Jangan Mewek Melulu Ah!

Tadi pagi dari mulai jam 8.15, kami sekeluarga maraton dari sekolahnya Imo ke sekolahnya Darrel dalam rangka terima raport yang di sini istilahnya adalah Parent Teacher Conference (PTC). Sebelumnya, aku sudah mengisi formulir PTC dari kelas mereka masing-masing yang menanyakan kapan ortu bisa datang ke sekolah untuk bertemu dengan para guru. Tentu saja tanggal PTC sudah ditentukan, kami tinggal memilih jamnya. Sengaja aku memilih jam pagi demi menyesuaikan dengan jadwal kerja suamiku.

Dalam satu tahun biasanya dilakukan 3 kali PTC dan di situ kami diberitahu perkembangan belajar anak, bukan
sekedar bagi kertas terus pulang. Berarti sudah berkali-kali aku datang ke PTC, mustinya sudah biasa dan mustinya aku gak nangis2 lagi. Loh, kok nangis? Iyaaa… namanya juga emak2 tipe gampang terharu, jadi kalau gurunya menginformasikan perkembangan anakku, maka aku biasanya langsung mewek. Malu-maluin ya?

Waktu awal-awal PTC, pas Imo masih kelas 1 SD, huaaa… air mata sampai meleleh kemana-mana saking saat itu aku ngebayangin si Imo yang pas baru datang ke sini belum bisa bahasa Inggris sama sekali, dan kemudian bisa survive di sekolah baru, lingkungan baru dengan begitu mulusnya. Terharu banget. Lalu Darrel saat masuk pre-K, dari yang beberapa hari pertama selalu menangis sampai harus digendong gurunya yang mencoba menenangkannya, hingga kemudian dipuji gurunya karena berani tunjuk tangan utk menjawab pertanyaan di kelas. Semua info itu aku dapatkan saat PTC. Makanya, aku suka bekal tissue di tas setiap PTC demi mengantisipasi banjir air mata. Lebay banget deh.

Nah, setelah bertahun-tahun menghadiri sekian banyak PTC, akhirnya aku kebal juga…ha…ha! Gak pake mewek2 lagi, meski mata masih berkaca2 sih kalau gurunya menceritakan anak-anak begini dan begitu. Tapi aku nahaaannnn banget supaya air mata gak sampai meleleh, “Jangan nangis…jangan nangis….jangan nangis.” Gitu deh mantranya dalam hati…he…he.

Nah, hari ini ceritanya agak beda dari biasanya karena saat bertemu guru AT-nya, Imo menerima sejumlah teguran akibat tidak melakukan tugasnya sesuai target atau tidak memenuhi harapan si guru. Oh ya, AT ini semacam kelas khusus untuk anak-anak yang memiliki prestasi akademis. Kelasnya tidak seperti kelas biasa, tapi lebih menekankan pada kemandirian siswa dalam mengerjakan proyek/assignment dari gurunya. Dan biasanya proyek2 ini ada kaitannya dengan pelajaran sekolah plus skills lain yg diharapkan berguna bagi mereka. Contoh proyeknya adalah saat mereka harus membuat barang yang akan dipamerkan di pameran Lincoln, jadi semua barang yang ditampilkan ada hubungannya dengan presiden Abraham Lincoln. Imo saat itu membuat patung kepala dan wajah Abe Lincoln. Lalu ada proyek membuat barang dagangan, mempromosikan, dan menjual barang itu di Farmer’s Market. Imo membuat magnet kulkas dari bahan tanah liat/clay yang dicetak/dibentuk dan dicat.

Entah kenapa, Imo kurang serius dalam mengerjakan sebagian proyek-proyek di awal tahun ajaran ini. Jadi sebagian proyek dianggap kurang optimal pengerjaannya. Bisa ditebak, setelah bertemu guru AT-nya, Imo kena omelan emaknya yang bawel ini. Bukannya karena malu sama gurunya sih, tapi lebih karena aku khawatir kalau kebiasaan dia menunda sampai last minute dan kurang optimal itu terbawa sampai besar. Bahkan aku dan si Ayah sempat mempertimbangkan opsi untuk menarik Imo keluar dari kelas bahasa asing yang diikutinya di sekolah sebagai salah satu ekskul. Mungkin dia kebanyakan kegiatan, makanya jadi keteteran dalam mengerjakan tugas.

Selain karena itu, perlu aku akui bahwa di rumah, Imo lebih banyak santai-santainya dibanding belajar atau membaca buku yang ditugaskan. Soalnya emaknya suka gak tega memaksa dia belajar melulu karena seharian sudah sekolah, pulang udah jam 3 atau jam setengah lima sore. Jadi, meskipun setiap hari aku mengingatkan dia utk mengerjakan PR dan membantunya kalau kesulitan, tapi aku gak pernah maksa sampai melotot di samping mejanya sambil mengayun-ayunkan penggaris kayu sementara dia mengerjakan PR. Nehi lah sampai kayak gitu. Yang ada, dia di kamar ngerjain PR, aku main komputer..ha…ha…ha.

Selesai ketemuan guru AT, kami langsung ke kelas regulernya, kelas 5 SD. Dan lucunya, di sini malah gurunya
melaporkan bahwa Imo tingkat kemampuan dalam segala pelajaran melebihi teman-teman sekelasnya. Hasil tesnya bagus semua, nilai maksimal. Gurunya bahkan bertanya begini: “Kalau di rumah, apa dia masih punya waktu luang untuk bermain?” Gubraxxxx…. loh…loh? Langsung aku jelaskan bahwa di rumah si Imo kuanggap malah kebanyakan waktu luang, kebanyakan main2nya, dst. dst. Dan gurunya terpana….ha…ha…ha. Dipikirnya mungkin Imo di rumah seharian membaca buku dan belajar. Padahal sih…hi…hi..hi.

Yang mengesankan, si guru bilang begini: “I wish I could make a special program for him.” Maksudnya program yang bisa mengakomodasi Imo dengan minatnya akan science dan bakat kreatif yang dimilikinya. Si guru ini nebak bahwa Imo akan jadi seorang inventor. Aaaamiin… nemu sesuatu, patenkan, dan kaya raya ya naaak…biar mamamu bisa kecipratan. Hua…ha…ha…dasar emak mata duitan!

Alhasil, di PTC dengan guru-gurunya Imo, gak ada air mata menetes karena di pertemuan pertama aku rada kesal sama Imo, sedangkan di pertemuan kedua, aku malah jadi pengen ketawa karena menyadari kontrasnya kedua pertemuan dan juga anggapan si gurunya Imo bahwa di rumah Imo belajar melulu.

Setelah beres urusan di sekolah Imo, kami langsung ngacir ke sekolahnya Darrel. Karena ayahnya sudah harus
berangkat kerja, cuma aku yg bertemu gurunya. Alhamdulillah, Darrel juga prestasinya bagus dan banyak menuai pujian dari gurunya. Yang bikin senang, Darrel sudah makin terbuka, percaya diri, dan makin sering menjawab pertanyaan. Kata gurunya, bahkan dia sering memberi informasi tambahan yang gurunya sendiri belum tahu. Sampai-sampai ada guru kelas lain yang mampir ke kelasnya Darrel dan bertanya, “Saya dengar di kelas ini ada murid yang suka mengajar gurunya ya?” Sampai sini, aku gak bisa nahan. Mataku langsung berkaca-kaca. Yah…ternyata masih cengeng juga emak satu ini. Abisan gak nyangka sih kalau Darrel ternyata malah jadi “guru kecil” bagi gurunya. Untungnya gak sampai meleber kemana-mana karena aku langsung konsen ke dialog dengan gurunya tentang Darrel.

Yak begitulah. Aku bersyukur banget karena anak-anak gak henti-hentinya membuat aku amazed. Tapi aku juga gak akan take credit bahwa ini krn kami ortunya. Beneran deh aku tuh masih suka heran anak-anak bisa gitu. Dalam segi mendisiplinkan mereka secara tegas, aku masih banyak kekurangan krn aku sendiri pun masih banyak belang-belontengnya. Dalam segi mengelola kemarahan dan ngomel2 juga aku masih belum bijak dan efisien. Jadi rasanya jauuuh banget dari penerapan ilmu2 parenting yang selama ini kubaca. Makanya selalu aku anggap anugrah dan rezeki Yang Maha Kuasa aja kalau Imo dan Darrel dianggap baik oleh guru-guru mereka.

 

Advertisements

24 thoughts on “Jangan Mewek Melulu Ah!

    • Iya, suka kaget-kaget kalau terima laporan ini-itu dari gurunya. Bener2 anugrah deh, teh Icho. Soalnya aku gak merasa sudah berbuat banyak atau maksimal, banyak kesandungnya sebagai seorang ortu. Tapi tetap harus jadi bahan pelajaran sih hasil PTC kemarin itu. Aku harus bisa membuat mereka lebih disiplin tanpa akunya harus marah2…hi…hi..tantangan.

    • Idealnya begitu ya Yo. Guru-guru mereka di sini memprediksi baik Imo dan Darrel akan jadi penemu atau ilmuwan. Aaamiin… mudah-mudahan terwujud. Aku tinggal nunggu kecipratan uang hak paten…jiahhh.

  1. nah mb Irma, yg ada PTC gini dan gurunya serius ngupas satu2 tentang siswanya itu di sekolah swasta. skrg ngalamin anakku sekolah di SMP negeri, njomplang banget perhatian guru2nya ke siswa, dibanding di SD swasta dulu. kadang ngerasa gimana gitu, tapi wong namanya sekolah gratis, masa’ minta dibandingin sama sekolah dengan spp 500rb ? 😀

    btw, Imo trmsk tipe yg menyerapnya cepet mbak, jadi gak perlu belajar tiap hari udah langsung ngerti 🙂 *jempol*

    • Nah, aku pengen nih diskusi panjang lebar sama Shanti soal sekolah di sana. Soalnya kemarin aku dan suami juga berpikir, kalau suatu hari harus pulang ke Indonesia dan nyekolahkan anak di sana gimana ya? Sekolah swasta mahal, sedangkan negeri kualitasnya meragukan. Sedangkan di sini sekolah negeri aja bagusnya kayak sekolah swasta di sana, dan gratis…tis…tis.

      Alhamdulillah, dia termasuk gampang menyerap pelajaran dan dia memang menikmati belajar di kelasnya sekarang dengan gurunya yang penuh pengertian, bukan guru lemon seperti tahun kemarin itu.

  2. aku juga suka terharu mba kalau gurunya Aghnat bilang yang bagus h)tentang Aghnat (tapi gak sampe mewek siih)! Disekolah aghnat kan ada buku penghubung, jadi tiap hari guru nulis tentang kegiatan Aghnat disekolah, jadi aku tau perkembangan aghnat sehari-harinya kaya gimana, trus dirumah suka aku tanya juga sih berdasarkan apa yang ditulis sama gurunya. Kadang juga gurunya suka gak detail sih nulisnya (yang bikin aku gemes).

    Anak-anak emang amazing yaah..

    • Oh bagus ya mendetail buku penghubungnya, cuma kadang aja gak mendetail. Darrel juga selalu ada laporan mingguan dari gurunya, tapi gak mendetail, cuma dikasih nilai saja.

      Iya, anak2 memang amazing perkembangannya. Bikin terharuuu. Bagus deh kalau gak sampai mewek. Kalau yang tipe keran bocor kayak aku, emosi dikit aja bawaannya mau nangis…ha…ha…ha. Apalagi lagi hamdan…ugh.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s