Ada berbagai cerita menarik seputar tenggelamnya Kapal Titanic yang terkenal itu. Yang belum tahu kapal Titanic (keterlaluan deh ah), mungkin bisa menonton filmnya yang dibintangi kang Leonardo Di Caprio dan Kate Winslett. Kapal ini adalah kapal terbesar dan termegah di zamannya (1912) dan dalam perjalanan pertamanya dari Inggris ke NYC, Amerika Serikat, kapal ini menabrak gunung es dan tenggelam pada tanggal 15 April 1912. Sebagian besar penumpang tewas dan hanya sedikit yang selamat. Di antara korban tewas terdapat nama-nama konglomerat masa itu seperti John Jacob Astor (pebisnis kaya raya, pemilik hotel mewah, termasuk Waldorf-Astoria di NYC). Turut berlayar di dalam Titanic adalah direktur White Star Line (pemilik kapal Titanic), J. Bruce Ismay. Dia termasuk yang berhasil selamat dalam sekoci penyelamat.

Tragis memang nasib kapal Titanic dan penumpangnya. Setelah peristiwa terjadi, tentu pertanyaan besarnya adalah: kenapa bisa tenggelam dan memakan banyak korban, hingga lebih dari seribu orang tewas?  Penyelidikan pun dilakukan demi mencari penyebabnya. Penyelidikan resmi dilakukan oleh senat AS dan kementerian perdagangan Inggris.

Terkuaklah sejumlah kesalahan fatal yang terjadi. Di antaranya adalah bahwa maskapai pelayaran yang membuat dan mengelola Titanic terbawa arus persaingan ekonomi zaman itu dimana semua kapal berlomba-lomba untuk bisa sampai tempat tujuan dengan secepat mungkin, tak peduli ada kabut atau bongkahan es yang menghadang. Karena itu, meski telah mendapat peringatan berkali-kali tentang adanya gunung es di jalur pelayarannya, kapten kapal Titanic tetap tak bergeming dan mempertahankan laju Titanic dengan kecepatan penuh.

Ada bagian artikel di majalah Reader’s Digest yang ditulis secara dramatis dan cukup membuat saya tercekat:

——————————————————-
“Just before noon, the rasping spark of early wireless spoke again across the water. It was the Baltic, warning the Titanic of ice on the steamer track. The wireless operator sent the message up to the bridge. Captain Smith read it as he walking on the promenade deck and then handed it to Bruce Ismay without comment. Ismay read it, stuffed it into his pocket, told two women about the icebergs and resumed his walk.”

“At least SEVEN wireless warnings about ice had reached the ship; lookouts had been cautioned to be alert. At 22 knots, its speed unslackened, the Titanic plowed on through the night.”

Terjemahan:

“Sebelum tengah hari, suara hubungan nirkabel terdengar melintasi lautan. Pesannya dari kapal Baltic, yang memepringatkan Titanic akan bongkahan es di kalur kapal uap itu. Operator mengirimkan pesan ke anjungan. Kapten Smith membacanya sembari berjalan di dek kapal dan menyerahkannya pada Bruce Ismay tanpa berkomentar apapun. Ismay membacanya, menaruh kertas dalam kantong bajunya, lalu memberi tahu pada dua orang wanita tentang bongkahan es itu dan meneruskan perjalanannya.”

“Setidaknya ada TUJUH pesan nirkabel tentang es yang berhasil diterima kapal; pengawas telah diperingatkan agar waspada. Dengan kecepatan 22 knot, dan tidak berkurang, Titanic melaju di kegelapan malam.”

——————————————-

Hasil penyelidikan juga mengungkap bahwa Titanic tidak menyiapkan life boat atau sekoci penyelamat yang mencukupi, cuma bawa 16 sekoci (plus 4 sekoci kanvas) padahal jumlah total penumpangnya ada lebih dari 2.200 orang. Jelas tidak mencukupi. Kesalahan lain adalah tidak dilakukannya latihan tanggap bencana, atau persiapan jika kapal tenggelam, sehingga saat menjelang karam, penumpang banyak yang panik dan tidak tahu harus berbuat apa.

Saat membaca ulang fakta di sekitar tenggelamnya Titanic, saya banyak berpikir dengan menggunakan kata seandainya. Seandainya begini, begitu, mungkin korban nyawa bisa diminimalisir, bahkan mungkin tabrakan dengan bongkahan es dapat dihindari. Lalu kemudian timbul lagi pertanyaan: kenapa kapten kapal tidak mengindahkan peringatan? Kenapa si Bruce Ismay sang pemilik juga cuma mengantungi pesan dari kapal lain yang memperingatkan tentang bongkahan es, tapi tak bertindak apa-apa? Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab? Mustinya ada ya, kejadian sebesar ini mosok menyalahkan takdir Tuhan semata?

Orang mungkin dengan mudah berkata: Sudahlah, ngapain dipikirin lagi, wong kapalnya udah tenggelam gitchu. Memangnya bisa membangkitkan korban yang sudah meninggal kalau dibahas lagi?

Mungkin orang itu lupa bahwa yang namanya evaluasi dalam setiap kejadian, apalagi kejadian besar adalah tindakan yang logis dan bijak untuk dilakukan. Tujuannya bukan hanya mencari siapa yang salah atau bertanggung jawab, tapi lebih lagi adalah agar ke dapannya nanti peristiwa tragis yang sama tidak berulang. Kalau sudah ketahuan siapa yang salah, seperti pada kejadian Titanic, maka akan mudah untuk melakukan langkah selanjutnya yaitu tuntutan ganti rugi dari para korban/keluarga korban, atau penggantian asuransi jiwa misalnya. Kalau sudah ditemukan apa saja kesalahannya, maka bisa dibuat sederetan aturan main yang mengikat dan akan menjamin terminimalisirnya kejadian tragis seperti tenggelamnya kapal Titanic.

Dan memang setelah evaluasi yang dilakukan kedua pemerintahan (AS dan Inggris) kemudian ditetapkan sejumlah aturan keselamatan pelayaran, termasuk perbandingan jumlah sekoci penyelamat dengan jumlah penumpang, dilakukannya latihan keselamatan, dan aturan-aturan serupa. Artinya, segala penyelidikan yang dilakukan memang ternyata perlu dilakukan dan bukan hal yang sia-sia, bahkan bisa menyelamatkan nyawa di masa depan.

Imajinasi saya yang sering melayang kemana-kemana kemudian usil bertanya, seandainya si Kapten Smith ternyata selamat dan kemudian muncul di muka umum serta mendapat pertanyaan seputar tenggelamnya kapal Titanic, maka apa yang akan dikatakannya? Apakah ia akan melempar kesalahan ke Bruce Ismay sebagai direktur perusahaan pemilik kapal? Akankah dia berkata: “Waktu dikasih peringatan oleh kapal lain, saya beda pendapat tuh. Saya yakin kapal ini tak akan tenggelam. Terus apa gak boleh beda pendapat?” Atau dia mau buang topi kaptennya sambil menjerit histeris: “Saya bukan kapten! Saya bukan kapten! Orang-orang aja yang kege-eran anggap saya kapten. Saya sendiri tidak pernah menganggap diri saya sebagai kapten kok!”?

Atau…. akankah Kapten Smith akan dengan lapang dada dan ksatria berkata, “Yak, saya sudah salah perhitungan. Pendapat saya waktu itu keliru. Saya tak menghiraukan peringatan tentang bongkahan es yang ternyata memang benar adanya dan karena itu kapal Titanic tenggelam. Saya minta maaf.”?

Hmmm… sungguh usil imajinasi saya yang satu ini.

Advertisements

6 thoughts on “

  1. Terus ini membuat saya bertanya-tanya dengan keamanan kapal-kapal di Indonesia. Saya pernah terlibat dalam satu kegiatan so-called amal di Kepulauan Seribu, pada saat itu keselamatan bukanlah satu hal yang diperhatikan. Lha padahal nyawa juga bukan bagian dari ngamal.

    Sepanjang perjalanan saya memegang life vest sambil komat-kamit berdoa. Kalau kapalnya tenggelam, saya yakin gak semua orang selamat, karena life vestnya aja nggak sesuai dengan jumlah penumpang yang kepenuhan….

    • Oh, kalau di Indonesia sih..he…he.. ya begitulah. Standar keamanan buat segala hal sepertinya dinomor sekiankan biasanya dengan alasan dana. Padahal sudah banyak sekali kejadian kecelakaan akibat kelalaian dan kurangnya fasilitas keamanan dan keselamatan. Tapi rupanya belum kapok.

  2. klo dari kisah lampau nyang aye tau ya,cwinth..
    kapal titanic rontok karena kesombongan si pemilik kapal. Istilahnye mereka mendahului titah tuhan.
    Mistiknya begono,cwinth 😉

    • Itu sempat disebut-sebut juga, Ray…bahwa ada awak kapal yang sesumbar: “Even God cannot sink this ship.” Tapi kalau dari artikel yang kubaca sih hal itu masih belum terbukti (bhw ada yg ngomong gitu). Tapi faktanya, Titanic tidak membawa cukup life-boat dan penumpang tdk diberi pengarahan tentang bagaimana melakukan emergency exit. Artinya, kalau dibilang kesombongan itu ada apa enggak, tanya balik deh, kalau bikin kapal segeda gaban dan berpenumpang ribuan tapi gak bawa cukup life-boat, sombong bukan itu namanya? Atau sekedar bodoh?

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s