Berpolitik Ala Romawi

Beberapa hari yang lalu, suamiku memperkenalkanku pada sebuah film seri yang bisa ditonton secara maraton di Netflix. Tadinya sih gak minat banget, wong filmnya tentang gladiator, film cowok banget gitu lo. Aku kan manis dan romantis, jadi sukanya nonton film komedi atau romance. Tapi akhirnya, didorong rasa penasaran akan kalimat suamiku yang ini nih: “Eh, ini film seri TV ya, tapi kok ada adegan gituannya sih?” ketika “mempromosikan” film ini ke aku, maka akhirnya aku tonton juga tuh film.

Aku nonton dari tengah-tengah, maksudnya bukan dari episode yang pertama, karena ngikutin suamiku yang udah mulai nonton duluan. Begitu nonton langsung mengenali sosok Lucy Lawless yang pernah memerankan Xena the Warrior Princess, dia berperan jadi istri orang kaya yang menjadi tuannya si Spartacus.

Spartacus sendiri adalah seorang budak yang asalnya sebenarnya warga merdeka. Dia jadi budak gara-gara desanya diserbu oleh orang Romawi dan otomatis semua warga desa dijual sebagai budak. Yang masih muda dan bodynya kekar kayak si Spartacus dilatih menjadi gladiator. Sedangkan kaum perempuannya dijual sebagai budak pelayan atau pelacur. Spartacus pun terpisah dari istrinya yang dijual ke tuan yang berbeda. Menurut suamiku, beberapa episode pertama mengisahkan bagaimana Spartacus bertahan dan tetap menyimpan keinginan untuk bertemu lagi dengan istrinya. Duh… romantis juga ternyata dia.

Sebagai calon gladiator, sebenarnya dia dicuci otaknya oleh pelatihnya. Para calon gladiator diindoktrinasi bahwa mereka harusnya bangga jadi gladiator, dan harus membela kehormatan tuannya. Tapi kenangan dan keinginan untuk bertemu lagi dengan istrinya inilah yang membuat Spartacus menjadi gladiator yang beda sendiri. Dia gak termakan doktrin “bangga jadi gladiator,” malah keinginannya cuma satu: bisa bebas dan membebaskan istrinya.

Nah, pas aku nonton film ini untuk pertama kali, adegannya adalah di sebuah arena dalam ruangan (bukan di colosseum). Spartacus tengah diadu dengan gladiator lain. Perkelahiannya cukup sadis, dan berakhir dengan Spartacus menyelamatkan nyawa tuannya yang jadi penonton dan hendak dibunuh oleh orang suruhan saingan bisnisnya. Kenapa dia nolongin tuannya ya? Oh ternyata dia dijanjikan akan dipertemukan dengan istrinya oleh tuannya itu. Makanya dengan satu lemparan kapak ke punggung pembunuh bayaran, Spartacus sebenarnya menyelamatkan keinginan untuk bertemu lagi dengan wanita yang sangat dicintainya itu.

Baik betul ya tuannya mau kasih kesempatan itu. Net nottt…. salah besar ternyata saudara-saudara! Istrinya Spartacus memang diberangkatkan dari rumah tuannya menuju tempat tuannya Spartacus. Tapi di tengah jalan, keretanya diserang perampok dan istrinya Spartacus pun terbunuh. Dan siapa dalang di balik pembunuhan itu? Yap, si tuannya Spartacus…ha…ha…ha. Dia sengaja membunuh si istri supaya Spartacus fokus pada tugasnya sebagai seorang gladiator. Dan memang setelah itu, Spartacus jadi tambah buas dan akhirnya berhasil menjadi champion alias sang juara wilayah.

Apakah film ini banyak adegan sadis? Oh tentu saja! Adegan perkelahian gladiator selalu penuh muncratan darah, kepala terpenggal, dan yang paling sadis pernah aku lihat adalah seorang gladiator yang dililit kepalanya dengan rantai sampai terpotong dan darahnya muncrat dari lehernya.

Lalu bagaimana dengan adegan gituan yang disinyalir oleh suamiku. Ha…ha…ha… ini film bisa masuk kategori X2 kali ya… soale banyak banget nudity-nya. Jadi, yang namanya budak pelayan yang cewek-cewek, kebanyakan bertelanjang dada sedangkan pelacurnya malah bugil total. Gladiatornya juga berpakaian minim banget, pake cawat doang. Tapi badannya bagus-bagus, 6 pack semua lo. Ha…ha…ha. Sedangkan adegan persetubuhan juga banyak ditampilkan, dari yang tuan-tuan gituan sama budaknya, daaaannn… para istri tuan yang kaya raya atau pejabat yang gituan sama…. para gladiator! Jadi para gladiator ini ternyata juga berfungsi sebagai pemuas nafsu para nyonya-nya! Buset deh.

Si Lucy Lawless punya gladiator favorit yang namanya Cricseus (bener gak ya spellingnya?). Saking demennya, dia bahkan dongkol saat Cricseus akhirnya dikalahkan oleh Spartacus, dan menjadi benci banget sama Spartacus.

Si Lucy selain jadi penikmat gladiator, juga menjadi germo penyalur gladiator bagi ibu-ibu pejabat yang kesepian. Oh ya, jangan bayangin ibu2 pejabatnya udah tua2 dan gembrot2 ya… namanya juga film, para wanita di film ini semuanya semlohay dan cantik tentunya. Nah di salah satu episode, ada 2 ibu pejabat yang meminta untuk bisa memakai jasa gladiator di tempat tidur. Yang satu pengennya sama Spartacus, yang satunya lagi pengen sama Cricseus.

Maka ngamuklah si Lucy karena dia gak mau berbagi cem-ceman. Tapi dia gak bisa menolak keinginan si ibu pejabat, takut lah karena pejabat di zaman itu pegang kekuasaan, sedangkan suaminya Lucy “cuma” seorang saudagar, bukan pejabat. Permintaan icip2 Cricseus pun dia sambut dengan senyum dipaksakan dan anggukan.

Spartacus, yang sebenarnya ogah melayani nafsu ibu-ibu pejabat, mau gak mau menurut karena tuannya memberi perintah langsung, dan sebagai budak, dia tak bisa menolak.

Malam pertemuan pun tiba. Spartacus yang sudah dimandikan dan didandani pun menunggu si ibu pejabat. Dia mengenakan topeng. Sedangkan si ibu pejabat juga mengenakan topeng. Mungkin maksudnya supaya gak ketahuan yak, si ibu pejabat mana yang memakai jasanya jadi rahasia si ibu tetap terjaga.

Pas lagi asyik-asyiknya menjalani prosesi, eh muncul si Lucy Lawless, sang germo dengan ibu pejabat satu lagi (make topeng juga). Dia belagak kaget melihat Spartacus bergumul dengan ibu pejabat itu. Ternyata oh ternyata, yang dilayani oleh Spartacus adalah ibu pejabat yang sebenarnya berminat pada Cricseus!

Spartacus langsung ngamuk karena si ibu pejabat yang baru saja digumulinya adalah istri dari komandan yang membasmi desanya dulu dan menyebabkan dia dan istrinya jadi budak. Langsung dia digiring pengawal.

Ibu pejabat yang salah orang itu juga tak kalah kagetnya. Dia kan pengennya sama Cricseus, dan sebenarnya dia juga gak suka sama Spartacus yang beberapa kali melontarkan hinaan kepada suaminya.

Ibu pejabat yang satu lagi, yang ada di samping Lucy Lawless malah ketawa terbahak-bahak. Girang banget dan sesumbar akan menyebarkan kejadian itu ke ibu2 yang lain. Yang diketawain gelap mata, langsung bangun dr tempat tidur, mendorong si ibu2 yang ketawa dan membenturkan kepalanya berulang kali ke lantai marmer sampai pecah dan mati deh.

Tahu kan siapa biang keladi “kekeliruan” itu? Ya si Lucy Lawless yang sengaja mengatur supaya terjadi salah pake demi supaya membalas dendam, karena merasa terhina sebab cowok cem-cemannya diincar wanita lain.

Hiii… serem banget. Dibanding sadisnya pertempuran gladiator, aku masih lebih serem dengan politik para tuan dan nyonya berduit dan berkedudukan yang mereka jalankan bahkan dalam keseharian. Licik euyyy!

Advertisements

169 thoughts on “Berpolitik Ala Romawi

  1. penuhcinta said: Mbah dukun nonton juga? Di Netflix adanya cuma season 1…hi…hi….memangnya udah 3 season? Yeeee…. berarti masih puanjaaang banget dwonk ceritanya. Gak usah diceritain ya Mbaaaahhh… biar ane penasaran neh.

    Yah, baru season 1 mah belon kelar…Season 1Episode 0 – TrailerEpisode 1 – The Red SerpentEpisode 2 – Sacramentum GladiatorumEpisode 3 – LegendsEpisode 4 – The Thing in the PitEpisode 5 – Shadow GamesEpisode 6 – Delicate ThingsEpisode 7 – Great and Unfortunate ThingsEpisode 8 – Mark of the BrotherhoodEpisode 9 – WhoreEpisode 10 – Party FavorsEpisode 11 – Old WoundsEpisode 12 – RevelationEpisode 13 – Kill Them AllSeason 2Episode 1 – FugitivusEpisode 2 – A Place In This WorldEpisode 3 – The Greater GoodEpisode 4Season 3Episode 1Episode 2 – A Place In This WorldEpisode 3 – The Greater GoodEpisode 4 – Empty Hands

  2. eddyjp said: Yah, baru season 1 mah belon kelar…Season 1Episode 0 – TrailerEpisode 1 – The Red SerpentEpisode 2 – Sacramentum GladiatorumEpisode 3 – LegendsEpisode 4 – The Thing in the PitEpisode 5 – Shadow GamesEpisode 6 – Delicate ThingsEpisode 7 – Great and Unfortunate ThingsEpisode 8 – Mark of the BrotherhoodEpisode 9 – WhoreEpisode 10 – Party FavorsEpisode 11 – Old WoundsEpisode 12 – RevelationEpisode 13 – Kill Them AllSeason 2Episode 1 – FugitivusEpisode 2 – A Place In This WorldEpisode 3 – The Greater GoodEpisode 4Season 3Episode 1Episode 2 – A Place In This WorldEpisode 3 – The Greater GoodEpisode 4 – Empty Hands

    Ha…ha…ha.. ketinggalan banget deh gue! Mudah2an nanti di Netflix ada juga yg season 2 dan 3-nya deh.

  3. penuhcinta said: Yo wis, kalau gitu Sherlock Holmes-nya dihibahkan ke aku aja…hua…ha…ha. *ngelunjak*.

    hihihiihihi…awas jangan tinggi tinggi ngelunjaknya, ntar kejedot plafon.

  4. penuhcinta said: Dikasih peringatan mbak, kata operatornya kalau terjadi lagi serius akibatnya. Biasanya telepon aku kunci, tapi waktu itu pas lengah, gak kekunci dan dimainin Darrel…he…he. Setelah itu ya kunci melulu deh.

    Fiuhh….untungnya masih dikasih peringatan ya.

  5. penuhcinta said: Dan buku yang dipegang mbak Evi ini diterbitkan oleh Doubleday & Company Inc. ya? Berarti terbitan tahun 1930, mbak.

    Ooo…berarti ngliat dari tahun paling baru ya? Tadi KSB juga ngomong yang sama. Terbitan 1930, berarti tua banget ya bukunya. Jackpot. hahahahaha… *langsung mikir matrek dweh*

  6. enkoos said: hihihiihihi…awas jangan tinggi tinggi ngelunjaknya, ntar kejedot plafon.

    Gak bakal kepentok, mbak…wong aku mini banget…ha…ha…ha. Mbak, simpen aja, buar warisan Menik nanti. Bener deh, aku kasih link-nya ya di PM…pasti kaget deh kalau tahu harga buku itu sekarang berapa.

  7. enkoos said: Ooo…berarti ngliat dari tahun paling baru ya? Tadi KSB juga ngomong yang sama. Terbitan 1930, berarti tua banget ya bukunya. Jackpot. hahahahaha… *langsung mikir matrek dweh*

    Iyo, tahun yg paling baru itulah tahun terbit buku itu. Iyo, udah 82 tahun udah termasuk buku tua yang diincar kolektor, mbak. Aku juga tahunya soal buku tua itu ternyata berharga mahal dari nonton film kok…he…he. Filmnya Uma Thurman judulnya Motherhood, settingnya di NYC, tentang repotnya jadi seorang ibu. Keluarganya pas-pasan eh terus suaminya nemu buku tua yang dibuang begitu saja sama pemiliknya di pinggir tempat sampah (dalam kardus). Ternyata itu buku edisi pertama yang ditandatangan penulisnya, dijual laku 5 juta dolar…he…he. Sekali-kali matrek ya ra popo, mbak…. asal jangan matrek terus jadi ogah blog walking, nyuekin blogger, sampe kirim sp segala dwonk…ha..ha…ha.

  8. penuhcinta said: Keluarganya pas-pasan eh terus suaminya nemu buku tua yang dibuang begitu saja sama pemiliknya di pinggir tempat sampah (dalam kardus). Ternyata itu buku edisi pertama yang ditandatangan penulisnya, dijual laku 5 juta dolar…he…he.

    Wuihhh mantap rek, buku seharga 5juta dollar. Bisa buat makan 7 turunan tuh. Itu kisah nyata ya? Bukunya apa?

  9. penuhcinta said: Sekali-kali matrek ya ra popo, mbak…. asal jangan matrek terus jadi ogah blog walking, nyuekin blogger, sampe kirim sp segala dwonk…ha..ha…ha.

    kwkwkwkwkwkw….Matreknya kebablasen. Segala sesuatu dinilai dengan uang uang uang uang.

  10. enkoos said: Wuihhh mantap rek, buku seharga 5juta dollar. Bisa buat makan 7 turunan tuh. Itu kisah nyata ya? Bukunya apa?

    Bukaaan….. itu sih kisah fiksi, mbak. Tapi memang nyatanya buku tua bisa terjual mahal kok, makanya ada kolektor buku antik. Tentu saja gak semua buku, karya2 penulis terkenal biasanya yg diincir. Sir Arthur Conan Doyle termasuk tuh, mbak.

  11. penuhcinta said: Bukaaan….. itu sih kisah fiksi, mbak. Tapi memang nyatanya buku tua bisa terjual mahal kok, makanya ada kolektor buku antik. Tentu saja gak semua buku, karya2 penulis terkenal biasanya yg diincir. Sir Arthur Conan Doyle termasuk tuh, mbak.

    Iya, Conan Doyle penulis handal. Charles Dickens termasuk gak? Mark Twain?

  12. enkoos said: Iya, Conan Doyle penulis handal. Charles Dickens termasuk gak? Mark Twain?

    Masuk banget, mbak… punya juga ya buku kunonya? Wah, wah, wah…. panen iki! Hua…ha…ha.

  13. penuhcinta said: Masuk banget, mbak… punya juga ya buku kunonya? Wah, wah, wah…. panen iki! Hua…ha…ha.

    kwkwkwkwkkww……nggak duwe. kapan hari liat di Barnes & Noble, baru muncul. Ngliat nama2 penulisnya serasa kenal. Sering jadi tugas bacaan di sekolahnya Menik dan Menik enggak suka. Hahahahah..bahasanya aneh katanya.

  14. enkoos said: kwkwkwkwkkww……nggak duwe. kapan hari liat di Barnes & Noble, baru muncul. Ngliat nama2 penulisnya serasa kenal. Sering jadi tugas bacaan di sekolahnya Menik dan Menik enggak suka. Hahahahah..bahasanya aneh katanya.

    Oh ya, penulis2 masa lampau kan bahasanya bertele-tele, berbunga-bunga…he….he… soale belum ada TV, lum ada internet, dan buku memang jd sarana hiburan satu2nya.

  15. bambangpriantono said: Aku sementara cukup baca versi e-booknya sih. Btw, kalau gak ada gitunya kan gak seruuu…..yg penting gak kayak film Caligula yg super vulgar dan BB+++

    Malah lum liat Caligula, Cak. Iyaaa…itu cuma bumbunya aje. Inti ceritanya ya perjuangan untuk meraih kebebasan.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s