Dilema Ponsel

Menjelang ulang tahun Imo yang kesepuluh, kami sebagai ortunya berniat membelikan dia sebuah ponsel. Minggu lalu, kami sudah jalan-jalan ke toko
sambil melihat-lihat ponsel apa yang kira-kira cocok untuknya.

Sebenarnya aku kurang sreg dengan pilihan hadiah ultah kali ini. Meskipun Imo pernah meminta dibelikan ponsel dan mengatakan bahwa hampir semua teman di kelasnya punya ponsel, tapi aku kok ya masih ragu-ragu.

Iya sih, kalau punya ponsel, kami akan mudah menghubunginya saat di sekolah atau saat dia sedang bermain di rumah temannya (play date). Kadang, saat ayahnya harus terlambat menjemputnya di sekolah, kami juga berandai-andai, jika dia punya ponsel, pasti gampang menghubunginya sehingga dia tak perlu cemas menunggu.

Tapi kemudian juga ada hal-hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, adalah tanggung-jawab si anak. Imo selama ini sudah beberapa kali kehilangan alat tulis dan termasuk teledor dalam menyimpan barang-barangnya. Apa dia sudah siap untuk memelihara sebuah ponsel? Meskipun ponsel yang murahan sekalipun, kan tetap saja ada nilainya. Bagaimana pula jika ponselnya terjatuh saat bermain, wong anak 10 tahun lagi lincah-lincahnya gitu.

Hal kedua adalah bagaimana kalau dia keasyikan ber-SMS dengan temannya sampai nyuekin sekelilingnya termasuk nyuekin ortunya? Kita aja yang sudah dewasa masih sering sulit mengendalikan kecanduan kita akan media sosial, seperti MP misalnya. Bagaimana dengan anak kecil yang tiba-tiba bisa terhubung seketika dengan teman-teman sekolahnya? Bisa-bisa waktunya habis cuma untuk main ponsel.

Dengan semakin umumnya ponsel yang bisa nyambung ke Internet, kami sebagai ortu justru cemas saat akan membelikan ponsel buat anak. Ponsel berinternet justru makin mengundang anak untuk terjerat dan mencandu ponsel karena dia bisa main game atau nonton film dari ponselnya.


Belum lagi kalau bicara soal internet predator dan cyber bullying. Menurut artikel dari CNN, ponsel anak merupakan lahan subur bagi para pedofil untuk “mendekati” calon korbannya. Predator seks menggunakan teknologi untuk membina kepercayaan calon korban. Dan ponsel memungkinkan predator untuk membina hubungan tidak senonoh dengan seorang anak karena mereka “flying under the radar” alias jauh dari pemantauan ortu.

Baru tadi malam aku baca di sebuah koran online ada seorang guru sekolah berusia 28 tahun yang “memangsa” muridnya yang berusia 16 tahun. Si guru perempuan ini “memperkosa” muridnya di dalam kelas saat jam sekolah sudah berakhir. Sebelumnya, si guru bejat ini mengirim foto-foto dirinya sendiri yang berpose erotis ke ponsel si korban.

Dan di sini yang namanya kasus internet predator sudah sering kali terjadi dengan korbannya kebanyakan anak-anak yang masih di bawah umur.

Cyber bullying juga sangat mungkin terjadi dengan adanya pesan teks berantai/kirim ke semua orang yang isinya menjelek-jelekkan seorang korban, misalnya atau mengirim gambar korban yang sudah diphotoshop untuk jadi bahan tertawaan. Tanpa ponsel bullying memang tetap mungkin terjadi, seperti yang pernah aku ceritakan di postingan tentang guru lemon. Tapi adanya teknologi bisa memperluas dan menambah besar potensinya.



Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor kesehatan. Sumber CNN menyebutkan bahwa penggunaan ponsel berpotensi memicu penyakit kanker, apalagi kalau berlebihan. Teknologi ponsel yang termasuk baru di abad ini belum bisa menunjukkan dampak jangka panjang dari penggunaannya, namun ahli kesehatan mengingatkan bahwa anak-anak otaknya masih dalam masa perkembangan, dan sebaiknya dijaga dari hal-hal yang dapat berakibat negatif, seperti halnya penggunaan ponsel.

Terakhir, yang aku jadikan pertimbangan juga adalah masalah gengsi. Kami sempat terkejut ketika tahu bahwa sepupunya Imo telah memiliki Blackberry sejak setahun lalu. Usianya si sepupu ini sama dengan Imo, cuma beda satu bulan. Dan setahun lalu, kami sama sekali belum kepikiran untuk membelikan Imo sebuah ponsel.

Kami mengerti bahwa anak seusia Imo pasti sering saling pamer. Imo pernah menceritakan kalau temannya dikasih sangu 200 dollar seminggunya, lalu ada yang dibelikan lap top sebagai hadiah ultah ke-9, ada juga yang bawa iPod ke sekolah. Ada juga yang saat liburan jalan-jalan ke Mesir melihat piramida.


Kami justru gak mau kalau Imo sampai menjadikan ponsel sebagai simbol status atau menaikkan gengsinya. Biarlah kami disebut ortu sok idealis, tapi aku gak mau kalau kepercayaan dirinya digantungkan pada materi/barang karena itu ujung-ujungnya hanya akan menghasilkan manusia yang shallow alias cupet. Mendingan dia bangga pada diri sendiri karena nilai-nilai kebaikan universal yang ada pada dirinya, karena kecerdasan dan kemampuannya, bukan karena punya barang ini itu atau karena bisa pergi ke sana-sini.

Jadi, kesimpulannya jadi dibelikan ponsel apa tidak?

Aku cenderung membatalkannya. Tapiii…. karena ini keputusan bersama, antara aku dan ayahnya Imo, jadi masih belum final deh.

Kalau pun akhirnya kami memutuskan untuk membelikannya ponsel, maka akan ada beberapa syarat yang kami ajukan kepada Imo. Demi keamanan, kami akan mencarikan ponsel tanpa internet, meskipun modelnya pasti “gak keren.” Kami juga akan membelikannya go-phone alias ponsel pra bayar yang lebih murah biaya bulanan atau minutes/pulsa-nya dan Imo harus membayar pulsanya dengan uang sakunya sendiri agar dia lebih bertanggung jawab dan rajin mengejar poin untuk menambah uang sakunya. Waktu telepon dan berkirim SMS akan dibatasi dan semua tidak akan ada teks yang rahasia, semua boleh dibaca ortunya. Ponsel terutama digunakan untuk komunikasi antara Imo dan kami sebagai ortunya. Jadi fungsinya kembali ke fungsi dasar, sebagai alat komunikasi, bukan alat hiburan atau permainan.

Biarin deh aku mungkin akan d
icap kolot dan ketinggalan zaman. Dan mudah-mudahan Imo bisa mengerti dan tetap mensyukuri hadiah yang akan diterimanya, apa pun itu.

Sumber Ceu Non-Non ada di sini yaaaa.
Sumber foto ada di situs-situs ini, itu, sana, dan sini.
Kalau mau baca soal tips pemakaian ponsel, boleh dilihat di postingan berikut ini.

Advertisements

149 thoughts on “Dilema Ponsel

  1. drackpack said: Padahal nyari yg rusak dimana itu kan perlu ilmu. Ilmunya itu yg mahal.*malah curhat di sini

    Sepakat Nov.Ilmunya yang mahal. Sudah sewajarnya tenaga manusia dihargai tinggi.

  2. Irma, semua berpulang ke ortunya, kapan kasih ponsel , selamat diskusi dengan suami yaaa :)Boleh berbagi….anak2 lelakiku yg SD belum pake ponsel, karena masih naik jemputan. Juga mereka masih ceroboh, suka keselip barang entah dimana. Kalau darurat perlu telfon ortu (misal ekskul taekwondo ada extra waktu) boleh pinjem telfon di sekolah, bayar infaq terserah, biasanya 1-3 ribu tergantung lamanya Afra pake ponsel sejak kelas 6 SD, usia 11 thn. Tadinya aku ngga belikan, dia usaha, dan dia menang lomba di majalah: http://miapiyik.multiply.com/journal/item/91/Kreatifitas_Berbuah_Kado_Karena hasil kerja kerasnya, dia jaga bener itu ponsel. Sampe rusak sekitar 3thn baru ganti lagi. Oya, sekarang Afra ngga pake Blackberry walau anak2 SD udah pake, kadang2 aja dia pinjem punya Bapaknya, seperti pas ke Bromo, itupun dipake kameranya saja. Ponsel Afra yg kelas X , umur 15 thn, skrg type hitam putih, ga ada kamera, cuma texting dan terima telfon. Harganya? ga sampe 300ribu.

  3. kalo butuh komputer jangkrik sini aku aja yang ngerakit, itu kerjaan sampinganku dulu waktu habis lulus kuliah dan kerja jadi programmer di minolta… malah banyakan gaji dari kerjaan sampingan kayak gitu dulu, soalnya jaman2 itu masih jarang yang ngerti ngerakit komputer hihihihi@mas trie: kalo mas trie aja yang menghibur gimana? xixixix@mb sum: iya ga bisa kalo akhir juni ke sana hehe dan tentu saja masih galau… padahal kemarin udah hampir booking tiket pas cek harga tiket termurah di travel langganan… malah udah telpun2an sama adik sepakat jadwalnya, tetep aja… galau mendera hahahaha… *labil* usul mb sum pas winter kayaknya lucu juga yah :)) tapi kalo desember masih lama gitu trus keburu hamil lagi gimana??? hahahaha *aminnnnn*@mb kus: kalo jadi kesana aku nginep rumah mb kus yaaaaaaa :)))))

  4. srisariningdiyah said: @mb kus: kalo jadi kesana aku nginep rumah mb kus yaaaaaaa :)))))

    Iyaaaaaaa. Asekkkkkk. Dinanti sangat kedatangannya yo mbak. Nanti aku cuti kuliah, dan kita halan halan keliling danau Superior. Bisa seminggu keliling doang. Danau sak hohah. Sekalian ambil visa Kanada mbak, karena dari tempatku ke Kanada cuma 3 jam. Danaunya juga berada di dua negara. Mau sepedahan, mau ngegembel, asoy geboy tenan wis. Mau hanimun di Duluth juga pas. Ada satu kamar kosong di rumahku. Hayokkk ditunggu kedatangannya.

  5. srisariningdiyah said: usul mb sum pas winter kayaknya lucu juga yah :)) tapi kalo desember masih lama gitu trus keburu hamil lagi gimana??? hahahaha *aminnnnn*

    usulnya lucu yah, mari ngakak…huahahahahhaah …winternya gak sebrutal Siberia tapi lumayan uadem. Rata2 minus 10 C. Kalau keburu hamil (Amiin), berarti di sininya diperpanjang ampe melahirkan. hehehehe..

  6. rengganiez said: mudik mau berburu hp murah, mba? ckckkck padat bener nih agenda tambahannya..:-)

    gak sido wes. Katanya Sum, di sini ternyata ada juga yang murah. Maklum ya coy, gak menyimak perkembangan hape.

  7. enkoos said: Kalau kami ke Indonesia, justru eyangnya yang memanjakannya dengan membelikan hape dimana aku sudah wanti wanti sama eyangnya jangan dikasih hape. Kata eyangnya, kasihan soalnya teman2nya pada berhape. Heleh heleh …

    Nah…..,kalau di Indonesia emang hp sudah merupakan gaya hidup. Keponakanku yg di Indonesia yg bilang jaman Yves belum punya hp, kenapa aku nggak beli’in hp.

  8. penuhcinta said: Iya, mbak Helene…senangnya aku ada temannya. Soalnya kita kaum minoritas nih dalam hal ponsel buat anak-anak…hi…hi…hi. Aku masih menimbang-nimbang dan cenderung tidak membelikannya ponsel sebenarnya. Anak seumur Imo kan masih banyak nempel ke kita, gak jauh-jauh kelayapan, jadi sebenarnya gak urgent juga sih untuk punya ponsel.

    Kalau menurut aku sih, Ir, umur 10 tahun kok masih kekecilan buat pegang hp, seperti yang kamu tulis, bhw mereka masih sering nempel ama kita, dan mainnya juga gak jauh-jauh, masih bisa kita kontrol walopun tanpa hp. Kenapa nggak bujuk Imo, untuk kado ultahnya beli’in kamera misalnya, Ir.Tapi, kalaupun emang dah niat dibeli’in hp, mendingan yang simpel banget, cuma bisa dipakai sms n nelpon aja, Ir. Oh ya, kalau aku boleh nambah’in saran, si Imo kalau punya hp, jangan dibiasakan pakai bhs sms. Krn di sini, anak-anak muda yg sering memakai bhs sms, nilai-nilai pelajaran bhs P’cisnya pada jebol….:(

  9. penuhcinta said: Pulsanya cuma 5 ribu seminggu?

    Pulsa di Indonesia murah, Ir, Untuk beli SIM Card aja, kalau nggak salah cuma 25 ribuan.Kalau aku, beli’in si Yves pulsanya 20 Euro untuk 3 bulan, dengan alasan, kalau yg 5-10 Euro cuma berlaku selama 15 hari, dengan 20 Euro bisa berlaku selama 3 bulan.

  10. penuhcinta said: temannya dikasih sangu 200 dollar seminggunya, lalu ada yang dibelikan lap top

    Itu anak dikasih uang sangu 200 dollar seminggu? Sampai sekarang Yves ama Hugo belum ada uang saku, cuma aku suka kasih “reward” kalau mereka bersih’in kamar mereka, atau nilai-nilai raport mereka bagus.Dan kalau Yves dah punya lap top, dari uang tabungannya dan hadiah dari sekolahnya karena dia menjadi 5 besar di kelasnya, tetep dia baru beli di usia 12 (tahun ini). Tapi, tetep penggunaannya, hanya boleh kalau wiken/hari libur itupun cuma boleh maks 2 jam.

  11. tintin1868 said: disini ponsel ga boleh dibawa ke sekolah kan? para dogol semua antar jemput kog.. kalu ada yang telat dijemput, sekolah sudah maklum, nunggu di ruang tunggu.. sampe sma semua ga boleh pake ponsel.. para dogol kalu minta ponsel pasti pake ponsel ibunya.. mo sms ke teman juga setahu ibunya.. soalnya ada kejadian anak2 dibully gitu.. kebanyak malah minta ipad.. biar buat main dan belajar..

    Tergantung sekolahannya, ya mbak. Kalau sekolahnya ponakan2nya mbak Tintin melarang malah bagus tuh, malah sampai SMA pulak. Kejadian bullynya kayak gimana, mbak? Seperti yang aku tulis di atas bukan? Kalau di sini udah sering tuh kejadian anak-anak diejek lewat dunia maya oleh teman-teman sekolahnya. Ujung-ujungnya ada yang sampai bunuh diri saking si korbannya stress berat. Imo kemarin juga minta dibelikan ebook reader, dan aku sempat tergoda untuk belikan. Tapi kayaknya gak juga deh, soalnya barang-barang gitu kalau udah jatuh atau hilang kan sayang banget, harganya masih lumayan mahal jeee. Belum lagi beli buku edisi digital malah lebih mahal dari buku biasa.

  12. myshant said: pulsa isi ulang (prabayar) kan sekarang ada nominal kecil mbak, 5rb, 10rb, 20rb, 50rb, 100rb. tinggal pilih tergantung keperluan.dia pake’ buat sms2an doang, cuma sama bbrp temen cowok ngomongin bola dan satu kecengan, iyog jadi tempat curhat :))ini hpnya Iyog udah hampir sebulan nganggur, temen2nya jg dibilangin ortunyaa gak boleh sms2an menjelang UN kali, ngisi pulsa hanya demi masa aktifnya tidak hangus :)bener, untuk anak yg belum 17thn, tetep emaknya yg bantuin ngingetin.

    Oh gitu ya Shant. Wah enak ya ada yang 5 ribu segala. Di sini paling murah kayaknya 25 dollar deh buat isi pulsa. Eh Iyog sering dijadikan tempat curhat? Berarti pendengar yang baik ya? Pacarnya masih cewek manis banget itu ya? Boleh nebak gak, si cewek ini tipe ceriwis bukan?Semoga Iyog berhasil ya menempuh UN dan lolos masuk ke SMP yang dituju.

  13. tintin1868 said: baca cerita m.irma diatas, mendingan imo jangan dikasih ponsel deh.. dan jangan ikut2an temennya? apa imo dibully sama temen karena ga punya ponsel?

    Iyo mbak, aku mendengar dan menyaring semua saran yang ada di sini. Aku cenderung gak belikan sih. Iyo, ini gara-gara terpengaruh teman-temannya juga. Enggak sih, dia gak dibully gara-gara gak punya telepon.

  14. enkoos said: Tampang minta dikasihani. Tinggal bawa bungkus permen dan kecrekan aja Sum.

    Krecekanku masih dipinjem cucuku si Gotrek buat ngamen di Lapangan Banteng.

  15. enkoos said: Dan beruntung punya suami seperti KSB. tangannya enggak bisa diem ngerjain ini itu.Selain karena hobi, kerjaannya juga urusan benerin barang. Bedanya, kalau di rumah mbenerin barang kecil2. Kalau kerjaan, mbenerin barang gede2. KSB sering banget nanya ke ibu dan adik2nya apa yang perlu dibantu. Dari betulin mobil, betulin rumah ampe urusan rice cooker yang remeh temeh.

    Itu suamiku banget, mbaaak. Si Ayah tuh dari kecil hobi reparasi barang. Katanya barang pertama yang dia reparasi adalah sendal jepit yang putus..ha…ha…ha. Sampai sekarang dia masih suka betul2in barang dan nurun ke anaknya si Imo yang juga terampil benerin barang.

  16. enkoos said: Akhirnya panggil orang buat mbetulin. Tahu gak masalahnya apa? Cuma muter tombol doang, di pengatur pusat yang ada di basement. Itu aja ongkosnya 75 dolar. Edyan po.

    He…he…he… aku tahu sih bahwa labor cost di sini mahal. Untungnya selama ini kalau ada rusak2 di apartemen, yang memperbaiki adalah pengelolanya yang punya tukang sendiri dan toko bahan bangunan sendiri. Kami gak harus bayar buat reparasi, sudah termasuk dalam uang kontrakan.

  17. enkoos said: Alatnya gede2. Buat ngidupinnya pake tali yang ditarik ituh Sum. Dan aku nariknya sampe meloncat saking kudu kuat narik.

    Lah, mbak Evi yang tinggi besar aja ngeloncat, gimana aku ya? Bisa-bisa langsung terkapar. Aku belum pernah nyobain alat-alat berat, mbak. Ya itu tadi, segala bersihin salju, potong rumput, dan bersihkan daun2 rontok sudah bagian dari kerjaannya pengelola kontrakan.

  18. myshant said: wooo…pantes orang2 yg tinggal di LN pada mandiri yo mbaklha biaya manggil “tukang” mahaaaallll ….di sini 75$ udah bisa buat gali sumur …hihihi

    Ha…ha…ha… iyaaaa…. makanya di Amrik terkenal prinsip DIY (Do It Yourself). Apa-apa dikerjain sendiri, bahkan renovasi dan bangun rumah juga dikerjain sendiri lo.

  19. drackpack said: Mba Evi,Aku merasa disini malah jasa benerin barang begitu gak dihargai.Suamiku kan kerjanya betulin mesin. Kadang2 yg punya mesin ngeliat komponen yg diganti nggak seberapa jadinya pengen bayar murah. Padahal nyari yg rusak dimana itu kan perlu ilmu. Ilmunya itu yg mahal.*malah curhat di sini

    Gak apa-apa curhat di sini, Nov. Dah dimulai kok sama si ibu guru…ha..ha..ha. Iyooo… sepakat. Aku juga suka ngenes kalau dapat tawaran terjemahan yang ongkosnya semena-mena. Biasanya langsung kutolak mentah-mentah dan kalau mood lagi jelek, pake kata-kata tajam…ha…ha…ha.

  20. anotherorion said: go phone itu jenis kartunya apa hapenya mbak?

    Jenis teleponnya, Yo. Kalau go-phone itu gak terikat kontrak. Jadi gini, hampir semua telepin di ngamrikih terikat kontrak dengan salah satu carrier (kalau di Indonesia telkomsel gitu deh). Jadi selama dua tahun si pemakai telepon gak bisa beralih ke carrier lain dan harus beli pulsa cuma dari si carrier itu. Kalau sebelum dua tahun mau putus kontrak, maka si pemakai ini harus bayar denda/penalti. Sistem bayar telepon kontrak ini bisa pra bayar dan bisa juga pasca bayar. Ribet deh detailnya, seperti kata mbak Evi karena ada yang udah bayar per bulan eh tiap kali telepon atau browsing ternyata tetap kena biaya lagi per menitnya. Kalau go-phone, gak terikat kontrak, jadi bulan depan mau ganti carrier juga bisa.

  21. mayamulyadi said: ponsel perlu juga sih ya… kayak ponakanku yg ortunya kerja semua. tapi memang kudu ponsel standar aja mba.. gampang memantaunya hihihi…kalo fadhlan.. errrrr… masih jauh kali ya.. entah teknologi spt apa nanti saat fadhlan remaja nanti…*mikir

    Iya, May. Aku gak mengingkari kalau perlu, cuma derajat seberapa perlunya pasti beda-beda tergantung usia, situasi, dan kondisi si anak. Hi…hi.. Fadhlan sih ponsel mainan aja, lucu tuh bisa ada lagu-lagunya.

  22. sicantikdysca said: aku sependapat dgn mbak irma :)aku lebih melihat ke efek radiasi dan kemampuan si anak mengelola HP.AKu perhatikan anak2 di sekitarku wuiiiiih main games gak kenal tempat dan waktu ehh malah sdh dikasi ortunya mainin games online. Resikonya itu loh bisa kesasar ke web2 aneh.

    Salaman dulu kitaaaa….he…he. Iyo, anak sekecil itu belum cukup dewasa utk mengendalikan diri, apalagi rasa ingin tahunya besaaar. Ada lo kasus di sini anak umur 12 tahun yang kecanduan pornografi gara-gara nyasar ke situs porno dengan lapie pribadinya (yang ditaruh di kamar dan gak dipantau ortunya). Si anak jadi lesu dan malah membenci dirinya sendiri, berubah gitu kepribadiannya. Kalau hape yg bisa internet ya lebih susah memantaunya.

  23. ibuseno said: Aku termasuk orng tua yg salah juga kemaren itu belikan della HP di saat umurnya blm lagi 9 thn, terbukti belum juga sebulan HP nya ilang, jatuh entah di mana.. Tapi kalau Imo udah agak gedean kan, sepakat juga dng bbrp syarat yg ditentukan Yu Sum bersama suami, Imo pasti bisa jaga amanah

    Teh Icho, gak bermaksud membahas salah apa enggak kok. Ortu biasanya punya alasan sendiri kenapa membelikan atau tidak membelikan anaknya ponsel. Mudah-mudahan Della juga bisa belajar ya dari pengalaman kehilangan ponsel itu.

  24. rengganiez said: Bulik saja pegang HP pas udah kerja kok…..*lah kasian bener yahhh..Iya mba..ak sepakat ama masukan2 dibawah..*efek telat komen*

    Sama, bulik dan hapeku itu tau gak yang Nokia sejuta umat itu. Gak ganti-ganti sampai aku berangkat ke sini, enam tahun deh aku pake itu hape. Pernah di angkot aku terima telpun, terus abis itu tidur. Di depanku ada dua anak SMA. Karena aku cuma tidur2 ayam, jadi denger mereka ngomong apa. Ternyata mereka ngomongin hapeku, katanya jadul amat bisa masuk museum.

  25. miapiyik said: Irma, semua berpulang ke ortunya, kapan kasih ponsel , selamat diskusi dengan suami yaaa :)Boleh berbagi….anak2 lelakiku yg SD belum pake ponsel, karena masih naik jemputan. Juga mereka masih ceroboh, suka keselip barang entah dimana. Kalau darurat perlu telfon ortu (misal ekskul taekwondo ada extra waktu) boleh pinjem telfon di sekolah, bayar infaq terserah, biasanya 1-3 ribu tergantung lamanya Afra pake ponsel sejak kelas 6 SD, usia 11 thn. Tadinya aku ngga belikan, dia usaha, dan dia menang lomba di majalah: http://miapiyik.multiply.com/journal/item/91/Kreatifitas_Berbuah_Kado_Karena hasil kerja kerasnya, dia jaga bener itu ponsel. Sampe rusak sekitar 3thn baru ganti lagi. Oya, sekarang Afra ngga pake Blackberry walau anak2 SD udah pake, kadang2 aja dia pinjem punya Bapaknya, seperti pas ke Bromo, itupun dipake kameranya saja. Ponsel Afra yg kelas X , umur 15 thn, skrg type hitam putih, ga ada kamera, cuma texting dan terima telfon. Harganya? ga sampe 300ribu.

    Iya, mbak Mia. Makasih masukannya. Afra menang lomba apa, mbak? Dan hadiahnya hape?

  26. srisariningdiyah said: kalo butuh komputer jangkrik sini aku aja yang ngerakit, itu kerjaan sampinganku dulu waktu habis lulus kuliah dan kerja jadi programmer di minolta… malah banyakan gaji dari kerjaan sampingan kayak gitu dulu, soalnya jaman2 itu masih jarang yang ngerti ngerakit komputer hihihihi

    Oalah, ini dia salah satu perakit komputer jangkrik. Jangan-jangan pernah mangkal di glodok juga nih…hi…hi.

  27. srisariningdiyah said: @mb sum: iya ga bisa kalo akhir juni ke sana hehe dan tentu saja masih galau… padahal kemarin udah hampir booking tiket pas cek harga tiket termurah di travel langganan… malah udah telpun2an sama adik sepakat jadwalnya, tetep aja… galau mendera hahahaha… *labil* usul mb sum pas winter kayaknya lucu juga yah :)) tapi kalo desember masih lama gitu trus keburu hamil lagi gimana??? hahahaha *aminnnnn

    Kalau pas summer sih mahal, mbak. Pas bulan Agustus juga susah tuh cari tiket, soalnya yg mudik bakal balik lagi ke ngamrikih. Kalo winter banyak light festival, mbak… kan udah mau natalan. Atau pas musim gugur seperti kata mbak Evi, cantik banget pemandangannya loo… daun-daun berubah warna. Keburu hamil? Ya gak apa-apa…melahirkannya di sini aja, sekalian ke musim semi berarti, yang juga cakeppp banget dengan bunga-bunga dimana-mana.

  28. remangsenja said: Pake ponsel yg cuma bs buat nelp + sms ajah hihihihihi. Ponsel jadul2 gitu.. Masih di jual gak mbak di amriki 😀

    Masih ada, mbak. Tapi ya termasuk barang langka karena kebanyakan ponsel di sini bisa internetan.

  29. nonragil said: Kalau menurut aku sih, Ir, umur 10 tahun kok masih kekecilan buat pegang hp, seperti yang kamu tulis, bhw mereka masih sering nempel ama kita, dan mainnya juga gak jauh-jauh, masih bisa kita kontrol walopun tanpa hp. Kenapa nggak bujuk Imo, untuk kado ultahnya beli’in kamera misalnya, Ir.Tapi, kalaupun emang dah niat dibeli’in hp, mendingan yang simpel banget, cuma bisa dipakai sms n nelpon aja, Ir. Oh ya, kalau aku boleh nambah’in saran, si Imo kalau punya hp, jangan dibiasakan pakai bhs sms. Krn di sini, anak-anak muda yg sering memakai bhs sms, nilai-nilai pelajaran bhs P’cisnya pada jebol….:(

    Iyo mbak, kayaknya bakal batal nih beliin hape. Imo gak terlalu minat potret2. Pernah dipinjamin kamera tapi ya cuma sebentar aja sukanya, terus bosen deh. Masih bingung mau kasih apa…ha…ha…padahal ultahnya minggu besok. Oh… masukan bagus nih mbak. Jadi kalau suka sms jadi rusak ya bahasanya? Iya sih, seperti anak2 di Jakarta yang alay gitu mungkin ya? Mereka kan mau kirim pesan sesingkat mungkin, jadinya bahasanya seenak perut ya?

  30. nonragil said: Pulsa di Indonesia murah, Ir, Untuk beli SIM Card aja, kalau nggak salah cuma 25 ribuan.Kalau aku, beli’in si Yves pulsanya 20 Euro untuk 3 bulan, dengan alasan, kalau yg 5-10 Euro cuma berlaku selama 15 hari, dengan 20 Euro bisa berlaku selama 3 bulan.

    Makin ke sini makin murah kayaknya ya. Di sini sebulan paling murah 25 dolar, mbak.

  31. nonragil said: Itu anak dikasih uang sangu 200 dollar seminggu? Sampai sekarang Yves ama Hugo belum ada uang saku, cuma aku suka kasih “reward” kalau mereka bersih’in kamar mereka, atau nilai-nilai raport mereka bagus.Dan kalau Yves dah punya lap top, dari uang tabungannya dan hadiah dari sekolahnya karena dia menjadi 5 besar di kelasnya, tetep dia baru beli di usia 12 (tahun ini). Tapi, tetep penggunaannya, hanya boleh kalau wiken/hari libur itupun cuma boleh maks 2 jam.

    Iya, mbak. Aku juga kaget pas dengernya. Sama mbak, aku juga pakai sistem reward, meskipun belum sepenuhnya dijalankan, karena emaknya suka males ngitung poin…ha…ha…ha. Tapi ya harus lah dijalankan terus sistem poin itu karena memang bisa memicu semangat mereka.Pemakaian laptopnya diawasi gak, mbak? Maksudnya Yves gak sendirian pas lagi akses internet di laptop, kan? Serem soalnya mbak internet tuh kalo sampe nyasar.

  32. rinita said: ndak usah beliin, tapi pake bekas hpmu dulu aja ir, kalau udah bisa njaga, baru beli baru…..

    Iyo, ini ayahnya akhirnya menerima kok himbauanku untuk gak beliin dia hape sekarang ini. Nanti kalau dia lebih menunjukkan tanggung jawab dan sudah lebih gede, mungkin akan dipertimbangkan lagi.

  33. Hihihi, Irma, itu kan aku kasih linknya, Afra ikut lomba apa:). Kan aku emang gamau beliin hp, anak paling gede biasanya msh streng ortunya *nunjuk idung* Jadi majalah online bikin lomba utak atik foto, disain visual gitu. Hadiah utamanya Hp Nokia mbuh model apa aku lupa. Tp utk ukuran anak kelas 6 SD lumayan canggih. Syukurnya A belum ngerti internetan waktu itu, paling dipake sms/denger musik dan minta dijemput motor di ujung gang turun dari angkot. Pulsa dijatah 25rb/bln

  34. miapiyik said: Hihihi, Irma, itu kan aku kasih linknya, Afra ikut lomba apa:). Kan aku emang gamau beliin hp, anak paling gede biasanya msh streng ortunya *nunjuk idung* Jadi majalah online bikin lomba utak atik foto, disain visual gitu. Hadiah utamanya Hp Nokia mbuh model apa aku lupa. Tp utk ukuran anak kelas 6 SD lumayan canggih. Syukurnya A belum ngerti internetan waktu itu, paling dipake sms/denger musik dan minta dijemput motor di ujung gang turun dari angkot. Pulsa dijatah 25rb/bln

    Ha..ha…ha..ketutup sama warna pinky, mbaaaak. Maaf yoo, ini gara-gara aku milih tema yang aneh ini, kalau ada link, karena tulisannya juga pink, jd ketutup deh dengan warna pink latarnya. Oh lomba desain, keren mbak. Bisa masuk jurusan desain produk nih kalo kuliah nanti.

  35. penuhcinta said: Maksudnya Yves gak sendirian pas lagi akses internet di laptop, kan? Serem soalnya mbak internet tuh kalo sampe nyasar.

    Tetep dalam pengawasan kami, Ir. Sejauh ini dia masih sebatas game, itupun kami wanti-wanti, jangan pernah ngasih nama, ataupun alamat jelas. Mudah-mudahan dia ngerti bahaya dari internet, dan bisa waspada untuk itu.

  36. penuhcinta said: Eh Iyog sering dijadikan tempat curhat? Berarti pendengar yang baik ya? Pacarnya masih cewek manis banget itu ya? Boleh nebak gak, si cewek ini tipe ceriwis bukan?

    sms yg dikasih liat ke aku siy isinya curhatan semuwatrus iyog balesnya cuma pendek-pendek seperti, “trus?”, “oh gitu”, “iya sih”hahahahaa……jian persis ayahnyaibuknya sms merepet kemana-mana, cuma dibalesin, “oh, oke”temen ceweknya itu emang rame siy mbak, vokalis band sekolah, tipe cewek populer di sekolah gitu deh. aku juga heran kok bisa deket sama Iyog yg diem cuek gitu ? 😀

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s