Siapa Bilang Orang Tua Selalu Benar?

Sebuah video yang diposting di Youtube mengagetkan Amerika. Video yang telah ditonton sebanyak lebih dari 4 juta kali ini menampilkan sebuah rekaman penyiksaan seorang gadis berusia 16 tahun oleh bapaknya sendiri. Dalam video itu terlihat si anak diperintahkan untuk berlutut di pinggir tempat tidur, tengkurap dan menerima cambukan gesper bapaknya. Di tengah prosesi penyiksaan, si Ibu datang dan bukannya membela, tapi justru malah ikut memarahi si anak dan menyuruhnya untuk mematuhi perintah bapaknya. Video ini berlangsung selama tujuh menit, dan ini bukan pertama kalinya si anak diperlakukan demikian.

Disclaimer: Video ini sangat deskriptif dan mencekam, harap jangan menontonnya jika merasa tidak kuat secara emosional.

Adalah Hillary Adams, seorang gadis berusia 16 tahun yang sudah kenyang disiksa oleh bapak kandungnya sendiri. Karena dipukuli sudah merupakan kejadian rutin, maka Hillary berinisiatif memasang video kamera di atas lemari yang disamarkan dengan scarf. Saat dia merasakan situasi mulai panas, dia menyalakan video dan “kebetulan sekali” setengah jam kemudian terjadilah peristiwa penyiksaan. Selain dipukuli, Hillary juga dimaki-maki dan direndahkan oleh bapaknya.

Peristiwa pemukulan yang sempat terekam itu (ada banyak pemukulan yang tak terekam tentunya) terjadi karena Hillary ketahuan telah mengunggah musik dan games secara ilegal oleh bapak kandungnya, William Adams. Saat dihubungi oleh pihak wartawan, William Adams mengakui bahwa dialah laki-laki di dalam video yang menghebohkan tersebut. Dia mengatakan bahwa anaknya telah mencuri meskipun dia tak mau mengungkapkan detail kejadiannya. William mengatakan bahwa video itu terlihat lebih buruk dari kejadian sebenarnya dan dia tegas mengatakan tidak merasa ada kesalahan karena yang dia lakukan hanyalah mendisiplinkan anaknya. Di kesempatan yang sama, dia mengakui kalau dia “lost his temper” atau kehilangan kendali emosi tapi kembali mengelak dengan mengatakan bahwa kejadiannya sudah lama berlalu dan dia sudah minta maaf.

Memang peristiwanya sudah lama berlalu, sudah 7 tahun yang lalu. Hillary Adams saat ini telah berusia 23 tahun dan telah mandiri, hidup tidak bersama orang tuanya lagi. Sedangkan sang ibu sudah empat tahun yang lalu bercerai dari William Adams.

Yang membuat masyarakat Amerika menjadi kaget adalah kenyataan bahwa William Adams adalah seorang hakim! Dan ironisnya, dia adalah hakim masalah keluarga yang banyak menangani kasus-kasus yang melibatkan anak di bawah umur, mungkin termasuk kasus child abuse, atau penyiksaan anak. Bisa dibayangkan betapa lucunya (baca: aneh) jika seorang hakim yang melakukan child abuse mengadili kasus tentang child abuse.

Saat diwawancarai oleh stasiun TV MSNBC dalam acara Today’s Show, Hillary yang tampak sangat tenang mengatakan bahwa dia menunggu hingga tujuh tahun untuk go public dan mengunggah video penyiksaan dirinya karena sebelumnya dia masih hidup di rumah orang tuanya, secara finansial masih tergantung pada si ortu. Dia juga mengatakan bahwa meskipun dia tidak ingin siapapun kehilangan pekerjaan, tapi menurutnya bapaknya seharusnya tidak menempati posisi sebagai hakim.

Sejak menyeruaknya kasus ini, memang telah terjadi gelombang protes kepada hakim William Adams, baik secara viral, melalui Facebook, maupun secara langsung, terbukti dengan membanjirnya protes melalui telepon dari seluruh penjuru dunia kepada kepolisian kota Rockport, Texas. Tuntutan agar dia mundur dari jabatannya terus didengungkan. Dan jumlah penonton video yang diunggah di Youtube terus bertambah. Jika hari Kamis pagi kemarin penontonnya melebihi satu juta orang, maka hari ini, Sabtu sore waktu Amerika tengah, penontonnya telah melebihi 4 juta orang.

Perbincangan dan perdebatan mengenai Corporal Punishment atau pendisiplinan anak dengan cara memukul atau memberi hukuman fisik kembali menghangat. Sebuah sumber menyebutkan bahwa Amerika Serikat merupakan tempat terjadinya kasus penyiksaan anak yang terburuk di antara negara-negara industri lainnya. Setiap lima jam, seorang anak meninggal karena disiksa atau diabaikan (tidak terurus). Di negara bagian Texas sendiri, corporal punishment dinyatakan legal, diperbolehkan bahkan untuk dilakukan oleh guru-guru di sekolah.

Tapi tentu saja, kalau mau dibandingkan, kondisi perlindungan anak di negara berkembang seperti Indonesia lebih parah. Di AS masih ada lembaga Social Service yang akan menahan orang tua yang terbukti melakukan penyiksaan dan jika korbannya masih di bawah umur, maka si anak akan diambil serta dijauhkan dari orang tua penyiksa itu. Selain itu, juga terdapat badan-badan sosial non pemerintah yang memberikan bantuan bagi anak-anak dan wanita yang mengalami penyiksaan oleh anggota keluarga mereka sendiri.

Sayangnya, kasus hakim William Adams ini kemungkinan tidak dapat diproses secara hukum karena adanya Statute of Limitation, yang membatasi kasus seperti ini hanya berjangka lima tahun saja. Jika lewat dari lima tahun, maka tidak dapat diproses. Selain itu usia Hillary saat divideokan adalah 16 tahun yang secara hukum tidak bisa dikategorikan anak-anak lagi (di bawah 14 tahun).

Namun, tampaknya Hillary memang tidak berniat untuk menuntut secara hukum. Saat diwawancarai Anderson Cooper di stasiun TV CNN, Hillary mengatakan bahwa dia ingin “… menunjukkan pada bapak saya, ‘ Hey, sebenarnya Anda tidak mau mengakui tentang bagaimana Anda telah memperlakukan saya dan ibu saya.’ Dan mungkin dengan menunjukkan ini maka dia akan melihat apa yang sebelumnya tidak dapat dilihatnya,” Kepada Associated Press, Hillary mengatakan bahwa bapaknya seharusnya mencari bantuan (untuk menyembuhkan dirinya) dan menghimbau: “Kita perlu mencoba mendekati para korban penyiksaan dan juga para pelakunya serta menyadarkan mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi.”

Ya, kita perlu sadar, bahwa orang tua tidak selamanya benar. Bahwa penyiksaan , apalagi dilakukan oleh orang tua sendiri adalah hal yang salah dan tidak dapat ditolerir, meskipun atas nama mendisiplinkan anak atau alasan-alasan klasik lainnya.

Dalam artikel mengenai hal ini, takepart.com memberikan lima langkah bagi masyarakat untuk mencegah dan mengurangi terjadinya penyiksaan anak. Tentu saja konteksnya adalah di negara AS dan tidak semua
nya bisa dijalankan di Indonesia. Namun mungkin ada hal-hal yang bisa dimodifikasi dan disesuaikan. Langkah-langkah tersebut adalah:

1. Mencari informasi lebih banyak mengenai apa itu penyiksaan anak (child abuse) dari sumber-sumber yang banyak sekali tersedia, terutama di Internet.

2. Melaporkan jika dicurigai telah terjadi penyiksaan atau pengabaian anak. (ke komnas ham perlindungan anak?)

3. Menyumbangkan dana ke lembaga-lembaga perlindungan anak.

4. Memberikan advokasi untuk korban penyiksaan anak (ini tentunya untuk yang memang memiliki kapasitas untuk itu).

5. Melakukan kerja sosial tanpa dibayar untuk lembaga-lembaga perlindungan anak.

Dan menurut saya, lima atau mungkin banyak langkah yang bisa kita lakukan ini hanya bisa dimulai dengan satu kata: EMPATI.

Semoga tidak ada lagi tangisan satu anakpun karena cambukan bapaknya…
Semoga tidak ada lagi jeritan satu anakpun karena tamparan ibunya…

Bapak, ibu, kalianlah tempat kami berlindung dan mendamba kasih sayang…
Jangan pukuli kami lagi… jangan sakiti kami dengan raga dan kata-katamu…
Kami darah dagingmu… Sayangilah kami pak, bu…

Foto-foto diambil dari sini. Dan video Yutube itu bisa dilihat di sini, harus dengan daftar masuk (sign in).


Advertisements

77 thoughts on “Siapa Bilang Orang Tua Selalu Benar?

  1. Ke TKP liat video-nya…Btw,ada yg tahu pelem Ari Anggara?(Based on true story).hampir mirip kayak gini.dan sptnya lbh sadis.Sbg orang tua, insya Allah saya tidak mau menyakiti spt itu. Semoga Allah senantiasa menjaga ketenangan dan kesabaran saya, dan mgkn rekan2 semua…

  2. Kasus ini, juga jadi salah satu headline berita di TV Perancis, Ir. Komentarku ama P-J, ironis banget ama pekerjaan si bapak ama apa yang dilakukan terhadap anak gadisnya.Pada saat kami menyelesaikan kasus bullying yang dialami si Yves dengan bapak dari anak yang membully, dia mengatakan apakah “saya harus memukul anak saya untuk mendidiknya?” Aku langsung ke luar air mata, sambil ngomong, “Jangan, bapak. Jangan pernah memukul anak bapak, itu bukan cara yang terbaik untuk mendidik.” Beneran sedih….,kalau ngeliat atau mendengar orang tua yang suka main kekerasan terhadap anak dengan alasan mendidik anak tersebut….

  3. orangjava said: Disini ada anak perempuan turunan Turki ditembak bapaknya, karena dia pacaran dengan Jerman…..payah…..adat edhan…

    Dari bangsa manapun bisa saja sadis dan gak masuk akal ya Pakdhe. Kalau cuma alasan ras, bangsa, berarti si pihak penembaknya yang rasis/xenophobic ya.

  4. beautyborneo said: Ternyata d negara yg menjunjung tinggi ham msh banyak kekerasan seperti itu ya…kalau d indonesia lbh banyak tdk terdeteksi

    Secara aturan, sudah sangat keras. Penyiksa anak hukumannya penjara dan lepas hak asuh anaknya. Itu kan berat, ortu jd gak boleh ngasuh anaknya sendiri. Tapi dalam prakteknya, ya masih saja ada yang melanggar dan di beberapa negara bagian seperti Texas, corporal punishment masih dibolehkan.

  5. rosshy77 said: Ga berani buka mba irGila, sampe segiunya mendisplin anak, itu mah pelampiasan emosi yg ga terkendaliEgois banget yaSenoga kita diberi hikmat dan kesabaran mendidik anak2 dgn bijak dan benar

    Iya Ros… itu sadis. Gak ada darah bertebaran sih kayaknya, tapi jeritan si anak bikin pilu, makian si bapak bikin perih. Aaaamin utk doanya Ros. Semoga ya.

  6. nitafebri said: baru buka kompie n udah liat..baru di pada 1.16 menit di slepet2 pake gesper..eh ibunya malah ikutan yaa..bayangin mah sakit, merah2 pastinya lecet..

    Iya, Nit, ibunya ikutan karena sudah dicuci otak, dan kurasa dia juga korban kekerasan suaminya.

  7. mywolly said: Aku liat video nya, sedih banget… Tega sih sama anak sendiri kayak gitu…

    Keji banget ya, dan itu dilakukan bertahun2 sampai anaknya segede gitu. Waktu kecilnya kayak apa, coba… kebayang gak anak kecil dicambukin kayak gitu.

  8. debapirez said: Ke TKP liat video-nya…Btw,ada yg tahu pelem Ari Anggara?(Based on true story).hampir mirip kayak gini.dan sptnya lbh sadis.Sbg orang tua, insya Allah saya tidak mau menyakiti spt itu. Semoga Allah senantiasa menjaga ketenangan dan kesabaran saya, dan mgkn rekan2 semua…

    Iya Ded, aku sih gak akan lupa peristiwa Arie Hanggara yang disikas ibu tirinya sampai mati. Mudah2an kita semua tidak akan seperti itu, bahkan tidak seujung kukupun seperti itu.

  9. nonragil said: Kasus ini, juga jadi salah satu headline berita di TV Perancis, Ir. Komentarku ama P-J, ironis banget ama pekerjaan si bapak ama apa yang dilakukan terhadap anak gadisnya.Pada saat kami menyelesaikan kasus bullying yang dialami si Yves dengan bapak dari anak yang membully, dia mengatakan apakah “saya harus memukul anak saya untuk mendidiknya?” Aku langsung ke luar air mata, sambil ngomong, “Jangan, bapak. Jangan pernah memukul anak bapak, itu bukan cara yang terbaik untuk mendidik.” Beneran sedih….,kalau ngeliat atau mendengar orang tua yang suka main kekerasan terhadap anak dengan alasan mendidik anak tersebut….

    Oh, sampai juga ke Eropa ya, mbak? Di sini heboh dan penonton di Youtube terus bertambah.Membentak atau memukul sebenarnya jalan pintas buat ortu2 yang kehabisan akal untuk mendidik anaknya. Padahal semakin dikerasin, si anak biasanya semakin bandel.

  10. penuhcinta said: Dokter yang mana Naz? Maksudnya hakimnya? Gangguan jiwa kayaknya sih atau bermental abusive.

    Doh, tepuk jidatGegara ketemu dokter yang kena gangguan mental kok kebawa2 ke siniIyah, Hakim kamsudnya 😀

  11. anazkia said: Doh, tepuk jidatGegara ketemu dokter yang kena gangguan mental kok kebawa2 ke siniIyah, Hakim kamsudnya 😀

    Hi…hi.. gak apa2 Naz. Anaz ketemu dokter yg sakit jiwa? Di mana?

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s