Provokasih

Semua yang pernah jadi emak-emak ataupun yang sering mengamati tingkah laku anak kecil pasti tahu kalau mereka adalah makhluk yang sangat haus perhatian. Buat mereka, perhatian equals dengan kasih sayang. Untuk kasus-kasus tertentu bahkan perhatian “negatif” juga mereka terima dengan “senang hati” saking minimnya perhatian jenis sebaliknya yang bisa mereka dapatkan. Makanya anak-anak yang kurang perhatian biasanya nakal-nakal karena kemarahan dan omelan orang tuanya dianggap mereka sebagai bentuk perhatian, meskipun sebenarnya perhatian yang negatif.

Nah, bagaimana dengan kedua anak saya yang sering saya bangga-banggakan itu? (Iyalah dibanggain, kan anak sendiri!) Mereka berdua, masing-masing 9 dan 5 tahun, juga termasuk anak-anak yang haus kasih sayang, sama seperti anak-anak lainnya. Ada saja tingkah mereka kalau sudah mencari perhatian emaknya.

Jika emaknya sedang asyik bekerja di depan komputer, maka mereka bergantian atau bersama-sama mengajak ngobrol tentang hal apa saja, atau memamerkan hasil kreasi LEGO mereka sambil menerangkan fungsi2 bagian kendaraan yang mereka buat misalnya. Hal itu dilakukan sangat sering, sampai-sampai si Emak harus berulang-ulang menekankan bahwa sedang bekerja dalam rangka cari uang untuk mereka juga. Biasanya sih kalau sudah dibilangin dengan tegas, mereka akan mengerti dan cari kesibukan lain tanpa mengajak ngobrol emaknya, tapi teteupppp… lokasinya ya di ruangan yang sama, tepat di samping emaknya…ha…ha…ha. Maka, tak heran kalau kamar si Emak juga tiap hari dipenuhi segala mainan dan buku bacaan, karena mereka ternyata tetap ingin secara fisik berdekatan dengan si Emak.

Lain waktu saat si Emak memasak, maka bergantian pula mereka memasuki wilayah dapur yang terlarang buat mereka. Terlarang karena bahaya, ada kompor panas dan sejenisnya dan dapurnya sempit. Mereka juga tak segan menawarkan bantuan, apalagi si Kakak yang sudah pernah diajari dan mencoba menceplok telor sendiri. Hal itu mereka lakukan demi bisa menghabiskan waktu dengan si Eamk, meski di dapur yang panas sekalipun. Kadang si Emak gak tega dan terharu melihat mereka menawarkan bantuan lalu membolehkan mereka untuk membantu, sekedar kupas-kupas telur rebus atau mengocok adonan kue.

Tapi, kadang mereka juga bisa melakukan hal-hal yang memancing kemarahan si Emak demi mendapatkan perhatiannya. Seperti misalnya saat si Emak sedang mengejar deadline terjemahan, lalu si Kakak memainkan keyboardnya keras-keras. Mending kalau bisa memainkan lagu merdu, ini sih cuma nada satu-satu yang mencoba menirukan irama simfoni Beethoven atau Mozart yang didengarnya di CD, alias pasti ada nada2 salah atau fals. Ya namanya juga cuma main-main bukan karena sedang belajar main keyboard secara serius. Bayangkan kalau sedang konsentrasi tiba-tiba ada suara… neeeetttt…notttt…notttt dengan kerasnya. Atau tiba-tiba ada suara gedombrangan dari arah ruang tengah yang ternyata adalah suara jam dinding yang jatuh dan rusak dengan sukses akibat terkena lemparan bola yang mereka mainkan di dalam rumah.

Kali lain mereka berdua berantem sampai si Adik memukul kakaknya. Lalu terjadilah delik aduan bertubi-tubi dari kedua pihak lengkap dengan jejeritan dan bantah-bantahan yang bikin pusiiiiing kepala, padahal si Emak lagi sibuk di cuci piring di dapur dan sama sekali tidak menikmati kesibukan itu.

Mereka akan lebih “hot” memancing perhatian si Emak kalau tahu bahwa si Emak cuma melakukan hal-hal yang sifatnya rekreasional, seperti ngempi atau browsing di Internet (selain buat terjemahan), atau menonton TV. Untuk yang terakhir ini, cara memancingnya sangat mudah. Cukup duduk di dekat emaknya dan ikut menonton karena mereka tahu si Emak gak mau anak2nya keseringan nonton TV apalagi acara-acara orang dewasa seperti yang ditonton emaknya. Alhasil, si Emak akan mematikan TV dan batal menonton lalu memberikan perhatian yang mereka dambakan itu pada mereka.

Meskipun saya sering kali menyikapi provokasi mereka dengan kemarahan, tapi sebenarnya saya sadar betul bahwa apa yang mereka lakukan itu semata-mata hanya karena mereka memang butuh perhatian dan kasih sayang ortunya. Sebenarnya itu sebuah sanjungan, bukan? Itu artinya saya sebagai emaknya masih diinginkan dan dibutuhkan. Karena itu, saya cenderung menganggap apa yang mereka lakukan itu sebagai provokasih; provasi dari yang terkasih untuk yang terkasih yang dilakukan dengan penuh kasih sayang.

Provokasi sendiri artinya adalah tindakan yang bisa memancing emosi, dan itu bukan saja emosi negatif seperti kemarahan namun juga bisa kebahagiaan, makanya kalau dalam bahasa Inggris “provoke” bisa juga disandingkan dengan kata “laughter” (tawa). Dan saya sebagai seorang ortu yang masih banyak belajar dan ingin selalu mencoba menjadi lebih baik, sebenarnya bisa memilih bagaimana harus bersikap saat diprovokasih oleh kedua darah daging saya sendiri; mau terprovokasih jadi marah atau malah jadi sadar dan meninggalkan apapun itu yang saya lakukan demi menghabiskan detik yang tak dapat datang kembali dengan bercengkrama bersama mereka. Apalagi jika saya cuma melakukan kegiatan lain yang tidak terlalu penting dan tidak ada kaitannya dengan mereka. Mustinya saya malah jadi tersentil dan merasa bersalah, bukannya malah marah-marah dan cuek saja tetap menjalankan aktivitas lain-lain itu tanpa mempedulikan provokasih mereka.

Sebenarnya kalau mau memotivasi diri saya sendiri untuk menghargai provokasih mereka, saya biasanya mengingatkan diri saya sendiri bahwa dicuekin itu sakittttt jendral! Mereka pasti sedih kalau tidak saya acuhkan apalagi di masa2 haus kasih sayang seperti sekarang ini. Dan saya tahu banget kalau masa-masa seperti ini gak akan lama kok karena begitu kenal dengan pertemanan, kekasih, keluarga sendiri dst… mereka pasti gak selengket dan sebegitu haus perhatiannya seperti saat ini.

Sebaliknya kalau sekarang saja mereka sudah nyuekin saya, berarti mereka gak butuh perhatian saya dan gak merasakan pentingnya diperhatikan oleh saya. Artinya, saya ada atau tiada, tak ada bedanya buat mereka. Huaaaa! Sedih banget kalau begitu.

Jadi, biar bagaimanapun, provokasih tetap lebih baik karena tandanya mereka menghargai keberadaan saya sebagai emak tercinta mereka. I will never stop hoping to be provoked by them and hopefully, can be wiser in the way I respond to their “provokasih.”

Advertisements

87 thoughts on “Provokasih

  1. Ah elo Ma, bikin gw ngiri aja…Anak gw 2 perempuan semua, nggak bisa diajak “bandel yang bertanggung-jawab” di luaran. Pun kalo ngobrol sama anak perempuan, semuanya kisaran boneka, sepeda, temen-temen perempuannya, dan segala omongan anak perempuan yang bikin gw nggak ngerti. Ngajak nge-jam main musik juga nggak nyambung, sukanya sama band-band selera pasar macam Ungu, Wali plus boyband Indonesia yang nggak jelas kayak Smash, mana suka gw…Nasiiiibbb… Nasiiiibbbb….

  2. Hayah Man… kagak use sedih begetoh dong. Nih gue kasih sapu tangan, biar elu elap dulu tuh air mata. Bisa gak anak2lo diajak bermain yang netral gitu, kayak main tenis meja atau bulutangkis bareng? Atau ke toko buku bareng, atau melukis bareng. Pasti ada lah kegiatan yang gak feminin dan bisa dilakukan bareng elu. Anak2 gue aja gue ajakin bikin kue bareng…ha…ha…ha. Kalau mereka ngajakin gue main mobil2an atau LEGO, paling gue bilang gak minat tapi dengerin aja kalau mereka cerita macam2 tentang mobil dan LEGO. Perkara selera musik juga gue gak terlalu arahin, cuma gue beliin banyak CD musik klasik dan Imo ternyata suka. Kalau Darrel kayak babenya, sukanya metal gara2 ayahnya suka setel musik metal keras-keras. Jadi ternyata, biar gue sering dengar lagu2 mellow, mereka tetap gak suka dan malah protes. Kata Darrel: “Mama, this song is too girly.”

  3. penuhcinta said: Eh, pas ketiduran di bus gak kelewatan dan jadi nyasar tuh?

    Alhamdulillah enggak pernah. Mungkin karena alarm tubuh udah ngeset kali ya. Kapan bakal nyampe tiba tiba aja bangun. Sebelum apal ama rute bis, kok bisa ya gak ngantuk. Begitu udah apal, begitu pantat nempel kursi begitu mata merem. Ck ck ck ck ck….heran deh.

  4. penuhcinta said: Di sini kan termasuk nyaman berkali2 lipat dari di sana, termasuk situasi jalanannya. Eh aku sotoy, lebih nyaman beneran gak?

    Gakkkkk kok, gak sotoyyyy. Analisa Irma bener banget. Transportasi di Cina enggak disiplin dan rada semrawut. Paling tidak di Guangzhou, Shanghai dan Xian yang pernah aku lakukan. Tapi Shanghai kan kota dunia. Kalau kota dunianya aja enggak disiplin, gimana yang bukan kota besar? Disiplin dan rada semrawut maksudnya, jadwalnya enggak pas, umpel2an kayak sarden kalau jam sibuk. Tapi masih jauh lebih bagus dibanding sistem transportasi umum di Indonesia. Sedangkan bis di US, kalau pintu bis enggak bisa ditutup, sopirnya gak mau terima penumpang lagi meskipun si penumpang maksa. Kalau masalah disiplin sopir dan penduduknya (bis di Shanghai), jempol deh. Berhenti hanya di halte, di dalam bis nggak boleh ngerokok ya pada manut. Bapak mertuaku juga pernah ngomong, kalau aku bisa menaklukkan angkutan umum di Shanghai, hidup di Amerika sih cincai katanya. Karena logika beliau, Shanghai menggunakan bahasa (lebih tepatnya aksara) yang relatif sulit dimengerti. Kalau nyasar, minta bantuan sapa? Sedangkan di US, senyasar nyasarnya, segeblek gebleknya, masih bisa mangap coro Linggis dan minta bantuan ke polisi misalnya. Rute dan jadwal bis juga tepat waktu, bisa dilihat di situsnya masing2. Disiplin dan teratur dalam segala hal sehingga memudahkan siapa saja.

  5. luqmanhakim said: Anak gw 2 perempuan semua, nggak bisa diajak “bandel yang bertanggung-jawab” di luaran. Pun kalo ngobrol sama anak perempuan, semuanya kisaran boneka, sepeda, temen-temen

    Enggak bisa diajak bandel atau mas Luqmannya yang kurang berusaha?Anakku juga perempuan mas. Umur 2 tahun udah ikut jalan kemana mana denganku dengan cara backpacking. Maenannya rusuh rusuh, kotor kotor. Gulung koming di pantai sampe badannya penuh pasir, naik angkutan pedesaan kumpul pedagang sayur. Naik gunung dengan kugendong di bagian depan sedangkan ransel kugendong di belakang. Pernah juga kuajak hitchhike waktu umurnya 2 atau 3 tahun ya, lupa tepatnya. Umur 4 tahun ngerasain arung jeram untuk pertama kalinya. Bukan di Jawa tapi di Sulawesi. Umur yang tepat karena urat takutnya belum tumbuh. Gitu nggak mau duduk di tengah, maunya duduk di depan supaya bisa kena cipratan air. Jalan kaki keliling Rantepao, malemnya demam karena terlalu capek. Gitu besoknya yang maksa minta main dayung di sungai. Belum lagi hobinya suka manjat2 pagar tinggi bisa berjalan. Ibuku udah bengok bengok tapi aku cuek aja. Biarin aja anak bereksplorasi, toh aku juga ada di bawahnya untuk berjaga. Jadi bukan karena perempuan atau laki, tapi orangtuanya yang kudu pinter mengarahkan.

  6. penuhcinta said: Nih gue kasih sapu tangan, biar elu elap dulu tuh air mata.

    Buat lap ingus dulu… Srrrrrllllllpppppppp……. Punya anak laki (kayaknya) asik, bisa diajak nonton konser musik rock bareng, headbanging bareng. Kemaren-kemaren aja waktu nonton Rockin’ Land, nggak ada satupun dari istri sama anak yang tertarik. Istri alesannya punya anak kecil (anak kedua gw pan masih belom 2 taon) dan nggak ngerti musiknya. Anak pertama gw bilangnya nggak ngerti sama musiknya plus nggak suka. Plus-minus punya anak laki, atau perempuan. Wajarlah Ma, manusia selalu ngiri, kayak gw yang ngiri mulu kalo ngeliat temen-temen yang punya anak laki, kayaknya pas gede gitu asik banget, bisa kompak sama bapaknya, pun bisa jagain ibunya jadi bodyguard gitu. Tiba-tiba aja gw jadi keingetan sama kakak ipar gw yang punya anak laki umur 3 tahunan gitu dan kemaren lebaran habis-habisan ngacak-ngacak rumah gw. Bandel banget. Kakak ipar gw sendiri sampe bilang, “Masih pengen punya anak laki? Ambil deh tuh Thoriq. Nggak kuat aku sama nakalnya. Kayak gitu tuh kalo punya anak laki. Parah!”

  7. enkoos said: Alhamdulillah enggak pernah. Mungkin karena alarm tubuh udah ngeset kali ya. Kapan bakal nyampe tiba tiba aja bangun. Sebelum apal ama rute bis, kok bisa ya gak ngantuk. Begitu udah apal, begitu pantat nempel kursi begitu mata merem. Ck ck ck ck ck….heran deh.

    Hebat dong mbak. Aku aja dulu kalau naik angkot dan ketiduran suka kelewatan…ha…ha…ha. Aku juga tipe bisa tidur di mana aja mbak… di dalam bajaj yang berjalan juga bisa.

  8. enkoos said: Bapak mertuaku juga pernah ngomong, kalau aku bisa menaklukkan angkutan umum di Shanghai, hidup di Amerika sih cincai katanya. Karena logika beliau, Shanghai menggunakan bahasa (lebih tepatnya aksara) yang relatif sulit dimengerti. Kalau nyasar, minta bantuan sapa? Sedangkan di US, senyasar nyasarnya, segeblek gebleknya, masih bisa mangap coro Linggis dan minta bantuan ke polisi misalnya. Rute dan jadwal bis juga tepat waktu, bisa dilihat di situsnya masing2. Disiplin dan teratur dalam segala hal sehingga memudahkan siapa saja.

    Yap, alpokat deh sama bapak mertuanya mbak Evi. Meskipun misalnya mbak Evi udah jago bicara dan baca aksara Cina, tetap aja lebih nyaman di sini ya. Aku malah jarang merasakan bus umpel2an kalau di Dale. Penumpang berdiri aja jarang. Kalau di NYC dan Chicago memang ada sampai yg berdiri krn gak kebagian tempat duduk.

  9. luqmanhakim said: Buat lap ingus dulu… Srrrrrllllllpppppppp……. Punya anak laki (kayaknya) asik, bisa diajak nonton konser musik rock bareng, headbanging bareng. Kemaren-kemaren aja waktu nonton Rockin’ Land, nggak ada satupun dari istri sama anak yang tertarik. Istri alesannya punya anak kecil (anak kedua gw pan masih belom 2 taon) dan nggak ngerti musiknya. Anak pertama gw bilangnya nggak ngerti sama musiknya plus nggak suka. Plus-minus punya anak laki, atau perempuan. Wajarlah Ma, manusia selalu ngiri, kayak gw yang ngiri mulu kalo ngeliat temen-temen yang punya anak laki, kayaknya pas gede gitu asik banget, bisa kompak sama bapaknya, pun bisa jagain ibunya jadi bodyguard gitu. Tiba-tiba aja gw jadi keingetan sama kakak ipar gw yang punya anak laki umur 3 tahunan gitu dan kemaren lebaran habis-habisan ngacak-ngacak rumah gw. Bandel banget. Kakak ipar gw sendiri sampe bilang, “Masih pengen punya anak laki? Ambil deh tuh Thoriq. Nggak kuat aku sama nakalnya. Kayak gitu tuh kalo punya anak laki. Parah!”

    Rumput tetangga selalu lebih hijau ya, Man…he…he. Asal jangan ngiri liat bini tetangga ye. Bisa ditimpuk ama mbak Tuti lo. Perkara musik mah bisa ditularin atuh, Man. Kan banyak cerita2 tuh tentang orang jadi suka dengar musik tertentu karena ketularan kakaknya lah, babenya lah. Lu sering2 aja puter tuh lagu2 kesukaanlo saat bareng2 anak2lo. Nanti lama2 juga kecuci otak mereka dan jadi suka…hua…ha…ha. Gimane kalo lu produksi anak lagi aje dan moga2 dapet cowok deh tuh. Ada juga kan diet khusus dan waktu pembuahan yg tepat yang bisa memperbesar kemungkinan dapet anak cewek apa cowok. Tapi gue kagak tahu deh efektifitasnya, soalnya gue sendiri kagak pernah nyobain.

  10. penuhcinta said: Hebat dong mbak. Aku aja dulu kalau naik angkot dan ketiduran suka kelewatan…ha…ha…ha. Aku juga tipe bisa tidur di mana aja mbak… di dalam bajaj yang berjalan juga bisa.

    Tos!! sebagai anggota KPS (Klub Pelor Selalu). Di tempatku sudah ada regenerasi. Gimana dengan tempatmu. Hahahahahhaa.Di dalam bajaj bisa ketiduran karena terbuai dengan buaian yang mentul mentul.

  11. penuhcinta said: Yap, alpokat deh sama bapak mertuanya mbak Evi. Meskipun misalnya mbak Evi udah jago bicara dan baca aksara Cina, tetap aja lebih nyaman di sini ya. Aku malah jarang merasakan bus umpel2an kalau di Dale. Penumpang berdiri aja jarang. Kalau di NYC dan Chicago memang ada sampai yg berdiri krn gak kebagian tempat duduk.

    Ho oh. Justru karena di Cina kurang nyaman, aku malah kangen. Di Duluth pada jam jam tertentu juga umpel2an, biasanya penyebabnya adalah mahasiswa dan di jam jam sibuk. Duluth kalau hari hari sekolah, kotanya rame karena populasi mahasiswa dan orang orang akademisnya termasuk mayoritas. Begitu masuk summer, yang rame pindah ke downtown karena turis.

  12. enkoos said: Tos!! sebagai anggota KPS (Klub Pelor Selalu). Di tempatku sudah ada regenerasi. Gimana dengan tempatmu. Hahahahahhaa.Di dalam bajaj bisa ketiduran karena terbuai dengan buaian yang mentul mentul.

    Hua…ha…ha… berarti mbak Evi mengetuai dua organisasi elite nih: APJ dan KPS! Di tempatku ya dua2nya nih, si Darrel terutama. Dia bisa tidur di dalam bus, di subway, di atas bangku panjang pas di museum. Tanpa malu2 langsung selonjor dengan kepalanya di pangkuanku. Kalau Imo pernah hampir ketinggalan di dalam subway dan bus karena pas dibangunin susah banget! Ha…ha…ha. Eh baru kepikiran. Jangan2 anak2ku jadi pelor gara2 si Ayah juga pelor (begitu nempel, molor). Suamiku juga gampang banget tidurnya mbak, bisa tidur di mana aja, bahkan saat nyetir pun pernah ketiduran! Untung gak nabrak meski sudah nyaris tuh.

  13. enkoos said: Ho oh. Justru karena di Cina kurang nyaman, aku malah kangen. Di Duluth pada jam jam tertentu juga umpel2an, biasanya penyebabnya adalah mahasiswa dan di jam jam sibuk. Duluth kalau hari hari sekolah, kotanya rame karena populasi mahasiswa dan orang orang akademisnya termasuk mayoritas. Begitu masuk summer, yang rame pindah ke downtown karena turis.

    Yah, sama neh! Aku juga merasakan begitu. Kok kalau kehidupan serba teratur dan monoton gini malah suka bosenin ya? Ha…ha…ha. Makanya aku suka banget halan2, mbak. Biar ganti suasana. Pas ke kota2 besar kayak NYC malah felt at home. Mungkin gara2 aku kelamaan tinggal di Jakarta ya mbak, jadinya kangen suasana hingar bingar.

  14. penuhcinta said: Suamiku juga gampang banget tidurnya mbak, bisa tidur di mana aja, bahkan saat nyetir pun pernah ketiduran! Untung gak nabrak meski sudah nyaris tuh.

    Ah iya, yang nyetir ke NYC itu kan? Seremmmm.

  15. penuhcinta said: Hua…ha…ha… berarti mbak Evi mengetuai dua organisasi elite nih: APJ dan KPS! Di tempatku ya dua2nya nih, si Darrel terutama. Dia bisa tidur di dalam bus, di subway, di atas bangku panjang pas di museum. Tanpa malu2 langsung selonjor dengan kepalanya di pangkuanku. Kalau Imo pernah hampir ketinggalan di dalam subway dan bus karena pas dibangunin susah banget! Ha…ha…ha

    kwkwkwkwkwkww…vice president: suminten van Irma. Menik juga gitu, selonjor gak pake malu. Kadang saling pangku (kalau di pesawat). Kepalanya di pangkuanku, kepalaku di pangkuannya. Kok bisa? Posisinya di atur sedemikian rupa, suamiku sampe geleng geleng ngliatnya.

  16. enkoos said: Ah iya, yang nyetir ke NYC itu kan? Seremmmm.

    Iya mbak. Serem banget. Kemaren malam pas pulang dari Chicago kejadian lagi, dia sempat beberapa kali ketiduran. Huaaa.. aku melototin mata maksain melek biar bisa ngawasin dan bangunin dia kalau pas roda udah mulai ke garis luar dan jadi bergetar mobilnya (emang dirancang grudukan kan). Farahhh…. farahhhh.

  17. penuhcinta said: Yah, sama neh! Aku juga merasakan begitu. Kok kalau kehidupan serba teratur dan monoton gini malah suka bosenin ya? Ha…ha…ha. Makanya aku suka banget halan2, mbak. Biar ganti suasana. Pas ke kota2 besar kayak NYC malah felt at home. Mungkin gara2 aku kelamaan tinggal di Jakarta ya mbak, jadinya kangen suasana hingar bingar.

    Iya ya. Yang serba teratur dan monoton seringkali membosankan. Kadang pengen rada bandel juga kan. Beda dengan di Indonesia maupun di negara2 berkembang lainnya, karena ada greget dan ritme yang dinamis. Tapi bukan Jakarta lah, terlalu ruwet dan gak manusiawi buatku.

  18. enkoos said: kwkwkwkwkwkww…vice president: suminten van Irma. Menik juga gitu, selonjor gak pake malu. Kadang saling pangku (kalau di pesawat). Kepalanya di pangkuanku, kepalaku di pangkuannya. Kok bisa? Posisinya di atur sedemikian rupa, suamiku sampe geleng geleng ngliatnya.

    Suminten kesenengan dijadiin vice president mbak! Eman2 ah bikin seneng dia sih! Aku tadi sempat mikir, gimana posisinya biar bisa tidur tapi kepalanya saling pangku dan aha! Ngerti deh! Tapi mungkin lebih baik suatu hari nanti diperagakan kalau pas sedang di pesawat tidur selonjoran model begitu, dipotret, lalu dipajang di MP. Gimana mbak?

  19. enkoos said: Iya ya. Yang serba teratur dan monoton seringkali membosankan. Kadang pengen rada bandel juga kan. Beda dengan di Indonesia maupun di negara2 berkembang lainnya, karena ada greget dan ritme yang dinamis. Tapi bukan Jakarta lah, terlalu ruwet dan gak manusiawi buatku.

    Jakarta yang pinggiran masih enak kok mbak. Lah kok samaan lagi ya kita? Aku juga merasakan demikian. Dinamikanya kurang ya. Pindah aja ke NYC yuk mbak! Kok malah ngompori? Ha…ha…ha.

  20. penuhcinta said: Iya mbak. Serem banget. Kemaren malam pas pulang dari Chicago kejadian lagi, dia sempat beberapa kali ketiduran. Huaaa.. aku melototin mata maksain melek biar bisa ngawasin dan bangunin dia kalau pas roda udah mulai ke garis luar dan jadi bergetar mobilnya (emang dirancang grudukan kan). Farahhh…. farahhhh.

    Haduh haduhhh…Waktu aku sekeluarga ke Twin Cities juga gitu. Pulangnya aku lihat matanya si KSB siyat siyut. Aku juga ngantuknya luar biasa, tapi kupaksa untuk ngobrol. Ngobrol apa aja, gak genah genah biarin yang penting ada obrolan. Menik juga kubangunin buat ngobrol. Obrolan gak penting seperti baca iklan2 yang lewat, nama nama jalan diplesetin, cerita yang lucu2, pokoknya keep criwis. Pas ngelewatin kota, mampir deh buat ngopi. Dan aku tetep di mobil buat zzzzzzzzzz. Ngantuk buanget gak ketulungan. Setelah diguyur kopi, lumayan seger katanya. Tapi kami tetep ngobrol2 biar gak kebablasen. Aku minta gantiin bawa mobil gak mau, ya wes.

  21. penuhcinta said: Suminten kesenengan dijadiin vice president mbak! Eman2 ah bikin seneng dia sih! Aku tadi sempat mikir, gimana posisinya biar bisa tidur tapi kepalanya saling pangku dan aha! Ngerti deh! Tapi mungkin lebih baik suatu hari nanti diperagakan kalau pas sedang di pesawat tidur selonjoran model begitu, dipotret, lalu dipajang di MP. Gimana mbak?

    Hahahahaha…niat banget pake difoto.Setelah aku inget2 lagi, gak tepat saling pangku. Jadi gini:kepalanya menik di pangkuanku dengan beralas bantal, aku numpang dipunggungnya dia beralas bantal juga. Jadi sama2 selonjor.

  22. penuhcinta said: Jakarta yang pinggiran masih enak kok mbak. Lah kok samaan lagi ya kita? Aku juga merasakan demikian. Dinamikanya kurang ya. Pindah aja ke NYC yuk mbak! Kok malah ngompori? Ha…ha…ha.

    Hahahahahaha…bojoku mana mau. Waktu habis backpacking 2009 itu, banyak yang nanyain kami, mana tempat yang paling bekesan. Banyak sebetulnya, tapi aku nyebut salah satunya adalah NYC. Bingung suamiku, karena tahu banget aku bukan tipe perempuan kota besar tapi tipe orang hutan. *beda tipis ama orang utan* ngokkAku sendiri juga kaget, kok NYC berkesan buanget buatku. Kalau kesana lagi mau banget, barang setahun dua tahun gitu, tapi kalau buat tempat tinggal nehik nehik. Aku terkesan sama orang2nya. Kota besar tapi manusiawi banget. Gak seperti LA, kota besar yang berangasan.

  23. penuhcinta said: Huaaaa! *peluk2 Dedi dan istrinya* Turut merasakan sedihnya kok Ded! Bayi masih lucu gitu. Sabar ya. Pesanku buat istrimu, Ded: tiap ada di rumah, manfaatkan untuk peluk2 se Dedek sesering mungkin. Biarkan saja orang bicara “bau tangan” atau apalah… pokoknya sering2 kontak fisik biar si Dedek bisa merasakan sebanyak2nya kehadiran Emak Bapaknya.

    asek….dipeluk ;-)Iya, spy ada bondingantara bapak & anak ya. alhamdulillah msh punya waktu main sbtr pas pulang kantor sm jagoan…

  24. penuhcinta said: Yak! Betul banget! Kalau bayi pasti tangisannya tuh karena baru metode komunikasi itu yang dia tahu. Tangis bayi bisa berarti macam2 kan?

    dan kita ga boleh kesal dgn tangisnya. wong dia baru bisanya itu hehe…

  25. enkoos said: Haduh haduhhh…Waktu aku sekeluarga ke Twin Cities juga gitu. Pulangnya aku lihat matanya si KSB siyat siyut. Aku juga ngantuknya luar biasa, tapi kupaksa untuk ngobrol. Ngobrol apa aja, gak genah genah biarin yang penting ada obrolan. Menik juga kubangunin buat ngobrol. Obrolan gak penting seperti baca iklan2 yang lewat, nama nama jalan diplesetin, cerita yang lucu2, pokoknya keep criwis. Pas ngelewatin kota, mampir deh buat ngopi. Dan aku tetep di mobil buat zzzzzzzzzz. Ngantuk buanget gak ketulungan. Setelah diguyur kopi, lumayan seger katanya. Tapi kami tetep ngobrol2 biar gak kebablasen. Aku minta gantiin bawa mobil gak mau, ya wes.

    Ha…ha…ha… pas malam itu suamiku lagi ngambek, gak mau diajak ngobrol. Ya udah, aku yang ngoceh sendirian kayak orang gila. Aku tawarin beli kopi juga gak mau. Untung aja gak kenapa2 lo mbak, soalnya udah sampai minggir2 tuh mobil. Aku juga sempat beberapa kali ketiduran meski sudah maksain melek. Tidur cuma sedetik dua detik, pake mimpi pulak! Ha…ha…ha. Tanda ngantuk berat, bisa langsung masuk ke deep sleep.Tuh kan… bapak2 suka gitu yaaa… ngerasa bisa2 aja dan gak ngantuk, padahal sih sebenarnya ngantuk. Wong pas di lampu merah, suamiku gak tahu kalau udah lampu ijo soalnya matanya merem..ha..ha…ha. Setelah aku bangunin baru deh.

  26. enkoos said: Hahahahaha…niat banget pake difoto.Setelah aku inget2 lagi, gak tepat saling pangku. Jadi gini:kepalanya menik di pangkuanku dengan beralas bantal, aku numpang dipunggungnya dia beralas bantal juga. Jadi sama2 selonjor.

    Mbak, pas bangun badannya pegel2 gak setelah tidur dengan cara begitu? Tapi anak2ku biasanya ya gak pegel tuh, malah kalau tidur sambil duduk, tanpa bantal buat travelling (yg dilingkarkan ke leher itu lo), biasanya leher suka pegel/tengeng.

  27. enkoos said: Hahahahahaha…bojoku mana mau. Waktu habis backpacking 2009 itu, banyak yang nanyain kami, mana tempat yang paling bekesan. Banyak sebetulnya, tapi aku nyebut salah satunya adalah NYC. Bingung suamiku, karena tahu banget aku bukan tipe perempuan kota besar tapi tipe orang hutan. *beda tipis ama orang utan* ngokkAku sendiri juga kaget, kok NYC berkesan buanget buatku. Kalau kesana lagi mau banget, barang setahun dua tahun gitu, tapi kalau buat tempat tinggal nehik nehik. Aku terkesan sama orang2nya. Kota besar tapi manusiawi banget. Gak seperti LA, kota besar yang berangasan.

    Kalau setahun dua tahun artinya apa dong? Tinggal sementara gitu ya. Iya, aku juga heran kenapa NYC berkesan buat mbak Evi, kan mbak Evi orang utan eh hutan…hi…hi…hi. Eh btw, anak2ku bangga lo pas tahu kata orang utan tuh dari bahasa Indonesia. Manusiawinya justru karena melting pot beneran ya mbak? Segala bangsa ada dan suasananya juga beraneka ragam, tergantung lokasinya juga. Kalau aku sukanya ya itu, gak monoton, segala suasana ada dari yang serene sampai yg hingar bingar, dari yang sombong snobbish gitu sampai yang ramah banget.

  28. debapirez said: asek….dipeluk ;-)Iya, spy ada bondingantara bapak & anak ya. alhamdulillah msh punya waktu main sbtr pas pulang kantor sm jagoan…

    Pssst… awas bini cemburu! Jangan bikin gak tenang dong, biar ASI-nya lancar jaya. Iya Ded, sering2 dipeluk cium biar bonding-nya makin kuat. Bagus tuh kalau masih bisa menyempatkan main sama anak. Semoga Dedi tetap dan tambah jadi bapak dan suami yang baik. Aaaamin.

  29. martoart said: waduh..Berat juga punya anak ya?*mikir2 mo bikin pa nggak.

    Iya sih, emang harus mikir2 kalau mau punya anak. Kalau gak siap mendingan jangan. Jadi ingat Jaya Suprana yang memilih untuk tidak punya anak karena kasihan kalau anaknya dilahirkan ke dunia yang sudah sangat kacau ini.

  30. penuhcinta said: Mbak, pas bangun badannya pegel2 gak setelah tidur dengan cara begitu? Tapi anak2ku biasanya ya gak pegel tuh, malah kalau tidur sambil duduk, tanpa bantal buat travelling (yg dilingkarkan ke leher itu lo), biasanya leher suka pegel/tengeng.

    Mmmm…lupa, pegel gak ya?Aku belum pernah nyobain tidur pake bantal di leher. Ngeliatnya aja gak nyaman. Mendingan rebahin kepala.

  31. penuhcinta said: Kalau setahun dua tahun artinya apa dong? Tinggal sementara gitu ya.

    Setahun dua tahun, tinggal juga yak? hihihihihihi….labil.Asik banget ngeliatnya. Gak butuh mobil, karena kendaraan umum bejibun. Tempat2 nyeni juga banyak. Ngeliat lalu lalang manusia di pedestrian, seneng sekali. Trus di taman taman ngeliat aneka jenis manusia dari segala tingkatan bisa berbaur tanpa ada pembatas, takjubbbbbbb.

  32. penuhcinta said: Iya, aku juga heran kenapa NYC berkesan buat mbak Evi, kan mbak Evi orang utan eh hutan…hi…hi…hi. Eh btw, anak2ku bangga lo pas tahu kata orang utan tuh dari bahasa Indonesia.

    Aih jadi inget sesuatu yang mau kukirimkan. Tunggu ya, mau aku seselin ke abon cabe sekalian.

Makasih ya udah kasih komen.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s