Pertanyaan Itu

Tadi malam suamiku bertanya, “Memangnya kenapa mama pengen punya anak lagi?” Dan aku terdiam sejenak. Kok jadi bingung jawabnya ya? Dan keterlaluan banget gak sih, dengan perut yang sudah nyata melendungnya ini kok baru sekarang dipertanyakan kenapanya dan masih bingung pula aku menjawabnya? Bukannya ini suatu hal yang seharusnya telah dibahas dengan seksama dan penuh pertimbangan sebelum test-pack menyatakan hasil positif?

Setelah itu, langsung berseliweran di benakku sejumlah “alasan umum” kenapa seseorang ingin punya anak (lagi),
antara lain:
a. Menjaga garis keturunan atau lineage, seolah seperti ada nama keluarga yang harus diteruskan hingga akhir zaman. Tapi kemudian aku bantah sendiri. Lah memangnya warisan nilai apa yang bisa kami teruskan hingga akhir zaman? Unless kita ini keluarga yang extraordinary dengan warisan genetik, tradisi, kebijakan, yang bisa memperbaiki kualitas manusia secara keseluruhan, kok kayaknya terlalu percaya diri ya kalau menganggap meneruskan keturunan kami adalah sesuatu yang begitu penting dan harus diwujudkan?
b. Melestarikan manusia. Ibarat film futuristik dimana manusia semakin susah berkembang biak, sehingga setiap
kelahiran dianggap sebagai sebuah miracle yang dapat mempertahankan ras manusia di bumi. Ada tuh filmnya, tapi aku lupa judulnya..he…he. Tapi sekali lagi aku membantahnya. Ah, bukannya laju kelahiran manusia masih kencang? Kecuali di beberapa negara sih, yang penduduknya memang secara sadar menekan angka kelahiran. Lagipula, kenapa jadi beban kami gitu loh? Masih banyak pasangan lain yang bisa menjalankan tugas mulia itu, gak harus kami. Ya kan?
c. Karena sudah saatnya punya anak setelah bertahun-tahun jeda melahirkan. Meskipun ada benarnya sedikit jika dilihat dari sudut kesiapan mental dan finansial, dimana memberi jarak kelahiran merupakan hal yang bijak, tapi sebenarnya dalam kasusku, dengan dua anak saja malah lebih logis terutama kalau dasar pemikirannya pertimbangan finansial. Ya itung2an di atas kertas, biaya dua anak lebih rendah daripada tiga, gitu loh. Lalu kenapa masih mau nambah anak lagi?

Makin dipikirin, makin bingung…ha…ha…ha. Jadi kenapa oh kenapa ya, dakoe pengen punya anak lagi? Apakah ini cuma keinginan spontan yang impulsif? Apakah cuma untuk memuaskan egoku untuk bisa memiliki seorang “bundle of joy” yang bisa digemesin dan diciumin sepuas hati, berhubung si Darrel udah mulai ogah dicium2? Padahal aku sadar juga lo kalau punya bayi lagi itu bukan cuma soal bayi lucu menggemaskan dan seratus persen saat penuh kebahagiaan. Ada tanggung jawab besar di situ, ada pengorbanan, ada emosi lain seperti sedih dan marah dsb. dalam perjalanannya.

Lalu pagi ini, Imo dan Darrel menyiapkan pakaian, tas, serta sarapan mereka sendiri (sereal dan susu) sebelum
berangkat ke sekolah. Aku masih sempat bercengkrama memeluk Darrel dan bercakap dengan Imo tentang kegiatan sekolahnya sembari menyiapkan bekal makan siang mereka. Sambil menatap wajah dan mencermati kedua anakku, aku melihat ada jejak suamiku dan aku di situ. Aku berkata pada suamiku: “Yah, mama gak tahu persisnya kenapa pengen punya anak lagi. Tapi tiap kali melihat mereka, mama pengen punya lebih banyak anak-anak yang baik, pintar dan luar biasa seperti mereka. Insya Allah, yang ketiga ini, akan baik juga seperti kakak-kakaknya ya.”

Ya begitulah, aku gak bisa memformulasikan jawaban gamblang dengan kata-kata cerdas yang didukung alasan yang valid. Aku hanya bisa merasakannya.

Advertisements

21 thoughts on “Pertanyaan Itu

  1. Kalimat terakhir itu sudah pas.

    Memang, kalo sudah mblendung gitu bukan masalah “mengapa”.
    Tapi “bagaimana” mengelola rezeki-Nya dg baik. Bukankah setiap rezeki-Nya itu adalah bernilai amanah, artinya kita bakal dimintai pertanggungjawaban atas hal itu.

    Sebagai kepala keluarga, itu si ayah sebenarnya pengen memantapkan langkah saja kok 🙂

  2. amiin mbak..moga anak ketiga sama baik dan pintaranya (bahkan lebih) dari kedua kakaknya..

    btw darrel dam bisa terima bakal adaik baru kaaan yaa

    mbaaak bisa minta password Tamu Misteri? makasih

    • Aaaamiiin. Makasih ya, Mel. Darrel pelan-pelan mulai nerima. Baru2 ini sudah mulai nyoba raba2 perutku, merasakan tendangan dan tinjuan dek bayi. Tadinya gak mau, cuma si Imo yg suka antusias.

      Passwordnya aku kirim lwt PM MP yaaa. PM dari sini belum nyobain.

  3. insyaAlloh dilancarkan dan dimudahkan dalam menjaga anak-anak, mbak. moga-moga mbak Irma & suami makin yakin & mantap untuk mengemban amanah lagi setelah curhat dimari & dapet masukan yang bagus-bagus dari temen2 🙂
    cemunguuuddhh..

    • Mbak Miaaaa…. udah punya akun WP belum sih?

      Aaaamin. Makasih doanya, mbak. Iya, masing-masing anak sudah ada rejekinya kok. Aku percaya itu. Semoga yang ketiga ini rejekinya bagus dan berkah…aamiiin.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s