katanya gemar mengejar dan menimpuki kaum pria dengan batu. Konon dia menjadi gila karena diperkosa sekelompok bedebah. Karena itu Ijah hanya mengincar kaum adam sebagai sasaran timpukannya. Ada lagi legenda seorang bapak setengah baya (lupa namanya) yang gemar naik vespa dan mencoleki bagian privat anak-anak perempuan yang ditemuinya. Meski masih SD, cerita-cerita semacam ini sampai juga ke telingaku dan teman-teman sebayaku. Kami kemudian jadi waspada dan saling menjaga saat pulang sekolah bersama-sama.

Dan saat di SMP, aku kebetulan bersekolah di daerah Melawai, Blok M dan legenda orgil di wilayah Blok M adalah seorang perempuan bernama Maryam. Kabarnya meskipun gila, tapi dia doyan malakin orang. Gila kok tahu uang ya? Entahlah. Dan dengan Maryam lah aku sempat bertemu muka.

Jadi kisahnya, saat aku berjalan kaki sendirian dari sekolah ke terminal Blok M (di samping Blok M Plaza), untuk naik Patas 21 jurusan Blok M-Ciputat, aku tiba-tba dihadang oleh seorang perempuan berkostum acak-acakan. Lokasinya di trotoar persis samping Burger King, aku ingat sekali.

Tadinya aku masih belum nyadar kalau itulah si Maryam yang legendaris. Lalu dia berkata, “Mana duitlo, sini kasih gue atau gue ludahin lo!”

Glek. Ini rampok kok ngancemnya ngeludahin sih?

Aku sempat terpana, bengong. Musti gimana ya?

Lalu aku lihat di belakang si perempuan itu ada seorang pedagang asongan yang memberi kode-kode ke aku bahwa itu perempuan gila dengan menyilangkan jarinya ke jidat. Baru paham deh…ternyata ini yang namanya Maryam.

Rupanya si Maryam cukup sensi juga, dia tahu kalau ada orang di belakangnya. Dia lalu balik badan untuk mengetahui siapa orang yang berdiri di belakangnya. Saat itulah, otakku langsung klik bekerja otomatis dalam survival mode dan.. lariiiiiii sekencang-kencangnya meninggalkan Maryam yang tampaknya sedang marah-marah pada si abang asongan. Dalam hati aku berterima kasih pada si abang asongan yang kelihatannya memang berniat menolongku. Mudah-mudahan dia tak diapa-apakan oleh si Maryam atau setidaknya mampulah melawan.

Begitulah my first and hopefully last encounter with the crazy kind. Kenapa aku menghindar? Ya karena orgil gitu lo, mau diapain juga gak ngefek. Mau diajak ngomong baik-baik, semisal: “Mbak Maryam, sorry ya, duit gue cuma tinggal buat naik bus Patas biar bisa pulang ke rumah. Lagian gak bole tuh minta-minta uang yang bukan haknya. Mbak paham kan?” ya gak bakalan masuk juga. Namanya orang gila kan punya alam pemikiran sendiri yang biasanya berbeda dengan pemikiran kebanyakan orang normal. Mau ngelawan dengan cara bales ngeludahin dia seandainya dia melakukan ancamannya, ya gak level ah…emangnya gue llama, binatang mirip onta yang demen ngeludah.

Jadi memang jurus paling masuk akal dalam menghadapi orgil adalah dengan cara menghindarinya. Pameo lama “yang waras ngalah” tampaknya pantas dilakukan dalam menghadapi si Maryam ini. Dan akhirnya aku selamat pulang ke rumah, tanpa bekas ludah si Maryam atau kehilangan duit yang cuma segitu-gitunya. Sedangkan Maryam cuma bisa melemparkan kemarahannya ke siapa saja yang bisa dijadikan sasaran (si abang asongan) dan berakhir dengan tangan kosong, gak dapet hasil palakan.

Kecuali…kecuali jika skenarionya berubah, si Maryam balik badan dan terus berlari mengejar aku. Nah, kalau itu terjadi (dalam kenyataannya enggak sih), maka yang akan aku lakukan adalah…ciaaatttt…menghajarnya dengan tanpa ampun dengan jurus-jurus mautku…ha…ha…ha. Baru kemudian telpun RS Jiwa biar dia diikat dengan straight jacket dan dikurung agar tak mengganggu ketentraman. Syukur-syukur kalau bisa diobati.

Ya begitulah kisah “perjumpaanku” dengan orang gila bernama Maryam. Buat yang pengen tahu lebih banyak tips street smart bisa buka tautan berikut ini.

Apakah Anda pernah juga bertemu orang gila? Punya pengalaman bertahan di jalan dengan kecerdasan jalanan yang Anda miliki? Silakan share yak, gak usah malu-malu apalagi pake nutup muka pake tutup panci segala gitu…he…he…he.

Advertisements

33 thoughts on “Abaikan Orang Gila

  1. Dijekar gukguk pulang sekolah
    Gukguk nya gualak gualak
    Pernah baca di majalah bobo, kalau dikejar anjing jangan lari nanti anjingnya malah tambah agresif tapi diam mematung saja

    Nah 2 temenku lari tunggang langgang, akhirnya dikejarlah merekam sedang aq yg diem aja cuma digugukin sama 1 ekor (ada 2-3 guguk wktu itu)

    Gukguk yg di depanq lama2 diem sendiri sdg temenq dikejar smp bbrp meter 😀

    • Nah iya, itu salah satu contoh street smart. Aku baru tahu lo kalo dikejar anjing justru harus diem aja kayak patung. Aku pernah dikejar anjing pas lagi naik sepeda, bisanya cuma jejeritan sambil angkat dua kaki dari pedal, takut digigit.

    • Wah ini juga pengalaman yg nyebelin. Waktu aku di Bali tahun 2012 kemaren, pulang ke penginapan malam2 digonggongin anjing. Berisik banget. Pas naik sepeda motor, kami bisa agak cuek.

      Tapi pas baru datang, belum dapet sewa sepeda motor, tentunya jalan kaki. Hadeuh itu anjing berisik banget. Anakku udah gemeteran aja, aku bilangin diem aja jangan diliatin, bersikap seolah olah mereka gak ada.
      Kaminya jalan nyante aja, gak jalan terburu buru.
      Gak diapa apain, cuma menggonggong saja.

      Padahal kalau lewat jalan yang sama siang siang, anjingnya anteng anteng.

  2. Aku dulu malah dilepas pergi ke Bali sendirian waktu SMP. Eh gak sendirian deng, ada sepupuku yang nemenin.

    Kecerdasan jalanan masak kanak kanak atau masa dewasa?
    Waktu hamil gede aku pernah dilecehkan. Waktu aku lagi jalan kaki cari makan di luar kantor. Karena kantornya kecil, aku pegang kuncinya, maka aku kunci deh kantornya. Namanya kantor tentu kuncinya banyak, ada serenceng gitu deh.

    Aku jalan sama temenku, perempuan juga. Jalan beriringan dan posisiku deket jalan dan temenku di sebelah dalam. Lagi enak enaknya jalan, eh ada dua orang laki2 iseng, yang seorang tangannya mak plek pegang pantatku.

    Mendidih darahku, marah2, sontak lempar apa yang aku pegang. Karena pegang kunci serenceng, ya kunci yang aku lempar. Gak kena. si kampret itu ketawa ketawa. Makin mendidih darahku.
    Kurang ajar amat.

    Si dua cecunguk itu berlalu naik becak. Akupun juga naik becak, gak pake nawar dan bilang sama abang becaknya “pak, tututi becak ngarep iku” (pak, buntuti becak depan itu).

    Sebelum aku naik becak, aku mungut batu. Gedenya lumayan juga, segede kepala bayi.

    Pak becaknya mengacuh mbuntuti becak yang berpenumpang 2 cecunguk itu dan akhirnya terkejar dan posisinya di depan becak berpenumpang 2 cecunguk itu. Tanpa ba bi bu, batu segede kepala bayi yang udah aku genggam erat2 aku lemparkan dengan sekuat tenaga ke arah mereka. Tampang mereka terkejut karena mungkin gak mengira aku mengejar mereka sampe segitunya.

    Dan batu yang aku lemparkan pas mengenai biji salah satu cecunguk itu. Kebayang dong gimana jahanamnya rasa sakit si biji yang dilindunginya terkena lemparan batu. Mukanya meringis tiada tara.
    Kuapokkkkkkmu kapan. Aku puwas sekali (pake W saking senengnya).

    • Bisa kapan aja, mbak. Mustinya sih makin bertambah usia makin banyak bekal kecerdasan jalanan yg kita punya ya. Eh tergantung orangnya juga ding.

      Wih kurang ajyar banget emang yang suka grepe2 gitu, mbak. Pantes banget untuk ditimpuk pake batu, kena bijinya pulak. Sukuuuurrrinnnn.

      Kok aku lucu ngebayangin adegan becak yg ditumpangi mbak Evi ngebutmengejar becak para cecunguk…hi…hi. Seperti adegan film, kejar2an dengan penjahat, tapi pake becak.

      • Kalau diingat ingat lagi, memang lucu Sum.
        Hahahaha….

        Pas kejadian, wah geram sekali, apalagi konon katanya perempuan hamil itu emosinya gampang naik.

  3. iyaaaaa jaman kita *kita, elo kali mbaaak hahahaha, kayaknya aman2 aja. gue dititipin di restoran Aha sama emak, sementara dia karajo juga gak worried dia. dititipin sama tukang soto di mayestik, sementara dia belanja gak worried. lah sekarang… jangan sampe deeeeh…

    jamann gue kecil urban legend nya plastik man. nanti gue cerita ini deh di blog.

    trus bapak2 naek vespa versi gue, dia buka resletingnya mamerin penis kemana-mana. jadi survival kit kata emang adalah “bilang, iiiihh tititnya kecil amat. gak malu dipamerin.” untungnya jaman SD-SMP-SMA gak pernah ketemu si urban legend eksibisonis

    • Wooo…ternyata masa kecilnya di wilayah Melawai yak? Waduh, bisa banyak bahan obrolan neh kita. Aku dulu pas SMP kelas 3 di SMP 56, sedangkan SMAnya di SMA 6.

      He-eh, beda situasinya ya, dulu dengan sekarang. Dititipin di Aha? Lah, sampai berapa lama? Berjam-jam? Bosen dong.

      Loh, kok sama, bapak2 naik vespa? Jangan-jangan dimana-mana ya gitu, cuma modus operandinya aja yang beda.

  4. Pingback: Plastik Men | subjective. no limit. no censor.

  5. Pingback: PlastikMen | subjective. no limit. no censor.

  6. pengalaman berangkat sekolahnya sama…. lewat kebon… halaman rumah orang… bahkan sempat lompat pagar buat jalan pintas.

    *kapan2 nulis ah*

  7. Hihihihi… Bener banget mbak. Yang paling pas itu lari kalau ketemu orang gila dijalan atau cari jalan lain :)) gak ditebak maunya soalnya ya

  8. paling dicopet duit serebu di kantong backpack aja sih, di terminal blok M, tapi lumayanlah duit serebu waktu itu bisa buat naik kopaja ke BIntaro….

  9. Untungnya belum pernah ketemu yang aneh-aneh sepanjang petualanganku di dunia persilatan…. *ehh??
    Padahal aku dulu termasuk anak slebor yang sering kesasar. Sampe pas udah sekolah di bandung aja sempat kesasar gara-gara salah naek angkot. Dari Cimahi mau ke Dago malah nyampe ke Padalarang… 🙂
    Untungnya selalu ketemu orang-orang baik yang nolongin…

    Berkat doa ortu juga kali ya…
    Makanya sekarang setelah jadi ortu, tiap hari ngedoain anak-anak biar dijaga Tuhan dimanapun mereka.

  10. itu maryam legenda banget ya.. pernah diceritain sodara jaman dia sma di blok m..

    mmhh mo bilang, uwa daku sakit jiwa, suka larilari kejar orang pake parang.. jadi mbah ku simpan benda tajam dan uwa dikerangkeng deh..

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s